Spiritum : Tujuh

Story telling by : Crypt14

Story idea by : Cuming


Wonwoo menggigit bibir bawahnya kuat guna menahan erangannya akibat hentakkan yang diberikan Mingyu di bawah sana. Wonwoo kembali merasa bahwa Mingyu merenggut segala kewarasannya saat ini. Pemuda itu mencengkram kuat bahu Mingyu merasakan sensasi menyengat akibat dorongan yang Mingyu lakukan. Wonwoo terus berusaha mengontrol dirinya sendiri namun terkadang perasaan nikmat yang terlalu membuncah membuatnya mau tak mau meloloskan desahan frustasinya. Wonwoo selalu merasa gila dengan permainan Mingyu. Merasa agar Mingyu tidak perlu berhenti untuk terus memaksa masuk, menyentuh setiap titik kenikmatannya. Wonwoo melenguh samar, merasakan nyeri yang begitu kuat pada perutnya. Ia berada pada puncaknya saat Mingyu terus mendesak masuk dengan kasar, membuat tubuh keduanya lengket. Wonwoo belum dapat bernafas lega saat menyadari bahwa Mingyu masih sibuk mencari kenikmatannya sendiri. Pemuda itu belum merasa puas untuk lebih mendesak Wonwoo. Wonwoo kembali menahan nafasnya saat tempo yang diberikan Mingyu semakin diluar kendalinya. Mingyu akan selalu tampak begitu berbeda setiap kali mereka melakukan hubungan yang sejujurya Wonwoo merasa hal ini salah namun tubuh pemuda berkulit putih itu seakan tidak ingin bersikap munafik bahwa ia menginginkan Mingyu. Membuat Wonwoo menanggalkan segala macam pola pikirnya saat itu juga. Memilih untuk mengerang nikmat dibawah permainan Mingyu. Wonwoo serasa ingin muntah saat dimana Mingyu berada pada puncaknya, semakin mendorong ke dalam membuatnya merasa begitu sesak hingga sulit untuk bernafas dengan baik. Setelahnya pemuda berkulit tan itu beranjak, menepikan tubuhnya disisi Wonwoo. Merekam dengan baik bagaimana Wonwoo meraup begitu banyak oksigen. Mingyu selalu tersenyum melihat bagaimana Wonwoo mencoba mengatur nafasnya sendiri dengan wajah yang begitu merah karena kelelahan. Ia merasa menang mengingat permainannya mampu untuk membuat seorang Jeon Wonwoo mendesah cukup keras. Ia menggeser tubuhnya, mendekat pada Wonwoo yang masih sibuk mengatur nafasnya yang tersengal beberapa saat lalu. Mengecup sisi leher Wonwoo yang berkeringat. Mingyu merasa begitu mabuk setiap kali berhubungan badan dengan pemuda itu. Merasa bahwa Wonwoo seperti narkoba untuknya. Mingyu tidak pernah merasa puas atas apapun yang berhubungan dengan Wonwoo. Wonwoo adalah morphine-nya, pil ekstasinya yang akan selalu Mingyu butuhkan.

"Mingyu." Pemuda itu berdehem, masih menatap Wonwoo yang berada disisinya. Melihat rahang pemuda itu yang tampak cukup tegas. Pemuda itu masih menunggu Wonwoo untuk kembali melanjutkan ucapannya. Wonwoo terdiam, mengurungkan niatnya untuk kembali mengatakan sesuatu pada Mingyu. Ia hanya takut menyakiti Mingyu nantinya. "Kau ingin bicara apa, Wonwoo?" Wonwoo menoleh, sejenak menatap pemuda itu setelahnya memberikan senyuman tipis padanya seraya menggeleng." Bukan apa-apa." Ujarnya. Mingyu menatap balik mata Wonwoo. Ia tau pemuda itu berbohong, Wonwoo terlalu mudah untuk ditebak olehnya. "Jika kau ingin mengatakan sesuatu ucapkan saja." Wonwoo menoleh, menatap tepat pada manik mata Mingyu. Membuang nafasnya yang terasa begitu berat. Jujur saja, Wonwoo merasa begitu berat untuk menanyakan hal yang tertahan dalam fikirannya. Ia kembali mengubah arah pandangnya menuju langit-langit kamarnya yang kini tampak lengang. Otaknya kembali memikirkan mengenai Jun yang kini sungguh-sungguh menghilang dari kehidupannya layaknya gugusan bintang yang menghilang dilangit malam. Ia memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya dalam. "Kau.. sampai kapan ingin tetap berada disini?" Ujarnya kembali menatap pada sorot mata Mingyu yang bagi Wonwoo tampak begitu samar. Mingyu terdiam, belum menjawab pertanyaan Wonwoo. Hanya menatap pemuda disisinya itu. Menggeser tubuhnya untuk lebih mendekatkan dirinya pada Wonwoo, memberikan kecupan ringan pada bahu telanjang pemuda tersebut. "Aku tidak memiliki niatan untuk pergi dari sini." Ucapnya pelan. Wonwoo masih menatap Mingyu datar, mendapati sorot mata yang begitu berbeda dari biasanya. Wonwoo dapat melihat dengan jelas bahwa pemuda itu benar-benar berada dalam kesepian yang begitu dalam. Bahwa Mingyu sungguh-sungguh tidak memahami kebahagiaan itu seperti apa. Ia terdiam, tidak berusaha untuk kembali bertanya. Membiarkan Mingyu yang kini memeluk erat pinggangnya. Sejujurnya, Wonwoo selalu berfikir untuk lari. Pergi dari keadaannya sekarang, meninggalkan roh pemuda yang merubah segala sudut pandang kehidupannya. Menganggap bahwa Mingyu hanyalah sebagian besar dari hal-hal yang tidak seharusnya menjadi sumber masalahnya. Namun Wonwoo tidak dapat melakukan hal itu, pemuda itu hanya merasa bahwa meninggalkan Mingyu akan menjadi dosa terbesar yang tidak akan mendapatkan ampunan sedikit pun.

.

.

Angin sore berhembus begitu lembut, menerbangkan anak rambut milik pemuda bersurai kecoklatan itu. Ia mendesah pelan, masih menatap jejeran manusia yang berlalu lalang dihadapannya. Langit kota menunjukkan semburat kemerahan di atas sana, menandakan bahwa penguasa siang siap untuk kembali beristirahat. Wonwoo menyandarkan punggungnya pada badan halte, masih menatap semburat kemerahan langit kota yang perlahan menghilang. Pandangannya beralih menuju ponselnya yang menunjukkan deretan kata dari chat-nya dengan seseorang. Hong Jisoo, pemuda yang sempat ditemuinya beberapa saat lalu meminta untuk kembali bertemu. Wonwoo tahu pasti maksud dari permintaan pemuda itu, ini soal Mingyu ia yakin. Mengangkat ponselnya ke udara setelah sebelumnya membuat sambungan telfon pada Jisoo. "Jisoo, lusa kita bertemu di café tempat pertama kita bertemu. Pukul 10 pagi."

.

"Tumben sekali kau ingin menginap disini, Wonwoo." Wonwoo tak menggubris ucapan pemuda yang berdiri tak jauh darinya. Hanya mengenyahkan tubuhnya diatas sofa ruangan itu. Menghela nafasnya yang terdengar begitu berat. Seokmin, pemuda itu mendekat kearah Wonwoo menatap pemuda itu dengan pandangan bertanya. "Kau baik-baik saja?" Ujarnya bertanya yang hanya ditanggapi oleh deheman samar dari Wonwoo. Seokmin masih menatap Wonwoo, ia merasa ragu bahwa sahabatnya itu sungguh-sungguh berada dalam kondisi yang baik. "Kalau ada masalah kau bisa menceritakannya padaku." Ia mengambil tempat disisi Wonwoo, menyandarkan punggungnya pada sofa miliknya. Kedua manik matanya masih menatap lurus pada Wonwoo. Wonwoo menoleh, menatap balik Seokmin membuang nafasnya panjang seraya merubah posisinya menjadi duduk. "Darimana aku harus memulainya."

.

"Kau serius, Wonwoo?" Seokmin melemparkan tatapan tak percaya dengan semua cerita Wonwoo mengenai Mingyu. Pemuda itu mencoba memastikan bahwa Wonwoo tak berhalusinasi atau sedang dalam keadaan setengah mabuk saat ini. Mendekat pada pemuda itu sejenak hanya untuk mencium bau tubuh Wonwoo. Seokmin fikir Wonwoo mungkin menenggak beberapa botol soju sebelum menuju apartemennya. Namun ia tak mencium adanya bau alcohol dari pemuda itu. "Kau tidak sedang mabuk. Kau tidak bercanda 'kan?" Wonwoo membuang nafasnya kasar, ia sudah menebak dengan pasti bahwa orang lain akan menganggapnya mabuk, bercanda, halusinasi ataupun gila setelah mendengar cerita mengenai Mingyu. Wonwoo menggeleng, kembali merebahkan tubuhnya diatas sofa. "Kau pasti menganggap aku gila sekarang 'kan, Seokmin."

"Bukan hanya gila, tapi sangat gila! Lagi pula cerita mu itu terdengar nonsense sekali, Wonwoo." Wonwoo mendecih, merubah posisinya menjadi memunggungi sahabatnya tersebut. Ia begitu malas untuk kembali membahas masalah Mingyu jika tanggapan dari Seokmin seperti ini. Hening, keduanya terdiam. "Kau dan Jun benar-benar putus?" Wonwoo terhenyak, seakan sebuah tongkat besar kembali memukul rongga dadanya mendengar pertanyaan yang Seokmin lontarkan. Ia tak menjawab, hanya tetap memunggungi Seokmin. "Aku bertanya padamu, Wonwoo."

"Aku tidak ingin membahasnya." Ujarnya cepat, nada suara Wonwoo terdengar begitu datar menunjukkan bahwa pemuda itu sungguh-sungguh tidak ingin membahas masalah hubungannya dengan Jun. Seokmin menautkan kedua alisnya, mendesah kasar. "Setidaknya ada alasannya bukan?" Wonwoo menyerah, pemuda itu menghela nafas kasar. Membalik tubuhnya hanya untuk menatap Seokmin dengan tatapan dinginnya. "Jun memukuli ku hingga nyaris mati setelahnya memutuskan ku. Kau puas?" Ucapnya sinis. Wonwoo masih menangkap arah pandang Seokmin yang menunjukkan bahwa ia tidak percaya dengan ucapan Wonwoo. "Tanya pada Jun langsung kalau kau tidak percaya pa.."

"Itu bukan Jun 'kan?" Wonwoo menghentikan ucapannya setelah Seokmin memotongnya cepat. Menatap Seokmin dengan pandangan bingung. "Aku rasa begitu. Sepertinya Jun di rasuki atau apapun itu entahlah yang jelas aku percaya bahwa bukan Jun yang berusaha menyakiti ku." Tatapan pemuda itu menyendu saat kembali mengingat bagaimana raut rasa bersalah Jun setelah mendapati dirinya sadar. Wonwoo tersenyum miris tanpa di sadari. Ia masih dapat merasakan nyeri pada rongga dadanya setiap kali memikirkan mengenai Jun. Merasa bahwa paru-parunya seakan menyempit saat ucapan permohonan Jun untuk berakhir kembali mengaung dalam telinganya. Wonwoo begitu mencintai pemuda itu. Sejujurnya, hubungannya dengan Jun tidak dimulai dengan cara yang manis. Wonwoo tidak pernah memiliki perasaan pada pemuda itu, ia hanya menerima pernyataan Jun tanpa alasan jelas. Namun perlahan, sikap yang diberikan Jun padanya membuat Wonwoo merubah pola fikirnya mengenai Jun. Merubah cara pandangnya terhadap pemuda itu serta merubah sesuatu yang awalnya tidak pernah berdesir perlahan mulai berubah. Wonwoo belajar dengan baik mengenai cara mencintai dari Jun. Bahwa perjuangan mampu untuk merubah segalanya.

"Kau bilang roh yang mengikuti mu itu sangat terobsesi untuk mendapatkan mu 'kan, Wonwoo?" Wonwoo kembali pada kenyataan saat pertanyaan dari pemuda diseberangnya itu mengintrupsi. Ia menatap Seokmin sejenak sebelum mengangguk samar, membenarkan ucapan pemuda itu. "Wonwoo, kau tidak berfikir kemungkinan Jun dengan Mingyu itu ada?" Wonwoo mengerutkan keningnya. Ia tidak terlalu dapat mencerna pernyataan Seokmin tadi. "Maksud mu?"

"Kau tidak curiga bahwa Mingyu yang membuat Jun bersikap kasar padamu?" Ujar Seokmin, nada suaranya terdengar begitu hati-hati ia hanya khawatir membuat Wonwoo merasa tersinggung. Wonwoo terdiam, kedua alisnya bertaut pasti memikirkan ucapan Seokmin sebelumnya. "Bagaimana bisa kau berfikir seperti itu?" Seokmin menghela nafas pelan, memejamkan kedua matanya sejenak setelahnya kembali membukanya. Menatap pada langit-langit apartemennya. "Hanya menebak saja. Lagi pula selain Kim Mingyu kau fikir siapa lagi yang akan melakukan hal itu? Hantu lainnya, terdengar impossible. Jika itu Kim Mingyu mungkin saja 'kan. Jika kau bertanya mengenai alasannya, itu karena ia mencintai mu, terobsesi dengan mu dan Jun adalah penghalang." Jelas Seokmin kembali menatap raut kebingungan Wonwoo. "Jika seperti yang kau katakan kenapa ia justru melakukan hal seperti itu. Bukan 'kah logikanya Mingyu mencintai ku, kenapa dia justru berusaha membuat ku nyaris mati." Ucapnya. Seokmin menatap balik Wonwoo. "Nyaris mati, bukan benar-benar mati 'kan. Aku fikir ada alasan lain atas perlakuannya. Lebih baik kau pastikan sendiri, Wonwoo. Jika tebakkan ku benar ada baiknya untuk menjauh dari Mingyu. Aku hanya mengkhawatirkan mu."

.

Wonwoo masih menatap lekat Mingyu yang memejamkan matanya disisinya. Perkataan Seokmin tempo hari terus mengganggu fikirannya. Wonwoo merasa begitu penasaran apakah tebakkan Seokmin mengenai Mingyu itu benar atau tidak. Sejujurnya, Wonwoo tidak ingin mempercayai namun sudut lain dari dirinya tidak dapat menampik fakta bahwa siapa lagi yang akan melakukan hal tersebut selain Mingyu. Wonwoo menghela nafas berat, kembali merubah arah pandangnya pada langit-langit kamarnya. Memejamkan matanya saat merasakan kepalanya berdenyut hebat. Ia terhenyak mendapati genggaman tangan dingin Mingyu menyentuh tangannya. Membuka kembali kedua matanya hanya untuk menatap Mingyu yang kini menatapnya dengan pandangan sendu. Mingyu banyak berubah. "Ada yang mengganggu fikiran mu 'kan? Ceritakan padaku, Wonwoo." Ujar Mingyu pelan. Wonwoo masih menatap pandangan sendu Mingyu, pemuda dihadapannya itu kini melemparkan senyuman tipis padanya. Wonwoo bersumpah bahwa kini dadanya terasa berdegub cukup cepat. Ia agaknya merasa ragu untuk menanyakan hal tersebut namun Wonwoo fikir hal itu harus. Wonwoo hanya ingin memastikan bahwa itu bukan Mingyu, bahwa bukan Mingyu yang merasuki Jun dan melukainya.

"Mingyu, apa kau bisa menjawab jujur jika aku bertanya sesuatu?" Mingyu terdiam sejenak, setelahnya mengangguk samar. "Aku usahakan." Ujarnya mengejek. Wonwoo tak menggubris ucapan pemuda itu hanya tetap memandang Mingyu dengan alis bertaut. Hening, Wonwoo tampak masih sibuk dengan fikirannya sendiri sementara Mingyu masih menunggu apa yang akan Wonwoo tanyakan padanya. Lama Mingyu menunggu namun Wonwoo masih belum membuka suaranya. Pemuda itu hanya memandang lekat Mingyu tanpa bermaksud untuk kembali melanjutkan ucapannya. "Won.."

"Kenapa kau begitu mesum?" Mingyu berdehem, kembali memastikan bahwa ia tidak salah mendengar pertanyaan yang diajukan Wonwoo. "Maaf, maksudmu?" Ujarnya. Wonwoo menghela nafas panjang, mendorong dahi Mingyu dengan jari telunjuknya. "Aku tanya kenapa kau begitu mesum. Kau itu hantu paling aneh yang pernah aku tau. Setahu ku hantu itu hobi untuk menakuti sedangkan kau, justru hobi untuk yah aku rasa tidak perlu di perjelas." Mingyu terkekeh pelan, kembali merapatkan tubuhnya mendekat pada Wonwoo. "Aku hantu limited edition, Wonwoo. Tidak ada yang seperti ku karena itu harusnya kau bangga bisa mengenalku." Wonwoo berdecih, menunjukkan ekspresi mual akan ucapan Mingyu. "Kau membuat ku ingin muntah." Ujarnya kejam, mendorong Mingyu untuk menjauh darinya yang seperti sia-sia karena pemuda itu tak beranjak sedikitpun. "Ah, kau mual? Aku rasa harus pergi memeriksanya mungkin saja itu anak ku 'kan." Mingyu tertawa keras setelahnya mendapati ekspresi jengkel Wonwoo atas ucapannya tadi. Pemuda itu kembali mendorong tubuhnya untuk menjauh yang tak di gubris sedikitpun olehnya. Semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Wonwoo yang terasa begitu hangat. "Aku ini pria, bodoh."

Wonwoo tersenyum tipis mendapati tawa puas dari Mingyu. Pemuda itu memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat rasa penasarannya. Wonwoo percaya bahwa bukan Mingyu yang membuat hubungannya dengan Jun berakhir. Wonwoo mencoba mempercayai bahwa Mingyu adalah orang baik, ia tidak akan mungkin melakukan hal sehina itu hanya untuk mendapatkan cintanya. Entah namun Wonwoo seakan takut jika saja tebakkan Seokmin benar. Ia hanya tidak tau harus menunjukkan sikap seperti apa jika hal itu benar terjadi. Wonwoo tidak ingin menampik bahwa ia hanya tidak dapat memilih apakah harus memaki Mingyu atau bersikap seakan merelakan semua perbuatan itu menghancurkan hubungannya dengan Jun. Wonwoo terlalu pusing bahkan hanya untuk menerkanya pun ia merasa tidak mampu. Wonwoo tertawa keras saat Mingyu menunjukkan ekspresi kesalnya karena Wonwoo menepuk keras dahinya. Meninggalkan tanda kemerahan samar disana. Wonwoo tidak ingin menjadi naif untuk tidak mengatakan bahwa kini ia sudah jatuh pada sosok seorang Kim Mingyu. Roh pemuda yang tidak pernah terfikir olehnya akan masuk dan merubah kehidupannya.


Chit chat : crypt kembaliiii! xD maaf update'a lama trus soal'a ya lg sibuk sma urusan krjaan xD. nih aku bwa lanjutan'a. oiya buat yg tnya ff lain'a nanti dlu yessss aku kelarin ff ini dlu, bocoran aja sih chapt selanjutnya bakal jd last chapter buat ff ini jd tunggu aja. Oiya, aku mau info nih buat fans svt yg mungkin aja mau ikut xD aku mau ngadain BUKBER EVENT WITH CARAT, acara'a sih trbuka buat carat sejabodetabek xD mungkin ada yg minat buat ikut xD ayo kita meetup! yg mau nagih utang ff jg boleh x'D . buat kepo2 bisa ke aku lngsung d'bbm 583D0E10 inshaa Allah psti d'bls xD. okeeee ndak bnyak chit chat kali ini semoga chapt ini sesuai sma ekspektasi kalian ya dear. last but not least thx buat kalian yg tetep stay tune d'ff ini & yg lain'a, keep review utk kelangsungan ff ini

Salam,

Crypt14