"Kau mengkhawatirkan Sehun-ah." Kris langsung berkata begitu saat aku pulang. "Tidak kah kau sakit melihatnya bersama orang lain?" Aku hanya mengangkat bahuku tanda aku tak peduli. "Percuma saja membawanya kehadapan ayah kalau dia masih menyakitimu di belakang begini."

"Biarkan saja hyung."


Jongin tetaplah Jongin. Tetap menggoda gadis atau pria cantik lainnya. Semua orang juga tahu aku kekasih Jongin, tapi sepertinya tidak ada yang peduli. Toh digoda Jongin kan bisa menaikkan popularitas mereka. Lagi pula aku tidak marah pada mereka kan?

"Kau tahu aku dan Jongin makan malam di Highness semalam. Jongin benar-benar romantis waah aku tak sabar untuk menjadi kekasihnya." Dan teman-temannya langsung menanggapi omongannya dengan heboh seperti membicarakan keluaran baru dari Hermes yang diskon 50%.

Bermimpilah. Dia Irene. Jongin memang sering mengajaknya makan atau sekedar jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Aku pun tahu karena Jongin pasti mengabariku dengan siapa saja dia jalan. Bukan masalah bagiku asal aku tetap menjadi kekasihnya. Terdengar egois dan bodoh memang. Tapi siapa peduli. Dia Kim Jongin. Siapa yang tidak ingin memilikinya? Lagi pula Jongin sudah berjanji pada ayahku dan ku pastikan dia tidak menjajikan hal yang sama pada ayah orang lain. Tidak pada ayahnya Irene atau siapa pun itu.

Kudengar kelas menjadi hening. Kupikir dosen sudah masuk ternyata ada Jongin. Dia tidak menghampiriku tentu saja. Aku langsung memasang earphone dengan volume full dan memejamkan mataku. Kurasa aku tertidur saat kurasakan handphoneku bergetar.

Pesan dari Kim Jongin:

Sehunna kau bisa kan pulang sendiri hari ini? Aku sudah mengajak Irene ke gym hari ini.

Hati-hati dijalan ya. Aku menicintaimu.

Itu saja. Sudah ketiga kalinya untuk bulan ini. Aku jadi ingat perkataan Kris hyung. "Tidak kah kau merasa sakit?" Bodoh kalau tidak kan? They say pain is the worst feeling ever. Have they thought about feeling nothing at all?


END