Disclaimer : Hidekaz Himaruya
Rating : Masih T kayaknya (?) Bisa berubah sewaktu-waktu tergantung mood Author.
Warning : Author newbie, jadi banyak TYPO dan aneh. Abal2 dan tidak masuk di akal. Ini percobaan nekad dari author yang baru ngeh dikit tentang hetalia. *disiram pake cat sepuluh gallon*
Cerita Sebelumnya:
"Vlad, aku titip dia untuk sementara, sampai aku bisa bergerak bebas. Pelaku penyerangan ini mengincar personifikasi Asia. Dia sudah mengambil Kiku, tapi tidak ada jaminan Nesia tidak terancam. Dalam surat tantangan ini, dia tidak menyebutkan berapa personifikasi yang diincarnya. Aku pikir dia mengincar tidak secara acak. Dia mengincar orang-orang yang mengetahui masalah ini." Kataku memaparkan analisisku.
"Lalu, apa artinya aku juga terancam?"
"Sepertinya, ya. Semua yang mengetahui masalah ini terancam. Dewan Keamanan, Para pemegang platina, Magic Club, dan Francis. Peringatkan Ludwig dan Lukas tentang hal ini. Aku akan mencoba menggunakan sihir milik nenek moyangku untuk memulihkan diriku seharian besok. Aku harap ini akan berjalan baik karena aku belum menguasainya dengan baik." Kataku lalu beranjak tidur.
Aku harap tak akan ada masalah seharian besok. Semoga semua ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir saat aku membuka mata besok. Maafkan aku Kiku, aku seharusnya bisa memprediksi ini lebih cepat. Aku harap mereka tidak membuat nyawamu terancam. Dan jika sampai dia membahayakan mereka semua, aku bersumpah akan membunuhnya saat itu juga. Aku akan mengorbankan segalanya termasuk nyawaku untuk melindungi seluruh personifikasi disini.
—OOOoooOOO—
NESIA POV
Pembohong. Itu satu kata yang tepat untuk menggambarkan seorang personifikasi dari Britania Raya. Dia bilang akan melindungi Kiku, tapi nyatanya sekarang sahabatku itu tertangkap oleh musuh kami. Dan aku yakin sekali si Kakek Laknat itu pasti sekarang sedang tertawa senang melihat hal ini. Aku berani menjamin, setelah kejadian di ruangannya kemarin, dia pasti tahu aku curiga padanya dan sekarang sedang tertawa gembira karena melihat kegagalanku melindungi Kiku.
Aku masih tak dapat menghubungi Ayah. Aku sudah coba menghubungi adik bungsuku, Singapura, tapi dia bilang Ayah tidak ada. Aku telepon Ibu, sama saja tidak nyambung. Maya juga aku suruh menghubungi, tidak ada yang mengangkatnya. Aku bingung kalau begini ceritanya.
Berat rasanya harus tinggal di asrama sendirian seperti pagi ini. Keadaanku yang masih belum pulih sejak serangan kemarin, membuat Eliza mengamuk setiap aku hendak turun dari tempat tidur. Ayolah, aku bosan. Bahkan kini dia memasang kamera pengintai untuk memastikan aku tidak turun dari tempat tidur, kecuali ke toilet. Si Malay alay itu juga sama ganasnya dengan Eliza.
Aku benci tidak berdaya begini. Aku harus melakukan sesuatu untuk menemukan sahabat terbaikku itu. Aku tidak bisa begini. Bagaimanapun ini semua salahku juga yang tidak bisa melindunginya. Harusnya aku sadar lebih awal kalau Kiku diincar saat melihat emosinya dipermainkan begitu.
Namun aku mengakui kehebatan musuh kali ini. Dia bisa membuat Kiku yang emotionless begitu menjadi meledak-ledak. Sebenarnya aku sendiri hampir kehilangan kendali lagi seperti waktu itu. Tapi entah kenapa saat itu ada perasaan tenang saat menyadari ada Arthur disekitarku.
Astaga! Kenapa aku malah merasa tenang? Kan aku lagi marah sama bule menyebalkan beralis tebal itu. Lebih baik aku mengalihkan pikiranku dari pada mengingat makhluk itu lagi. Aku sebaiknya kembali tidur.
Aku merasa aku sudah menutup mataku dengan rapat dan mulai menjelajah dunia yang bernama mimpi. Sejauh yang dapat kulihat kali ini hanya warna putih. Ini seperti dunia yang kosong. Entah mengapa aku seperti jatuh kedalam jurang tanpa ujung. Semua benar-benar membuatku merasakan kesendirian yang begitu nyata.
"Nesia..."
Aku menoleh ketika sebuah suara lembut memanggil namaku. Aku mendapati seorang gadis cantik berdiri tak jauh dariku. Siapa gadis itu? Pakaiannya kuno sekali. Seperti pakaian zaman Victoria. Tidak, bahkan sepertinya lebih tua lagi.
"Tolong bantu aku. Aku tak ingin dia mengembalikan waktu kami. Tak akan ada yang bisa merubah takdir sekeras apapun dia mencoba." Ujar gadis itu dengan aksen sengau-nya.
"Tunggu dulu! Kau siapa? Yang kau maksud dia siapa?" Tanyaku tak mengerti.
"Kau akan tahu siapa aku pada saatnya. Dia adalah orang yang berusaha mengubah sejarah. Kau tahu dia. Tolong, cegah Pierre agar tak lagi mengubah sejarah. Biarkan saja semua seperti masa lalu. Katakan padanya walau kita berpisah, aku yakin Tuhan akan mempersatukan kita di surga." Ucap gadis itu dengan tatapan berkaca-kaca padaku.
"Maaf, nona. Saya tak pernah tahu siapa yang bernama Pierre, yang saya tahu yang bernama Pierre hanya seekor burung peliharaan milik personifikasi Prancis." Jelasku benar-benar tak mengerti.
"Burung kecil itu terinspirasi olehnya. Seorang pengajar yang sangat berbakat." Kata gadis itu masih penuh teka-teki.
"Nona, kalau kau tak mengatakannya dengan jelas, aku tak bisa membantumu. Aku bukan seorang cenayang yang dengan mudahnya menebak apa maksudmu jika kau tak mengarakannya secara gamblang. Tolong jangan mempersulit hal ini." Kataku setelah habis kesabaranku. Eh tunggu, kalau aku bisa melihat makhluk halus kan artinya aku cenayang, ah tapi sudahlah. Aku tak suka diajak bermain tebak-tebakan untuk masalah sepenting ini.
"Kau tahu dia, Nesia. Kau membaca kisah kami. Kisah yang memiliki banyak versi karena percobaannya yang terus berusaha mengulang sejarah." Jelas gadis cantik itu dengan wajah yang seolah meyakinkanku.
"Baiklah, aku menyerah. Sepertinya otakku memang sedang tidak beres. Jika memang orang yang kau maksud adalah orang yang sama dengan orang yang sedang aku cari, maka aku pasti akan membantumu. Namun, jika mereka adalah orang yang berbeda, maaf. Aku tak yakin dapat memecah konsentrasiku." Kataku akhirnya.
"Terima kasih, Nesia. Kau sungguh gadis yang baik. Aku titipkan sesuatu pada dirimu, semoga ini bisa membantumu disaat yang tepat." Kata gadis itu lalu menghilang bersama cahaya terang yang menyelimutiku dan membuatku terbangun.
Aku melihat tubuhku. Tidak ada yang berubah. Semua masih sama. Tidak ada benda yang tersangkut juga di tubuhku. Mimpi yang aneh. Aku segera mengambil air putih di atas nakas di samping tempat tidurku. Ku minum air itu dengan rakusnya. Mimpi menyebalkan.
Tenagaku telah kembali. Aku mencoba kambali menapaki lantai dengan kedua kakiku. Tidak ada rasa nyeri. Ah, mungkin cahaya itu memulihkan kondisiku dengan cepat. Aku sungguh merasa beruntung. Karena musuh kali ini memiliki ilmu yang sama denganku, aku menjadi semakin berhati-hati. Aku harus memastikan tidak ada "orang itu" maupun gerbang antardimensi disekitarku. Tapi, aku sendiri tak tahu bagaimana cara mendeteksinya dengan tanpa wujud roh.
Aku benar-benar butuh Ayah. Kemana Ayah disaat genting seperti ini? Ibu juga ikut menghilang. Apa mereka sedang dalam bahaya pula? Duh, Gusti... pikiranku jadi negatif seperti ini jika sudah panik karena menemukan hal berbahaya.
Huft, tarik napas, embuskan. Tenang dan mulai berpikir jernih. Tidak akan ada yang bisa mencelakakan personifikasi Majapahit dan personifikasi Sriwijaya. Tidak selama keduanya masih saling memiliki. Ya, aku harus tenang dan yakin Ayah dan Ibu baik-baik saja. Mereka hanya ada urusan penting.
Aku akan mencoba membaca polanya lagi. Sepertinya mereka tidak mengubah pola penyerangan, hanya memberikan variasi agar tidak terbaca jelas saja. Sepertinya Arthur salah mengenai pola layang-layang karena pola itu belum selesai. Tunggu, rasanya aku tahu titik-titik ini akan membentuk apa. Ini seperti pola segi enam yang belum utuh... tidak, bukan segi enam. Ini dua buah segitiga bertumpuk. Bintang Iblis.
—OOOoooOOO—
Arthur POV
Memulihkan tenaga ternyata cukup memakan waktu walaupun jatuhnya lebih cepat dari pada perkiraan awal karena aku dapat menguasai sihir pemulih dari nenek moyangku lebih cepat. Otakku memang jenius karena dengan mudahnya menguasai sihir yang baru aku pelajari 2 kali. Personifikasi Britania Raya ini memang sudah seharusnya jenius seperti ini. Penguasa 2/3 bumi memang sudah seharusnya luar biasa. Astaga, bisa-bisanya aku tertular narsisnya Gilbert.
Baiklah, kembali ke diriku sendiri. Setelah akhirnya bisa memulihkan tenagaku sendiri, aku mengecek surat elektronik alias email milikku. Aku sudah meminta adik kecilku, Peter Kirkland untuk mengirimkan hasil scan buku tua itu. Aku yakin ilmu yang Nesia maksud waktu itu ada disana.
Buku tua itu seingatku dibuat bersama dengan seorang guru besar yang dengan sesatnya mempelajari sihir hitam setelah diasingkan ke negeriku saat perang dengan Perancis. Perang yang menyebabkan tak ada satupun dari warga kedua negara tidak dapat bertemu dalam waktu yang lama. Aku tak pernah tahu guru besar itu dari mana karena nenek moyangku tak pernah menceritakan secara utuh.
Setelah mencari selama 30 menit, akhirnya aku temukan tulisan yang waktu itu pernah sekilas aku baca. "Lucid-d" adalah judul yang terpampang dengan besar di halamannya. Aku membacanya dengan teliti. Ilmu ini tidak terlihat sulit dan istimewa saat dibaca. namun, saat aku coba untuk mempraktikannya sungguh membuatku kehilangan akal sehat karena aku seperti orang gangguan jiwa yang marah-marah tidak jelas sendirian.
Astaga, ini sungguh membuatku frustasi. Bagaimana mungkin ada ilmu sihir yang sulit seperti ini?! Allistor pernah bercerita padaku bahwa sihir dalam buku ini tak semuanya bisa dipelajari. Tapi aku tak percaya begitu saja dengan kata-katanya karena aku memang tak pernah kesulitan mempelajari sihir apapun. Biasanya hanya membutuhkan waktu, namun aku sudah mengerti cara kerjanya. Baru kali ini aku kesulitan.
Aku menarik napas berat dan mengembuskannya dengan kasar. Ini akan sangat memakan waktu jika aku harus mempelajarinya. Aku putuskan untuk mencari kelemahannya menurut data yang ada di buku ini. Tunggu! ada halaman yang hilang disini. Seingatku buku-buku ini sangat dijaga hingga tidak pernah ada yang hilang maupun rusak. Aku segera menelepon Peter untuk hal ini.
"Peter, halam 235 dan 236 dari scan buku yang kau kirim dimana?" Tanyaku tanpa basa-basi begitu adik kecilku mengangkat teleponku.
"Mana aku tahu. Aku hanya menjalankan apa yang Dawn Brother minta tanpa menguranginya sedikitpun." Kata Peter terdengar malas. Tidak biasanya dia terdengar malas seperti ini.
"Mana Big Brother?" Aku akan berbicara mengenai hal ini pada Allistor.
"Sebentar." Kata Peter tanpa menutup sambungan dan terdengar suaranya yang memanggil Allistor ke seluruh penjuru ruangan, "BIG BROTHEERRRR... ADA TELEPON UNTUKMU DARI DAWN BROTHER". Astaga, anak ini mau membuatku tuli, ya? Sengaja sekali berteriak di depan telepon.
"Ada apa, Arthur?" Kata Allistor di seberang telepon setelah membuatku menunggu cukup lama.
"Scottie, apa kau tak bisa menjaga buku leluhur kita dengan baik selama aku di Academy?" Kataku dengan nada sinis yang kentara.
"Aku selalu menjaganya dengan baik, sialan. Apa maksudmu?!"
"Lalu kenapa halaman 235 dan 236 dari buku itu hilang? Coba kau cek sendiri ke perpustakaan lama!" Kataku kesal.
"Sebentar, kau tahu dari mana ada halaman yang hilang? Kau meminta Peter untuk mengirimkan softcopy buku itu padamu, ya?!" Seru Allistor terkejut.
"Sebenarnya..." Belum selesai aku mengucapkan kalimatku, Allistor sudah kembali memotongnya.
"Kau tahu seberapa berbahayanya isi buku itu jika jatuh ke tangan orang lain, bukan? Kau terlalu ceroboh, Arthur. Copy digital seperti itu sangat mudah menyebar ke seluruh dunia. Hh... Kau tahu, akhir-akhir ini rumah memang sedang dalam masalah karena ada yang menyadap dan menghack cctv. Aku sudah memulihkan sistem keamanan di rumah kemarin, namun aku tak yakin dengan jaringannya." Potong Allistor panjang lebar.
"Maaf, Big Brother." Aku hanya bisa meminta maaf pada Allistor.
"Akan aku lihat dulu buku aslinya. Nanti aku telepon lagi." Kata Allistor dengan suara kecewa yang kentara.
Aku hanya bisa mengembuskan napas kasar. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan di mata Allistor. Mana aku tahu jika sistem keamanan Allistor jebol dan berdampak fatal pada saat itu. Tak lama kemudian, dering telepon menggema ke seluruh ruangan.
"Arth, sepertinya bukan hilang. Peter hanya lupa memindai halaman itu. 5 menit lagi akan aku kirim halaman yang kau cari." Allistor sepertinya mengerti kesulitanku dan tidak memperpanjang masalah ini. Terkadang dia bisa jadi baik seperti ini.
Sudah kuduga jika halaman itu sangat penting. Pada halaman tersebut disebutkan bahwa ilmu itu hanya bisa dikuasai oleh pemilik sihir hitam. Selain itu, karena kekuatan yang digunakan sangat besar, maka selama penggunaan ilmu 'Lucid-d' ini tubuh pengguna tidak dapat bergerak. Tubuh yang tidak bergerak itulah kuncinya. Jika tubuh itu terluka, maka tamatlah riwayat sang pengguna ilmu itu. Hmm... bisa dipertimbangkan untuk kuracuni dengan racun hitam. Dan ada satu lagi kelemahan dari penggunaan ilmu ini. Karena menggunakan banyak tenaga, ilmu ini tidak setiap saat dapat digunakan.
Aku akan menyusun rencana. Jika seandainya kemarin dia menggunakan ilmu tersebut, seharusnya hari ini dia tidak bisa menggunakannya lagi. Artinya hari ini aku bisa leluasa bergerak. Ini kesempatan bagus. Seandainya memang ilmu ini yang dia gunakan, aku yakin rencana ini akan berjalan lancar.
Rasanya ini seperti bermain strategi. Siapa yang strateginya terbaca, maka dia pasti akan kalah. Aku harus memastikan sesuatu pada kurcaci mungil itu. Aku harus menghubungi Nesia untuk bertemu secara langsung.
Nada sambung mulai terdengar ketika ponselku aku tempelkan ke telinga. Oh, ayolah kurcaci mungil pake banget! Angkat teleponku! Sampai dering ke-5 Nesia tak juga mengangkat teleponku. Begitu dering terakhir terdengar, akhirnya kurcaci personifikasi Indonesia itu mengangkatnya juga.
"Kenapa lama sekali?!" Semprotku tak sabaran.
"Kau pikir aku membawa ponselku ke toilet?! Makanya sabar!" Semprot Nesia balik tak kalah galaknya dariku.
"Mana aku tahu kau ke toilet!"
"Maka dari itu jangan asal semprot!"
Ah, sepertinya memang selalu ada pertengkaran diantara kami. Entah kenapa gadis ini selalu saja membuatku ingin bertengkar. Jika tidak bertengkar dengannya, rasanya ada yang kurang setiap bertemu dengannya.
"Sudahlah. Aku butuh bertemu denganmu sekarang juga. Aku tunggu di dermaga 10 menit dari sekarang. Ada hal penting yang tidak bisa aku tunda penyampaiannya." Kataku mengubah pertengkaran ini menjadi lebih penting.
"Aku juga sama. Ada yang harus aku sampaikan padamu. Baiklah, aku akan sampai di dermaga 10 menit dari sekarang." Kata Nesia melunak.
"Ah, Nes…" Panggilku sebelum Nesia menutup teleponku.
"Ya?"
"Anginnya sedang kencang. Jangan lupa jaketmu. Sudah, ya. Sampai ketemu di dermaga." Kataku langsung menutup percakapan dan memutuskan sambungan telepon.
Aku segera bersiap keluar menemui Nesia di dermaga. Tenang saja, aku selalu langsung mandi kok setiap bangun tidur walau seberat apapun langkahku untuk turun dari tempat tidur. Jadi, aku hanya perlu mengganti bajuku saja. Segera aku sambar jaket kesayanganku dan ponsel begitu aku sudah mengganti bajuku, lalu keluar setelah menyegel kamar dan menguncinya seperti biasa.
Akhir-akhir ini aku merasa semakin tidak aman kalau aku keluar tanpa menyegel kamarku. Rasanya ada saja yang berubah di dalam kamar. Seperti ada yang menggeledah. Aku coba menggunakan trik dari manga yang sempat aku pinjam dari Kiku, menggunakan isi pensil mekanik yang diselipkan di celah dalam pintu. Tapi, memang tak ada apapun. Entahlah, mungkin memang hanya perasaanku saja yang penuh rasa curiga.
Sepertinya aku jadi sering ke dermaga. Dulu, aku cukup jarang ke sana. Terakhir kali sebelum bersama Nesia, aku dari dermaga hanya saat aku datang ke sini setelah liburan. Meski dermaga itu menjadi salah satu tempat favoritku juga. Suasana yang membuatku teringat akan sebuah ingatan yang lama terkubur. Nuansa pertemuan dan perpisahan, kental terasa di dermaga. Belum lagi deburan ombak yang mengingatkanku akan kejayaanku di laut dulu.
Cukup lama aku menunggu gadis Asia itu. Ah, bukan, dia tidak terlambat. Dia berjanji datang dalam 10 menit, sementara ini baru 9 menit sejak waktu ditetapkan, masih ada 1 menit lagi sampai waktu perjanjian.
"Arthur, maaf aku terlambat!" Seru sebuah suara di belakangku.
Aku menoleh dan mendapati gadis itu dengan keadaan yang cukup kacau. Oke, aku tahu luka dia cukup parah, tapi aku tak menyangka dia sekacau itu.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Salahkan sekretaris kejammu dan adik sok galakku. Mereka mengunciku dari luar sehingga aku harus memanjat turun lewat jendela." Kata Nesia sebelum sempat aku membuka mulutku.
"Ohh... manjat. APA?! Kau sudah gila? Itu lantai 2." Kataku terkejut.
"Habis mau gimana lagi? Aku tak ada kunci cadangan. Satu-satunya jalan keluar, ya hanya jendela itu Tuan Kirkland." Kata Nesia sinis.
"Harusnya kau bilang padaku. Aku bisa membukakannya dari luar." Kataku tak mau kalah.
"Dan membiarkan petugas asrama salah paham dengan kedatanganmu? Tidak, terima kasih."
Hh... perdebatan ini kalau dilanjutkan tidak akan ada habisnya. Gadis ini sungguh unik, jika aku boleh menyebutnya secara halus. Aku tak habis pikir, bagaimana bisa seorang gadis sanggup turun dari ketinggian yang bahkan mungkin 3 kali lebih dari tinggi badannya sendiri. Dia benar-benar berbeda.
"Jadi, dimana kita akan membicarakan masalah ini?" Tanya Nesia.
"Ujung dermaga. Disana lebih mudah menggunakan kekai dan segel agar pembicaraan kita kedap dari luar." Kataku sambil melangkah duluan menuju ujung dermaga.
Aku mendudukkan diriku di ujung dermaga dengan kaki menjulur ke arah laut bebas. Setelah Nesia juga duduk di sampingku, aku mulai membentuk kekai dan segel disekeliling kami. Aku menempatkan kekai dan segel terkuat yang aku miliki untuk segala kemungkinan yang buruk.
"Jadi, siapa yang akan mulai dulu?" Tanya Nesia begitu diriku membuka kedua mataku setelah menyegel kekai ini.
"Sebagai gentlemen yang baik dan tidak sombong, aku harus mengalah pada wanita. Jadi, kau yang duluan saja." Jawabku.
"Cih, bertele-tele. Aku duluan kalau begitu. Aku sudah menemukan pola penyerangan mereka dan lokasi penyerangan selanjutnya." Kata Nesia serius.
"Sungguh? Bagaimana bisa?" Tanyaku antara tak percaya dan takjub.
"Ingat pola yang kau buat sebelumnya? Aku menambahkan titik penyerangan terhadap Kiku kemarin. Jika dilihat polanya, maka akan terlihat pola yang belum terselesaikan. Menurutmu ini terlihat seperti apa?" Kata Nesia sambil membuka peta yang seperti aku buat sebelumnya.
"Ini... seperti segi enam yang belum selesai. Eh, tidak. Ini bukan segi enam. Bintang Iblis." Desisku terkejut.
"Nah, benar. Jika memang ini adalah pola penyerangannya, maka selanjutnya akan ada di sekitar sini. Lalu, pada pemujaan iblis, yang terpenting adalah bagian tengahnya. Kemungkinan besar, pada purnama besok bagian tengah inilah kunci untuk menuju 'mereka'. Aku rasa disinilah pintu itu bersembunyi." Jelas Nesia gamblang.
"Lalu, jika memang seperti itu, siapa yang akan diincar selanjutnya? Jika melihat surat yang ada pada Kiku kemarin, mungkin aku akan memiliki pemikiran yang sama dengan Kiku. Kaulah yang mereka incar, Nes." Kataku.
"Surat? Surat apa?" Tanya Nesia bingung.
"Ini, Vlad mengatakan ini ada di saku bajuku kemarin. Aku rasa Kiku memasukkan ini sebelum ia diambil oleh mereka." Kataku sambil menyerahkan kertas kemarin yang memang aku bawa.
"Mereka benar-benar..." Ujar Nesia geram saat membaca surat itu. "Lalu, kenapa kau berkata bahwa akan berpikiran sama jika aku yang diuncar? Orang Asia bukan hanya aku." Kata Nesia.
"Ini hipotesis keduaku. Mereka mengincar orang-orang yang mengetahui rencana mereka untuk digunakan sebagai 'sumber tenaga' mereka. Dan lagi, kata 'manis' biasanya merujuk pada wanita, walau memang manis itu relatif. Jika Kiku yang mendapat kertas itu, dirinya tak mungkin menyadari bahwa dirinyalah yang diincar. Mereka menjebak Kiku dengan cara seperti itu. Apalagi sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya, aku mendengar seseorang yang berkata 'jatuh ke dalam perangkap'. Maka dari itu aku yakin, mereka mengobrak-abrik perasaan Kiku dan membuatnya panik untuk menjebaknya ke tempat itu." Jelasku panjang lebar.
"Hmm... sepertinya hipotesis kita sedikit berbeda. Aku malah berpikir mereka mengincar para personifikasi negara adidaya. Maka dari itu, aku rasa kau dan Alfred harus sangat berhati-hati, Arthur. Mungkin lebih baik, kau dan Alfred tak berada disekitar sini untuk sementara. Biarkan yang lain yang menjaga daerah sekolah. Mungkin bisa diambil alih oleh Magic Club untuk sementara?" Saran Nesia.
"Aku rasa lebih baik jangan. Mungkin memang kita perlu sangat berhati-hati. Tapi, aku takut kalau mereka sudah menyadari kalau kita sudah tahu pola mereka dan berubah rencana bahkan menjadi brutal. Kau juga harus tetap berhati-hati, Nes. Kita tidak tahu berapa personifikasi Asia yang mereka incar. Kemungkinan kau dalam bahaya juga masih sangat besar." Kataku memperingatkan.
Kami sama-sama terdiam. Tak ada satupun dari kami yang tidak bergeming. Hanya angin laut yang mengisi ruang diantara kami. Bagaimanapun, nyawa seluruh dunia dipertaruhkan disini. Satu personifikasi mati, seluruh warganya bertaruh nyawa.
Ada banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Bisa jadi negara itu menghilang, terjadi bencana hebat, hingga kelahiran kembali personifikasi generasi berikutnya. Tapi, kemungkinan terakhir itu benar-benar sangat kecil. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi pada negaraku saat aku terluka parah kemarin. Mungkin hanya bencana alam atau gejolak masyarakat. Tapi, kalau aku sampai gugur kali ini, aku tak tahu lagi apa yang akan mereka alami.
Aku harap, semua ini dapat selesai tanpa mengorbankan apapun. Walau aku sudah pernah berpesan pada Allistor, jika ada hal yang mencurigakan terjadi di negaraku, aku ingin mereka semua mengungsi ke daerahnya, Scotland. Setidaknya, aku tak ingin banyak korban kali ini. Aku juga tak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup aku kehilangan personifikasi Nusantara.
"Alis tebal, kau tahu tidak. Saat dilahirkan kembali, kau akan merasa hampa karena sebagian besar memorimu telah hilang. Tapi, saat kau selamat sementara sebagian besar rakyatmu telah tiada maupun berganti dengan rakyat lainnya, kau akan lebih merasa hampa dan sakit. Ayahku bilang seperti itu karena ia dan Ibunda telah melihat banyak kejadian. Mereka tetap hidup karena sisa-sisa kerajaan yang masih ada dan juga rakyatnya yang tetap hidup meski telah berkembang menjadi rakyat dari anak-anaknya. Tapi, beliau bilang, rasa hampa dan sakit itu lebih baik dari pada kau melihat rakyatmu hilang semua seperti Pajajaran yang tiada dan tak pernah kembali lagi." Kata Nesia tiba-tiba.
"Nes, tapi bukankah hampir mustahil untuk bisa lahir kembali setelah kehancuran itu? Bahkan jika bukan karena rakyatnya, mungkin Ivan dan Kiku sudah tiada sejak perang itu. Sama seperti gadis itu yang sudah tak pernah lagi aku dengar keberadaannya. Bahkan aku lupa bagaimana aku menemukannya saat itu." Kataku mengenang Nusantara.
"Kau benar. Mereka kuat. Aku yakin, Kiku akan selamat karena sebelunya ia pernah melewati masa yang sangat kritis." Ucap Nesia lebih optimis.
"Ya. Dan seingin apapun aku kembali ke masa itu, aku tak akan pernah mengulang sejarah. Aku bahkan tak yakin jika nantinya kami akan tetap bertemu meski telah mengulang kembali sejarah itu." Kataku.
"Karena tanpa masa lalu itu, tak mungkin kita menjadi diri kita yang sekarang." Kataku dan Nesia bersamaan.
"Oh, iya aku hampir lupa. Nesia, bisa kau baca ini? Ini ilmu yang aku maksud waktu itu. Apa ini ilmu yang sama atau beda denganmu?" Kataku mengganti topik.
"I... ini.. kau yakin ini sudah turun temurun ada di keluargamu?" Tanya Nesia terkejut.
"Ya, nenek moyangku yang menulisnya bersama seseorang. Dia yang membuatnya dan belajar ilmu hitam dari keluarga kami. Buku ini tak pernah ada yang merubah isinya." Jawabku jujur.
"Apa leluhurmu pernah ke negeriku?" Nesia masih terus bertanya dengan mata yang tak berhenti melihat halaman demi halaman buku itu.
"Britania Raya memang pernah menguasai 2/3 bumi, tapi itu pada saat aku yang menjadi personifikasi. Sebelumnya, kami hanya berdiam disekitar negeri kami." Kataku yakin.
"Arthur, apa kau percaya jika aku katakan ini adalah ilmu yang sama dengan yang aku miliki?" Kata Nesia dengan wajah tegang.
—OOOoooOOO—
Normal POV
Nesia sungguh tak menyangka akan hal ini. Dasar dari ilmu yang ada di dalam buku ini sama dengan ilmu dari nenek moyangnya. Meskipun banyak perbedaannya, namun saat dibaca dasar penggunaanya ini sama persis. Seolah ini adalah ilmu dari nenek moyangnya yang disempurnakan. Apa maksud dari semua ini?
Apa ilmu ini pernah bocor pada yang lain? Ayah tak pernah bercerita tentang hal itu. Eh, tunggu dulu. Rasanya ini memang bukan ilmu rahasia karena sulit untuk mempelajarinya. Hanya pengguna sihir hitam juga yang bisa menggunakannya. Nesia kembali mengingat apa yang sudah ayahnya pernah katakan padanya.
"Nes?" Arthur bingung karena Nesia tak memberi penjelasan lain akhirnya menepuk pundak Nesia yang terlihat melamun.
"Aku rasa ini ada hubungannya dengan rencana pengulangan sejarah ini. Dasar dari ilmu itu sama dengan milikku. Ayah tak pernah bilang ada orang asing yang mempelajari ilmu ini. Walaupun sepertinya ini sudah lebih disempurnakan karena aslinya jiwa seluruhnya lepas, tidak sebagian seperti ini. Ini benar-benar bahaya." Ujar Nesia panik.
"Baiklah, kamu tenang dulu sekarang. Bagaimana bisa hal tersebut menjadi sangat berbahaya?" Kata Arthur mencoba untuk menenangkan Nesia.
"Tuan Arthur Kirkland yang terhormat, tidakkah anda berpikir jika mereka sebenarnya telah mengetahui seluk-beluk diri kita jauh sebelum kita mengetahui mereka? Itu tentu sangat berbahaya." Kata Nesia gemas dengan ketidakpekaan Arthur.
"Ah, aku mengerti. Jadi maksudmu, bisa jadi catatan ini adalah bukti dari sejarah sebelumnya yang berhasil mereka ubah?" Kata Arthur mulai menangkap maksud dari Nesia.
"Benar. Meski aku juga tak terlalu yakin akan hal itu. Tapi, bukankah ada banyak sejarah yang tertulis simpang siur? Jika memang kita berasal dari sejarah yang sama, bukankah seharusnya ada satu cerita?" Kata Nesia membuat hipotesis.
"Well, aku pikir karena itu sebuah kisah dan kisah itu tergantung dengan cara pandang orang tersebut. Tapi, aku rasa hipotesismu tak salah juga. Sekarang lebih baik kau beri tahu aku cara kerja ilmu ini. Aku cukup frustasi mencobanya." Kata Arthur.
"Kuncinya hanya pada kesabaran dan konsentrasi. Dengan itu, kau bisa mengatur jumlah tenaga yang dibutuhkan dan menemukan kunci untuk melepaskan jiwa dari tubuh. Rasanya sama kok seperti meditasi." Kata Nesia sedikit geli melihat wajah frustasi Arthur.
"Begitu? Hmm... aku coba nanti. Ngomong-ngomong, aku ingin berdiskusi mengenai kelemahan ilmu ini seperti yang tertulis disini." Kata Arthur sambil menunjuk halaman yang dimaksud.
Nesia tampak membaca halaman tersebut dengan serius. Arthur masih membeberkan rencananya untuk menggunakan racun hitam pada tubuh yang tak bergerak itu jika menemukannya. Hanya saja, ia masih belum tahu bagaimana menemukan tubuh itu.
Gadis personifikasi Indonesia itu tampak berpikir keras karena kelemahannya pun sama persis dengan ilmu itu. Untuk menyerang pengguna yang memiliki kelemahan yang sama itu resikonya cukup besar. Apalagi jika lawannya juga mengetahui dengan pasti kelemahannya itu.
"Hei, apa kau mendengarku, git?!" Kata Arthur yang merasa diabaikan oleh Nesia.
"Aku dengar alis tebal! Aku juga memikirkan cara untuk mencarinya dan menyerang kelemahannya itu. Asal kau tahu, dia tidak mungkin meninggalkan tubuhnya tanpa perlindungan apapun." Kata Nesia kesal juga.
"Hmm... benar juga. Kau lumayan juga, kurcaci. Aku hanya perlu mendeteksi kekuatan terbesar di lingkungan ini ada dimana, disitulah perlindungan ghaib berkumpul. Lalu, artinya mereka juga ada disana." Kata Arthur antara memuji dan menghina.
Nesia hanya memutar bola matanya bosan mendengar sebutan Arthur untuknya. Tak lama ia melihat Arthur mulai memejamkan matanya seperti bermeditasi. "Kai!" Bisik Arthur. Sebuah gelombang energi yang tipis namun kuat terasa menyentak dari Arthur menuju ke seluruh pulau. Nesia merasa seperti ada yang mendorong dirinya cukup kuat hingga menembus keluar dari tubuhnya. Rasanya sungguh membuat mual.
Arthur langsung membuka matanya begitu terdengar suara seorang gadis yang mengeluarkan isi perutnya ke laut. Benturan energi yang dibuat Arthur memang cukup kuat hingga pengguna sihir seperti Nesia pasti merasakan dampaknya dan mual luar biasa. Rasanya seperti ada yang meninju perutmu dengan kekuatan besar.
"Are you okay, Nes?" Tanya Arthur khawatir.
"Of course no. You are the one who make me like this and you just asked me am I okay? Are you crazy, Mr. Kirkland?" Semprot Nesia kesal. Sepertinya Nesia sedang moody mengingat sebentar dia marah, sebentar lagi dia lembut.
"Iya, iya maaf. Aku pasti akan tanggung jawab kok. Hanya benturan energi segini aja tidak akan membuatmu cedera parah. Lagi pula, hanya orang-orang yang memiliki kekuatan besar dengan ilmu sihir saja yang bisa merasakannya." Kata Arthur. Nesia hanya mengangguk sambil tetap menahan mual.
KRAKK...
Seketika Arthur dan Nesia menoleh ke belakang. Sepertinya Arthur lupa jika ia menghilangkan kekai dan segelnya tadi untuk menggunakan Scanwave miliknya. Mereka melihat Alfred yang terpaku mendengar percakapan mereka tadi. Sepertinya ada yang salah paham disini.
"Oh, apa aku mengganggu?" Kata Alfred canggung.
"Alfred? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Nesia terkejut. Seketika mualnya hilang padahal efek dari benturan energi itu masih sangat besar.
"Ah, aku... aku lupa tadi mau apa kemari. Aku kembali lagi saja deh ke sekolah." Kata Alfred hendak berbalik.
"Alfred, kita harus bicara nanti. Pulang sekolah di ruang OSIS. Beritahu para petinggi OSIS dan Francis untuk datang. Ah, sekalian Vlad dan anak-anak Magic Club yang lain." Potong Arthur sebelum Alfred berhasil pergi.
"Oh, baiklah... Ng... Arthie. Selamat! Jaga Nesia baik-baik." Kata Alfred langsung berlari pergi.
"Eh?!" Seru Nesia bingung.
Nesia dan Arthur saling pandang kebingungan dengan maksud Alfred. Seketika Arthur tersadar apa maksud dari personifikasi Amerika tersebut karena memang ia sendiri yang melepas kekainya. Nesia yang masih tampak bingung menyenggol bahu Arthur meminta penjelasan.
"Sepertinya dia salah paham dengan kita. Tadi, aku melepas kekai untuk menggunakan ilmu pemindaiku. Ilmuku tidak bisa menyebar kalau disekitarku terpasang kekai." Jelas Arthur.
"Salah paham tentang apa?" Tanya Nesia masih bingung.
"Kau, aku, disini berdua. Kau, mual, marah-marah, aku yang bertanggung jawab. Paham?" Kata Arthur memberi petunjuk.
"Aa... Aku paham maksudmu. Dia jelas sangat salah paham. Kita harus langsung menjelaskannya." Kata Nesia mengerti. Wajahnya memerah dan panik luar biasa, dan hal itu membuatnya terlihat menggemaskan di mata Arthur.
"Nanti akan aku jelaskan padanya. Sekalian aku akan bertemu saat pulang sekolah. Sekarang, aku mau memberi tahu rencana selanjutnya karena aku sudah tahu kira-kira tempat persembunyian mereka." Kata Arthur lalu mengaktifkan kembali kekai disekeliling mereka. Arthur benar-benar memiliki pengendalian diri yang bagus.
Nesia hanya pasrah. Keputusan Arthur adalah mutlak. Itu adalah aturan main mereka selama ini. Nesia pun mendengarkan rencana dan hasil pemindaian Arthur tadi.
"Mengenai hipotesismu, kurasa benar. Ada beberapa tempat di area dalam sekolah yang terlindungi energi besar. Ilmuku ini berfungsi seperti sonar kelelawar. Apabila terhalang energi besar, akan kembali memantul padaku. Aku sendiri hampir lupa jika memiliki ilmu ini." Jelas Arthur pada awalnya.
"Lalu, tempatnya dimana saja?" Tanya Nesia penasaran.
"Tempat yang terlindungi pertama kamarku dan kamarmu di asrama. Itu jelas kerjaan kita berdua. Lalu..."
"Tunggu! Aku tak pernah menyegel ataupun memasang kekai di kamarku hari ini." Potong Nesia.
"Serius? Tapi, kok energi pelindungnya cenderung sihir putih? Ah, nanti lagi kita bahas. Tempat berikutnya ada di sekitar bangunan lama, tapi karena konsentrasiku terganggu karena kau mual tadi, aku tak tahu pastinya dimana. Dan yang terakhir ada di dalam sekolah. Ada 2 ruangan yang terlindungi, tapi aku masih belum tahu pasti ruangan mananya karena ya itu, konsentrasiku terganggu." Kata Arthur.
"Baiklah, biar kutebak. Ruang Kepala Sekolah dan Perpustakaan." Kata Nesia.
"Alasannya?"
"Tak ada alasan khusus. Hanya merasa itu ruangan potensial. Oh, iya. Selain Vlad, siapa lagi pengguna sihir putih?" Kata Nesia.
"Tak banyak sih. Yang jelas aku tahu memang Vlad dan beberapa junior dari Magic Club. Ada apa?" Kata Arthur curiga.
"Tak ada apa-apa." Dusta Nesia.
Arthur terus memberikan tatapan-jangan-berbohong-padaku-karena-aku-tahu-kau-berbohong pada Nesia. Nesia akhirnya tak tahan juga ditatap lama-lama oleh Personifikasi Britania Raya ini.
"Baiklah, aku hanya penasaran. Mungkin salah satu dari mereka yang menggunakan kekai dan segel itu pada kamarku." Kata Nesia mengaku.
Arthur hanya bisa menghela napas berat. Ia tahu sebenarnya apa yang dipikirka Nesia. Namun, ia hanya berusaha untuk tidak berprasangka buruk. Prasangka yang tidak baik itu menimbulkan banyak masalah, dan Arthur menghindari masalah itu. Apalagi jika masalah itu akan datang dari personifikasi Indonesia yang bahkan kekuatan sihirnya melebihi dirinya.
"Nanti akan kita bicarakan bersama kembali dengan semuanya. Aku harap, tidak akan ada masalah lagi yang timbul sebelum matahari kembali ke peraduannya besok." Kata Arthur menutup pembicaraan dengan Nesia, lalu pergi menjauh dari dermaga.
Pikiran Arthur kian kalut dengan masalah ini. Dirinya memang harus menerapkan azas "praduga tak bersalah" pada setiap orang disekelilingnya. Namun dirinya pula tak bisa tidak mencurigai kepala sekolah tidak terlibat. Memang, kebanyakan rasa curiganya didasari oleh dendam pribadi. Bagaimana tidak dendam? Saat pemilihan ketua OSIS, kepala sekolah menghalangi Arthur dengan segala upayanya. Bahkan saat Arthur tak memiliki masalah apapun dengan Pak Tua itu, Arthur dibuat seolah-olah melawan perintah kepala sekolah. Di sekolah ini, melawan kepala sekolah sama saja dengan melakukan kriminalitas tingkat tinggi jika kau hanya seorang murid biasa. Untung saja Arthur memiliki bukti konkret yang menyatakan dirinya tidak bersalah.
Mari lupakan tentang kekesalan di masa lalu dan kembali ke masa sekarang. Arthur sedang berjalan menuju area sekolah saat dirinya berpapasan dengan sesosok gadis Eropa yang cantik. Tapi, yang mengherankan, gadis itu tidak mengenakan seragam dan berpakaian layaknya sedang pesta kostum. Seketika Arthur menyadari cahaya lembayung disekitar wanita itu. Dia bukan manusia.
Selama belajar di Hetalia Academy ini, Arthur hampir tak pernah bertemu sosok "penghuni" disini. Kebanyakan memang mereka jarang keluar dari dimensi mereka sendiri. Kebetulan sekali Arthur menemukan yang seperti ini. Gadis itu tersenyum pada Arthur. Tanpa curiga, Arthur mencoba bersikap ramah dengan tersenyum balik kepadanya. Seketika dirinya diterjang sosok itu dan sekelebat penglihatan menghampirinya.
"Jadi kau..." Kata Arthur begitu penglihatan itu telah usai diperlihatkan oleh sosok itu.
Sosok gadis itu mengangguk lirih kemudian menghilang. Kini semuanya jelas bagi Arthur. Alasan konyol semua ini terjadi. Alasan paling tidak masuk akal rasional Arthur. Saat ini fokusnya hanya tinggal mencari "pintu" menuju ruangan itu saja.
Tanpa terasa waktu bergulir begitu saja hingga tiba waktunya pertemuan dengan para personifikasi, terutama Alfred. Arthur menjelaskan kepada mereka semua untuk tidak ada yang berjaga di area sekolah terutama sore hingga pagi hari untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
"Vlad, kau beritahu juga pada kedua personifikasi yang ada di asrama itu tentang hal ini." Kata Arthur tegas.
"Baiklah. Aku akan memberi tahu mereka, terutama si Germany agar mengkondisikan para Dewan Keamanan." Kata Vladimir.
"Ah, satu lagi. Apa kau yang memasang segel di asrama wanita?" Tanya Arthur tepat sasaran.
"Ya, itu aku. Aku melakukannya atas perintahmu untuk memastikan keadaan 'dia' aman." Kata Vladimir.
Setelah rapat dengan para anggota Magic Club yang berjaga, Arthur membubarkan rapat dan beralih topik dengan Alfred, Elizabeta, dan Francis. Ia perlu membicarakan masalah OSIS yang terbengkalai. Memang, konsep sudah matang dibicarakan dengan semuanya melalui Francis, namun kan tetap saja Arthur memerlukan laporan berkala mengenai progress persiapan festival ini.
"Untuk spice, sedang kami usahakan untuk diangkut kapal yang datang berikutnya tanpa menimbulkan kecurigaan. Sementara ini izin penggunaan gedung olahraga dan lapangan sedang saya follow up." Lapor Elizabeta.
"Untuk acara puncak sedang dibuat lagi skemanya oleh anak-anak divisi acara, sementara konsumsi sampai saat ini masih menghitung budget karena ada perubahan menu." Kata Alfred.
"Untuk urusan juri, wasit, dan sebagainya sudah aku koordinasikan dengan guru olahraga dan para ketua klub ekstrakulikuler olahraga. Sisanya sudah beres semua." Kata Francis dengan gaya khasnya.
"Baiklah, karena tidak ada masalah dengan persiapan festival, aku rasa semuanya sudah cukup. Ah, Elizabeta. Jangan lupa mengecek persediaan obat dan P3K pada Perawat Flor. Kalian boleh bubar, tapi aku perlu ruang untuk bicara berdua dengan Alfred." Kata Arthur setelah puas mendengarkan laporan dari mereka.
Semua yang ada di ruangan itu keluar kecuali Alfred dan Arthur tentu saja. Cukup lama mereka terdiam. Hanya udara disekitar mereka yang mulai terasa bertambah massa dan membuat mereka sulit bernapas. Arthur yang bingung untuk memulai pembicaraan untuk meluruskan kesalahpahaman tentang dirinya dan Nesia, maupun Alfred yang tak tahu mengapa Arthur perlu berbicara padanya tak ada inisiatif untuk memulai.
Arthur akhirnya mengembuskan napas dengan kasar untuk menghilangkan ketidakpastian dalam otaknya. Jika tidak sekarang, maka Alfred akan salah sangka selamanya.
"Al, sebenarnya aku dan Nesia tidak ada hubungan seperti yang kau kira di dermaga. Kami hanya berbicara dan dia terkena benturan energi dari ilmu yang aku gunakan." Kata Arthur cepat. Well, Arthur benar-benar gugup seperti sedang berbicara pada calon mertua.
"Begitu kah? Kalau begitu akan aku ingin bertanya. Apa kau tidak tertarik sama sekali pada Nesia?" Tanya Alfred penuh selidik.
Arthur menghela napas panjang sebelum menjawabnya. "Bohong jika aku berkata aku tidak tertarik. Nesia gadis Asia yang sangat menarik jika aku boleh berkata jujur. Sejak awal melihatnya, ada sesuatu tentang dia yang membuatku tertarik. Tapi, jika boleh jujur lagi, aku rasa itu karena dia mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang gagal aku selamatkan di masa lalu." Kata Arthur sambil menerawang jauh.
"Seseorang? Kau tak pernah bercerita apapun." Kata Alfred bingung.
"Aku memang tak pernah bercerita padamu. Aku ingin menyimpan sendiri kenangan itu." Kata Arthur dengan senyuman yang terlihat sangat menyedihkan.
Alfred terdiam melihatnya. Sudah lama sekali sejak Arthur menampakkan wajah kesakitannya. Bahkan Alfred tak ingat kapan itu terjadi. Tak ada satu kata pun yang kemudian terlontar diantara mereka hingga mereka memutuskan untuk kembali ke asrama.
Rembulan mulai memantulkan cahayanya untuk menerangi malam. Cahaya mentari telah tenggelam seutuhnya di ufuk barat. Nesia kini berdiri dihadapan pintu kamar Arthur di asrama pria. Oke, ini memang terlihat gila: Nesia, malam hari, asrama pria, depan kamar Arthur. Sungguh bukan kombinasi yang biasa.
Baru saja tangan mungil itu hendak mengetuk pintu, pintu kamar Arthur terbuka dari dalam dan menampakkan sosok pria berkacamata dengan rambut blonde yang menawan. Keduanya hanya mematung di depan pintu karena terkejut. Nesia tak menyangka akan bertemu Alfred disini. Setelah kesalahpahaman tadi siang, kini mereka dipertemukan di tempat yang justru membuat keadaan semakin parah.
"Kenapa kau diam saja di depan pin..." Kata-kata Arthur terputus ketika melihat gadis mungil di depan Alfred.
"Ah, kau sudah datang, Nes. Aku baru saja mau mendatangimu untuk patroli. Karena kau sudah terlanjur disini, kita ke tempat Lukas dan Ludwig dulu." Kata Arthur sambil berjalan melewati Alfred.
Alfred masih terdiam dan berkelut dengan pikirannya sendiri. Meski sebelumnya Arthur telah menjelaskan hal tersebut, nampaknya masih ada perasaan yang mengganjal di hati personifikasi Amerika tersebut. Ah, mungkin dia hanya cemburu karena padanya Nesia tidak seramah saat berinteraksi dengan Arthur. Ah, atau justru ia yang cemburu pada Nesia yang bisa dengan cepat meruntuhkan dinding pertahanan Arthur? Alfred tidak tahu.
Setelah bergeming cukup lama, pria yang maniak dengan burger ini segera tersadar dari lamunan panjangnya. Mereka bertiga berjalan pertama menuju kamar Lukas untuk memastikan kondisi pemuda tersebut. Kondisinya membaik, namun masih tak bisa bergerak bebas. Selanjutnya mereka pergi ke kamar Ludwig yang sudah tak terlihat mengenaskan. Setidaknya tidak semengenaskan ketika pertama mereka menemukannya. Proses penyembuhan personifikasi Jerman yang satu ini termasuk sangat cepat.
"Sepertinya memang tepat ya memilihmu sebagai ketua Dewan Keamanan disini. Kau tak mudah mati." Ujar Alfred disusul dengan tawa laknatnya bersama dengan Feliciano.
"Kau benar. Mungkin jika itu bukan aku tapi kau, kau sudah terbang ke akhirat." Kata Ludwig datar. Lebih menyidir tepatnya.
Nesia hanya tersenyum melihat mereka. Terkadang perkataan Alfred yang cenderung tidak tersaring seperti itu membuatnya terhibur. Setidaknya ada yang bisa membuatnya tidak merasakan tekanan diantara tekanan berat disekelilingnya ini.
"Hey, ngomong-ngomong apa malam ini patroli hanya dipusatkan di asrama saja?" Tanya Ludwig yang sudah mendengar hasil rapat tadi sore.
"Ya, aku tak ingin mengambil resiko yang lebih besar untuk malam ini. Setidaknya aku yakin mereka akan lebih brutal untuk besok karena besok adalah puncak bulan purnama." Kata Arthur dengan rahang yang mengeras.
"Aku sedikit banyak yakin bahwa diantara kita ada lagi yang diincar. Aku ingin kalian tetap berhati-hati, terutama kau, Nesia. Meski kau punya kekuatan yang cukup mengerikan bagiku, tapi aku dan yang lain tidak bisa berjaga selama 24 jam penuh disekitarmu. Untuk saat ini, depan kamar kalian akan dijaga oleh seorang dari Magic Club dan Dewan Keamanan." Kata Arthur lagi.
"Jangan khawatirkan aku. Kau justru berpotensi lebih besar untuk diincar daripada diriku." Kata Nesia berusaha terlihat santai.
"Kalau begitu, kau sudah tahu letak pintu mereka?" Tanya Ludwig.
"Ya kira-kira begitu. Kalau hanya memperkirakan lokasi dari lokasi penyerangan, aku mengetahui dimana letaknya. Tapi, untuk cara membukanya, aku masih belum yakin. Maka dari itu, aku berpikir untuk mengumpankan diriku sendiri besok agar kita bisa mengetahui cara masuk ke markas mereka." Kata Arthur dengan wajah seriusnya.
"KAU GILA YA, ALIS TEBAL?!" Seru Nesia marah mendengar rencana Arthur.
"Aku tidak setuju dengan rencanamu. Itu terlalu beresiko, Arth!" Kata Alfred sama tidak setujunya dengan Nesia.
"Lalu, kalian ada rencana yang lebih baik?" Tantang Arthur.
"Tidak ada memang, tapi kau jangan gila dengan mengorbankan rakyatmu. Kau tahu kan apa resikonya jika seorang personifikasi sampai mati?" Kata Ludwig tegas.
"Aku tidak akan mati. Sebelum mereka bisa membunuhku, mereka dulu yang akan aku habisi. Kau pikir aku tak mempertimbangkan hal ini dengan masak? Aku sudah mempertimbangkannya dengan segala resiko yang ada." Kata Arthur denga gaya angkuhnya.
Nesia menghela napas berat untuk menurunkan emosinya sebelum berkata, "Baiklah. Aku ikut rencanamu dengan satu syarat, Jangan mati."
"Nes!" Protes Alfred. Nesia mengangkat tangannya tanda untuk mencegah Alfred protes lebih lanjut.
"Aku akan memastikan sendiri bahwa kau tidak akan mati dan tidak akan ada korban jiwa saat itu. Jangan menghilang dari jangkauanku dan membuat semuanya khawatir. Beban itu tidak kau pikul sendirian, Arthur. Kita akan memikulnya bersama-sama."
Semua kembali terdiam. Akhirnya mereka memutuskan kembali ke kamar masing-masing. Meski begitu, mereka semua memikirkan kata-kata Nesia dengan dalam. Kata-kata sederhana yang maknanya sangat dalam.
Tak lama setelah masuk ke dalam kamar, baik Arthur maupun Nesia kembali keluar untuk berjaga. Kaki mereka gatal sekali ingin menginjak rumput di area sekolah, namun kesepakatan malam itu mencegah tindakan mereka. Meski sebenarnya mereka bisa saja melanggar begitu saja, namun harga diri menjadi rem bagi mereka untuk menahan diri.
Hingga pagi menjelang, tak ada satupun kejadian pada malam itu. Para penjaga personifikasi pun bernapas lega malam itu. Mungkin mereka pikir terror itu telah usai, tapi sebagian dari mereka menyadari bahwa ini adalah permulaan dari tragedi selanjutnya.
Pagi-pagi sekali Nesia sudah bersiap dengan seragam dan ransel kecilnya yang berisi macam-macam alat. Entah mengapa Nesia merasa dia pasti akan membutuhkannya. Nesia membawa beberapa baterai, senter, tali, bahkan pisau lipat dan stun gun. Oke, ini membingungkan. Untuk apa kau membawa pisau dan stun gun ke sekolah? Atau ini bagian dari rencana Nesia untuk "melindungi" semuanya? Entahlah.
Arthur juga telah siap dengan seragam dan pistolnya. Arthur diam-diam membawa senjata api itu untuk berjaga-jaga. Walaupun sebenarnya peraturan sekolah melarang untuk membawa senjata api, Arthur berhasil menyelundupkannya ke pulau bersama Ivan. Personifikasi yang satu itu benar-benar hebat dalam penyelundupan berbagai senjata. Handband OSIS milik Arthur menutupi letak Arthur menyimpan peluru cadangannya.
Seketika keduanya merasakan energi yang cukup besar dari arah sekolah. Tersentak, mereka segera berlari menuju ke arah sekolah. Sebuah cahaya dengan spektrum warna parchment terlihat menghantam area bangunan lama. Nesia dan Arthur mempercepat langkah kaki mereka. Tapi, ternyata seseorang sudah lebih dulu sampai dari pada mereka.
Seseorang sudah tergeletak disana. Seperti Dé ja vu Arthur membelalakan matanya dan berlari seperti orang kesetanan. Nesia juga berlari sambil memasang kekai untuk melindungi personifikasi berkacamata yang tergeletak tersebut.
"ALFRED!"
"GUARD ACTIVE!"
Cahaya berspektrum cream menghantam kekai yang dibuat Nesia dengan cukup kencang dan membuat retakan pada kekai yang dibuat dengan terburu-buru tersebut. Belum sempat mereka berlari lebih dekat, serangan itu kembali dan menghancurkan kekai milik Nesia.
Dan terjadi lagi. Arthur harus memilih untuk melindungi Nesia atau Alfred karena serangan selanjutnya datang dari dua arah yang berbeda. Arthur tak sekuat itu untuk membuat kekai super besar atau dua kekai yang sangat kuat dalam waktu yang bersamaan untuk menghalau serangan dengan kekuatan spektrum warna nyaris putih seperti kali ini.
Pilihan dibuat Arthur di detik terakhir. Dia mengorbankan tubuhnya untuk Nesia dan memilih membuat kekai untuk Alfred. Mata Nesia seketika terbelalak merasakan dekapan erat Arthur dan melihat cahaya sihir itu menghantam kedua personifikasi pria di tempat itu.
"TIDAAKKK!" Jerit Nesia pilu.
Asap hitam langsung memenuhi udara sekitar. Tanpa sadar, Nesia kembali menggunakan kekuatan terpendamnya. Serangan-serangan itu berhenti dalam sekejap dan kembali kepada pemiliknya. Arthur tergeletak tak berdaya sementara Alfred telah menghilang entah kemana.
Nesia tak lagi bisa mengendalikan kekuatannya. Sihir hitam sudah menguasainya sepenuhnya dan Nesia tak lagi memiliki kendali atas dirinya. Tiba-tiba pandangan Nesia menjadi gelap dan dia ikut tak sadarkan diri disamping sang personifikasi Britania Raya.
"Aku sudah menunggumu. Selamat datang kembali, Pemegang Kunci Dimensi..."
—OOOoooOOO—
Author's Note:
Hai, hai. Sebelumnya Rizu mau minta maaf dulu nih karena kehilangan tujuan ditengah jalan bikin ini (kepotong tugas mulu), akhirnya malah hiatus sampe 6 bulan (lebih)... huhuhu...
Makasih bangettttt buat yang uda LIKE, FAV, AND REVIEW... Maaf ga bisa bales review kalian satu-satu soalnya jarang buka akun. Kalau bisa, reviewnya pake akun ya... biar nanti kalo sempet Rizu bales satu-satu :*
Kalau mau jujur, sebenernya ini beda banget sama rencana awal, tapi ya sudahlah. Setidaknya masih dalam satu benang merah. Oh iya, chapter selanjutnya itu chapter terakhir yaa... Rizu emang berencana ga sampe banyak chapter banget.
Okayy, sampe bertemu di chapter terakhir nanti!
