Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Beautiful
Cast: Do Kyungsoo, Kim Jongin, Wu Yi Fan, Shim (Do) Changmin
Other Cast: Exo, SMartists, YGartists
Rated: T
Genre: Yaoi, Fantasy, Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 6416
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading
Cklek!
Kyungsoo yang baru saja mengeringkan rambutnya menoleh menatap Jongin yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. "Musun iriya?" tanya Kyungsoo bingung, Jongin menggeleng dan duduk di tempat tidur Kyungsoo.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran eomma."
"Jinjja? Ada apa?"
"Di bawah ada Tiffany-ssi, aku tidak tahu tapi eomma sepertinya melanjutkan hubungan kerjasama antara mereka. Bahkan mereka berbicara secara rahasia," Kyungsoo menatap Jongin bingung, "Benarkah?" Jongin mengangguk. "Ah keundae, kenapa kau diam sekali? Kau tidak sedang marah padaku bukan?"
"Anni, anniyo. Memang kenapa kau mengira aku marah padamu?" Kyungsoo balik bertanya, "Molla, hanya saja kau mendadak diam tadi. Kau kan begitu kalau sedang ada masalah, ada apa?"
Kyungsoo nampak berpikir, ia sedang bimbang untuk berbicara dengan Jongin mengenai Yi Fan atau tidak. Hingga Kyungsoo memutuskan untuk diam saja, mungkin Jongin lebih baik tidak tahu agar hubungan antara mereka tidak bertambah aneh. "Kau keluarlah, aku mau tidur."
"Tidur? Jam segini?" Kyungsoo mengangguk. "Aku lelah, nanti malam aku Harus belajar lagi. Sekarang keluar dari kamarku!" usir Kyungsoo, Jongin menatap Kyungsoo tak mengerti. "Aku yakin seratus persen pasti ada sesuatu yang terjadi, apa kau PMS? Sudah sebulan lebih kau tinggal di rumahku? Apa kau sedang dalam periodemu? Apa kau butuh pemba—"
"ANNIO! Ya! Bagaimana kau bisa bertanya hal seperti itu pada yeoja?! Kalaupun aku sedang datang bulan aku pasti punya persediaan sendiri, sekarang pergilah! Na ga!" Kyungsoo menarik Jongin dan mendorong laki-laki itu keluar, lalu mengunci kamarnya.
Tokk.. tokk..
Jongin mengetuk dari luar pintu, namun Kyungsoo nampak tak memperdulikan. "Ya! Do Kyungsoo!" teriak Jongin dari luar. "AKU TIDAK INGIN BERTEMU DENGANMU!" balas Kyungsoo, Jongin menatap pintu kamar Kyungsoo sambil mengernyit.
"Mwoya i yeojaneun..(what's with this girl)" gerutu Jongin sebelum memutuskan benar-benar meninggalkan kamar Kyungsoo. Namun sebelum ia masuk ke kamarnya, Jongin melihat ke arah ruang tamu dari atas. Ibunya sedang mengantar Tiffany sampai ke pintu. Jongin buru-buru menuruni tangga dan berjalan ke arah Yuri.
Begitu mobil Tiffany meninggalkan halaman rumah mereka, Jongin melangkah mendekati Yuri yang belum berhenti memandang keluar. Jongin menepuk pundak ibunya. "Eomma." Panggil Jongin pelan.
"O-Omo! Kkamjakkiya!" gerutu Yuri, Jongin hanya menampilkan senyum tipis. Lalu mengikuti Yuri lagi hingga ibunya itu hampir memasuki kamarnya, "Kenapa? Kau mau tidur dengan eomma juga?" tanya Yuri. "Eomma kira aku masih sekolah dasar apa, tidak aku hanya mau tanya ada apa antara kalian berdua? Apa eomma dan Tiffany-ssi benar-benar hanya menjalin hubungan kerjasama? Apa eomma tidak memikirkan perasaan Kyungsoo? Perasaan Yi Fan hyung?"
Yuri terkekeh kecil, "Jongin-ah ini hanya urusan bisnis. Lagipula, ada banyak hal yang eomma tahu lebih baik daripada kau tahu." Jawab Yuri misterius, lalu membiarkan Jongin berdiri dengan penuh kebingungan.
Tiba-tiba dari arah pintu masuklah Chanyeol dan Siwon, Chanyeol menatap Jongin yang berdiri mematung di kamar orangtuanya dengan bingung. "Kenapa kau berdiri di depan kamar eomma?" tanya Chanyeol. Jongin menggeleng. Chanyeol hanya mengangkat bahunya tak perduli dan meletakkan barang-barang di atas meja.
"Jongin.." Jongin menoleh begitu Siwon memanggilnya, ayahnya itu melangkah mendekat dan memberikan Jongin sebuah amplop. "Apa ini appa?" tanyanya, Siwon hanya memberi isyarat agar Jongin membukanya sendiri.
Jongin membuka amplop itu dan menemukan dua buah tiket lengkap dengan dua buah paspor dan segala urusan akomodasi lain. Cepat-cepat Jongin membuka tiket itu dan membaca kalau itu adalah tiket tujuan Rusia. "Eo?" Jongin bertanya bingung.
"Kau mau pergi?" kali ini Chanyeol yang bertanya, kakak Jongin itu menatap Jongin sambil mengunyah pizza di tangannya. "Temui Changmin-ssi, lusa ujian kalian sudah selesai bukan?" Jongin mengangguk merespon kata-kata ayahnya.
. . .
Kyungsoo merasa sedikit aneh mengapa hari ini ia tenang-tenang saja, tidak bertemu dengan Sohee maupun Daeun. Ia bahkan bisa makan dengan tenang sendirian di kantin, akhirnya setelah sekian lama bersekolah di SM Kyungsoo bisa makan steak di kantin sekolah mereka.
Tek!
Kyungsoo mendongak begitu mendengar suara seseorang meletakkan nampan di atas meja yang sama dengannya, itu Yi Fan. Padahal hari ini Kyungsoo berharap untuk tidak bertemu dengan Yi Fan, ngomong-ngomong buku hitam itu masih ada pada Kyungsoo.
"Kenapa menatapku seperti itu? Kau tidak ingin aku duduk di sini?"
"A—ah anniyo oppa, hehe.. aku hanya terkejut." Yi Fan pun makan dengan lahap, samar-samar Kyungsoo mendengar suara lagu dengan irama pelan mengalun melalui radio sekolah mereka. Lagu itu cukup menyenangkan untuk di dengar. "Kau tahu lagu ini?" tanya Yi Fan ketika melihat Kyungsoo bergerak mengikuti irama lagu.
"Tidak, hanya lagunya enak. Memang lagu siapa?"
"Itu lagu ciptaan Jongin, kau tidak tahu?" Yi Fan bertanya bingung. "Jinjja? Orang seperti dia bisa menciptakan lagu?" Yi Fan tertawa kecil mendengar pertanyaan polos Kyungsoo. "Dia bisa. Judul lagu ini adalah My Answer aku dengar sudah dirilis online."
"Heol daebak, dia akan jadi idol sepertinya." Komentar Kyungsoo, ia kemudian meminum orange juicenya. "Aku sudah cerita belum kalau eommaku sudah kembali? Dia ingin bertemu denganmu,"
"Jeongmalyo? Ah sayang sekali aku Harus ke Rusia minggu ini." Yi Fan menaikkan alisnya, "Menemui ayahmu?" Kyungsoo mengangguk-angguk. "Siwonie aboeji bilang appa sudah bisa ditemui. Mungkin appa juga bisa segera pulang, mungkin ia sudah lebih baik karena Siwonie aboeji menemuinya waktu itu."
Yi Fan mengangguk lagi, kemudian Kyungsoo memilih mengaduk-aduk orange juicenya denagn sedotan. "Oppa.. sebenarnya.." gumam Kyungsoo, Yi Fan menatap Kyungsoo bingung, namun Kyungsoo yang memang sedari tadi membawa tasnya mengeluarkan sesuatu dari tas berwarna biru gelap tersebut.
Yi Fan melebarkan matanya begitu Kyungsoo menyerahkan sebuah buku berwarna hitam, buku yang selama ini dikira Yi Fan sudah menghilang. "B—Bagaimana bisa itu ada padamu?" tanya Yi Fan bingung. "Oppa ingat sewaktu kita bertemu di kedai tteokbokki ketika aku menyelamatkan Lami? Kau meninggalkannya, namun aku lupa mengenai keberadaan buku ini. Mianhae, aku membacanya sedikit kemarin."
"K—Kyungsoo-ya ini tidak seperti yang kau kira.. aku..." Yi Fan terbata-bata berusaha menjelasan.
"Gwaenchana, aku tahu bagaimana perasaan oppa, aku berterimakasih karena kau mengagumiku diam-diam, tapi aku juga minta maaf karena aku tidak mengetahuinya, mianhae." Kyungsoo menundukkan kepalanya, keduanya tidak berbicara lagi. Sampai Yi Fan menggenggam punggung tangan Kyungsoo.
Kyungsoo mendongak menatap Yi Fan yang kini malah tersenyum, "Ini bukan salahmu, setidaknya aku lega kau mengetahui perasaanku. Orang pernah bilang, tahapan tertinggi dalam cinta adalah merelakan orang yang kita cintai bersama dengan orang yang dicintainya. Aku percaya itu, aku senang melihatmu bahagia dengan Jongin,"
"Oppa.."
"Aku harap kau bahagia bersamanya, dan dia tidak akan menyakitimu. Karena kalau Jongin menyakitimu, aku tidak akan merelakanmu bersamanya lagi. Kau tidak perlu merasa bersalah, kita tidak akan tahu kepada siapa kita jatuh cinta. Kalaupun aku datang lebih dulu di kehidupanmu itu juga tidak akan menjamin kita akan bersama, gwaenchana, yang penting sampai sekarang kita masih teman bukan? Gumawo Kyungsoo-ya,"
"Anni, aku yang berterimakasih oppa. Kau benar-benar orang yang baik, aku harap suatu saat kau akan menemukan orang yang lebih baik daripada aku yang lebih pantas menerima cintamu." Yi Fan tersenyum, "Arasseo. Tapi kau tetap hoobae favoritku,"
Keduanya tertawa bersama kemudian.
Yi Fan tidak menyangka bahwa ia tidak merasa sakit sedikitpun, maupun rasa menyesal yang ia kira akan ia rasakan. Yang ia rasakan justru bahagia, melihat senyuman di wajah gadis yang ia cintai sudah lebih dari cukup baginya.
. . .
Kyungsoo mencium bunga di pangkuannya, membuat Jongin yang menyetir mobil menatap Kyungsoo dengan senyuman. "Kau cantik sekali, bunga itu kalah cantik." Puji Jongin, membuat pipi Kyungsoo merona tanpa bisa dicegah.
"Aku masih tidak terbiasa mendengar kau memujiku."
"Itu bukan pujian, itu kenyataan."
"Aaack, hajima. Jangan mengucapkan kata-kata cheesy, tanganku gatal seketika." Jongin terkekeh, tiba-tiba tangannya mengelus-elus kepala Kyungsoo, menelusuri rambut cokelat panjang gadis itu. "Kau tidak akan menangis bukan?" tanya Jongin, ia benar-benar serius.
Kyungsoo menggeleng, "Aku tidak bisa berjanji, aku sedang dalam suasana emosional saat ini. Tergantung bagaimana situasinya nanti. Lagipula.. lagipula, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Gumam Kyungsoo dengan nada sedih, ia menyesal, Harusnya ia menyempatkan waktu.
"Kalau begitu berjanjilah kau tidak akan menahannya, kau Harus mengeluarkan segalanya hari ini. Segalanya, kemudian berjanji padaku kalau besok kau Harus berjalan dengan tegak dan percaya diri."
"Arasseo."
Jongin kemudian memarkirkan mobilnya di depan pemakaman umum, ya, keduanya sedang mengunjungi makam ibu Kyungsoo, Kim Taeyeon. Kyungsoo ingin mengunjungi ibunya dulu sebelum pergi ke Rusia.
Jongin menggenggam telapak tangan Kyungsoo dan berjalan, Kyungsoo menunjukkan dimana lokasi makam ibunya, Kyungsoo kemudian berjongkok dan mencabuti rumput-rumput liar yang mulai tumbuh meninggi akibat lama tak dicabut.
"Eomma, olaenmaniya. Jaljinaeni? Apa eomma baik-baik saja disana? Maafkan aku eomma, aku baru sempat datang kesini." Kyungsoo meletakkan bunga yang ia beri di depan nisan ibunya. "Eomma, aku akan menemui appa. Akhirnya aku bisa bertemu dengan appa."
Air mata mengalir di pipi putih Kyungsoo, gadis itu terisak pelan. "Eomma mianhae.. aku tidak bisa melakukan apa-apa, wanita itu masih hidup dengan tenang saat ini, eomma pasti kecewa? Atau eomma malah bahagia? Aku ingin membunuh wanita itu seperti bagaimana dia membunuh eomma, tapi eomma mengajariku untuk selalu memaafkan kesalahan orang. Eottokhajji? Aku tidak bisa memaafkannya, melihatnya bahagia saja teramat susah bagiku."
"Aku harap, dia akan mendapatkan balasan yang setimpal eomma. Aku hanya ingin hal itu, tapi eomma tenang saja aku tidak akan melakukan hal-hal diluar batas wajar kok hehe." Kyungsoo menatap makam yang tentu saja tidak bisa membalas segala ucapannya, namun entah mengapa Kyungsoo merasa eommanya ada begitu dekat dengannya.
"Apa ketika musim dingin eomma kedinginan? Apa ketika hujan eomma baik-baik saja? Bagaimana dengan musim panas? Aku benar-benar aneh ya eomma, aku yakin Tuhan sudah memberi tempat yang terbaik untukmu. Tapi aku masih merindukan eomma, aku masih berharap eomma ada disini bersamaku, bersama appa."
"Tapi mungkin eomma saat ini berada di tempat yang lebih baik daripada dunia ini. Sampai jumpa eomma, aku akan menyampaikan salammu pada appa." Kyungsoo mengusap nisan yang bertuliskan nama ibunya tersebut. "Eomonim, aku Jongin. Sebulan ini Kyungsoo tinggal bersama kami, apa eomonim tahu? Eomonim kami sedang berusaha dan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki segalanya, jeokkuman gidaryo!"
Kyungsoo tersenyum kecil, "Eomonim, bagaimana bisa kau melahirkan seseorang sebaik gadis di sampingku ini? Dia punya banyak kekurangan, tapi kelebihannya lebih banyak lagi. Dia memang cerewet dan selalu marah-marah, tapi dia juga pintar, kuat dan lembut. Eottokhae? Aku mencintainya, apa eomonim mengizinkan aku? Tolong restui kami eomonim hehehe."
"Ya..." kesal Kyungsoo, "Lihat eomonim, dia sudah mulai marah-marah. Haha, aku bercanda, kami saling mencintai kok eomonim. Kalau begitu kami pergi dulu, kami tidak boleh ketinggalan pesawat. Semoga eomonim ada di tempat yang baik, selamat tinggal." Jongin berdiri, kemudian membantu Kyungsoo berdiri, sepertinya Kyungsoo belum rela meninggalkan makam ibunya.
"Gwaenchana, kita bisa kesini lain waktu." Jongin mengusap bahu Kyungsoo dari belakang, Kyungsoo mengangguk dan berbalik, namun ketika ia berbalik ia malah berhadapan dengan dada Jongin dan lengan lelaki itu yang memeluknya dengan erat.
"Menangislah, setelah keluar dari sini kau tidak boleh menangis lagi." Dipeluk dengan erat seperti itu membuat Kyungsoo mau tak mau membalas pelukan Jongin dan menangis sedikit keras. Jongin mengelus-elus punggung Kyungsoo menenangkan. "Eomma bogoshippeo, eottokhae Jongin-ah.. aku merindukannya, aku bahkan berpikir untuk mati saja karena aku ingin bertemu dengannya eottokhae.. aku sudah menahannya selama ini, aku berusaha kuat tapi aku tidak bisa." Isak Kyungsoo.
Jongin menyandarkan dagunya di pucuk kepala Kyungsoo, "Neo halssu isseo(you can do it) kalau kau mengakhiri hidupmu saat ini, belum tentu kau akan berada di tempat yang sama dengan ibumu. Lagipula, apa kau tidak memikirkan perasaan orang-orang yang mungkin akan kehilanganmu? Aku, appamu, appa, eomma, Yi Fan hyung. Lagipula kau tidak boleh menyerah sebelum orang itu mendapat ganjarannya arasseo? Jadi, aku akan egois. Kau tidak boleh lemah dan kau Harus bertahan apapun yang terjadi karena masih ada aku di sampingmu, arasseo?"
Kyungsoo mengangguk lemah, "Gumawo Jongin-ah, saranghae.."
. . .
Setelah perjalanan yang melelahkan akhirnya mereka sampai juga di Rusia, rencananya hari pertama sampai keduanya menghabiskan waktu untuk beristirahat sekaligus menghilangkan rasa jet lag, baru esoknya mereka berencana mengunjungi Changmin di rumah sakit.
Esoknya Jongin mengetuk pintu kamar hotel Kyungsoo, Harusnya sudah dari jam delapan tadi mereka berangkat tapi hingga setengah sembilan Kyungsoo tidak keluar-keluar dari kamarnya. Kaki Jongin sampai hampir kesemutan berdiri sekitar tiga puluh menit di depan kamar gadis itu.
"Ya! Mwohaneun geoya? Lama sekali?!" protes Jongin, ia terus menggedor-gedor pintu –karena Kyungsoo memaksa menguncinya- lima menit kemudian pintu itu baru terbuka, dan Kyungsoo keluar dengan dress santai berwarna hitam selutut, dan sebuah bandana di rambutnya. Cantik sih, tapi masa berdandan seperti ini membutuhkan waktu hampir satu jam –Jongin sudah menyuruh Kyungsoo bersiap dari pukul setengah delapan- mungkin SNSD saja kalah, pikir Jongin ngawur.
"Mian." Ucap Kyungsoo pendek. "Yeoja—apa semua yeoja butuh waktu lama untuk berdandan?" tanya Jongin, ia jadi teringat ibunya yang kadang-kadang membutuhkan waktu sama lamanya dengan Kyungsoo, padahal ibunya itu hanya membubuhkan make up tipis, lama memikirkan konsep katanya.
"Aku Harus menenangkan diri dulu, inikan hari pertamaku bertemu appa!" gerutu Kyungsoo, Jongin mengangkat bahu dan langsung memeluk pinggang Kyungsoo dan mengajak gadis itu ke parking area hotel. "Ya, lepaskan tanganmu." Kyungsoo mendelik begitu tahu tangan Jongin dengan santainya melingkar di pinggangnya.
Jongin menatap Kyungsoo kesal, "Wae? Aku tidak boleh melakukannya?" tanya Jongin setengah merajuk, "Bukan begitu, appaku itu orangnya keras, kalau dia tahu anak perempuannya berpelukan dengan laki-laki yang tidak ia kenal, maka itu bisa jadi bencana." Jongin terkekeh, "Aku tidak takut dengan appamu, kau lihat saja aku pasti bisa memenangkan hati Changmin-ssi."
Kyungsoo hanya memutar kedua bola matanya, ia yakin Jongin pasti akan bertekuk lutut kalau berhadapan dengan appanya. Sepanjang perjalanan Kyungsoo memandang ke arah luar jendela, "Ah yeppeuda.." Kyungsoo menatap jalanan yang masih saja dipenuhi bunga-bunga meski sudah di penghujung musim semi.
"Ya Kyungsoo-ya, kau tahu kita sudah seperti akan mengunjungi rumah duka, berpakaian serba hitam." Gumam Jongin memecah kesunyian, Kyungsoo melirik, jujur saja ia tadi terlalu gugup memikirkan akan bertemu ayahnya sampai tidak memperhatikan Jongin. Jongin mengenakan kemeja berwarna putih yang dilapisi mantel berwarna hitam dengan celana yang senada, rambut Jongin yang biasanya diatur keatas kali ini poninya dibiarkan menutupi dahinya.
"Ya neo meoshitda.(you look so cool)"
"Geuraeyo? Jalsaenggin?(handsome right?)" tanya Jongin dengan senyum lebar, "Annio." Jawab Kyungsoo cepat, membuat senyum Jongin seketika luntur. "Mulutmu benar-benar, apa tidak bisa memujiku? Memangnya aku tidak berarti apa bagimu?" gerutu Jongin.
Kyungsoo tertawa kecil, kemudian lagi-lagi memegang lengan Jongin yang tidak digunakan menyetir. "Kau—bagiku kau itu anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku? Aigoo bicara apa aku ini, aku tidak biasanya mengucapkan kata-kata cheesy, lupakan!" Kyungsoo langsung menggeleng-geleng menyadari ucapannya sendiri.
Mendengar itu Jongin hanya mengulum senyum, ia sendiri tidak sadar tiba-tiba rumah sakit itu sudah cukup dekat. Ketika keduanya sampai Jongin membukakan pintu untuk Kyungsoo. Mereka segera berjalan menuju ruangan Changmin.
"Ah hftt... rileks Kyungsoo, rileks."
"Kau ini mau bertemu appamu kenapa takut sekali?"
"Aku sudah bilang bukan kalau aboejiku bukan orang yang mudah untuk dihadapi, ya kau Harus mempersiapkan dirimu baik-baik atau jangan berharap kita bisa bersatu selamanya."
"Arasseo."
Kyungsoo mengetuk pintu, dan masuk setelah ketukan ketiga. Keduanya disambut oleh seseorang yang sedang membaca buku dengan televisi yang setia menyala di hadapannya. Laki-laki itu menoleh dan menatap Kyungsoo terkejut. "K—Kyungsoo?" Changmin langsung meletakkan bukunya, dan melangkah mendekati Kyungsoo.
Lelaki tinggi itu lama terdiam di depan Kyungsoo, Jongin menatap Changmin waspada takut-takut mungkin Changmin akan histeris. Mungkin saja Changmin masih belum siap untuk bertemu Kyungsoo langsung secepat ini.
Gadis itu merentangkan tangannya dan memeluk ayahnya itu, "Appa.. lama tidak bertemu. Appa kenapa pergi?" Changmin hanya diam ia berpikir keras namun akhirnya lelaki itu memilih mengatasi perasaannya dan balas memeluk Kyungsoo, "Mianhae, appa—appa tidak tahu apa yang Harus aku lakukan saat itu. Maafkan appa Kyungsoo-ya,"
"Gwaenchana, yang penting aku bisa bertemu appa lagi. Apa selama ini appa baik-baik saja? Kenapa tidak segera pulang?" Changmin menggeleng, "Entah, aku rasa aku bisa pulang secepatnya bukan? Lihat aku baik-baik saja saat bertemu denganmu?"
Kyungsoo mengangguk, lalu mengajak Changmin dan Jongin duduk di sofa yang ada di kamar Changmin. "Ne, appa pasti sudah sembuh. Sebelum kesini, aku menemui eomma dulu." Rahang Changmin menegas mendengar Kyungsoo mengucap kata ibu, namun Kyungsoo menggapai telapak tangan Changmin dan menggenggamnya berusaha menenangkan ayahnya itu.
"Aku rasa, eomma pasti jauh lebih senang kalau kita berdua ada di Korea. Benar kan appa?"
"Mungkin kau benar, eomma tidak ingin kita terpisah." Jawab Changmin pelan. "Oleh karena itu, aku dan Jongin akan mengusahakan agar appa bisa pulang secepatnya. Paman Siwon juga pasti akan membantu, oh iya ngomong-ngomong ini Jongin anak Siwon ahjussi,"
Changmin menatap Jongin dengan tatapan tajamnya, "Annyeonghasseyo aboeji, Jongin imnida." Jongin mengulurkan tangannya namun Changmin hanya menatap tangan Jongin. "Appa, kenapa diam saja?"
"Dia anak yang menyukaimu? Yang selama ini dibahas Siwon?"
Dan Jongin berakhir diinterogasi berbagai macam pertanyaan oleh Changmin.
. . .
"Ini minumlah," Jongin menatap Kyungsoo yang menyodorkan sekaleng kopi instan padanya, tanpa berpikir Jongin langsung meraihnya dan meminum kopi tersebut hingga tinggal separuh. Changmin benar-benar membuat Jongin patah semangat, rasa percaya dirinya seakan-akan diinjak oleh Changmin.
"Wah jangnan aninde,"
Kyungsoo tertawa keras, lalu ikut duduk di samping Jongin. "Kau bilang kau bisa menaklukan appa? Mana buktinya?" Jongin menatap Kyungsoo, "Aku bisa menaklukannya, lihat appamu setuju denganku bukan?"
Meski dalam kondisi apapun Jongin memang tidak mau mengalah, "Geurae, tapi appa setuju sepertinya karena tidak ingin aku terluka." Sindir Kyungsoo, "Tidak appamu setuju karena aku orang baik-baik. Ayo segera pergi dari rumah sakit ini, perasaanku benar-benar tidak enak." Gerutu Jongin lantas menegakkan tubuhnya.
"Aku baru pertama kali menatap ekspresi menboong di wajahmu, kyeopta."
"Ya diam!"
"Ah keundae, pihak rumah sakit bilang apa?" tanya Kyungsoo penasaran, "Appamu bisa kembali ke Korea tiga hari lagi. Aku harap aku akan sibuk waktu itu," Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya wae? Anggap dia ayahmu juga sebagaimana aku menganggap Siwon ahjussi ayahku."
Jongin menggeleng, "Mudah bagimu menganggap appaku sebagai appamu, tapi susah bagiku menganggap appamu sebagai appaku. Aku heran, kau kecil begini tapi ternyata kau punya appa yang sangat tinggi. Aku tahu akhirnya dari mana semua sifatmu berasal,"
"Yak Kim Jongin kalau kau berkata buruk tentang appaku kau Harus siap-siap mati di tanganku!" Jongin langsung terdiam, mereka berjalan hingga mobil. "Lebih baik kita pergi bermain saja, aku Harus menjernihkan pikiranku."
Kyungsoo langsung mengangguk mengiyakan usulan Jongin, lalu membantu Jongin mencari taman bermain terdekat melalui GPS ponselnya, butuh lima belas menit bagi keduanya untuk sampai di taman bermain. Maskot tokoh disneyland langsung menyambut mereka.
"UWAAAHHH!" pekik Kyungsoo.
"Berisik, kau memalukan."
"Biarkan saja, ini pertama kalinya aku kesini sejak junior high school." Jongin langsung membeli tiket dan melingkarkan tiket itu di pergelangan tangannya. "Wah, indahnya."
"Kau benar-benar seperti anak kecil? Apa kau selama itu tidak pernah ke taman bermain? Apa kau mau aku membeli balon untukmu?" sindir Jongin lagi, keduanya berjalan beriringan.
"Mian, aku kan tidak sepertimu, semenjak eomma tidak ada dan appa pergi aku tidak bisa menikmati yang seperti ini." Kyungsoo menatap ujung sepatunya, lalu berusaha mengunci mulutnya. "Ah dwaesseo, gwaenchana, kau boleh teriak sepuasnya disini. Aku juga sudah lama tidak ke taman bermain,"
Kyungsoo mengangguk senang, mereka pun berjalan menuju berbagai wahana. "Kau mau naik apa?" tanya Jongin, Kyungsoo menatap kursi-kursi yang dilengkapi dengan tali pengaman dan digerakkan berputar. "Itu," Kyungsoo menunjuk wahana bernama kursi terbang tersebut.
"Geurae!" Jongin langsung menggenggam telapak tangan gadisnya itu lalu mengajaknya mengantri, Kyungsoo menatap tangannya yang digenggam erat oleh Jongin lalu tersenyum kecil, diam-diam jantungnya berdegup tak karuan.
Mereka memilih kursi yang berbeda dan menunggu kursi itu berputar, Jongin menatap Kyungsoo lama. "Wae?" tanya Kyungsoo bingung. "Annio, kenapa kau memakai dress sependek itu? Pasti akan terbuka kalau terkena angin, apa tidak dingin?" tanya Jongin khawatir.
Kyungsoo menggeleng, "Tidak. Ah, jaemittda! Belum berputar saja aku sudah senang," Kyungsoo bergerak-gerak di atas kursi seperti anak kecil, Jongin mengeluarkan ponselnya diam-diam dan mengambil foto Kyungsoo. Tiba-tiba wahana itu bergerak, dan mulai berputar. Bukannya berpegangan, Jongin malah merubah mode kameranya menjadi mode video dan merekam ekspresi Kyungsoo dari samping.
Gadis itu menoleh, dan rambut cokelatnya yang diterpa angin membuatnya jadi sangat cantik. "Kim Jongin, apa ponselmu tidak jatuh kau pegang terus?" tanya Kyungsoo, Jongin menggeleng. "Annio, lagipula aku bisa bertahan kok meski wahana ini berputar."
"Kau mencuri fotoku ya?"
"Tidak, ini video."
"YAA! Matikan, aigoo, aku pasti jelek sekali saat ini," Kyungsoo langsung mengalihkan pandangannya, "Annio, neo yeppeo. Do Kyungsoo is the most beautiful girl in this world!" Jongin bersorak keras, membuat beberapa pengunjung lain menatapnya. "Ahahah mwohae, kau tidak malu?" akhirnya Kyungsoo hanya tertawa saja.
Setelah wahana itu berakhir, keduanya langsung menuju ke wahana roller coaster, Kyungsoo menatap wahana thrilling yang saat ini sedang berputar-putar itu dengan takjub. "Kau tak takut?" tanya Jongin khawatir, Kyungsoo menggeleng kuat. "Ini adalah wahana yang terbaik, percuma kau pergi ke taman bermain kalau tidak naik roller coaster! Kenapa kau takut?"
"Aku? Tentu saja tidak!" Jongin berkilah, memang ia tidak takut pada roller coaster. "Geurae? Kalau begitu selera kita cocok," ketika antrian itu dipersilahkan masuk, Kyungsoo dan Jongin langsung memilih tempat duduk nomor tiga dari depan. "Pasti akan sangat menyenangkan, aaa!"
Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan lembut, akhirnya setelah beberapa hari ia bisa melihat Kyungsoo sebahagia hari ini. Kereta roller coaster mulai bergerak pelan menuju lintasan yang menanjak, Kyungsoo memeluk seatbeltnya erat. "Sohn(hand)?" Jongin mengulurkan telapak tangannya, "Hm?" tanya Kyungsoo bingung. "Pegang tanganku," perintah Jongin lalu menggenggam sebelah tangan Kyungsoo.
"Ini akan berhenti sejenak di puncak, saat berhenti coba lupakan semua perasaan yang membebanimu. Dan nikmati segalanya ketika roller coaster ini melaju turun, arasseo?" Kyungsoo mengangguk. Benar saja, kereta itu berhenti sejenak di puncak. Kyungsoo memejamkan matanya, "Kim Jongin saranghae!" teriaknya keras.
"Do Kyungsoo nado saranghae!" balas Jongin, lalu roller coaster itu melaju dengan cepat dan tanpa sadar Jongin dan Kyungsoo mengeratkan genggaman tangan mereka.
.
Setelah permainan roller coaster itu berakhir, Kyungsoo dan Jongin lantas berjalan keluar dari arena dan kembali mencari wahana lain. "Kau tahu, Yi Fan hyung tidak bisa naik roller coaster, dia pasti akan berubah jadi pucat pasi kalau turun." Cerita Jongin, "Jeongmalyo?"
Mereka berbincang dengan tangan yang masih setia tertaut satu sama lain, Kyungsoo merasa nyaman sekali, apalagi tangan Jongin yang hangat itu seakan melindunginya dari cuaca yang mendingin.
"Hm, kami pernah memaksanya dan dia berakhir pingsan setelah turun." Kyungsoo langsung tertawa membayangkan Yi Fan seperti itu, "Apa kau punya wahana yang tidak bisa kau naiki atau masuki?" tanya Kyungsoo penasaran, Jongin menggeleng. "Eobseo, aku bisa masuk semua wahana."
"Wah, keren." Gumam Kyungsoo.
"Ah itu! Itu adalah wahana wajib selain roller coaster, ayo masuk!" Jongin menunjuk bangunan berbentuk rumah kuno. Kyungsoo mengernyit namun tangannya terlanjur ditarik Jongin.
Kyungsoo langsung membeku seketika begitu menyadari wahana yang ditunjuk Jongin, "Jongin-ah, aku rasa ini bukan ide yang baik. Aku.. aku takut.." gumam Kyungsoo terbata, Jongin melirik wajah Kyungsoo yang berubah pucat. Diam-diam lelaki itu ingin tertawa, ia juga sedikit takut sih, tapi ia rasa mengerjai Kyungsoo akan lebih menyenangkan.
"Gwaenchana kita kan masuk bersama,"
"Tidak ganti wahana saja, naik roller coaster sepuluh kali juga tidak apa-apa."
"Aku bosan, ayo masuk!"
Dengan sedikit memaksa Jongin merangkulkan lengannya di pundak Kyungsoo dan mengajak gadis itu masuk, "Jongin aku takut!" jerit Kyungsoo, Jongin tertawa pelan. "Tidak apa-apa, mereka hanya boneka, lihat?"
"Ya neo baboya?! Bagaimana bisa kau menyuruhku melihat?! KYAAAA! Apa itu?! EOMMA!" jerit Kyungsoo tak karuan begitu melihat sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, "Ahahah, kyeowo." Kyungsoo langsung mencubit pinggang Jongin, "Aku benci kau dan ide bodohmu ini omo! Ige mwoyeyo?!" jerit Kyungsoo lagi.
Jongin mengulum senyum dan memeluk Kyungsoo lebih erat, biar dia takut, tapi ekspresi imut Kyungsoo mengalahkan segalanya. "Kajja, jalan lebih cepat. Apa kau mau aku gendong?" Kyungsoo menggeleng keras, "Tidak—tidak mau, ayo jalan lebih cepat." Jongin membimbing Kyungsoo jalan lebih cepat menuju pintu keluar. "Tutup matamu saja, aku menggenggam tanganmu kan?"
Kyungsoo mengangguk dan setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di luar, Kyungsoo masih memeluk Jongin dengan erat. "Kyungsoo-ya, kita sudah di luar." Perlahan Kyungsoo membuka kedua matanya, dan merasa malu beberapa pengunjung menatap mereka berdua. Kyungsoo langsung bersandar pada sebuah pohon, dan mendeathglare Jongin. "Ya! Aku akan bilang appa agar kau dan aku tidak bisa bersama lagi!"
"Wae?! Kau kan hanya kuajak masuk ke rumah hantu, dan buktinya kau masih keluar dengan selamat, aku melindungimu dengan baik bukan?" Kyungsoo menggeleng, "Tapi kau hampir membunuhku, jukgeollae?" bentak Kyungsoo, Jongin tertawa kecil. "Arasseo, mianhae gongjunim. Apa kau mau ice cream?"
Kyungsoo yang awalnya marah langsung merubah ekspresinya dalam beberapa detik, "Ice cream? Call!" Jongin pun langsung berlari menuju kedai ice cream, dan menyuruh Kyungsoo menunggu. Kemudian dia kembali dengan dua buah ice cream cone, dengan rasa vanilla. "Kau tahu aku suka vanilla?"
"Tidak, tapi aku suka vanilla, apa selera kita sama lagi?" Kyungsoo mengangguk. "Baiklah, aku rasa kita bisa menuju ke wahana terakhir. Kali ini kau yang pilih, sebagai permintaan maafku." Kyungsoo nampak berpikir, "Ferris wheel?"
"Ah—aku tahu kau pasti ingin naik wahana yang romantis kan chagi?"
"Bukan Jongin bodoh, tapi aku mau lihat pemandangan!" Kyungsoo menjulurkan lidahnya dan berlari menuju bianglala, sebuah bianglala dengan cat berwarna ungu berhenti tepat di depan keduanya. Kyungsoo masih setia duduk sambil memakan ice creamnya, Jongin memilih duduk di samping Kyungsoo meski ada banyak tempat yang tersisa.
Bianglala melaju perlahan, diiringi dengan angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela bianglala yang terbuka. "Gumawo." Kyungsoo memecah kesunyian.
"Lagi? Akhir-akhir ini kau sering sekali berterimakasih padaku."
"Memang apa lagi yang bisa aku ucapkan?"
"Saranghae?" Kyungsoo langsung menautkan alisnya kesal, "Geurae, saranghae." Jawab Kyungsoo ogah-ogahan. "Aigoo berapa umurmu? Kau sengaja ya?" Kyungsoo kembali menatap Jongin bingung.
"Sengaja apa?"
"Menyisakan ice cream di bibirmu, kau ingin aku mengelapnya?" mata Kyungsoo melebar, "Tidak! Katakan dimana? Aku akan bersihkan sendiri," Kyungsoo langsung panik dan menyentuh ujung bibirnya.
Tapi sesuatu yang lembab dan lembut menyentuhnya duluan, itu bibir Jongin. Mata gadis itu semakin melebar, hampir saja ice creamnya terjatuh. Jongin melumat bibir Kyungsoo dengan lembut sesekali menghisap bibir gadis itu dan membersihkan bekas ice cream yang ada di sana.
Kyungsoo tanpa sadar menikmati ciuman tersebut, sebelah lengannya memeluk pundak Jongin agar lelaki itu semakin mendekat. Sungguh, seperti dalam komik, berciuman di atas bianglala. Kyungsoo tidak pernah tahu kencan pertamanya akan seromantis ini.
Jongin memutuskan ciumannya, namun menempelkan dahinya pada dahi Kyungsoo. "Aku berterimakasih karena eommamu melahirkan seorang gadis sesempurna dirimu,"
"Musun mariya?" Kyungsoo terkekeh mendengar perkataan cheesy Jongin, "Aku jujur tahu, Do Kyungsoo kau tidak boleh meninggalkanku, aku sudah memerangkapmu di dalam duniaku. Kalau kau meninggalkanku, aku akan menjamin tidak ada seorangpun yang bisa memberimu kenangan seindah bersamaku. Jadi jangan pernah berfikir—"
"Setelah semua ini kau masih bisa cemburu dan berpikir aku akan meninggalkanmu? Kau benar-benar imut Kim Jongin, lihat aku baik-baik, aku hanya mencintaimu kau tahu itu tuan egois?" Jongin tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya, "Itu jawaban yang sangat bagus." Dan mereka melanjutkan ciuman mereka kembali.
Hingga ice cream mereka meleleh.
Changmin menatap Jongin dengan tatapan tajamnya, "Annyeonghasseyo aboeji, Jongin imnida." Jongin mengulurkan tangannya namun Changmin hanya menatap tangan Jongin. "Appa, kenapa diam saja?"
"Dia anak yang menyukaimu? Yang selama ini dibahas Siwon?"
"Ne, a—aku anak Siwon."
"Appa, jangan menatap Jongin seperti itu, dia tidak salah. Aku dan Jongin saling mencintai jadi apa appa—"
"Apa kau bisa berjanji menjaga Kyungsoo? Apa kau bisa berjanji membahagiakannya?" tanya Changmin dingin, Jongin menenggak salivanya karena gugup. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin aboeji, aku sangat mencintai putri anda."
"Kalau aku menemukan Kyungsoo terluka sedikit saja, jangan pernah berharap akan ada kesempatan kedua."
"Y—Ye arasseo aboeji, keundae, kesempatan kedua? Apa artinya aku.."
"Pergilah kalian berdua aku butuh istirahat," Changmin langsung meraih bukunya kembali, Kyungsoo mengulum senyum. "Appa gumawo! Saranghae appa! Appa paling baik sedunia! Kalau begitu aku pulang dulu, annyeong." ia langsung mencium pipi ayahnya itu. "Kajja Jongin-ah!" dan menarik Jongin keluar kamar appanya.
"B—Begitu saja?!"
"Yang penting dapat restu!"
. . .
Tbc
Haha aku lagi sakit-_- omooooo kata dokter karena stress haha. Oiya ada yang main rp? Gabung ke DJ_KpopRP yukkkk^^ chapt depan chapt terakhir, gimana chapt ini? Maaf ya aku ga konsen jadi pasti momennya kacau lol XD miannnnn.
Oiya maaf ya kemaren typo seulgi ;_; soalnya kan aku udh bilang awal nulis ff castnya hanbin hayi terus ada castnya yerin, aku replace seulgi jadi ya gitu jeongmal mianhae ;_;
