4th Period (Regretful)
Jimin. Yoongi. Drama. Oneshot. Yaoi.
Mentioned! Hoseok
Telah ditulis pada tanggal 22 April 2015
.
.
.
.
.
.
1st period
Duapuluh menit terlewati dengan kesunyian. Didalam ruang olahraga indoor yang sepi dan lumayan gelap karena lampunya yang tidak dinyalakan. Ada Jimin dan juga Yoongi yang sedang berdiri berhadapan. Saling bertatapan mata tapi dengan ekspresi yang berbeda. Jimin memandang Yoongi dengan datar, dan Yoongi memandang Jimin dengan kesedihan yang terpancar dari sorot matanya.
"Let's break up."
Itu adalah kalimat yang diucapkan Jimin duapuluh menit lalu sebelum sunyi menyambut. Lelucon aneh yang dilontarkan Jimin memang sempat membuat Yoongi tersentak, "Jimin, april fools sudah lewat." Yoongi tertawa hambar tapi Jimin tetap saja diam. Dan Yoongi berspekulasi sendiri, Jimin tidak sedang bercanda.
"Jangan konyol Jimin. Kenapa kau mengatakan kalimat itu." meski Yoongi berkata dengan nada datar, tapi ia tidak memungkiri ada perasaan cemas didalamnya. Bagaimana jika Jimin memang benar-benar minta putus? Lalu, apa hubungan mereka harus berakhir begitu saja?
Sebenarnya sejak Jimin meminta putus darinya, Yoongi berusaha untuk menepis pikiran bodoh itu. Mungkin telinganya salah dengar atau mungkin Jimin yang salah berbicara. Tapi untuk yang kesekian kalinya melihat cara pandang Jimin yang tegas dan tidak ada keraguan, Yoongi jadi benar-benar takut sekarang.
"Jimin, kau…"
"Maaf Yoongi. Kita memang harus putus."
Dada Yoongi naik turun menahan gejolak amarah, kecewa dan sedih. Ia juga berusaha keras agar airmata yang sudah menumpuk tidak jatuh. Hidung kecil Yoongi sudah memerah bibirnya pun bergetar.
"Tapi… bagaimana bisa,"
Mata Yoongi kembali menatap Jimin yang sedang menatap lantai. Dari sudut matanya ia bisa melihat tangan Jimin yang terkepal. Sepuluh detik setelah Jimin baru menjawab, "Maaf." Setelah itu Jimin berbalik, berjalan dengan cepat keluar dari lapangan basket itu. Meninggalkan Yoongi yang sudah jatuh terkulai dilantai dengan bahu bergetar dan airmata yang jatuh tanpa berhenti.
.
.
.
"Aku sudah putus dengan Yoongi. Rasanya melegakan."
Jimin merentangkan tangannya sambil menghirup udara; aroma rumput basah sehabis disiram tercium oleh hidungnya. Jung Hoseok, temannya, yang sedang bersandar pada pohon itu menyerngit. "Putus?"
Jimin mengangguk, dia duduk disamping Hoseok. Senyum sumringah menghiasi wajah tampannya. Ia senang karena sudah putus dari mantan kekasihnya itu, Min Yoongi. "Kenapa?" tanya Hoseok. Jelas Hoseok bertanya heran karena selama berpacaran, pasangan Jimin-Yoongi tidak pernah terlihat bertengkar. Mereka selalu akur dan tidak pernah malu mengumbar kemesraan mereka. Tapi baru saja Jimin mengabari status hubungannya dengan Yoongi yang berakhir dengan putus, aneh saja rasanya.
"Aku hanya bosan dengannya,"
Hoseok tambah menyerngit, bosan katanya? Jimin ini memang tidak berperasaan. "Jadi kau memutuskan Yoongi karena bosan?" Jimin mengangguk lagi, "Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Yoongi, dia itu sangat mencintaimu."
"Awalanya aku juga tidak tega saat melihat wajah sedihnya itu, tapi aku harus putus dengannya."
"Alasanmu sungguh tidak masuk akal, bad boy!" Jimin hanya tersenyum kecil dengan panggilan itu. Kalau ia harus dijuluki bad boy karena sudah membuat Yoongi patah hati, tak akan jadi masalah untuknya. Sebenarnya ia cukup bangga dengan julukan itu.
"Bro, biar kuberitahu," Hoseok merangkul pundak Jimin, "Penyesalan itu datang diakhir. Sebelum kau menyesal sebaiknya perbaiki lagi hubunganmu dengan Yoongi."
"Cih," Jimin mendengus, "Kaupikir aku akan menyesal? Never,"
Hoseok hanya menghela napasnya, berharap temannya ini tidak termakan omongannya sendiri. Hoseok tahu benar bagaimana rasanya melepas seseorang yang sudah menemani hari-harinya. Setiap malam yang ia lakukan hanyalah meratapi penyesalannya sendiri. Ia hanya tidak ingin Jimin merasakan hal yang sama dengannya.
.
.
.
2nd period
Seminggu setelah mereka putus, Jimin sedikit menjadi lebih diam. Biasanya ia akan bergabung dengan teman sekelasnya saat kelas sedang kosong dan tertawa bersama. Tapi sekarang ia lebih memilih menyendiri, duduk disamping jendela sambil mendengarkan lagu. Bukan tanpa alasan Jimin jadi seperti ini. Bayangan Yoongi selalu menghampirinya, mengganggu tidurnya setiap malam. Dan sekarang ia sedang rindu pada mantan kekasihnya itu.
Jimin tidak menyesal—atau belum menyesal, ia rindu pada Yoongi mungkin karena selama ini selalu ada yang memperhatikannya, mengingatkanya untuk menjaga kesehatan, tidak tidur malam dan juga yang selalu mengatakan cinta padanya.
"Benar, biasanya Yoongi akan mengirimu pesan. Itu karena kau belum terbiasa tanpanya, Jimin." Jimin bermonolog, berusaha menguatkan hatinya untuk tidak terbawa perasaan. Tanpa sengaja matanya melirik siluet Yoongi yang sedang berolahraga dibawah sana. Kalau dilihat tidak ada lagi raut kesedihan diwajah Yoongi meski mantan kekasihnya itu hanya diam saja tidak menanggapi teman-temannya yang sedang bercanda.
Tiba-tiba memori masa lalu yang ia lewati dengan Yoongi menghampiri ingantanya. Jimin menutup matanya untuk mengurangi rasa pening dikepalanya. Memori itu seperti roll film yang berputar. Jimin menghela napasnya dan berjalan keluar kelas. Mungkin sedikit udara segar akan membantunya.
Tapi Jimin menyesal karena keluar dari kelasnya. Pasalnya saat ini ia sedang melihat bagaimana Yoongi mengobrol cukup akrab dengan Hoseok. Yoongi bahkan tertawa saat Hoseok menceritakan lelucon tidak lucunya itu. Jimin terbawa perasaannya lagi, yang paling menjengkelkan adalah; Yoongi belum pernah tertawa selepas itu bahkan ketika mereka masih menjadi sepasang kekasih. Yoongi akan selalu menjaga imejnya dihadapan Jimin; berusaha tampil sempurna sebagai seorang kekasih.
Hoseok menghentikan tawanya begitu melihat Jimin yang berjalan kearahnya. Yang ada dalam pikirannya semoga sepasang mantan kekasih—yang juga teman-temannya tidak memulai perang dingin. Memang itu tidak terjadi karena Yoongi sudah keburu pergi bahkan sebelum Hoseok menyadarinya.
"Loh, Yoongi kenapa sudah pergi saja?"
Jimin sudah ada dihadapannya dengan wajah kusut dan frustasi. "Dia sepertinya tidak ingin bertemu denganku lagi." Hoseok mendengus, "Tentu saja! Kau sudah membuatnya patah hati, mana mungkin dia mau bertemu denganmu lagi."
"Tapi aku ingin,"
"Hah?!"
Jimin tidak berbicara lagi karena dia yakin Hoseok mendengar apa yang baru saja ia katakan. Dan itu adalah pernyataan dari dalam hatinya, ia ingin bertemu lagi dengan Yoongi.
.
.
.
3rd period
Jimin sudah dalam status tidak memiliki semangat lagi. Hari-harinya mulai kelam dan kelabu. Dia sendirian, tidak ada yang menemani dan sendirian. Setiap hari yang dilakukannya adalah mengintai Yoongi; mengikuti kemanapun pemuda itu pergi. Bahkan tidak jarang Jimin secara terang-terangan muncul dihadapan mantan kekasihnya.
Jimin sekarang bisa dikatakan; dia seperti bosan hidup. Tugas terbengkalai, ia sering tertidur dikelas, tidak mengikuti pelajaran dengan baik, bahkan Jimin lupa kapan terakhir kali ia makan. Semua kacau balau. Dan saat-saat seperti ini rasa rindunya pada Yoongi semakin membesar.
Karena Yoongi akan selalu ada disetiap hari-harinya. Lelaki manis itu yang akan mengingatkannya untuk makan dan belajar. Yang selalu memberinya semangat ketika dia sudah mulai lelah dengan sekolah dan juga tugas-tugas. Selalu menemaninya ketika Jimin harus sendirian dirumah. Jimin sadari ternyata ia tidak bisa apa-apa tanpa Yoongi. Hidupnya sudah tergantung pada mantan kekasihnya itu.
Tapi Yoongi seperti yang sudah-sudah; tidak mau lagi memperdulikan Jimin. Yoongi sebenarnya tahu kalau Jimin sering mengikutinya dan ia beberapa kali hampir kalah melawan egonya. Tapi Yoongi teringat kembali hari dimana Jimin memutuskannya, itulah yang menjadi alasan hingga sampai saat ini dia masih bertahan dari rasa sakitnya.
Yoongi sekarang sudah bisa tertawa lagi meski kadang kala malam datang, ia akan selalu teringat pada kenangan manis bersama Jimin. Lelaki itu pernah mampir kedalam kehidupannya, mewarnai setiap harinya meski kadang ia dibuat jengkel olehnya. Kenangan itu ada sebagai pendewasaan diri, bukan untuk membuat kita semakin terpuruk.
Rindu itu pasti ada karena biar bagaimanapun Jimin pernah membuat kenangan manis bersamanya. Yang bisa Yoongi lakukan sekarang adalah melupakan semuanya dan memulai yang baru. Roda kehidupan terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti hanya karena sudah dilukai oleh seseorang yang dicintai.
.
.
.
4th period
Jimin malu untuk mengatakannya tapi saat ini; Jimin benar-benar harus menelan kembali kata-katanya saat dulu ia memutuskan Yoongi.
"Maafkan aku Yoongi. Aku menyesal."
.
..
Fin
.
.
.
Apa pesan dari cerita pendek ini? Ada yang mau jawab?
