"Jika kau tidak masuk, aku akan menutup pintunya, Naruto-kun!" seruan Itachi yang sudah didalam kamar berhasil menyadarkan Naruto. Uzumaki ini pun langsung masuk kedalam kamar tersebut.
Naruto dengan santai masuk kedalam kamar itu. Matanya menatap kamar penginapan yang memiliki dua ranjang single size, lalu diujung kamar disebelah lemari besar terdapat sebuah kamar mandi.
Itachi menutup pintu kamarnya lalu berdiri disamping Naruto sebentar untuk mengacak surai pirang itu. "Aku mau mandi."
Naruto mengangguk, ia memandangi wajah Itachi yang sangat tampak lelah. Saat ia membuka mulutnya untuk berbicara dengan Itachi, Kurama lebih dulu membawanya kehadapan si rubah.
"Gaki.." Kurama menunduk kebawah menatap Naruto dengan seringai lebar menempel diwajahnya. "Kau mau mencoba permainan ku sebentar?" ia menjulurkan tangannya, dengan cakar tajamnya Kurama mengelus pipi Naruto lembut. "Aku pinjam tubuhmu sampai 'dia' datang.." setelah itu Naruto merasa matanya terasa sangat berat.
Dikenyataan, Naruto tengah mencium Itachi yang berusaha melepaskan pelukan Naruto dilehernya. Merasa jika Naruto sedang dikendalikan, Itachi segera mendorong Naruto hingga terjatuh diatas ranjang.
Naruto menggeram sakit, ia mendongak dan menatap Itachi dengan tatapan sendunya. "Itachi-nii membenci ku.."
Itachi mengelap bibirnya dengan punggung tangan, matanya menatap tajam ke Naruto. Itachi yakin kalau yang mengendalikan tubuh Naruto adalah Kyuubi. Hanya saja mata itu masih tetap biru, beda dengan siang tadi yang benar-benar saat Kyuubi menyerangnya, mata itu berwarna merah rubby.
"Kyuubi. Aku tidak mau karna mu, aku mempunyai masalah dengan Sasuke." Itachi menarik turun resleting jubah Akatsuki nya lalu melempar ke Naruto. "Sadarlah Naruto! Kyuubi sedang mengendalikan mu!"
Naruto perlahan berdiri diatas ranjang, ia membuang jubah Akatsuki milik Itachi kesembarang. Mendongak, Naruto merengut tak senang pada Itachi. Ia berjalan mendekati Uchiha sulung lalu berhenti dihadapan Itachi.
"Itachi-nii.. bermain dengan ku sebentar saja~" Naruto mengelus pipi Itachi namun ditepis. "Itachi-nii~" Naruto merengek, ia menggenggam erat kaos Itachi lalu membanting tubuhnya hingga Itachi dengan tak sengaja ikut terbanting keatas ranjang dan menindih Naruto.
Tanpa peringatan, Naruto yang gerakan tubuhnya juga otaknya dikendalikan oleh Kyuubi—mencium Itachi, tangannya pun menggerayang turun keselangkan Itachi lalu mengelus milik Itachi. Sang empu menggeram, ia mendorong Naruto menjauh dari wajahya. Lalu Itachi menggenggam tangan Naruto dan menariknya keatas.
"Aku tidak suka dipermainkan!" Itachi menggeram marah.
Naruto memandang onyx Itachi dengan safirnya, kedua mata itu saling pandang sebelum dengan sengaja Naruto mengangkat tubuhnya lalu menggesernya sedikit hingga tak sengaja wajah Itachi berada ditengkuknya.
"Apa kau tidak ingin menyentuh tubuh ini?" bisik Naruto seduktif.
Itachi membeku seketika saat penciumannya mencium aroma harum yang tak pernah sekalipun ia rasakan. Ingin mencium aroma itu lagi, Itachi melepaskan genggamannya dan membiarkan Naruto terbaring dibawahnya. Lalu ia mendekati tengkuk Naruto dan menghirup aroma itu lagi. Ahh.. harum yang tak pernah terbayangkan oleh Itachi.
Naruto menyeringai saat tangan Itachi mulai mengelus dadanya dan turun kebawah. "Itachi-nii~" dengan sengaja Kyuubi memerintahkan otak Naruto untuk menggoda Itachi hingga sebuah desahan pun meluncur dari bibir Naruto.
Itachi tetap diam, hanya saja hidungnya mulai menghirup aroma itu lagi dan menginginkannya lagi. Hingga sebuah jilatan dileher Naruto menjadi awal kegilaan Itachi.
Hirup..
Hirup..
Dan hirup..
Aroma itu semakin masuk kedalam paru-paru Itachi merusak kerja otaknya dan menambah naikan libidonya.
Sentuhan, jilatan, dan ciuman mulai mendarat diwajah serta leher Naruto. Jaket orange hitam milik Uzumaki itu pun sudah lepas dan mendarat entah kemana. Itachi memandang wajah Naruto, ia menggeram saat mendapati wajah itu menyeringai senang. Dan saat ia menarik nafas, aroma itu makin menguar dan masuk kedalam paru-parunya.
Memabuk kan.. Itachi tak pernah mencium aroma seperti ini..
Semakin ia menyentuh Naruto, aroma itu makin terasa dipenciumannya. Hingga kerja otak Itachi pun terhenti dan digantikan oleh nafsu.
Sebuah ciuman nafsu yang tak terkendali memulai segalanya..
Naruto mendesah, aroma itu menguar dan Itachi menggila. Semuanya terus berulang-ulang, hingga saat tangan Itachi turun kebawah dan menggenggam milik Naruto yang masih terbalut celana, saat itulah kesadaran Naruto kembali sepenuhnya.
Pemuda pirang itu terdiam dan otaknya mengolah ingatan apa yang baru saja dilihatnya. Ia menggoda Itachi, ia memaksa Itachi untuk menyentuhnya, tapi semua itu bukan kehendaknya. Hingga sebuah kata terucap saat Itachi tengah membuat kissmark dilehernya.
"—tikan.."
Tapi ternyata percuma, seberapa pun ia berusaha mengucapkannya lebih jelas, tenggorakannya terasa kering, dan ia hanya bisa diam membeku.
Lalu beberapa detik kemudian pemandangan yang ia lihat bagaikan sebuah kaset drama yang terputar cepat. Sasuke mendobrak kamar penginapannya saat Itachi mencumbunya, ia membeku dan nafasnya tercekat. Melihat Sasuke yang begitu shock—ia mencoba memanggil nama orang yang sangat ia temui. Sayangnya Sasuke tak merespon, malah ia melangkah mundur. Menyadari keadaannya, Naruto segera mendorong Itachi menjauh dan terduduk dipinggir ranjang. Mencoba memanggil sekali lagi, tapi Sasuke melangkah mundur hingga ia menabrak dinding dan lari, saat itulah dengan reflek kaki-kakinya yang tak beralas mengejar orang yang selama tiga tahun ini selalu ia kejar.
Nama orang itu masih terucap dari bibirnya. Sayang, Sasuke tak mau menghentikan larinya hanya untuk mendengar penjelasan yang bahkan Naruto yakini tidak akan berguna.
Pada dasarnya memang ia lah yang menggoda dan memintai Itachi menyentuhnya, hingga Itachi sendiri kehilangan kendali. Tapi, semua ini salah Kurama.
Ya Kurama!
Naruto menggeram marah dan tetap memerintahkan kakinya berlari mengejar Sasuke.
"SASUKEE!"
.
Pheromones? PHEROMONES!
© Ryuuki Ukara
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning: Yaoi, BL, Canon, Lemon, Mpreg, Rame Typo(s), OOC, Bahasa sesuka hati Author dan lainnya..
A/N: Gomen ne lama apdet ^^;a
ja, silahkan baca~ ^0^/
.
Dikamar, Itachi terlentang dengan punggung tangan menutupi matanya.
Apa yang harus ia katakan kalau Sasuke meminta penjelasannya?
Sedangkan kenyataan selama ini saja ia tak sanggup mengatakannya. Bila dipikir kembali, Itachi lagi-lagi merebut apa yang milik adiknya. Dulu, saat Sasuke bahagia dengan keluarganya—dengan apa yang ia punya sekitarnya. Ia harus merebut itu semua dari Sasuke. Membunuh klannya. Dan sekarang, saat Sasuke memiliki apa yang ia inginkan, lagi-lagi ia merebutnya. Tapi, kali ini ia tak berniat sama sekali. Ini semua kesalah pahaman.
"Baka. Baka otouto.."
.
Disisi lain, warga desa dengan terpaksa minggir saat kedua pemuda saling kejar-kejaran. Satu raven dan satu lagi pirang. Si raven sudah bisa mengatur emosinya hingga tak satu pun tahu kalau ia sedang merasakan sakit. Terkecuali untuk yang tengah mengejarnya, si pirang itu tau kalau ia merasakan sakit yang amat sangat karena apa yang dilihatnya tadi.
"TEME! BERHENTI!"
Sasuke melirik kebelakang, memandang si pirang berlari tanpa alas dengan kaos hitam berlambang klannya juga celana orange panjangnya. Ah, jangan lupa dengan hiasan dileher si pirang. Kissmark.
"SASUKE!"
Naruto menambah kecepatan larinya mengejar si raven. Sayangnya ia harus mengerem larinya dan harus berhenti saat sebuah rombongan dengan masker dan sebelah penutup mata—menghadang jalan.
Ninja perompak.
"Berikan semua harta mu, pirang!"
Naruto menggeram marah dan langsung menonjok wajah orang yang ada dipaling depan tersebut. Tak terima ketua mereka dihajar, yang lain menyerang Naruto. Tendangan, tonjokan, shuriken, dan kunai semua terarah pada Naruto. Tapi dengan gesit, Naruto menghindar. Lalu saat mereka lengah Naruto naik ke atas sebuah tong sampah dan melompat keatas atap.
Tak ingin kehilangan mangsa mereka. Orang-orang ninja perompak itu ikut naik dan kembali menghadang Naruto.
"AKU TIDAK ADA URUSAN DENGAN KALIAN!"
Para ninja itu tidak peduli. Mereka menggenggam senjata mereka masing-masing.
Naruto mendengus, ia membuat segel kagebunshin. Tapi sebelum ia membuat bunshin, sebuah bola besi diayunkan kearahnya dan sukses mengenai kepala pirangnya.
Naruto berkedip-kedip saat merasakan sakit dikepalanya yang luar biasa. Terasa ada yang mengalir, ia pun mengelapnya. Dan saat ia melihat telapak tangannya, cairan merah menempel jelas disana.
Penglihatan Naruto terasa berputar, ia sempat melihat seseorang berdiri didepannya dan membuat ninja-ninja perompak itu diselimuti api berwarna hitam. Dan ketika pandangannya tak lagi jelas, tubuhnya limbung lalu jatuh. Untungnya sebuah lengan menangkap pinggangnya dan tak membuat Uzumaki ini mencium atap rumah orang.
~サスナル~
Didalam hutan, Shikamaru dan lainnya hanya diam sambil menatap tiga orang yang mereka segel di bawah pohon. Ketiga orang itu tak bisa menggerakan anggota tubuh mereka jika tak diperintahkan oleh Shikamaru atau lainnya. Karin, Juugo, dan Suigetsu hanya bisa mendengus kesal karena berhasil tertangkap oleh ninja-ninja Konoha ini.
"Makanya! Sudah ku bilang untuk lari cepat! Kalian malah berebut siapa yang jaga Sasuke!" wanita berkaca mata yang sekaligus satu-satunya wanita disana Cuma bisa berkoar-koar kesal. Karin benar-benar ingin menjitak kepala orang yang membuat mereka berhasil tertangkap seperti ini. Siapa lagi kalau bukan Suigetsu?
"Jangan salahkan aku! Juugo yang mau berbalik dan mengejar Sasuke!" Suigetsu membela diri,
"Aku hanya ingin memastikan kalau Sasuke baik-baik saja. Kalau kau tidak ingin ikut tadi, aku rasa kita tidak tertangkap seperti ini." Jelas Juugo.
"Jadi kau menyalahkan ku? Hah?!"
"Jika kau sadar, syukur lah.."
"KAU—
"Bisa kalian diam?" Shikamaru yang duduk disamping Kiba hanya bisa mendengus melihat ketiga tawanan mereka yang saling adu mulut hanya karena tertangkap. Lalu saat Shikamaru akan membuka mulutnya dan akan kembali bersuara, sebuah kepala dengan pelan menempel dibahunya. Ia menoleh ke samping dan sedikit terkejut saat melihat Kiba yang tertidur dipundaknya.
Baru saja Shikamaru akan mengelus kepala yang ada dipundaknya, sebuah tangan menarik kepala itu menjauh dari pundaknya. Shikamaru menatap tajam sang pelaku.
Shino menarik Kiba tidur didadanya dengan tangan yang merangkul tubuhnya. Dibalik kaca mata hitam tersebut, Shino memandang tajam Shikamaru yang menatapnya datar. Shikamaru mengangkat tangannya lalu menepis tangan Shino dari tubuh Kiba, ia menarik Kiba kembali ke pundaknya. Tak terima, Shino mengeluarkan serangganya dan memerintahkan menyelimuti tangan Shikamaru. Tapi sebelum itu terjadi, Kiba sudah terbangun dan berdiri. Ia memilih tempat yang lebih tenang untuk tidur. Kali ini ia pindah ke tempat Akamaru tertidur, ia menyandarkan tubuhnya ke perut Akamaru dan melanjutkan acara tidurnya. Kali ini dengan dengkuran.
Dan mereka pun terdiam.
"Ha..Hahaha… HAHAHAHA!" didepan sana, Karin tertawa terbahak-bahak hingga saking terbahaknya air mata pun mengalir. Ia merasa kalau Shikamaru dan Shino begitu bodoh saat Kiba pergi dari mereka. Dan ia pun Cuma di pandang aneh dengan kedua rekannya juga ninja Konoha yang berada disana—kecuali Kiba.
~サスナル~
Konoha..
Ruang Hokage sudah dihuni oleh Ino, Sakura dan Hinata. Beberapa saat yang lalu Tsunade baru saja menerima laporan dari Shikamaru kalau teman-teman Sasuke sudah tertangkap. Hanya saja Sasuke berhasil melarikan diri. Berhasil membuat Tsunade meretakan meja barunya(lagi).
Dihadapan hokage tersebut, Sakura, Ino dan Hinata Cuma bisa diam sambil memandang satu sama lain. Tadi, sebelum hokage menerima laporan Shikamaru, Ino menarik Sakura keluar dari ruang Hokage untuk membicarakan sesuatu.
Sakura mengepalkan tangannya lalu menghancurkan dinding kantor hokage saat mengetahui berita yang baru saja diceritakan Ino.
"Naruto dihamili oleh pejantan lain!"
Dan semakin yakin saat Hinata datang lalu dipinta Sakura menjelaskannya. Sakura dengan cepat pergi lalu menghancurkan sebagian hutan terlarang.
Lalu mereka berdiri dihadapan Hokage berniat mengatakan berita ini. Awalnya mereka cukup yakin akan mengatakannya pada Hokage. Tapi, saat meja yang baru diganti itu retak lagi..
Mereka berkali-kali berpikir ulang.
"Kalian ingin mengatakan apa?"
Ketiga kunoichi ini saling pandang dan memerintahkan satu dari mereka untuk mengatakannya. Sayang, mereka tidak berani sama sekali untuk mengatakannya.
"Um.. Aku lupa mau mengatakan apa, Hokage-sama. Hehe~" Ino mengatakannya sambil menggaruk tengkuknya. Dalam hati gadis pirang ini berteriak ngeri melihat Tsunade menatapnya tajam.
"Baiklah kalau kalian tidak ada hal yang penting dengan ku lagi." Tsunade menyandarkan dirinya ke punggung kursi. "Aku mau memberikan kalian misi yang sangat penting," Tsunade mengambil sebuah buku tebal dibawah meja dan menaruhnya keatas meja. "Pelajari semua yang ada dibuku ini. Dan aku mau kalian bisa mengerti dalam waktu kurang dari lima bulan."
Sakura, Ino dan Hinata saling tatap lalu satu dari mereka melangkah maju mendekati meja Hokage. Sakura yang mendapat tatapan yang menyuruhnya maju-kesana-cepat- dari kedua temannya Cuma bisa menghela nafas. Saat ia ada didepan Hokage, Sakura mengambil buku tebal itu lalu membaca covernya. "Persalinan?" tanya Sakura, ia mendongak menatap gurunya.
Tsunade mengangguk, "Ini buku yang digunakan istri Sandaime sebelum membantu Kushina waktu melahirkan Naruto." ia memajukan tubuhnya, "Kalian semua belajar bagaimana menekan chakra jinchuriki saat melahirkan. Dalam kasus Naruto, aku memperkirakan kalau untuk menekan chakra Kyuubi perlu lebih dari lima orang." Jeda sejenak, Tsunade menatap mereka dengan tatapan datar namun dapat dilihat oleh mereka jika Hokage mereka ini memohon. "Aku tak bisa melakukannya sendiri jika saat itu tiba," suaranya sedikit bergetar. "Aku tak bisa melepaskan satu dari mereka."
Sakura terdiam, sedangkan Ino dan Hinata saling tatap dengan tatapan sendu. Betapa sangat sayangnya sang Hokage pada Naruto, pikir mereka.
Sakura berdehem sebelum emngambil buku tebal itu, "Kami akan berusaha Hokage-sama.."
Sebuah senyum tipis menghiasi wajah Tsunade. "Mohon bantuannya!"
~サスナル~
Jiraiya yang dalam perjalanan mencari Naruto―berhenti disebuah penginapan. Ia menatap penginapan sederhana yang banyak wanita penggoda. Jiraiya pun tersenyum lebar ketika satu wanita datang dan menggodanya.
"Tuan mau menginap disini?" wanita itu memeluk Jiraiya, hingga lelaki tua ini memerah.
"Ku rasa iya~ haha~" ia merangkul wanita itu, "Tapi.." Jiraiya menatap wanita itu serius. "Apa kau lihat bocah pirang disekitar ini?"
Wanita penggoda itu melepaskan pelukannya dari Jiraiya, ia berpose berpikir. "Kurasa dia menginap disini. Dia datang dengan laki-laki tinggi berjubah awan merah kan?" jelas wanita itu sekaligus bertanya. Jarinya ia jentikan saat mengingat seseorang yang bersama Naruto.
"Akatsuki?" batin Jiraiya, ia langsung masuk kedalam penginapan itu dan meninggalkan wanita penghibur yang kesal karenanya.
Saat ia telah menaiki tangga dan berbelok kearah kiri, Jiraiya segera menyamarkan chakranya dan melacak chakra yang ia kenal. Ia menatap salah satu kamar penginapan yang terbuka dan ia langsung yakin kalau orang itu disana. Langkah kakinya menjadi cepat dan berhenti tepat diambang pintu sambil menatap lurus seseorang yang berbaring diatas ranjang.
Itachi membuka matanya dan menoleh ke ambang pintu saat lelaki tua berambut putih disana. Ia menghela nafas dan menduduki dirinya dipinggir ranjang—membelakangi Jiraiya. "Jika kau mencari Naruto, jangan khawatir. Ia bersama ku, hanya saja dia sedang menyelesaikan urusannya." Ujarnya santai tanpa menoleh ke Jiraiya.
"Apa yang kau ingin 'kan, Itachi?"
"Tidak ada, Jiraiya-sama."
Jiraiya bersiap dengan kuda-kuda yang akan mengurung Itachi dalam perut katak, tapi sebelum ia menggunakan jutsunya, seseorang berdiri dilorong penginapan. Mata Jiraiya melebar melihat dua orang yang salah satunya digendong ala pengantin dengan darah yang menghiasi wajahnya, dan sepertinya darah itu masih mengalir. Lalu ketika mata itu mendongak, orang yang ia temui beberapa hari yang lalu menampakkan wajah cemasnya.
"Tolong Naruto.."
~サスナル~
Naruto membuka matanya saat suara-suara seperti orang sedang bertarung mengganggu pikirannya. Perlahan bola mata biru itu terbuka dan memandang sendu tempat ia sedang berbaring.
Tempat itu sudah hancur berantakan.
Naruto sedikit menggerakan kepalanya kesamping saat sebuah bayangan menutupi sinar—yang menurutnya api—dari penglihatannya. Naruto mengerang sakit saat melakukan gerakan kecil itu.
Berkedip beberapa kali, Naruto akhirnya bisa melihat kalau orang yang tengah berdiri itu memiliki rambut panjang berwarna putih. "Ero-sensei.." batinnya mencoba memanggil, tapi bibirnya tak bisa mengatakan apa yang batinnya katakan.
Bisa ia lihat kalau Jiaraiya berdiri membelakanginya dan sedang melihat sesuatu. Dan ketika pandangan Naruto sudah agak lebih jelas, pemiliki mata safir ini memandang tembok hancur dan dua orang yang sedang saling bertatapan tajam dari jarak jauh. Ia tahu siapa.. siapa mereka..
Naruto menggerakan tangannya untuk menarik baju Jiraiya. Sayangnya, ia masih susah menggerakan tangannya seperti apa yang diperintahkan otaknya.
Tak bisa memanggil atau menghentikan pertarungan yang ia lihat, Naruto memejamkan matanya—meminta bantuan Kyuubi.
Rubah tua itu duduk bersila dihadapannya, wajahnya datar tak menampakan emosi apapun. Naruto memandang Kyuubi memohon, tapi Kyuubi menggelengkan kepalanya. Ia mengulurkan tangan, lalu mengelus kepala Naruto—memintanya agar kembali tidur.
Tak berapa lama kemudian, mata Naruto terasa berat. Ia memejamkan matanya lalu berbaring dipaha Kyuubi.
"Tidurlah. Saat kau bangun, semua ini sudah selesai, gaki.."
.
.
Beberapa saat sebelum Naruto sadarkan diri.
Jiraiya yang melihat anak muridnya berdarah dan dengan keadaan begitu lemah, langsung menghampiri Sasuke dan membawa Naruto kekamar penginapan Itachi. Naruto langsung dibaringkan oleh Jiraiya, dan lelaki tua itu segera mengobati Naruto seperti apa yang pernah diajarkan Tsunade jika menemukan teman yang terluka dalam perang.
Dengan ingatan yang samar tentang ajaran Tsunade, Jiraiya mencoba menghentikan pendarahan dikepala Naruto. Lalu, ketika Jiraiya menyentuh denyut nadi Naruto, lelaki itu membeku sejenak dan langsung menatap Sasuke.
"Kau tau?" tanya Jiraiya, ia yang mengetahui kesehatan seseorang dari denyut nadi ini memandang Sasuke dengan tatapan tajam.
Sasuke tak menjawab, wajahnya masih tak menampakan emosi terlalu, tapi ia menunduk sebagai jawaban dari pertanyaan Jiraiya.
"Kau tau dan kau membiarkan Naruto terluka?!"
Rasanya Jiraiya ingin menelan Uchiha bungsu itu kedalam perut katak. Hanya saja, semua ini karena rencana yang tak ia pikir matang juga.
Jiraiya kembali fokus ke Naruto. Yang ia lakukan belum bisa menghentikan pendarahan dikepala Naruto. Ia pun langsung menggendong Naruto dan akan membawanya ke Konoha, jika saja tangan Itachi menghalangi jalannya.
"Jiraiya-sama.. biar aku saja," Itachi menggendong Naruto kembali dan membaringkannya ke atas ranjang. Dengan cekatan Itachi mencoba menghentikan pendarahan dikepala Naruto dengan alat yang digunakan oleh Jiraiya tadi.
Tak berapa lama kemudian usaha Itachi membuahkan hasil, ia berhasil menghentikan pendarahan Naruto. Jiraiya pun menghela nafas lega, ia mengambil perban dikantongnya lalu melilitkan dikepala Naruto. Setelah itu ia mengelus surai pirang muridnya.
Beberapa saat mereka terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Merasa jika saatnya tepat, Itachi membalikkan badannya lalu menatap Sasuke. "Lari hanya karena aku mencumbunya, Sasuke? Kau memalukan!"
Sasuke mengadah—menatap Itachi dingin. "Bukan urusan mu."
Itachi menyeringai, "Kalau saja kau tak lari, mungkin kita bisa membaginya bersama, otouto.."
Sasuke yang mendengar jelas apa yang dikatakan Itachi dan tahu apa maksud dari kata-katanya—langsung melangkah dan mengarahkan kepalan tangannya ke Itachi. Sayangnya, Itachi bisa menghindar dan ia hanya meninju ruang kosong.
Itachi menyeringai senang, ia mengepalkan tangannya dan langsung mengarahkannya menghantam perut Sasuke—hingga pemuda yang muda lima tahun darinya itu terpental menabrak dinding sampai retak. Tak sekali saja, Itachi melangkah mendekati Sasuke dan kembali mengarahkan kepalan tangannya. Sasuke berhasil menghindar lalu membalikkan keadaan. Dengan chakra yang terkumpul di kepalan tangan kanannya, Sasuke menghantam punggung Itachi telak. Membuat Uchiha sulung terpental dan menghancurkan tembok dihadapannya lalu mendarat dengan bertumpuh pada kaki kanannya ditengah jalan yang dilalu lalangi para pejalan kaki.
Itachi mengadah—memandang Sasuke yang berdiri dari atas didalam penginapan. Beberapa saat pandangannya mengabur, ia menyipitkan matanya hingga pandangannya kembali normal. "Ini saatnya." Ia membatin, untuk keduali kalinya mereka bertemu dan untuk kedua kalinya Itachi harus membuat adiknya benar-benar bernafsu membunuhnya agar semua masalah ini selesai. Tidak seperti kemarin, gagal karena seseorang mengganggunya.
Diatas sana, Sasuke masih berdiri bergeming memandang kebawah. Dibelakangnya, Jiraiya Cuma memandang datar dan menyusun rencananya kali ini dengan matang. Rencananya harus selesai sebelum pemuda dipandangannya berhasil membalas dendam dengan membunuh kakaknya sendiri. Tidak, itu tidak bisa terjadi. Ia harus membawa kembali Naruto plus Itachi. Uchiha sulung itu ia perlukan untuk membuka rahasia Konoha yang selama ini menjanggal dipikirannya.
Sebuah sinar biru disuarai bising segera mengembalikkan Jiraiya kedunia nyatanya. Sasuke sudah turun kebawah mengejar Itachi dengan chidori ditangannya. Ia melipat tangannya didepan dada dan menunggu waktu yang benar-benar tepat. Jika semua ini selesai, rencananya untuk kembali mencari tau pemimpin Akatsuki bisa ia lakukan kembali setelah pertemuan mengerikan dengan muridnya dulu.
Jiraiya menghela nafas, jika setelah ini ia benar-benar bertarung dengan pemimpin Akastuki yang sebenarnya dan ia pun mati, tanggung jawab yang diberikan Minato dulu akan ia berikan pada salah satu Uchiha itu.
Disaat Jiraiya masih mencari rencana untuk memperbaiki hubungan dua Uchiha itu lalu membuka rahasia besar Konoha dan juga memikirkan resiko ia mencari pemimpin Akatsuki yang sebenarnya—dua Uchiha yang berada diluar sana benar-benar menginginkan kematian salah satu diantara mereka.
Dua pasang sharingan aktif saling pandang dengan tatapan tajam, tempat mereka berdiri mulai diselimuti api karena ulah mereka menggunakan katōn. Mereka benar-benar akan mengakhiri segalanya setelah ini.
~サスナル~
Itachi berlari membawa Sasuke keluar desa menuju hutan. Dibelakang sana Sasuke berkali-kali berusaha agar tak terlalu bersemangat membunuh Itachi. Ia ingin menanyakan hal yang dibicarakan Itachi saat pertarungan pertama kali mereka. Tapi, kakaknya berhasil membuat ia kesal berkali-kali lipat. Apalagi kali ini Itachi menggunakan Naruto untuk memancing emosinya.
Itachi menghentikan larinya setelah menurutnya cukup jauh dari desa. Ia membawa Sasuke kedalam hutan dengan sebuah lapangan cukup luas untuk mereka bertarung ditengah hutan. Itachi segera membalikkan badannya dan langsung menghindar saat Sasuke mengarahkan chidori eiso kearahnya. Membalas Sasuke, Itachi melempar kunai kearah Sasuke yang dengan sukses dihindari adiknya. Ia pun melangkah mundur saat kembali pandangannya mengabur, dan saat pandangannya kembali normal chidori eiso milik Sasuke berhasil menggores pipinya.
"Kau menyembunyikan sesuatu dari ku.."
Itachi yang telah kembali dari terpengrahannya—memandang Sasuke datar. "Jika kau berpikir aku ingin mengambil Naruto mu, kau benar Sa—
"JANGAN MENGGUNAKAN NARUTO SEBAGAI ALASAN MU MENGHINDARI PERTANYAAN KU, ITACHI!" Sasuke berteriak kencang. "Orang yang ku temui sebelum bertarung dengan mu mengatakan kalau kau mempunyai alasan membunuh klan. Lalu sebelum kau pergi diselamatkan oleh orang itu, kau juga mengatakan kalau aku tak perlu mengetahui yang sebenarnya. Apa maksud mu?!"
Itachi bergumam tak jelas, ia seperti merutuki seseorang. "Semuanya memang tak harus kau ketahui…" ia berpindah tempat dan dalam sekejap berada dibelakang Sasuke dengan kunai dileher Sasuke. "—karna kau orang bodoh yang tak perlu mengerti semuanya, otouto.."
Kunai yang berada dileher Sasuke makin dekat, dan ketika mata kunai itu menyentuh kulit lehernya—Sasuke sudah berada jauh didepan Itachi sambil mengacungkan kusanaginya.
Mereka terdiam dari jarak jauh, sinar bulan menyinari mereka disertai angin malam yang dingin. Sama dinginnya dengan tatapan yang saling mereka tunjukkan.
Mereka saling menutup mata—mempersiapkan sebuah mata yang akan mereka gunakan untuk mengakhiri segalanya malam ini. Dan ketika mata itu terbuka, sebuah tembok tinggi ada diantara mereka. Menghalangi tatapan mereka satu sama lain dengan api hitam yang menjalar ditembok tersebut.
Itachi langsung mengalihkan perhatiannya dari tembok itu ke seseorang yang berdiri masih dengan tangan yang bertaut— membuat sebuah jutsu diatas sebuah pohon. Jiraiya membuka matanya lalu memandang dua Uchiha itu bergantian.
"Aku ingin menanyakan dan mengetahui sesuatu dari kalian. Jika kalian berpikir siapa yang pantas mati disini.. itu adalah aku.."
Hembusan angin malam yang dingin membuat dua tubuh Uchiha itu sedikit bergetar, apalagi saat menatap Jiraiya dengan mode sannin-nya.
~サスナル~
Naruto mengerang pelan saat sinar matahari mengganggu tidurnya. Ia membuka mata lalu mengeratkan pelukannya. Um.. apa tadi author bilang pelukan?
Merasa kalau sebuah bantal guling itu tidak berbulu—atau tepatnya rambut—Naruto meraba helai-helai yang mengganggu dipipinya lalu merangkak naik keatas dan merasakan kalau helai rambut itu lembut tapi terkesan sedikit tajam diujungnya, dan kalau dipikir-pikir rambut yang ia elus melawan gravitasi.
Melawan gravitasi, eh?
Membuka kelopak matanya tiba-tiba, pandangan Naruto pertama kali adalah sebuah rahang tegas dan berkulit porselen. Merasa penarasan dengan siapa ia memeluk—tepatnya digendong—Naruto menarik rambut itu kuat hingga wajah itu kini menoleh kearahnya dan sangat dekat dengan wajahnya, bahkan hidung mereka bersentuhan.
"Sa—Sasuke!"
Teriakan Naruto disertai usahanya untuk turun dari punggung Uchiha itu membuat sang empu yang menggendongnya menggeram marah dan menguatkan pelukannya pada kaki Naruto agar tak jatuh. Setelah berusaha menyeimbangkan keadaannya—masih digendong Sasuke—Naruto dengan langsung cepat memeluk leher Sasuke erat. Selain takut jatuh, ia juga rindu. Kesempatan dalam kesempitan~
Sasuke menghentikan jalannya saat pelukan erat Naruto tak kunjung lepas dari lehernya. "Dobe.."
Mendengar panggilan yang seharusnya membuat dia marah, bukannya membalas Sasuke dengan sebutan 'Teme', Naruto makin memeluk erat leher Sasuke. Sang empu Cuma bisa mendengus karena lehernya sedikit tercekik.
"Dobe.."
"Aku rindu Sasuke.."
Mendengar pernyataan Naruto, Sasuke terdiam dan mengalihkan pandangannya dari wajah Naruto yang ada ditengkuknya. Dapat ia rasakan kalau wajahnya sedikit memanas.
"Kita harus cepat ke Konoha." Peringatan Itachi yang berjalan mendahului Sasuke dan Naruto, membuat mereka memandang punggung Itachi.
Merasa kalau pelukan dilehernya tak terlalu erat lagi, Sasuke mulai kembali berjalan dan menyusul Itachi. Naruto yang ada digendongan Sasuke memandang sendu Itachi yang berjalan didepan mereka.
"Apa Itachi-nii marah dengan ku, Sasuke?" Naruto melirik Sasuke yang terus berjalan dengan menampakkan wajah datarnya.
Sasuke sedikit berjenggit saat mendengar panggilan 'Itachi-nii' dari Naruto. Tapi segera ia tepis dan menjawab pertanyaan Naruto, "Entahlah.. bukannya pertanyaan itu untuk ku?" Sasuke melirik tajam Naruto.
Merasa kalau perkataan Sasuke benar, Naruto hanya bisa tertawa dan memeluk Sasuke erat. "Hehehe~"
Tak berapa lama mereka berjalan, Naruto akhirnya meminta turun dari Sasuke. Dengan helaan nafas, Sasuke pun menurunkan Naruto, sedangkan Itachi hanya memandang mereka dari jauh. Setelah turun dari gendongan Sasuke, Naruto langsung berlari kearah Itachi. Namun Itachi mengangkat tangannya—meminta Naruto berhenti dan menjaga jarak darinya.
"Itachi-nii?"
"Kau harus jaga jarak dengan ku. Rubah tua itu licik, dan aku tak mau dekat-dekat dengan mu untuk beberapa saat." Selain mengatakan itu, mata obsidan milik Itachi melirik Sasuke dibelakang sana.
Naruto menggembungkan pipinya, ia membalikkan badan dan berjalan mendekati Sasuke. Tanpa aba-aba, Uzumaki itu langsung melompat ke punggung Sasuke. Memaksanya untuk digendong.
"Dobe!"
"Aku lelah Teme!"
Sasuke melirik Naruto yang masih menggembungkan pipinya. Ia mendengus, lalu mengeratkan pelukannya di kaki Naruto agar pahlawan Konoha ini tidak jatuh.
Dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
.
.
"Sasuke~ aku mau ramen~"
"Tunggu kita sampai di Konoha, Dobe."
"…"
"…"
"Sasuke.. kenapa kita tidak lari saja?"
"Aku lelah,"
"…"
"Sasuke.. pipi mu lebam.. kenapa?"
"Ditonjok Itachi."
"Oh…"
"…"
"…"
"…"
"Sasuke.. kenapa Itachi-nii keriput sih?"
"…mana ku tau.."
"Sasuke kenapa Itachi-nii itu—
"NARUTO DIAMLAH!"
"…baik Itachi-nii."
"…"
"…"
"Sasu—
"DIAM DOBE!"
"APAAN SIH?! AKU CUMA MAU BILANG KALAU ADA ANBU DIDEPAN SANA!"
Teriakan terakhir Naruto disertai tunjukan tangannya, membuat Sasuke dan Itachi memandang kedepan—sontak menghentikan langkahnya. Dimana beberapa ANBU berdiri memandang mereka dari balik topengnya.
Satu orang ANBU berjalan mendekati mereka. "Berikan Naruto, dan kalian berdua akan kami bawa karna menculik Naruto."
Itachi dan Sasuke memandang ANBU wanita yang menggunakan topeng inu—datar. Sebelum ANBU itu membuka mulutnya kembali bersuara, Itachi sudah menunjukan sebuah gulungan. "Kami diperintahkan oleh Jiraiya-sama untuk pulang ke Konoha dan memberikan gulungan ini ke Hokage."
Wanita ANBU itu memandang Itachi dan Sasuke, setelah itu ia memandang Naruto yang ada digendongan Sasuke. Naruto tersenyum, "Aku baik-baik saja!" ia tersenyum lebar untuk meyakininya, dibalik topengnya wanta itu mendengus geli karna tingkah Naruto. Baik-baik dari mana? Wajah pucat dan kepala di perban gitu..
"Baiklah.." Wanita itu menoleh ke teman-teman ANBUnya. "Kita kawal mereka sampai ke Hokage." Ia menoleh kembali ke Itachi dan Sasuke. "Kalian bisa lari? Agar kita lebih cepat sampai di Konoha. Naruto sepertinya harus segera diobati,"
"Aku baik-baik saja!" seru Naruto, ia memeluk leher Sasuke lebih erat dan menggembungkan pipinya. Sedangkan yang dipeluk erat Cuma bisa mendengus melihat kelakuan ke—ke—kekasihnya!
Mengabaikan kalau dua sejoli dibelakangnya saling tatap dengan wajah begitu dekat—Itachi mengangguk menyetujui, "Baiklah.."
~サスナル~
Hokage, Shizune, Sakura, Hinata, Ino, Shion bahkan Kakashi yang berada didalam ruangan Hokage terdiam dan membeku sesaat—karena tiga orang yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut— dan melupakan orang yang selama 24 jam ini mereka cari mati-matian.
Dihadapan mereka, Itachi dan Sasuke plus Naruto—yang masih digendong Sasuke—tersenyum lebar kepada semua orang disana. Seolah dia tidak membuat masalah.
"Baa-chan!"
Tsunade yang tersadar dari keterkejutannya langsung meninju meja baru(lagi) dan berteriak pada si pirang yang terdiam. "UZUMAKI NARUTO! KAU MEMBUAT SLEURUH KONOHA KACAU BALAU!" merasa kalau ia memang bersalah, Naruto meminta turun dari Sasuke lalu berdiri disamping Uchiha bungsu dan langsung tertunduk. Melangkah kaki mendekati Naruto, Tsunade langsung memeluk Uzumaki itu dengan erat, membuat Naruto terperangah saat tubuh Tsunade bergetar. "Bodoh! Kau membuat ku khawatir, gaki! Jika saja kau tidak kembali hari ini, aku akan membawa masalah ini ke dunia shinobi, bodoh!"
Naruto tak bisa berkata-kata, ia terdiam lalu membalas pelukan 'baa-chan'nya. "Gomen, baa-chan.."
Tsunade melepaskan pelukannya saat ia merasa kalau pelukan 'selamat datang'nya cukup. Hokage kelima itu langsung memandang duo Uchiha. "Aku yakin kalian mempunyai alasan berani kembali ke Konoha, Uchiha."
Itachi mengangguk sebagai jawaban. "Kami membawa gulungan dari Jiraiya-sama."
Tsunade mengambil gulungan tersebut lalu memandang kedua Uchiha. Ia menghela nafas, "Semuanya silahkan keluar, kecuali Kakashi, Shizune dan Uchiha ini." Ia membalikkan badan lalu berjalan menuju kursi besarnya.
Shion, Sakura, Ino, Hinata dan Naruto dengan terpaksa keluar dari ruangan Hokage dan berjalan menuju atap kantor Hokage sekedar untuk berbicara ringan.
Setelah sampai di atap, Sakura langsung saja memeluk Naruto dengan eratnya. Sampai-sampai Naruto membeku layaknya sebuah patung. Pelukan Sakura bisa Naruto rasakan sama persis dengan Tsunade. Sebuah pelukan rindu, dan… mengkhawatirkannya..
"Baka.." lirih Sakura, pelukan ditubuh Naruto mengerat. Sedikit membuat Shion mengernyitkan dahinya tak suka. "Baka.. baka.. Baka! Baka! Baka!" kata 'baka' terus meluncur dari mulut Sakura, makin lama makin lirih hingga hanya isakan yang Naruto dengar.
"Sakura?"
"Aku tidak tau harus mengatakan apa.. aku begitu mengkhawatirkan mu, Naruto.." Sakura melepaskan pelukannya, ia menggosok matanya dan mencoba menghentikan air matanya yang terus mengalir. "Aku takut kau disentuh oleh orang lain, disentuh dengan orang jahat. Aku takut kau diculik oleh Akatsuki. Dan aku takut kau meninggalkan Konoha sama seperti Sasuke lakukan. Aku takut kehilangan sahabat ku lagi!"
Naruto melotot tak percaya, Sakura mengkhawatirkannya. Sangat.
Sebuah penyesalan timbul dihati Naruto saat ia mengingat apa yang ia katakan. Ia yang kemarin begitu egois dan berpikir buruk tentang Sakura—kini mendadak pemikiran itu hilang. Sakura mengkhawatirkannya. Namun walau pikiran buruknya tentang Sakura hilang, keinginannya tetap mempertahankan Sasuke masih ada didalam dirinya.
Setelah berusaha membuat dirinya tenang, akhirnya Sakura bisa berhenti terisak dan menatap Naruto dengan tatapan menyelidik. Membuat Uzumaki itu merasakan perasaan yang tak enak. Ia pun melangkah mundur.
"Mungkin aku harus kemba—
"Tidak bisa!"
Teriakan Sakura yang cukup menggelegar, berhasil membuat gerak Naruto berhenti dan menatap horor ke teman pinknya.
"Ta—Tapi Sasuke—
"Jawab pertanyaan ku dulu, baru kau bisa kembali!" Sakura berkacak pinggang, lalu diikuti oleh kedua temannya. Minus Shion.
"A―Apa?"
Ketiga kunoichi saling pandang lalu menyeringai. "Siapa―"
"―penjantan mu―"
"―Na-ru-to?"
Pertanyaan bergilir yang bermula dari Hinata, Ino dan Sakura berhasil membuat Naruto bergetar hebat karena dipandangan Uzumaki itu ketiga teman wanitanya berubah menjadi sosok raksasa yang menatap tajam padanya juga dengan aura mengerikan.
Naruto meneguk ludahnya beberapa kali sampai akhirnya ia beranikan diri untuk menjawabnya karena tatapan Sakura yang terlalu mengintimidasinya.
"Sasuke.. yang menyentuh ku adalah Sasuke.." ia menjawab pelan, namun masih sangat jelas terdengar oleh Sakura, Ino dan Hinata.
Mereka terdiam, tepatnya Sakura yang terdiam dengan dipandangi kedua temannya.
Mendongak, Naruto menatap Sakura yang terdiam tertunduk. "Sakura.."
Wajah cantik gadis pink itu mengadah dan menatap Naruto. Senyuman lebar menghiasi wajahnya dan tangannya terkepal erat disisi tubuhnya.
"YES!" seru Sakura, berhasil membuat semua yang ada diatap kantor Hokage tergelonjak kaget dan menataphoror gadis pink itu. "YES! YES! YES!" ia masih berseru sambil meloncat-loncat.
Tak berapa lama setelah ia puas loncat sambil berteriak 'yes', Sakura berhenti lalu menatap Naruto.
"Kau berhutang pada ku tentang cerita malam pertama mu dengan Sasuke-kun, Naruto! dan… aku bersyukur kau mendapat pejantan yang hebat!" Sakura mengancungkan jempolnya, sesaat tingkah gadis itu seperti Rock Lee.
Naruto menatap Sakura, ia mengernyit heran karena sikap sahabatnya ini. Namun, perlahan ia mengangguk saat tatapan mengintimidasi milik Sakura kembali tertuju padanya. "Ba―baiklah.."
Sakura mengangguk, ia menepuk pundak Naruto lalu berjalan melewati sang pahlawan Konoha tanpa sepatah kata pun. Membuat kedua temannya menatapnya prihatin. Setelah tubuh gadis pink itu tak terlihat lagi di mata teman-temannya, Sakura jatuh terduduk dibawah anak tangga. Menangisi hatinya yang hancur. Namun, ia harus merelakan semuanya.
Karena..
Naruto telah menepati janji yang ia pinta..
Membawa Uchiha Sasuke pulang ke Konoha..
~サスナル~
Naruto berdiri didepan Hokage dengan tatapan tak percaya.
Yang ia ingat, ia berada diluar kantor Hokage Cuma sekitar setengah jam dan saat kembali ke ruangan Hokage, ia mendapati kalau kedua Uchiha itu sudah tak berada disana. Tsunade mengatakan kalau kedua Uchiha itu kembali keluar desa untuk misi yang harus mereka kerjakan sebagai syarat untuk bisa kembali ke Konoha dengan pesangawasan ANBU.
Dan… Uzumaki ini pun panik bukan kepalang.
Dia―Uzumaki Naruto―baru saja bermesraan dengan Uchiha Sasuke―hari ini―selama empat jam dan harus kembali terpisah karena misi yang katanya sebagai syarat untuk kekasihnya kembali ke Konoha.. ah.. jangan lupakan calon kakak iparnya yang juga harus ikut.
"BAA-CHAN! AKU BAHKAN BELUM PUAS BERSAMA DENGAN SASUKE!"
"DASAR BODOH! KAU TIDAK AKAN MATI HANYA KARENA TERPISAH SELAMA SEMINGGU, GAKI!"
"SEMINGGU?! KAU BILANG SEMINGGU?! APA KAU GILA BAA-CHAN?!"
"KAU BERANI MENGATAKAN KU GILA?! SEKARANG KAU PERGI KE RUMAH SAKIT SEKARANG! KESEHATAN MU LEBIH PENTING DARI SASUKE MU ITU!"
"AKU TIDAK MAU!"
"PERGI, ATAU SASUKE MU TAK KU BOLEHKAN KEMBALI KE KONOHA, UZUMAKI NARUTO!"
Shizune yang sejak tadi berusaha menenangkan kedua blonde ini akhirnya menghela nafas lega karena teriakan terakhir Tsunade berhasil membuat Naruto terdiam dan terbatah, yang membuat pedebatan sengit dua orang ini berhenti. Shizune tertawa renyah sambil menggaruk tengkuknya saat melihat kejadian tadi.
"Shizune! Bawa bocah ini ke rumah sakit!"
"Ba―Baik Tsunade-sama.."
Mendapatkan perintah mutlak, Shizune pun mendekati Naruto yang membeku dengan mulut yang terbuka―masih berpikir untuk membalas kata-kata Tsunade. Namun, suaranya hilang entah kemana.
Saat tangan tan-nya yang terbalut jaket orang kebanggaannya ditarik Shizune―Naruto menatap Tsunade dengan tatapan memohon. "Baa-chan~"
"Tidak. Jika kau mau Sasuke mu bisa kuterima lagi di Konoha, dia dan Itachi harus berkerja sama menyelesaikan misi yang kuberikan. Sementara itu, sambil menunggu kedua Uchiha itu pulang, kau," Tsunade menunjuk Naruto. "―harus di rumah sakit selama seminggu untuk pemulihan mu." Naruto membuka mulutnya untuk protes, "Tidak ada protes. Ini yang kulakukan pada Kushina saat minggu pertama kehamilan." Mendengar nama ibunya diucapkan Tsunade, Naruto terdiam dan perlahan mengangguk.
"Baiklah.." ia pun menuruti Shizune saat tangan kanannya ditarik pelan.
Tsunade tersenyum, ia memandang pintu yang mulai tertutup. "Heh.. sama persis dengan si rambut merah itu. Tidak ibu, anak, sama saja. Cuma ditinggal misi saja sepanik itu.." Tsunade menggelengkan kepalanya, tak menyadari dirinya dahulu saat Dan pergi menjalankan misi saat-saat minggu pertama mereka pacaran.
Bahkan… dia lebih parah dari Kushina dan Naruto.
Kenapa lebih parah?
Karena Tsunade Senju mengamuk dan menghancurkan ruangan Hokage saat tau kekasihnya mendapat misi dari Sandaime.
Walaupun Cuma dua hari satu malam..
.
ーつづくー
-To Be Continue-
.
Kenapa Sasuke bisa tau Naruto hamil? O.o
seperti yang dikatakan Ino chap kemarin, yang tau kehamilan seseorang lewat mata adalah klan Hyuuga, Uchiha dan pengguna rinnegan, dan klan Inuzuka hanya tau dari aroma dua orang yang tercampur dalam satu tubuh.
Nah~ Sasuke dari klan Uchiha 'kan? Ovo
Punya sharingan kan? ovO
Jadi~ Sasuke tau kalau Dobe-nya sedang hamil :3
Tentang Jiraiya yang tau kehamilan Naruto dari denyut nadi itu, Ryuu ambil dari pengalaman baa-san Ryuu yang seorang bidan, dia periksa ibu hamil Cuma dengan rasakan denyut nadinya. ^v^
Apa… itu benar? O.o
Ah… gak ada lagi kan? #sigh#
Ryuu mau cabut ya―
Saku: Chotto matte, Ryuuki Ukara!
Ryuu: Eh? O,o;
Saku: Daftar pertanyaan nih! *lempar buku ke Ryuu*
Ryuu: *tangkep buku*
Saku: Cih! Gak kena!
Ryuu: #Nyengir. *liat daftar pertanyaan* oke.. okee~ Saku-chan~ bantu aku bacain pertanyaannya ya~?
Saku: Gak.. aku sibuk~
Ryuu: Kalo gak aku jadi antis mu loh~ #smirk
Saku: ==; baiklah~ *rebut buku pertanyaan*
Ryuu: Yosh! First question~!
Saku: *ehem* kenapa lama apdet?
Ryuu: um.. itu karena.. Ryuu 'kan pelajar.. kadang banyak tugas, kadang nggak.. kalo banyak tugas, biasanya Ryuu fokus ke tugas.. walau ujung-ujungnya tugasnya gak jadi kumpul sih =_=
lalu.. di rumah Ryuu, leppie Cuma punya satu,, itu pun punya aniki dan berbagi sesama yang lain.. jadi pas lappie gak dipake, Ryuu baru pake.. kalo ada tugas, Ryuu kerjain tugas, kalo gak ada Ryuu ngerjai fic atau browsing doujinshi yaoi di google atau baca-baca manga online xp nah! Yang berteman dengan Ryuu di fb, dan sering liat Ryuu berkoar di diberandanya atau sering online, itu kebanyakan Ryuu online dari hp =0= kalo online dari lappie, biasanya Ryuu ganti foto profil atau sampul atau―
Saku: SETOPPU!
Ryuu: = 3=
Saku: Pertanyaan selanjutnya! Um… banyak pertanyaan yang sering ditanya nih, Ryuu..
Ryuu: Eh? Apa? O.o
Saku: Itu yang godain Itachi, Kyuubi atau Naruto?
Ryuu: =v= udah terjawab di atas kan? *lirik keatas*
Saku: ==; apa ItaSasu bakal battle ngerebutin Naruto?
Ryuu: #smirk. Udah tu jawabannya diatas~ *liat keatas*
Saku: ==;; nah! Nah! Ada pertanyaan khusus buat kamu ni Ryuu!
Ryuu: Apa? Apa? O.o o.O
Saku: Apa Naruto bisa melahirkan? Dia 'kan cowo? Nah loh! Mau jawab apa lu Ryuu?! #smirk
Ryuu: Naruto kan punya jurus sexy no jutsu~ dia kan bisa jadi cewe sementara waktu~ tapi! Ryuu belum kepikiran tuh, pas melahirkan Naruto pakai jutsu itu atau malah operasi gitu.. belum terpikir sedetail itu euy~!
Saku: eh.. eh.. ada threesome SasuNaruIta gak? OvO
Ryuu: EEEEHHH?! ==; kayaknya nggak deh..
Saku: EH? NANDE?!
Ryuu: = 3= Ryuu kan Kizuna~ setia ama SasuNaru #kibar bendera SN#
Saku: Ck, kalau threesome kan seru T 3T nah, Ryuu! Apa Itachi naksir Kurama?
Ryuu: soal itu Ryuu mau berunding dulu ama yang main.. #ngabur
Saku: EIITTSS! Belum selesai~
Ryuu: HHEEEE?!
Saku: *melotot*
Ryuu: = 3= (%*$^&O&%#%#^
Saku: =_=
Ryuu: eh! Eh! Forehead!
Saku: APA?!
Ryuu: Soal ItaNaru tadi keren juga? #fujo smirk#
Saku: hu-um! Coba aja buat disini!
Ryuu: O―*diamaterasu Sasuke*
Saku: Ryuu? O.o
Ryuu: #gosong
Saku: Ryuu? Masih hidup 'kan?
Ryuu: I―Iya..
Saku: baguslah.. abis masih ada pertanyaan lagi nih! Shukaku di-uke-in Neji? O.O
Ryuu: yep! Yep~!
Saku: terus, Yang UtakataGaara/SaikenShukaku bakal beneran ada? O.o
Ryuu: kayaknya sih Cuma hint-hint sama seperti pair lain.. =0=
Saku: itu baby-nya Naru punya siapa? O.o
Ryuu: punya Sas'ke~ 'kan sih keriput gak jadi lemonan ama Naru~
Saku: ye #sigh#
Ryuu: *liat buku pertanyaan* eh! Ada yang salam kenal dengan aku, kenapa gak dibaca?
Saku: emang itu pertanyaan? O.o
Ryuu: bukan sih…
Saku: So?
Ryuu: Ya kalo ada kan Ryuu mau bilang "Salam kenal juga! Terima kasih udah baca fic Ryuu yang gak jelas ini~ :D"
Saku: sudah?
Ryuu: Sudah! X)
Saku: nah say bye-bye dulu sana!
Nah! Terima kasih buat silent reader yang nyempatin baca, atau reviewer yang susah payah ngetik untuk review fic Ryuu! *hug satu-satu*
Tanpa dukungan kalian, Ryuu pasti udah pundungan karna gak ada yang ngasih semangat.. :')
Sekali lagi…
Terima kasih buat silent reader, reviewer!
Tanpa kalian Ryuu pundung, adanya kalian Ryuu semangat ngetik ficnya! :3
Saahh~
Mind to review this story again? O.o *jiaah~ bahasanya euy~! xD*
