Cerita di bawah adalah original karangan 'Aesha'

Disclaimer : Card Captor Sakura dan karakter2nya asli milik CLAMP yang legendaris.

Have a nice read :)


Aturan Tujuh:
Bermimpi tentang bosmu bukan hal yang bagus,
Apalagi kalau kamu
mengigau dalam tidur.

oOo

Sakura menjatuhkan dirinya ke sofa ketika sampai ke apartemen, membuang sepatu berhak-nya ke seberang ruangan dan melempar tas tangannya kemanapun jatuhnya barang itu. Ia tidak peduli dengan si bokong tikus yang ia anggap sebagai teman sekamar tentang "ketidakperempuanan"-nya. Ia terlalu lelah untuk peduli kesan apa yang dilihat pria itu. Dia alasan dibalik kesengsaraannya. Dia harusnya meminta maaf karena memperlakukannya seperti ini. Seorang wanita seperti dirinya, jika ia boleh mengatakan sebagian karena dirinya, tidak boleh bekerja keras.

Ia mungkin bukan keturunan bangsawan, tapi keluarganya masih di kalangan menengah, melihat posisi ayahnya sebagai arkeologis yang disegani. Ia seharusnya tidak diperlakukan seperti ini. Mendorong dan menyeret-nyeret kulkas, memperbaiki selokan, kebocoran, dan pipa-pipa—belum lagi memperbaiki toilet orang lain—ini bukan pekerjaan idealnya. Ia ingin menjadi sekretaris, dan ia mendaftar untuk menjadi sekretaris.

"Oh, Tuhan, aku gak bisa merasakan apa-apa lagi..." ia mengerang.

"Berhenti mengeluh."

Mengeluh? Siapa yang mengeluh? Ia cuma mengekspresikan rasa sakitnya—apa salahnya dengan itu?

Ia tidak repot-repot menjawab pria itu, dan dia tidak mengatakan apa-apa juga. Sakura menutup matanya dan menahan keheningan itu—terlalu hening. "Syaoran...?" ia memanggil.

"Apa?" pria itu menjawab.

Setidaknya ia tahu pria itu masih berada dalam ruangan. "Gak apa-apa," ia menjawab. "Kamu ngapain?" ia menambahkan, merasa bosan sendiri. Karena beberapa alasan, rasanya tidak benar jika tidak bisa mendengar suara pria itu. Seperti ia akhirnya merasa itu suatu kebiasaan mendengar suaranya. Aneh tapi pada saat bersamaan, terasa normal.

"Melihat sesuatu," kata pria itu.

"Majalah porno?" Ia tidak bisa menahan mengeluarkan komentar—keluar begitu saja.

Ia mendengar dengusan pria itu. "Aku gak selamanya mesum, tahu."

"Jadi kamu mengakui kalau kamu mesum?"

"Aku kan laki-laki."

Ia tidak bisa membantahnya—dia memang seorang laki-laki. Ia memutuskan untuk tidak mengindahkan topik itu dan bangun dari tidur santainya di sofa. "Aku mau mandi," kata Sakura.

"Sebelum kamu pergi—kamu mau makan malam apa?" tanya Syaoran.

"Masakan Cina," ia dengan santainya menjawab pria itu. Syaoran menggumam sendiri ketika ia pergi meninggalkan ruangan.

zZz

Sakura mendesah nikmat setelah mandi busa yang sangat lama. Bersantai ketika mandi adalah jawaban wanita untuk segala kelelahannya, khususnya jika sang wanita bekerja untuk seorang pecinta kerja, yang juga teman sekamarnya yang tidak ada baik-baiknya. Sakura dengan cepat memakai gaun malamnya. Ia memastikan untuk tidak memakai sesuatu yang 'memperlihatkan', mengingat dengan siapa ia tinggal. Tidak ada alasan baginya untuk menyebabkan reaksi yang tidak diinginkan dari teman sekamarnya—itu bakal menjadi neraka... atau malah surga?

Ia membasuh wajahnya dan melakukan perawatan malam. Ia punya satu untuk semua—untuk jerawat, moisturizer, keriput, anti-aging, dan lain-lain. Terima kasih Tuhan untuk peralatan ajaib ini. Mereka adalah jawaban dari semua masalah wanita di dunia. Sayang sekali masalahnya Sakura tidak bisa dipecahkan dengan botol-botol ajaib itu.

Sementara Sakura memikirkan kegelisahannya, kata-kata Syaoran tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Pria itu dengan mudahnya berkata bahwa ia terlalu paranoid tentang ha-hal seperti ini—pria itu juga mengatakan kalau kecantikan itu datang secara alami, bukan dibeli dengan uang dan tidak keluar dari botol.

Dan bagaimana pria itu bisa tahu masalahnya?

Pria itu memergokinya mengagumi wanita yang merayunya. Well, tidak perlu kaget, sebagian besar kliennya adalah wanita dan sembilan puluh sembilan koma sembilan persen dari mereka merayu pria itu. Sakura terlalu sibuk menggerutu sendiri sampai-sampai ia tidak menyadari pria itu kembali ke mobil, dan dia mendengarnya mengatakan sesuatu yang mirip 'dasar dada gede bego' dan bagaimana 'Tuhan itu tidak adil' dalam dunia wanita. Pria itu tertawa dan menyarankannya untuk membeli bola stres daripada 'menggumam' sendiri. Dan kalau ia memang menggumam sendiri, maka ia harusnya belajar bagaimana melakukannya tanpa terdengar orang lain.

Setelah kejadian memalukan itu, Sakura mencatat dalam hati untuk membeli bola stres secepatnya. Ia bertanya-tanya apa ia bisa memesan bola dengan bentuk kepala Syaoran.

Sakura melihat jam di dinding, terkejut mendapatinya sudah berada di kamar mandi hampir selama dua jam. Ia segera beberes dan berjalan keluar untuk memberitahu teman sekamarnya bahwa ia tidak mati tenggelam di bak mandi. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi menutupnya cepat ketika ia melihat pria berambut cokelat itu tertidur di sofa, memeluk bantal di dadanya. Sakura memaksa dirinya untuk menahan tawa gelinya. Pria itu terlihat... erm... imut tertidur seperti itu. Seperti bayi, pikirnya.

Mata gadis itu segera memandang sekilas makanan di meja. Ia mengedipkan matanya, tidak mampu berkata-kata. Dia memasak makan malam?

Ia pikir pria itu akan memesan makan malam dari restoran Cina atau semacamnya. Ia tidak tahu kalau pria itu akan benar-benar memasak makan malam mereka. Apa dia menunggunya selesai mandi?

Sakura menghela napas, mengacak-acak rambutnya frustasi. Ini terjadi lagi. Pikirannya terhadap Syaoran teracak-acak lagi. Ketika ia mengiranya seorang bajingan, pria itu melakukan hal yang begitu manis dan... dan... kata-kata tidak cukup untuk menggambarkannya. Yang bisa ia pikirkan hanya: Kenapa...?

Ia mengambil selimut dari lemari dan dengan lembut menyelimutinya. Ia mendengarkan napas pria itu sembari mengamatinya. Pria itu pasti sangat lelah, lebih lelah dibandingkan dirinya. Sekarang ketika Sakura mengingat-ingat, ia merasa malu dan bersalah karena menyalahkan rasa sakitnya kepada pria itu. Bukan berarti pria itu tidak melakukan apa-apa, dan menikmati melihatnya bekerja membanting tulang. Pria itu membantunya di pekerjaan yang berat... dan yang ringan. Oke, jadi yang Sakura lakukan hanya mengobrol dengan pelanggan dan terlihat cantik saja. Ia membawakan kotak perkakasnya, yang ngomong-ngomong beratnya ringan—itu termasuk melakukan sesuatu, kan?

Sakura ingin menampar dirinya sendiri karena bersikap seperti seorang bocah cengeng.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Walaupun ia mengatakan kata-kata yang tidak pantas pria itu dapatkan, Syaoran tidak mengatakan apa-apa dan hanya tersenyum ketika ia mengeluh terus-menerus tentang bagaimana tidak beruntungnya ia bekerja untuk pria itu.

Sakura duduk dan berusaha mengingat semua kata-kata yang ia katakan pada pria itu. Oh, Tuhan... ia mengingat beberapa kata-kata tidak halus yang ia gunakan. Aku seorang perempuan jalang.

Sakura merasa jijik dengan dirinya sendiri. Ia selalu mengatakan kalau ia membenci orang yang menilai orang lain berdasarkan pandangan pertama, tapi, ia memperlakukan pria itu karena pandangan pertamanya terhadap pria itu. Sebenarnya lebih ke pandangan keduanya daripada pandangan pertamanya yang mengarahkan anggapannya bahwa pria itu tidak lain adalah seorang bajingan mesum.

Ia bahkan tidak berusaha mengetahui diri Syaoran lebih baik. Tapi, walaupun melalui kata-kata tidak baik yang ia lontarkan padanya, pria itu masih bertahan dengannya.

Aku benar-benar orang yang mengerikan.

zZz

"Oke. Apa seseorang menculik Kinomoto Sakura yang lama dan menggantinya dengan orang lain, atau aku masih bermimpi?" adalah reaksi Syoaran ketika lelaki itu bangun dan menemukan Sakura membuatkan sarapan untuk mereka. Itu bukan sembarang sarapan juga—ia membuat omelet lembut yang besar dan ia menyiapkan segelas susu untuknya. Beberapa hari yang lalu ia hampir membunuhnya karena meminum susu kotaknya, dan hari ini ia memberikannya? Dunia akan segera berakhir.

"Apa maksudmu dengan 'apa seseorang menculik Kinomoto Sakura yang lama' huh? Apa salahnya dengan 'aku' sebelum—tunggu..." Sakura berhenti di tengah kalimat. "Kamu bermimpi tentang aku?"

Syaoran berdeham. "Aku gak pernah bilang begitu."

Sakura memutar matanya. "Well, apa kamu akan makan?"

Pria itu hanya menatap sepiring omelet seperti berdebat apakah ia harus memakannya atau tidak. Sakura menghela napas jengkel sebelum menambahkan, "Aku tidak meracuninya."

Syaoran tersenyum lembut. "Aku gak berpikir tentang itu," katanya. "Aku cuma... terkejut."

"Kenapa?"

"Kamu bersikap baik."

"Apa aku orang yang jahat?"

"B-Bukan, maksudku bukan begitu," lanjut pria itu. "Hanya saja... biasanya kamu gak begitu baik kepadaku, seperti kamu membenciku."

Sakura merasa tertohok karena kata-katanya. Apa itu yang dia pikirkan—ia membencinya? Ia tidak pernah bermaksud untuk memberinya anggapan seperti itu.

Benar, ia tidak begitu menyukai pria ini, tapi ia tidak pernah membencinya. Ambil contoh ia dan Eriol. Nah, pria itu benar-benar menarik urat sarafnya tapi ia tidak membencinya—ia hanya mempunyai rasa tidak suka yang besar padanya. Tunggu... bukankah keduanya sama saja?

Ah, peduli amat.

"Tapi, terima kasih," kata pemuda itu, duduk di kursi dan mencoba omelet buatan Sakura. "Ya Tuhan. Aku mohon kamu baik kayak gini terus. Ntar aku makan omelet enak terus tiap pagi."

Sakura tersenyum kecil mendengar komentarnya. "Hei, Syaoran..." Sakura memulai pelan. "Aku cuma mau minta maaf."

Pria itu berhenti makan dan menatapnya bingung. "Untuk apa?"

"Tingkah lakuku kemarin," kata gadis itu. "Aku bertingkah seperti bocah cengeng."

Pria itu tertawa. "Aku gak bisa lebih setuju dari itu."

Sakura berusaha keras untuk tidak melototinya. "Aku berusaha bersikap sopan, tahu."

"Aku tahu." seru Syaoran. "Dan aku bersikap jujur. Kamu bersikap seperti bocah."

Sakura memutar matanya. Ia menyerah—mereka tidak akan pernah setuju terhadap apapun. "Aku akan berusaha bersikap tidak seperti bocah mulai dari sekarang."

"Tambahkan biar gak paranoid juga."

"Kamu minta kebanyakan."

Pria itu tersenyum kecil. "Gak ada ruginya mencoba," kata Syaoran.

"Kamu tahu... kamu gak jelek juga," Sakura dengan santai berkomentar.

"Kamu baru sadar?"

Sakura tidak bisa menahan memutar matanya... lagi. "Kamu benar-benar ke-pede-an"

"Maksudmu ketampananku?"

Sakura menyambar gelas susu dari pria itu ketika dia meraihnya. "Si sombong Syaoran tidak berhak mendapat susunya Sakura."

Pria itu menaikkan sebelah alisnya. "Susunya Sakura?"

Sakura memijat keningnya. "Kamu benar-benar mesum."

"Dan kamu tahu kamu sayang aku karena hal itu." Pria itu mengedipkan matanya dan mengambil segelas susu dari tangan Sakura.

Sakura menghela napas pelan. Dia tidak seratus persen salah. Jangan berpikir yang tidak-tidak—ia tidak mencintainya, jika itu yang kamu pikirkan. Persetan. Ia bahkan tidak berpikir ia menyukai pria itu segitu banyaknya.

"Jadi..." ia mengubah topik pembicaraan. "Hari ini apa yang kita lakukan?"

"Sayang sekali aku gak bisa kerja hari ini." Sakura tiba-tiba melompat dari duduknya dan berteriak 'Oh, mama!' sangat kencang. "Aku lebih memilih 'Oh, papa'."

Sakura berusaha agar komentarnya tidak merusak momen perayaannya. "Kenapa kita gak kerja hari ini?"

"Aku punya rencana yang harus kuurus," lanjut lelaki itu. "Janji gak penting di sini dan sana... tahulah. Aku gak tahu kenapa kamu begitu senang sih. Aku cuma bilang kalau aku gak bisa kerja hari ini, bukan berarti kamu gak kerja."

Sakura mengerutkan dahinya. "Kamu bercanda, kan?"

"Aku butuh kamu di rumah dan menelepon beberapa orang," kata Syaoran.

Kerutan di dahi Sakura semakin dalam. "Tolong bilang kamu cuma bercanda."

Pria itu menelan susu hingga tetes terakhir dan menaruh gelasnya di meja, menepuk perutnya. "Kamu si sekretaris."

Yah. Ia harusnya meracuni omeletnya, tapi hati nuraninya yang reseh menghalanginya.

Benar-benar. Amat. Sangat. Bagus.

zZz

"Miss Yoko?" Sakura berkata di telepon. "Hai, aku sekretarisnya Mr. Li. Aku meneleponmu untuk memberitahu kalau beliau tidak bisa datang hari ini, tapi beliau akan datang begitu jadwalnya kosong. Maaf untuk pemberitahuan yang mendadak."

Ia segera menutup telepon, meninggalkan wanita di seberang telepon tidak punya waktu untuk bertanya tentang bosnya yang bodoh. Sakura belajar dari itu dari pengalaman yang berat. Ketika menghadapi klien dan sembilan puluh sembilan persen dari mereka itu single atau janda, katakan keperluanmu dengan cepat dan kabur dari cengkraman mereka secepat yang kamu bisa.

Sakura melihat daftar nama di catatannya dan mengerang. Masih ada seperempat lebih yang belum, yang mungkin butuh dua atau tiga jam lagi. Ia menghabiskan sepanjang pagi menjawab dan menelepon sampai-sampai ia merasa mual melihat telepon.

Kapan penderitaan ini akan berakhir?

Jika ia harus mendengar suara wanita lain bertanya tentang Li Syaoran, ia akan mencabut kepalanya dan memberinya ke hiu atau semacamnya. Apa bagusnya dia sih? Dia itu menjengkelkan, mesum, kasar—memang, pria itu sangat tampan, dan dia bisa bersikap manis, tapi itu tidak bisa menutupi semua kualitas buruknya. Itu kualitas buruknya, kan? ...Apa dia punya kualitas yang buruk?

Sakura, apa yang kamu katakan pada dirimu sendiri! Sakura menampar dirinya dalam hati.

Walaupun, ia sedikit penasaran apa yang wanita-wanita itu lihat dari diri lelaki itu. Fantasi apa yang mereka bayangkan ketika melihat bosnya?

Sakura mencondongkan tubuhnya ke meja, menyangga dagunya dengan kedua tangannya sembari mencoba membayangkan apa yang mungkin wanita-wanita itu pikirkan tentang Li Syaoran. Tiap salah satu dari wanita-wanita itu menginginkannya—mereka tidak hanya menginginkannya sesimpel itu—mereka MENGINGINKAN pria itu.

Ia melihat jam dan mendesah pelan. Masih jam dua belas siang lewat sedikit. Ia mengistirahatkan kepalanya di meja, perlahan memejamkan matanya, dan menguap pelan. "Aku masih belum melihat apa yang bagus darinya," renungnya.

Sakura jatuh ke tempat tidur, mencengkeram kerah Syaoran, dan menarik pria itu ke arahnya. Lelaki itu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, atau dia mencoba untuk mengatakan sesuatu, tapi Sakura tidak memberinya kesempatan. Ia menggunakan kesempatan itu untuk menarik pria itu ke arahnya, menghilangkan jarak di antara mereka. Pria itu dengan lembut menarikan lidahnya di atas bibir wanita di bawahnya.

"Oh, Syaoran..." ia mengerang pelan. "Syaoran..."

"Well, ini jarang-jarang kan?"

Mata Sakura langsung terbuka. Kemudian kenyataan menghantam tepat di wajahnya ketika ia menatap dengan mulut menganga pada pria yang berdiri di depannya. "Tuhan..."

"Jadi kamu benar-benar memimpikan aku?" ia menyeringai angkuh, berjalan mendekatinya.

"J-Jangan mendekat!" Sakura panik, berdiri dan mundur ke belakang.

Pria itu menyeringai. "Dilihat dari bagaimana kamu mengerang nikmat dalam tidurmu, aku pikir kamu ingin lebih... Sa-ku-ra." Ia merasakan lututnya gemetar hanya mendengarnya menyebut namanya seperti itu. "Kamu berharap kalau itu bukan mimpi, kan?" Pria itu mendekat. "Kamu menginginkan..." Semakin dekat. "Kamu sangat menginginkan..." Pria itu memojokkannya sampai ia tidak punya tempat untuk lari. "Kamu menginginkan aku."

"Jangan buat aku menendangmu di sana lagi!" Sakura mengancam lelaki itu.

Syaoran mengabaikan ancamannya dan menekan tubuh Sakura ke dinding, dengan lembut mencium lehernya. Pria itu menghentikan ciumannya di tengkuk dan kembali lagi ke leher. "Jangan menyangkalnya, Sakura..." Pria itu berkata dan mengisap daun telinga wanita itu dengan lembut.

Syaoran menyelipkan sebelah tangannya ke balik baju Sakura, merasakan kelembutan kulit wanita itu, sementara tangannya yang lain turun hingga ke pinggang menyentuh lekuk tubuhnya. Sakura merasa sedikit rapuh.

Ia merasa jantungnya berdebar lebih cepat dan tubuhnya menginginkan sesuatu. Ia tidak yakin apa sesuatu itu, tapi seolah-olah tubuhnya merespon sentuhan pria itu dengan sendirinya karena meminta lebih.

Ia memejamkan matanya dan memeluk erat-erat leher pria itu. "... please..." katanya terengah-engah.

"Sakura?"

"Hm..."

"Bangun, baka!" suara seseorang tiba-tiba terdengar keras entah darimana.

Sakura membuka matanya dan menemukan dirinya melihat Syaoran yang sedang kesal. Ia mengucek matanya dan melihat jam—6:37 PM? Ia tertidur selama enam jam? Tuhan, itu berarti...

"Hoeee... itu mimpi!" ia berseru.

Okey. Apa yang salah dengannya, atau apakah ia sebenarnya kecewa karena itu hanya mimpi?

"Kamu mimpi apa? Aku bisa dengar eranganmu dari lorong di luar—jangan-jangan... jangan kasih tahu aku apa mimpimu," kata pria itu. "Kecuali... tentu saja, aku ada di dalamnya."

Lelaki itu mengedipkan mata dengan imut kepadanya.

Sakura mengerang dan menepuk keningnya.

Ohh, coba kamu tebak. Ia berpikir jengkel dalam hati.

Bagaimana bisa ia memimpikannya? Dan itu bukan sembarang mimpi. Bisa memimpikan ia menginginkannya di dalam mimpi sudah cukup buruk, tapi tidaaaaak! Ia malah memimpikan dirinya menginginkannya di dalam mimpi yang ada di dalam mimpi lain.

Apa ini efek pria itu terhadap wanita? Sakura berpikir sendiri sembari menatap punggung pria yang menuju kamar mandi itu.

Jika itu benar...

Persetan. Aku dalam masalah besar.


A/N: slesai jg chappie ini! Tlong tinggalkan review,, Hmm.. saran dan kritik juga skdar halo tetap diterima :)

terima kasih juga untuk yang meninggalkan review untuk chapter2 sblmnya,, terutama QRen yang ninggalin review di tiap chapter :),, thanks a lot, ak kena tipes jd ak hrz byk istirahat, tp ak g da kerjaan n g bz diem jd ak bz translating ini ckup cepet,, skrg uda smbuh ko (tp jd byk kgiatan n translate-nya aga ngadet2 gt),, thanks jg utk doanya ^^

Yey! akhrnya blh jg magang,, prasaan dibanding ngebantu, ak lbh byk gangguin,, tp krn cm sminggu.. sdikit gajinya,, hehe.. hr ni brakhir sudah magangku,, intinya sih cm ingin tau gmn suasana kerja n gmn cara mreka bersosialisasi,, byk bgt pljrn yg bz kuambil,, jd lbrn ni g sia2 dg nganggur ngulet2 g jelas d kamar,, haha ;)

have a nice day~

-ilie-