Prince of Tennis disclaimer by Konomi Takeshi-sensei
Love So Sweet by Rin Shouta
Rate : T
Genre : Romance, Friendship, Drama, Angst
Pair : Perfect Pair (Tezuka Kunimitsu x Fem!Fuji Syusuke aka Fuji Syuko)
Warning : Gender bender. AU (Little Canon), OOC, typos, etc. Niatnya ingin buat yang manis-manis saja, tapi who know? :) Don't like, don't read. I've warned you, 'kay?
#7 Second Year JHS; Classmate (Part 4)
Libur Golden Week sudah berlalu. Sesuai jadwal yang sudah dibuat Ryuuzaki-sensei, selama seminggu ini diadakan pertandingan rangking intraschool untuk mempersiapkan formasi anggota yang bermain di turnamen Kantou yang dimulai pada akhir bulan Juni. Di blok B, Fuji berhasil memenangkan tiga pertandingan dengan dua pertandingan melawan anggota reguler. Walau berhasil menang, tapi Fuji akui pertandingannya melawan adik kelas bernama Shizui Junko adalah pertandingan yang seimbang.
Fuji Syuko kembali menenggak air mineral tanpa mengalihkan pandangan dari papan mading. Pertandingan yang harus ia ikuti tersisa satu kali. Entah ini hanya kebetulan atau ada konspirasi di baliknya, Fuji akan melawan Wakil ketua klub aka Kawaguchi Mei.
Sebenarnya mereka pernah bertanding dulu dan Fuji menang, namun kali ini sepertinya ia tak bisa menganggap remeh kemampuan Kawaguchi yang pastinya sudah meningkat dari sebelumnya. Kalau dipikirkan, rasa tak ingin kalah di hatinya jadi tak bisa dikontrol. Terlebih setelah tahu bahwa hubungan Wakil ketuanya itu cukup dekat dengan Kagamine. Fuji jadi berpikir tentang kemungkinan Kawaguchi terlibat dengan perbuatan Kagamine padanya sekitar dua minggu yang lalu.
Lagipula hubunganku dengannya memang tidak akur dari awal, pikirnya.
"Melihat jadwal pertandingan seperti itu takkan mengubah isinya, Fuji-chan."
Fuji melirik ke kanan lalu tersenyum. "Aku penasaran, apa ada konspirasi di baliknya, Buchou."
Nishimura Riko tertawa mendengar ucapan salah satu adik kelas kesayangannya. "Masa, sih?"
"Perasaanku bilang begitu, tapi ya sudahlah." Fuji mengelap keringat yang meluncur dari dahinya. "Aku tidak tahu apa rencanamu sebenarnya, Nishimura-buchou. Satu hal yang kuyakini," Rasa tertarik kali ini terlihat di kedua bola mata biru Fuji, "Kau ingin merubah formasi anggota reguler."
"...benarkah? Kita lihat saja nanti," balas Nishimura.
"Oh iya, jangan membahas soal aku yang menolak tawaranmu di depan Kawaguchi-chan lagi, Buchou," pinta Fuji seraya tersenyum pada sang Ketua klub yang hanya tertawa pelan. Ia menghela napas dan melanjutkan keluhannya, "Aku lelah mendengar rengekannya. Apalagi nama Tezuka-kun selalu disebut—"
Tubuh Fuji berdiri kaku seketika. Gadis itu baru menyadari sesuatu. "Benar juga," bisiknya pelan.
Mendengar keluhan tersebut, Nishimura jadi ikut menyadari ada yang tidak beres di antara Kawaguchi dan Fuji. Tapi dirinya tidak menyangka kalau seorang Tezuka Kunimitsu ikut terlibat. Otaknya mulai memikirkan sesuatu. "Fuji-chan, apa hubunganmu dengan Kawaguchi-chan seburuk itu?" tanya Nishimura.
"Huh? Apa terlihat buruk? Padahal kami sering mengobrol, kok," balas Fuji.
"Tapi suasananya tidak bersahabat seperti saat kau bersama Wakaba-chan."
"Saa... banyak hal yang terjadi, Buchou."
Ekspresi di wajah Nishimura berubah jadi serius. "Jangan sampai mempengaruhi kegiatan klub. Kau dan Kawaguchi-chan punya potensi untuk membawa kemenangan Seigaku ke turnamen Nasional." Gadis berambut pirang pendek itu berjalan mendekat kemudian menepuk pelan puncak kepala Fuji.
"Pundakku langsung terasa berat," ucap Fuji dengan nada lelah.
"Maa, untuk sekarang, semoga berhasil menang dari Kawaguchi-chan."
"Aa. Arigatou, Nishimura-buchou."
Love So Sweet
Kepala mendongak ke atas. Sinar matahari membuat kedua matanya menyipit di balik lensa kacamata berbentuk oval. Pemuda berambut cokelat gelap itu menarik seragam reguler ke atas untuk menghapus keringat yang ada di sekitar dagu. Dirinya berhasil menjadi anggota reguler dengan kemenangan di empat pertandingan yang diikuti. Mata hazel-nya menatap lengan kiri sebelum mengeratkan pegangan pada raket.
"Otsukare, Tezuka." Wakamatsu Rei berjalan menghampirinya.
"Otsukaresama deshita, Wakamatsu-buchou," balas Tezuka.
Kedua bola mata biru tua sang Ketua memperhatikan lengan kiri Tezuka. "Lenganmu tidak apa-apa, kan? Pertandingan terakhirmu tadi pasti membuat lengan kirimu stres."
"Tidak juga." Tezuka menggerakkan lengan kirinya dengan menekuk dan meluruskannya beberapa kali. Pandangannya terarah pada adik kelas yang sedang bertanding dengan salah satu anggota reguler.
"Bagaimana dengan Kaidou?" tanya Wakamatsu sambil ikut menatap ke arah yang sama.
"Dia memang punya potensi," jawab Tezuka singkat.
"Berarti dugaanku tidak salah, ya?" Wakamatsu mengangguk beberapa kali dengan ekspresi bangga. Tak lama kemudian, pandangannya teralih ke lapangan G yang terlihat lebih ramai dari lapangan lainnya. Matanya melirik ke atas, mengingat sesuatu. "Oh iya, hari ini juga hari terakhir pertandingan rangking intraschool klub putri. Kalau tidak salah yang memakai lapangan G adalah blok B. Mestinya sekarang sedang berlangsung pertandingan Fuji Syuko dan Kawaguchi Mei," ucapnya sambil memperhatikan lapangan G.
Fokus Tezuka langsung teralih. Ia melirik ke arah Ketuanya lalu memperhatikan lapangan G. Dalam hati pemuda itu penasaran dengan hasil akhirnya.
Seolah bisa membaca pikiran Tezuka, sudut kanan bibir Wakamatsu tertarik ke atas. Sudah jadi rahasia umum tentang Wakilnya ini dekat dengan salah satu anggota klub tenis putri. "Kau bisa melihatnya kalau penasaran," ucapnya dengan nada menggoda.
"Tidak perlu," balas Tezuka seraya kembali menatap lapangan tempat Yuuta bertanding.
Wakamatsu menahan tawa kemudian masuk ke dalam lapangan.
Pertandingan rangking intraschool untuk klub tenis putra selesai lebih cepat dari jadwal. Ekspektasi Ketua klub pada tiga junior yang diizinkan mengikuti pertandingan tersebut ternyata tidak mengecewakan. Kaidou Kaoru, Momoshiro Takeshi, dan Fuji Yuuta berhasil menjadi anggota reguler. Tezuka sendiri mengakui kemampuan mereka, terutama Kaidou karena hari ini ia bertanding melawannya.
Saat kegiatan klub selesai, semua anggota klub keluar lapangan. Beberapa di antaranya pergi melihat pertandingan rangking intraschool klub tenis putri, termasuk Wakamatsu yang berakhir dengan mengajak Tezuka untuk ikut melihat. Hal pertama yang dilihat Tezuka saat berdiri di pinggir lapangan G adalah papan skor. 4-2 dengan Fuji memimpin pertandingan.
"Nyaa! Fujiko, semangaaaaat!" teriak Kikumaru Eiji.
Terdengar kekehan pelan dari arah Wakamatsu. "Mereka sahabatan, ya?"
"Aa. Kurang lebih."
Kedua mata hazel Tezuka memperhatikan gadis berambut cokelat pendek yang sedang bersiap menerima servis di area seberang. Baru pertama kali ini ia melihat ekspresi serius Fuji saat bertanding, namun ada sesuatu yang membuatnya sedikit berbeda dari biasanya. Ketika Fuji membalas servis Kawaguchi dengan smash, hal yang membuat Tezuka mengernyit adalah bola hijau itu tidak memantul, melainkan bergerak lurus menuju keluar lapangan dengan cepat.
"Apa itu... barusan?" gumam Tezuka sambil memandang takjub pada Fuji yang sibuk mengecek senar pada raketnya. Saat mereka bertanding dulu, Fuji tidak memakai teknik ini.
"Ini bukan pertama kali aku melihatnya, tapi tetap membuatku kaget, haha," ucap Wakamatsu.
"Kau pernah melihatnya, Wakamatsu-buchou?" tanya Tezuka.
"Ya. Kemarin aku kebetulan melihatnya dan Fuji bilang kalau itu salah satu teknik dari Triple Counters miliknya. Tsubame Gaeshi." Pemuda berambut merah itu melipat kedua tangan di depan dada. Ia memasang wajah bangga lalu kembali melirik sang Wakil. "Hebat, ya?" tanyanya.
"Aa." Kedua tangan Tezuka terkepal. Dalam hati ia ingin bertanding lagi dengan gadis itu.
Terdengar suara Wakaba Fuyuki meneriakkan skor. "5-2. Fuji servis!"
Fuji melakukan servis dan dengan mudah dibalas Kawaguchi. Terjadi rally yang cukup panjang. Serangan Kawaguchi mulai melemah. Fuji memanfaatkan keadaan lalu kembali menyerang dengan Tsubame Gaeshi dan menghasilkan poin. Dilihat dari manapun, teknik Fuji memang lebih unggul, tapi Tezuka tidak pernah berpikir gadis itu menang dalam adu kekuatan dengan Kawaguchi yang memiliki tubuh lebih besar darinya.
"Kegiatan klub tenis putra sudah selesai, ya?"
Baik Tezuka maupun Wakamatsu menengok. Nishimura sudah berdiri di sisi kiri Wakamatsu tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan. Ekspresinya terlihat serius memperhatikan pertandingan dua juniornya. Fokus dua pemuda itu juga kembali pada pertandingan di depan mereka.
"Ya, baru saja. Tapi aku tidak menyangka pertandingan klub tenis putri jadi lebih lama seperti ini. Biasanya lebih dulu selesai dibanding klub tenis putra," balas Wakamatsu.
Nishimura tertawa pelan. "Aku juga tidak tahu kenapa jadi selama ini."
"Heh, padahal kau sudah menduganya, kan?"
"Maa, bukannya jadi lebih seru?" Entah kenapa Nishimura melirik pada Tezuka dan dibalas dengan ekspresi bingung dari pemuda stoik tersebut.
Wakamatsu geleng-geleng kepala. "Dasar kau ini," gumamnya.
Skor 30-30. Fuji kembali melakukan servis. Lagi-lagi apa yang dilakukan gadis itu membuat Tezuka mengernyitkan kedua alisnya. Bola tenis diputar lalu dijatuhkan sebelum diservis ke daerah lawan. Servis tersebut tidak cepat, tapi mampu mengecoh Kawaguchi yang mengira bolanya akan jatuh ke daerah kanan dan malah jatuh ke daerah sebaliknya. Gadis berkacamata itu terlihat tidak suka, sementara Fuji hanya tersenyum santai.
"Akhirnya Fuji-chan pakai Disappearing Serve juga, ya."
Tezuka menengok. "Disappearing Serve?"
"Nama lainnya Cut Serve. Fuji-chan sengaja melakukan servis bawah dengan memutarkan bolanya terlebih dahulu untuk mengecoh lawan. Akhirnya bola akan jatuh ke area sebaliknya dan membuat lawan mengira bolanya menghilang," jelas Nishimura. Suara tawa pelan keluar dari mulutnya. "Pertama kali aku melihatnya juga aku merasa kaget. Apalagi kalau menjadi pihak lawan? Mungkin aku langsung merasa kehilangan harapan untuk menang," lanjutnya.
"Aku jadi tidak heran kalau Fuji disebut sebagai seorang jenius," sahut Wakamatsu.
"Jenius..." Dalam hati Tezuka menyetujui panggilan tersebut.
"6-2. Fuji menang!" teriak Wakaba selaku wasit pertandingan.
Kedua pemain berjalan mendekati net kemudian berjabat tangan. Dari posisi Tezuka, ia bisa melihat ekspresi Fuji berubah dingin ketika gadis itu membisikkan sesuatu pada Kawaguchi. Wakil ketua klub tampak ingin menjauh, namun genggaman Fuji terlihat menguat. Tepat di belakang Fuji, tiba-tiba sosok Yuuta sudah berdiri dan menepuk bahu sang kakak. Ekspresi Fuji kembali seperti biasa, tersenyum polos. Kawaguchi langsung melepas genggaman tangan mereka kemudian pergi keluar lapangan dengan tergesa-gesa.
"Acchaaa... anggotamu bertengkar," gumam Wakamatsu.
Kali ini Nishimura menghela napas berat. "Aku tahu, cepat atau lambat ini pasti akan terjadi."
"Memang Fuji-san dan Kawaguchi-san ada masalah apa?" tanya Tezuka.
Entah kenapa Nishimura dan Wakamatsu saling pandang lalu menghela napas secara bersamaan. "Wakamatsu, beri dia pelajaran! Aku harus mengurus klubku. Bye, bye!" Nishimura pun berlalu, meninggalkan Tezuka yang masih penasaran dan Wakamatsu yang merasa gemas sendiri dengan ketidakpekaan Wakilnya.
"Tezuka, ada kemungkinan kau terlibat dengan pertengkaran mereka."
"..." Tezuka ingin membantah atau membalas ucapan Wakamatsu, namun tak ada kata-kata yang sanggup ia suarakan. Pemuda itu masih berdiri di tempatnya ketika sang Ketua pergi ke ruang klub untuk ganti baju dan bersiap pulang. Benaknya memikirkan apa yang dimaksud Wakamatsu sampai-sampai Nishimura pun sempat kesal padanya tadi.
TezuFem!Fuji
Hari ini ada jadwal PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Semua murid kelas 2-4 masuk ke dalam ruang khusus mata pelajaran PKK sambil membawa sekantung plastik bahan-bahan yang akan dimasak. Untuk kali ini, tiga puluh murid dibagi menjadi sepuluh kelompok sehingga satu kelompok terdiri dari tiga orang. Fuji sekelompok dengan dua teman dekatnya, yaitu Itou dan Wakaba. Mereka ingin memasak makanan untuk piknik, seperti sandwich, omelet, dan beberapa jenis kue kering.
Itou Akari bertugas membuat sandwich. Wakaba Fuyuki akan memasak omelet karena ia kerja part time menjadi koki khusus membuat omelet. Fuji Syuko menawarkan diri mengambil job membuat kue kering choco chips dengan alasan hampir tiap hari membuatnya dengan sang ibu.
Selama pelajaran PKK berlangsung, guru yang mengajar berjalan mengelilingi meja tiap kelompok lalu memberi masukan. Beberapa murid (khususnya laki-laki) mengeluh karena tidak ada yang bisa memasak dalam kelompoknya. Jumlah murid laki-laki yang bisa memasak bisa dihitung jari dan itu termasuk Tezuka Kunimitsu. Kelompok yang beranggotakan Tezuka Kunimitsu, Sato Hiroki, dan Kurosaki Zen memilih untuk membuat crepes.
Sekitar seperempat jam berlalu, keadaan dalam ruangan tersebut yang awalnya hanya sekedar saling berbisik antar anggota kini mulai ramai dengan obrolan yang lain. Termasuk obrolan para gadis tentang penampilan sang Ketua kelas yang memakai apron biru muda. Gara-gara itu Tezuka jadi tidak bisa berkonsentrasi, begitu juga dengan teman sekelompoknya.
"Geez, suara mereka terdengar jelas. Tak bisakah kau lakukan sesuatu dengan fans-mu, Tezuka?" tanya Sato, anggota kelompok Tezuka yang memiliki temperamen rendah.
Tezuka menghela napas. "Daripada mengurusi mereka, lebih baik kita cepat-cepat selesaikan crepes ini," sahutnya sambil berusaha fokus mengaduk adonan yang sudah dimasukkan tepung terigu hingga berbusa. "Kurosaki-kun, margarinnya sudah dilelehkan?" tanyanya pada anggota kelompoknya yang lain.
Kurosaki memasukkan margarin yang sudah meleleh ke dalam wadah yang dipegang Tezuka. Ia tertawa sebentar. "Terkadang aku merasa kasihan dengan penggemarmu setelah melihat ketidakpedulianmu itu, Tezuka-kun," ucapnya.
"Hei, kejunya diparut semua?" tanya Sato setelah selesai memotong pisang dan stroberi.
"Setengah saja, Sato-kun," jawab Kurosaki. Pemuda yang badannya lebih tinggi dari Tezuka itu bersiap memanaskan wajan anti lengket. Tak lama kemudian, adonan yang sedari tadi diaduk oleh Tezuka kini dimasukkan ke dalam wajan.
Sato terlihat mengembangkan senyum. "Aku jadi tidak sabar ingin memakannya, hehe."
"Jangan senang dulu. Kita belum tahu rasanya seperti apa," ucap Tezuka memperingatkan.
"Hai, Kapten~" Meski diberi peringatan dengan nada yang tidak mengenakkan, tapi senyum ceria Sato tidak pernah luntur. Pemuda itu sepertinya sangat bersyukur karena bisa berkelompok dengan orang-orang yang bisa diandalkan. "Oh! Aku lupa mengambil es krim di kantin!" serunya tiba-tiba.
Kedua alis Kurosaki mengernyit. "Kita sudah sepakat tidak menggunakan es krim, kan?"
"Eeeeeh, tapi aku sudah menitipkannya di kantin. Tidak akan mencair, kok!"
"Ya sudah, ambil es krimnya. Kita buat dua-tiga jenis crepes," ucap Tezuka mengizinkan.
"Yey~" Sato pun keluar ruangan tanpa melepas apron biru tuanya.
Sejujurnya daripada menghadapi seorang Sato Hiroki yang sikapnya sebelas-dua belas dengan Kikumaru, lebih baik Tezuka mengalah dan mengizinkannya melakukan sesuatu yang ia suka. Lagipula mungkin nilai PKK mereka akan bertambah jika jenis crepes yang dibuat lebih dari satu. Sekilas indera penciuman Tezuka menangkap harum buah apel. Ketika kepalanya menengok ke kanan, sosok Fuji Syuko sudah berdiri di sampingnya.
"Fuji-san, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tezuka to the point.
Gadis yang memakai apron polkadot merah itu tersenyum polos padanya. "Mengecek pekerjaan di kelompokmu, Tezuka-kun."
"Memang kelompokmu sudah selesai?"
"Aku diusir karena mereka takut aku memasukkan wasabi ke dalam omelet dan sandwich."
"Pfft, ternyata kau suka wasabi, Fuji-san?" tanya Kurosaki menimbrung pembicaraan.
"Enak, loh." Fuji dan Kurosaki tertawa, sementara Tezuka geleng-geleng kepala.
"Fuji-chan, bantu aku! Aku tidak bisa menatanya dengan rapi, hiks!" seru Itou.
"Haaaaai~" Kali ini Fuji yang geleng-geleng kepala. "Padahal tadi mengusirku," bisiknya seraya menengok pada Tezuka dan Kurosaki. "Aku pergi dulu. Semoga rasa crepesnya enak, ya." Gadis berambut cokelat itu pun pergi sambil bersenandung pelan.
Tezuka mengangkat sedikit adonannya yang ternyata sudah matang. Kurosaki mengambil satu piring ukuran besar lalu membantu Ketua kelompok menaruh adonan crepes ke atasnya untuk dihias dan disajikan. Tezuka memasak adonan kedua dan membiarkan Kurosaki yang merias crepes dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan oleh dirinya dan Sato tadi. Saat adonan kedua matang, Sato pun kembali ke dalam ruangan. Di tangannya ada sekotak es krim ukuran sedang berisi tiga rasa di dalamnya, yaitu cokelat, stroberi, dan vanila.
Di kelompok Fuji, mereka sudah hampir selesai. Tiga omelet yang dibuat Wakaba pun sudah dimasukkan ke dalam salah satu kotak bento. Berhubung Itou tidak bisa rapi dalam menyusun sesuatu, baru dua sandwich yang dimasukkan ke dalam kotak. Gadis tomboi itu dibantu Fuji sedang menyusun isi sandwich ketiga dan keempat.
"Fuji-chan, kuenya sudah jadi belum?" tanya Wakaba.
"Oh, sepertinya sudah. Biar kuambilkan. Wakaba-chan bantu Itou-chan, ya." Setelah melihat Wakaba mengangguk, Fuji bergegas menuju deretan oven. Dengan sarung tangan khusus yang berbahan tebal, ia membuka salah satu oven lalu mengambil loyang berisi kue kering choco chips buatannya. Senyumnya makin lebar ketika mencium wangi kue tersebut.
Sebelum Fuji berbalik ingin ke mejanya, sekilas ia melihat sosok Kagamine Sakura membawa wajan datang dari arah kanan. Mungkin gadis berambut hitam panjang itu mengambil belanjaan kelompoknya lalu ingin kembali ke meja kelompoknya yang tepat di samping meja kelompok Fuji. Tubuhnya berbalik, ia mundur satu langkah ketika lengan Kagamine ingin menyenggol loyangnya. Kejadian yang tidak mengenakan pun terjadi.
Kagamine terjatuh bersama wajan yang dipegang. Isi wajan yang ternyata saus pasta pun tumpah ke lantai dan sedikit mengenai apron serta rok seragamnya. Semua pasang mata langsung menatap ke arah mereka berdua.
"Fuji! Kau sengaja menjatuhkan wajanku, ya!?" tuduh Kagamine masih dengan posisi duduk.
Fuji mendelik. "Aku justru melangkah mundur untuk menghindari tabrakan denganmu."
"Jangan bohong! Lalu kenapa aku bisa jatuh di depanmu!?"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin saja kau pura-pura jatuh supaya bisa menuduhku?"
"Untuk apa aku menuduhmu!? Tidak ada kerjaan!"
Kedua bahu Fuji terangkat ke atas, pertanda tidak tahu. Wajahnya terlihat menahan ringisan karena terlalu lama memegang loyang panas di tangannya. "Tapi aku tidak melakukan apa-apa padamu, Kagamine-san. Tidak ada gunanya aku menjatuhkan wajanmu. Aku bukan gila nilai yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan nilai tertinggi," ucap Fuji dengan nada tegas. Ia ingin cepat-cepat menaruh loyang ke meja kelompoknya, namun sekali lagi Kagamine mencari ribut dengannya.
"Siapa tahu, kan!? Mungkin saja kau bermuka dua!" seru Kagamine.
"Fuji-chan tidak mungkin begitu!" teriak Itou yang sedari tadi menahan emosi.
"Kau ingin membelanya karena kau temannya, Itou!? Jelas-jelas Fuji yang salah!"
Itou melotot lalu berjalan mendekati gadis yang menurutnya kecentilan itu. Kedua tangannya menarik kerah seragam sailor biru tua yang dikenakan Kagamine sehingga gadis tersebut berdiri. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kau yang berniat menyenggol Fuji-chan dan beruntungnya reflek Fuji-chan bagus, jadi kau yang jatuh karena tak bisa menyeimbangkan tubuhmu sendiri, Kagamine Sakura," ucap Itou memberikan kesaksian.
"I-Itou-chan, tenang dulu." Wakaba berusaha melepas genggaman tangan Itou pada kerah Kagamine, tapi tidak berhasil. "Itou-chan, lepaskan tanganmu," pintanya.
"Aku sudah muak melihat gayamu yang kecentilan. Jangan cari ribut dengan Fuji-chan juga karena rasa irimu atas kedekatannya dengan Tezuka! Begini-begini aku tahu kalau kau menjadi dalang dari—"
"—Itou-chan!" Dengan cepat Fuji memutus ucapan Itou. Ia menatap Itou seolah memberinya sinyal untuk tutup mulut. Setelah itu Fuji menatap Kagamine yang akhirnya lepas dari genggaman Itou. "Aku tidak akan minta maaf karena aku tidak berbuat salah. Anggap ini hanya kecelakaan. Adil, kan?" ucapnya pada Kagamine.
"Adil!? Kelompokku tidak punya saus pasta lagi, Fuji!" balas Kagamine masih tidak terima.
"Aku akan membantumu membuatnya lagi. Tapi sausnya takkan sama," putus Fuji.
"Sudah, hentikan. Biar Sensei yang bantu membuat sausnya. Seperti kata Fuji-kun, anggap ini hanya kecelekaan." Haizuki-sensei menengahi. Ia memberi perintah pada anggota kelompok Kagamine (Aikawa dan Himura) untuk mengambil peralatan bersih-bersih. Guru muda itu juga menyuruh kelompok Fuji kembali ke mejanya.
"God, Kagamine berulah lagi," gumam Sato seraya geleng-geleng kepala.
"Kau sekelas dengannya ya, saat tingkat satu?" tanya Kurosaki.
Sato mengangguk. Ia melirik ke arah Tezuka yang sibuk memperhatikan Fuji. Sato pun ikut memperhatikan. Gadis itu menaruh loyang yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja kemudian melepas sarung tangan. Kedua tangan Fuji terlihat memerah. Wakaba pun panik dan menarik temannya tersebut ke kamar mandi untuk mendinginkan tangannya dengan air keran. Tanpa ada rasa takut, Sato bertanya pada Tezuka, "Apa yang akan kau lakukan pada Kagamine?"
"...entahlah," jawab pemuda berkacamata itu.
"Setelah mendengar ucapan Itou, kau tetap akan diam saja?" Kali ini Kurosaki yang bertanya.
"Fuji-san tidak cerita apa-apa, tapi aku akan bicara dengan Kagamine-san nanti."
Senyum disusul anggukan kepala dari Sato dan Kurosaki menjadi balasan ucapan Tezuka.
Perfect Pair
Sesuai rencana yang ia katakan pada dua anggota kelompoknya, Tezuka meminta Kagamine untuk tetap tinggal di kelas setelah bel jam pelajaran berakhir. Kebetulan juga Kagamine dapat jadwal tugas piket hari ini dan tak ada kegiatan klub tenis. Setelah memastikan semua orang keluar dari ruang kelas 2-4, Tezuka pun memulai pembicaraan.
"Kagamine-san," panggilnya dari tempat duduk. Di mejanya masih ada buku mata pelajaran sejarah serta tempat pensil yang terbuka.
Kegiatan menghapus isi papan tulis terhenti. Tanpa menengok, gadis itu menyahut. "Apa?"
"Saat PKK tadi, kau ingin menyenggol Fuji-san, kan?"
"...kau juga menuduhku?"
"Aku melihatnya."
Suara decihan pelan terdengar. "Kau pun berada di pihaknya, ya? Ahaha..." Kagamine berbalik. Ekspresi sedih dan kecewa tampak di wajahnya. Namun itu tidak berpengaruh sama sekali pada Tezuka yang hanya menatapnya dingin. "Kenapa kau memihak pada Fuji? Apa yang bagus darinya? Cantik? Bisa bermain tenis? Itu yang kau lihat darinya?" tanya Kagamine bertubi-tubi.
"Aku tidak memihak pada siapapun, tapi memang Fuji-san tidak bersalah."
"Apa kau tahu kalau kau punya penggemar?"
Tezuka diam. Secara jelas pemuda itu memberikan tatapan tidak suka sebelum menunduk.
"Ahahaha, ternyata kau tidak tahu." Kagamine berjalan mendekatinya. Ketika ia berdiri tepat di depan meja Tezuka, tangan kanan Kagamine menarik dagunya supaya mereka bisa saling tatap. Tatapan Tezuka semakin menusuk dengan tambahan kerutan pada ujung kedua alisnya. "Kau tahu kalau aku adalah Ketua fanclub-mu, Tezuka?" tanya Kagamine sekali lagi.
"Bubarkan klub itu," perintah Tezuka.
"Tidak akan kububarkan sebelum kau berjanji akan menjauhi Fuji."
Hening mengisi ruang kelas 2-4 dalam beberapa detik.
Tidak tahan dengan tingkah Kagamine, Tezuka pun menepis tangan gadis itu. "Kalau begitu, terserah mau kau apakan klub itu. Aku tidak peduli," putusnya.
"Ternyata kau tetap memilih Fuji, huh..." Kali ini Kagamine tertawa miris.
"Fuji-san lebih baik darimu."
Ucapan final dari Tezuka membuat Kagamine kalah telak. Jelas-jelas pemuda itu menolak keberadaannya. Ia menunduk sambil menggigit bibir bawah. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Tidak bisa menahan bendungan air mata itu, Kagamine pun melangkah menjauhi meja Tezuka. Saat pemuda itu memanggilnya, langkahnya terhenti.
"Jangan ikut campur dalam urusanku dengan Fuji-san lagi."
Rasa muak memenuhi hatinya. Kagamine mengambil tas di atas mejanya lalu berjalan cepat keluar ruang kelas. Langkahnya kembali terhenti tepat di ambang pintu. Siapa yang menyangka kalau sosok Fuji Syuko sudah berdiri di samping pintu?
Tak ada yang bisa dilakukan Fuji selain tersenyum, namun hal itu justru membuat Kagamine semakin naik pitam.
"Puas kau, hah!?" teriak Kagamine seraya mendorong tubuh Fuji.
Beruntung Fuji bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan bantuan tembok. Ia memandang kosong ke arah teman sekelasnya itu yang sudah menghilang di ujung koridor. Sesaat kepalanya menunduk lalu menarik napas dan membuangnya secara perlahan. Fuji berdiri sambil bersandar pada pintu ruang kelas. Kedua tangan terlipat di depan dada. Senyum manis tak lepas dari wajahnya yang terlihat kelelahan.
Dilihatnya Tezuka sudah bersiap akan pulang. Gerakan pemuda itu terhenti ketika matanya bertemu dengan bola mata biru Fuji. "Fuji-san," panggilnya.
"Padahal aku sudah berjanji pada Yuuta akan menyelesaikannya sendiri. Tapi pada akhirnya kau ikut campur, Tezuka-kun," ucap Fuji tanpa merubah posisi.
Tezuka tidak menyahut, namun kakinya melangkah dengan tegas ke arahnya. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Fuji. Mereka saling pandang dalam diam. Tezuka pun bersuara, "Kau sudah mendengarnya 'kan tadi? Jelas-jelas aku juga terlibat."
"Tapi tetap saja kalau bukan karena aku yang dekat denganmu, semua ini takkan terjadi, kan?"
"...kau menyesal?" Ekspresi kaget dari lawan bicaranya tak luput dari penglihatan Tezuka.
Fuji memposisikan dirinya untuk berdiri tegap seraya mendongak. Pandangannya lurus pada bola mata hazel milik Tezuka. Ia menunjukkan senyum tulus untuk pemuda di hadapannya ini.
"Aku sama sekali tidak menyesalinya, Tezuka-kun," ucap Fuji dengan nada penuh ketegasan.
"Maaf, Fuji-san. Aku tidak menyadarinya sejak awal."
Kepala Fuji menggeleng pelan lalu menunduk. Tangan kanannya menarik pelan gakuran hitam yang dikenakan Tezuka. Sekali lagi ia mendongak. "Saa, masalahnya sudah selesai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah ini mereka pasti tidak akan berbuat macam-macam lagi padaku," balas Fuji sekaligus meyakinkan Tezuka bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Senyum simpul pun tampak di wajah Tezuka. "Aa. Lain kali kuharap kau mau cerita padaku jika itu bersangkutan denganku, Fuji-san."
Kekehan pelan terdengar. "Tidak janji."
"Fuji-san..." Ekspresi datar Tezuka berubah jadi khawatir.
Tangan kanan Fuji bergerak ke atas kemudian menyentuh pipi pemuda stoik di depannya ini. "Apa kau tahu ekspresi apa yang sedang kau tunjukkan padaku, hm?" tanya gadis itu lirih. Gelengan kepala menjadi balasannya. Disusul dengan tangan lain menyentuh tangan Fuji dan membuatnya bisa merasakan kehangatan dari tangan tersebut.
"Aku khawatir padamu, Fuji-san."
"Hmm. Arigatou, Tezuka-kun."
Mereka terdiam selama beberapa saat. Saling mengutarakan isi hati hanya dengan tatapan. Seperti biasa, Fuji yang memutus kontak mata mereka diiringi tawa pelan meluncur bebas dari mulutnya. Meski begitu, ia kembali menatap Tezuka.
"Sebagai ucapan terima kasih, apa kau mau mampir ke rumahku untuk makan malam?"
Dalam hati Tezuka ingin langsung menerima undangan tersebut, namun bagaimana dengan ibunya yang selalu meminta kehadiran dirinya saat makan malam? Ia berpikir sebentar. Kesempatan tidak datang dua kali, pikirnya. Dengan bermodalkan pepatah itu, Tezuka menerima undangan makan malam di rumah Fuji.
"Baiklah. Aku akan makan malam di rumahmu jika itu tidak merepotkanmu."
Sekali lagi Fuji tertawa. "Mana mungkin merepotkan. Ayo!"
Ketika Fuji ingin melepaskan sentuhannya, Tezuka langsung menahannya dan berubah menjadi genggaman tangan. Jantung Fuji berdetak kencang, bahkan ia takut suaranya terdengar oleh pemuda yang sudah menariknya menjauhi ruang kelas. Senyum kembali muncul di wajahnya lalu membalas genggaman tangan Tezuka seraya menyamakan langkah kaki dengannya.
"Sekarang kau sudah terbiasa dengan sentuhan, ya?" tanya Fuji dengan nada menggoda.
"Kalau itu denganmu, sepertinya aku sudah terbiasa," jawab Tezuka jujur.
Rona merah mampir di kedua pipi Fuji. "Kenapa kau jujur sekali, sih?" gerutunya.
Tezuka hanya tersenyum melihat tingkah malu-malu gadis di sisinya ini. Imut... pikirnya.
To Be Continued
OTANJOUBI OMEDETOU, FUJI'S HUSBAND, TEZUKA KUNIMITSU! XD
I'm happy, I could make this chapter! TAT Second chapter (Classmate) is complete now! YEAY~
Tanpa saya kasih tahu, readers pasti sadar 'kan siapa aja pelakunya? Tapi memang Kawaguchi termasuk kok secara tidak langsung karena dia yang manas-manasin Kagamine dkk. Dan oh! Apa perkembangan para karakternya jadi lebih baik? :') Seriously, saya gak yakin sama pendalaman karakter untuk TezuFuji berdasarkan sudut pandang saya. TAT Correct me if I did wrong~
Thank you for your review and support, Guest-san! But, I can't give you my ID Line. Saya aktif di FB kok, ngobrol di sana aja. Nama akunnya Rin Shouta, PP nya Yamada Ryousuke dari HSJ, dan dinding FB nya TezuFuji. :) Kalau minta add, sekalian kirim PM untuk accept friend, ya. Kadang saya gak ladenin kalau yang punya akunnya macam-macam, wwwww.
Oke, once more time! Happy birthday, Tezuka! You have a place in my heart because of you're Fuji's husband. XD Wish you all the best, ne!
Ja! Bye, bye!
CHAU!
