My Slave Is My Love

.

.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

©Aomine Sakura

.

.

Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!

Don't Like Don't Read

Selamat Membaca!

oOo

"Bagaimana Sakura, kamu suka?" tanya Sai ketika mereka jalan-jalan di kebun binatang.

"Um.." Sakura menganggukan kepalanya dengan semangat. "Kebetulan aku sudah lama tidak ke kebun binatang."

Sai tersenyum dan mengusap rambut Sakura dengan lembut.

"Ngomong-ngomong Sai, apa yang kamu lakukan di Surabaya?" tanya Sakura.

"Urusan bisnis. Sekalian liburan." Sai menggenggam tangan Sakura. "Ayo, setelah ini kita akan makan rawon."

Sakura benar-benar menikmati acara jalan-jalannya bersama Sai. Meski dihabiskan untuk nongkrong dan makan, tetapi Sakura tetap menyukainya. Sai tersenyum ketika melihat Sakura tersenyum bahagia.

Lihat saja nanti, Uchiha. Aku akan mengambil apa yang menjadi milikku kembali.

.

Sasuke keluar dari mobilnya dan memasuki hotel tempat dirinya menginap. Dia memandang Kakashi yang berjalan di belakangnya.

"Kosongkan jadwalku besok, Kakashi."

"Baik."

Sasuke memasuki lift dan menuju kamarnya. Dengan terburu-buru dirinya membuka pintu kamar hotel tempatnya menginap dan menemukan Sakura duduk di atas ranjang sembari menonton televisi.

"Okaeri, Sasuke-kun." Sakura tersenyum.

Sasuke bisa merasakan rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Dia tidak bisa menahan emosinya ketika melihat Sakura, apalagi ketika teringat dengan foto yang dikirimkan Sai untuknya.

Mengepalkan tangannya, Sasuke melepaskan jasnya dan meletakannya sembarangan. Dia menuju balkon kamar hotelnya. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan Sakura, karena hal itu bisa membuatnya hilang kendali.

Sasuke memejamkan matanya. Mencoba menahan emosinya yan bergejolak di dadanya. Dia tidak ingin menyetubuhi Sakura secara membabi buta seperti kemarin.

"Aku datang ke rumahmu dan menemui Sakura. Dia gadis yang manis dan cantik. Pantas saja jika kamu jatuh cinta padanya, Sasuke."

Ingatan obrolannya bersama Shion kembali. Saat-saat Shion datang ke ruangannya.

"Aku melihat luka di tubuhnya. Jangan sakiti gadis secantik dia hanya untuk melampiaskan nafsumu, Sasuke."

Sasuke membuka matanya dan memandang jalanan Surabaya yang padat tiada henti. Angin malam Surabaya menerpa tubuhnya. Meski Surabaya panas pada siang hari, tetapi dia menyukai udara malam di kota ini. Banyak hal menarik yang dia temui di kota ini.

"Sasuke-kun."

Sasuke bisa merasakan sebuah selimut menyelimuti tubuhnya. Sebuah tangan melingkari perutnya dan itu adalah Sakura.

"Sasuke-kun, diluar dingin. Ayo masuklah."

Sasuke memejamkan matanya kembali, mencoba menekan dalam-dalam nafsunya. Dia tidak boleh menyetubuhi Sakura secara membabi buta. Meski pagi itu dirinya meninggalkan Sakura begitu saja, tetapi dirinya begitu khawatir dengan keadaan wanitanya itu.

"Aku tahu kamu pasti lelah, Sasuke-kun. Ayo segeralah mandi dan tidur. Apa perlu aku memesankanmu sesuatu?"

Sasuke membenci perhatian yang dilontarkan gadis itu. Tahukah Sakura, bahwa semakin Sakura memberinya perhatian. Maka dia akan merasakan sesuatu perasaan aneh yang berdesir di dalam dadanya. Dan dia tidak suka dengan perasaan itu.

"Sakura." Sasuke membalikan badannya dan memeluk Sakura dengan erat. Entah mengapa, dia tidak ingin kehilangan wanitanya.

"Ada apa, Sasuke-kun?"

"Hn. Tidak ada."

Sakura melepaskan pelukan Sasuke dan menuntun pemuda itu keatas ranjangnya.

"Kalau begitu, segeralah mandi dan tidur, Sasuke-kun. Jangan memforsir tubuhmu."

Sasuke mendaratkan ciuman di puncak kepala Sakura. Membuat wanita itu merona merah.

"Hn."

.

.

Sakura membuka matanya ketika cahaya matahari masuk melalui celah jendela kamar hotel mereka. Belum satu menit dirinya membuka mata, tiba-tiba rasa mual menyerangnya. Sakura refleks menutup mulutnya agar cairan dalam perutnya tidak keluar secara paksa. Jika dirinya muntah pagi ini, Sasuke pasti akan curiga.

Namun semakin ditahan, rasa mual itu semakin terasa hebat. Sakura bahkan tidak bisa menahannya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya ke dalam westaffel.

"Hoeek! Hoeeekk!"

Sakura buru-buru membasuh mulutnya. Mengapa Morning sickness datang disaat-saat seperti ini. Jika seperti ini terus, maka Sasuke akan segera mengetahui apa yang terjadi padanya.

"Sakura?" Sasuke muncul dan memasuki kamar mandi. "Kamu muntah-muntah lagi?"

Sakura menganggukan kepalanya dan mambasuh mulutnya sebelum tersenyum hangat. Sasuke membawa Sakura menuju ranjangnya dan menelpon pegawai hotel untuk membawakan Sakura coklat hangat.

"Sepertinya kamu belum terbiasa untuk pergi keluar negeri." Sasuke menyelimuti Sakura dengan selimut.

"Maaf, aku merepotkanmu." Sakura menundukan kepalanya dan mencengkram selimutnya erat-erat.

"Hn. Mungkin kita akan menunda jalan-jalan kita hari ini."

"Tidak! Jangan!" Sakura memandang Sasuke. "Sungguh, aku tidak apa-apa, Sasuke-kun."

Sasuke memandang Sakura. Dia mengerti, jika gadis itu tidak ingin mengecewakannya. Dia paham jika Sakura hanya ingin menghargai segala usahanya. Menarik nafas panjang, Sasuke memejamkan matanya.

"Baiklah, tapi kamu tidak boleh terlalu lelah. Katakan lelah jika kamu mulai lelah."

.

.

Sakura benar-benar cantik dengan pakaian santainya. Dengan sebuah kaos putih yang melekat di tubuhnya, dipadukan dengan celana pendek dan sebuah flat shoes membuatnya sangat cantik. Sasuke hanya mengenakan sebuah kaos biru tua dan celana jeans.

Mereka sedang berada di lobby hotel untuk menunggu Kakashi selaku tour gaide mereka hari ini.

"Hari ini kita akan menuju monumen kapal selam." Kakashi tersenyum dan memulai tournya.

"Monumen kapal selam?"

Kakashi memutar mobilnya dan Sakura terkagum-kagum ketika melihat kapal selam ada di daratan dan ramai dengan pengunjung. Sasuke tidak bisa menahan senyumnya dan mengusap kepala Sakura dengan gemas.

"Bagaimana caranya mereka membawa kapal selam ke daratan?" tanya Sakura.

Kakashi terkekeh.

"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Sakura."

Mereka masuk ke dalam kapal selam dan Sakura tidak bisa menahan keterkagumannya. Gadis itu menyentuh segala sisi kapal selam itu dengan semangat. Kapan lagi bisa masuk ke dalam kapal selam yang begitu besar dan megah itu?

"Sakura." Sasuke memanggil gadisnya itu yang sedang memegang setiap sudut kapal selam. "Ayo, kamu bisa ketinggalan nanti."

Sakura menggenggam tangan Sasuke dengan wajah yang masih terkagum-kagum. Kakashi terus memandu mereka hingga Sakura puas berputar-putar.

"Kita akan mengelilingi kota Surabaya." Kakashi berkata sambil mengemudikan mobil. "Kita sudah sampai di jembatan merah, tempat yang bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Sampai-sampai ada lagu untuk jembatan ini."

Sakura memegang smartphonenya dan terus mengakses sejarah Indonesia.

"Lalu, kita sampai di Monumen bambu runcing."

Sakura memandang keluar jendela mobil. Dan melihat monumen besar berbentuk bambu runcing.

"Monumen ini dibentuk untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia saat dijajah dulu. Kenapa berbentuk bambu runcing? Karena bambu runcing adalah senjata yang digunakan untuk melawan penjajah dulu."

Sakura mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Indonesia benar-benar mengagumkan. Bahkan mereka hanya menggunakan bambu runcing untuk melawan penjajah. Sakura tidak bisa membayangkannya.

Kakashi membawa Sakura berputar-putar kota Surabaya. Mencicipi lontong balap, rujak cingur hingga semanggi. Dan yang terakhir adalah Taman Bungkul. Sakura langsung berlari-lari kecil ke taman.

"Sasuke-kun, aku ingin bakso bakar!" Sakura memandang Sasuke.

Sasuke menyerahkan dompetnya dan Sakura langsung berlari menuju penjual bakso bakar yang ada tidak jauh dari mereka. Sasuke memilih duduk di salah satu kursi sembari menunggu Sakura.

Beberapa gadis-gadis berlalu lalang dan berbisik-bisik ketika menatapnya. Sasuke mendesah, inilah alasan mengapa dirinya tidak suka berada di tempat umum seperti ini.

Sakura muncul membawa permen kapas, sepuluh tusuk bakso bakar dan beberapa makanan lainnya.

"Kau sedang membuatku bangkrut, heh." Sasuke memandang makanan yang dibawa Sakura.

"Eh? Ini tidak akan membuat uangmu habis kok." Sakura duduk di sebelah Sasuke dan memakan bakso bakarnya.

"Cara makanmu, seperti orang hamil."

Sakura refleks menghentikan acara makannya. Emeraldnya memandang Sasuke yang kini balik memandangnya dengan tatapan keheranan.

"Hn. Ada apa?"

"Tidak. Bukan apa-apa." Sakura kembali memakan bakso bakarnya dan mencoba untuk melupakan perkataan Sasuke.

Kami-sama, jangan buat Sasuke mengetahui perihal kehamilannya.

oOo

"Engghh.. ohh.."

Sasuke tak henti-hentinya menyodok kewanitaan Sakura. Wanita berambut merah muda itu meremas sprei di sampingnya. Matanya terpejam ketika kejantanan milik Sasuke menusuk habis kewanitaannya.

"Oh.. Sasuke-kunhh.. jangan keras-keras!" Sakura mendesah ketika Sasuke meremas kedua payudaranya.

"Sakura.. mereka semakin bertambah besar dan berisi saja." Sasuke menghisap puting payudara Sakura hingga mengeras.

"Ohhh.. ohh.."

Meski Sakura meminta Sasuke untuk bermain dengan pelan. Tetap saja, permainan ranjang Sasuke mampu membuatnya mengerang-erang.

"Sedikit lagi.. sedikit lagi.." Sasuke menggeram ketika pelepasannya semakin dekat.

Sakura menahan teriakannya ketika sodokan Sasuke semakin terasa membabi buta. Dan ketika dirinya merasakan kejantanan Sasuke mulai membesar dan akhirnya pria itu mendapatkan pelepasannya.

"Sakuraaahh!"

.

.

Sakura mengguyur tubuhnya dengan air panas yang keluar dari shower. Setelah percintaan mereka semalam, Sakura merasakan perutnya mual dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Apalagi, perutnya terasa begitu tegang sekarang.

Dirinya beruntung, setelah percintaan mereka semalam membuat Sasuke tertidur dengan nyenyak hingga tidak menyadari morning seksnya pagi ini. Mematikan showernya, Sakura menuju cermin dan memandang wajahnya di cermin.

Tubuhnya terlihat lebih padat dan berisi, kedua payudaranya juga semakin berisi dan besar. Wajahnya juga terlihat makin dewasa. Menarik nafas panjang, Sakura mulai membalut tubuhnya dengan handuk.

Mulai sekarang, dia harus bisa menyembunyikan kehamilannya dari Sasuke.

.

.

Mereka akan pulang malam ini dan Sakura sedikit kecewa karena dirinya belum puas berkeliling kota Surabaya. Namun mau bagaimana lagi, Sasuke harus kembali bekerja dan liburannya sudah selesai.

Sembari menunggu pesawat yang akan membawa mereka kembali siap, Sakura memilih untuk mengobrol bersama Rin. Sasuke entah kemana, mungkin dia sedang mengurus segala sesuatunya bersama Kakashi. Dirinya begitu menyukai mengobrol bersama Rin, wanita itu banyak memiliki ilmu pengetahuan dan tak segan-segan untuk berbagi. Bercerita kepada Rin membuat rasa kesepiannya menghilang.

"Hn."

Rin tersenyum dan beranjak dari kursinya. Sasuke pasti ingin membicarakan sesuatu dengan Sakura, apalagi di tangannya terdapat sebuah kotak kecil.

"Sakura-chan, aku ingin ke toilet sebentar."

Sakura menganggukan kepalanya dan tersenyum menyambut Sasuke. Pria itu duduk di sebelah Sakura dan menyerahkan sebuah kotak kecil kepadanya.

"Sasuke-kun, apa ini?" tanya Sakura tidak mengerti.

"Buka saja."

Dan ketika Sakura membukanya, dia bisa melihat sebuah Ipod di dalamnya. Warnanya pink dan bentuknya lucu sekali. Emeraldnya kemudian memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya.

"Ini untukku?" tanyanya.

"Hn."

Sakura tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kehamilannya membuatnya sedikit sensitif. Menyeka air mata di sudut matanya, Sakura tersenyum dan memeluk Sasuke dengan erat.

"Terimakasih, Sasuke-kun."

"Hn."

.

Selama di pesawat, Sakura tak henti-hentinya memandangi Ipod pemberian Sasuke. Dia begitu bahagia ketika majikannya itu memberikannya sebuah hadiah. Meski wajah Sasuke terlihat jutek dan menyebalkan, sebenarnya pria itu sangat baik. Jauh di dalam lubuk hatinya.

"Kau akan menikahi Ipod itu?" Sasuke bertanya dari balik majalah bisnis yang dibacanya.

"Eh?" Sakura mengedipkan matanya.

"Memandanginya seperti orang yang jatuh cinta."

"Mou!" Sakura menggembungkan pipinya. "Aku hanya sedang bahagia."

Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk mengacak lembut rambut Sakura dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.

Kakashi tersenyum. Rin sudah menceritakan semuanya perihal kehamilan Sakura. Dia sudah tidak sabar untuk melihat keponakan kecilnya yang sama menyebalkan dengan Papanya.

.

.

Sesampainya di Jepang, Sasuke langsung menuju perusahaanya dan pulang sebelum makan malam. Dia juga memberikan Kakashi waktu istirahat dan menghabiskan waktunya bersama Rin sebelum kembali bekerja.

Dan disinilah dirinya sekarang. Duduk di kursi makan sembari menunggu masakan yang dibuat Sakura matang. Wanita berambut merah muda itu dengan telaten memasukan bumbu-bumbu ke dalam kare yang dibuatnya.

Tingtong!

"Sasuke-kun, ada yang datang." Sakura memandang Sasuke.

"Biar aku yang bukakan."

Sasuke berjalan menuju pintu ruang tamunya. Dan terkejut melihat siapa yang datang.

"Aniki?!"

.

.

"Terimakasih atas makanannya."

Itachi, sulung Uchiha itu menyeruput ocha hangatnya. Onyxnya memandang Sasuke yang kini memandangnya dengan pandangan bingung. Tentu saja, melihat kakaknya yang ada di Belanda muncul di rumahnya secara mendadak.

"Aniki, apa yang kau lakukan disini?"

"Aku pulang. Memang kenapa?" tanya Itachi. "Dari bandara aku langsung mampir kesini karena aku dengar kamu tinggal bersama seorang wanita. Aku juga sudah membawakan oleh-oleh untukmu dan juga Sakura."

Sakura hanya diam, membiarkan dua kakak beradik itu saling bicara. Meski sebenarnya, dia cukup terkejut dengan kedatangan kakak Sasuke. Onyx milik Sasuke memandang kakaknya, ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakaknya.

Seharusnya, kakaknya datang bersama wanita yang menjadi istrinya. Wanita yang tidak ingin Sasuke ingat, wanita yang tidak ingin dia sebutkan namanya dan wanita yang berasal dari masa lalunya.

"Dimana.. Yugao-nee?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Special's thank's to :

Caramelizes Coffiesta, Williewilydoo, AsahinaUchiHaruno, Uriana11, Bang Kise Ganteng, Ciheelight, Itsbabygirl13, Dauddolmayan, Lightflower22, Someandmany, Uchihaliaharuno, AomiYukiCherry, Cherry480, Nathalie-ichino, Mustika447, Wowwoh-geegee, Chichak Deth, Zarachan, FiaaATiasrizqi, Smilecherry, Pinky Barney, Zahra Haruno Chan, Guest, 69CoolAndCold69, Baby Niz 137, Genie Luciana, Leni265, Ayuniejung, Jamurlumutan462, Kagaaika Uchiha, Shironoshiro,Nananania, Hanamura18, Yanlinlin49, Soeun-ah3, Uchiharuno 4ever, Hanazono Yuri, Guest (1), Sasu 'Love', Guest (2), Fansanime, NamikazeLee, Red Kushi-chan, Lovesehunluhanforever, Hikaru sora14,Little Bee Arikuuruki, Dianggi, Rona337, Cherine-chan, LukeLuke, SasuSaku Blossom, Guest (3), Uwikk, Ciisiicuabbykireiina454, Guest (4), Saki, Tomato no Sakuranbou, HnataMatsumoto, Rizka scorpiogirl, Rara, Lyn307,

...

Q : Author orang Surabaya ya?

A : Nggak.. bukan.. Cuma suka aja sama kotanya..

Q : kapan Sasuke tahu perihal kehamilan Sakura?

A : Nanti ada masanya.. :3

Q : Umurnya berapa sih? Kok berpengalaman banget buat bagian "Itu", atau udah nikah?

A : Diaa nanya umur.. :3 yah.. pokoknya udah dewasa lah.. tapi belom nikah.. :3

Q : Kenapa ngambil latar Surabaya?

A : karena ke Bali mungkin udah sering XD aku juga sering ke Bali, tapi masih gak hafal-hafal juga tata letak kotanya :3 aku sering ke Bandung, Jakarta, Jogja, Semarang dll. Tapi entah kenapa yang paling di hafal itu Surabaya :3

Mungkin banyak pertanyaan, tetapi hanya itu yang bisa Sakura jawab... nanti jadinya panjang.. XD bukannya gak menghargai, semua review kalian sangat berharga kok.. :* Dan buat pembaca baru atau silent Reader, salam kenal juga yaaaa! Saku seneng kalian semua mau mampir di fict ini!

Okeeee! Sebelum berpamitan, Sampai Ketemu di chap depan!

-Aomine Sakura-