Chapter 6

Title: The Halfs

Author: Lee Shikuni

Genre: Fantasy, friendship, romance

Archip: Sad ending, chapter, yaoi

Cast: -All members EXO

-All members BTS

-All members B.A.P

-All Members Super Junior

-And OC (Jika di perlukan *Jaga2*)

Warning: Yaoi Fanfic! DLDR! Setelah bca hrs di review, donk… ^^ Official Couple. Kecuali BTS.

A/n: Happy reading… ^^

SUGA POV

"Eungh~" lenguhku saat aku merasa ada yang mengusik tidurku. Aku mencoba tak peduli. Tapi sesuatu bergerak-gerak agak kasar di bibirku.

Lidah itu menjilat bibirku. Meminta akses masuk ke dalam mulutku secara lembut. Karena aku masih tidak mengerti apa yang terjadi dan tak kunjung membuka mulutku, dia menggigit bibir bawahku cukup keras.

Terkejut, aku membuka mulutku dan lidah itu masuk begitu saja. Dia membelit dan menghisap lidahku.

"Ngghh~" desahan itu reflex keluar dari mulutku saat lidah itu menggelitik langit-langit mulutku. "Se.. Empht… sak~" ucapku di sela-sela lumatannya yang begitu liar.

Setelah itu seseorang itu menjauhkan dirinya. Aku baru membuka mataku. Kulihat Jimin menyeka sekitar mulutnya dan tersenyum… err… aku tak perlu mendeskripsikannya. Kalian pasti tahu wajahnya sekarang ini seperti apa.

"Akhirnya Hyung bangun juga. Aku bangunkan sedari tadi Hyung tak bergerak sama sekali. Jadi…" kalimatnya terhenti. Dengan senyuman menyebalkan itu.

"Lalu dengan cara seperti itu kau membangunkanku?" Tanyaku dengan suara berat sehabis bangun tidur.

"Ne" jawabnya singkat.

"Yak!" teriakku seraya melempar bantal yang kupakai tadi padanya. Ok, sekarang aku merasa wajahku memanas.

"Haha… Sudahlah, Hyung. Jika kau suka, mengaku saja. Aku bisa melakukannya setiap pagi untukmu. Bahkan setiap saat pun aku bersedia" ucapnya seraya terkekeh. Aku memandangnya malas. "Tidak perlu berpura-pura, wajahmu sudah menjelaskan semuanya" tambahnya lagi dan tak menghentikan kekehannya. Apa?! Wa-wajahku…

Aku meraba wajahku yang memang terasa panas. Apa memerah? Semerah apa? Aku menundukkan kepala malu.

"Wajahmu merah sekali, Hyung!" teriak Jimin lantang. Aku mendongakkan kepalaku, lalu menendangnya terjatuh dari ranjang.

"Jangan berteriak!" peringatku dengan nada tertahan.

"Aw! Appo~ Kau tega, Hyung" rengeknya seraya berdiri dengan mengusapi pantatnya yang sukses mendapat morning kiss dari lantai Ruang Kesehatan.

"Kenapa kau harus membangunkanku dengan cara seperti itu?" lirihku seraya mengusap wajahku.

"Habis aku sudah teriak-teriak Hyung tidak juga bangun. Ya… Mau tak mau aku lakukan saja cara itu. And see…" ucapnya dengan kalimat menggantung yang tak perlu lagi dia lanjutkan.

"Memang tidak ada cara lain lagi? Lain kali jangan lakukan" ucapku memberi keputusan. Dia menekuk wajahnya.

"Tidur Hyung sangat pulas tadi. Tapi kau suka kan, Hyung?" Tanya Jimin yang wajahnya cepat sekali berubah menjadi wajah yang ingin sekali kutendang ke toilet(?). *Bahasanya… ==a #ShiDiGantungReaders

"Diam!" teriakku. Dia terkekeh. Aku mencoba turun dari ranjangnya. Semalam aku tidur berdua dengannya di ranjang Jimin.

Tapi baru satu langkah, badanku langsung limbung. Kakiku tak kuat menahan berat badanku. Jimin yang ada di depanku dengan sigap merangkulku.

"Kata Lay Hyung kau harus banyak beristirahat, Hyung. Tenagamu banyak terbuang. Tidak aneh jika bangun di pagi pertama kau ke sulitan berjalan. Biar kutebak. Kau pasti mau ke kamar, kan?" tanyanya tepat dengan niatanku(?). Tanpa kujawab, dia dengan sigap langsung menggendongku ala bridal style. "Kajja kita ke kamar. Kuharap Lay Hyung mengizinkan" ujarnya dengan semangat. Lalu kami berjalan keluar ruang rawat kami untuk menemui Lay Hyung.

ΩΩΩ

"Apa kakimu sakit, Hyung?" Tanya Jimin yang masih menggendongku. Kami berada di lorong asrama. Setelah perdebatan kecil Jimin dan Lay Hyung, aku di perbolehkan Lay Hyung istirahat di kamar asrama. Aku mengeratkan peganganku pada lehernya dan membenamkan wajahku di dadanya.

"Agak sakit sedikit. Lebih di dominasi nyilu, sih" jawabku pelan. Aku merasakan dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

CLEK!

Pintu kamar kami terbuka. Dia membawaku ke ranjangku dan membaringkanku di sana. Tapi aku tetap tak melepaskan rangkulanku.

"Hyung, gwenchana? Apa ada yang Hyung butuhkan?" Tanya Jimin. Aku tak menjawab. Malah semakin menelusupkan kepalaku di dada bidangnya. Tiba-tiba kudengar dia terkekeh. "Hyung manja, sekali…" godanya.

"Tidak apa-apa, kan? Sekali-kali begini tidak apa, kan?" jawabku. Ntah kenapa aku sedang ingin bermanja padamu, Jimin~ah.

Sembari terus terkekeh, Jimin mencoba melonggarkan rangkulanku. Terpaksa aku menuruti pergerakkannya. Dia berhenti terkekeh dan kini menatapku lekat. Dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku. Melihat itu, ntah kenapa aku lebih memilih untuk menutup mata.

Dan beberapa detik kemudian, aku bisa merasakan sebuah benda kenyal menyapa bibirku. Jimin melumat bibirku dengan lembut. Dan aku membalasnya. Jimin mulai menjilati bibirku, tapi tak menuntutku membuka mulut. Hanya bermain di luar sana sebentar, lalu menjauhkan kepalanya dariku.

"Kau belum sarapan Hyung" ujarnya.

"Kau juga" timpalku.

"Aku akan ke bawah untuk mengambil sarapan kita. Tunggu sebentar di sini, ne?" pintanya. Aku mengangguk.

"Jangan lama, Jimin~ah" ucapku. Dia tersenyum menyebalkan. Kenapa gaya tersenyumnya begitu terus sejak pagi?

"Kau tak mau aku jauh-jauh dari Hyung, ne?" godanya lagi. Aku menatapnya malas.

"Ani. Aku lapar. Aku lebih membutuhkan makanan yang kau bawa nanti dari pada membutuhkanmu sekarang" jawabku dengan expresi tak peduli. Seketika dia cemberut. Aku menatapnya tak suka. "Kenapa diam? Kau tak niat menolongku?" tanyaku dengan nada agak tinggi. Tanpa banyak bicara lagi Jimin melangkah keluar kamar.

"Akan ku hukum kau Suga Hyung!" gumam Jimin. Tapi aku masih bisa mendengarnya. Setelah pintu tertutup, aku terkekeh pelan. Asyik juga menjahilinya. Aku jadi penasaran bagaimana wajah seriusku tadi sampai dia cemberut begitu. Apa expresiku terlalu menghayati?

TOK! TOK! TOK!

Suara pintu kamar asramaku dan Jimin di ketuk. Aku menoleh kearah pintu.

"Nugu?" Tanyaku dengan nada yang agak tinggi agar terdengar keluar kamar.

"Ini kami!" sahut orang di luar. Itu suara Rap Monster.

"Oh. Masuk, saja. Tidak di kunci!" ujarku, lalu pintu terbuka. Memperlihatkan anak BTS Class yang lain. Aku tersenyum ramah.

"Bagaimana keadaanmu, Suga Hyung?" Tanya J-Hope yang langsung mengambil tempat duduk di sebelah ranjangku.

"Nan gwenchanayo… bagaimana dengan kalian? Kalian juga ikut 'bermain', kan?" tanyaku.

"Kami sudah tidak apa-apa. Hanya keadaan V~ah saja yang belum sembuh total" ujar Jin Hyung yang sedang merangkul V. Aku melihat kearah V. Dia tersenyum padaku dan wajahnya pun agak pucat.

"Memangnya kalian tidak terluka parah? Kelihatannya kalian sehat-sehat saja" ucapku.

"Semua berkat Lay Hyung, D.O Hyung juga Jin Hyung. Kami bisa sembuh total dengan cepat" jawab Jung Kook.

"Keadaanmu sendiri bagaimana, Suga~ah?" Tanya Jin Hyung.

"Kata Lay Hyung aku masih butuh banyak istirahat. Tenagaku terbuang banyak. Berjalan saja tidak bisa. Kakiku sakit, Hyung" jelasku.

"Oh, ne. Semua siswa di liburkan selama seminggu" ucap Rap Monster. Aku menatapnya tak percaya.

"Jinjja?" tanyaku. Dia mengangguk.

"Kuharap Hyung bisa sembuh dengan cepat" ucap J-Hope.

"Eh? Jimin kemana?" Tanya Jung Kook. Semua mata melihat kearahnya.

"Dia sedang ke bawah mengambil sarapan untuk kami" jawabku. Dan mereka ber-'oh' ria.

CLEK!

Pintu terbuka dan menampakkan sosok Jimin yang sedang membawa nampan.

"Eoh? Annyeong… Kalian di sini? Pantas lorong lantai ini sepi saat aku lewat" ucap Jimin dengan wajah tanpa dosa sembari berjalan kearahku. Yang lain memandangnya bak ingin menjitaknya. J-Hope yang melihat Jimin masuk segera berdiri dan kursi itu sekarang di pakai Jimin.

"Jimin~ah, sekolah di liburkan selama seminggu" jelas Rap Monster untuk yang kedua kalinya. Sedang Jimin sedang sibuk dengan sarapan kami.

"Ne, aku tahu. Tao Hyung memberitahukannya padaku. Tadi aku bertemu dengannya. Mukanya agak kusut. Sepertinya mengkhawatirkan Kris Hyung" responnya santai. Seketika aku tertegun.

"Ya sudah. Kami keluar dulu. Mau makan. Jadi lapar melihat kalian sarapan" ujar Jin Hyung seraya berjalan kearah pintu.

"Memang kapan Jin Hyung tidak lapar, eoh?" beo Jimin. Untungnya, Jin Hyung berusaha untuk tidak peduli. Setelah semua keluar, keadaan sepi dengan aku yang masih tertegun kaget. "Kajja makan, Hyung. Cream sup-nya keburu dingin" ucap Jimin. Dia menyendokkan cream sup itu untukku. Tapi aku masih diam. "Hyung, gwemchana?" Tanya Jimin khawatir.

"J-Jimin…" panggilku lirih.

"Ne?" responnya sabar.

"Se-Sebenarnya…" kalimatku menggantung. Jimin sabar menungguku menyelesaikan kalimatku. "Aku… Aku yang membuat Kris Hyung begitu" lanjutku. Kali ini Jimin yang terdiam. "Aku yakin sekarang keadaannya kritis. Aku terlalu emosi untuk di permainkan, sedangkan aku tak tahu kau dimana saat itu. Jika kau bertemu Tao Hyung dengan wajah seperti itu, itu berarti karena aku" jelasku. Aku benar-benar merasa bersalah. Jika aku tak ingat emosi, mungkin Kris Hyung sudah tak bernyawa sekarang.

"Sudahlah, Hyung… Itu bukan kesalahanmu…" hibur Jimin dan kembali menyodorkan sesendok cream sup ke depan mulutku. Tapi aku menggeleng tanda menolak dan dia menyimpan mangkuk cream sup itu di meja nakas samping ranjangku.

"Tentu saja itu kesalahanku. Memangnya siapa yang bisa menghajarnya selain aku?" beoku benar-benar merasa bersalah.

GREP!

Seketika Jimin memelukku. Erat sekali. Dia membuatku bersandar pada dada bidangnya. Aku benar-benar merasa bersalah pada Tao Hyung. Aku sudah membuat Kris Hyung-nya dalam keadaan kritis.

"Sudah tenang?" Tanya Jimin. Aku diam sebentar. Menyetabilkan emosiku yang hampir meluap. Lalu mengangguk pelan. Jimin melepaskan pelukkannya dan kembali menyodorkan sendok itu. "Setelah kita sarapan, kita kunjungi saja Kris Hyung dan Tao Hyung. Aku bertemu Tao Hyung di kantin. Mungkin Kris Hyung masih di rawat di Ruang Kesehatan" jelas Jimin. Dengan ragu aku mengangguk. Mengunjunginya sih tidak apa-apa. Tapi Ruang Kesehatan? Itu yang membuatku merasa keberatan.

ΩΩΩ

Aku berjalan menuju Ruang Kesehatan di papah Jimin. Sesampainya di sana, sebenarnya aku enggan masuk. Tapi rasa bersalahku lebih besar dari itu.

"Annyeong…" sapa kami berdua saat masuk ruang rawat Kris Hyung yang di tunjukkan Lay Hyung saat kami bertemu di depan Ruang Kesehatan. Tao Hyung dan Kris Hyung menoleh.

"Annyeong…" balas Tao Hyung ramah. Sekarang keadaannya cukup baik-baik saja dari pada yang di deskripsikan Jimin tadi. Aku menatap Jimin menuntut. Jimin hanya mengangkat bahunya tidak tahu.

"Bagaimana keadaan kalian?" tanyaku mencoba ramah.

"Kami tidak apa-apa. Duduklah dulu Suga. Sepertinya kau kesulitan berjalan" jawab Tao Hyung. Dia mempersilahkanku duduk di samping ranjang Kris Hyung. Sedang Jimin berdiri di belakangku. "Aku sudah pulih. Hanya Kris-ge saja yang harus banyak istirahat. Kata Lay-ge, tubuh Kris-ge mendapat 'aliran kejut'. Cukup lama menstabilkan keadaannya. Tapi dia sekarang sudah tidak apa-apa" lanjut Tao. Aku menatap Kris Hyung yang tak mau bertemu kontak mata denganku. Dia pasti marah karena aku yang melakukan ini padanya.

"Tao Hyung, tadi pagi aku melihatmu di kantin dengan wajah kusut. Mwohae?" Tanya Jimin. Aku beralih menatap Jimin lalu menatap Tao Hyung.

"Oh, itu… Aku hanya kurang tidur saja semalaman menjaga Kris Hyung. Tadi malam aku hanya tidur 2 jam. Hehehe… Apa aku terlihat sebegitu kusutnya?" jelas Tao Hyung. Jimin terkikik pelan.

"Tidak juga. Tapi itu membuatku khawatir melihatnya. Kukira ada sesuatu yang terjadi pada Kris Hyung" ujar Jimin. Aku menatap Jimin lagi dengan pandangan kesal. Jimin khawatir melihat wajah kusut Tao Hyung? Ok, aku cemburu –sepertinya-.

"Tao Hyung, bagaimana jika kami saja yang menjaga Kris Hyung untuk sementara? Tao Hyung pergilah tidur. Tidak bagus juga untuk tubuhmu jika terus memaksakan diri" tawarku pada Tao Hyung. Tao Hyung nampak berpikir sejenak. Dia menatap Kris Hyung yang menggeleng pelan. Aish! Dia manja sekali.

"Sepertinya tidak bisa. Kris Hyung tidak mau di tinggal" tolak Tao Hyung lembut.

"Hyung tidak perlu meninggalkannya jauh-jauh. Tidur saja di sofa itu. Dan kami yang akan menjaganya" bujukku lagi. Aku tidak bisa meminta maaf dengan ada Tao Hyung di sini, atau aku akan di hajarnya.

Tao Hyung menatap Kris Hyung lagi. Samar-samar aku mendengar Kris Hyung berbisik 'di sini saja' pada Tao Hyung. Kris Hyung menarik tangan Tao Hyung. Menyuruhnya berbaring di samping Kris Hyung. Kris Hyung memeluk Tao Hyung posesif. Dan tak berapa lama, terdengar dengkuran halus keluar dari bibir Tao Hyung yang tertidur di dada Kris Hyung. Tanpa sadar aku tersenyum manis melihatnya.

"Kris Hyung, sebenarnya aku ke sini untuk minta maaf masalah 'permainan' kemarin. Mianhne… aku terbawa emosi. Karena aku, Kris Hyung jadi begini. Aku benar-benar minta maaf. Aku kalut karena memikirkan orang yang ada di belakangku ini" ucapku panjang lebar. Aku menundukkan kepalaku dalam. Aku benar-benar merasa bersalah. Sebenarnya apa yang kulakukan saat itu? Babbo!

"Kenapa kau terlihat begitu bersalah, Suga? Itu kan hanya 'permainan'. Jika aku terluka karena sebuah 'permainan', itu sudah wajar. Kau juga terluka, kan?" Tanya Kris Hyung. Aku masih belum berani melihatnya.

"Ne. Tapi, tetap saja…" gumamku alih-alih menjawabnya.

"Apa ini tujuanmu kemari dan menawarkan diri menjagaku sementara Panda-ku tidur?" Tanya Kris Hyung dengan suara beratnya. Apa tubuhku bergetar? Apa tubuhku bergetar?

"Ne. Aku tidak mau Tao Hyung tahu jika aku yang melalukan ini padamu" jawabku pelan.

"Arraseo. Kau… semoga cepat sembuh, ne?" ucap Kris Hyung. Seketika aku mendongakkan kepalaku. Dan hal pertama yang kulihat adalah Kris Hyung tersenyum menatap wajah tertidur Tao Hyung dengan sebelah tanganya yang terus mengusap pipi tirus Tao Hyung.

"M-Mwo?" beoku tak mengerti apa yang terjadi.

"Ah, Hyung juga. Semoga cepat sembuh" ujar Jimin tiba-tiba. Kris Hyung hanya bergumam 'gomawo' dengan tidak jelas.

"A-Apa ini artinya, Hyung memaafkanku?" Tanyaku memastikan. Tapi dia tidak menjawab. Untuk beberapa menit, hening mulai memasuki ruangan.

ΩΩΩ

"Suga, bisa kau potongkan aku apel?" pinta Kris Hyung. Aku mengangguk kecil, lalu mulai memotong apel yang berada di meja nakasnya. Sekarang di ruang rawat Kris Hyung hanya ada aku, Kris Hyung dan Tao Hyung yang masih tertidur. Jimin sedang keluar untuk mengambilkan makan siang kami semua karena sebentar lagi waktunya makan siang.

"Ige. Sudah kupotongkan" ucapku setelah selesai memotong.

"Masukkan ke mulutku" perintah Kris Hyung. Aku jadi sebal di suruh menjaganya.

"Yak! Hyung! Aku seperti babumu begini! Aku tidak mengerti kenapa Tao Hyung bisa tahan denganmu!" ucapku kesal. Dengan berat hati –terntu saja— aku memasukkan sepotong apel ke mulut Kris Hyung. Semoga tidak ada yang melihat.

"Kris Hyung, ini makananmu juga Tao Hyung" ucap Jimin tiba-tiba tanpa jeda dan tanpa pembukaan. *Emg UUD '45? -_-* Aku sampai terkejut melihat dia tiba-tiba ada di hadapan ranjang Kris Hyung.

"Gomawo. Emmh,… Makanan kalian dimana, Jimin?" Tanya Kris Hyung heran.

"Emmh,… Bangunkan saja dulu Tao Hyung. Kami mau berpamitan" jawab Jimin.

"Eh?" beoku terkejut. Kok, begitu? Dia kenapa, sih?

"Hmm,… Baby… Ireona… Makan siang sudah siap…" panggil Kris Hyung lembut. Lagi-lagi aku tak sadar tersenyum manis melihat momment imut di hadapanku. Tao Hyung menggeliat kecil, lalu membuka matanya.

Oh, aku baru menyadari bahwa Tao Hyung sangat imut. Pantas saja Kris Hyung mencintainya. Dan aku juga mengerti kenapa Tao Hyung tahan dengan Kris Hyung. Setelah di lihat, Kris Hyung jadi orang yang berbeda di hadapan Tao Hyung. Dia lebih… hangat dan lembut.

"Ye, Ge? Wei shenme?" Tanya Tao Hyung dengan suara serak.

"Sudah waktunya makan siang, Baby… Kau harus makan" ucap Kris Hyung lembut. Tao Hyung menatap sekitar. Dan pandangannya terhenti padaku. Aku tersenyum.

"Suga? Kau masih di sini? Oh.. berapa lama aku tertidur, Ge?" Tanya Tao Hyung pada Kris Hyung. Kris Hyung terkekeh lalu mengacak rambut Tao Hyung gemas.

"Cukup lama, Baby…" jawab Kris Hyung.

"Emm… Tao Hyung, Kris Hyung. Kami pamit dulu, ne? Selamat makan…" pamit Jimin lalu menarikku tanpa perasaan.

Selama di jalan aku terus berteriak pada Jimin agar dia lebih lembut sedikit. Aku jalan terantuk-antuk dengan cara berjalanku yang tidak benar karena kakiku sakit dan terasa lemas. Tapi dia tak menghiraukan teriakkanku. Tiba-tiba dia menundukkanku di sebuah meja kantin yang terdapat makanan di depannya dengan kasar. Dan dia duduk di seberangku.

"Makan siangmu" ucap Jimin acuh.

"Neo waeyo, eoh?" tanyaku. Dia hanya diam dan menikmati makanannya. Kalau begini, aku jadi tidak nafsu makan. Aku menatap tak berselera pada cream sup hangat di depanku. Lalu beralih menatap keluar jendela di sebelahku. Lapangan basket. Aku jadi ingin main basket.

"Kenapa tidak di makan? Cepat buka mulutmu" perintah Jimin. Seketika aku menoleh dan mendapati sesendok cream sup ada di depan mulutku. Aku menatapnya tak suka. Sayangnya dia memasukkan sendok itu ke dalam mulutku secara paksa. Membuat aku mau tak mau menelan semuanya. Setelah itu ia asyik lagi dengan makanannya. Aku memandang lagi lapangan basket. "Aku tidak suka—"

"Aku tahu kau cemburu pada Kris Hyung. Iya, kan?" tanyaku sarkaktis memotong kalimatnya. Dia terdiam. Aku tetap tak mengalihkan pandanganku. "Lain kali bilang lebih awal. Kau membuatku bingung apa yang membuatmu seperti ini. Dan juga, jangan berlaku kasar jika kau sedang cemburu. Kau menyakitiku" ujarku yang lebih mirip seperti rengekkan.

"Mianhne, Hyung… Lagi pula, untuk apa ada acara suap-suapan segala, sih?" cibir Jimin dengan nada tak suka. Aku terkikik. Jadi karena itu?

"Aku kan berjanji pada Tao Hyung untuk menjaga Kris Hyung…" ucapku seraya tersenyum padanya.

"Termasuk mengurusinya? Menyuapinya? Yang benar saja! Kau hanya bilang MENJAGANYA" cibir Jimin lagi. Aku terkekeh.

"Tentu saja… Jika Kris Hyung kelaparan bagaimana? Aku kan tak enak pada Tao Hyung" ujarku.

"Hukumanmu kutambah 2x lipat, Hyung" gumam Jimin. Aku menatapnya waspada. Apa yang akan dia lakukan padaku?

Setelah itu suasana sedikit menghangat. Aku mulai memakan makan siangku dengan santai. Sedang Jimin sedang menyantap pencuci mulutnya. Dia memakan buah apel merah itu masih dengan emosi.

"Kau juga mengatakan khawatir pada Tao Hyung, kan? Kau pikir aku tidak sama?" tanyaku memulai pembicaraan yang sebenarnya tidak boleh di tiru oleh sebuah pasangan. Tapi maksud kami hanya saling terbuka, saja. *Jgn mancing kemarahan pasangan sendiri, y… ^^* Jimin terdiam sebentar.

"Itu kan hanya basa-basi" jawabnya.

"Aku juga hanya melakukan pekerjaanku" timpalku cepat. Hening lagi. Jimin sekarang agak pelan memakan apelnya. Dan aku kini hanya mengaduk-aduk makananku. Huft~ Aku jadi malas makan. Kulihat dari ujung mataku, Jimin sedang minum.

Tapi tiba-tiba dia pindah duduk ke sebelahku dan menarik tengkukku. Aku terkejut, karena sakit. Tengkukku masih sembuh benar. Kenapa dia pegang?

Dia mendekatkan wajahnya padaku. Dan… dia menciumku. Di kantin?! Aku terlalu syok. Sebelumnya, kami tidak pernah melakukan ini di tempat umum. Jimin menggigit bibir bawahku dan dia semakin menekan tengkukku.

"Aw!" erangku saat kurasa tengkukku sangat sakit sekarang.

Saat mulutku terbuka seperti itu, Jimin mendorong sesuatu dari mulutnya ke mulutku. Terasa seperti air dan… apel yang sudah lembut di kunyahnya. Setelah semua yang ada di mulutnya kosong, dia beralih menghisap kuat bibir bawah dan atasku. Memagutnya sebentar dan menggigiti kecil bibir atas dan bawahku. Setelah itu dengan kasar ia melumat bibirku sebentar. Lalu ia menjauhkan dirinya dariku. Aku meringis saat tangannya melepaskan tengkukku. Tiba-tiba dia terkekeh.

"Aku suka melihat bibirmu membengkak karena aku, Hyung" ucap Jimin pelan. Pipiku serasa memanas lagi. Sebelum bicara, aku segera menelan apel yang Jimin 'berikan' padaku.

"K-Kenapa kau lakukan itu di sini, Jimin~ah?" tanyaku dengan nada pelan.

"Wae geurae? Sonsaengnimdeul saja sudah tahu kalau kau milikku" ujarnya santai. Eh? Benar juga. Academy ini luas, tapi di huni sedikit orang. Sebuah hubungan, pasti akan sangat mudah menyebar beritanya. "Wajahmu merah sekali, Hyung" celetuk Jimin. Rasanya aku mau melemparkan makan siangku ke wajah menyebalkannya itu.

"T-Tapi kan aku malu… Kita tidak pernah melakukannya di…" aku menggantung kalimatku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. "Lagi pula, kenapa kau lakukan itu?" tanyaku dengan nada menuntut.

"Aku tahu kau tidak akan makan lagi. Jadi itu minum dan pencuci mulutmu" jawabnya masih dengan santai. Aku mebelalakkan mataku. Dengan cara seperti itu?!

"Ugh!" erangku saat aku menyentuh tengkukku.

"Gwenchana, Hyung?" Tanya Jimin khawatir.

"Kau menekan tengkukku" jawabku alih-alih menjawab. Jimin termenung sebentar. Aku ia membelalakkan matanya dan segera memelukku.

"Oh, aigo! Aku lupa soal tengkukmu! Oh my God… Apa aku menekannya cukup keras? Sakit sekali, ne? Mianhne, Hyung…" ucap Jimin tanpa jeda. Aku hanya terus meringis karena ini benar-benar sakit.

"Pusing Jimin" gumamku sembari menahan sakit.

"Mwo?" Tanya Jimin.

"Aku agak pusing" jawabku pelan.

"Mianhne, Hyung… Aku tidak sengaja. Aku benar-benar lupa" ucapnya. Tiba-tiba aku merasakan Jimin menciumi tengkuk dan leherku lembut.

"Eungh~ Ji… Minh~ A…pa.. yang kau lakukan? Emmhh~ Jangan… di… sana… Aahh~" desahku saat aku rasa dia mulai menghisap bagian sensitif di leherku. Oh… aku harap dia tidak melakukan'nya' di sini.

SUGA POV END

ΩΩΩ

AUTHOR POV

Sementara itu, jauh dari Academy itu, ada sekelompok namja yang sedang berjalan santai melewati hutan.

"Dari sini masih jauh" keluh seorang namja yang paling cantik di sana.

"Kalau begitu kita tidak bisa bersantai lagi. Kajja bergerak!" perintah seorang namja berkulit agak tan di antara mereka. Alih-alih menurutinya, mereka semua berlari dengan cepat.

'Bersiaplah! Kami akan datang!' batin ke-6 namja itu.

AUTHOR POV END

~TBC/Delete?~

A/n: Yg ini kebablasan 11 page. Masih kurang panjang? #AsahGolok #Kidding# Kenapa pas ke sini rated-nya jadi M? Apa harus Shi rubah ratingnya? Ya ampun… Shi juga pengen sih sebenernya nyiumin terus bibirnya Suga kyk Jimin di sini. Oh, ya. Chapter ini sebenernya buat ngembaliin pandangan Couple. Terakir di chapter kemarin Shi ngerasa Suga jadi Seme. Sekarang, di sini Shi habis-habisan ngasih liat Suga jadi Uke. Karena nama Couple-nya MinSuga, bkn YoonMin. Emmh,… Review, please… ^^