Saya harus minta maaf atas update yang lumayan lama. Laptop saya masih diservis dari sejak piala dunia dimulai n mau pake PC ortu atau laptop adek juga rasanya aneh karena ga biasa. Well, untuk update selanjutnya smoga udah bisa pake laptop sendiri. Amin.
Di chapter ini saya memasukkan satu orang OC favorit saya bernama Bellona Bonifacio. OC ini udah banyak sekali muncul di fanfic2 saya yang sebelumnya, di dua fanfic yang cuma diposting di forum Harry Potter Indonesia yaitu Nothing But Trouble dan Que Suceden Con Bellona, dan yang terakhir ini juga dipublish di FFN, How To Save A Life.
Chapter 7
Impian
Hermione merebahkan kepalanya di tepian bak mandi, menikmati kelembutan busa sabun yang melimpah di sekujur tubuhnya. Ia menggosok leher dan perutnya, lalu kedua tungkai kakinya yang sedikit pegal. Ia letih sekali akibat aktivitasnya selama satu hari penuh kemarin, dan rasa letih ini belum banyak berkurang. Meski begitu, kemarin malam adalah salah satu malam yang terbaik dalam hidupnya. Bukan hanya karena Severus membelikannya sebuah toko buku, tapi juga karena pria itu telah membuktikan kalau dirinya memang benar-benar mencintainya. Mengingat perhatian dan pengorbanan yang dilakukan Severus kepadanya membuat dada Hermione hangat. Entah mengapa, ia merasa Severus akan segera melamarnya. Ia yakin itu.
"Hermione!"Sayup-sayup gadis itu mendengar suara Severus memanggilnya dari lantai satu. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menaiki anak tangga.
Serta-merta Hermione melompat keluar dari bak mandi. Tangannya segera menyambar handuk dan lekas-lekas menyelubungi tubuhnya. Pasti ia terlalu lama mandi dan membuat Severus jadi tidak sabar menunggu. Gadis itu teringat kalau pagi ini mereka berdua punya janji untuk sarapan bersama. Bahkan kali ini Severuslah yang memasak.
"Hermione!"
"Iya. Aku akan segera turun…" Hermione bergegas keluar dari kamar mandi dan mendapati Severus sedang terbengong-bengong melihatnya.
Pria itu tampak kaget, tidak menyangka akan sambutan yang diterimanya ini. Ia melihat Hermione dengan selembar handuk pendek yang hanya menutup sebatas dada sampai ke pertengahan paha. Pemandangan yang sangat menggiurkan, tentunya, karena selembar handuk tipis itu jelas tidak mampu menghalangi daya tarik seksual yang dipancarkan Hermione. Tubuh gadis itu berkilat dihiasi tetesan air dan rambut basahnya yang tergerai membuatnya semakin terlihat seksi. Namun ekspresi kaget Severus ini tidak bertahan lama. Sedetik kemudian ekspresi Severus kembali datar, seolah tidak terjadi apapun.
"Maaf," gumamnya, sambil berbalik pergi. "Aku tak tahu kalau kau belum selesai mandi."
"Tunggu, Sev!"
Severus memutar tubuhnya dengan enggan, menggumam. "Ya?"
"Ada apa denganmu?" Hermione tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum geli. Sorot mata Severus terlihat ingin menghindarinya, menatap ke arah mana pun asal jangan ke arah Hermione. "Kau kan sudah sering melihatku telanjang."
"Karena itulah, sweetheart. Tubuhmu… Aku tak pernah bosan melihatnya. Cepatlah berpakaian. Tolong."
Alih-alih menuruti permintaan kekasihnya itu, Hermione malah mendekati Severus dan menarik kedua tangannya. Ia menggiring pria itu untuk duduk di tepi ranjang. Severus sempat menolak. Bahkan ia terus saja menundukkan kepalanya, tak berani menatap Hermione. Ini membuat Hermione makin gemas saja. Hari ini Severus sedikit aneh, pikirnya.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu." Jari lentik Hermione membelai dagu Severus, dan mengangkat lembut dagu itu agar Severus bersedia menatap matanya.
Ucapan halus Hermione seakan membius Severus. Pria itu tak bisa berkutik. Ia hanya duduk diam di tepi ranjang, menunggu apa yang akan dilakukan Hermione selanjutnya. Bibir tipisnya bungkam, tak membantah. Kedua mata kelamnya menatap Hermione dari atas ke bawah dengan sorot kagum, dan ada sedikit kilatan nafsu yang berusaha keras ditahannya.
"Jadi, apakah biru atau putih? Kira-kira mana yang lebih pantas aku pakai hari ini?" Hermione menunjukkan dua potong gaun yang baru saja dibelikan Severus kemarin malam. Gadis itu berdiri di depan cermin dan memadukan kedua gaun itu satu-persatu dengan dirinya. Ia kesulitan untuk memilih.
"Gaun yang putih saja. Warna putih akan menonjolkan warna kulitmu yang mulus dan tidak bertabrakan dengan warna rambutmu. Lagipula aku suka modelnya yang sederhana," saran Severus. Sebenarnya sih ia tak keberatan Hermione mengenakan gaun yang mana saja. Toh gadis itu tetap akan terlihat cantik dengan busana apapun, atau bahkan tanpa busana.
"Oh, benarkah?" Wajah Hermione terlihat sedikit kecewa. "Tadinya aku berharap kau akan memilih gaun yang biru. Aku suka warna biru langitnya…"
Kening Severus berkerut. Ia melipat kedua tangannya di dadanya, berseloroh, "Lalu untuk apa kau bertanya sejak awal? Kalau kau memang lebih suka gaun yang itu dan ingin memakainya, langsung pakai saja."
"Aku hanya ingin tahu pendapatmu. Lagipula aku ingin membuatmu senang. Kau membeli dua gaun ini dengan suatu tujuan, kan? Aku takut mengecewakanmu kalau sampai mengenakan gaun yang salah dan…"
Severus beranjak dari tepi ranjang, berjalan menghampiri gadisnya. Kali ini wajah pria itu dihiasi senyum. "Kau ini bicara apa sih? Aku membelikanmu dua gaun itu untuk menyenangkan hatimu, bukan untuk membuatmu bingung dan cemas akan pendapatku. Lagipula kau tetap akan terlihat cantik dengan gaun yang mana pun." Sambil menarik Hermione ke dalam pelukannya, Severus bergumam lirih. "Wanita. Kalian memang makhluk yang unik."
"Jadi, aku boleh memakai gaun yang mana saja?" bisik Hermione, menyandarkan kepalanya di dada bidang Severus, membiarkan hidung bengkok kekasihnya menghirup dalam-dalam aroma wangi shampoo yang menguar dari rambutnya. Hati gadis itu lega.
"Tentu saja, sweetheart."
Wajah Hermione semakin berseri-seri saat Severus menghadiahinya kecupan hangat di dahi.
"Lalu sekarang apa? Kau ingin aku menontonmu berpakaian atau aku saja yang memasangkan gaun itu untukmu?" Bisikan nakal Severus di telinga Hermione membuat gadis itu bergidik kegelian. "Tadinya aku hanya ingin menyuruhmu lekas turun. Sarapan kita sudah siap."
"Tidak. Lebih baik kau kembali ke ruang makan. Tak perlu menontonku berpakaian atau memasangkan gaun ini untukku. Aku akan segera menyusulmu begitu selesai." Hermione menelusuri garis rahang Severus dengan bibirnya, memberinya beberapa kali kecupan mesra di dagu pria itu.
"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa di bawah, love." Severus mengecup lembut hidung Hermione. Sekali lagi ia tersenyum tipis, dan melepaskan pelukannya. Tanpa menengok lagi ke belakang, pria itu berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Hermione yang terheran-heran dengan sikap romantisnya ini. Pagi ini Severus benar-benar lain dari biasanya, pikir Hermione bingung.
"Severus Snape?"
"Ya, Hermione dear?"
"Apa-apaan ini? Apa yang kau lakukan dengan ruang makan? Gelap sekali. Aku sampai tidak bisa melihatmu." Hermione meraba-raba dalam kegelapan, sampai merasakan sepasang tangan kokoh menangkap kedua tangannya. "Sev?"
"Aku di sini, darling." Sepasang tangan itu kemudian mendekapnya erat. "Tunggu sebentar. Akan kunyalakan lilinnya dulu."
Sesaat setelah lilin di atas meja makan dinyalakan, suasana ruang makan berubah. Penerangan cahaya lilin yang redup memberikan nuansa lembut dan romantis. Ada beberapa kuntum bunga Anemone yang diletakkan di dalam vas di tengah meja makan, dan ada juga sebotol wine di sana. Sementara piring, gelas, dan peralatan lainnya tersusun rapi. Hermione tercengang. Bibirnya setengah terbuka. Namun ia tak ingin banyak berkomentar.
"Candle Light Dinner. Maaf. Maksudku, Candle Light Breakfast," ujar Severus kalem.
"Ada apa ini?" tuntut Hermione dengan nada tajam. Tak bisa dipungkiri kalau ia cukup tersentuh. Selama ini ia selalu menganggap kekasihnya itu tak punya sisi romantis. Selalu dingin, kaku, dan membosankan di setiap kesempatan. Hermione senang Severus mengubah sikapnya. Akan tetapi, semua yang sudah dilakukan Severus ini juga membuatnya semakin curiga.
"Tidak ada apa-apa, Mione. Anggap saja ini permintaan maafku karena semalam tidak bisa menemanimu makan malam. Kau terpaksa harus makan malam seorang diri di rumah, sementara aku harus sibuk di toko sampai menjelang tengah malam. Kau tidak keberatan, kan?" Sambil membimbing Hermione, Severus menarik salah satu kursi. "Duduklah, sweetheart."
Masih ada sejuta pertanyaan yang ingin dilontarkan Hermione, namun gadis itu akhirnya memilih untuk menurut. Ia duduk manis di kursi tersebut, sedangkan Severus duduk di kursi satunya. Mereka berdua duduk saling berhadapan.
"Wine, darling?"
"Di mana Crookshanks?"
Severus meletakkan botol wine yang sedang digenggamnya dengan sedikit hentakan. Raut wajahnya tampak kesal. "Dia sedang berada di tempat yang lebih baik saat ini. Tempat seharusnya ia berada. Jadi bisakah kita lupakan dia sebentar dan berkonsentrasi kepada urusan kita sendiri?"
"Seharusnya dia sedang sarapan sekarang. Dia biasa sarapan dengan kita. Kau tahu itu."
Serta-merta Hermione bangkit dari kursinya. Tentu saja ia cemas memikirkan nasib kucing kesayangannya yang tiba-tiba saja raib. Padahal biasanya kucing besar berbulu kuning itu selalu menunggunya di bawah meja makan setiap jam makan tiba. Hermione tahu betul kalau Crookshanks tidak boleh sampai melewatkan jam makannya. Kalau tidak, kucing itu bisa sakit.
"Hermione, darling. Duduklah. Kumohon," pinta Severus kaku, rahangnya mengeras.
"Tapi Crookshanks…"
"Dia sudah aku kandangkan! Kucing sialan itu juga sudah kuberi makan, jadi kau tak usah khawatir," ujar Severus dengan nada menekan dalam-dalam, semakin jengkel. Bisa-bisanya Hermione lebih memikirkan kucing jelek itu dibandingkan urusan yang jauh lebih penting begini, batinnya geram. "Jadi, bisakah sekarang kita lanjutkan acara makan kita ini? Tolong…"
Hermione mengangguk pelan, cemberut. Ia tidak terlalu senang mendengar Severus menyebut Crookshanks sebagai 'kucing sialan'.
"Wine?" Severus kembali menawarkan botol winenya. Ekspresi wajahnya berubah datar seperti semula. Namun lagi-lagi ia dibuat kesal saat Hermione menggelengkan kepalanya. "Baiklah. Kalau kau tak mau wine. Butterbeer atau Mead? Atau anggur buatan peri?" Akan tetapi Hermione terus saja menggeleng. "Lalu apa maumu?" Tanpa sadar Severus menggebrak meja, kesabarannya habis.
"Aku tidak pernah minum minuman beralkohol saat sarapan. Seingatku, kau sendiri juga tidak pernah begitu," jelas Hermione tenang. Ia sudah terlalu sering menghadapi sifat temperamental kekasihnya, dan ia sudah tidak takut lagi. "Lagipula aku sedang tidak ingin minum minuman seperti itu untuk beberapa bulan ke depan."
Severus merengut. Bibirnya mencibir, berujar dengan nada dingin. "Bagus! Sekarang kau sendiri yang merusak suasana. Aku sudah susah payah menciptakan suasana romantis ini supaya kau senang, tapi kau malah menghancurkan jerih payahku. Jenius."
"Aku tidak kan memintamu."
"Apa?"
"Aku. Tidak. Memintamu." Hermione masih saja bersikap tenang. Ia mengayunkan tongkatnya, mengisi gelas kosong di hadapannya dengan air putih, sebelum meneguknya pelan-pelan.
"Ta—tapi… Kukira kau akan senang kalau aku mengajakmu makan bersama dengan diterangi cahaya lilin. Bukankah ini sudah seperti yang ada di dalam film-film roman picisan favoritmu?" Nada bicara Severus semakin menunjukkan betapa kesalnya pria itu. Ia merasa jerih payahnya tidak dihargai sedikit pun.
"Memang. Sudah sama persis. Ada bunga, wine, lilin, dan lain-lain. Tapi…."
"Tapi apa, Mione?"
"Tapi ini bukan dirimu, Severus. Benar-benar bukan dirimu sama sekali. Bahkan kalau aku boleh jujur. Kau membuat ini terlihat menggelikan. Kau bersikap aneh sejak bangun tidur tadi. Memasak sarapan, menyuruhku berdandan secantik mungkin untuk alasan yang aku tidak tahu, lalu kau membelikanku gaun yang indah, dan puncaknya, kau menyiapkan sarapan super-romantis begini. Oh, iya. Kau juga terus-menerus memanggilku sweetheart, darling, dan banyak panggilan-panggilan mesra yang membuat bulu kudukku merinding. Ada apa denganmu, Sev? Kepalamu terbentur saat tidur, atau kau tak sengaja keracunan sesuatu?"
Ekspresi garang Severus lumer. Berganti ekspresi tersipu aneh. Hermione bersumpah kalau ia sempat melihat ada rona merah di kedua pipi Severus, meski pria itu bisa segera menyamarkan perubahan ekspresinya.
"Ka—kau sama sekali tidak romantis! Aku menyesal melakukan ini semua untukmu," geram Severus, tersenyum kecut.
Hermione mengedikkan kedua bahunya, tersenyum simpul. "Sudahlah. Tak usah berbelit-belit. Katakan saja apa maumu dan segera selesaikan ini semua. Kalau tidak, bisa-bisa kau terlambat kerja dan menyalahkan aku lagi." Setelah mengatakan hal ini, dengan santai Hermione kembali mengangkat gelasnya dan meneguknya.
"Berengsek," umpat Severus lirih. Ia jengkel dengan sikap Hermione. Ia sendiri benci sesuatu yang berbelit-belit begini. Semula ia mengira rencananya akan berjalan mulus. Tapi tampaknya kini ia tak punya pilihan lain. Seperti yang dikatakan Hermione tadi, romantisme memang tidak pantas untuknya. "Baiklah. Kalau itu yang kau mau, Mione. Kau tahu? Aku ingin melamarmu!" Severus merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Tampang Severus masih terlihat geram saat ia menunjukkan cincin bermata Ruby di dalam kotak itu. "Bagaimana? Sudah puas sekarang?"
Tentu saja Hermione tidak puas. Ia justru kaget bukan main. Saking kagetnya, Hermione sampai tersedak. Hidungnya sukses kemasukan air minum. Dengan wajah basah kuyup dan masih batuk-batuk, ia menatap kekasihnya. Tak lama kemudian gadis itu tertawa lirih. Jadi semua hal menggelikan ini memang ada maksudnya, pikir Hermione. Kecurigaannya benar, dan untuk pertama kalinya gadis itu merasa senang sekali bisa menebak arah pikiran Severus. Semua romantisme yang dibuat-buat ini, ekspresi aneh Severus saat memanggilnya dengan bermacam-macam sebutan sayang, dan lain-lain. Well, ya. Ternyata Severus memang akan segera melamarnya.
"Kenapa kau malah tertawa?" Severus membeku di atas kursinya, sedikit tersinggung. Jantungnya yang tadinya berdebar tak karuan, kini semakin kacau saja. Ia takut Hermione menganggap lamarannya ini hanya gurauan belaka.
"Astaga, Severus…" tawa lirih Hermione berubah menjadi tawa geli. Melihat Severus melamarnya sambil marah-marah, bagi Hermione ini lucu sekali. "Kau sungguh penuh kejutan."
Severus membiarkan Hermione tertawa sampai puas, meski Ia sama sekali tidak menemukan ada yang lucu, dan menurutnya memang tidak ada yang lucu. Acara melamar yang sudah ia persiapkan selama beberapa hari ini gagal total. Harusnya ia sedih, bukannya malah merasa konyol karena jadi bahan tertawaan oleh kekasihnya begini.
"Baiklah. Jadi kau mau menikah denganku atau tidak?" tanya Severus lirih, menggigit bibir bagian bawahnya.
"Atau tidak?"
"Kumohon jangan menjawab tidak…"
"Berarti kau memintaku menjawab ya?"
"Kalau kau mau…"
"Kalau aku tidak mau?"
"A—aku tidak akan memaksamu. Tapi jujur saja, aku tak tahu harus apa lagi kalau kau menjawab tidak…" Severus tidak meneruskan ucapannya. Hermione bangkit dari kursinya, dan memilih untuk duduk di atas pangkuannya sambil melingkarkan kedua tangan di lehernya.
"Kalau aku menjawab ya?" tanya Hermione, mendekatkan wajahnya ke wajah Severus, dan menempelkan hidungnya ke hidung kekasihnya itu.
"Jangan menggodaku, Mione. Jawab saja. Ya atau tidak," pinta Severus sambil berharap-harap cemas. Nafas Hermione terasa hangat menerpa wajahnya, dan membuatnya tidak sabar lagi untuk segera mencium gadis itu.
"Katakan dulu kata ajaibnya…"
"Aku mencintaimu."
Hermione mengecup mesra bibir Severus, bibir merahnya tersenyum bahagia. "Baiklah. Aku mau menikah denganmu, Severus Snape. Jadikan aku Mrs Snapemu dan jadikan aku wanita paling bahagia di muka bumi ini."
Kedua mata Severus berbinar. Kepalanya terasa begitu ringan, seolah sedang melejit tinggi ke angkasa. Bibirnya sampai tak bisa lagi berkata apa-apa, hanya bisa menerima ciuman panas Hermione. Bibir Hermione melumatnya. Lidahnya merangsek masuk, menerobos bibir tipis Severus. Mereka berdua berciuman lagi dan lagi, dan ciuman terakhir yang mereka lakukan adalah ciuman terlama dan terdalam dari semua ciuman yang sudah-sudah.
"Bagaimana kalau tahun baru?"
"Jangan. Aku lebih suka musim panas saja."
"Juni?"
"Boleh saja. Tanggal berapa sebaiknya?"
"Sebaiknya pertengahan Juni, atau awal Juli. Saat semua orang sedang libur musim panas." Severus merangkul pinggang ramping Hermione semakin erat. Diagon Alley ramai seperti biasanya, dan ia tak ingin Hermione terpisah darinya. Apalagi karena ada beberapa orang yang main terobos di tengah padatnya lalu-lalang. "Sebenarnya aku lebih senang pesta pernikahan yang sederhana dan hanya dihadiri orang-orang terdekat kita. Tapi seandainya kau menginginkan yang sebaliknya, bulan Juni adalah saat yang paling cocok untuk mengumpulkan banyak orang."
Hermione tersenyum, meraba cincin berbatu Ruby yang kini melingkari jari manisnya. Ia langsung jatuh cinta kepada cincin itu sejak pandangan pertama. Ruby sendiri adalah lambang terbukanya kebekuan hati seseorang terhadap rasa cinta, mengatasi ketakutan jika pemiliknya menua dan tidak dicintai lagi oleh pasangannya, serta menghilangkan ketidakberuntungan dalam hidup. Batu permata yang sangat pas untuk menggambarkan hubungan mereka berdua.
"Aku suka idemu, darling. Kita bisa menyusun daftar tamu undangan nanti malam, dan akan kupastikan hanya mengundang orang-orang terdekatku saja. Nah, sekarang kita harus memikirkan lokasi pernikahan kita nanti. Umm, bagaimana kalau Hogwarts?"
"Hogwarts?" kening Severus berkerut. "Aula Besar Hogwarts, maksudmu?"
"Yeah. Tempat terindah untuk melangsungkan pernikahan. Benar, kan?"
"Tidak. Kurasa Aula Besar terlalu berlebihan untuk sebuah upacara pernikahan sederhana. Aku memikirkan tentang sebuah pesta kebun. Coba bayangkan, sweetheart. Musim panas, pesta kebun, dan hanya ada orang-orang terdekat kita. Pasti suasananya akan sangat menyenangkan."
"Pasti tidak usah mengeluarkan banyak biaya," gumam Hermione, membenahi ujung syal Severus yang diterbangkan angin nakal.
"Tepat sekali."
"Dasar kikir." Hermione terkikik geli. Ia hanya bercanda, tentu saja. Sebagaimana yang ia ketahui tentang Severus, pria itu punya semacam zona nyaman. Ia tidak terlalu suka keluar dari zona nyaman itu, ataupun membiarkan terlalu banyak orang masuk ke dalam zona nyamannya. Maka wajar kalau Severus menginginkan pesta kebun sederhana dengan sedikit orang untuk pernikahan mereka nanti. Hermione sendiri tidak terlalu keberatan dengan hal ini. Yang terpenting baginya adalah ia bisa menikah dengan Severus. Itu saja.
"Bagaimana? Kau setuju, kan?" tanya Severus.
Langkah mereka harus terhenti sejenak saat melewati Eeylops Owl Emporium. Ada kereta dorong penuh sangkar burung hantu yang hendak dimasukkan ke dalam toko itu, namun tersangkut karena pintunya terlalu kecil. Sementara beberapa burung hantu yang ada di sangkar itu tampak marah, mengepak-ngepakkan sayap mereka ribut, membuat bocah yang mendorong kereta itu semakin kebingungan. Mengeluh pelan, Severus menjentikkan ujung tongkatnya, membuat pintu masuk toko itu melentur seperti karet agar kereta dorong itu bisa menerobos masuk.
"Trim's, sir," ucap si bocah pendorong kereta. Wajahnya yang dibanjiri keringat berubah cerah.
Severus hanya mengangguk, tampak tak begitu peduli. Toh tujuannya membantu hanya supaya bocah itu tidak lama-lama memblokir jalan.
"Baiklah. Pesta kebun tak masalah." Hermione melingkarkan salah satu tangannya ke pinggang Severus. Mereka kembali melanjutkan perjalanan begitu kereta penuh sangkar burung hantu itu menyingkir. "Tapi masalahnya adalah… Kebun siapa yang akan kita pakai? Kebun di Spinner's End?"
"Tidak, darling. Tentu tidak. Terlalu kecil. Untuk menjemur pakaian saja masih terlalu sempit." Severus tersenyum tipis. "Bagaimana dengan kebun di Snape Manor?"
"Snape Manor?" kening Hermione berkerut-kerut.
"Ya. Snape Manor." Severus mengecup kening Hermione, membelai-belai punggung gadis itu. "Aku berencana menjual rumah bobrokku dan membeli rumah yang jauh lebih besar di lingkungan yang lebih baik. Kita tidak mungkin membesarkan anak-anak kita nanti di Spinner's End. Jelas itu bukan lingkungan yang baik untuk perkembangan anak."
"Anak? Anak kita?" Hermione tercengang. "Kau ingin punya anak dariku?"
Sekali lagi langkah mereka terhenti. Severus menatap mata Hermione dalam-dalam, dan berujar lembut. "Tentu saja, sweetheart. Aku ingin sekali punya anak darimu. Aku ingin kau melahirkan anak-anak kita saat kita sudah resmi menjadi suami istri nanti. Atau jangan-jangan kau keberatan? Kau tidak ingin melahirkan anakku?"
Hermione menggeleng keras. "Tidak! Tentu saja aku mau. Sebuah kehormatan besar kalau aku bisa menjadi ibu dari anak-anakmu. Aku sangat menyukai anak-anak, dan aku tak ingin menunda-nunda untuk segera punya momongan. Mempunyai beberapa orang anak pasti akan sangat menyenangkan."
"Satu orang anak saja."
"Tiga."
"Dua."
"Tiga. Aku ingin punya tiga anak." Tuntut Hermione. "Satu anak laki-laki dan dua anak perempuan."
"Sejujurnya, tiga adalah jumlah yang sempurna. Tapi aku lebih suka kalau punya dua anak laki-laki dan satu anak perempuan." Severus tersenyum jahil, memamerkan keceriaannya yang langka kepada kekasihnya itu. "Dan semuanya nanti akan masuk ke asrama Slytherin. Sama seperti ayahnya ini."
Bibir Hermione bergetar lemah untuk sesaat. Matanya berbinar dan jantungnya berdegup kencang. Ia ragu untuk mengatakan sesuatu kepada Severus. Dua minggu ini dia terlambat datang bulan. Namun ia belum sempat mengatakannya kepada Severus karena khawatir dengan reaksi kekasihnya itu nanti. Lagipula terlambat datang bulan satu-dua minggu masih termasuk wajar. Belum tentu dia hamil.
"Ah, sial… Sudah pukul sepuluh." Severus melirik arlojinya. "Maafkan aku, darling. Bisa kita lanjutkan pembicaraan ini nanti saja? Saat ini seharusnya aku sudah berada di toko untuk konferensi pers yang diadakan oleh Kementerian Sihir setelah acara peluncuran Wolfsbane Nomor 5."
Hermione mengangguk. Wolfsbane Nomor 5 adalah hasil dari penelitian Severus selama hampir setahun ini. Dengan adanya ramuan ini, diharapkan penderitaan para manusia serigala saat sedang mengalami transformasi dapat jauh berkurang. Bahkan mereka juga tetap bisa mengingat jati diri mereka ketika sedang berwujud manusia serigala.
Beberapa hari yang lalu Wolfsbane Nomor 5 telah dipatenkan dan hari ini siap diluncurkan secara perdana. Penemuan ini tentu sangat menjanjikan bagi dunia sihir, khususnya bagi para manusia serigala. Akan tetapi, ini belum membuat Severus puas. Ia masih ingin mengembangkan Wolfsbanenya ke tingkat yang lebih tinggi dan revolusioner, di mana khasiatnya dapat mencegah transformasi manusia serigala.
"Keadaan akan segera berubah, love. Hasil kerja kerasku itu akan mendatangkan banyak uang untuk kita. Aku sudah mendapatkan seorang sponsor untuk membangun laboratoriumku sendiri dan juga peralatan penunjang yang lebih canggih. Kita sedang berada di atas sekarang ini." Severus membelai kedua pipi Hermione, menatap lekat-lekat mata coklat indahnya. "Orang-orang akan mengenalku sebagai Ahli Ramuan Tahun Ini. Aku tak percaya akan mengatakannya, tapi aku harus berterima kasih kepada Daily Prophet."
Hermione tersenyum. Melihat ekspresi bahagia di wajah Severus adalah kenikmatan tersendiri baginya. Sekarang ia paham kenapa Severus berani melamarnya. Itu karena karirnya sudah semakin menanjak. Kekasihnya itu memang hampir tidak pernah membicarakan tentang masalah pekerjaan jika mereka sedang berduaan. Pria itu selalu memisahkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi. Meski begitu, Hermione tidak akan terlalu terkejut jika suatu saat mendengar berita tentang kesuksesan Severus. Dengan kejeniusannya, semua kerja kerasnya yang total, dan ambisinya yang tinggi, bukan mustahil kalau suatu saat nanti Severus akan menjadi orang besar.
"Kalau begitu pergilah, darling. Kau sedang ditunggu oleh banyak wartawan."
"Tidak. Aku akan mengantarkanmu dulu ke toko buku. Setidaknya itu akan memberiku sedikit ketenangan pikiran." Severus kembali menggandeng tangan Hermione dan membimbingnya menyusuri sepanjang jalan. "Aku benci meninggalkan tunanganku yang cantik seorang diri di tengah keramaian Diagon Alley. Tapi tidak ada waktu lagi. Lebih baik kita berapparate saja…"
"Sudahlah, Sev. Aku akan baik-baik saja. Memangnya apa hal buruk yang akan terjadi di sebuah toko buku yang bahkan belum dibuka untuk berbisnis?" Hermione melepaskan genggaman tangan Severus. Toko bukunya hanya tinggal beberapa meter lagi dan ia tak enak hati kalau Severus terlambat datang ke konfrensi pers gara-gara dirinya. "Pergilah."
"Tapi kau sungguh tak apa-apa, kan?" Severus mencium kening Hermione begitu gadis itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Asal kau tidak lupa untuk menjemputku nanti. Kau sudah janji akan mentraktirku makan siang."
"Oh, tentu saja. Aku akan menjemputmu pukul dua belas tepat. Semoga saja wartawan-wartawan itu tidak mempersulitku," gumam Severus, sedikit mengeluh. Ia kurang begitu suka berada di tengah keramaian, apalagi kalau ia yang menjadi pusat sorotan. "Aku harap aku bisa mengajakmu ikut serta ke konferensi, sweetheart."
"Toko buku masih perlu banyak pembenahan. Kau tahu itu, darling." Hermione mencubit pinggang Severus. Well, sebenarnya ia juga ingin ikut Severus. Ia tak bisa membayangkan seperti apa konferensi pers akan berlangsung nantinya. Severus pasti akan bersikap dingin dan kaku setiap menjawab pertanyaan para wartawan. Hermione tahu betul kalau kekasihnya itu benci publikasi.
"Baiklah. Sampai jumpa nanti siang." Severus mencium lembut bibir kekasihnya, dan melambaikan tangannya, sebelum bergegas berdisapparate. Ia tahu para wartawan akan melebih-lebihkan pemberitaan kalau ia sampai terlambat datang. Terutama dengan adanya Rita Skeeter dari Daily Prophet.
Seperti yang sudah diduga oleh Hermione. Toko bukunya perlu banyak pembenahan. Beberapa perabotan diantar pagi ini untuk mengisi kekosongan ruang. Begitu juga dengan kardus-kardus berisi buku-buku yang ia perlukan. Semuanya masih perlu disusun satu-persatu ke rak sesuai dengan kategorinya. Belum lagi proses penyortiran buku yang pastinya akan memakan waktu.
Hermione sudah memutuskan bahwa alih-alih bersaing dengan Flourish and Blotts, ia akan menjadikan toko bukunya hanya menjual buku-buku tentang dunia kewanitaan, remaja, dan anak-anak. Toko bukunya nanti hanya akan menjual buku-buku seputar hobi penyihir wanita dan penyihir remaja, masak-memasak ala sihir, pengetahuan seputar rumah tangga penyihir, konseling untuk problem-problem rumah tangga pasangan penyihir, tutorial merawat anak secara sihir dan lain sebagainya. Meski begitu, ternyata buku yang ia butuhkan ada banyak sekali. Ia harus mencermati satu-persatu katalog yang dikirimkan oleh para distributor buku, sekaligus melakukan penyortiran terhadap buku-buku yang sudah ada. Buku-buku yang terlanjur ada tapi tidak dibutuhkan akan dikembalikan, untuk kemudian diganti dengan buku yang lebih cocok.
Hermione pasti sudah gila kalau melakukan semua itu sendirian. Otaknya memang cerdas, tapi kemampuannya sebagai manusia sangat terbatas. Karena itulah ia senang sekali saat mendapat bantuan dari kakak kelasnya semasa di Hogwarts, Bellona Bonifacio. Gadis keturunan campur Italia-Spanyol dan Inggris itu bersedia membantunya selagi ia cuti dari pekerjaannya yang sekarang, sebagai Penanggung Jawab Kreatif di Toko Sihir Sakti Weasley. Alasan gadis yang lebih tua lima tahun dari Hermione itu mengambil cuti sebenarnya sangat sepele. Karena tunangannya seorang pencemburu.
"Oliver tidak suka kalau aku bekerja di tempat yang banyak pria-pria iseng," jelas Bellona sedih. Ya, dia adalah tunangan Oliver Wood, kapten Quidditch asrama Gryffindor semasa Hermione masih bersekolah dulu. "Tadinya dia menyuruhku keluar, tapi Fred dan Georga tidak setuju. Mereka hanya memberiku cuti selama seminggu untuk memutuskan."
"Aku ikut menyesal, Bellona. Aku tahu kalau iseng dan jahil adalah panggilan jiwamu." Hermione nyengir. Dia ingat beberapa kasus ledakan bom kotoran di toilet anak perempuan Hogwarts dan kasus rok beberapa gadis Slytherin yang mendadak mengembang seperti payung terbalik di depan umum. Semua adalah ulah iseng Bellona. Seperti juga Hermione, Bellona yang kelahiran Muggle selalu saja direndahkan martabatnya oleh murid-murid Slytherin. Karena itulah Bellona selalu memilih untuk menjahili murid-murid Slytherin, terutama murid perempuannya.
"Kenapa sih dia selalu cemburu? Padahal aku kan bukan wanita penggoda!"
Kali ini Hermione hanya tersenyum maklum. Bukan salah Oliver kalau dia jadi begitu posesif. Meski Bellona tidak cerdas, cenderung nyentrik, dan juga tidak terlalu cantik, ia dikarunia tubuh yang sangat aduhai. Kulitnya yang kecoklatan khas Mediterania terlihat eksotis di mata orang-orang Inggris. Belum lagi aksen Inggris ala Spanyolnya. Hanya pria buta yang tidak akan melirik gadis seperti itu.
"Ceritakan tentang calon suamimu, Mione! Apa dia juga seorang pencemburu?"
Hermione membolak-balik lembar katalog di tangannya sambil berpikir. "Tidak juga sih. Seingatku malah dia belum pernah cemburu sama sekali kepadaku. Justru aku yang lebih sering cemburu kepadanya."
"Benarkah?" saking kagetnya, Bellona sampai nyaris terjatuh dari tangga yang sedang dinaikinya. Sejak tadi ia sibuk menyusun buku-buku sesuai dengan kategorinya di sebuah rak tinggi. "Seorang Severus Snape tidak pernah cemburu kepadamu? Justru kau yang cemburu kepadanya? Aneh."
"Aneh di mananya?" Mau tak mau Hermione tertawa lirih mendengar kepolosan Bellona. "Memangnya seberapa jauh kau mengenal Severusku?"
"Err… aku hanya mengenalnya dari Daily Prophet dan selebaran-selebaran promosi tentang Wolfsbane nomor 5 hasil kreasinya itu. Jangan salah sangka, Mione. Aku tidak membaca koran atau semua selebaran itu. Hanya saja Severus Snape sedang banyak dibicarakan selama beberapa hari terakhir ini, dan fotonya muncul di mana-mana. Kudengar dia Ahli Ramuan yang hebat sekali dan juga seorang pengusaha sukses." Bellona menatap raut bangga di wajah Hermione, merasa semakin heran. Ia tidak ingat kapan terakhir kali Hermione bangga dengan prestasi orang lain. Setahu Bellona, gadis jenius itu lebih senang membanggakan dirinya sendiri.
"Itu benar. Dulunya aku tak menyangka Severus akan sesukses ini. Lagipula ia hampir tidak pernah membahas tentang bisnisnya denganku. Untuk beberapa hal, ia terlalu tertutup. Selalu tertutup."
"Tapi kupikir pasti akan banyak wanita cantik yang mengejarnya."
Ucapan polos Bellona membuat Hermione terhenyak. Kening gadis itu berkerut. Spontan mengalihkan perhatiannya dari katalog di tangannya ke Bellona.
"Maksudku, pasti itu yang membuatmu cemburu kepadanya, kan?" kata Bellona sok tahu. "Kalau seorang pria sudah sukses, biasanya dia akan lupa dengan wanita yang dulu mendukungnya sejak dari nol. Pria seperti itu akan mencari wanita lain dan meninggalkan kekasihnya yang pertama."
"A—apa itu yang terjadi padamu, Bellona?"
"Iya. Hampir sih. Faktanya Oliver selalu berpaling dariku. Dia lebih mencintai Kudis!"
"Quidditch, maksudmu. Bukan Kudis." Hermione mengoreksi sambil tersenyum geli. Dari dulu Bellona selalu saja salah sebut. "Itu tidak benar, Bellona. Aku yakin Oliver mencintaimu di balik obsesinya terhadap Kud—Quidditch. Sama seperti keyakinanku kepada Severus. Aku yakin dia tidak akan selingkuh. Coba saja kalau dia berani selingkuh. Akan kugoreng dia hidup-hidup!"
"Seperti apa sih si Severus ini?" tanya Bellona penasaran.
"Dia pria yang sangat misterius. Dewasa dan sering tak tertebak. Dia juga dingin dan temperamental. Kalau di depanku, dia masih bisa menahan emosinya dan lebih sering menyindirku dengan ucapan-ucapan tajam dan menyakitkan hati daripada marah sampai meledak-ledak. Dia pria yang kaku, introvert, dan membosankan."
"Lalu kenapa kau bisa-bisanya mau jadi calon istrinya? Kau tadi mengaku sudah setahun berhubungan dengannya, kan? Bagaimana kau bisa tahan?"
"Itulah anehnya, Bellona," Hermione menutup katalog di tangannya, dan mengambil katalog yang lain. "Dia mungkin bukan pria berkelakuan paling baik sedunia. Tapi dia punya sesuatu di dalam dirinya. Dia punya ketulusan yang sangat mendalam. Dia selalu rela melakukan banyak hal yang tak terduga demi aku dan tanpa mengumbarnya. Dia bisa bersikap manis untuk sekali waktu, dan itu membuatku begitu nyaman berada di dekatnya. Ia mencintaiku dan selalu menunjukkan totalitasnya. Menjaga, melindungi, mengasihi, dan setia. Semua dilakukan sesuai dengan caranya sendiri yang kadang tidak bisa dimengerti olehku. Pendek kata, Severus punya kebaikan di dalam dirinya. Sangat jauh di dalam dirinya. Inilah yang membedakannya dengan pria lain."
"Dia terdengar sempurna bagiku. Apa kau mau kalau kita bertukar pasangan? Oliver Wood untukmu, dan Severus Snape untukku?" goda Bellona. Hermione pura-pura cemberut jelek. "Well, aku harus mengaku, Mione. Kalau dilihat dari fotonya, menurutku calon suamimu itu memang punya daya tarik yang tidak bisa diungkapkan. Dia tampan dan menarik, kalau kita memandangnya dari sisi lain. Maksudku, kudengar dia ekslusif dan punya citra pria badung. Dia sangat menggoda untuk ditaklukkan."
"Benarkah itu, Bellona? Kuharap tidak banyak wanita yang berpikir begitu." Mendadak saja perasaan Hermione diliputi rasa cemburu. Selama ini dia memang belum pernah mendengar pendapat wanita lain tentang Severus. Tapi setelah mendengar pengakuan Bellona ini dan juga teringat profesi Severus dulu sebagai pria penghibur, bisa jadi semua ini benar. Severus memang punya daya tarik yang tak bisa diungkapkan dan sangat menggoda untuk ditaklukkan. Bukankah ini yang dulu sempat terbersit di pikiran Hermione saat mereka pertama kali bertemu dulu? Bahkan Severus dalam pakaian serba hitamnya yang tertutup rapat saja sudah mampu membuatnya panas dingin. Belum lagi keganasannya di atas ranjang.
"Hei, Mione. Wajahmu pucat!" Bellona tersenyum jahil. "Tenang saja. Kalau Severus Snape memang seperti yang kau katakan tadi. Harusnya kau percaya dia tidak akan berpaling darimu."
"Yeah. Semoga," gumam Hermione, berusaha keras tidak memikirkan tentang Lily Potter dan sakit hatinya dulu saat Severus tak sengaja memanggil nama wanita itu ketika mereka sedang bermesraan. Hermione sudah memaafkan Severus dan menganggap hal ini hanya sebagai kecelakaan belaka. Meski begitu, rasanya ia sulit sekali untuk melupakannya. Terlalu menyakitkan.
Suara ketukan pintu menyadarkan Hermione dari lamunannya. Seorang pria berambut gelap dan bertubuh tegap baru saja masuk, menebarkan senyum cerah kepadanya.
"Hai, Hermione. Apa kabar?" Sapa pria itu ramah, memeluk hangat dan mengecup pipi kanan Hermione saat gadis itu berdiri dari sofa untuk menyambutnya. "Sudah lama tak bertemu ya? Jujur saja aku kaget begitu Belono memberitahuku kalau dia bekerja di tokomu. Aku bahkan tak tahu kalau dia bisa membaca." Kalimat yang terakhir ini diucapkannya sambil berbisik takut-takut.
"Oh Oliver. Tunanganmu memang tidak suka membaca, tapi itu bukan berarti dia tidak bisa membaca." Hermione balas berbisik sambil tersenyum geli. Ia menatap pria di hadapannya dengan tatapan mengobservasi. Kagum. Oliver Wood belum banyak berubah. Dia masih saja terlihat gagah dan penuh kharisma, semua hal yang diperlukan untuk menjadi Kapten Klub Quiddicth tertua di Inggris, Puddlemere United.
"Hai, Bolono mi amor." Oliver mengalihkan perhatiannya dari Hermione ke Bellona, dan mencium dahi kekasihnya itu dengan perasaan sayang.
"Namaku, Bellona, Olive. Sampai kapan kau akan terus salah memanggil namaku?"
"Dan sampai kapan kau akan memanggilku Olive? Itu nama perempuan, tahu. Namaku Oliver, Baleno," balas Oliver santai.
"Kalian berdua masih selalu salah memanggil nama satu sama lain? Kalian kan sudah bertunangan. Bagaimana bisa?" Hermione tersenyum geli. Dia ingat kalau Oliver dan Bellona memang selalu salah menyebut nama kekasih mereka sejak masih berpacaran di sekolah dulu, tapi dia tak menyangka kekeliruan ini masih berlanjut sampai sekarang.
"Itulah, Mione. Aku sendiri percaya kalau Beleno perlu belajar mengeja lagi." EKspresi kalem Oliver berubah menjadi seringai kesakitan saat Bellona menghadiahinya cubitan kesal di pinggang. "Err, kami akan makan siang bersama. Kau mau ikut? Kita bertiga bisa ngobrol-ngobrol tentang banyak hal."
Hermione melirik jam dinding, mendesah saat mengetahui kalau sekarang sudah pukul dua belas siang lebih lima menit. "Tidak, terima kasih. Aku sudah ada janji dengan Severus untuk makan siang bersama. Dia pasti terlambat menjemputku karena masih sibuk di tokonya. Kalian duluan saja."
"Severus?" Kedua alis Oliver terangkat. "Severus Snape si Ahli Ramuan itu?"
"Dia calon suami Hermione, mi amor," jelas Bellona, menyikut pelan rusuk tunangannya sambil nyengir usil ke arah Hermione.
"Oh, benarkah? Jadi kalian berdua akan menikah? Astaga! Selamat, Hermione! Selamat!"
Hermione menyambut pelukan Oliver dengan senyum lebar. "Terima kasih, Oliver. Rencananya kami baru akan menikah musim panas tahun depan. Sedangkan kalian akan menikah bulan Januari, benar?"
Oliver melepaskan pelukannya dari Hermione dan kini ganti merangkul kekasihnya. Wajah mereka berdua tampak berseri-seri. "Sebenarnya kami ingin cepat-cepat menikah. Tapi Liga Quidditch belum berakhir dan juga masih ada beberapa pertandingan uji coba dengan Tim Nasional. Balenoku ini terpaksa harus bersabar."
"Well, kalian terlihat sangat bahagia."
"Oh, Hermione. Kau sendiri juga terlihat sangat bahagia," goda Bellona. "Aku tahu kau sangat mencintai calon suamimu."
"Di setiap hela nafasku dan di setiap tetes darahku. Ya, Bellona. Aku sangat mencintainya." Wajah Hermione bersemu merah. "Makanya aku tak sabar ingin segera menemuinya. Tapi dia belum juga datang menjemputku."
"Ngomong-ngomong tentang calon suami yang terlambat datang, Prince's Apothecary terlihat masih sangat ramai saat aku lewat tadi. Peluncuran Wolfsbane Nomor 5menyedot banyak perhatian. Aku melihat ada beberapa Auror dan pejabat Kementerian Sihir di sana. Juga Lucius Malfoy si Penyihir Jutawan itu," ujar Oliver Wood sambil menunggu Bellona mengenakan mantelnya. "Sudah siap, love? Oh, astaga. Mantelmu terbalik, Bolona. Ayo lepas lagi! Kubantu kau memakainya."
"Sudahlah. Tidak usah. Aku memang sengaja memakainya secara terbalik kok. Semua orang memakai mantelnya dengan cara yang itu-itu saja setiap hari. Aku ingin terlihat berbeda," seloroh Bellona, menepis uluran tangan Oliver.
"Ta—tapi kalau yang kau maksud ingin terlihat berbeda itu dengan cara memakai mantel terbalik di depan umum, kau malah akan dikira orang aneh, mi amor!"
"Kau ini cerewet sekali sih, Olive! Ayo cepat kita pergi! Aku sudah lapar, tahu."
Tak ingin mendengar bantahan lagi, Bellona segera menyambar tangan Oliver dan setengah menyeret tunangannya itu keluar toko. "Sampai jumpa besok di reuni, Mione!" ucapnya riang, melambai dari balik kaca etalase.
Hermione membalas lambaian tangan Bellona dan tersenyum geli melihat ekspresi memelas Oliver. Pasangan itu masih saja mesra dan heboh dalam setiap kesempatan, batin Hermione.
Pukul dua siang dan Severus masih belum menampakkan batang hidungnya. Hermione mengeluh dalam hati. Ia mulai merasa lapar, dan menyibukkan diri di depan katalog buku-buku tentang masak-memasak membuat perasaannya semakin tidak enak. Ia tahu Severus belum pernah terlambat sampai separah ini, dan gadis itu bisa memaklumi kalau Severus masih sangat sibuk dengan pekerjaannya. Tapi ia berpendapat kalau seharusnya kekasihnya itu tidak usah membuat janji yang tidak bisa ditepati seperti ini.
Hermione meletakkan buku terakhirnya dengan perasaan kecewa. Mungkin seharusnya ia menyusul Severus ke toko, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keramaian di toko itu. Siapa tahu saja dia akan menemukan hal menarik di sana. Melihat peluncuran Wolsbane Nomor 5 untuk pertama kalinya di London. Setidaknya itu akan lebih menyenangkan daripada harus menunggu Severus seorang diri di toko buku. Namun, belum sempat gadis itu beranjak dari sofanya, terdengar suara kenop pintu diputar. Ada seseorang yang baru saja memasuki tokonya. Dari suara langkah kakinya yang berat, sepertinya dia adalah seorang pria.
"Severus! Kau terlamba…"
Bibir Hermione terbuka lebar, shock mengetahui siapa yang datang. Ia tak pernah menyangka akan bertemu dengan orang tersebut. Tidak secepat ini dan tidak dalam keadaan seperti ini, tanpa Severus di sampingnya. Rasa kaget Hermione segera berubah menjadi kebencian yang mendalam. Kebencian yang tidak akan pernah reda sampai kapan pun. Pria tinggi berambut merah yang kini sedang berdiri terpaku di hadapannya ini pernah menghancurkan hidupnya sampai berkeping-keping.
"Ron!"
"Hermione!"
"Jangan mendekat!" Serta merta Hermione menodongkan tongkatnya begitu Ron menunjukkan gelagat ingin memeluknya. Gadis itu jijik, tidak ingin disentuh sedikit pun oleh pria yang telah mengkhianati cintanya dulu. "Jangan mendekat atau kau akan menyesal!"
"Ada apa denganmu, Mione honey?"
"A—apa? Setelah apa yang telah kau lakukan kepadaku, kau masih berani memanggilku seperti itu? Kau keterlaluan, Ron!" Dada Hermione terasa sesak, susah bernafas saking marahnya. Ia masih ingat apa yang ia lihat di kamar apartemennya saat menemukan Ron sedang bergumul tanpa busana dengan Lavender. Ini membuat perutnya mual. "Bagaimana kau bisa menemukanku?"
Ron menyeringai aneh. "Harry memberitahuku kalau kau baru saja punya toko buku di Diagon Alley."
Jantung Hermione seakan berhenti berdetak. Harry Potter, sahabat terpercayanya? Ia tak percaya kalau Harry setega itu kepadanya. Selama ini mereka memang selalu berkorespondensi lewat pos burung hantu, tak pernah kehilangan kontak, hanya sekedar memberitahu kabar mereka masing-masing. Meski begitu, Hermione ingat ia pernah memohon kepada Harry untuk merahasiakan keberadaannya dari Ron.
"Sayangnya aku tak bisa langsung menemuimu karena si tolol Bellona berlama-lama di sini, dan juga ada Oliver yang datang kemari. Aku harus menunggu sampai kau seorang diri di tempat ini, agar kita bisa berbicara empat mata. Aku butuh bicara denganmu, honey. Kau sudah menghindariku sejak setahun lamanya, tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Aku masih mencintaimu, Mione. Sangat."
Hermione mencium aroma alkohol yang menyengat dari tubuh Ron. Pria itu pasti sedang mabuk berat. Terlihat dari cara berjalannya yang sempoyongan dan wajahnya yang merah padam. Di samping itu, penampilan Ron terlihat menyedihkan. Kumal dan berantakan, seperti sudah lama tidak mandi. Rambut merahnya kini dibiarkan panjang sampai melebihi bahu dan dagunya dihiasi cambang tak beraturan. Entah cobaan hidup seberat apa yang bisa membuatnya tampak sefrustrasi ini.
"Tidak. Kau tidak mencintaiku, dan aku pun sudah tidak mencintaimu. Pulanglah ke Lavender, Ron!" tongkat di tangan Hermione bergetar ketika Ron berjalan semakin mendekat.
"Lavender?" Ron mengangkat kedua tangannya, berpura-pura bingung. "Well, ya… Kami memang sudah menikah. Tapi aku tak punya alasan untuk kembali kepadanya. Wanita berengsek itu… di—dia selalu saja rewel dan mengeluhkan tentang kondisi keuanganku. Padahal sejak awal dia sudah tahu kalau aku bukan berasal dari keluarga orang kaya. Lalu sekarang setelah jadi istriku, dia menyesal. Keparat!"
Hermione menggigit bibir bagian bawahnya. Ia mulai diliputi rasa cemas. Firasatnya mengatakan bahwa akan ada hal buruk terjadi kepadanya seandainya Severus tidak segera datang. Gadis itu takut Ron akan melakukan hal yang tidak ia harapkan. Apalagi mengingat kondisinya yang mabuk berat seperti ini.
"Kau percaya dengan kesempatan kedua, Mione? Bagaimana kalau kau memberiku kesempatan kedua? Akan kuceraikan Lavender sialan itu, lalu… lalu kita bisa menikah. Semua akan kembali seperti dulu," oceh Ron, tersenyum lebar. Ia terhuyung saat kakinya terserimpet karpet, namun bisa berdiri lagi meski harus berpegangan pada tepian sofa. Ia masih berusaha menggapai Hermione. "Kau dan aku bersama lagi. Pasti akan menyenangkan sekali."
"Tidak!" Hermione menggeleng, geram mengetahui betapa sepelenya hal ini bagi Ron. "Kau benar-benar berengsek, Ronald Weasley! Aku membencimu sampai ke ubun-ubun. Aku tak sudi kembali kepadamu. Tak akan pernah!"
"Ayolah, Mione…" Ron cegukan, terhuyung dan hampir menabrak dinding. "Aku tahu kau akan bahagia bersamaku. Kau ingat apa yang pernah kau katakan dulu kepadaku? Bahwa kita memang berjodoh? Bahwa kita memang ditakdirkan untuk bersama…"
"Itu kesalahan besar! Kita tidak berjodoh dan tidak ditakdirkan untuk bersama!" Hermione mundur beberapa langkah saat Ron mencoba merangkulnya. "Terlambat, Ron. Aku sudah akan menikah dengan pria lain. Pria yang benar-benar aku cintai."
"Si—siapa? Siapa bajingan itu?"
"Severus Snape. Dan dia bukan seorang bajingan. Kaulah yang bajingan!" Hermione mengayunkan tongkatnya tanpa ampun, jarak Ron sudah terlalu dekat dan pria itu nyaris menyentuhnya. Seketika tubuh Ron terhempas kuat hingga punggungnya menabrak rak buku. Pria itu jatuh merosot, terkulai di lantai sambil mengucapkan sumpah serapah. "Kau sudah kuperingatkan. Jangan menyentuhku!"
"Sev—Severus Snape? Ternyata kau sama saja dengan Lavender. Kau juga hanya mengejar materi. Setelah meninggalkanku, sekarang kau berpaling ke pria yang lebih kaya dariku. Wanita jalang!"
"Kita putus bukan karena kesalahanku, Ron. Itu kesalahanmu sendiri. Bahkan aku bersyukur kita putus. Seandainya tidak, pasti aku tak akan pernah tahu kalau ada pria yang jauh lebih baik darimu," ujar Hermione dingin. "Sekarang pergilah dari sini! Cepat pergi!"
Hermione terkejut saat tiba-tiba tongkatnya terlempar ke udara. Ketika gadis itu menyadari apa yang sedang terjadi, Ron sudah mengacungkan tongkatnya dengan ekspresi liar. Wajah pria itu murka sekali, terlihat sangat menyeramkan. Terhuyung-huyung, ia berdiri. Dengan langkah sempoyongan ia menyongsong Hermione.
Naluri Hermione serta-merta menggerakkan kedua kaki gadis itu untuk segera berlari. Panik dan ketakutan. Tanpa tongkat, tentu saja ia tak bisa berdisapparate atau sekedar membela diri. Beberapa kali Hermione meraih apa saja yang bisa digapainya untuk digunakan sebagai senjata. Ia melempar buku-buku ke arah Ron dan beberapa kali dapat mengenai wajah pria itu secara telak, sebagian besar lagi berhasil ditangkis dengan sihirnya. Tapi ini tak berarti banyak. Hanya membuat Ron semakin marah saja.
Kini Ron berada persis di belakangnya, mengejar dengan kekuatan amarahnya yang meluap-luap. Hermione bisa merasakan jantungnya berpacu dan nafasnya hampir putus. Ia sendirian dan tak bersenjata, sementara Ron terlihat sanggup melakukan apapun kepadanya. Di tengah kepanikan yang menguasainya, Hermione melangkahkan kakinya secepat mungkin. Ia masuk ke gudang penyimpanan buku, dan segera menutup pintunya sebelum Ron sempat mencapainya.
''Buka pintunya, Mione! Biarkan aku masuk!"
"Pergi!"
Detik berikutnya, Hermione hanya bisa menjerit saat pintu itu meledak tanpa ampun. Diiringi suara dentuman keras dan serpihan-serpihan kayu beterbangan, tubuhnya ikut terlempar dan jatuh berguling-guling di lantai. Ron masuk dengan kemarahannya yang meluap-luap. Ia sudah menghancurkan pintu, dan tak keberatan untuk menghancurkan apapun yang ia temui nanti. Kini ia berjongkok di samping tubuh Hermione. Tongkatnya teracung lurus ke leher gadis itu.
"Kau ingin membunuhku, Ron?" bibir Hermione bergetar hebat, sangat ketakutan. Ia mencoba bangkit dari lantai, namun ujung tongkat Ron berada dekat sekali dengan lehernya, memaksa Hermione untuk tetep terbaring di lantai.
Ron menggeleng, menyeringai lebar. "Lebih dari itu, Mione. Aku ingin membuatmu tak bisa menikah dengan Snape, atau siapapun juga kecuali aku. Kau tahu? Sudah lama aku menginginkanmu. Tapi kau pergi meninggalkanku sebelum aku bisa menikmatimu. Kau terlalu sok suci. Sok malaikat. Jauh berbeda dengan Lavender. Itu salahmu sendiri, Mione! Seandainya kau tidak jual mahal, maka aku tak perlu mencari-cari Lavender… Tubuhmu saja yang akan memuaskanku…"
Mendengar ini, kerongkongan Hermione tercekat. Airmatanya mulai mengalir deras. Sedih, takut, dan kacau. Gadis itu sudah tahu apa yang diinginkan Ron darinya. Sesuatu yang sangat buruk dan tidak diharapkannya terjadi. Hidupnya sudah berangsur membaik. Dia akan menikah. Perbuatan Ron ini akan menghancurkan segala-galanya. Bahkan akan jauh lebih parah dari yang pernah dilakukan pria itu terhadapnya dulu.
"Jangan, Ron! Kumohon jangan! Kau… Aku… Kita masih bersahabat, kan? Kumohon jangan!"
Namun Ron yang sudah dikuasai setan tak mau mendengarkan permohonan memalas ini. Kedua tangan pria itu terulur, menarik Hermione secara kasar, dan menyeret tubuh gadis itu menyusur lantai. Tanpa peduli tangis dan jeritan kesakitan Hermione, Ron menjambak rambut mantan tunangannya itu, membentaknya agar mau diam. Tetapi Hermione terus saja meronta-ronta dan berteriak-teriak saat Ron hendak menindih tubuhnya. Beberapa kali pukulan dan tendangan yang diluncurkan Hermione kepadanya tidak membuat Ron menghentikan aksinya.
"Tidak! Jangan!" Hermione berusaha membebaskan diri. Ia mencoba mencakar dan menggigit. Usahanya sedikit membuahkan hasil saat ia berhasil menempeleng wajah Ron kuat-kuat.
"Jalang keparat!" Umpat Ron keras. Ujung bibirnya mengalirkan darah segar. Ia semakin tidak sabar. Salah satu tangannya mengepalkan tinju dan melayang deras ke wajah Hermione. Pukulannya ini membuat Hermione berteriak kesakitan, menangis kencang. Pipi kanan gadis cantik itu memar. "Berani memukulku lagi, kau akan mati!" ancam Ron. Kedua matanya berkilat-kilat. Dia tidak sekedar melontarkan gertak sambal.
Puas menatap hasil karyanya yang tercetak di pipi Hermione, Ron menciumi wajah gadis itu bertubi-tubi. Ciuman kasarnya ini kemudian turun ke leher dan dada gadis itu. Ron agak kerepotan karena Hermione masih saja berontak. Maka Ron mengubah posisinya yang semula menindih tubuh sintal Hermione, sekarang jadi menduduki perutnya. Ia mencoba meredam pergerakan sia-sia Hermione, sambil menekankan kejantanannya yang mulai mengeras ke perut gadis itu. Ron hanya tertawa sinis saat menyadari sepasang mata coklat Hermione mendelik marah. Kedua tangan Ron mulai sibuk melepaskan satu-persatu kancing baju Hermione, menyibakkan kemeja itu sampai memperlihatkan bra di baliknya.
"Berteriaklah sesukamu, honey. Tak ada siapa-siapa di sini. Severusmu tidak akan datang! Kita akan bersenang-senang sampai puas!"
Ucapan keji Ron ini sontak membuat hati Hermione tersayat. Kedua matanya tak bisa berhenti mengalirkan airmata. Impiannya bersama Severus terlalu indah dan ia tak bisa membiarkan semua itu lenyap begitu saja. Ia masih ingat pembicaraan mereka tadi pagi tentang pernikahan mereka, rumah impian mereka, dan juga berapa jumlah anak-anak mereka nanti. Ia tak boleh membiarkan Ron menghancurkan segalanya.
Bibir Ron yang menguarkan aroma alkohol mencoba melumat bibirnya. Hermione menggeliat, memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, berusaha menghindar. Namun salah satu tangan Ron mencengkram kuat dagunya, menahannya agar tidak bergerak. Hal terakhir yang dirasakan Hermione dengan rasa sakit yang kian menusuk dadanya adalah bibir Ron yang mulai mencumbuinya kasar dan lidahnya yang merangsek masuk.
"Aaaaah! Bedebah!" Jerit Ron kesakitan. Serta merta ia menarik wajahnya menjauh. Di tengah situasi terjepit, rupanya Hermione masih berani melakukan perlawanan dengan menggigit lidahnya kuat-kuat. Pria itu tidak menyangka sama sekali. Ia murka. "Cukup! Kau akan mati, wanita jalang!"
Hermione memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan ujung tongkat Ron menusuk lehernya, menyakitinya. "Severus…" bisiknya lemah. Wajah kekasihnya itu mendadak datang membayangi pelupuk matanya. Betapa ia sangat mencintai pria itu, dan menyesal karena tidak bisa mewujudkan semua mimpi indah mereka. Airmatanya semakin deras menyadari sebentar lagi Ron akan membunuhnya.
"Kau yang akan mati!"
Tanpa diduga, terdengar suara ledakan keras dan membuat Hermione terlonjak kaget. Seketika itu juga tubuh Ron terlempar dari atas tubuhnya, terpelanting jauh diiringi teriakan kesakitan yang menyayat.
Hermione terbangun dari posisi berbaringnya, mencoba untuk duduk dengan sisa-sisa kekuatannya. Matanya sempat menangkap sosok berpakaian serba hitam yang kini menatapnya lekat-lekat dari ambang pintu dengan tatapan terluka. Severus.
Severus belum pernah terlihat semarah ini. Rongga dadanya bergemuruh. Darahnya menggelegak, nyaris meledakkan tubuhnya dalam hitungan detik. Airmata, lebam di wajah Hermione, dan bra yang nyaris tersingkap sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi saat ia tak ada di sini. Kekasihnya itu hampir diperkosa.
'Kubunuh kau!" raung Severus. Ia berlari menyongsong tubuh Ron yang masih terkapar, menduduki perutnya, dan menghadiahi beberapa kali tinju yang mampu meremukkan tengkorak pria itu.
"Hermione!"
Pria berambut gelap berantakan, berkacamata bulat, dan bertubuh tinggi berlari masuk dengan wajah cemas bukan main.
"Harry!"
"Oh, astaga!" Harry melepaskan jubahnya dan menyelimuti tubuh bagian atas Hermione yang nyaris terbuka. Ia memeluk sahabatnya itu erat-erat, berusaha meredakan tangisannya. "Apa yang terjadi, Mione?"
Namun Hermione bungkam seribu bahasa. Kedua matanya yang masih berlinang airmata terpaku lekat-lekat menatap pemandangan di hadapannya. Severus meninju wajah Ron berulang kali. Mungkin ia sudah mematahkan hidung pria berambut merah itu, atau mungkin malah merontokkan beberapa giginya. Hermione tidak peduli. Ia tahu kalau Ron sedang mabuk berat saat mencoba menggaulinya, namun ada sisi lain dari Hermione yang merasa bahwa Ron sangat pantas untuk mendapatkannya.
"Severus akan membunuh Ron," desis Hermione lirih.
Mendengarnya, pelukan Harry langsung terlepas. Pria itu kini berlari ke tempat di mana Ron sedang dihajar habis-habisan oleh Severus. Meski wajah Ron sudah babak belur bersimbah darah, Severus belum juga tampak puas. Roman mukanya masih dipenuhi amarah. Dia terus meluncurkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Ron. Hukuman yang setimpal atas perbuatan tak senonohnya kepada Hermione.
"Hentikan, Severus! Hentikan!" lerai Harry, berupaya keras menarik Severus dari atas tubuh Ron. "Hentikan, kumohon!"
"Biar kubunuh dia! Biar kubunuh keparat ini!" Di tengah upaya Harry untuk menjauhkannya dari Ron, Severus masih sempat menendang kuat-kuat tulang iga Ron. Pria berambut merah itu pun mengerang-erang kesakitan, berguling-guling di lantai sambil memegangi perutnya yang ngilu.
"Severus!" panggil Hermione memelas. "Kumohon lepaskan dia!"
"Apa?" Severus melotot murka, membuat Harry terpaksa harus memegangi tubuhnya erat-erat demi meredam amukannya. "Setelah apa yang ia lakukan kepadamu? Ia hendak memperkosamu, Mione! Bahkan kau hampir dibunuhnya!"
"Kalau Ron sampai terbunuh dan kau dijebloskan ke Azkaban, lalu bagaimana dengan diriku? Pikirkan tentangku, Sev! Aku masih membutuhkanmu di sini. Aku sangat membutuhkanmu." Hermione mengatakannya dengan suara terisak. Masih sangat shock dan trauma. Ia masih bisa merasakan ketakutan dan ketidakberdayaannya. Juga bagaimana jamahan-jamahan kasar Ron di sekujur tubuhnya dan cumbuannya yang menjijikkan di sekitar wajah dan dadanya. Mau tak mau, kejadian ini membuatnya merasa rapuh. Ia membutuhkan Severus di sisinya melebihi sebelumnya.
Perkataan Hermione ini membuat Severus tertohok, sadar akan kekhilafan yang didasari oleh emosinya yang tak terkontrol. Pria itu pun tak perlu berpikir dua kali untuk memeluk Hermione erat-erat, berusaha menenangkan gadisnya. Nada bicaranya melunak. Amarahnya mulai terkikis sedikit demi sedikit. "Maafkan aku, sweetheart. Maaf. Aku ada di sini bersamamu. Aku ada di sini."
Harry menatap pasangan yang sedang berpelukan itu dengan perasaan yang tidak karuan. Di sisi lain, Ron dan Hermione adalah sahabatnya. Sementara dirinya adalah seorang Auror yang seharusnya menegakkan kebenaran. Melihat apa yang baru saja terjadi tadi membuat hatinya bimbang. Nuraninya terusik. Ia tak bisa memilih salah satu di antara dua sahabatnya itu. Ia tahu perbuatan Ron salah, dan Azkaban adalah tempat yang pantas untuk pelaku kejahatan semacam itu. Tapi ia tak sampai hati untuk menahan Ron. Di samping itu, mabuk berat bisa menjadi faktor yang memperingan perbuatan kriminal Ron.
"Kau akan membayarnya, Hermione…" geraman Ron membuat semua orang terkejut. Pria itu berdiri dengan susah payah, berpegangan pada dinding supaya tidak kehilangan keseimbangan. Hidung dan bibirnya mengucurkan darah segar, namun tak menyamarkan ekspresi gusar dan penuh dendam di wajahnya. "Kau akan membayarnya."
Sebelum Harry sempat bertindak, terdengar bunyi ledakan keras. Mendadak Ron sudah tak ada lagi di tempatnya. Dia berdisapparate, meninggalkan Hermione yang semakin gemetar hebat dalam pelukan kekasihnya. Gadis itu sangat ketakutan mendengar ancaman ini.
Belum tamat kok
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Kasihan Hermione. Kasihan Severus. Sebel juga sama Harry yang kurang tegas menentukan sikap. Update berikutnya bisa jadi bakal cepat dipublish asal ada review-review segar n menggelitik untuk suplemennya. Hayo REVIEW! ^0^
Terima kasih banyak untuk temen-temen yang sudah mereview chapter selanjutnya dan juga yang masih tetep setia mereview. D Neuer, lopelope, Ketsueki Kira Fahardika, Oryn, Sun-T, Aicchan, Selene de Lune, Miyu, dan Mamehatsuki. Tidak lupa juga terima kasih buat my lil sista, Stephanie, yang selalu menagih dan mengingatkan aku buat buruan nulis. Dukungan kalian selalu banyak berarti bagiku. -kecup satu-satu-
mamehatsuki : Facebook dan twitter saya ada di author profile. Jangan lupa nyatakan siapa dirimu kalau mau nge-add ya! Siapa tahu kita bisa sharing banyak hal tentang fanfic dan SevMione. ^^
