Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
No commercial advantage is gained by making this fanfic
.
This Fanfic by Tania Hikarisawa
[Tangled Ring, Chapter 6: Naruto's Present]
—Warning: AU & typo(s)—
.
.
.
Tepat jam sepuluh malam Naruto melangkahkan kakinya ke lobi gedung apartemennya. Laki-laki itu disambut hangat oleh dua orang satpam yang bekerja di sana. "Selamat malam, Tuan Dokter."
Naruto merapatkan coat panjangnya sebelum menjawab. "Malam, Kotetsu, Izumo. Apa ada orang yang mencariku?" tanyanya sekedar berbasa-basi.
"Tidak ada," sahut Kotetsu. Sejenak laki-laki itu terlihat sedikit bimbang, seperti ada hal yang ingin disampaikannya kepada Naruto.
Naruto mengernyitkan alisnya. "Apa ada sesuatu yang ingin kalian bicarakan?"
"Ah, sebenarnya bukan masalah besar," ucap Izumo. "Beberapa menit yang lalu Nona Hanabi baru saja pulang dalam keadaan mabuk. Semoga saja dia tidak mengganggu Anda."
Naruto mendesah dengan keras ketika mendengarnya. "Oke, terima kasih informasinya," balas Naruto kemudian meninggalkan lobi dan masuk ke dalam lift. Tujuannya adalah apartemennya yang berada di lantai tujuh.
Hal yang paling tidak ingin Naruto lakukan saat ini adalah berurusan dengan Hanabi. Tetangganya di lantai tujuh itu terkadang bisa menjadi sangat mengganggu. Padahal saat gadis itu pindah ke apartemen yang berhadapan dengan apartemennya sendiri sekitar dua tahun yang lalu, Naruto berpikir kalau Hanabi adalah anak yang manis. Ah, dia memang anak yang manis kalau sedang dalam kondisi tidak mabuk.
Dan tepat seperti dugaannya, Hanabi benar-benar bukan anak yang manis dalam keadaan mabuk seperti sekarang. Gadis berumur dua puluh tahun itu meringkuk di depan apartemen Naruto.
"Hei, anak kecil, cepat bangun! Dan pergi ke apartemenmu sendiri!" ucap Naruto keras.
Terdengar suara cegukan dari arah gadis itu sebelum ia mendongak menatap Naruto. Naruto sedikit ngeri saat melihat wajah Hanabi dengan rambut acak-acakan itu. "Oohhh ... coba lihat, siapa ini?"
Gadis itu tiba-tiba saja berdiri dengan terhuyung-huyung. Naruto dengan sigap menangkap tubuh mungil itu sebelum terjatuh ke lantai. "Sadar, Hanabi."
Tanpa mengindahkan ucapan Naruto, gadis itu malah menuding-nuding dada Naruto. "Kau! Dasar laki-laki bajingan!" geramnya.
Naruto memutar bola matanya. "Kalau kau mabuk, sebaiknya jangan menggangu orang lain. Jangan diam di depan pintu apartemen orang lain, Hanabi!" balas Naruto kesal.
Sekarang Naruto benar-benar lelah, dia memulangkan banyak pasien di tempatnya bekerja hari ini. Hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah mandi dan istirahat, bukannya berurusan dengan gadis mabuk yang terdampar di depan pintu apartemennya.
Hanabi sudah berhenti menekan-nekan dada Naruto dengan jarinya. Kali ini, gadis itu sudah berani menepuk-nepuk pipi Naruto. "Hei! Kau berani sekali berteriak padaku! Kau pikir kau siapa, hah?! Dasar laki-laki brengsek!" makian itu lagi-lagi terdengar dari gadis bermarga Hyuuga itu.
"Hanabi!" pekik Naruto saking kesalnya. "Pergi ke apartemenmu dan jangan ganggu aku!"
Hanabi terkesiap sejenak. Mata kelabunya membesar sedangkan kakinya perlahan mundur ke belakang. "Kau kejam! Kemarin-kemarin, kau bilang kau mencintaiku tapi tiba-tiba saja kau minta putus!"
Tangan Naruto berpindah ke kepalanya sendiri dan menarik beberapa helai rambut pirangnya. Dalam keadaan yang lelah seperti sekarang, emosi Naruto bisa meledak kapan saja. Tapi, dia masih berusaha meredam emosinya saat mengingat gadis yang ada di hadapannya ini sedang dalam keadaan mabuk.
"Kau kejam!" pekik Hanabi tiba-tiba sambil menampar Naruto dengan keras.
Telinga Naruto tiba-tiba saja mendengar tarikan napas keras dari arah belakang. Laki-laki bermata biru itu menoleh dan mendapati salah satu penghuni apartemen sedang memperhatikan mereka. Naruto menganggukan kepalanya ke arah laki-laki penghuni lantai atas itu dan menjelaskan kalau Hanabi sedang mabuk.
Setelah laki-laki itu pergi, Naruto mengalihkan perhatiannya kembali ke arah Hanabi. Melihat keadaan gadis itu yang acak-acakan, Naruto sepertinya tidak punya pilihan lagi. Akhirnya laki-laki itu membawa Hanabi ke dalam apartemennya dengan cara menarik salah satu tangan gadis itu.
"Lepaskan! Dasar mesum!"
Naruto tidak menghiraukan ucapan Hanabi lagi. Ia sudah sangat lelah. Dengan agak kesal, Naruto membawa Hanabi ke ruang tengah apartemennya dan memaksanya duduk di atas sofa.
"Kubiarkan kau tidur di sini untuk malam ini saja, mengerti?!" Naruto tahu percuma mengatakan hal ini kepada orang yang sedang mabuk.
Tapi di luar dugaan, ternyata Hanabi segera merebahkan tubuhnya di atas sofa setelah sebelumnya memaki Naruto lagi. Melihat Hanabi yang sudah mulai diam, Naruto kemudian menyalakan pemanas ruangan dan melepaskan coat panjangnya.
Akhirnya suasananya sudah tenang kembali. Laki-laki yang hanya mengenakan scrub berwarna biru itu kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi. Mandi air hangat pasti bisa menenangkan pikirannya kembali.
BRUK!
"Arrgghh!" teriaknya ketika mendengar suara berdebum dari arah ruang tengah. Dengan enggan, laki-laki itu kembali ke ruang tengah dan mendapati gadis mabuk itu sudah berada di atas lantai.
"Kau benar-benar menyusahkan, Hanabi!" geram Naruto kemudian mengangkat tubuh Hanabi dan menidurkannya di tempat tidur miliknya. Setelah melepaskan kedua sepatu Hanabi, Naruto kemudian menyelimuti gadis itu.
"Aku akan mengalah untuk kali ini saja. Kau boleh tidur di sini, biar aku yang tidur di sofa," ucapnya. Sebelum menutup pintu, Naruto kembali melihat Hanabi. "Lihat saja, besok aku akan membalasmu, Hanabi."
o0o
Di minggu ini, hari Jumat adalah hari di mana Naruto mendapatkan liburnya. Karena itu, dia sengaja akan beristirahat lebih lama dari biasanya. Itu rencana awalnya. Tapi sayangnya kesadarannya perlahan-lahan muncul ke permukaan karena aroma kopi yang menari-nari di indra penciumannya.
"Kak Naruto ... sudah siang. Ayo bangun ...,"
Dan suara mendayu-dayu yang ia dengar menambah tingkat kesadarannya. Ah! Akhirnya ia menyerah dan meninggalkan alam mimpinya.
"Kak Naruto ... bangun."
"Iya, iya, aku bangun," sahut Naruto sambil menggeram. Ia kemudian duduk di sofa yang semalam menjadi tempat tidurnya itu. Di hadapannya tersaji secangkir kopi dengan asapnya yang masih mengepul.
"Akhirnya. Memang sampai kapan Kakak mau tidur?"
Naruto mengernyit ketika mendengar suara itu. Sejenak ia pikir kalau suara-suara itu berasal dari mimpinya. Saat matanya menangkap sesosok gadis yang berdiri di hadapannya, tiba-tiba ia teringat dengan semua kejadian semalam.
"Jadi, ada sesuatu yang ingin kau katakan, Hanabi?" tanyanya kemudian meminum kopinya. "Wah, enak," gumamnya.
Gadis yang bernama Hanabi itu kemudian duduk di sofa yang ada di samping Naruto. "Benarkah? Kalau kopi itu enak berarti Kakak akan melupakan semua kejadian semalam, kan?"
Naruto menoleh ke arah gadis itu. Gadis itu tampak berbeda dari keadaannya semalam. Rambut cokelatnya terlihat sedikit basah dan ia sudah tidak mengenakan baju yang kemarin. "Kau sudah pulang ke apartemenmu?"
Hanabi hanya meringis di tempat duduknya. "Jadi, Kakak akan melupakannya, kan?" tanyanya, kembali ke topik semula.
Laki-laki si pemilik apartemen hanya mendengus sambil menampilkan sebuah senyuman yang di mata Hanabi terlihat tidak tulus. "Kopi tidak cukup untuk membayar semua tingkahmu kemarin malam, Hanabi."
"Kau ingin apa, Kak?"
Melihat Hanabi yang sepertinya akan rela melakukan apa saja demi dirinya, Naruto sejenak berpikir. "Traktir aku makan siang."
Hanabi memutar bola matanya. "Aku sudah yakin Kakak akan meminta hal seperti ini. Iya, iya, aku traktir. Ramen ichiraku, kan?"
Naruto memasang cengirannya. "Wah, wah, kau langsung tunduk," ucap Naruto sambil tertawa. Kali ini, ia akan membuat Hanabi menghabiskan banyak uang untuk membayar makan siangnya.
Hanabi mendesah. Ia bisa merasakan kalau Naruto berniat untuk menguras dompetnya. "Kalau begitu, cepat bangun dan mandi. Aku tunggu setengah jam lagi!"
Laki-laki itu sedikit meringis saat mendengar nada suara Hanabi. "Hei, hei, ini tidak sebanding dengan tamparanmu, mengerti?"
"Eh?"
Naruto memiringkan kepalanya. "Kau tidak ingat atau pura-pura tidak ingat? Kau menamparku dan mengatakan aku brengsek sepanjang malam. Kau benar-benar membuatku kesal kemarin malam, Hanabi. Untung saja kau tidak muntah," ujar Naruto mengutarakan kekesalannya.
Seakan-akan baru saja mendapat pencerahan, gadis itu tersenyum dan tertawa kecil. "Maaf, Kakak. Nah, sekarang cepat mandi, aku akan mentraktir Kakak hari ini," ucapnya dengan nada yang dimanis-maniskan.
"Kau terlihat menakutkan jika berbicara seperti itu, Hanabi."
"Apa?!" teriak Hanabi. "Sudah, cepat mandi sana! Sebelum aku berubah pikiran!" tambahnya.
Naruto hanya mengedikkan kedua bahunya tanpa membalas ucapan Hanabi. Laki-laki itu kemudian berjalan ke kamar mandi miliknya.
Sekitar setengah jam kemudian, Naruto dan Hanabi sudah berada di dalam mobil Naruto dengan Hanabi yang berada di kursi kemudi. Sebenarnya Naruto menyuruh Hanabi untuk menggunakan mobilnya sendiri tapi sepertinya gadis itu meninggalkan mobilnya di bar semalam.
"Kemarin itu adalah hari yang paling menyebalkan di hidupku. Pacarku tiba-tiba saja minta putus tanpa alasan yang jelas, apa Kakak bisa bayangkan itu?" cerita Hanabi menggebu-gebu di dalam mobil.
Sedangkan Naruto hanya mengguman tidak jelas untuk menanggapinya.
"Jadi, Kak, aku mau minta tolong."
"Minta tolong apa? Kau menyuruhku untuk membunuh pacarmu?" tebak Naruto. "Cari orang lain saja."
Hanabi mengernyit. "Ah, bukan. Kau terlalu banyak menonton drama. Aku cuma mau minta tolong antarkan aku mencari mobilku di bar sehabis aku mentraktirmu makan siang. Kemarin malam aku pulang naik taksi."
"Baik, lima mangkuk bagaimana?"
Hanabi rasanya ingin memekik saat mendengar permintaan Naruto. Sepertinya uangnya benar-benar akan menipis karena tingkahnya sendiri. Dalam hati, gadis ini memperingati dirinya sendiri agar tidak mengganggu Naruto saat mabuk. Tapi memangnya bisa? Dia bahkan tidak sadar saat dirinya mabuk.
Pegangan Hanabi di stir kemudi mengeras karena saking frustasinya sehingga membuat Naruto tersenyum bahagia saat melihatnya. Ini cukup untuk membayar semua perlakuan Hanabi kemarin malam terhadapnya.
Mereka sampai di restoran Ichiraku sekitar jam satu siang. Untung saja masih tersisa satu meja untuk mereka yang terletak agak di belakang.
"Wah, kalau telat sedikit saja, kita bisa-bisa tidak dapat tempat, kan?" ujar Hanabi setelah mereka duduk. "Kakak mau pesan apa?"
Bukannya menyahut, Naruto malah menguap sambil mengurut-ngurut pangkal hidungnya. Ah, sepertinya dia masih mengantuk. "Aku mau mencuci muka dulu saja."
"Maaf, permisi. Bisa saya bicara dengan Anda berdua?" suara seorang pelayan Ichiraku berhasil mengintrupsi gerakan Naruto yang baru saja ingin pergi ke kamar mandi.
"Ada apa? Kami belum mau memesan," sahut Naruto.
Pelayan laki-laki itu tersenyum ramah dan menoleh ke arah Hanabi. "Maaf, saya kemari bukan untuk menanyakan pesanan. Di luar restoran kami, ada dua orang pengunjung yang baru datang tapi semua meja sudah terisi penuh. Hanya meja Anda—"
"Oh, tentu saja boleh," potong Hanabi cepat seakan ia mengerti ke mana arah pembicaraan pelayan itu. "Mereka boleh bergabung bersama kami. Tidak apa-apa kan, Kak?"
Naruto mengedikkan kedua bahunya menandakan bahwa ia tidak terlalu peduli kemudian melenggang pergi ke kamar mandi. Oh ayolah, Naruto tidak peduli siapa yang duduk dengan mereka sekarang, yang terpenting ia bisa mendapat ramen hari ini.
Selesai dengan acara cuci mukanya, Naruto kembali ke meja bernomor dua puluh yang ia tempati.
DEG!
Langkah kakinya seketika berhenti saat melihat punggung seorang perempuan duduk di sana dengan rambutnya yang berwarna merah muda sebahu. Laki-laki itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak salah lihat, kan?
"Sakura?" ucapnya takut-takut.
Perempuan itu menoleh cepat ke arahnya. Mata hijaunya melebar dengan mulut yang sedikit terbuka. "Naruto ...," balasnya.
Naruto sempat terdiam selama beberapa saat karena tebakannya benar. Gadis yang sudah menghancurkan hatinya itu tepat berada di hadapannya saat ini. Dia kemudian berdehem sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di hadapan Sakura. "Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu di sini," ucapnya berusaha terlihat santai.
"Maaf, kau harus terpaksa berbagi tempat duduk denganku," balas Sakura sambil menunduk.
Hal pertama yang menjadi fokus Naruto adalah rambut gadis bermarga Haruno itu. "Kau memotong rambutmu? Terlihat lebih manis," ujarnya tanpa bisa menahan pujiannya.
Sakura akhirnya mendongakkan wajahnya dan berani menatap Naruto. "A-ah, ini ... tuntutan peran," sahutnya.
Naruto tersenyum lebar mendengarnya. "Sepertinya kau masih terus mengejar impianmu. Lalu kenapa kau tiba-tiba ada di sini?"
Gadis itu menatap Naruto beberapa saat sebelum menjawab. "Aku dipindah kerja ke sini. Kau sendiri bagaimana?"
Naruto sedikit memiringkan kepalanya karena sedikit bingung dengan arah pembicaraan Sakura. Entah mengapa, ia merasa kalau Sakura terlihat tidak fokus saat berbicara. "Aku sudah kembali ke sini tiga tahun yang lalu."
"Eh?"
Naruto tersenyum melihat reaksi Sakura. "Kau pikir aku akan tinggal di Kiri selamanya? Aku hanya kuliah di sana selama setahun karena profesor pembimbingku pindah ke Konoha," ucap Naruto menjelaskan.
Suasana kembali hening. Karena tidak tahan dengan suasana yang canggung seperti ini, Naruto kembali membuka suaranya. "Bagaimana pekerjaanmu di Suna? Menyenangkan?"
Sakura tersenyum sedikit. "Ya, begitulah. Bagaimana denganmu?"
"Sama sepertimu, Sakura," balas Naruto. "Kau masih tinggal dengan paman dan bibimu?"
Sakura mengangguk dengan masih tetap berusaha tersenyum. "Tapi sepertinya aku akan mencari apartemen yang dekat dengan tempatku bekerja."
"Hmm ...," gumam Naruto karena tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Salah satu tangannya mengambil sumpit dan melepas bungkusnya. Sumpit itu kemudian ia letakkan di atas serbet. "Hahh ...," helanya. Ia benar-benar benci suasana seperti ini. Terlalu canggung dan sangat menyesakkan.
"Hei, Sakura, tiba-tiba saja aku berpikir. Kalau saja aku tahu kalau aku hanya akan kuliah di Kiri selama setahun, aku tidak akan memaksamu melepas impianmu," ucap Naruto tiba-tiba.
Mata Sakura sedikit membesar ketika mendengarnya. "Maksudmu?"
"Maksudku aku tidak akan memaksamu menikah denganku. Dan kalau saja dulu aku melakukan hal itu ... mungkin saja sekarang kita masih bersama. Mungkin sekarang kita sedang tertawa bersama bukannya terlihat seperti orang asing begini," terang Naruto sambil meringis.
Sakura merasakan dadanya sedikit sesak ketika mendengarnya. "Tapi semuanya sudah terjadi dan aku tidak menyesali keputusanku yang dulu."
Tanpa disadarinya, Naruto menghela napas cukup keras. "Tapi aku sangat menyesalinya, Sakura."
"Hm? Tapi kau yang membuat semuanya menjadi seperti ini!" balas Sakura. Ia menghentikan ucapannya saat merasakan bahwa nada bicaranya naik satu oktaf. "Kau yang memaksaku melakukan hal yang tidak kuinginkan, Naruto," lanjutnya pelan.
Ketika mata hijau Sakura bertemu dengan Naruto, gadis itu dapat merasakan gejolak emosi di mata biru langit itu. "Aku merindukanmu, Sakura."
Sakura hanya bisa terdiam saat itu, suaranya seperti tercekat dalam tenggorokan. Tepat saat itulah, Hanabi kembali ke meja. Melihat Sakura yang terdiam, Naruto segera mengalihkan perhatiannya ke Hanabi. "Kau ke mana saja, Anak Kecil?"
Hanabi segera duduk di kursi di sebelah Sakura. Wajahnya merengut saat mendengar panggilan Naruto kepadanya. "Urusan pribadi," sahut gadis itu. "Ah, ini dua orang pengunjung yang—"
"Aku tahu," potong Naruto. "Sakura dan ...," Naruto memandang laki-laki yang duduk di sebelahnya itu cukup lama. "Haahh?! Kau Konohamaru, bukan? Kau sudah besar."
Konohamaru memasang cengiran di wajahnya. "Haha ... lama tidak bertemu, Kak Naruto. Jadi, apa yang terjadi dengan kalian berdua? Reuni sepasang kekasih?" godanya.
"Hm?" Hanabi memiringkan kepalanya. "Kalian sudah saling kenal?"
Konohamaru menoleh ke arah Hanabi dan menjelaskan pada gadis itu bagaimana hubungan Naruto dan Sakura. Akibat dari penjelasan itu, Naruto dapat melihat Hanabi yang mengerling jahil ke arahnya. Ah, sepertinya gadis itu sudah mendapat bahan ejekan baru untuk tetangganya itu.
Naruto tak tinggal diam. "Lalu bagaimana dengan kalian? Kenapa kalian pergi berdua? Jangan bilang kalau Konohamaru adalah laki-laki yang membuatmu mabuk kemarin malam?"
Gadis bermarga Hyuuga itu mendelik ke arahnya karena sudah membongkar aibnya di depan Konohamaru. "Berhenti berbicara atau aku tidak akan mentraktirmu, Kak," ancam Hanabi.
Naruto meringis mendengarnya dan berhenti berbicara. Sedangkan Sakura dan Konohamaru saling berpandangan dan bersama-sama mengedikkan kedua bahunya karena tidak mengerti dengan percakapan Naruto dan Hanabi.
"Jadi, kalian mau pesan apa?" tanya Hanabi untuk mengubah topik pembicaraan.
Percakapan selanjutnya kemudian beralih ke menu apa yang akan mereka pesan ditambah dengan percakapan basa-basi yang kebanyakan diisi oleh Naruto dan Konohamaru.
o0o
Naruto meregangkan kedua tangannya saat ia berada di rumahnya. Setelah mengantarkan Hanabi mencari mobilnya, Naruto segera pergi ke rumah ibunya.
Mata birunya dapat melihat seorang wanita sedang menonton televisi di ruang tengah. Dengan sedikit mengendap laki-laki itu mendekati sang wanita dan segera mencium cepat pipinya. "Hai, Ma. Aku rindu sekali denganmu," ucapnya.
Sang wanita terlihat sedikit terkejut dan langsung memeluk Naruto. "Anakku yang nakal. Kau baru datang sekarang, hm?" balas wanita bernama Kushina itu sambil mengacak-ngacak rambut putranya.
Naruto kemudian duduk di sebelah ibunya sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu. "Aku lelah sekali. Pekerjaanku di rumah sakit sangat banyak," ucap Naruto manja. "Kemarin aku juga diganggu anak kecil yang sedang mabuk. Benar-benar menyebalkan."
Kushina tertawa kecil mendengarnya. "Anak kecil tidak boleh mabuk. Kau harus mengatakan itu padanya."
Naruto hanya mendesah dan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ibunya. "Rasanya nyaman sekali. Aku sangat mencintai Mama. Hanya dengan memelukmu, aku merasa tidak lelah lagi."
Suasana tentram yang Naruto rasakan ternyata tidak bertahan lama. Seorang gadis yang baru saja turun dari lantai dua menjewer salah satu telinga Naruto. "Hei, adikku yang manja, kenapa kau ada di sini, hah?"
Naruto menolehkan kepalanya ke belakang. "Karin! Apa yang kau lakukan? Apa aku dilarang berada di rumahku sendiri? Kau sendiri juga sedang apa di sini?" tanya Naruto beruntun sambil mendelikkan matanya. Karin hanya mengedikkan kedua bahunya dan duduk di sebelah kiri Kushina.
"Oh Karin, kenapa kau tidak meminta bantuan Naruto saja? Mungkin dia punya kenalan yang sedang memerlukan rumah," ucap Kushina tiba-tiba yang membuat Naruto menaikkan salah satu alisnya.
"Mencari rumah?"
Kushina beralih menatap Naruto. "Jadi begini, anak-anak yang tinggal bersama kakakmu dulu baru saja pindah. Jadi, sekarang dia sedang mencari orang yang mau tinggal di butiknya."
Anak bungsu Kushina itu menoleh ke arah kakaknya. "Hehh ... jadi dengan kata lain, kau masih takut tinggal sendiri?" ejek Naruto.
"Seharusnya kau dulu tidak membuka butik di sana, Karin," timpal Kushina.
Karin memutar bola matanya. "Mama, kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Aku membuka butik di sana karena letaknya strategis."
"Iya, tapi kau tidak harus tinggal di sana, kan?" balas Kushina.
"Sebaiknya kau cepat menikah, Kak. Jadi, kau tidak perlu tinggal sendiri lagi," tambah Naruto.
Bukannya Karin yang menimpali ucapannya, tapi Kushina yang menyahut. "Katakan itu pada dirimu sendiri, Nak. Kau juga cepatlah menikah."
"Ma, aku masih 27 tahun. Kakakku yang sudah tua ini yang harus mulai mencari pacar dulu."
Karin mendesah. "Dengar ya, aku masih muda."
"Iya, Bibi muda kepala tiga," ejek Naruto sambil tertawa keras.
Karin hanya memicingkan matanya kemudian berdiri. "Kau sendiri bagaimana? Dasar laki-laki yang belum bisa lepas dari mantan pacarnya. Aku yakin pasti Sakura sudah punya penggantimu di Suna," balas Karin mengejek adiknya.
Karin benar-benar tahu bagaimana cara membuat Naruto diam. Saat melihat Naruto memasang wajah datar, Karin tersenyum mengejek. Lihat! Ucapannya tepat mengenai sasaran.
"Ah, kebetulan sekali kau di sini," ucap Karin tiba-tiba. "Aku pinjam mobilmu sebentar, adikku tersayang," tambah Karin kemudian mengecup pipi Naruto sekilas dan mengambil kunci mobil Naruto tanpa meminta persetujuan laki-laki pirang itu.
"Dasar! Dia hanya terlihat manis kalau ada maunya saja," ucap Naruto setelah Karin pergi.
Kushina tersenyum kepada Naruto. "Jangan pikirkan ucapan kakakmu, Sayang. Dia hanya sedang kesal karena kau mengatakannya tua."
Naruto kembali memeluk pinggang ibunya dan merebahkan kepalanya di bahu Kushina. "Hei, sampai kapan kau akan di sini, Naruto? Kau tidak melupakan janjimu, kan?"
Mata biru yang baru saja tertutup itu kembali terbuka. "Ah, benar. Hampir saja aku lupa."
"Kalau saja kau tidak sibuk kemarin, kau bisa datang bersama kami menemui papamu."
Naruto tersenyum. "Aku yakin papa tidak akan marah. Yang penting aku datang menemuinya, kan?"
"Kau bisa menggunakan mobil Mama," ucap Kushina saat Naruto berdiri.
"Tidak usah, aku akan naik taksi saja. Aku masih ingin tidur," terang Naruto kemudian melangkah keluar dari rumah berlantai dua tersebut.
o0o
Setelah hampir setengah jam berada di dalam taksi, akhirnya Naruto sampai di depan sebuah gedung yang penuh berisi abu milik orang-orang yang sudah meninggalkan dunia ini. Di depan gedung, ada sebuah kios yang menjual bunga-bunga kecil yang bisa ditempel di kaca. Naruto membeli satu bunga di sana sebelum masuk ke gedung berwarna cokelat itu.
Begitu sampai di lobi, ia disambut dengan suasana yang mententramkan. Tempat ini memang cocok dijadikan sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Laki-laki berambut pirang itu kemudian masuk ke salah satu ruangan yang ada di sana. Ruangan itu dipenuhi rak-rak kaca dengan ukuran yang sama. Hampir di semua rak itu berisi guci-guci berwarna putih yang merupakan tempat penyimpanan abu.
"Hei, Pa, apa kabar?" ucap Naruto saat sampai di rak kaca yang menyimpan abu milik ayahnya. "Maaf, aku tidak bisa datang kemarin."
Tangannya yang berwarna kecokelatan itu menempelkan bunga kecil yang ia beli di rak kaca itu. Rak kaca milik ayahnya itu berisi sebuah guci berwarna putih yang bertulisan nama ayahnya dan tanggal wafatnya. Dan juga ada dua buah foto di dalam rak itu. Foto pernikahan ayah dan ibunya. Dan foto keluarga kecilnya saat masih utuh. Di foto itu, Naruto baru berumur tiga tahun, karena itulah ia kesulitan mengingat bagaimana ayahnya dulu.
"Ya ampun, aku bingung harus mengatakan apa padamu, Pa," ucap Naruto setelah ia terdiam cukup lama.
"Ah, benar. Tadi aku bertemu dengan Sakura," Naruto terdiam kembali dan menghela napas. "Kalau saja Papa masih hidup, mungkin aku bisa meminta saran darimu. Tapi sepertinya aku harus mencari jalan keluar dari masalah ini sendiri."
Laki-laki itu tertawa dengan sedikit cengengesan. "Sebenarnya aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi saat bertemu dengannya, aku sadar kalau aku merindukannya. Aku sangat ingin memeluknya," ucap Naruto panjang lebar sambil mendesah.
Karena mendengar suara langkah kaki, Naruto terpaksa menghentikan ucapannya. Mata birunya sempat melirik perempuan berambut panjang yang masuk ke ruangan itu. Perempuan itu kemudian berdiri di depan salah satu rak kaca dan mulai berbicara.
"Hmm ... aku bingung mau mengatakan apa lagi. Yang terpenting, Papa tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga mama dan juga kakak." Naruto tersenyum lebar sambil memandang wajah ayahnya yang ada di dalam foto keluarganya.
Sebenarnya Naruto bisa segera pergi dari ruangan itu tapi langkahnya tertahan karena telinganya tanpa sengaja mendengar ucapan perempuan yang berdiri tak jauh darinya itu. Mata biru Naruto melirik perempuan berambut biru tua itu.
"Apa menurut ibu semua yang kulakukan itu benar?" tanya perempuan itu. "Aku memutuskan untuk memulai semuanya dari awal. Besok, aku akan makan malam dengan keluarganya," gadis itu berbicara halus.
Ia menghelas napas sebelum berbisik pelan. "Apa keputusanku sudah benar? Aku mengorbankan perasaanku agar aku bisa meraih impianku."
Naruto berdecak sebal ketika mendengar ucapan gadis yang tidak ia kenal itu. "Kenapa kau hidup pesimis seperti itu?" tanya Naruto dengan suara yang cukup keras.
Pertanyaan Naruto itu berhasil mengalihkan perhatian si gadis. Mata kelabu itu bertemu dengan mata biru milik Naruto. Naruto sedikit mengernyit saat ia menyadari ada begitu banyak emosi di dalam mata itu. "Kau hanya hidup satu kali di dunia ini, Nona. Bukannya kau seharusnya lebih bekerja keras lagi?"
"Eh?"
"Maksudku soal pengorbanan yang kau katakan tadi. Kenapa kau harus mengorbankan salah satu hal dalam hidupmu? Padahal kau sebenarnya bisa mendapatkan semuanya jika kau mau berusaha," ucap Naruto panjang lebar.
Saat melihat mata kelabu itu melebar, barulah Naruto tersadar akan apa yang baru ia lakukan. "Ah! Maaf, aku tidak bermaksud ikut campur dengan urusanmu. Aku hanya tidak tahan mendengar ucapanmu yang sangat pesimis itu." Naruto sedikit meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Suasananya mendadak menjadi sangat canggung karena mereka berdua tidak saling mengenal satu sama lain. Tapi kecanggungan itu segera menghilang saat sang gadis memperlihatkan senyuman menenangkan di wajahnya. "Tidak apa-apa," balasnya. "Terima kasih atas sarannya."
Naruto ikut tersenyum sambil menatap gadis itu. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Kau bisa melanjutkan pembicaraanmu dengan ibumu," ujar Naruto. Ia baru saja ingin meninggalkan ruangan itu di saat si gadis berambut biru gelap itu tiba-tiba saja menarik tangannya.
"Hm? Ada apa?"
Gadis itu menarik tangannya dengan cepat dan terlihan sedikit gelagapan. "Ma-maaf. A-aku ... aku ingin ...,"
Naruto tersenyum lebih lebar seakan berusaha menenangkan gadis yang sedang gugup itu. "Kau ingin minta tolong dariku?"
Pertanyaan Naruto dibalas dengan anggukan dari sang gadis. "Aku ingin me-meminta saran," sahutnya. "A-ah! Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Hyuuga Hinata."
"Senang berkenalan denganmu. Namaku Uzumaki—"
Ucapan Naruto terpaksa terpotong karena ia mendengar teriakan minta tolong dari arah lobi. Naruto menatap Hinata sejenak sebelum akhirnya ia berlari ke asal suara. Laki-laki itu mendapati seorang pria yang sedang pingsan di lobi dengan beberapa orang yang sedang mengelilinginya.
"Ada apa?" tanya Naruto.
"Laki-laki ini tiba-tiba saja terjatuh," ucap seseorang menjawab pertanyaan Naruto.
Saat mendengar hal itu, Naruto tiba-tiba saja mendapat firasat kalau ia tidak akan bisa benar-benar libur hari ini. "Aku akan menelepon ambulan," putusnya. "Ah, tidak, lebih baik aku segera membawanya ke rumah sakit saja."
Naruto segera mendekati laki-laki itu dan memeriksanya. "A-apa kau seorang dokter?" tanya seseorang.
"Iya, aku dokter," sahut Naruto. Saat itulah, ia tiba-tiba teringat kalau ia tidak membawa mobil pribadi.
Mata birunya segera dapat menangkap wajah gadis yang baru saja ia temui tadi, rupanya gadis itu mengikutinya. "Hei, Hinata. Apa kau membawa mobil?"
"I-iya, aku bawa. Memangnya kenapa?" tanya Hinata.
"Bagus. Aku akan berhutang budi padamu kalau kau mau mengantar laki-laki ini ke rumah sakit," sahut Naruto.
"Ta-tapi aku—"
"Kau tenang saja, aku akan ikut bersamamu," potong Naruto cepat sambil berusaha mengangkat laki-laki itu dengan bantuan dua orang yang kebetulan ada di sana.
"Hm, baiklah."
Bolehkah Naruto mengatakan kalau sejak kemarin malam ia terus mengalami kesialan? Dia harus mengurus seorang anak yang sedang mabuk kemarin. Hari ini, ia juga dipaksa bertemu dengan mantan pacarnya yang belum bisa ia lupakan itu. Dan sekarang, kemungkinan besar hari liburnya terancam batal.
Sepertinya hari Naruto sudah tidak bisa lebih sial lagi sekarang.
.
.
.
Chapter 6 -END-
Author's Note: Chapter ini enggak sepanjang chapter sebelumnya ya hehe... Oh ya, mungkin ada yang lupa, di chapter-chapter sebelumnya udah dijelasin kalo Neji-Hinata-Hanabi itu saudaraan yaa :D
Buat yang enggak tau gimana 'scrub' tu, coba di search aja di google 'hospital scrub' ya hehe..
Makasih banyak buat yang sudah mereview chapter kemarin. Khususnya untuk: Guest, ovihime, ana, clareon, sabrina. a. nisa, SaSaSarada-chan, Ruin's Crimson, Lukyta-Chan, Onpu885, Baby niz 137, Kkkyuu, Megami Algea, Tsukikohimechan, williewillydoo, ara dipa, Haruka Hime-chan, Guest, Hyugahime, dwi. bumblebee, mhiemilochan, ana, Adalah, Chanchan, Guest, dina uchiharuno. Terima kasih untuk reviewnya :D Love you all~~ Review kalian adalah penyemangat saya :D
Sekali lagi, terima kasih buat yang udah baca chapter ini :) Jangan lupa buat ninggalin komentar-komentar kalian di kotak review yaa... Saya tunggu ^.^
