BEAUTIFUL DISASTER
Kehancuran Yang Indah
.
.
.
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
Rated: M
.
A story by emerallized onyxta
.
Warning: Typo, Badchara, OOC? Darkfic, and many more.
.
Genre: Romance, Drama, Hurt/Comfort, maybe Angst?
.
Don't like don't read. I warn you.
.
.
.
"Because love can changes everything."
—Anonymous
.
.
.
Gaara membulatkan mata lebar ketika Sasuke melempar dan menjual saham miliknya pada para investor hingga tak bersisa. Uchiha Sasuke mulai beraksi kali ini. Gaara paham betul. Ia sudah cari mati dengan pria ini.
Sasuke menyeringai melihat perubahan raut wajah milik Sabaku Gaara yang duduk tak jauh darinya. Ia mendengus ketika mata pemuda itu menatap marah padanya. Oh, siapa yang peduli? Ia sudah berani menyentuh apa yang bukan menjadi urusannya. Dan berhasil membuat dirinya naik pitam. Kehilangan kesabaran.
Para pemegang saham berdiri. Saling mengangguk dan melempar senyum antar sesama anggota yang hadir di sana. Sasuke mengangguk dan tersenyum tipis saat para investor saling berbaris untuk menjabat tangannya. Senyum kemenangan tercetak dari bibir tipisnya.
Sabaku Gaara—berdiri mematung di sana.
Sasuke berjalan memutari meja rapat miliknya. Tubuhnya mulai mendekati Gaara yang terlihat mati terduduk di sana.
"Oh, Gaara. Bagaimana? Apa kau senang?"
Suara itu ibarat pukulan tajam yang mengenai belakang kepalanya. Gaara mendengus menahan marah. Tangannya sudah terkepal erat di bawah meja. Kepalanya masih tegak menantang menghadap ke depan. Tidak berniat menoleh pada sosok yang menyeringai di sampingnya.
"Brengsek!" Gaara berdiri dan memukul wajah tampan itu keras. Membuat Sasuke terhuyung ke belakang. Kaget karena reaksi yang diberikan. Ia mendengus dan mengelap kasar cairan merah pekat yang keluar dari bibirnya.
Sasuke tertawa sinis. Gaara masih ingin memukulnya. Dan ia tak mungkin membiarkannya.
"Aku sudah peringatkan berulang kali padamu," Sasuke berdiri dengan manik kelamnya menatap pemuda itu penuh emosi. "Jangan menyentuh apa yang bukan menjadi urusanmu!"
"Kenapa kau begitu marah?" desis Gaara tajam.
"Kau tahu? Setelah kau merebut Shion apalagi yang ingin kau lakukan? Kau sudah terlalu banyak menganggu ketenanganku."
Gaara mendengus. Ia melempar wajahnya ke arah lain. Lalu, kembali menatap mata kelam itu tajam. "Aku akan membuat Sakura tersiksa sama seperti apa yang pernah ia lakukan pada Shion sebelumnya."
Sasuke mendorong tubuh itu hingga membentur dinding belakang. Tangannya terkepal erat memegang kerah kemeja milik Gaara.
"Jangan pernah membahas hal yang tak kau ketahui, Sabaku," Sasuke mendengus. "Aku akan membunuhmu akan hal ini. Dan aku ingatkan satu hal, Madara tidak akan membantuku kali ini. Aku akan membereskan sampah sepertimu hingga tak tersisa."
Sasuke mendorong tubuh itu sekali lagi dan beranjak pergi. Dua pengawal bertubuh besar segera masuk sesaat setelah Sasuke pergi dari ruangan. Mereka menatap Gaara tajam membuat Gaara menghela napas kasar. "Aku akan pergi. Kalian tak perlu menyeretku ke pintu keluar." Gaara pergi dengan langkah tertatih. Meninggalkan ruangan kosong dengan harapan hidup yang sama.
.
.
Sakura menoleh pada pintu besar utama mansion. Di sana sang suami sedang berdiri dengan langkah hati-hati. Matanya menyipit saat mendapati Sasuke pulang dengan keadaan babak belur.
Sakura berdiri menghampiri Sasuke yang hendak melewatinya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Menyuruh Sasuke untuk berhenti.
Sasuke menghela napas perlahan. Ia sedang tidak ingin berdebat hari ini. Sudah cukup kejadian tadi pagi membuat emosinya tidak stabil. Tak terkendali.
"Hn. Aku sedang tidak ingin berdebat."
Sakura mendengus. Ia menurunkan kedua tangannya dan bersidekap di depan dada. "Tidak. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," mata hijaunya menatap wajah itu lekat-lekat. "Kenapa dengan wajahmu? Kau berkelahi?"
Sasuke mengangguk cepat. Ia melangkah menjauhi sang istri menuju tangga melingkar ketika lagi-lagi tangan mungil itu menahannya.
"Duduk di sofa itu. Aku akan mengobatimu." Titahnya tak mau dibantah. Sakura berlalu pergi menuju tempat obat dan peralatan medis yang sudah di sediakan. Mengambilnya dan berjalan mendekati Sasuke yang patuh pada perintahnya—setidaknya untuk kali ini.
Sasuke meringis perih ketika cairan antiseptik itu menyapu ujung bibirnya. Sakura menyentuhnya dengan hati-hati. Ia mengobati luka itu agar lebih baik dan tidak membekas.
"Kau tahu," Sakura bergumam di sela-sela mengobati sang suami. "Aku masih ingin perjanjian itu dilakukan." Ia mengambil kapas bersih dan mulai mengobati luka-luka lain di wajah sang suami.
Sasuke menjauhkan kepalanya dari kapas yang digenggam Sakura. Ia menatap wajah itu datar dan dingin. Membuat Sakura menghela napasnya lagi.
"Sungguh, aku tidak ingin berdebat. Kau tinggal bilang setuju dan semua selesai."
Sasuke terdiam. Ruang besar itu terlihat hening dengan keadaan yang menyelimutinya. Sakura menatap wajah itu penuh harap. Mengharapkan jawaban yang membuat hati dan pikirannya tenang sejenak.
"Hn. Tidak."
Sasuke berdiri dan melangkah menjauhi Sakura yang masih terduduk diam di sana. Ia melangkah cepat tanpa menoleh ke belakang. Tidak menghiraukan ada pandangan lain yang terasa menusuk punggungnya.
Sakura terdiam. Memandang punggung itu sendu. Ia harus memutar otak untuk cara yang lain. Cara yang bisa membuat dirinya menang dari Sasuke. Bukan. Ia tak ingin cara yang kasar seperti pemukulan fisik atau apapun. Ia tahu, jika berkaitan dengan fisik. Sasuke akan menang. Ia laki-laki dan dirinya perempuan. Sangat jauh.
Sakura memejamkan matanya sejenak dan kembali merapikan peralatan medis pada satu keranjang yang sama dan berlalu pergi.
.
.
Madara mengepalkan kedua tangannya erat. Ia hendak bertindak. Membuat perhitungan pada Sabaku Gaara yang berani menyentuh Sakura. Sakura tak pantas dilibatkan dalam hal ini. Ia tak tahu apa-apa. Ia hanya korban dari semua ini. Dan Madara berusaha melindunginya sekuat tenaga.
Lagi-lagi langkahnya harus jauh kalah dari cucu satu-satunya yang ia punya. Cucu yang menjadi harapan besarnya.
Cucu yang mempunyai sisi gelap yang tak tersentuh siapapun. Bahkan dirinya yang mengenal jauh lebih dari orang lain pun tak bisa menyentuhnya.
Ia merasa gagal. Sangat gagal.
Sasuke sudah terjebak dalam lingkaran hitam dan menyeret Sakura ikut masuk ke dalamnya. Sakura yang tak tahu apa-apa. Hanya gadis biasa yang hidup pada garis normal. Gadis biasa seperti gadis yang lain pada umumnya.
Madara mendongak menatap Yamato yang tertunduk di depannya. Memberi salam. "Tuan."
Madara mengangguk. Menunggu kalimat yang akan terlontar dari tangan kanannya. Kepercayaannya yang sudah bertahun-tahun bersamanya. Setia dengannya.
"Sabaku Gaara telah ditemukan tewas di dalam apartemen miliknya sekitar pukul dua dinihari. Di tubuhnya terdapat beberapa luka tusukan pisau."
Madara membulatkan matanya terkejut. Ia menggeleng tak percaya. "Siapa yang membunuh bocah merah itu?" Suaranya terdengar naik satu oktaf. Yamato terdiam. Menunggu sang majikan agar lebih tenang. Ia menghela napas dan menjawab samar-samar. Membuat Madara menelan ludahnya kasar dan menahan napas panjang.
"Uchiha Sasuke."
.
.
Sakura menatap makanan itu tak bernapsu. Sudah dua hari semenjak kejadian pemukulan terhadap dirinya berlalu. Luka di pelipisnya sudah tampak membaik dan beberapa luka lain di tubuhnya sudah mulai menghilang.
Ia memandang kosong pada nasi goreng hangat yang dibuatkan untuknya dan Sasuke—yang duduk di hadapannya.
Sasuke menaikkan alis satu ketika sang istri tak memakan sarapan paginya. Kedua tangannya terpaut membentuk satu genggaman dengan dagu yang ditaruh di atasnya. Sasuke menatap objek di depannya tajam dan mengintimidasi.
"Hn."
Sakura menoleh dan menatap Sasuke malas. Ia kembali mengaduk-aduk makanan itu. Tidak berniat memakannya. Napsu makannya sudah hilang. Menguap bersama udara pagi yang masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka.
"Apa?"
Sasuke menaikkan alis satu saat Sakura bertanya dengan tatapan datar miliknya. Ia menghela napas dan melipat kedua tangannya di dada.
"Makan."
"Tidak bernapsu."
"Kau harus makan."
"Kau tidak bisa memaksaku. Aku kehilangan napsu makanku sejak kemarin. Dan itu karena kau," ketusnya. Sakura meminum air putih di samping piring putih miliknya. Meneguknya hingga menjadi setengah gelas terisi.
"Perjanjian bodoh yang seharusnya tak menjadi beban."
Sakura menatap mata itu tajam sambil mendengus. Ia melemparkan tatapan tak bersahabatnya dan dibalas dengan tatapan yang sama. "Perjanjian itu berarti untukku. Oh, bagaimana jika kau menolaknya tapi aku akan tetap melaksanakannya? Kedengarannya itu menarik," Sakura tersenyum tipis dengan tatapan tak bersalahnya sambil memandang wajah itu lekat-lekat.
"Kau pikir kau siapa?" Sakura melengkungkan bibir tipisnya ke bawah. Sasuke lagi-lagi ingin berdebat dengannya. "Aku yang berkuasa di sini. Kau harus mengikuti aturanku."
Sakura mengibaskan lengan kirinya ke udara. "Kau juga harus mengikuti aturanku, Tuan. Aku juga punya aturan di sini."
Sasuke mengerutkan dahinya sekilas dan berhasil membuat Sakura menyeringai di sana. Sial.
"Aku ingin perjanjian itu disepakati bersama, Sasuke. Kau tentu tahu, kita menikah bukan karena dasar cinta. Hanya karena terpaksa. Aku tidak tahu benang merah apa yang menarikku hingga sampai di sini. Takdir yang membawaku, tapi aku sekuat tenaga akan menentangnya."
Bibir Sasuke terkatup rapat membentuk satu garis lurus. Mata hitamnya berubah menjadi dingin. Sakura menyadari perubahan tersebut. Ia menelan ludahnya cepat dan tersenyum tipis. Berusaha mencairkan suasana yang menegang.
"Jika aku tak melanggar perjanjian bodohmu itu, kau tetap di sini?"
Sakura membulatkan matanya terkejut. Pertanyaan itu terlontar jelas dari bibir suaminya. Ia tak pernah ingin mendengar kalimat itu. Tidak ingin.
Sasuke mendengus mendapat respon dari gadis di depannya. Bibirnya tertarik ke atas membentuk seringai tipis yang tak terlihat. "Bukan begitu, Nyoya? Di sana terucap jika salah satu pasangan membuat kesalahan fatal yang tak termaafkan, mereka bisa meninggalkannya."
Sakura menatap wajah itu lekat-lekat.
"Aku setuju."
Sakura merasa kepalanya terpukul benda tajam dengan keras. Ia mendengus mendapat respon kemenangan dari sang suami di sana.
"Aku berusaha untuk tidak melakukan kesalahan fatal yang membuat kau meninggalkanku." Sasuke mengangkat bahunya acuh. Ia menatap wajah cantik itu sekali lagi dan tersenyum menang.
Sakura melempar punggungnya ke sandaran kursi. Ia memandang wajah tampan yang sedang menyeringai itu tajam. "Sial, permainan apa yang sedang kau mainkan sekarang?" Napasnya bergerak kasar. Jelas terlihat ia menahan emosi di sana.
Sasuke menggeleng. "Tak ada."
"Dan di perjanjian itu juga ada kalau di antara kita tidak ada yang saling jatuh cinta. Kau paham?"
Sasuke mengangguk cepat.
"Oh, baiklah. Jika kau berjanji seperti itu. Mungkin aku yang akan berbuat kesalahan fatal hingga kau merasa jijik padaku setelah itu meninggalkanku. Selesai." Sakura memutuskan final. Ia menyilangkan kedua tangannya cepat dan tersenyum lebar. Ia menang.
Sasuke menyeringai di sana. Membuat senyum yang berkembang itu perlahan hilang.
"Terserah. Aku akan memaafkanmu. Apapun kesalahanmu."
Sakura mendengus. Ia berdiri dan menatap wajah itu marah. "Oh, jelaskan padaku lelucon apa ini? Konyol. Aku yang membuat aturan itu. Kau tak berhak merubahnya!"
Sasuke masih diam terduduk. Tak lama ia bangkit dan berdiri. Menatap tubuh mungil di depannya lekat. "Kau lupa satu hal, aku yang berkuasa di sini. Di rumah ini. Jadi, jika kau tak setuju sebaiknya lupakan perjanjian bodoh itu atau kau mematuhiku dengan perjanjian yang ku setujui. Masalah selesai."
Sasuke pergi meninggalkan Sakura yang berdiri terpaku di sana. Ia melangkah dan mendekati pintu utama. Tubuhnya berbalik dan menoleh. Menatap Sakura yang masih tak bergeming dari tempatnya.
"Bersiaplah. Aku akan mengantarmu menuju tempat kerja barumu."
.
.
Sakura memandang hamparan jalan luas dari dalam jendela kaca mobil yang di naikinya. Sesekali ia menghela napas kasar dan menghirupnya kasar pula. Ia tak berniat—tak ingin menoleh pada sang suami yang sedang menyetir dengan tenang. Tidak ada percakapan sebagai suami istri di sana. Hanya keheningan yang menemani.
"Siapa yang memukulmu?"
Sakura menoleh. Mengerutkan dahi tak mengerti.
"Kau pulang dengan luka-luka. Siapa yang berani memukulmu?"
Sakura menggeleng. "Aku tak lihat wajahnya. Ia memakai topeng. Ada sekitar empat orang di sana. Aku tak bisa melihat jelas, " Jeda sejenak."Tenang saja, aku berhasil melawan mereka dan berhasil kabur. Walaupun tubuh dan wajahku harus mengalami pukulan keras."
"Kau kuat."
Sakura mengangguk bangga. "Memang. Mungkin lain kali aku akan mencoba sejauh mana kekuatanku untuk memukul seseorang. Dan sasaran itu adalah kau."
Sasuke mendengus geli di sana. Ia melirik gadis di sebelahnya sesekali sambil memfokuskan diri untuk menyetir. "Hn. Silahkan. Aku menunggu itu."
Sakura mencibir kesal dan kembali menatap jalanan luas.
"Rumah sakit Yamanaka itu milikmu."
Sakura mengangguk. "Ya. Dan pemegang kekuasaan tertinggi, kau. Aku tak ingin memiliknya. Kembalikan pada Ino. Ia membutuhkan rumah sakit itu."
Sasuke menggeleng cepat. "Yamanaka lebih menyukai hal berbau fashion ketimbang rumah sakit."
"Kau tak tahu apa-apa tentangnya!"
"Oh, ya? Apa yang tidak aku ketahui tentangnya?"
Sakura menghela napas. Ia menolehkan kepalanya menghadap Sasuke yang masih sibuk memandang jalan di depannya. "Banyak hal."
Sasuke terdiam. Tak ingin membalas perkataan sang istri di sampingnya. Mobil mewah itu melaju cepat. Menembus kemacetan yang sempat menghalangi perjalanan mereka.
.
.
Mobil hitam itu terhenti di depan pintu utama rumah sakit. Sasuke menoleh dan menatap pintu itu sekilas. Lalu, menoleh pada Sakura yang sedang membuka sabuk pengamannya.
"Tenten akan menjemputmu jam empat. Tak ada bantahan."
Sakura mengangguk cepat. Ia membuka pintu mobil itu dan terhenti saat ia mengingat sesuatu.
"Apa?"
"Tidak. Terima kasih kau mau mengantarku." Sakura keluar dan mengangguk saat mobil mewah itu melesat melaluinya. Ia mengambil napas panjang dan melangkah ke dalam. Menuju pekerjaan barunya.
Ponsel Sasuke berbunyi. Berdering keras dengan nama panggilan masuk sang asisten di sana. Ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel hitam itu pada telinganya.
"Karin ada di sana, Tuan."
Sasuke mengangguk. "Hn. Aku tahu. Buat ini semakin menarik, Kakashi. Kita lihat sejauh mana Karin bisa melakukannya. Biarkan ia melakukan apa yang ia inginkan."
Suara Kakashi tercekat di sana.
"Hn. Awasi dia."
Sasuke menutup telepon itu sepihak. Ia melempar ponsel hitamnya kasar dan kembali memfokuskan diri menyetir. Melupakan berbagai pertanyaan yang mulai perlahan masuk menganggu pikiran logisnya.
.
.
Berita kematian Gaara menyebar hingga menjadi berita terhangat yang dibicarakan masyarakat kota. Menjadi topik nomor satu yang diangkat di berbagai media massa.
Sasuke melempar koran itu malas saat terpampang jelas foto pemuda berambut merah itu di halaman awal.
Kakashi memandang sang majikan dengan tatapan tak terbaca. Sasuke sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menghela napas dalam-dalam di sana.
"Tuan Madara sudah tahu hal ini."
Sasuke membuka tangannya dan menampilkan wajah Uchiha Sasuke dengan wajah dingin dan kelam secara bersamaan.
"Setidaknya ia kalah satu langkah dariku." Sasuke melirik ponsel hitamnya sekilas saat panggilan masuk dari Shion tertera di sana. Ia mengabaikannya dan berdiri memandang pusat kota dari atas gedungnya.
"Kakek akan menanggung semuanya? Itu pertanyaan yang ada di kepalamu, bukan?" Sasuke menebak pemikiran Kakashi yang sedari tadi diam tak bergeming. Ia memandang sinis pria yang berbeda umur dengannya dengan remeh.
"Aku akan menanggung semuanya," Sasuke berkata cepat saat menyadari raut wajah Kakashi yang berubah. "Resikonya akan berat, memang."
Sasuke menghela napas dan pergi keluar ruangan. Meninggalkan Kakashi yang terlihat sedih di sana. Ia memandang pintu cokelat itu dalam-dalam saat sosok itu menghilang. Kakashi menunduk. Memandang kosong lantai bawah ruangan milik Sasuke.
"Dosa apa lagi yang harus ditanggung anak ini, Tuhan."
.
.
Sakura memandang jam dinding berwarna biru muda yang terpasang di atas jendela ruangan kerja miliknya. Hari pertama bekerja membuatnya sangat bahagia. Ia mendapat perlakuan baik dan menyenangkan dari para pegawai di sini. Dan anak-anak yang kemarin dilihatnya bersama Ino juga senang melihatnya. Ia merasa nyaman. Banyak hal yang bisa membuatnya bahagia di sini.
Pikirannya kembali terlintas mengenai Karin. Hari ini ia tak melihat dimana wanita itu berada. Sakura tak berusaha mencarinya. Jika ia mencarinya, Karin akan menghindarinya dan berlari menjauh. Usahanya akan sia-sia. Ia akan memberikan waktu pada Karin sampai ia bisa berbicara dan tak berlari menjauh saat Sakura datang mendekat.
Jam sudah bergerak menuju pukul empat sore. Sakura segera bersiap dan merapikan beberapa barang bawaannya. Tenten akan menjemputnya.
Sakura melangkah, menutup pintu putih di belakangnya pelan. Ia tersenyum saat suster lain menyapanya ramah. Ia segera melangkah. Melewati beberapa pasien yang sedang duduk ditemani oleh suster yang bertugas. Langkahnya terhenti saat melihat Sasuke berdiri di sana. Menjemputnya.
Sasuke memandang datar saat Sakura berjalan mendekatinya dengan wajah penuh heran dari gadis itu. Beginikah responnya saat suaminya menjemput sang istri dari pekerjaannya?
"Kemana Tenten?"
Sasuke tak menjawab. Ia terdiam dan membalikkan tubuhnya. Meninggalkan Sakura dengan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya. Sasuke sangat aneh hari ini.
Sakura memilih untuk tak peduli. Ia mengikuti kemana Sasuke melangkah. Langkahnya terhenti saat Sasuke membuka mobil miliknya dan menyuruh Sakura masuk ke dalam mobil.
"Hari ini ada pesta perusahaan milik Uzumaki Naruto. Kita diundang datang ke sana."
Sakura menoleh dan menatap wajah itu lekat. "Di mana?"
"Amegakure."
Sakura terkejut dan membulatkan matanya. "Itu jauh, Sasuke. Kita bisa ke sana dalam waktu sekitar tiga sampai empat jam."
Sasuke memegang kemudi mobil erat. Dan kemudian mobil mewah itu melesat jauh meninggalkan halaman parkir rumah sakit.
"Tidak jika kita menggunakan jet pribadi."
"Oh, ya. Milik siapa? Apakah kau akan meminjamnya?"
Sasuke menggeleng. "Milikku."
Sakura menahan napasnya sebentar. Ia memandang wajah tampan itu dari samping dalam. Sasuke sangat kaya. Melebihi apapun. Astaga, Sakura. Kau tak ada apa-apanya.
"Oh. Bisa kau jelaskan padaku berapa banyak jet pribadi yang kau punya beserta kekayaan melimpahmu?" desis Sakura.
"Kau ingin memerasku?"
Sakura mengangguk dengan senyum manis. Terlihat berbeda di mata Sasuke saat ia melirik istrinya. Ia tahu, Sakura sedang menyindirnya.
"Tentu. Harusnya aku meminta uangmu dan membelanjakannya untuk kebutuhan pribadiku. Seperti membeli baju mahal dan perhiasan mewah. Lalu, bersenang-senang. Melupakan suami menyebalkan sepertimu. Orang kaya sombong dan menyebalkan."
Sasuke tertawa rendah dan pelan. Membuat Sakura terdiam di sampingnya. "Hn. Itu terlihat menyakitkan untukku."
Sakura membuang napasnya kasar. Ia menatap tajam sang suami yang masih sibuk menyetir. "Tidak. Aku tak peduli dengan uang, jet atau apapun yang kau milikki. Itu milikmu. Aku tak pernah ingin tahu. Aku juga tak peduli dengan uang yang ada di atm dan jumlah nominalnya. Uang bukan segalanya." Sakura berucap panjang lebar. Ia menolehkan kepalanya memandang luar jendela mobil.
Sasuke meliriknya. Mendapati Sakura dengan wajah sedih di sana.
"Aku tak ingin ikut, Sasuke. Kau bisa pergi sendiri ke sana. Kau bisa mengajak Shion," Sakura tersenyum di akhir kalimat dan kembali memandang luar jendela.
"Hentikan mulut pintarmu, aku sedang tak ingin mendengar itu keluar dari bibirmu. Tak ada bantahan. Aku mengajakmu bukan Shion."
"Tapi—"
Sasuke menarik napas. "Mereka tahu kau istriku, bukan Shion. Aku sedang tak ingin berdebat hal ini." Sasuke bergumam tajam dan menatap Sakura dingin saat gadis itu menatapnya.
Sakura mengangguk dan kembali keheningan menjadi teman utama di dalam mobil mewah ini.
.
.
Sakura menghempaskan punggung lelahnya pada sofa mewah berbentuk lengkungan berwarna putih yang tersedia di ruang tamu rumahnya. Mata hijaunya menutup sesaat dan terbuka saat melihat koran terbitan hari ini.
Tangannya terulur untuk mengambil koran tersebut. Manik hijaunya bergulir ke kanan dan ke kiri. Membaca satu-persatu kata.
Ia meneguk ludahnya kasar.
Keringat dingin keluar dari pelipisnya.
Sabaku Gaara telah tewas. Ia ditemukan tewas di apartemen miliknya dinihari. Pelaku pembunuhan masih menjadi target utama petugas kepolisian saat ini.
Sasuke melempar kertas itu ke arah lain saat dirasa Sakura menegang di baliknya. Sakura melotot tak terima pada sang suami yang menatap dingin padanya.
"Bersiaplah. Tak ada gunanya membaca koran hari ini. Keberangkatan kita dipercepat."
Sasuke berucap cepat dengan satu tarikan napas panjang. Membuat Sakura mendengus dan berdiri melangkah menjauhi sang suami yang berdiri memaku di sana.
.
.
Jam menunjukkan pukul 6 sore. Sakura berdiri mematung di depan cermin besar sambil menatap dirinya dalam-dalam. Tak ada yang salah dengan gaun yang dikenakannya saat ini. Semua terlihat sempurna.
Pintu diketuk dan Ayame datang sambil menunduk dengan membawa sepasang sepatu kaca berwarna putih yang senada dengan gaun putih yang dikenakannya. Sakura tersenyum tipis dan menerima sepatu pemberian Ayame.
"Dari Tuan Sasuke, Nyonya."
Sakura menghela napas pelan. "Ia ingin semua menjadi sempurna. Membosankan."
Ayame mengangguk setuju.
"Koper anda sudah dimasukkan ke dalam bagasi, Nyonya."
Sakura menoleh pada Tenten yang menunduk dan berdiri selangkah di depan Ayame. Dahinya berkerut tajam. "Koper?"
"Ya. Tuan dan anda akan menginap di Amegakure selama tiga hari."
"Sial," umpatnya. "Sasuke tak pernah bilang kita akan menginap. Jangan bercanda."
Tenten menggeleng tegas. "Tidak. Saya tidak bercanda."
"Tayuya akan ikut bersama anda. Sedangkan saya akan berjaga di sini. Permisi." Tenten menunduk sekali lagi dan melangkah mundur menjauhi kamar hingga sosoknya hilang dair balik pintu kamar.
.
.
Sakura menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. Di depan, Ibiki yang memegang kendali mobil. Dan di bangku belakang ada dirinya beserta suami menyebalkannya. Tak ada pembicaraan yang berarti sejak tadi. Hanya keheningan yang mendominasi. Selalu.
"Kau tidak bilang kita akan menginap." Sakura membuka percakapan sambil sesekali memegang pelipisnya yang terantuk kaca mobil pelan.
Sasuke diam. Tidak menjawab.
Sakura menghela napas pelan. Ia menoleh malas pada Sasuke yang masih fokus pada tatapannya. "Jawab aku."
"Hn. Ada urusan yang harus di selesaikan di sana."
Sakura mengangguk, ia kembali menyandarkan punggungnya pada kursi mobil. Matanya berpindah. Menatap depan dengan pandangan kosong. "Kau bisa menyelesaikan sendiri di sana. Tanpa harus mengajakku. Aku harus bekerja besok."
"Kau libur."
Sakura menoleh cepat dengan mata memicing tajam. "Sial, kau pasti yang menyuruh atasanku untuk memberiku libur?" ia berteriak kesal.
Sasuke mengangguk.
"Oh, terserah. Kau memang menyebalkan. Aku baru tahu ada pemilik perusahaan seperti ini. Di saat yang lain ingin karyawan mereka disiplin dengan selalu hadir tanpa absen terkecuali sakit, kau malah seperti ini."
Sasuke menoleh pada Sakura yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Hn. Aku berbeda. Aku melakukan ini karena aku ingin."
Sakura menaikkan bahu tak peduli. Ia melirik keluar jendela saat papan besar bertuliskan Bandara Internasional Konoha terpampang jelas di sana. Ia mendesah lega. Sudah sampai.
Sakura merapikan sedikit gaunnya yang tersingkap karena posisi duduknya yang tak menentu di dalam mobil tadi. Ia tersenyum tipis saat Tayuya membukakan pintu untuknya. Ia berdiri tegak dan mengikuti Sasuke yang melangkah lebih dulu darinya. Pria ini benar-benar menyebalkan.
Matanya menatap pada jet besar yang terparkir anggun di belakang bandara. Sasuke menangkap matanya saat sang istri sedang menatap kagum pada jet miliknya. Seringai bangga tercipta sesaat. Ah, Sakura tak melihatnya.
"Kau suka?"
Sakura menoleh datar pada Sasuke yang menyeringai puas di sana. Ia melirik jet tersebut dan berpindah menatap sang suami. "Jetmu lumayan. Aku menyukainya."
Sasuke mengangguk dan menyuruh agar dirinya mengikuti Sasuke pergi.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sakura menguap saat kantuk tiba-tiba menyerangnya. Oh, tidak untuk saat ini. Ia tidak boleh tertidur. Sebentar lagi ia akan tiba di tempat.
Ia melirik ke arah Sasuke yang sedang menatap kosong pada jalanan besar Ame dari dalam mobil. Tatapan Sasuke berbeda. Bukan tatapan khas miliknya yang biasa ia perlihatkan pada dirinya. Ia berani bertaruh, tatapan itu tatapan penyesalan dan kesakitan secara bersamaan. Tapi apa?
Sakura memandang lama sang suami. Tanpa diketahui olehnya. Sasuke melirik melalui ekor matanya saat dirasa Sakura menatapnya. Ia memilih untuk tak peduli dan kembali berkutat dengan pikirannya sendiri.
.
.
Decitan rem terdengar. Mobil berhenti tepat di depan pintu gerbang utama berwarna biru tua milik pemuda Uzumaki yang notabene adalah sahabat suaminya. Sakura menatap kagum pada interior desain rumah milik pemuda berambut pirang ini.
"Dobe punya kemampuan sendiri dalam bidang ini."
Sakura mendongak menatap sang suami yang sudah berdiri tegak di sampingnya. Mata kelamnya menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Sakura di sisinya.
"Ya. Dia hebat." Sakura tersenyum saat memberi pujian pada pemuda berambut pirang yang tak ayal membuat Sasuke mendengus mendengarnya.
"Hebat dan menyebalkan menjadi satu."
Sakura terkekeh mendengar perkataan sinis dari Sasuke di sampingnya. Ia merasa tubuhnya tertarik ke depan saat Sasuke menariknya untuk masuk ke dalam dengan tangan mereka menyatu.
.
.
Naruto melambai heboh ketika melihat Sasuke berdiri menjulang di depan pintu utama. Para wartawan langsung berlari ke arahnya. Memotret sepasang suami istri tersebut untuk dijadikan berita utama majalah mereka.
Uchiha Sasuke. CEO Uchiha Corp yang terkenal dan paling disegani lawan bisnisnya menggandeng tangan wanita yang tak diketahui namanya.
Sasuke mendengus saat pikiran konyol itu terlintas di pikirannya. Ia sudah bisa menebak kalau kalimat itu juga berada di pikiran para wartawan ini.
Sakura tersenyum tipis ketika kilat cahaya dari kamera menerpa wajah cantiknya. Ia berusaha untuk terlihat santai dan biasa saja. Menutupi kegugupannya. Ia menyenggol pelan lengan kekar Sasuke di sampingnya. Meminta bantuan. Oh, sayang sekali. Sasuke tampak tak peduli. Ia hanya diam saja dengan alis terangkat satu saat menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Anda siapa?"
Sakura menoleh saat salah satu dari mereka bertanya dengan suara keras. Ia memandang wartawan tersebut sekilas dan menoleh pada Sasuke yang menatap wartawan itu dingin.
"Oh, aku?" Sakura tersenyum misterius. Membuat para wartawan yang berkumpul terdiam mendengar jawabannya. "Istrinya."
Sasuke mendengus di sana. Sakura bisa merasakannya. Ia tersenyum sekali lagi dan pergi berlalu menjauhi para wartawan yang berdiri terpaku mendengar jawabannya. Para wartawan itu berbalik hendak mengejarnya ketika petugas keamanan dengan sigap menghadang mereka semua. Ditambah Tayuya yang menatap para wartawan itu tajam satu-persatu. Membuat mereka berpikir dua kali untuk melakukan wawancara langsung pada sepasang suami istri ini.
Sasuke mengangkat tangannya tinggi saat pemuda berambut pirang berlari ke arahnya. Ia merentangkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh kekar Sasuke di sana. Ia mendengus saat mendapat penolakan halus dari sang sahabat ravennya. Tak lama, cengiran khasnya tercetak. Ia memeluk Sakura sebentar dan memandangnya penuh binar.
"Sakura! Selamat datang!"
Sakura tersenyum menanggapi Naruto yang melemparkan wajah hangat dan bersahabat padanya. Ia memeluk Hinata yang berjalan ke arahnya dengan tergesa-gesa. Membuat kedua lengan mungil itu membalas pelukannya dan tertawa bersama.
"Kau cantik sekali hari ini, Sakura." Hinata tersenyum dengan rona merah di kedua belah pipinya. Membuat Sakura tersenyum sambil menyembunyikan merah di kedua pipinya.
"Ah, acaranya sudah dimulai, Teme. Kita bisa berkumpul dengan anggota yang lainnya," mata birunya melirik ke arah Hinata dan Sakura yang sedang berbincang hangat di sana. "Biarkan para wanita menggosip ria di sana. Jangan menganggunya." Naruto berbisik pelan pada Sasuke yang kini mengalihkan pandangannya pada sang istri yang tertawa lebar dengan Hinata bersamanya.
Sasuke mengangguk dan mengikuti langkah Naruto pergi. Menjauhi para pasangan mereka masing-masing.
.
.
Sakura memandang heran saat Sasuke menyuruhnya untuk berjalan mendekatinya. Matanya memutar untuk melihat sekelilingnya. Banyak dari pasangan yang hadir di sana sedang berdansa sambil menikmati alunan musik yang diputar.
Sakura tahu. Sasuke mengajaknya berdansa.
Well, pemuda ini dendam padanya? Apa karena ada sesuatu lain?
Sakura menaikkan alis satu saat seringai tampan itu tercetak jelas di wajah suaminya. Entah, mengapa Sasuke bersikap aneh hari ini.
"Aku ingin berdansa."
Sakura mengangguk dan mengikuti gerakan Sasuke yang mulai membimbingnya perlahan. Mengikuti irama musik yang mengalun lembut di dalam ruangan.
"Ini masuk ke dalam perjanjian," ucap Sakura pelan. Ia memejamkan matanya sejenak dan kembali terbuka. "Aku menyetujuinya."
Sasuke mendengus mendengar kata perjanjian kembali disebutkan. Ia mengeratkan pelukannya saat jam berbunyi pukul duabelas malam terdengar semakin keras. Sakura menaruh kepalanya di bahu lebar suaminya. Menikmati acara yang diadakan Naruto dikediamannya. Malam semakin larut. Tetapi tak menyurutkan para tamu yang hadir untuk menghentikan kegiatan mereka. Sepertinya acara ini akan berlangsung hingga pagi nanti.
Sakura merasa tubuhnya menegang saat wajah tampan sang suami mendekat ke wajahnya. Ia memundurkan kepalanya sedikit ketika wajah itu semakin mendekat ke arahnya. Tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan Sasuke yang semakin erat. Ia bernapas keras. Berusaha menolak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia memejamkan matanya sejenak saat bibir tipi situ menempel pada bibir merah muda miliknya. Lama dan hangat. Sakura merasa jantungnya tak berdetak selama beberapa saat. Ia merasa dunianya berputar. Memutar kemudi untuk menghindari jalan di depannya. Sakura berada tubuhnya berada di persimpangan jalan yang siap ditabrak oleh pengguna jalan yang melintas. Dunianya terhenti.
Sasuke menciumnya.
Di depan para tamu yang memandang mereka takjub dan bahagia secara bersamaan.
Tapi tidak dengan dirinya.
Matanya terbuka dengan tatapan dalam yang tak terbaca. Mata hijaunya menatap Ino dan para sahabat lainnya yang memandang mereka dengan rasa bahagia.
Sakura tak tahu harus berbuat apa sekarang.
Ciuman itu terlepas. Menampilkan wajah Uchiha Sasuke dengan seringai kemenangan. Ia memandang wajah cantik itu intens dan tajam. Membuat Sakura memandangnya datar dengan gejolak yang tak bisa di definisikan olehnya.
"Kau milikku."
Sakura menegang di bawah pelukan Sasuke yang kian erat seiring bertambahnya malam. Membuat hawa diantara mereka berdua terlihat redup. Tak bercahaya. Sakura berusaha menggapai cahaya tersebut. Tapi gagal.
Tolong, jangan beritahu kalau dirinya gagal kali ini.
Ia harus keluar dari lingkaran kegelapan.
Ia harus.
.
.
"Sakura memutar pisau itu berlawanan arah. Sesekali ia menghembuskan napas bosannya. Membuat pemuda di depannya menatapnya dengan tatapan heran.
"Apa?" ketusnya.
Sasuke menggendikan bahu. Ia memegang garpu di tangan kirinya dan menunjuk piring Sakura menggunakan garpunya. "Makan."
Sakura tersenyum datar. Ia memandang piring milik suaminya yang hampir bersih karena Sasuke sudah memakannya.
"Tak lapar."
Sasuke mendengus, menaruh garpu miliknya dan menatap dalam ke mata hijau milik istrinya.
"Kau belum makan sejak semalam. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu makan?"
Sakura menaruh pisau itu perlahan. Melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam Sasuke di depannya. "Salah kau," tudingnya tajam.
"Hn. Makanlah. Aku tak ingin berdebat. Jika kau tak habiskan makanmu akan ku gunakan cara lain yang lebih kasar untuk memaksamu."
Sakura mendengus menahan marah dan mulai memakan sarapan yang di pesannya beberapa menit lalu. Restaurant di Amegakura terkenal karena pemandangannya. Pemandangan alam yang masih asri dan sejuk yang jarang dijumpai di Konoha dan tempat-tempat lain misalnya.
Sasuke tersenyum tipis saat Sakura memakan makanannya dengan rasa kesal yang dipendamnya dalam-dalam. Mata kelamnya sempat menangkap saat mata hijau teduh milik sang istri meliriknya diam-diam. Oh, Sakura. Apa yang akan kau lakukan kali ini?
.
.
"Aku akan pergi ke toko buku."
Sakura bergumam sambil memandang wajah tampan itu datar. Sasuke hendak menggeleng sebagai jawaban saat suara itu menghentikannya.
"Kumohon. Ayolah."
Sasuke mengangguk dan memerintahkan Tayuya untuk menemaninya. Sakura pergi menuju toko buku di pusat kota. Sedangkan dirinya harus pergi menemui seseorang dan melanjutkan tugas barunya di sini selama dua hari ke depan.
Sakura masuk ke dalam toko buku yang tampak lenggang karena hari ini masik termasuk ke dalam hari kerja. Ia tersenyum puas. Ia bisa menjelajah sepuasnya di sini. Melupakan masalahnya dan membeli buku sebanyak yang ia mau.
Ia menatap pada ATM berwarna biru yang diberikan Sasuke untuknya. Tidak. Ia tidak akan menggunakan ATM ini untuknya. Sasuke menyuruhnya untuk menggunakan benda ini semaunya. Sakura tidak menginginkan hal itu. Ia masih punya sedikit uang yang ditabungnya beberapa tahun lalu untuk membeli buku dan perlengkapan hidupnya.
Ia melangkahkan kakinya menuju rak buku yang berdiri tegak di tengah ruangan. Tayuya berhenti di dekat rak. Mengawasi Sakura dari sana. Sakura mengangguk dan melanjutkan langkahnya.
Mata hijaunya melirik pada buku bersampul kuning dengan judul yang ditulis dengan hurup besar di sana.
Love is Pain.
Sakura mengerutkan dahinya. Ia mendekatkan sampul buku itu ke wajahnya. Mencoba membaca tulisan kecil yang tertulis di sana.
"Kelemahan terbesarmu adalah saat dimana kau jatuh cinta."
Sakura menghela napasnya. Buku ini menarik. Dari sampul depannya sangat menarik untuk dibaca. Ia membalikkan buku bersampul kuning tersebut dan mulai membaca tulisan yang terdapat di sampul belakangnya.
"Kau tidak akan pernah menyadari kapan dan dimana kamu jatuh cinta. Ia hadir secara tiba-tiba, seperti angin yang berhembus dari belakang dan terkadang dari depan. Membawa dampak dan kesejukan yang berbeda dari masing-masing keduanya.
Ketika kau jatuh cinta, kau akan melupakan segalanya. Segala yang kau rencanakan sejak jauh sebelumnya. Mereka akan hilang. Terhempas jauh dengan rasa asing yang mulai muncul ke permukaan. Menampilkan sejuta rasa yang sulit di definisikan oleh kata-kata.
Cinta…
Hanya dengan jatuh cinta kau bisa mendekatkan seseorang yang jauh untuk lebih dekat. Menjauhkan dari orang terdekat menjadi sosok asing tak dikenal hanya karena cinta.
Bahkan cinta bisa membuat musuhmu menjadi bertekuk lutut menyerah. Atas nama cinta. Mengatasnamakan pengorbanan dan perjuangan di dalamnya.
Karena cinta bisa merubah segalanya. Menjadi sesuatu yang berkilau. Kilau samar yang tak terlihat masa depannya."
Sakura menggenggam erat buku dengan 850 halaman tersebut erat-erat di dadanya. Ia menarik napas dalam. Melirik sekali lagi pada buku bersampul kuning itu sebelum ia kembalikan menuju tempat semula.
Kata-kata di dalam buku itu menamparnya.
Love can make everything changes.
Kalimat itu terus terngiang dan berputar kencang dalam otaknya. Ia membuang napasnya kasar dan meninggalkan rak tersebut perlahan. Menjauh. Tidak. Ia tidak akan pernah jatuh cinta. Sampai kapanpun.
There is no true love.
Tidak ada cinta sejati di dunia ini selain orangtua pada anaknya. Selain itu? Tidak ada. Semua hanya omong kosong dan dongeng semata.
Ia tersenyum saat menghampiri Tayuya yang sedang menunggunya. Ia mengangguk. Ia butuh istirahat. Tubuhnya terasa lelah.
.
.
Sasuke memandang datar pada seseorang yang terpaut umur jauh dengannya. Ia membuang wajahnya ke arah lain saat suara menusuk nan tajam itu membentaknya.
"Apa lagi yang kau lakukan kali ini?!"
Sasuke terdiam membisu.
"Bodoh! Kau tahu ini akan menyulitkanku, menyulitkanmu! Menyulitkan kita semua!" bentaknya.
Sasuke masih duduk terdiam. Tak berniat menjawab perkataan seseorang yang sedang berdiri marah padanya.
"Jawab aku! Apa yang kau lakukan hingga bertindak sejauh ini?"
Sasuke mendongak. Menatap mata kelam sosok di depannya. Tajam dan penuh emosi di sana.
"Jika aku berkata aku tak membunuh Sabaku Gaara. Apakah kau percaya?" Sasuke mendengus sinis di akhir kalimat. Ia memandang wajah tegas itu dingin. Keadaannya sedang tak baik hari ini. Dan dengan angkuhnya Madara datang. Meminta untuk menemuinya. Jadilah seperti ini, menampilkan Madara dengan wajah penuh amarah dan siap melampiaskannya pada dirinya.
Madara tertawa pelan. Menanggapi jawaban konyol cucunya. Matanya masih memandang Sasuke tajam. Rahangnya mengeras seiring respon tak berarti yang diberikan Sasuke untuknya.
"Tebakanku benar."
Sasuke berdiri. Bersiap meninggalkan sang Kakek yang berdiri mematung di sana.
"Kau sudah jauh datang dari Konoha hanya untuk berbicara masalah tak penting seperti ini? Ingatlah satu hal, kau kalah dariku."
Madara menatap dalam Sasuke yang berdiri menjulang di depannya.
"Tekadku bulat sejak dulu. Menghancurkan siapapun yang menghalangi langkahku. Menghalangi siapapun yang berani menganggu kehidupanku. Sampai sekarang masih berlaku."
Sasuke tertawa sinis. "Bahkan jika kau sendiri berani melakukannya, aku tak segan-segan akan menyingkirkanmu dari hidupku."
Madara memandang amarah pada Sasuke yang menantang di depannya. Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Bersiap menampar cucu satu-satunya yang ia punya. Bersiap melampiaskan semuanya.
"Meskipun kau yang selalu melindungiku dimanapun aku berada dan dalam keadaan apapun. Saat aku dalam bahaya. Kau selalu ada untukku." Sasuke melanjutkan ucapannya.
Mata kelam itu saling bertemu. Menyalurkan rasa yang tak bisa mereka ucapkan dengan kata-kata secara jelas.
"Kau boleh meminta Yamato dan semua mata-mata terbaikmu untuk menyelidiki tentang kasus Gaara. Pastikan, Yamato tak akan salah kali ini." Sasuke menyeringai di akhir kalimat sebelum berlalu pergi. Meninggalkan Madara yang berdiri memaku di sana.
Madara terdiam. Ucapan Sasuke masih terekam jelas di benaknya. Kata-kata yang menancap langsung ke dalam ulu hatinya.
Sasuke sudah dewasa sekarang.
Ia bisa melakukan apa saja.
Madara menghela napas. Ia masih harus melindungi Sasuke dari apapun. Dari bahaya yang mengintai dari orang-orang sekitarnya. Ia tahu. Sasuke tidak akan pernah bisa menyakiti dirinya. Sasuke sudah bertekad akan menyingkirkannya tapi ia tidak mampu. Madara terlalu berpengaruh baginya.
Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Menatap tajam objek depannya. Sampai mati ia akan terus melindungi Sasuke.
Karena bagaimanapun, semua berawal dari dirinya. Madara menggeleng saat sepenggal kejadian masa lalu menghantamnya.
Sasuke menjadi iblis karena kesalahannya.
Dan Madara tak bisa membohongi hal itu. Ia selamanya akan menjadi tersangka. Tersangka karena berani mengorbankan Sasuke, cucu yang paling ia cintai sejak dulu.
.
.
Sasuke menggeram saat Kakashi dengan terburu-buru menghampirinya. Membawa berita buruk yang tak pernah di dengarnya.
"Tuan, Sasori kabur dari penjara bawah tanah di Tokyo."
Sasuke mengatupkan bibirnya menjadi garis keras. Rahangnya mengetat. Menahan amarah yang siap meledak.
"Dan mobil Nyonya Sakura hilang ketika perjalanannya menuju apartement. Tayuya tak bisa dihubungi sejak satu jam yang lalu. Mereka berdua hilang kontak. Aku tak bisa berkomunikasi dengan Tayuya. Tapi, aku sudah menyuruh beberapa mata-mata dan pengawal kita untuk mencari Nyonya. Anda tak perlu khawatir."
Kakashi merasakan punggungnya terbakar saat Sasuke berjalan melaluinya. Tanpa kata dan dengan amarah yang sedang di tahannya.
Ia bisa mendengar sama-samar suara tajam milik majikannya sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari balik pintu apartement miliknya.
"Aku akan memastikan Sasori mati di tanganku dan siapa saja pelaku yang berani mencelakakan istriku."
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
Author Note:
Halohaaa chapter 7 iniiii.. maaf saya update agak lama karena terkendala beberapa ujian huhu #nanges
Eh ini idenya saya dapat ketika saya denger lagunya crazy in lovenya beyonce loh hoho #gananya duhhh om greyy helepppp saya jadi kepo filmnya #kokcurcol
Romancenya bagaimana? Yaa kalau ditanya konfliknya bagaimana mulai chap depan udah berat wkwkwkwk. Antara cinta, benci, pengorbanan dan segalanya bercampur jadi satu. #lha
Okeh, bales pertanyaan yang masuk dulu yaa :3
Q: Author-san, jujur saya msh bingung dg cerita ini.
Sasusaku punya masa lalu ea . . . Spt.y kelam sekali. Truz k'k.y sakura itu siapa. Msh byk hal yg membingungkan untukku . . Bza beri sdikt clue dirimu membuatku makin penasaran . . . Huhu
A: halllooo, ini ketauan ga kakaknya siapaah? Iyaa masa lalu mereka emang seremin semua #spoilerdikit. Diantara Sakura, Shion dan Sasuke mereka bertiga punya masa lalu kok yang kelammm #spoilerlagi
Q: sakura dlu juga prnah kena msalah sama gara dan shion? ya ampun
A: wkwkwk ya begitulah. Nanti keungkap kok hubungan Gaara sama Sakura apa duluuu
Q: Oya kak dicerita ini sebenernya sakura tuh disayang sasuke atau gak sih kak... ?
A: bisa ketebak gaaa chap ini gimanaaa? Wkwk
Q: jangan bilang sad ending
A: jujur saya gasuka sad ending. Beneran. Tapi fic ini alurnya udah diatur kokk tenang aja. Gabakalan semengerikan yang kalian kiraa :3
Q: Nama fbnya apa?
A: ohyaa lagi ga buka fb sampe beberapa bulan ke depann. Kalian bisa search Ananda Putri Hassbrina ataugaa twitter nandaades kalau mau kontak aku hoho #ngarep
Q: alurnya udah ketebak sebenernya..
A: oh benarkah? Duh jadi ga seru lagi dong ya kalo udah ketebak
Segitu dulu deh ya pertanyaan yang bisa saya jawab. Saran dan review kalian sangat berarti :3
Terima kasih bagi yang sudah fave, follow dan review. Saya seneng bacanya seriusssss. Jadi pengen cepat update terus hoho walaupun banyak halangannya sih XD
See you in next chap!
Love,
emerallized onyxta
