previous chapter...

"Kau ingat saat kau dan Chanyeol menjemputku untuk makan siang di restoran Prancis?"

Tentu saja Sehun ingat. Sehun mengangguk.

"Aku heran kenapa kau tidak ikut masuk ke dalam."

Itu karena Chanyeol menahanku.

"Ternyata karena di dalam ada Tantemu."

Sehun kaget menerima informasi ini.

"Seorang wanita cantik menghampiri kami dan menyapa Chanyeol, lalu mengajak kami untuk bergabung dengan dia dan suaminya. Tapi Chanyeol menolaknya. Katanya, wanita itu Tantemu, kalau tidak salah namanya Hyun…"

"HyunA…"

"Kau tidak harus mengenalkanku pada Tantemu, aku tahu itu terlalu cepat."

"Kau akan berkenalan dengannya. Kau pantas untuk mengenal satu-satunya keluargaku."

Luhan menatapnya tak percaya, tapi Sehun melihat kegembiraan di matanya. Sehun mengangguk dan memeluknya sayang.

Sekarang melihatnya seperti ini, merasa gembira karena akan berkenalan dengan seseorang yang Luhan pikir keluarganya, Sehun tidak akan tega untuk tidak mengenalkannya pada 'Tantenya'.

Sehun mendekapnya erat. Jika memang harus hancur, hancurlah… Selama Sehun tidak harus kehilangan Luhan, tidak apa-apa.

.

DON'T LIKE! DON'T READ!

.

REMAKE HUNHAN GS! ROMANCE DRAMA FAMILY MATURE

pichaa remake hunhan ver

Emptiness Of The Soul

by Andros Luvena

.

Chapter 7: Retak

.

.

.

Sehun pikir semuanya akan baik-baik saja... Pada awalnya semuanya memang baik-baik saja...

Mereka menemui Tiffany, makan siang bersamanya, dan berbincang-bincang dengannya sejenak. Sehun senang karena Tiffany terlihat menyukainya, tak henti-hentinya dia menceritakan kecerobohan Luhan semasa kecil, membuat wajah Luhan merah padam dan Sehun tidak berhenti tertawa lebih karena melihat reaksinya.

Sungguh, Sehun tidak pernah merasa selengkap ini sebelumnya. Sore hari, Sehun mengajak Luhan ke apartemennya, menembus hujan yang masih setia membasahi bumi. Dalam perjalanan, jika ada kesempatan, Sehun selalu memperhatikan Luhan dengan senyuman yang terus mengembang pada bibirnya.

Sehun menyukai penampilan Luhan sore ini, dia mengenakan celana jeans ketat. T-shirt orange cerah, mempunyai garis leher yang lebar, memperlihatkan sebagian bahunya yang terlihat kontras dengan warna T-shirt itu.

Dan Sehun suka dengan kombinasi karet lebar pada bagian bawahnya, membuat kaos itu menggantung di atas pinggangnya, sehingga jika Sehun beruntung, Sehun bisa mengintip perut Luhan yang selalu membuatnya ingin menyentuhnya dengan lidahnya.

Di dalam lift, Sehun melihat muka Luhan yang agak pucat, dan ketika pintu lift terbuka, dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Sehun menggenggam tangannya lembut.

"Ayo..."

Gumam Sehun pelan, mengajaknya ke luar dari lift. Luhan tak bergeming, pandangannya sama sekali tidak fokus.

"Kurasa sebaiknya aku pulang, Sehun,"

Seharusnya Sehun menurutinya, dan mengantar Luhan pulang, tapi bukan itu yang ia lakukan...

"Tidak sayang, kau sudah berada di sini. Ikutlah denganku..."

Sehun mencium tangan Luhan yang berada dalam genggamannya untuk menenangkannya.

"Apa menurutmu ini tidak terlalu cepat?"

"Tidak ada yang terlalu cepat. Kita bertemu, kita saling jatuh cinta dan tertarik satu sama lain, lalu kita menjalin hubungan serius, itu sederhana."

Sehun berkata lembut untuk membujuknya. Luhan terlihat bimbang,

"Tapi..."

Ucapan Luhan terhenti dan berganti dengan pekikan ketika Sehun mengangkat tubuh mungilnya dan meletakkan Luhan di atas bahunya,

"Tidak ada tapi." Gumam Sehun tanpa basa-basi.

Luhan berteriak-teriak dan memukul-mukul punggungnya sekuat tenaga, Sehun hanya terkekeh menerima pukulannya.

"Turunkan aku, Sehun! Aku tidak suka diperlakukan seperti ini, turunkan aku!"

Luhan benar-benar terdengar kesal. Sehun membuka pintu apartemen,

"Sebentar lagi sayang..."

Lalu Sehun menurunkan Luhan saat berada di dalam apartemennya. Luhan mendengus kesal, wajahnya merah padam.

"Kau membuatku marah."

Luhan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atasnya, tangannya terlipat di depan dada dan Luhan terlihat sangat marah.

Demi Tuhan... Luhan terlihat seksi ketika marah.

Kejantanannya terasa mengeras di bawah sana. Sehun menghampirinya dan berlutut di depannya, meraih tangan Luhan yang terlipat di depan dadanya untuk ia genggam.

"Maafkan aku..."

Sehun memasang wajah memelas. Luhan memutar bola matanya. Demi bolanya, posisi berlutut Sehun kali ini benar-benar membuatnya tersiksa. Menahan rasa sakit di area vitalnya, Sehun menggigit bibir bawahnya.

"Kalau kau mau, kau bisa bercerita kenapa kau tidak suka diperlakukan seperti itu."

Sehun berusaha membujuknya. Sesaat Luhan menatapnya, kemudian dia terlihat lebih santai. Bahunya mulai melemas.

"Itu karena ayahku..."

Sehun mengangkat sebelah alisnya, mendorongnya untuk terus bercerita.

"Dulu, jika aku nakal atau tidak mau menurut, Ayah selalu mengangkatku di atas bahunya dan membawaku ke gudang untuk mengurungku..."

Sehun berusaha menyembunyikan senyumnya. Luhan menatapnya tajam,

"Itu tidak lucu."

"Aku tidak menganggapnya lucu."

Tapi Sehun tidak bisa menahan senyumnya yang semakin melebar.

"Kau tertawa."

Sehun memalingkan mukanya, menghindar dari tatapan Luhan.

"Tidak."

Dan kemudian, ketika Luhan menyipitkan matanya, menyelidik kesungguhannya, Sehun tergelak. Luhan merengut, dia kembali menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sehun berdiri dan duduk di sampingnya, berusaha menghentikan tawanya.

"Kau menyebalkan," gumam Luhan kesal.

"Kau tahu kenapa kami para pria senang melakukan itu padamu?"

Luhan meliriknya, dan meskipun kesal, dia terlihat tertarik dengan jawabannya.

"...Karena kau sangat menggemaskan."

Sehun mendekap tubuh Luhan, menariknya hingga punggungnya menempel di dadanya. Sesaat tubuh Luhan menegang, kemudian Sehun meletakkan dagunya ke atas puncak kepalanya dan mengayun-ayunkan tubuhnya lembut.

"Maafkan aku..."

Perlahan tubuh Luhan merileks, dan terlihat menikmati ayunannya.

"Kau berjanji tidak akan melakukannya lagi?"

Sehun menyeringai, "Maaf sayang, sepertinya aku tidak bisa berjanji. Aku sangat menyukai tubuh mungilmu berada di atas bahuku."

Luhan menarik tubuhnya dari dekapan Sehun, berusaha melepaskan diri. Tapi Sehun menahannya dan membalik tubuh Luhan hingga dia menghadap padanya dan membuat tubuh Sehun telentang di atas sofa dengan Luhan berada di atasnya.

Wajah Luhan sangat dekat dengan wajahnya, Sehun bisa melihat dengan jelas ketika pipinya merona, ia rasa itu karena Luhan merasakan sesuatu yang keras menusuk perutnya.

Sehun kembali menyeringai, "Kau merasakannya. Bagaimana kau selalu bisa membuatku bergairah?"

Luhan semakin merona, dia menahan tubuhnya dengan kedua lengannya. Itu sama sekali tidak berarti baginya, Sehun menariknya lebih keras, membuat Luhan lebih dekat dengannya. Kini telapak tangan sampai sebatas siku Luhan menempel di dadanya. Mata bulat Luhan terbuka lebar, terlihat gugup dan malu.

Sehun menekan leher Luhan ke arahnya, membuat bibir Luhan yang sedikit terbuka menempel pada bibirnya, dan Sehun merasakan sentakan keras pada jantungnya.

Demi Tuhan, berkali-kali Sehun menciumnya, dan berkali-kali juga Sehun terbakar.

Ciuman Sehun penuh gairah... sangat menuntut... sangat mendesak. Seolah-olah Sehun tidak akan pernah merasa cukup puas dengan bibirnya. Sehun tergoda, lidahnya membelai bibir tipisnya, membujuknya agar terbuka lebih lebar. Membiarkan Sehun masuk ke dalamnya, menikmati setiap sensasi yang ia rasakan, yang membuat letupan-letupan dalam dadanya.

Oh Tuhan... Sehun sangat menyukai kelembutan bibirnya. Sehun melepaskan ciumannya, melihat ke dalaman mata coklat Luhan yang kini meredup.

Sehun bangkit, dan membuat Luhan terduduk di pangkuannya. Luhan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Sehun, saat Sehun berdiri. Sehun mengangkat pantatnya sedikit lebih tinggi dan melangkah meninggalkan ruang tamu.

Matanya tak pernah lepas dari mata Luhan, Sehun sengaja melewati kamar khusus dan memasuki kamarnya. Sehun tidak akan bercinta dengan Luhan di kamar khusus, bukan karena di sana ada lingerie milik HyunA, tapi karena Luhan pantas untuk mendapatkan lebih dari sekedar kamar khusus.

Kamar khusus tempat biasa Sehun berhubungan seks dengan sekian banyak wanita. Sehun hanya tidak ingin Luhan menjadi salah satu dari mereka.

Luhan... bukan HyunA, bukan juga wanita satu malamnya. Sehun ingin memilikinya seumur hidupnya. Dan kamarnyalah satu-satunya tempat yang pantas untuknya, dimana Sehun tidak pernah bercinta dengan seorang wanita-pun di sana.

Sehun merebahkan tubuh Luhan di atas ranjang king size-nya, membuat tubuh mungilnya tenggelam di kasurnya. Terburu-buru melepas sweater abu-abu gelap yang ia kenakan dan meletakkannya begitu saja di lantai.

Lalu Sehun merangkak menghampiri kaki Luhan, membuka celana jeans ketat yang digunakannya dan menariknya hingga terlepas dari kakinya. Sehun terpana melihat apa yang dipakai Luhan, tangannya gemetar saat Sehun meraih karet lebar Tshirt-nya dan menariknya ke atas, melepaskannya dari tubuh Luhan.

Luhan tersenyum sensual saat melihat Sehun yang menatapnya tak berkedip.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Luhan malu-malu.

"Sangat..." Sehun menelan air liurnya, "Cantik."

Apa lagi yang harus Sehun katakan?

Luhan mengenakan G-string berenda yang membuatnya tidak bisa bicara, hanya mengagumi dan mengagumi keindahannya.

"Kemarilah, sayang."

Sehun menarik tangannya dan menggeretnya ke sofa yang ada di kamarnya.

"Berdirilah di hadapanku."

Gumamnya parau. Sehun ingin memanjakan matanya dengan keindahan Luhan. Sehun duduk di atas sofa dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, membuka kakinya agar lebih terasa nyaman.

Luhan berdiri di hadapannya dengan canggung, Sehun menikmati kecanggungannya. Sehun rasa ia bisa orgasme hanya dengan melihat Luhan seperti ini.

"Katakan padaku," kata Sehun dengan suara serak, "Apa kau melakukan ini untukku?"

Luhan menatapnya dari balik bulu matanya yang panjang dan lentik, dan meskipun rona merah menjalar di pipinya, Luhan tersenyum sensual.

"Ya."

Damn!

Jawaban pendek Luhan membuatnya semakin keras. Sehun mulai mengelus ereksinya, menatap payudara Luhan yang tertutup kain tipis berenda, sama sekali tidak menghalangi keindahan puncaknya.

Pandangan Sehun turun pada perutnya yang rata tanpa otot, lalu meluncur turun ke keindahan yang satunya, yang nyaris membuat nafasnya tersedot habis. Kain segitiga transparan yang berada di atasnya tidak bisa menutupi keindahannya.

Di kedua ujung segitiga itu, terdapat renda yang berbentuk bunga-bunga kecil menggantikan tali, melingkari pinggulnya. Sehun merubah elusan pada ereksinya menjadi remasan, nafasnya sudah mulai memburu.

"Berbaliklah, sayang..." Suara Sehun tercekat di tenggorokan.

Luhan berbalik, membiarkan rambutnya tergerai ke samping melewati bahunya. Tenggorokan Sehun mendadak kering melihat bokongnya yang sempurna. Perlahan Sehun menghampirinya dan berlutut di belakangnya.

Sehun meremas bokongnya, mengusapnya dengan lembut, lalu tangannya berpindah ke pinggulnya, menekannya lembut saat Sehun menciumi bongkahan bokongnya. Luhan menggelinjang, Sehun memuaskan dirinya merasakan kehalusan daging kenyal itu, menelusuri tiap inch-nya dengan penuh kenikmatan, sesekali menggigit kecil, membuat Luhan memekik.

Tangannya mulai turun menyusuri paha mulusnya, membelainya dengan lembut. Lalu bergerak mendekati intinya, dan meletakkan ujung jarinya pada pusatnya. Membelai ujung klit-nya, merasakan sensasi luar biasa yang Sehun rasakan pada perutnya saat mendengar Luhan mengerang karena itu.

"Sehun..."

Kepalanya terasa dipenuhi aliran darah, Sehun merasa pening dalam artian yang bukan sebenarnya. Luhan benar-benar membuatnya kacau. Sehun berdiri dan melepaskan celana denimnya, bersamaan dengan boxer putih yang ia kenakan. Lalu Sehun memeluknya dari belakang, mencumbu bahunya dan meremas lembut payudaranya.

Sehun memajukan pinggulnya hingga penisnya terselip di antara kedua bongkahan bokong Luhan, Luhan mengerang... Luhan mendongakkan kepalanya hingga tersandar di bahu Sehun.

Sehun mencari bibirnya, merasakan nikmatnya saat bibir mereka bertemu, memagutnya dengan frustasi. Sehun memutar tubuh Luhan hingga menghadapnya tanpa melepas bibir mereka, menangkup bokongnya dan mengangkatnya dengan mudah, membantunya mengaitkan kaki Luhan pada pinggangnya.

Luhan melingkarkan kedua tangannya pada leher Sehun, Luhan membalas ciumannya penuh gairah. Sehun berjalan mundur dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa, memilin tali renda yang melingkari pinggul Luhan dan menariknya, hingga membuat G-string yang dipakainya terkoyak dan terlepas darinya.

Sehun menggeram merasakan daerah basah Luhan menyentuh penisnya, Luhan mengangkat pinggulnya sedikit, memberikan ruang agar penis Sehun bisa memasukinya.

Dan... Sehun pun meleleh saat kehangatan Luhan melingkupi penisnya. Kelembutan dan basahnya mengakibatkan gejolak yang begitu kuat dalam perutnya, menjadikannya sebuah gelombang besar yang menghantam setiap sisi dirinya. Luhan bergerak naik turun di pangkuannya, menggesek setiap inch kulit Sehun dengan kelembabannya.

"Sayang..."

Gumam Sehun serak, tangannya meremas pinggul Luhan yang telah menyiksanya. Membantunya mempercepat gerakannya,

"Oh... Lu..."

"Ya Sehun... Ya..."

Luhan mengikuti iramanya, lalu dia melengkungkan punggungnya dan memekik. Sehun merasakan ledakan yang menghancurkannya. Membuatnya berkeping-keping dan berserakan.

"Luhan... Oh..."

Sehun memeluk tubuh Luhan yang bergetar, meletakkan wajahnya pada lekukan lehernya yang beraroma manis. Sehun melonggarkan pelukannya ketika merasakan tubuh Luhan mulai melemas, dan mencium keningnya lembut.

Lalu Sehun beranjak dari sofa, dengan penisnya yang masih berada di dalam diri Luhan. Membawa Luhan ke ranjangnya dan berbaring di sana. Sehun mengusap rambut Luhan dan mencium matanya yang masih terpejam, lalu menatapnya dengan pandangan sayu.

"Maafkan aku..." Gumam Sehun.

Luhan membuka matanya, mengelus pipinya dengan tangannya.

"Kenapa?" tanya Luhan. lembut.

"Aku melakukannya lagi." Luhan mengangkat alisnya. "Aku bercinta denganmu tanpa menggunakan pengaman."

"Apa kau..."

Luhan menatapnya ragu-ragu. Sehun terbelalak ketika mengetahui arah pembicaraannya.

"Tentu saja tidak. Sialan, aku tidak terkena HIV sayang."

Luhan terkikik geli, "Lalu, kenapa kau terlihat cemas?"

"Itu bisa membuatmu... hamil... Kau tidak khawatir?"

Luhan membelalakkan matanya. Sehun merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri yang sudah begitu ceroboh. Tapi kemudian mata Luhan melembut, dan Luhan membelai perutnya sayang.

"Apa itu artinya, aku akan mempunyai bayi?"

Gumamnya pelan, Luhan menunduk memandangi perutnya. Itu membuat Sehun frustasi.

"Kau tidak khawatir?"

Luhan menatapnya, "Kenapa harus khawatir? Aku bisa merawat bayi."

"Ehm, tapi kita belum menikah."

"Bukankah kau akan menikahiku?"

"Tentu saja." Jawab Sehun cepat. "Tentu saja aku akan menikahimu."

Itu sudah ada dalam rencananya sejak Sehun menyadari bahwa ia mencintai Luhan. Luhan bergelung di dadanya.

"Lalu, kenapa harus khawatir? Kau akan menikahiku, entah itu besok atau seratus tahun lagi. Aku tidak peduli selama kau ada di sisiku Sehun..."

Gumam Luhan dengan suara mengantuk. Sehun mendekapnya, dan mengelus rambutnya. Tak berapa lama kemudian, Luhan sudah tertidur. Dengkuran halusnya membuat Sehun merasa nyaman.

Sehun menghela nafas panjang. Sehun akan menikahi Luhan, itu pasti. Sehun harus memastikan Luhan akan menjadi miliknya selamanya. Tapi... Begitu banyak hal yang harus diselesaikan Sehun.

.

.

.

Indra penciuman Sehun menangkap aroma yang terasa familiar dalam ingatannya, melihat ke samping, Sehun tersentak dan membuka mata, panik ketika melihat Luhan sudah tidak lagi berada di sampingnya.

Sehun bangkit dan setengah berlari ke luar dari kamar, merasa lega ketika menemukan Luhan berada di dapur. Sehun tersenyum. Membayangkan beberapa tahun kedepan Luhan akan selalu ada di dapurnya, hatinya terasa hangat.

Luhan berdiri di depan kompor, mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci yang sedang dimasaknya. Menyadari kehadirannya, Luhan melambaikan tangannya yang memegang sendok sayur ke arah Sehun.

Sehun menghampirinya dan menempelkan tubuhnya ke punggung Luhan. Luhan mengenakan kaos oblong miliknya dan Sehun merasa terangsang saat menyadari Luhan tidak mengenakan apapun dibaliknya.

"Ada aroma yang enak di sini,"

Sehun melongok dari atas bahu Luhan untuk melihat apa yang dimasaknya.

"Kau masak apa? Kelihatannya lezat."

Sehun memperhatikan kuah santan kekuningan yang sedang diaduk-aduknya.

"Bubur ayam,"

Sehun tertegun, ingatannya kembali ke puluhan tahun silam...

"Chanyeol bilang, kau sangat suka bubur ayam."

Luhan mematikan kompor dan berbalik menghadapnya, menyadari perubahan wajah Sehun, Luhan terlihat cemas.

"Kau tidak keberatan aku memasak bubur ayam kan?"

"Tentu saja tidak."

Sehun beranjak ke meja makan dan menarik kursinya, lalu duduk di atasnya.

"Kemarilah, hidangkan bubur ayam itu. Aku membutuhkan tenaga ekstra untuk kegiatan setelah makan." gumam Sehun dengan seringaian pada wajahnya.

Luhan merona ketika menyadari maksudnya. Luhan berbalik dan menyiapkan bubur ayam di dua mangkuk keramik. Lalu Luhan menghampiri Sehun dan meletakkan sebuah mangkuk di hadapannya, menarik kursi yang ada di depannya dan duduk di atasnya.

Luhan memperhatikannya ketika Sehun menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya. Sehun merasa ingin menangis saat bubur ayam itu melewati tenggorokannya.

"Kau tidak suka ya?"

Tanya Luhan cemas, menyalahartikan ekspresi Sehun.

"Aku suka, ini... enak sekali." Sehun tersenyum dan menatapnya lembut, "Terima kasih, sayang..."

Luhan terlihat lega, Luhan mulai menyendok bubur ayam itu dan meniupnya pelan-pelan.

"Kau tahu... Dulu Ibuku berjualan bubur ayam di depan rumah."

Luhan berhenti meniup, perhatiannya teralihkan padanya.

"Setiap pagi aku makan bubur ayam."

Sehun terkekeh mengingat kenangan itu. Luhan meletakkan sendoknya, dan menjadikan kedua tangannya sebagai penopang dagunya. Luhan tersenyum dan menatap Sehun lembut.

"Rasa bubur ayam buatanmu, sangat mirip dengan buatan Ibu. Sangat enak dan gurih..."

Sehun kembali menyuapkan bubur itu ke mulutnya.

"Makanlah, sayang. Aku tidak mau kau menjadi lemas setelah ini."

Luhan kembali merona, Luhan meraih sendoknya dan mulai memakan bubur ayamnya. Sehun memandangnya dari balik bulu matanya, merasa geli melihat reaksi Luhan.

"Sehun..."

Sehun merasa ada petir yang melintas di kepalanya ketika mendengar suara itu. Sehun berpaling ke arah pintu dan melihat dia di sana. HyunA. HyunA menatapnya, kemudian berpaling memperhatikan Luhan.

Sehun panik ketika HyunA menghampiri mereka, Sehun berdiri, dan dengan langkah lebar ia menghampirinya sebelum HyunA sampai ke tempat dimana Luhan sedang menatapnya bingung.

"HyunA, tolong..."

HyunA mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Sehun, dia tetap melangkah ke arah Luhan.

"Halo," HyunA mengulurkan tangannya pada Luhan, "Sepertinya kita pernah bertemu."

Luhan berdiri dan menyambut uluran tangan HyunA, Luhan mengangguk.

"...Oh ya... Aku ingat, kita memang pernah bertemu. Luhan kan? Waktu itu kau bersama Chanyeol."

Sehun tidak heran jika HyunA mengingat nama Luhan. Luhan kembali mengangguk. Sehun menghampiri mereka dan duduk di kursinya. HyunA duduk di antara mereka.

"Duduklah."

Kata HyunA ketika melihat Luhan masih berdiri.

"Hmmm... Rupanya kau masak bubur ayam, sepertinya enak. Maukah kau mengambilkan satu mangkuk untukku, Luhan?"

"Tentu saja."

"Biar aku saja."

Sehun berdiri mendahului Luhan dan mengambilkan semangkuk bubur untuk HyunA. Sehun meletakkan mangkuk bubur itu di depannya.

"Sepertinya kalian baru melewati malam yang panjang." gumam HyunA melirik Luhan dengan pandangan menggoda.

Luhan merona, "Maaf Tante, aku harus ke kamar dulu."

Luhan beranjak dari duduknya. Sehun meraih tangannya ketika Luhan melewatinya,

"Aku temani."

"Aku hanya ganti baju, Sehun." Bisik Luhan, "Nanti aku ke sini lagi."

Sehun melepaskan tangannya dan membiarkan Luhan pergi.

"Dia cantik." Gumam HyunA. Sehun berpaling dan menatapnya.

"Kumohon. Jangan ganggu dia."

HyunA hanya tersenyum. "Tadi sebelum ke sini, aku mencarimu ke kamar khusus. Kamar itu masih sangat rapi, sepertinya kau tidak memakainya semalam. Dia pasti gadis yang rajin. One night stand-mu sebelumnya tidak pernah seperti itu."

"Dia bukan one night stand-ku." Desis Sehun, "Dan kami tidur di kamarku semalam."

HyunA terhenyak. HyunA menatapnya, sekilas Sehun melihat luka di sana, tapi HyunA menyembunyikannya dengan baik.

"Kau tidak pernah membawa gadis ke kamarmu sebelumnya," gumam HyunA lirih. "Kau juga tidak mengijinkanku tidur di kamarmu, sampai sekarang aku tidak tahu kenapa. Tapi Luhan..." HyunA mendesah, "Sepertinya aku sudah kalah."

Sehun luluh melihatnya seperti itu, "HyunA... aku..."

"It's okay Sehun. Aku mengerti. Aku akan bersikap baik pada gadismu."

Sehun merasa senang mendengar HyunA menyebut Luhan sebagai gadisku. Dan merasa percaya padanya...

"Terima kasih."

HyunA tersenyum. Seharusnya Sehun memperhatikan senyumnya yang agak berbeda saat itu.

"Sehun."

Sehun menoleh dan melihat Luhan menghampiri mereka dengan senyum malu-malu di bibirnya. Luhan memakai baju yang dikenakannya kemarin, tapi sekarang dengan rambutnya yang masih acak-acakan membuat penampilannya terlihat lebih sensual.

Sehun menatapnya tak berkedip.

"Sebaiknya kau ke luar untuk membelikan Luhan baju, Sehun. Sepertinya dia tidak membawa baju ganti."

Sehun merasa sedikit curiga, kenapa HyunA bisa tahu Luhan tidak mengganti bajunya?

Tapi ketika melihat HyunA tersenyum dan mengedipkan mata menggoda pada Luhan, Sehun menghilangkan kecurigaannya. Mungkin HyunA hanya menebak.

"Okay."

Sehun mendorong kursinya ke belakang dan berdiri,

"Kau mau ikut?" Tanya Sehun pada Luhan .

"Luhan di sini saja, ada banyak yang perlu kami bicarakan, ya kan Luhan?"

HyunA mengucapkan itu dengan nada yang bersahabat. Sama sekali tidak menunjukkan adanya kecemburuan, lebih seperti... seorang kakak yang ingin mengenal pacar adiknya.

"Kau tidak keberatan?"

Luhan menggeleng, "Tentu saja tidak."

Sehun mengangguk setuju, "Okay, aku pergi dulu ya."

Sehun menghampiri Luhan dan mengecup ujung bibirnya. Luhan merona, merasa malu, dan Sehun terkekeh senang.

.

.

.

tobe continue

.

.

.

24 Januari 2018

Jeng jeeng jeeeeeng.. luhan ama hyuna udah ketemu ya guysss, dari review2 sebelumnya ada yg nunggu2 pertemuan mereka, apa yang bakal terjadi???? Hyuna bakal ikhlasin sehun / sebaliknya??

Ka, penasaran banget ni ama kisah internya luhan ama keluarganya? Xiaolu masih idup ama udah mati sii ka??Tenang, ini nanti bakal terungkap kok, sekarang masih fokus ke masalahnya sehun yaa hhehe

Cuman ama luhan, sehun bisa terbuka tentang masalalunya ya ka? Yes! Betul banget, SEMUA sehun ceritain ke luhan. Sampe ke bubur ayam pun cuman luhan yg tau alasannya kkkkkk~

Ka, luhan itu gak baik ya? Dia suka hujan gara2 xiaolu dulu hilang pas hujan, jd cuman luhan yg nantinya bakal diperhatiin ama keluarga nya, bener gak ka?? Bener gak yaaaaa.. hehehee nanti bakal ketauan kok beibbbb

Oke segitu dulu yaa aku bales reviewnya, makasih lhooo udah review dan tanya2 hehehe Maaf kalau ada typo yaaa.. See yuuu... mucch~