Hansol pernah hampir kehilangan Taeyong untuk selama-lamanya.
Saat itu Hansol berada di tingkat pertama sekolah menengah, sedangkan Taeyong berada di tingkat lima sekolah dasar. Hansol ingat bahwa hari itu hari Sabtu, dan ia sedang berada di rumah sendirian, kedua orangtuanya pergi ke Daegu untuk mengunjungi kakek dan neneknya dari pihak ibu. Hansol saat itu tidak ikut karena ia harus belajar untuk ujian Matematika di hari Seninnya, sedangkan Taeyong memang sejak hari Jumat tidak berada di rumah, pergi ke suatu tempat wisata di daerah Gangwon, bersama dengan hampir seluruh murid di tingkat empat, lima, dan enam di sekolah dasarnya. Hansol ingat bagaimana Taeyong melambaikan tangannya dengan gembira ketika ia berpamitan dengan Hansol, berkata bahwa ia akan membawa banyak oleh-oleh untuk kakak tersayangnya itu.
Hansol ingat bahwa ia sudah beberapa jam masuk ke alam mimpi ketika tiba-tiba terdengar bunyi nyaring yang berasal dari telepon rumahnya, dan ketika Hansol mengangkatnya, ia dapat mendengar suara panik milik ibunya. Ibunya menyuruh Hansol untuk bersiap-siap, karena salah satu bibinya akan sampai di rumah beberapa menit lagi, untuk membawa Hansol menuju rumah sakit, tempat ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya dan Taeyong.
Hansol tidak sempat bertanya kenapa ia harus pergi ke rumah sakit, atau kenapa Taeyong bisa berada di sana, padahal yang ia tahu Taeyong sedang asyik berwisata bersama teman-temannya di daerah Gangwon, karena ibunya langsung menutup telepon begitu ia selesai menyampaikan pesannya, bahkan tanpa menunggu balasan dari Hansol. Dan sebagai anak yang baik, Hansol menuruti perintah ibunya dan bersiap-siap, menunggu kedatangan sang bibi.
Ketika bibinya datang, Hansol dapat melihat ekspresi panik di wajah adik dari ayah angkatnya itu. Bahkan bibinya itu tidak repot-repot bertanya pada Hansol tentang prestasinya di sekolah, sesuatu yang selalu bibinya itu tanyakan setiap kali bertemu dengannya, hanya untuk dibandingkan dengan prestasi Taeyong setelahnya. Bibinya itu mengatupkan bibirnya rapat, menarik tangan Hansol ke dalam mobilnya, tanpa menjelaskan apapun kepada bocah berusia 12 tahun yang tidak tahu apa-apa itu. Hansol juga tidak membuka mulutnya sama sekali, tahu kalau bibinya itu sedang tak bisa diganggu. Karena itu Hansol memutuskan untuk memejamkan mata, sekedar mengistirahatkan diri karena ia toh tidak bisa tidur, terlalu sibuk memikirkan alasan di balik perjalanannya ke rumah sakit.
Hansol kira rumah sakit yang dimaksud oleh ibunya adalah rumah sakit langganan mereka yang terletak di Seoul, tapi bibinya malah melaju melewati perbatasan Seoul dan Gangwon, dan kemudian menghentikan kendaraannya di sebuah rumah sakit yang berada di daerah Gangwon.
Ketika Hansol sampai di lorong yang menuju ke sebuah kamar yang berada di rumah sakit tersebut, ia dapat melihat beberapa sosok familiar baginya. Ia dapat melihat beberapa guru-guru sekolah dasarnya yang dulu, karena Hansol memang bersekolah di sekolah dasar yang sama dengan Taeyong, dan ia juga dapat melihat beberapa sanak-saudaranya. Ada satu hal yang sama di wajah semua orang, yang Hansol kenali sebagai sosok gurunya dulu, yang saat itu berkumpul di depan satu kamar yang sama: jejak-jejak tangisan. Perasaan Hansol langsung memburuk kala itu, dan ia langsung tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada Taeyong.
Hansol ingat bagaimana sang ibu merengkuhnya ke dalam pelukan, bagaimana ibunya berbisik di telinganya, menyuruhnya berdoa untuk kesembuhan adiknya, dan bahwa Hansol harus bersyukur karena keluarganya sangatlah beruntung.
Dan Hansol, sebagai seorang anak yang baik, berdoa untuk kesembuhan sang adik dan juga bersyukur karena keluarganya sangatlah beruntung, meskipun ia tidak tahu menahu alasan di balik perintah ibunya itu.
Shadow
Johnny, Seo x Hansol, Ji
Romance, Hurt/Comfort
NCT, SM Rookies © SM Entertainment
Lee Taeyong
Jae, dimana? Aku di ruang tunggu terdekat dari tempatmu turun nanti, ya.
Terdapat senyum lebar di wajah Taeyong begitu ia menekan tombol send, dan ia juga berulangkali menoleh ke arah rel kereta api yang berada di dekatnya itu, tidak sabar untuk melihat kereta yang membawa penumpang dari Seoul. Jam menunjukan pukul setengah dua siang, namun Taeyong sudah berada di stasiun kereta tersebut sejak jam 12 siang, sejak Jaehyun mengiriminya pesan bahwa ia baru saja menaiki kereta yang akan membawanya menuju ke Gyeonggi. Taeyong tahu perjalanan dari Seoul menuju ke Gyeonggi memakan waktu kurang lebih satu jam setengah, tapi salahkan dirinya yang terlalu bersemangat untuk bertemu dengan Jaehyun, sosok yang sudah ia tak temui sejak ia pindah ke Gyeonggi kira-kira satu bulan yang lalu. Taeyong sudah benar-benar rindu dengan Jaehyun, dan tak sabar untuk bertemu kembali dengannya.
Awalnya Taeyong sempat berniat untuk mengajak Hansol untuk ikut menjemput Jaehyun agar ia bisa mengenalkan kakaknya secara resmi kepada mantan adik kelasnya itu, tetapi Hansol rupanya memiliki rencana lain. Meskipun sedikit kecewa, tapi Taeyong berhasil melupakan rasa kecewa itu dengan cepat, semua karena perasaan senangnya akan kedatangan Jaehyun. Lagipula ia masih bisa mengenalkan Jaehyun pada Hansol ketika mereka bertemu di apartemen nanti, karena toh Jaehyun akan menginap di apartemennya, walau hanya untuk satu malam.
Di dalam kepala Taeyong, ia sudah sibuk membayangkan tempat-tempat yang akan ia kunjungi bersama Jaehyun, dan aktivitas-aktivitas menyenangkan yang bisa ia lakukan bersama dengan lelaki tersebut di Gyeonggi. Kebetulan memang sejak kepindahan Taeyong ke Gyeonggi beberapa waktu lalu, ia belum sempat jalan-jalan, terlalu sibuk beradaptasi dengan statusnya sebagai seorang mahasiswa baru. Karena itulah ia akan menggunakan kesempatan ketika Jaehyun mengunjunginya di Gyeonggi ini untuk jalan-jalan mengelilingi beberapa bagian Gyeonggi.
Taeyong terlalu sibuk dengan lamunannya sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa terdengar dering pelan yang berasal dari ponselnya, tanda bahwa ada pesan masuk. Ia bahkan tidak sadar bahwa kereta dari Seoul sudah datang, dan kini seseorang tengah menghampirinya dari arah luar, mengetuk-ngetuk sisi dinding kaca di sebelah kirinya.
Taeyong baru tersadar dari lamunannya ketika terdengar bunyi nyaring dari ponselnya, bunyi yang menandakan bahwa ada seseorang yang meneleponnya. Ia memang memasang dering untuk pesan jauh lebih pelan dari dering untuk telepon. Sengaja.
Taeyong hampir saja terlonjak kaget begitu mendengar dering teleponnya, tapi yang benar-benar membuatnya berdiri secara tiba-tiba dari kursinya adalah ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Astaga, benar, Jaehyun. Aku kan—"
Gumaman Taeyong itu terhenti ketika tangannya baru saja akan menekan tombol untuk mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya itu, bersamaan dengan kepalanya yang menoleh ke kiri, untuk mengecek kedatangan kereta yang berasal dari Seoul. Tubuhnya membatu sesaat ketika melihat sosok yang sejak beberapa menit lalu sudah berdiri di luar dinding kaca itu, lengkap dengan senyum lebarnya yang begitu familiar di mata Taeyong.
Taeyong langsung bergerak cepat menuju pintu keluar ruangan tempatnya berada, dan sosok tersebut juga mengikuti langkahnya, bedanya ia berada di luar ruang tunggu. Ketika Taeyong membuka pintu keluar, sosok tersebut sudah berada tepat di depannya, masih dengan senyum lebarnya.
"Hyung—"
"Jaehyun!" Taeyong berseru senang, dan entah refleks atau bagaimana, ia langsung memeluk sosok di depannya itu, sosok mantan adik kelasnya yang sudah ia tunggu sejak berhari-hari yang lalu, ketika Jaehyun berkata bahwa ia akan mengunjungi Taeyong di Gyeonggi. "Aku rindu sekali padamu."
Taeyong dapat merasakan bagaimana tangan Jaehyun secara perlahan melingkar di sekeliling tubuhnya yang ramping, merengkuhnya, membalas pelukannya. Taeyong tersenyum dalam pelukan tersebut, merasa bahagia bisa bertemu dengan sosok yang begitu ia rindukan.
Tapi tak butuh waktu lama sampai Taeyong menyadari bahwa ia dan Jaehyun tidak pernah berpelukan seperti ini sebelumnya, dan karena itulah Taeyong buru-buru melepaskan pelukannya dari tubuh Jaehyun, merasa malu karena telah memeluk tubuh mantan adik kelasnya itu secara tiba-tiba, meskipun Jaehyun sendiri juga membalas pelukannya.
"Maaf, Jae," Taeyong tertawa canggung, kepalanya ia tundukan, tak berani menatap wajah sosok di depannya itu. Aku dan refleks sialanku. "Aku—"
"Hyung lucu sekali," Jaehyun terkekeh, seraya mengulurkan tangannya untuk mengusak surai cokelat milik Taeyong, membuat pria bermarga Lee itu merasakan perasaan aneh di dalam dirinya. "Tidak usah meminta maaf. Aku malah lega hyung memelukku duluan, tadi di sepanjang perjalanan aku terus memikirkan apakah aku harus memeluk hyung atau tidak, karena kita kan tidak pernah berpelukkan sebelumnya, kecuali ketika aku menginap di rumahmu dan tak sengaja memelukmu ketika aku sedang tidur. Aku takut hyung tidak akan membalas pelukanku kalau aku memelukmu duluan."
"Ah, begitu?" Taeyong mengangkat kepalanya, kedua pasang matanya bertemu dengan mata Jaehyun yang tengah menatapnya. Tanpa bisa dicegah, senyum lebar tampak di wajah Taeyong. "Baguslah aku memutuskan untuk memelukmu."
Jaehyun hanya tersenyum mendengar ucapan Taeyong, matanya masih membuat kontak dengan mata Taeyong. Keduanya terdiam selama beberapa saat, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya, dan satu-satunya interaksi yang terjadi antar keduanya adalah bagaimana mereka menatap ke dalam mata satu sama lain.
Taeyonglah yang memutus kontak mata di antara mereka, berusaha untuk menyembunyikan semburat merah yang mulai timbul di pipinya dengan cara menutupi pipinya dengan kedua tangannya, sedangkan Jaehyun hanya tertawa kecil melihat sosok hyungnya yang sedang menutupi pipi sekaligus menundukan kepala itu.
"Ayo, hyung, mau kemana kita sekarang?" Jaehyun bertanya, meraih salah satu tangan Taeyong dari pipinya, dan menggenggamnya erat. "Aku akan mengikuti hyung kemana pun hyung membawaku."
Berada dekat-dekat dengan Jung Jaehyun ternyata benar-benar membahayakan. Apa-apaan jantungku ini?
"Uh, bagaimana kalau kita ke apartemenku dulu? Untuk menaruh tasmu itu," Taeyong menjawab sambil menunjuk tas punggung milik Jaehyun, dalam hati merutuki dirinya sendiri karena terdengar begitu gugup. "Setelah itu kita bisa makan diluar, kalau kau belum makan. Kalau kau sudah makan, kita bisa mulai jalan-jalan. Apakah ada tempat khusus yang ingin kau kunjungi? Kita bisa kesana."
"Seperti kataku tadi, aku akan mengikutimu hyung, kemana pun kau membawaku. Karena asalkan bersamamu, aku sudah senang sekali," Jaehyun berkata, tampak tidak sadar bahwa perkataannya itu memiliki efek tersendiri bagi lawan bicaranya. Efek membahayakan karena membuat jantung Taeyong berdebar tak karuan. "Tapi aku hanya punya satu permintaan. Nanti malam, kita ke taman bermain, ya?"
Taeyong menganggukan kepalanya, menyetujui permintaan Jaehyun karena kebetulan ia tahu satu taman bermain yang berada di Gyeonggi, berkat kebaikan Johnny yang memberitahunya beberapa tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi di provinsi paling padat di Korea Selatan itu.
Sepanjang perjalanan menuju apartemennya, senyum tak pernah lepas dari wajah Taeyong. Ia benar-benar merasa bahagia dengan keberadaan Jaehyun di sisinya. Hanya dengan keberadaan Jaehyun di dekatnya, mampu membuat Taeyong terus-terusan memamerkan senyum manisnya.
Jaehyun memang memiliki efek yang besar pada Taeyong.
"Hansol, bangun."
Hansol terbangun dari tidur singkatnya ketika ia merasakan tepukan di pipinya, dan juga suara seseorang yang menyuruhnya bangun itu. Ia mengedipkan matanya berulangkali, mencoba beradaptasi dengan sinar matahari yang tiba-tiba menyapa matanya.
"Kita sudah sampai?" Dengan suara khas baru bangun tidur, Hansol menoleh pada seseorang yang terduduk di kursi pengemudi. Hansol memang saat ini sedang berada di dalam mobil, mobil yang sama dengan dua hari yang lalu.
Mobil milik Johnny Seo.
Tadi pagi, ketika Hansol baru bangun dari tidurnya, ia mendapat pesan dari Johnny, yang meminta bantuan Hansol untuk menemaninya mengunjungi beberapa tempat di Gyeonggi. Hansol awalnya sempat bingung kenapa Johnny meminta bantuannya, tapi lalu Johnny berkata bahwa tempat-tempat tersebut adalah tempat yang berpotensial menjadi tempat dimana Johnny akan mengajak Taeyong untuk kencan pertama mereka nanti, dan Hansol langsung mengerti.
Johnny ingin meminta Hansol membantunya untuk memilih tempat yang akan menjadi tujuan dari kencan pertamanya bersama Taeyong.
Hah. Tentu saja. Aku yang bodoh kalau sampai mengira bahwa Johnny mengajakku jalan bersama karena ia memang ingin jalan bersamaku.
Hansol awalnya ingin menolak, lagipula hari ini hari Sabtu dan ia sedang benar-benar ingin beristirahat saja di rumah, tapi sebagai seseorang yang baik, dan lagipula ia sudah berjanji pada Johnny untuk membantunya mendapatkan Taeyong, Hansol akhirnya setuju.
Aku memang baik. Alasanku setuju hanyalah karena aku ingin membantu Johnny. Bukan karena aku memang ingin menghabiskan waktu bersamanya. Haha.
Jadi disinilah Hansol, bersama dengan Johnny, di salah satu pantai yang berada di provinsi Gyeonggi. Tujuan pertamanya hari itu.
"Kenapa pantai menjadi tujuan pertama kita, sih?"
"Karena aku suka pantai."
"Oke, Johnny. Oke."
Hansol dan Johnny sudah berada di luar mobil, dan Hansol tanpa sadar tersenyum ketika ia mencium bau laut yang khas. Sudah lama sekali sejak ia tidak ke pantai. Seingatnya, terakhir kali ia ke pantai adalah ketika umurnya 14 tahun. Hansol menutup matanya, membiarkan dirinya menikmati bau laut dan juga suara deburan ombak yang sudah lama tak ia dengar langsung.
Hansol hampir saja berseru kaget ketika ia merasakan seseorang melepas sepatunya, meskipun dengan lembut dan hati-hati, dan ia langsung membulatkan mata begitu melihat sosok Johnny yang tengah berlutut di depannya, tersadar bahwa Johnny-lah yang tengah melepaskan sepatunya dengan lembut itu.
"Ya, Johnny! Kau mau apa, sih? Kenapa—"
"Aku yakin kau tidak mau berjalan di dekat air dengan sepatu mahalmu ini, dan untungnya aku membawa sandal cadangan," Johnny berkata tanpa menatap Hansol, masih fokus dengan tangannya yang tengah melepas sepatu Hansol. "Dan aku juga tidak ingin mengganggumu yang sedang tampak benar-benar menikmati suasana pantai begitu, jadi aku langsung saja melepas sepatumu."
"Astaga, tidak usah," Hansol buru-buru menarik kakinya, menghentikan kegiatan Johnny, membuat pria yang lebih tinggi darinya itu mendongakan kepala untuk menatapnya. "Aku bisa sendiri, terimakasih."
Hansol buru-buru berlutut seperti Johnny, melanjutkan apa yang dilakukan oleh Johnny sebelumnya. Johnny ternyata sudah berhasil melepaskan sepatu bagian kanan di kaki Hansol, jadi Hansol tinggal melepaskan kaos kakinya dan melepaskan sepatu dan kaos kaki di kaki kirinya.
Kelakuan Johnny yang tiba-tiba dan sangat tak disangka itu membuat jantung Hansol berdebar tak karuan, dan Hansol harus berusaha mati-matian untuk menahan dirinya agar tidak tersenyum senang.
Hansol sudah memakai sandalnya, begitu juga dengan Johnny, dan keduanya berjalan beriringan menuju tepi pantai. Hansol yang memang sudah lama tidak ke pantai itu langsung berjongkok, bermain-main dengan pasir yang basah, dan sesekali berseru tertahan ketika kakinya terkena air.
"Kau ini benar-benar terlihat seperti anak kecil."
Hansol langsung mendongakan kepalanya begitu mendengar komentar Johnny, dan ia sudah siap untuk melihat senyum jahil di wajah pria tersebut, tetapi yang menyapanya malah sebuah senyum yang sama sekali bukan senyum jahil atau menggoda. Senyum di wajah Johnny terlihat berbeda dengan senyumnya yang biasa ada di wajahnya ketika ia sedang jahil dan menggoda teman-temannya. Senyum Johnny kali ini terlihat tulus. Senyum Johnny kali ini terlihat sama dengan senyumnya dua hari yang lalu, ketika mereka berada di toko pernak-pernik, ketika Johnny tersenyum menatap benda-benda yang berada di tangannya, benda-benda yang akan ia belikan untuk Taeyong.
Senyum tulus. Senyum sayang.
Hansol yang awalnya ingin membalas perkataan Johnny dengan nada ketus, menemukan kata-kata yang sudah ia siapkan tertahan di tenggorokan, semua karena senyum yang berada di wajah Johnny saat ini. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya, memutuskan untuk tetap diam dan tak mengatakan apapun.
Astaga jantungku.
"Sepatu sih boleh sudah diganti dengan sandal," Johnny tiba-tiba berkata, ikut berjongkok di sebelah Hansol. "Tapi jeansmu itu, astaga."
Johnny tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Hansol, mengulurkan tangannya ke bagian kaki pria bersurai pirang keemasan itu, dan menggulung bagian bawah celana jeansnya yang sudah agak basah karena terkena air laut. Hansol yang melihatnya hanya dapat diam, tidak tahu harus melakukan apa, hanya dapat membiarkan Johnny menggulung bagian bawah celana jeansnya, baik bagian kiri maupun bagian kanan.
Johnny Seo dan tingkah manisnya yang sialan. Jantung, bertahanlah.
"Nah, begini kan enak," Johnny tersenyum puas ketika ia selesai dengan pekerjaannya menggulung celana jeans Hansol, namun senyumnya itu berubah menjadi senyum jahil ketika ia melihat Hansol yang masih terpaku diam, tampaknya belum sadar bahwa Johnny sudah selesai menggulung jeansnya.
"Ya, Johnny Seo!"
Hansol langsung tersadar begitu ia merasakan wajahnya yang tiba-tiba basah, apalagi ketika ia merasakan asin di dalam mulutnya, asinnya air laut. Ia tentu saja tahu siapa yang telah membuat wajahnya tiba-tiba basah begitu, tapi tampaknya ia sudah terlambat untuk segera membalas karena Johnny sudah tidak ada lagi di sampingnya, melainkan sudah berdiri beberapa meter dari tempatnya berada, pasti langsung lari setelah mencipratkan air laut ke wajah Hansol. Terdengar tawa nyaring yang berasal dari pemuda bermarga Seo tersebut, dan Hansol tak ragu-ragu untuk ikut berdiri, bersiap-siap untuk membalas Johnny.
Intinya, sisa dari waktu yang dihabiskan oleh Johnny dan Hansol di pantai digunakan untuk bermain air, menciprati satu sama lain, bahkan dorong-dorongan. Untungnya pantai saat itu tidak terlalu ramai, jadi tidak terlalu banyak orang yang merasa terganggu dengan kelakuan Johnny dan Hansol, meskipun mereka tetap mendapat pandangan heran dari beberapa pengunjung lain.
Toh mereka tidak peduli dengan pandangan-pandangan tersebut. Mereka terlalu sibuk di dalam dunia sendiri.
"Kau benar-benar keterlaluan, Hansol."
Johnny dan Hansol saat itu sudah kembali ke dalam mobil, dengan Hansol yang tak hentinya tertawa ketika melihat tubuh Johnny yang basah kuyup karena terjatuh ke dalam air, hasil dari dorongan Hansol pada tubuhnya. Hansol sendiri sebenarnya sedang agak menggigil kedinginan karena tubuhnya yang juga basah, meskipun tidak sebasah Johnny.
Tawa Hansol tiba-tiba terhenti ketika Johnny dengan seenaknya membuka kaus yang ia kenakan, membuat tubuh bagian atasnya telanjang, tidak terbalut apapun lagi.
Sekaligus membuat Hansol langsung memalingkan wajahnya, dengan semburat merah yang muncul di pipinya.
"Astaga, cepat pakai lagi bajumu, bodoh!"
Johnny menaikkan alisnya begitu mendengar seruan dari pemuda yang tengah duduk di sampingnya itu, namun seringai muncul di wajahnya begitu ia mengerti maksud Hansol, terlebih setelah melihat Hansol tengah mengalihkan pandangannya, menolak untuk menatap dirinya, menolak untuk menatap tubuhnya.
"Tidak mau, mana mau aku pakai pakaian basah?" Johnny berkata, pura-pura kesal. "Mana aku tidak bawa baju ganti. Kalau begini caranya, aku harus menyetir dalam keadaan setengah telanjang begini sampai bajuku kering."
"Ya, kau gila? Menyetir dalam keadaan begitu?"
Johnny mati-matian menahan tawanya mendengar seruan Hansol yang disampaikan masih dengan posisinya yang memandang ke luar jendela mobil, menolak untuk menatap lawan bicaranya.
"Lalu aku harus apa? Kau mau aku jatuh sakit karena memakai pakaian basah, begitu? Kau mau tanggung-jawab kalau aku sakit?"
Hansol menggigit bibirnya, tiba-tiba merasa bersalah ketika mendengar ucapan Johnny. Ia secara refleks mengalihkan pandangannya untuk menatap Johnny dan meminta maaf, namun terhenti ketika ia melihat Johnny yang juga tengah menatapnya, lengkap dengan tubuh bagian atasnya yang masih tidak terbalut apapun.
Astaga, aku lupa. Mati aku.
Johnny bersumpah Hansol terlihat begitu lucu dengan pipi yang memerah, juga mata yang bergerak kesana-kemari, memandang kemana pun asal bukan ke tubuhnya.
Johnny tiba-tiba tertawa, membuat Hansol terkejut dan langsung menatap wajah sosok di sampingnya itu, meskipun ia berusaha keras untuk membatasi penglihatannya hanya sampai ke bagian leher saja, hanya itu, dan bukan bagian-bagian tubuh di bawah leher.
"Santai saja, Hansol," Johnny berkata setelah ia menghentikan tawanya. "Aku bercanda. Aku membawa baju ganti."
Hansol menghela napasnya lega begitu mendengar bahwa Johnny membawa baju ganti, selain karena ia terlepas dari rasa bersalahnya, juga karena jantungnya bisa tenang karena tidak akan ditemani dengan sosok Johnny yang shirtless selama sisa perjalanan.
Hansol menatap ke luar jendela lagi, menolak untuk melihat ke arah Johnny yang tengah berganti baju, hingga tiba-tiba ia merasakan sesuatu diletakkan di atas kepalanya.
"Hoodieku. Pakai saja, aku tahu kau kedinginan," Johnny berkata ketika Hansol menoleh, bersamaan dengan tangannya yang mengambil lipatan baju yang ditaruh di atas kepalanya itu. "Tenang, hoodienya baru saja dicuci, tidak ada bakteri-bakteri dari tubuhku, kok."
Hansol membisikan kata terimakasih pada Johnny, lalu mengenakan hoodie itu untuk membalut tubuhnya dan bajunya yang sedikit basah, dan tubuhnya langsung menghangat, ditambah dengan bau khas Johnny yang langsung menyapa indera penciumannya.
"Sekarang kita ke tempat tujuan selanjutnya. Bagaimana dengan bioskop, terdengar menyenangkan, kan?"
Hansol menganggukan kepalanya kaku, menyenderkan tubuhnya pada jok mobil di belakangnya, sedangkan Johnny mulai menyalakan mesin mobil.
Yuta, tolong aku. Tampaknya aku jatuh makin dalam.
To Be Continued.
Thanks To : ayahana73, peachpetals, Lianattaaa, Ketek Imut Tiway, Kwon Aulyani269, Zizisvt, elferani, ChiminChim, realbaekhyunee, SJMK95, askasufa, GWIYE0PDA, restiana, blakcpearl, NYUTENTAE, railtoaru and Micha, Samuel903, yutalara, dan mybestbaetae yang udah review di chapter kemarin! Makasih juga buat yang udah fav&follow.
Chapter ini penuh fluff astaga, seneng banget ngetik chapter ini ngga tau kenapa :') Kencannya Johnsol sama Jaeyong masih berlanjut di chapter depan, doain aja semoga bisa cepet ngetiknya hehe. Itu btw kemaren ada yang nanya orang-orang yang ngumpul sama Jaehyun itu siapa, kalo di real life sih mereka member iKON, tapi kalo di fanfic ini… anggap aja temennya Jaehyun (HEHE).
Thankyou for reading!
