Author's Note:
Aline ucapkan special thanks buat: Icha Yukina Clyne, Uchiha Hazuki-chan, Yuuto Tamano, hana 'natsu' phantomhive, 127 summerwings, Ran Ishibazaki, Misyel, Tsu Xynless-XXI, The Lonely Crimson, dan Marsel, yang sudah nge-ripiu chapter sebelumnya. :)
.
.
Disclaimer: Gakuen Alice miliknya Tachibana Higuchi.
You're Not Natsume
A Gakuen Alice Fanfiction
by: Aline Light
Chapter 7
~Perasaan yang Terbalik~
.
.
Aku tertarik masuk kedalam time hole. Aku terdampar. memasukki sebuah lubang hitam yang berputar-putar. Aku rasa jika aku memasukki lubang ini aku pasti takkan kembali. Aku terus memasukki dimensi yang berubah, dimana setiap aku mencoba membuka mata untuk melihatnya maka aku akan masuk ke dalam dimensi lainnya. Aku tak membuka mata dan itulah titik kesalahannya, karena saat aku membuka mata...
Gelap. Hitam, kondisi dimana tak ada sedikitpun cahaya. Kenapa semua tampak hitam? Apakah aku tak pantas mendapatkan sebuah cahaya dan warna? Diam, sunyi, dan dingin. Kini aku sadar, hitam adalah kegelapan yang tak berujung... dan aku berada di dalamnya.
"Hai, Apakah itu kau?" sebuah suara menyeruak di sekelilingku dan menggema teratur. Aku hanya bergidik mendengarnya.
"Siapa itu?" kataku pelan, mencoba mencari asal suara dengan menoleh kanan kiri. Tapi bahkan aku tak bisa melihat suatu apapun. Lalu aku menunggu detik-detik berikutnya untuk mendengar suara itu datang, tapi mungkin itu hanya khayalan palsu.
Tiba-tiba sebuah cahaya mulai berpendar sedikit demi sedikit dari ujung penglihatanku. Aku mencoba meraihnya, namun cahaya redup itu hilang.. Bak harapan yang sirna seketika...
Padahal aku berharap aku akan menemukan setitik cahaya, tapi lagi-lagi aku hanya dalam kegelapan yang sempurna...
Aku berusaha mencari cahaya itu kembali, tapi mustahil. Lalu aku duduk memeluk lututku di sudut kegelapan. Apakah aku selamanya akan seperti ini? Hanya menunggu seseorang untuk menjemputku? Betapa menyedihkannya aku.
"Hai, apa benar itu kau?" suara itu datang lagi. Aku mempersiapkan telinga untuk mendengarkan apa yang akan ia katakan. Mungkin dia yang bisa mengeluarkan aku dari tempat ini.
"Ya. Ini aku," jawabku sok tahu.
"Hahaha.. Mengutuklah kau! kutuk dirimu sendiri karena tidak ada satupun yang mau menolongmu!"
Dia tertawa. Membuat semua pijakkanku serasa bergetar hebat. Lalu pelan-pelan suaranya menghilang lagi. Mungkin lenyap dimakan kegelapan.
Sebentar...
Aku menyelidik dan ternyata benar yang kurasakan seperti 'orang mengatakan sesuatu' itu hanya pikiran dan imajinasiku saja. Khayalan. Aku melengos.
Aku memeluk lututku kembali disudut kegelapan. Membenamkan wajahku dalam kedua telapak tanganku yang dingin.
Hei, cobalah sedikit mengerti aku! Meskipun aku terus dalam kegelapan seperti ini dan selamanya seperti ini, tetapi aku masih sanggup berdiri, aku masih sanggup berbicara… Meski suaraku serak karena saking seringnya aku menangis, namun aku tak mengeluh, sekali lagi aku tekankan, aku tak pernah mengeluh!
Hanya saja terdengar sedikit aku tak suka dengan tempat ini, tapi aku tak pernah benar-benar mengeluh melalui pikiran dan ucapanku. Sebenarnya aku cuma menanti sebuah tangan terulur mengajakku keluar dari susana hitam ini… Maka, kumohon tolonglah aku!
Tunggu dulu... Aku tak butuh pertolongan! Setidaknya sekarang aku bisa merasakan apa yang dirasakan Natsume saat ia berada dalam kegelapan. Apakah seperti ini?
Apakah seperti ini, Natsume?
...Natsume?
Natsume's POV
'Tidak!'
"TIDAK!" aku berteriak kencang dengan mata terpejam. Aku terengah-engah menyadari mimpi yang barusan aku alami. Itu hanya mimpi, namun kenapa tampak begitu nyata? Aku hanya bisa menghapus keringat yang keluar dari pori-pori keningku.
'Mikan.'
Lagi-lagi namanya yang selalu menggema dalam pikiranku. Nama itu mengusikku setiap detik-detik ini. Meskipun aku menyangkalnya, tapi aku yakin bahwa dialah wanita pertama yang pernah begitu aku rindukan. Bahkan sampai saat ini. Meskipun dirinya tak hinggap dalam memori otakku, entah kenapa sosok itulah yang sangat aku inginkan. Yah, memang sebelumnya aku menyangkal, tapi entahlah... aku tak paham akan perasaanku sendiri.
Mengenai mimpi, aku yakin kalau mimpi buruk yang barusan aku alami berawal dari kejadian semalam….
~Flashback~
Saat itu ada sebuah pikiran untuk mengikuti tingkah-polah mereka dari belakang, dari tempat yang tidak terlihat membuat aku heran sendiri. Mengendap-endap seperti pencuri dan sembunyi di balik pohon sakura saat mereka merasakan auraku….
Waktu itu adalah malam hari yang gelap gulita. Dingin karena sehabis hujan menjadi sebuah cuaca yang tak terelakkan detik itu, namun badanku yang sedang sedikit sakit ini kupaksakan untuk mengikuti pikiranku. Rasa pening yang menyerah kepalaku tak aku pedulikan.
Kulihat Tsubasa, Tono, dan Mikan diujung Hutan Utara. Merencanakan sebuah rencana yang tak bisa aku dengar karena suara angin mendera kencang, namun bisa kubaca bibir mereka yang mengatakan itu dengan jelas bahwa itu adalah rencana yang brilian.
Setelah aku memperhatikan mereka dari jarak yang lumayan jauh untuk menguntit, tiba-tiba datanglah dua sosok lagi, Hotaru dan… Luca! Hei, kenapa Luca juga ikut dalam rencana busuk itu? Bahkan Luca tak menceritakan apa-apa padaku! Luca tak pernah menyembunyikan sesuatu hal yang kecil sekalipun… Lalu ada apa sih sebenarnya ini?
Beralihlah pendanganku yang dari tadi hanya tertuju pada Mikan, kini aku memandangi wajah Luca. Aku mencoba menerka-nerka apa yang dia sembunyikan dariku. Tapi kenapa… tapi kenapa pandangan matanya begitu sedih? Redup. Mati.
Aku melamun sejenak untuk berpikir, akan tetapi setelah aku menoleh kembali aku seperti tertinggal sesuatu yang penting….
Tiba-tiba mereka telah saling mengeratkan pengangan tangan satu sama lain. Memejamkan mata dan….
Sedetik kemudian mereka lenyap. Bagai asap. Tak tersisa. Hanya angin malam yang dingin yang membuat aku menggigil.
Aku terheran-heran. Tertegun hingga mematung.
Bukan! Yang membuat aku berdiri kaku dan mematung seperti ini bukan karena pemandangan bagai hantu yang bisa menghilang itu, namun kata-kata yang Mikan dan Luca ucapkan terakhir kali sebelum semuanya lenyap dari penglihatanku….
"Aku akan melakukan ini, semua demi Natsume," kata Mikan dan Luca saat itu bersamaan. Meski sedikit aku meragukannya karena gemerisik daun sakura di atasku, namun aku yakin 99,9 persen bahwa hal yang aku dengar itu adalah benar.
'Jadi, rencana apa sebenarnya itu?'
Aku menunggu. Berharap bahwa alice yang mereka gunakan itu bukanlah alice teleportasi yang bisa berpindah tempat. Jika benar itu adalah alice transportasi, maka percuma saja aku menunggu di sini dengan wajah penasaran menanti mereka.
Satu menit... Dua menit... Lima menit.
...Sepuluh menit.
...Tiga puluh menit.
Arrrgh! Aku benci menunggu! Kapan mereka akan kembali?
Baiklah, aku memutuskan aku hanya akan menunggu lima menit lagi. Namun sebelum benar-benar aku menunggu lima menit, mereka tiba….
Kulihat mereka kembali berdiri ditempat semula. Melingkari seseorang yang kutahu itu adalah Hotaru. Hotaru menutup wajahnya dengan tangan. Aku yakin dia sedang menangis sejadi-jadinya dan tak ingin ada seorangpun yang melihat tangisannya itu. Tapi,… Mana Mikan?
Aku menyipitkan mataku mencari Mikan, namun tak ada sosoknya. Di balik pohon sakura yang besar ini aku mendengar perkataan mereka dengan jelas….
"Hotaru, aku sangat menyesal," kata Tsubasa dengan wajah memang menyesal.
"Jangan salahkan dirimu, Bodoh!" Tono mencela dan malah terdengar dia mencoba menenangkan Tsubasa.
"Aku tahu, tapi Mikan…?" Tsubasa tertunduk menenggelamkan wajahnya.
'Ada apa dengan Mikan? Mengapa Mikan tidak ada? Mengapa mereka menangisi itu?' tanyaku dalam hati.
Aku merasa bahwa aku sedikit melankolis, tapi sungguh, aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi.
Aku melihat Luca. Wajahnya kini berubah tambah pucat, air mata menggenang di sudut matanya. Matanya berair.
Kemudian tanpa berkata sedikitpun Luca berlari meninggalkan mereka sambil menyeret lengan Hotaru. Hotaru mendongakkan kepalanya kepada Luca, membaca ekspresi Luca. Luca hanya memandangi mata Hotaru seolah menggunakan telepati, lalu Hotaru-pun mengangguk. Aku tak mengerti bahasa apakah yang ada diantara mereka sampai-sampai bisa membaca pikiran satu sama lain.
"Hei, Luca! Mau keman…?" belum sempat Tono bertanya, Tsubasa menyela, "Pasti mereka mencari Nodachi."
"Aku tak habis pikir Mikan, Luca, dan bahkan Hotaru bisa berkoraban demi Natsume itu,"
"Iya. Rencana untuk memakai time travel alice dari awal aku sudah tidak menyetujuinya. Itu rencana yang bodoh, tapi demi Natsume mereka yakin mau melakukannya, terutama Mikan. Aku tak tega melihatnya memohon waktu itu… Tapi ini 'kan akibatnya…? Mikan jadi tumbal dari rencana yang tergesa-gesa," jelas Tsubasa panjang lebar.
Aku terdiam sambil berpikir.
'Time travel? Mereka melakukan semuanya demi aku? Apa yang terjadi padaku? Apakah semua yang dia katakan itu benar? Jadi Mikan benar-benar seseorang yang peduli padaku?'
Aku tak bisa berpikir lagi. Apakah aku menyesal? Aku tak tahu.
Tapi aku masih penasaran dimana Mikan berada. Kupasang lagi pendengaranku untuk menyadap (baca: menguping) pembicaraan mereka.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Mikan. Time hole itu menyedot tubuhnya begitu cepat. Apakah itu lubang hitam? Oh, tidak. Jika benar, aku tak bisa memaafkan Natsume sialan itu. Tch, gara-gara dia... Coba saja dia tidak bersikap menyebalkan dan jadi hilang ingatan seperti orang bodoh!" Tsubasa jengkel. Menumpahkan seluruh amarahnya sampai-sampai urat di keningnya tercetak rapi.
"Sudahlah, ini juga bukan salah Natsume. Lebih baik kita mengikuti Luca dan Hotaru mencari Nodachi," kata Tono menenangkan. Dia tampak lebih tenang, namun dialah yang merasa yang paling bersalah karena dia tak mampu menjaga adik kelasnya.
Mereka kemudian pergi entah kemana aku tak peduli. Tinggal aku sendiri.
'Dia masuk time hole?' tanyaku dalam hati. Akh, aku tak peduli! Sekali lagi aku mencoba menyangkal.
Aku kembali ke kamarku dengan langkah lunglai. Mencoba tenang dan membaringkan tubuhku di ranjang yang sangat empuk.
'Sedang apa, Mikan?' pikirku.
Aku melamun. Terus melamun hingga mataku sayu dan akhirnya masuk ke alam mimpi...
~End of Flashback~
Hah, mimpi yang menyebalkan. Kenapa setiap kali aku tidur selalu saja bermimpi buruk. Aku mendengus kesal.
'Mikan.'
Tch, wajahnya yang sedang menangis selalu saja muncul setiap saat. Aku benci. Tak ada ingatan tentangnya, tapi entah... aku merasa aneh ketika menatap mata hazel miliknya. Seperti ada desiran yang membuat aku bisa mendengar degupan jantungku sendiri. Rasanya sakit dan terkadang menyenangkan.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Aku memutuskan akan keluar sebentar untuk menghirup udara malam. Barangkali hal itu dapat menenangkan hatiku yang sedikit galau. Sebelum aku keluar, terlebih dahulu aku mencuci wajah dan mengambil jaketku yang tebal.
"Natsume," tiba-tiba seseorang memanggilku dari belakang sedetik setelah aku keluar kamar. Aku mengenal suara itu dan secepatnya aku menoleh, "Luca?" tanyaku tak percaya.
"Kenapa malam-malam begini kau…?" tanya kami serempak.
"Aku tak bisa tidur," jawabku asal.
"Yah, aku juga."
Hening.
"Mau kemana, Natsume?" tanyanya dengan wajah tak bersalah. Aku sebal melihat wajahnya yang seolah-olah tak terjadi apa-apa, padahal dia telah menyembunyikan hal yang sangat penting.
"Aku mau keluar sebentar," jawabku dengan nada dan wajah yang datar. Aku berjalan tanpa beban melewatinya dan tak menoleh kembali.
"Natsume, mau kutemani?" tanyanya.
"Tidak usah. Aku ingin sendiri."
Ketika saat-saat sebuah masalah menderaku, aku selalu membicarakannya pada Luca. Tak tahu, mungkin karena dia yang telah menyembunyikan sesuatu itu membuatku amat kesal.
Aku menghentikan langkahku. Sunyi.
Dia tak mengejar atau mencela kata-kataku. Ketika aku menoleh ke belakang dan ingin melihat ekspresinya, ternyata dia telah hilang. Tanpa suara. Dasar!
Malam semakin larut dan dingin. Aku berjalan pelan ke tempat terakhir kali aku menguntit mereka. Yah, di bawah pohon sakura.
Sesampainya di tempat itu, aku berdiam diri dan kemudian kudengar suara merintih, "Tolong."
Aku merinding. Bulu kudukku berdiri menyadari ada sesuatu yang tidak wajar mendatangiku.
"Tolong aku," katanya lagi dan kali ini kudengar suara itu makin dekat dan makin dekat. Kuputuskan untuk menoleh dan...
"Mikan!" seruku. Aku terkejut melihatnya yang seperti kehabisan tenaga. Terengah-engah sambil memegangi bahuku. Rambutnya terurai dengan berantakan hingga menutupi wajahnya. Jika aku tak teliti, mungkin aku telah menendangnya karena aku mengira dia kuntilanak.
"Sukurlah," aku memeluknya. Memeluk tubuhnya yang terasa rapuh dan basah. Entah kenapa rasanya sangat nyaman. Seperti aku berada dalam dekapan seseorang yang penuh kasih sayang. Sebuah senyum tertahan mampir di wajahku.
'Bagaimana ia bisa kembali dari lubang waktu? Siapa yang menyelamatkannya?' Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin kuajukan kepadanya.
"Kau… Na, Natsume," katanya terbata-bata. Wajah kami saling berpandangan. Kulihat, dalam dekapanku, ia membelalakkan matanya seperti orang yang sedang melihat hantu.
"Ada apa?" tanyaku pelan.
Yah, inilah saatnya aku minta maaf. Yang dia lakukan mungkin sudah berlebihan untuk menyelamatkanku. Meskipun aku tak ingat seutuhnya tentang dia, aku tahu setidaknya aku tak boleh bersikap begitu padanya. Aku tahu dia adalah orang yang baik. Aku mengeratkan pelukkanku dan membenamkan wajahku di pundaknya. Sesuatu berdesir lembut melewati hatiku. Rasanya berdebar-debar. Sekali lagi, rasanya sakit dan kali ini sangat menyenangkan.
"Mikan aku min…" belum selesai aku berbicara, dia berusaha mendorong tubuhku menjauh dari tubuhnya. Sontak aku kaget.
"Jangan dekati aku!" perintahnya dengan suara yang bergetar. Wajahnya pun bergetar mengikuti tubuhnya yang menggigil layaknya melihat seorang pembunuh.
Aku mengernyitkan dahi.
"Menjauh sana! Jangan dekati aku!" teriaknya lagi. Aku tahu kalau aku sudah keterlaluan memperlakukan dirinya, tapi setidaknya kumohon dengarkanlah permintaan maafku, batiku lirih.
Dia menunduk. Tubuh yang compang-camping itu menggigil lebih kuat, matanya membesar dan memberi kesan seram padaku, "Ada apa denganmu, Mikan?" tanyaku heran.
Dia tak menjawab dan malah berlari meninggalkanku. Berlari tunggang langgang seperti dikejar malaikat maut. Aku hanya memandangi heran tubuhnya menjauh. Namun kemudian dia terjatuh tersungkur. 'Pasti kehabisan tenaga,' pikirku.
Aku mendekat padanya yang tersungkur yang susah untuk berdiri.
"Ada apa sih? Kenapa sikapmu malah seperti ini?" tanyaku sebal. Aku meraih tangannya dengan paksa agar dia mampu berdiri.
Dengan rambut terurai dan wajah yang seperti orang gila itu membuat dia tampak seperti orang yang tak tentu arah. Kupandangi matanya yang tak mampu melihat mataku itu. Menangis. Dia menangis.
'Ada apa sih?' batinku bertanya-tanya, 'apa yang telah ia alami?'
"Tatap aku, Bodoh!" teriakku keras. Emosiku naik. Namun dia tak berani melihat mataku, bahkan wajahku. Dirinya hanya menangis memalingkan wajah dan aku tak tahu apa penyebabnya.
Aku kasihan.
"kenapa kau menangis?" tanyaku kemudian dengan nada lebih pelan. Aku melihat wajahnya lekat-lekat. Aku menyingkirkan poninya yang panjang yang menutupi matanya dengan jari-jariku agar aku bisa menghapus air matanya itu. Dia tak mejawab, menepis tanganku, dan lagi-lagi menangis.
"Hiks…hiks…" terdengar suara isakannya yang naik turun. Aku tak tega. Seperti kehabisan nafas hingga dia tersengal-sengal.
"Hei, ayolah! Kenapa kau menangis?"
Aku seperti memaksa anak kecil untuk memberikan permennya. Dia diam dengan wajah kusut. Baiklah, aku maklumi dia, mungkin dia trauma dengan apa yang barusan ia alami. Aku yakin dia baru melewati lubang waktu. Meski aku tak pernah merasakannya, mungkin memasukki lubang hitam bukanlah hal yang bagus.
"Mikan…" lirihku memanggil namanya. Kuharap dia menoleh, tapi ekspresi yang ia tampilkan hanya kesetanan.
Kemudian hujan turun dengan aliran yang deras dan akhirnya menenggelamkan suaraku. Menghujani tubuhku dan dirinya. Langit ditutupi awan tebal dan suasana benar-benar gelap. Hanya ada suara hujan, jangkrik, dan kodok yang terdengar. Dia menggigil dan aku benar-benar iba.
Belehkah aku membawanya? Bolehkah aku memeluknya dan menghangatkan dirinya? Aku tahu dia kecewa akan diriku yang tak mengingatnya, tapi aku ingin ia mulai sadar bahwa aku melakukan ini memang karena aku ingin melakukannya.
Tanpa persetujuannya, aku memelukknya. Dia meronta sebentar. Dia menampar dan menendangku dengan sekuat tenaga, tapi itu tak berhasil dengan tubuhnya yang lemah. Setelah meracau, dia kehilangan kesadaran dan dirinya terkulai lemas.
Tap…Tap… Tap…
Aku berlari kencang menuju perapian di kamarku. Aku berlari sambil membiarkan dia tergeletak lemah di punggungku.
Setidaknya untuk malam ini biarkan aku menjagamu, Mikan.
Karena hidup adalah sebuah roda yang berputar.
Bukan hanya kita kadang berada di atas atau di bawah, tapi ini tentang hidup dan keadaannya.
Sebuah roda selalu berputar mengulangi hal yang sama berulang kali bukan?
Apakah kau mengerti, Natsume, kesedihan yang kualami?
Meski sedikit, meski kau tak mengingatnya… kumohon berbohonglah demi aku.
Sekarang tak berlaku lagi karena aku sudah tak butuh! Sedikitpun tak ada yang tersisa rasa kasihanku padamu!
Aku tahu isi memorimu… kau sungguh bodoh! Bahkan lebih bodoh dariku. Kau bersimpuh merendahkan dirimu di hadapannya. Demi apa? Kutanya padamu, Natsume! Demi apa?
Kau bisa melarikan diri darinya, tapi dengan pikiranmu yang sempit itu kau tak melakukannya.
Kau tahu…. aku hancur! Lebih hancur dari saat aku mengetahui dirimu kehilangan memori, terutama tentangku.
Tak akan lagi. Aku bersumpah demi diriku sendiri. Aku tak akan lagi menatap matamu.
.
.
~To be continued~
.
.
.
Author's Note[lagi]:
Yeah~ akhirnya selesai juga chapter ini.
Ini dibuat bulan lalu. Karena kata-kata yang keluar dari otak Aline tak bisa bagus lagi, maka Aline hanya bisa melanjutkannya sedikit. Dan memotongnya sembarangan di adegan yang menurut Aline adalah adegan seru! :P
Tapi... Aline rasa plot fic ini mulai berantakan.
Apakah ending untuk chapter ini terlalu menggantung? Jelek? Abal? Ancur? Typos?
Mungkin untuk chapter 8 akan lama update-nya karena Aline berada di tengah-tengah masa Hiatus.
Yup! Mind to Riview? Dilarang jadi silent reader!
FLAME? Dengan senang hati silakan~
