TITTLE : вещие (Veschiye)

ALTERNATIVE TITLE : Precognitive Dream

PAIR : ALLxJIN / EVERONExJIN slight KANGINxLEETEUK


Nightmare is a terrifying dream in which the dreamer experiences feelings of helplessness, extreme anxiety, sorrow, etc.


25 Desember 1990

"Saengil chukae hamnida~ Saengil chukae hamnida~ Saranghaneun uri haraboeji! Saengil chukae hamnida!~" ujar seluruh anggota keluarga mengucapkan selamat ulang tahun kepada kakek mereka.

Kim In Kang bisa menikmati hari ulang tahunnya di kampung halamannya Jeju, dengan seluruh aggota keluarga. Mulai dari anak, menantu hingga cucu mereka yang baru bergabung Soeun yang baru berumur satu tahun.

Semua terasa sempurna untuk Inkang. Ingkang lahir pada 25 Desember 1939, merasakan sedikit bagaimana di wajah ibu dan ayahnya terdapat 'teror' untuk orang – orang Jepang.

Pada 15 Agustus 1945 Korea Selatan mengumumkan kemerdekaannya.

Inkang kecil yang waktu itu berumur enam tahun bisa merasakan bagaimana sang ibu dan ayah memeluknya erat – erat.

Akhirnya dia punya tujuan.

Menjadi seorang pengabdi negara, seorang tentara.

Tidak sampai saat dia bertemu seorang gadis manis bernama Boo Jin Ri ketika bertemu di barak.

Hatinya terbagi dua antara menjaga keamanan akibat perang panjang dengan Korea Utara atau mengejar sang gadis.

"Janji-mu kan mengabdi untuk negara, jadi dirimu harus menepatinya. Tenang saja aku akan menunggu" ujar Jinri sewaktu itu kembali ke RS tempat ia bertugas karna pada tahun 1953 perang berakhir dengan 'perjanjian gencatan senjata'.

Tapi tetap saja tidak akan merubah ketegangan kedua negara itu.

Sebuah keputusan gila yang diambil Inkang waktu itu. Dia mengambil pensiun dini pada 1959 dan mengikuti tes untuk kembali berkuliah di Sungkyungkwan University dan langsung mengambil jurusan hukum politik dan politik pemerintahan.

Iya, dia sadar dia sudah terlalu 'tua' untuk belajar diumurnya yang sudah berumur dua puluh tahun bahkan 'mantan tentara'.

Dipandang sebagai pengkhianat? Tentu saja.

Tidak ada orang yang mengambil pensiun secepat dirinya yang hanya baru berbakti pada negara selama lima tahun.

Tapi dia teringat akan ucapan sang pujaan hati waktu itu.

Janjinya untuk mengabdi pada negara adalah sebuah tangunggan moral besar yang akan ia geluti. Terlepas bagaimana stereotype warga Korea memangdang dirinya.

Dan 'caranya' mempertanggung jawabkannya.

Setelah lulus ia langsung mendaftar menjadi pegawai negeri sipil untuk menjadi staf pemerintahan dan langsung melamar Jinri.

Dan kini disini dirinya sekarang dengan si kecil Soeun yang mengoleskan krim kue pada pipinya.

Kangin dan Kibum yang dulu selalu menemaninya pergi memancing atau sekedar naik gunung kini telah mempunyai pendamping dan anak.

Pancaran warna kebahagiaan selalu terlihat diwajahnya.

Dan kini dia melihat wanita pujaan disampingnya, yang kini tersenyum pias menggendong si kecil Jinwoo.

Tiba – tiba Inkang tersentak. Perempuan yang dengan sabar mendampingi dirinya mulai dari nol hingga sekarang, yang tidak pernah mengeluh sedikitpun, memberikan senyuman terbaik yang ia punya, mengajar putra dan putri mereka mengenai arti sebuah kehidupan, perempuan yang kini mulai tampak renta namun tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun dimata Inkang ini telah Inkang abaikan.

Inkang tersadar, waktu paling 'intim' yang ia punya dengan Jinri adalah ketika Jinri melahirkan Taehee.

Dan kini sekarang anak – anaknya tumbuh dengan jalan masing – masing.

Inkang sibuk dengan politik dan pemerintahan sampai – sampai tidak menyadari perkembangan didalam keluarganya sendiri.

"Aku merindukanmu" ujar Inkang ketika seperti biasa Jinri membuatkan teh hijau hangat di meja kerjanya.

Perempuan yang sudah mengetahui baik buruk dirinya itu hanya terkekeh lucu.

Ah, Inkang merindukan 'suara surga' ini. Kapan terakhir dia mendengar tawa pujaan hatinya?

"Aku selalu bersamamu dua puluh empat jam dan dirimu masih berkata merindukanku? Dirimu kembali menjadi penggoda ulung hm?" ujar Jinri ketika dengan telaten merapikan berkas – berkas milik Inkang.

Dulu bisa dibilang jika Jinri mau ia bisa saja menolak Inkang. Dirinya seorang wanita berumur dua puluh tahun, lulusan kedokteran di universitas terbaik, berwajah dewi dengan tubuh semampai. Kalau dia mau dia bisa saja menolak Inkang.

Tapi tidak.

Ketika pertama kali Inkang mencari dirinya di Seoul. Perempuan itu dengan sabar mencari tempat tinggal sementara dan memberi informasi seputar tempat kursus bagi para calon mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah.

Tentu saja tempat les perkuliahan elit yang harganya mungkin tiga kali gaji Inkang waktu selama menjadi tentara.

Jinri tahu bahwa Inkang adalah lelaki penuh harga diri, jadi Jinri tidak terang – terangan membantu Inkang yang notabennya waktu itu 'pengangguran' dan dirinya sendiri sudah punya gaji mapan.

Sewaktu mereka menikah juga stabilitas keuangan rumah tangga mereka juga tidak begitu baik karna Inkang hanyalah staf pemerintah biasa. Tapi Jinri menurut ketika Inkang meminta Jinri mengundurkan diri dari RS tempat ia bekerja dan fokus pada pekerjaan rumah tangga dan merawat anak – anak mereka.

Sebuah keputusan yang tanpa dua kali dipikirkan matang – matang oleh Jinri.

Dan kini wanita yang penuh 'pesona' itu menaruh buku – buku Inkang di lemari bukunya dengan rapih.

"Yeobo…" ujar Inkang.

"Hm?"

"Aku…mencintaimu…" ujar Inkang kemudian.

Ada banyak kata yang ingin ia ucapkan namun tak sempat tersampaikan selain daripada kalimat sederhana itu.

Kalimat sederhana yang sudah lama tidak Inkang ucapkan namun tetap memberikan semburat merah di wajah Jinri dan dengan senyum mengembang Jinri memandangnya sambil berkata,

"Aku juga masih sangat mencintaimu"

Dari situ ia bertekad untuk benar – benar mengabdi pada perempuan dihadapannya ini.

/

"Tuan Kim" ujar sekretaris pribadinya ketika memecah rapat paginya.

Bahkan ada presiden disana.

"Ada apa?"

"Tuan… ada kabar buruk dari keluarga anda…" ujar sang sekretaris dengan muka pucat.

"Inkang-ah…masalah mengenai Akuma bisa kita bicarakan nanti…keluargamu menunggumu" ujar sang Presiden.

"Tidak. Kita tidak bisa menunda hal ini, aku yakin keluargaku bisa menunggu. Tetapi rakyat kita tidak" ujar Inkang.

Sebuah keputusan yang dia sesali kemudian.

Sesaat setelah rapat selesai ia langsung ke rumah sakit melihat bagaimana kini Kibum menangis histeris dipelukan isterinya dengan Kangin menunduk lesu sementara Leeteuk menenangkan Taehee yang juga ikut menangis.

Persalinan pertama Heechul tidak berjalan dengan baik.

Kibum harus menyetujui pengangkatan janin didalam rahim milik Heechul atau baik bayi dan ibunya tidak akan selamat.

Jinri ada disana menenangkan Kibum layaknya anak umur lima tahun yang menangis karna tidak mendapat gulali.

"Heechul pasti mengerti, baginya hanya dirimu dan anak kalian nanti yang menjadi prioritas. Menjadi 'eomma' yang sempurna adalah ketika dia bisa bahagia karna telah membahagiakan suami dan anaknya dan mungkin itu belum saat ini" ujarnya.

Dan sekali lagi.

Jinri adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya terdiam beku mematung sambil memandangnya lembut seolah mengatakan semua baik – baik saja.

Inkang tidak ada disaat terpenting keluarganya membutuhkannya.

Ia gagal menjadi seorang ayah, seorang suami, dan seorang kepala keluarga.

Inkang juga tidak bisa ada disana menemani Heechul dan Kibum dalam fase keterpurukan mereka. Bagaimanapun mereka baru saja kehilangan seorang anak membuat Jinri berada bersama mereka dua puluh empat jam.

Inkang marah, ia merasa sekali lagi gagal membahagiakan keluargannya disaat Inkang bisa, disaat finansial dan sosial bukan lagi menjadi halangan. Dan Inkang semakin marah karna yang membuatnya seperti ini adalah karna satu hal.

悪魔

Akuma, yang berarti 'Demon'

Akuma adalah gembong mafia terbesar di Korea Selatan atau mungkin di Asia. Meskipun Korea Selatan meminta bantuan FBI dan CIA tetap saja tidak membuahkan hasil.

Akuma dengan bebas bisa pergi kemanapun ia mau bahkan mungkin Akuma bisa menggulingkan pemerintahan jika ia mau.

Sektor 'perdagangan' Akuma ialah obat – obatan terlarang, persenjataan illegal, perjudian, pelelangan artefak bersejarah atau perburuan hewan liar, penjualan anak – anak dan perempuan, atau prostitusi laki – laki dan perempuan.

Kemarahan yang membara di hati Inkang membuat dirinya semakin gencar mencari Akuma, dia sudah melewatkan 'fase krisis' keluarganya dan itu tidak mau ia buang sia – sia. Dia sudah mengecewakan Jinri dan kali ini ia tak mau mengecewakan perempuan itu lagi. Kali ini ia menemukan sebuah titik terang.

Go In Su.

Adalah salah satu tangan kanan ketua Akuma yang berhasil Inkang tangkap sewaktu perburuan di pelabuhan, dari sini Inkang bisa membabat habis salah satu sektor pasar mereka yaitu obat – obatan terlarang dan persenjataan illegal. Dari Insu juga lah Inkang bisa mengetahui nama ketua Akuma tersebut.

Ji Chin Shun.

Insu sendiri mendapat tahanan seumur hidup.

/

27 September 1991

"Saengil chukae hamnida! Saengil chukae hamnida! Saranghaneun uri halmoeni! Saengil chukae hamnida!" ujar seluruh anggota keluarga mengucapkan selamat ulang tahun kepada nenek mereka.

Tahun ini ada yang sedikit berbeda. Kini Soeun sudah menginjak umur dua tahun, Jinwoo yang baru saja lahir dan calon cucu ketigannya yang masih dalam kandungan Heechul.

Iya sebuah keajaiban terjadi.

Heechul kembali mengadung untuk yang kedua kalinya dan kali ini Kibum jauh lebih protektif. Ia tidak ingin kembali kehilangan calon anaknya apalagi nyawa orang yang ia cintai.

Meskipun ini ulang tahun Jinri tapi perempuan itu menaruh perhatian lebih pada Heechul mengingat bahwa usia kandungannya baru saja menginjak tiga bulan dimana rawan sekali untuk terjadi keguguran.

Akankah tahun ini Inkang juga akan melewatkan fase kehidupannya bersama dengan keluarganya lagi?

Iya masih mengingat perihnya duka mereka mengenai keguguran Heechul setahun silam. Dan kali ini pula ia melewatkan pertumbuhan calon cucu ketiganya.

Inkang sangat berharap ia bisa memulai dari awal bersama keluarganya.

Ia berharap Langit mengabulkan doanya.

"Hoek!" Leeteuk yang tengah menyusui Jinwoo mendadak muntah. Semua orang panik termasuk Kangin, ia langsung segera merebahkan orang yang ia cintai itu dan Taehee cepat tanggap menghubungi dokter pribadi mereka.

Heechul yang tidak boleh stress menjadi frustasi begitu melihat dokter sangat lama keluar dari kamar Leeteuk.

"Aish, kenapa lama sekali sih! Apa yang terjadi pada Leeteuk hyung!" ujar Heechul yang akhirnya menjadi menangis.

Ketika seseorang tengah mengandung memang menjadi sedikit lebih sensitif.

Dokter keluar dengan raut yang tak bisa dijelaskan, ada raut aneh, ganjil, khawatir disana membuat Kangin sudah berspekulasi yang tidak – tidak.

"Dok, apa yang terjadi pada Leeteuk?" ujar Kangin dengan air mata yang sudah siap tumpah.

"Saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi, tapi selamat Kangin-ah anda kembali menjadi calon appa" ujar sang dokter pribadi, Lee Hae Shin sekaligus kawan lama ayahnya.

Seluruh keluarga bahkan tak percaya ini bisa terjadi, bagaimana mungkin? Leeteuk baru melahirkan Jinwoo kemarin!?

"Kau sudah memastikannya kan Haeshin?" ujar Jinri memastikan.

"Aku sudah memastikannya, noon. Janinnya bahkan baru berumur satu hari" ujar Haeshin membuat Jinri menitikkan air mata.

Entah mengapa, ada sebuah senyuman paling bahagia yang belum pernah Inkang lihat sebelumnya.

Dan ini semakin membuat Inkang yakin akan keputusan terbesar yang akan ia buat.

Dengan beberapa medical check up akhirnya memang benar bahwa janin didalam Leeteuk telah tumbuh, pihak rumah sakit bahkan keheranan bagaimana bisa sebuah sperma bisa bertahan di dalam rahim Leeteuk selama sembilan bulan tanpa pembuahan.

Aneh tetapi juga mengkhawatirkan karna Jinwoo masih dalam ASI eksklusif. Leeteuk juga bukanlah seorang 'wanita' sehingga persalinannya juga akan semakin sulit. Ditambah lagi Leeteuk baru saja melahirkan semakin membuat rahim laki – laki itu semakin rawan.

"Yeobo…" ujar Inkang disuatu malam ketika seperti biasa Jinri membuatkan teh hijau hangat di meja kerjanya.

"Hm?"

"Aku yang salah lihat atau akhir – akhir ini dirimu semakin terlihat bahagia?" ujar Inkang memutuskan untuk 'mengkosongkan' jadwalnya hari ini dan menikmati quality time dengan Jinri yang sedang mengganti sarung bantal sofa tamu diruang kerjanya.

"Jadi maksudmu, aku tidak bahagia bersamamu hm?" ujar Jinri kemudian.

"Maksudku, dirimu terlihat lebih cerah dari sebelum – sebelumnya" ujar Inkang kini membawa teh hijaunya dan duduk didepan Jinri.

Jinri tersenyum.

"Tengah malam, pas sekali di pergantian hari menuju hari ulang tahunku, aku bermimpi. Aku berada dipantai dengan seorang anak kecil laki – laki menggiringku kesana kemari hanya untuk menunjukkan kupu – kupu, makan kepiting bakar, dan bermain air di tepian pantai. Meskipun itu hanya di mimpi aku sangat bahagia menikmati waktu singkatku dengannya lalu paginya disaat perayaan ulang tahunku, Leeteuk dinyatakan hamil. Aku tidak bisa berhenti menangis bahwa rupanya anak kecil di mimpiku tadi akan menjadi cucuku kelak" ujar Jinri panjang lebar tanpa melunturkan senyumnya sedikitpun.

Inkang tersentuh. Sewaktu mereka masih awal – awal menikah hal – hal yang dilakukan 'cucunya' itu adalah hal – hal kecil yang ia lakukan untuk Jinri dahulu.

Ia tidak tahu bahwa sesederhana itu untuk membuat pasangan seumur hidupnya ini merasa bahagia.

"Apa dia tampan?" ujar Inkang kemudian membuat Jinri kembali terkekeh.

"Harus kuakui dia lebih manis uri Taehee kita" ujar Jinri.

Seketika Inkang teringat akan keputusan yang telah ia pikirkan bulat – bulat.

"Jinri-ya…" ujar Inkang melunturkan senyum perempuan itu.

Inkang sudah lama sekali tidak menyebut namanya.

"Nde…?" ujar Jinri lembut membuat Inkang mengeluarkan sebuah amplop putih polos.

"Aku ingin mengajukan reses Jinri-ya…aku juga ingin mengajak uri 'Jinnie' kita bermain kupu – kupu, makan kepiting bakar, dan mengajarinya berenang di tepi pantai" ujar Inkang.

Ada raut lelah dan kekecewaan disana.

Inkang takut bahwa ia akan kembali lagi dicap sebagai 'pengkhianat negara' tapi disatu sisi, dirinya 'mencemooh' bahwa dia telah melupakan sumber kebahagiaan utamanya. Keluarganya, Jinrinya.

Perempuan yang kini berumur empat puluh tujuh tahun itu selalu berkorban untuknya. Apapun tanpa penolakan, tanpa perlawanan.

Kali ini Inkang pun ingin berkorban untuknya. Hening beberapa saat sampai senyum diwajah perempuan itu mengembang sambil menangkup wajah Inkang.

"Mari kita rawat uri Jinnie kita bersama" ujar Jinri halus sekali sampai – sampai membuat Inkang menitikkan air mata.

Lalu mereka tertawa kemudian. Menyebut anak laki – laki dan calon cucunya itu dengan nama 'Jinnie'.

Tapi siapa sangka, bahwa Langit memang mengabulkan doa Inkang waktu itu.

/

"Jin kau sungguh tidak apa – apa?" Junwoo khawatir melihat kenampakan Jin yang tampak seperti mayat hidup. Jin hanya mengenakan skinny jeans hitam selutut dengan oversized tee berwarna pink peach. Wajahnya pucat, kantung matanya gelap dan bengkak, ditambah dengan rambutnya yang semerawut.

"Dirimu sehabis menangis?" tanya Eunkyung akhirnya menyadari perubahan Jin.

Jin hanya tersenyum sambil menggeleng lemah, mengindikasikan bahwa dia 'baik – baik saja'. Junwoo menyuruh Dongsoon untuk membawa Jin ke ruang rest. Jin mencuci wajahnya sambil menampakkan pantulan dirinya di cermin wastafel.

Dia memang tampak seperti mayat hidup.

"Aku mengatakan ini demi kebaikanmu lain kali jangan pernah tinggalkan jurnalmu, dan kumohon amat dengan sangat jauhi semua 'orang – orang yang berada didalam mimpimu'. Kecuali jika dirimu ingin mengulangi tragedi kematian pengemudi bus malang itu akibat ulahmu sendiri"

'Tragedi kematian pengemudi bus malang itu akibat ulahnya sendiri'

Jin terpekur.

Yoongi benar, sejauh apapun ia berusaha ia hanya memperburuk kondisi 'yang terjadi dimasa depan'.

Dan kini ia memandang gelang yang tersampir dilengan kanannya.

"Kau sudah berkerja dengan sangat baik, keluarlah…keluargamu menunggumu"

Lalu tiba – tiba air matanya mengucur kembali.

Dongsoon yang menyadari bahwa Jin sudah terlalu lama di toilet menghampiri dan membawa Jin keruang rest.

"Jika dirimu tidak sanggup untuk ke Jeju besok, akan aku minta surat izin untukmu. Aku yakin Junwoo hyung pasti mengizinkan" yang ditanggapi Jin dengan gelengan lemah.

Ia sudah membuat banyak masalah. Mulai dari insiden Wanna One hingga insiden mengenai Kai kemarin. Ia tidak ingin merepotkan lagi.

"Kau tahu Jin, kita kan seumuran. Jika kau perlu atau ingin bercerita aku siap mendengarkan" ujar Dongsoon.

Dongsoon sadar. Jin tidak begitu banyak berinteraksi dengannya meski di satu department yang sama. Dongsoon lebih sering bekerja keluar bersama Junwoo sementara Jin selalu didalam bersama Eungkyung atau mungkin dirinya sendiri? Karna Junwoo pernah bilang bahwa Jin sendiri sejujurnya tidak nyaman bekerja dengan orang lain.

Ditambah lagi Dongsoon tak tahu banyak mengenai Jin. Selain bahwa memang harus Dongsoon akui hasil pekerjaan Jin sangat memuaskan. Eungkyung juga pernah bercerita mengenai black card milik Jin.

Pemuda ini bahkan lebih dari sekedar cukup untuk menjadi seorang pangeran.

Jin menghela nafas lelah.

"Dongsoon…aku rasa aku belum pantas menjadi staf disini. Aku hanya bisa merepotkan kalian dan diriku terlampau lemah, aku minta maaf" ujar Jin menyesali melihat raut wajah Dongsoon.

"Tak apa Jin, kalau kau mau. Kita bisa minum soju bersama dan mempererat hubungan kita berdua. Kudengar di Jeju sana sojunya terbaik" membuat Jin mau tak mau tersenyum.

Jin lupa.

Masih ada orang – orang yang baik padanya tanpa 'melihat statusnya'

Mungkin gelang ini yang membawanya pada orang – orang 'yang akan mencintainya nanti'

/

Jin menemani Dongsoon berbelanja untuk kebutuhan adiknya selama dua minggu mereka di Jeju. Jin juga merasa bahwa dia harus membeli beberapa perlengkapan untuk nanti ia disana. Dongsoon yang melihat trolley milik Jin yang dipenuhi 'barang – barang' tidak penting mulai mengeluh.

"Jin kau harus tahu, kita harus menyediakan banyak snack dan cup ramen. Kau tidak tahu kapan kita bisa balik ke dorm nanti bahkan hanya untuk sekedar mandi karna sibuk sana – sini. Multivitamin itu perlu dan jangan lupa yang paling esensial dari itu semua ialah permen!" ujar Dongsoon membuat Jin nampak kebingungan.

Mereka hanya pergi ke Jeju kan? Bukan untuk menghadiri acara Law of The Jungle? Menurutnya starter pack yang ia butuhkan hanyalah beberapa buku comic atau novel miliknya, headphone, pakaian, alat mandi, dan persediaan powerbank sebanyak – banyaknya.

Jin singgah dirumah kecil milik Dongsoon. Dongsoon tinggal disebuah apertemen menengah ke atas di daerah Seoul. Dongsoon adalah anak tertua dan mempunyai sepasang adik kembar, laki – laki atau yang sulung bernama Kim Dae Hoon dan si bungsu yang hanya beda lima belas menit Kim Dae Hee. Mereka tinggal bertiga sejak sepuluh tahun yang lalu ditinggal oleh kedua orang tuanya yang meninggal akibat kecelakaan tragis. Dongsoon yang baru saja saat itu berumur enam belas tahun harus kuat menghidupi adik – adiknya yang masih kecil waktu itu.

Tapi kini Dongsoon bahkan sudah sanggup mebiayai keduanya masuk kedalam SOPA atau School of Performing Arts. Salah satu sekolah prestige di Seoul. Daehoon mengambil jurusan Dance sedangkan si adik kembarnya Daehee mengambil jurusan Vocal. Jin melihat album foto milik mereka dan menyadari bahwa dari bayi baik Daehoon dan Daehee terlihat kembar hingga sekarang mereka berdua tampak berbeda.

Meski ada beberapa facial feature mereka yang terlihat 'mirip'.

"Jika aku tahu Dongsoon oppa punya chingu yang bisa memasak seperti ini, tiap hari saja Jin oppa kemari" ujar Daehee memakan bulgogi buatan Jin. Tadi karna mereka 'sudah belanja besar' Jin memutuskan untuk singgah dan memasak untuk adik Dongsoon yang kebetulan saja baru pulang.

Satu hal yang sama dari mereka adalah bahwa mereka bertiga benar – benar pecinta bulgogi.

"Ah aku ingin makan sepuasnya tapi aku sedang diet!" keluh Daehoon membuat Jin terkekeh.

"Kalian kan masih dalam masa pertumbuhan, tidak apa – apa kalau makan banyak"

"Anniyeo Jin hyung, sebentar lagi aku ada lomba dance contemporer aku harus membentuk perutku" keluh Daehoon menatap nanar bulgogi buatan Jin yang masih mengepul.

"Aku rasa tidak masalah kalau dirimu makan banyak malam ini lalu jogging di malam hari. Aku bisa menemanimu" tawar Jin yang langsung ditanggapi Daehoon dengan melahap habis makanannya.

/

"Apa hyung saat bekerja sering mencari 'target'?" tanya Daehoon ketika mereka beristirahat di kursi taman sehabis jogging malam mengintari sungai Han. Jin hanya bisa terkekeh.

"Dia berusaha dengan sangat keras" ujar Jin membuat mereka saling tertawa.

Jin merupakan anak bungsu di keluarganya dan juga di keluarga besarnya. Dia selalu yang mendapat 'kasih sayang' daripada memberikan 'kasih sayang'. Melihat Dongsoon yang juga seumuran dengannya bisa kuat dan tegar membuat Jin terharu dan merasa bahwa betapa beruntungnya Dongsoon dicintai adik – adiknya.

Jin tidak ingin ironi atau sarkasme. Tapi coba kembali putar waktu disaat Dongsoon masih berumur enam belas tahun. Ia bahkan baru di tahun kedua di bangku SMP dan baik Daehoon dan Daehee masih berumur enam tahun. Mereka baru saja ingin masuk sekolah dasar. Dongsoon dulu bisa apa? Jin diumur Dongsoon masih menutup diri 'dari dunia luar' tapi Dongsoon sudah bekerja di toko ikan milik pamannya, meski pamannya menolak memperkerjakan Dongsoon dan bahkan menyuruh Dongsoon dan adiknya tinggal bersama. Demi melanjutkan sekolah dirinya dan adik – adiknya.

Dongsoon tahu, bahwa pamannya jugalah orang biasa – biasa saja saat itu dan punya keluarga atau tanggungan juga, mendapatkan sesuatu tanpa balas budi bukanlah hal yang diajarkan mendiang kedua orang tuanya. Dari toko ikan pamannya Dongsoon mengetahui 'bakat tersembunyinya' ketika ia dengan mudah membuat ambal akuarium dari kayu, akhirnya mengambil jurusan Carpentry di Hankuk University. Kini pamannya dengan bangga memberi tahu bahwa keponakannya sering bertemu artis – artis terkenal.

Menjadi seorang kakak, ayah, ibu, dan juga teman membuat Daehoon dan Daehee sangat respect terhadap saudaranya tersebut.

Jin juga bisa merasakan hal itu ketika ia bersama Soeun atau Jinwoo. Seberapa sering mereka bertengkar, Jin tidak bisa berhenti untuk tidak menganggumi kakaknya.

"Hyung, kalau Dongsoon hyung belum laku – laku juga, aku mengizinkan kalian menikah" membuat Jin terkekeh geli dan mengajak Daehoon untuk pulang karna semakin larut pembicaraan mereka semakin ngawur.

Tapi siapa yang sangka bahwa ucapan remaja belia itu memang tulus adanya? Bahwa sesosok laki – laki dengan suara lembut, membantu untuk menyetrika pakaiannya dan juga pakaian adik dan hyungnya, memasak bulgogi untuk mereka, bersedia mengajari beberapa pelajaran yang tidak ia dan adik kembarnya mengerti, menyemangati ketigannya dan yang terpenting,

Jin tulus apa adanya tanpa niat terselubung. Layaknya pamannya yang merupakan seorang penjual ikan dulu yang mau mengasuh mereka. Tidak seperti saudara orang tuanya yang lain yang sudah sukses dan malu merawat mereka bertiga. Atau mungkin juga bahkan malu menganggap pamannya yang tinggal di Busan itu adalah saudaranya.

Tidak seperti mantan – mantan kekasih hyungnya yang hanya menempel padanya agar bisa 'menempel' pada orang lain atau agar grup mereka bisa tampil di Music Bank mengingat rata – rata kekasih hyungnya adalah seorang trainee atau entertainer under-rated.

Daehoon bisa melihat hyungnya dengan bebas 'menjadi dirinya apa adanya' tanpa malu jika tiba – tiba logat 'Busannya' keluar, atau makan bulgogi sebanyak yang mereka mau sehingga membuat Jin harus memasak hingga dua porsi atau bahkan dengan telaten mengajarkan bagaimana Dongsoon dan Daehee menyetrika seragamnya dengan benar. Atau bahkan hanya sekedar menemani dirinya jogging dimalam hari meski Daehoon tahu bahwa Jin juga 'tampak' kelelahan.

Mendiang ayahnya pernah berkata bahwa kecantikan yang sesungguhnya terpancar dari dalam dan ayahnya melihat itu dalam rupa ibunya.

Dan kini Daehoon melihat rupa kecantikan itu dalam Jin.

Dalam seorang pemuda yang tanpa effort apapun membuat mereka sayang padanya.

Daehoon sangat serius. Jika hyungnya tidak mau menikahi pria semalaikat Jin. Biar Daehoon yang mengambilnya kalau begitu.

Ia rasa perbedaan umur tak akan menjadi masalah untuk Jinnie hyungnya.

Benar bukan?

/

Jin mengemasi semua barang – barang miliknya untuk satu minggu selama di Jeju sana. Karna dia kebagiaan satu pesawat dengan Eunkyung dan Dongsoon serta beberapa girl band lainnya membuat Jin bisa menghela nafas lega.

Setidaknya tidak ada Yeonji, tidak ada BTS, tidak ada Wanna One, atau tidak ada EXO atau Kim Jin Kyung.

"Ah lihat kan si Dongsoon itu mulai pecicilan lagi dengan member girlband" rutuk Eunkyung disampingnya membuat Jin terkekeh lucu.

"Perhatian semuanya! Untuk memastikan kalian semua sudah ada dipesawat kami akan mengabsen ulang" ujar Eungkyung.

"Jin!" ujar sebuah suara dari depan.

"Kami butuh dirimu di pesawat 3. Banyak barang disana" menimbulkan berbagai teriakkan tertahan.

"Pesawat 3 bukankah untuk boy group kelas A? si EBS?"

Jin merapal dalam hati bahwa akan ada sedikit keajaiban nanti.

Jin bersyukur. Member EXO dan BTS sama – sama punya jadwal lain sehingga baru bisa datang nanti. Beberapa boygroup yang katanya masuk kelas 'A' ini juga sudah nyaman dengan perlengkapan tidur mereka masing – masing sehingga Jin hanya membantu seorang staf coordi yang memastikan bahwa pakaian – pakaian mahal untuk mereka sudah aman di kabin.

Jin dan staf itu mendapat tempat duduk bagian belakang atau seat terakhir. Staf coordi itu rupanya juga sama seperti Jin merupakan staf baru dan dia senang setidaknya ada seseorang yang seumuran dengannya dan juga di 'line' yang sama mengingat para senior-nya sedikit dingin dengannya.

Jin akui bahwa staf yang bernama Hong Chan Mi ini mempunyai tubuh sedikit berisi dan mungil. Namun bagi Jin, ia masih sama manisnya.

"Kamu tahu Jin, bagian paling membahagiakan bekerja di KBS aku bisa bertemu biasku setiap hari" ujar Chanmi semangat.

Usut punya usut Chanmi sangat pandai menggambar. Ia bahkan punya ratusan ribu followers di twitter karna hasil fan-artnya. Di twitter dia terkenal dengan nama Sigma-nim.

"Aku memberi tahu-mu hal ini tapi ini sangat rahasia ya, jangan beberkan pada siapapun" dan Jin mengangguk lucu.

Rupanya isi fanart-nya mengenai ship dan terkadang ber-rating M. Chanmi punya banyak ship tapi dia bilang ship yang 'paling laku' adalah ongniel, taekook, dan chanbaek.

Yang jujur sama sekali tidak Jin pahami membuat Chanmi menyadari bahwa Jin memang benar – benar buta soal hal – hal beginian membuat Chanmi gemas sendiri.

"Sepertinya aku ada ide untuk men-ship mu nanti dengan yang lain" membuat Jin menyenggol Chanmi sambil mengancam lucu.

Chanmi dengan sabar menjelaskan bahwa ongniel itu adalah member Wanna One, taekook adalah member BTS dan chanbaek adalah member EXO. Jin pun hanya melongo bingung membuat Chanmi semakin gemas rupanya Jin sama sekali tidak hapal dengan nama – nama member yang bahkan tidak mungkin tidak dikenal seantero Korea.

"Kau harus setidaknya mengetahui nama – nama mereka Jin. Kau tahu, terkadang ada beberapa boy group yang sedikit sensitive" ujar Chanmi.

Chanmi menjelaskan di pesawat ini ada Seventeen, GOT7, BTOB, Wanna One, INFINITE, Highlight dan NCT.

Jin hanya mengangguk – angguk paham. Merasa bahwa ia juga penat apalagi harus menghafal enam puluh tujuh orang yang ada dipesawat ini dalam beberapa jam tadi, ia memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya untuk tidur. Sampai dirinya tiba – tiba terbangun dengan beberapa sedikit kerusuhan.

"DIRIMU BAGAIMANA SIH PENANGGUNG JAWAB PESAWAT GIMANA COBA!"

"Mungkin bisa diharapkan untuk tenang sebentar-"

"TENTU SJA AKU TIDAK BISA TENANG! DOMPETKU HILANG!"

"Maaf ada apa ya…?" ujar Jin memecah suasana melihat Chanmi sudah berdiri tertunduk lesu meminta perlindungan.

"Dompetku hilang baik pramugari dan pramugara serta staf tidak becus seperti kalian ini tidak bisa menemukannya!" ujar pemuda itu marah yang lambat laun diketahui sebagai Mark GOT7

Member tertua GOT7 sekaligus face of the group.

"Eum…aku rasa ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin-"

"Di dompetku berisi kartu kredit, uang, dan juga tanda pengenalku! Bagaimana bisa aku tenang!?" ujar Mark berteriak namun seketika merasa bersalah karna rupanya salah satu staf yang ramai diperbibncangkan dikalangan para entertainer kini ada dihadapannya dan sejujurnya bahwa mereka tidak mengada – ada bahwa wajah Jin sangat,

Menggoda.

"Kalau begitu biar kita duduk ditempat semua baik aku, Chanmi dan staf pesawat yang lain mencoba membantu mencarikannya" Jin mencoba berkata selembut mungkin.

Teror tentang bahwa 'artis adalah tuan' milik Jaerim berputar – putar diotaknya.

Mark setuju dan duduk dengan tenang sementara yang lain berbisik – bisik keras.

"Itu bukankah staf KBS?"

"Yang isiden dengan Wanna One bukan?"

"Oy Jihoon dia bukan orangnya?"

"Iya hyung itu dia"

"Tapi mengapa ia bisa ada disini?"

"Bukankah tadi staf kbs cuman si perempuan culun tadi?"

"Aku tak tahu"

"Eh tapi siapa namanya?"

"PD Kim"

"Kalau hanya sekedar itu aku juga tahu bodoh"

"Kim Seok Jin maksudnya"

"Aku masih punya beberapa fotonya saat insiden kemarin mau lihat?"

"Shit! dia lebih memikat daripada sekedar di foto"

"Kalau 'celanaku menyempit' dia harus bertanggung jawab" ujar yang lain membuat mereka terkekeh kecil.

Chanmi sadar Jin tidak nyaman dengan kondisi itu karna Chanmi yakin benar bahwa Jin pasti 'mendengar' dengan jelas omongan sampah mereka.

Apalagi mereka harus dalam posisi membungkuk membuat tubuh 'bagian belakang' Jin menjadi 'hiburan' tersendiri.

"Hey-"

"Apakah ini dompet milikmu?" tanya Jin ketika menemukan dompet berwarna hitam terjatuh disalah satu seat.

"Iya ini dompetku-"

"Kalau begitu kalian harus segera turun, pesawat ini sudah delay setengah jam dan harus segera dikosongkan" ujar Jin berani memotong ucapan Mark daritadi membuat mereka mau tidak mau turun dan segera mendapat pengawalan.

Jin menarik nafas.

Dia secara sadar betul baru saja dilecehkan secara verbal dan Chanmi merasa tidak enak.

"Gweanchana, mengapa dirimu tidak membangunkanku tadi?"

"Dirimu terlihat kelelahan maka dari itu aku tak enak membangunkanmu" ujar Chanmi menyesal.

Mereka berdua pun langsung turun sambil memastikan seluruh barang – barang dikabin sudah aman di mobil properti KBS.

/

Dongsoon benar.

Yang ia butuhkan bukanlah beberapa jenis comic, playlist musik yang sudah ia siapkan, atau list video yang akan ia tonton untuk set panggung terbarukan.

Mereka harus mengelas, membaut, memasang peer dan menyambung kabel, jika ada satu yang terlewat mereka harus membongkar ulang.

Jin sudah terbiasa bekerja dengan kayu dan sekarang dia harus menyesuaikan diri dengan besi dan alumunium.

Belum lagi ditambah layar holograph.

Yang ia butuhkan sekarang adalah multivitamin, cup ramen, dan permen karet yang ia beli karna dia sangat amat LELAH. LAPAR. DAN SENSITIF.

Dan itu terjadi untuk semua crew lainnya apalagi mereka bekerja di musim panas begini.

Oh, seketika ia langsung merindukan rumah.

Ice pack terlempar apik diwajahnya. Eunkyung si pelaku utama yang melempar kearahnya dan juga Dongsoon serta Junwoo yang sudah tepar duluan di tenda.

"Kita baru selesai memasang Set A dan masih ada tiga set lagi dan demi Tuhan, Junwoo hyung aku mau mati" rengek Dongsoon nelangsa sambil merendam wajahnya di ice pack yang dilempar Eunkyung tadi.

"Bersyukurlah PD Song tidak mendengarmu atau dirimu akan habis ditangannya" ujar Junwoo terkekeh.

"Ck. PD Song itu bersantai ria bersama artis lainnya di pantai. Aku kan juga ingin melihat TWICE dalam balutan bikini" ujar Dongsoon menuai tamparan dari Eunkyung.

Jin menyadari bahwa selama panggung belum selesai dibuat maka para artis bisa beristirahat kecuali 'kru lapangan' yaitu ada Junwoo, Dongsoon, Jin dan Eunkyung didalamnya.

"Ayo kita kembali ke camp. Hari sudah semakin sore" ujar Junwoo menginstruksikan kru yang sudah tepar dimana – mana agar segera kembali.

Camp yang dimaksud disini adalah hotel yang khusus dibooking KBS. Para staf dan kru di lantai 25, artis yang laki – laki di lantai 26 dan perempuan dilantai 27, PD Chief dan staf ekskutif lainnya dilantai 29, sementara lantai 28 dipakai untuk staf pribadi atau manajer. Jin kebagian di lantai 30 sendirian karna lantai 25 hingga 29 penuh. Dia sebenarnya bisa saja tidur bersama Jinwoo.

Tapi akan jadi bom bunuh diri untuknya kalau misalnya orang – orang berkata untuk apa staf rendahan sepertinya dikamar artis YG?

Lagipula Jin dihadiahi kamar suite yang lengkap dengan balkon yang mengarah ke pantai. Dari sini dia bisa melihat beberapa artis dipantai dan Dongsoon yang entah mengapa bisa disana setelah mengeluh 'capek'.

Jin pun segera bebersih diri dan memakai celana hitam selutut dengan sweater hoodie berwarna sama. Kali ini ia punya waktu luang untuk membaca komik, mendengarkan beberapa music artis yang harus ia hapal dan sejujurnya bahwa lagu – lagu mereka bagus. Membuka laptop untuk melihat websitenya dan melihat banyak visitor yang masih menaruh atau membandrol harga untuk furniture miliknya. Jin berjalan keluar balkon menikmati angin sore melihat bahwa sunset semakin dekat Jin memtuskan untuk ikut kepantai dan mengambil sketch book dan ponsel miliknya.

Jin memilih untuk duduk di bawah pohon kelapa rindang dan mulai menggambar. Dia punya ide untuk membuat kursi santai.

Entah mengapa Jin punya soft spot untuk pantai dihatinya. Jin sering diajak oleh kakeknya kepantai. Meski Jin tidak pernah ingat kejadian waktu ia berumur dibawah lima tahun, tetapi setelah kejadian itu kakeknya pun masih sering mengajaknya kepantai.

Kakeknya pernah bilang bahwa namanya terinspirasi dari pantai.

Berbicara mengenai kakek dan neneknya membuat Jin ingin mengunjungi mereka berhubung dirinya masih di Jeju.

Sebuket bunga baby breath dan parfurm Clive Christian merk kesukaan kakeknya mungkin akan menjadi oleh – oleh miliknya ketika ia bertandang ke sebuah pusat perbelanjaan didekat sini.

Setelah itu berkunjung di café membeli segelas Iced Americano dan menghubungi Tuan Yeo selama menunggu kopinya jadi di barisan antrian.

"Ya Tuan Muda?"

"Yeo ahjussi saat ini ada dimana?"

"Ah saya sedang dikantor utama, apa Tuan Muda membutuhkan saya-" seorang pemuda bermasker hitam tidak sengaja menabrak membuat Jin hampir saja menjatuhkan ponselnya kembali.

"Tuan muda? Halo tuan muda?" ujar sebuah suara disebrang telpon khawatir begitu mendengar suara teriakan tertahan dari Jin.

"Mianhamnida, aku tidak sengaja. Apakah dirimu baik – baik saja?" ujar pemuda bermasker itu kemudian hening begitu melihat Jin memastikan ponselnya dalam keadaan baik – baik saja.

"Ah, gweanchana. Yeoboseyo? Yeo Ahjussi?"

"Tuan muda, anda baik – baik saja?"

"Iya aku baik – baik saja. Ahjussi bisa menjemputku di Jeju?" ujar Jin kemudian ter-distract oleh salah satu pelayan yang memberikan kopi pesanannya dan berjalan keluar café meninggalkan pemuda bermasker hitam tadi.

"Tuan, ini pesanannnya" ujar pelayan tadi membuyarkan keheneningan sebelum laki – laki itu kemudian mengejar Jin yang tengah membayar buket bunga pesanannya di toko sebelah.

"TUAN! TUAN! INI MINUMANNYA! TUAN!"

Bahkan teriakan pelayanan café tadi tidak menyurutkan semangat pemuda tadi yang semakin mendekat kearah Jin.

"Aku rasa aku bisa menunggu ahjussi di toko bunga langganan halmoeni. Penerbangan Ahjussi satu jam? Baiklah tidak masalah. Aku tidak ada rapat malam ini" ujar Jin kemudian tersenyum dan mematikan ponselnya sambil menunggu di meja tunggu yang disediakan di toko bunga sambil meminum pesanannya.

Pemuda bermasker hitam tadi baru saja ingin segera menghampiri Jin sebelum terhenti melihat seorang pemuda dengan kaus v-neck dan denim hitam pendek menutup mata Jin. Membuat Jin kaget lalu tersentak.

"Sunghoon!" ujar Jin riang memeluk pemuda itu hangat.

Pemuda bermasker hitam itu seketika kembali merengut dan menahan langkahnya, dan berbalik pergi sebelum ponsel di sakunya bergetar.

Namjoon hyung is calling

"Nde hyung?"

"Taehyung-ah. Terakhir kita ke Jeju dirimu terjebak di mobil dengan 'pemuda' asing dan sekarang dirimu hilang disaat membeli kopi"

"Aku bertemu dengannya hyung"

"Nugu?"

'Si pemuda asing yang kau bilang itu tadi dan tengah bermesraan dengan mungkin kekasihnya'

"Teman lama"

"Kau selalu menyebut 'kawan ranjangmu' sebagai 'teman lama'. Kembali kemari atau Sejin hyung akan mengamuk. Pesanan kopimu sudah diambil oleh Jimin tadi"

"Hmm"

"Jangan hm – hm saja Kim Tae Hyung. Semua member sekarang lelah secara fisik dan psikis, jadi tolong jangan membuat onar lagi"

"Aku akan segera kesana" ujar pemuda bermasker hitam tadi yang ternyata adalah Taehyung.

Ia segera masuk kedalam van dihadiahi dengan tatapan bingung dari semua member.

"Taehyung, kau darimana saja?" tanya Jimin.

"Bertemu kawan lama" ujar Taehyung tapi mukanya suntuk sesuntuk – suntuknya.

Maksudnya, bukankah takdir memperbolehkan dirinya bertemu dengan pemuda tadi? Pemuda yang mengaku sebagai kekasihnya tersebut? Kenapa ia tidak mempunyai keberanian untuk mendatanginya tadi?

Taehyung punya kesempatan saat mereka rehearseal di KBS Drama Award beberapa bulan silam. Disaat itu pula Jin bersama dengan seorang laki – laki yang memapahnya dan Taehyung tidak mengenalinya.

Lalu yang kedua kalinya, Jin memeluk seorang pemuda bernama Sunghoon.

Kenapa disaat ia ingin mendekati pemuda itu banyak juga pemuda lainnya yang dekat dengannya?

Taehyung memang benci ikatan atau hubungan. Tapi dia juga adalah orang yang posesif dan pencemburu. Dia benci hal – hal yang seharusnya menjadi miliknya menjadi milik orang lain. Taehyung dengan segera ingin melupakan pemuda itu. Tapi ia tidak bisa. Ia punya world tour dimana dirinya bisa bertemu dengan orang – orang baru, dan 'teman malam' yang baru pula. Paling lama bertahan sekitar seminggu.

Tapi semenjak Jin muncul dikehidupannya hubungannya tak lebih dari sekedar satu malam. Taehyung juga merasa bahwa libidonya tidak puas. Ia merasa hatinya perih begitu menggauli orang lain dan membayangkan tubuh yang ada dibawahnya ini adalah milik Seokjin.

Pertemuan satu malam mereka meninggalkan kesan yang jelas. Taehyung masih mengingat bagaimana ranumnya bibir Jin, matanya yang sebening cermin karna terus menangis, dan kulitnya yang halus layaknya kulit bayi.

Taehyung kesal. Mengapa ia harus peduli dengan satu orang sedangkan ia dipuja oleh banyak orang? Dan sepanjang perjalanan moodnya hancur – sehancurnya, membuat Jimin yang ada disebelahnya bergidik dan berbisik kearah Hoseok.

"Hyung, evil taehyung sedang muncul" ujar Jimin membuat Hoseok mengangguk setuju. Yoongi yang berada dikursi belakang mendengar percakapan random Jimin dan Hoseok juga seketika menaruh atensinya pada Taehyung yang mengeluarkan aura hitam.

Dan feeling Yoongi mengatakan bahwa tampaknya Taehyung sepertinya bertemu dengan Jin.

Sayangnya Yoongi tidak punya keberanian menanyakan hal tersebut, karena tentu saja aneh bagi mereka tiba – tiba Yoongi yang orangngnya ignorant menjadi ingin tahu soal 'pemuda asing' itu.

Sayangnya pula Yoongi tidak tahu bahwa Hoseok serta Namjoon lebih dulu bertemu dengan Jin dan juga benang merah yang akan membawa Jin kemereka.

/

"Omo! Soojin sudah merangkak!?" ujar Jin senang melihat video di ponselnya mempertontonkan bagaimana putri tunggal Sunghoon kini tumbuh dengan baik.

"Berkatmu, hari – hari semakin membahagiakan" ujar Sunghoon tulus seketika mengingatkan mereka dengan luka lama.

"Apa dirimu pernah mencoba menghubungi eommanya?"

"Tidak, ia hilang bagai ditelan bumi. Tampaknya, dia juga tidak memperdulikan putrinya"

"Bagaimana jika suatu hari nanti, Soojin menanyakan ibunya?" ujar Jin yang membuat mereka hening sesaat.

Ponsel Jin yang berdering memecah keheningan. Rupanya Tuan Yeo sudah sampai dan menunggu Jin di parkiran.

"Aku harus pergi, ingin mengunjungi haraboeji dan halmoeniku disini. Lain kali mari kita bertemu kembali" ujar Jin tersenyum pias dan menghilang di khalayak ramai.

"Aku justru berharap bahwa dirimu adalah eommanya Jin" monolog Sunghoon lirih.

Jin terlalu baik. Terlalu sempurna. Saat Soojin lahir pertama kali kedunia, Yooram sama sekali enggan melihat anaknya tersebut. Sunghoon yang saat itu masih kerja serabutan menitipkan Soojin di incubator rumah sakit bersama dengan Jin yang selalu memantau tumbuh kembang bayinya.

Saat Soojin bisa dibawa kedalam apertemen kumuhnya. Jin dengan telaten membersihkan seluruh ruangan milik rumahnya, memasak makanan bagi Sunghoon dan membeli ASI untuk Soojin dari para ibu yang mau menyumbangkan ASI-nya mengingat ibu kandungnya sudah pergi entah kemana dan usianya saat itu belumlah pantas untuk meminum susu formula.

Jin dengan telaten menemani Soojin, memakaikan popok bayi, memandikannya, memberinya figur seorang 'ibu'.

Jin terlampau baik, terlampau sempurna. Hal itu membuat Sunghoon semakin takut. Ia takut jika ia mulai mengingini pemuda ini yang bahkan bukan dari kalanganya. Jin adalah seorang putra perdana menteri.

Cucu mantan perdana menteri tersohor seantero Korea Selatan dan mungkin juga dunia.

Jin juga adalah keponakan dari Kim Kibum, pengusaha yang selalu munul di majalah eksklusif juga keponakan dari Kim Tae Hee. Artis papan atas.

Jin adalah adik dari Kim So Eun, Chief PD KBS yang sudah banyak menerima penghargaan dan adik dari Jinwoo WINNER boyband besutan YG Entertainment.

Jin lahir dengan kondisi finansial dan popularitas tingkat atas. Ia bukanlah apa – apa dibandingkan dengan status milik Jin.

Ia takut.

Ia sungguh takut.

Jika ia mulai memandang Jin dengan tatapan lain. Dengan status lain.

Ia takut jika ia mulai memandang Jin sebagai staf property KBS yang sangat sembrono. Ia takut jika ia mulai memandang Jin sebagai lelaki biasa yang menyukai anak – anak dan kesendirian. Ia takut jika ia memandang Jin sebagai lelaki rapuh yang bisa menangis karna hanyalah sebuah 'mimpi buruk'.

Ia takut,

Jika ia mulai memandang Jin sebagai seorang Jin.

Ia takut,

Jika hatinya mulai mengakui bahwa ia jatuh cinta terhadap pemuda dengan senyum hangat tersebut.


Author's Note :

1. Coordi : Stylist atau sering disebut Coordi noona ini adalah orang yang pekerjaanya mengurusi kostum, make up dan penampilan idol.

2. Bias : Member atau grup favorit

3. Ship : Awalnya berasal dari kata relation'ship', adalah keinginan oleh penggemar untuk dua orang atau lebih, baik orang yang hidup nyata atau karakter fiktif (dalam film, sastra, televisi, dll.) untuk menjalin hubungan, romantis atau sebaliknya.

4. Rating-M : Rating - M atau biasa disebut Mature Content adalah konten untuk cerita berisi bahasa, tema, dan saran dewasa. Deskripsi rinci tentang interaksi fisik dari sifat seksual atau kekerasan. Tidak cocok untuk anak-anak atau remaja di bawah usia 16 tahun dengan tema dewasa sugestif non-eksplisit, referensi ke beberapa kekerasan, atau bahasa kasar.


DONT FORGET TO RnR ALSO FAV&FOLLOW

BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK YA TEMAN -TEMAN~~