Rina: ~ *bersambung terus*

Rin: Lupakan Author gangguan jiwa itu! Mending aku baca disclaimer na ja deh! Si Len juga kabur lagi!

Disclaimer: Rina nyari pisang karena Vocaloid tidak pernah milik Rina.

Rin: Apa hubungan na pisang ma disclaimer?… dasar gaje

Rina: *ketawa gaje part 2*

Rin: Udah deh, langsung ja ke cerita na! Festival Panic Part 2 ~Culture Festival Live Stage!~


Normal POV


Rin menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan teratur. Dalam beberapa menit gilirannya akan tiba. Giliran tiba-tibanya menjadi seorang Cinderella. Rin masih berpikir ini sedikit ironis. Cinderella menjadi Cinderella? Aneh.

[Pertunjukan berikutnya berasal dari kelas X-3 dengan judul 'Run-away Cinderella'] ujar MC yang berkata dari dalam ruang audio panggung.

Dada Rin terasa sangat sesak, dan keringat dingin mengucur deras di dahinya yang mulus. Rin mencoba mengatur nafasnya namun gagal, gagal total! Adanya rasa gugup Rin menjadi 1000 kali lipat! Rin memang memiliki sedikit penyakit demam panggung.

Len yang melihatnya hanya menghela nafas panjang. Terbalik dari Rin, Len terlihat sangat cool karena dia selalu stay cool. Len sudah hafal benar dengan setiap gerak gerik Rin, dan segera menghampirinya untuk memberinya sedikit dukungan. Len kemudian menepuk pundak Rin untuk membuat perhatiannya teralihkan.

Rin merasakan tangan yang menepuk pundaknya. Spontan dia melihat ke belakang dengan jarak sepersekian detik, dan melihat Len disana. Len kemudian berkata dengan tersenyum, "Kau pasti bisa Rin," ujar Len dengan nada yang menghibur kepada Rin.

Wajah Rin spontan memerah, entah karena apa. Rin merasa lebih baik setelah dia mendengar hiburan dari Len. Rasanya perasaan gugupnya yang tadi membayangi tidurnya sudah disapu angin entah kemana. Mungkin ini yang disebut sahabat disaat apapun kali ya?

Tetapi, jauh dari tempat Rin dan Len berdiri, Miku melihat mereka berdua dengan perasaan khawatir. Miku… dia sudah mengatakan perasaannya yang sejujurnya pada Rin tentang Len. Miku masih mengingat dengan jelas setiap detik dalam diam yang mereka lewati saat itu, hingga Rin mengatakan jawabannya.

"Aku… tidak akan menyerahkan Len pada siapapun,"

Miku merasa ada dua makna dalam pernyataan itu. Yang satu karena Rin tidak ingin terpisah dari Len karena mereka teman. Dan yang satu lagi… karena Rin menyukai Len, sama seperti perasaannya. Miku tidak tahu yang mana jawabannya. Miku hanya memperhatikan kedekatan mereka dengan sangat lekat dan teliti, tapi tidak ada sesuatu yang mengatakan bahwa mereka pacaran disana.

"Mungkin aku yang berpikir terlalu keras…" pikir Miku sambil meneruskan pekerjaan yang ada di tangannya saat itu.


Sebenarnya… cerita Cinderella yang ditulis oleh Neru dibantu dengan asistennya yang setia, Aoki, Aoki Lapis. Mereka menulis cerita yang sedikit berbeda dari Cinderella yang asli. Cinderella versi Neru… lebih mirip 'Cinderella' yang berada di dunia nyata mereka.

Singkatnya, Cinderella disini tidak ditemukan, dan hidup bahagia selamanya bersama pangeran, tetapi Cinderella pergi dari hadapan Pangeran dan memintanya untuk mencarinya. Itu menambah ironi bagi Rin yang identitas lainnya adalah Cinderella. Padahal seharusnya dia memerankan peran Pangeran yang mengejar Cinderella… tapi ujung-ujungnya dia menjadi Cinderella yang dikejar Pangeran… lagi.

Tapi, Rin merasa aneh dengan bagian Pangeran yang mengejarnya. Kenapa terdengar seperti peran Len? Rin menjadi kurang mengerti.

Saat Rin menyadarinya, mereka sudah berada di bagian dimana Rin harus berdansa dengan Len. Tentu saja hal ini membuat jantung Rin jadi berpacu dengan keringat dinginnya sendiri. Rin menjadi gelisah sendiri, menunggu saatnya untuk muncul tiba. Dia kan tidak bisa dansa!

Teto sendiri yang mengawasi reaksi penonton memberi semua orang kabar yang baik, meski drama yang dimainkan mereka terasa sangat klasik. Tapi, yang mampu membuat semua penonton terhibur adalah pembagian peranannya.

Piko… Rin dan kawan-kawan sekelasnya perlu kemampuan ekstra untuk menahan tawa saat mendengar peran Piko. Seorang Utatane Piko… memerankan Ibu Peri. Ibu PERI! Hanya karena rambutnya berwarna silver, lalu postur tubuhnya yang ahemfeminimahem, dan juga matanya yang terkesan magical banget! Oke, mungkin itu lumayan banyak alasan untuk membuat Piko menjadi Ibu Peri. Sambutan untuk Piko sangatlah bagus dan wig silver panjang yang dipakainya membuat dirinya menjadi seperti Ibu Peri asli. Rin saja sampai kicep saat berhadapan dengan Piko di panggung.

Neru yang merupakan direktur cerita juga tidak mau kalah ataupun mengalah, dia dengan karakter sedikit Tsun tsun memecah rekor penonton dibanding bagian lainnya, perannya adalah teman cowok dari Len. Benar, Neru juga melakukan crossdress, dan meski aneh tapi nyata, dia benar-benar terlihat seperti cowok. Sebentar lagi mungkin orang-orang akan membuat Neru Crossdress Fansclub.

"Rin-chan~" sebuah suara mengagetkan Rin dari belakang.

Rin yang sedari tadi melihat pemeranan anak-anak sekelasnya di panggung sontak melompat karena kaget. Dengan segera Rin melihat siapa yang mengagetkannya dan melihat Miku disana. Spontan dadanya terasa tidak enak dan sesak.

"A-ada apa Miku-chan? K-kau membuatku ka-kaget!" ujar Rin dengan wajah yang sangat terkejut tercampur dengan rasa takut.

Miku memiringkan kepalanya untuk terlihat inosen. Meski begitu, dadanya terisi dengan rasa khawatir akan apa yang jadi perasaannya. Lalu Miku berkata, "Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bilang kau itu cantik, jadi harus lebih percaya diri!" ujar Miku memberi dukungan.

Wajah Rin jadi memerah karena malu, lalu dia menunduk sambil berkata, "Be-benarkah?" ujarnya sambil memperhatikan kostumnya.

Kostum Rin mirip seperti bajunya saat menjadi Cinderella, hanya saja lebih panjang dan terlihat lebih wah. Rambutnya dikepang sebagian di belakang telinganya lalu dijepit dengan menggunakan jepit dengan korsase mawar putih. Di mata siapapun, Rin memang terlihat sangat cantik.

"Benar! Karena itu, cepat keluar sana!" ujar Miku sambil membalikkan tubuh Rin lalu kemudian mendorong punggung Rin, sehingga dia berjalan menuju panggung.

Rin terlihat sangat was was akan kejahilan Miku. Meski begitu, Rin terpaksa untuk melanjutkan jalannya menuju ke tempat Len menunggu. Tu-tunggu sebentar! Kenapa ini terdengar seperti upacara pernikahan?

Rin melirik ke arah bangku penonton, berharap agar Liu menontonnya. Dalam waktu sedetik saja, Rin sudah melihat Liu yang ada di barisan tengah, dan disampingnya terdapat seseorang yang selalu bersama Liu saat Rin melihatnya, Rui.

Rin mengingat kembali percakapan yang dia kuping tempo hari, dan segera melihat ke arah Len yang sedang memandangnya tanpa berkedip. Rin merasa tidak terlalu nyaman, penampilannya tidak aneh bukan?

Len diam di tempat, seakan lupa naskahnya, bukan karena penampilan Rin aneh, bahkan sebaliknya, Rin terlihat amat sangat cantik. Len seakan melihat Cinderella yang ditaksirnya berdiri disana. Tapi, lamunannya buyar, saat Rin memulai aktingnya dengan membungkuk kepada Len dengan hormat.

Len mengingat apa yang seharusnya dia lakukan dan segera mengajak Rin berdansa, dengan menawarkan tangannya, sambil berkata, "Maukan anda berdansa dengan saya?" ujar Len dengan nada yang halus nan lembut bahkan membuat Len kaget sendiri.

Rin melihat ke arah Len, dan sesaat mata mereka bertemu. Untuk mereka berdua… waktu serasa berhenti saat mereka bertemu pandang. Apa yang membuat mereka merasa seperti ini?


Rin POV


Aku memandang mata Len dalam-dalam. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan hal itu, namun aku hanya refleks melakukannya. Mungkin karena Len kini adalah pangeranku dan juga menawan. Len terlihat sangat tampan dengan kostum pangeran lengkap dengan jubah berwarna putih yang dia kenakan. Make-up Len tidak tebal, namun mampu memancarkan pesona shota yang cool satu itu.

Saat aku menyadarinya, aku hanya mengangguk dan menerima uluran tangannya tanpa memikirkan apa yang seharusnya kulakukan. Mulutku bergerak sendiri dan berkata, "Dengan senang hati Yang Mulia," ujarku sambil menatap wajah Len.

Len tersenyum dengan lembut kepadaku, dan rasanya jantungku akan meledak setiap saat. Dasar cowok ini! Menyadari kalau dia tampan, jadi dia mempermainkan hatiku yang sangat kecewekan dan lemah ini! Dasar!

Len membimbingku ke lantai dansa, dan meletakkan satu tangannya pada pinggangku, sementara tangan yang satunya menggenggam tanganku. Aku sendiri hanya meniru perlakuan Len, dan melihat ke arahnya.

Saat itulah musik waltz mulai bersenandung dengan pelan. Aku dan Len berdansa bersama dengan pemeran-pemeran lain di sekeliling kami. Aku melihat keatas dan menyadari… Wa-wajah Len terlalu dekat! Aku bahkan bisa merasakan nafasnya di wajahku!

"Kau menikmatinya bukan, Rin?" ujar Milet dari dalam otakku dengan nada yang menyindir.

"U-urusai! Ini semua hanya akting tahu, AKTING!" teriakku di dalam pikiranku.

Aku dan Len berdansa cukup lama, meski seharusnya sebentar. Kenapa lagu ini terasa sangat panjang ya? Setiap langkahku dan Len terasa sangat panjang dan tidak akan berakhir. Dadaku berdetak dengan lembut, dan rasanya wajahku terasa hangat.

Tepat saat aku mulai tenggelam dalam lamunanku, aku mendengar Len membuka dialog kami kembali, "Bolehkah aku tahu namamu?" tanya Len dengan tetap melihatku seakan aku pusat dunia. Ah, ternyata akting Len yang seperti seseorang yang jatuh cinta ini sangat bagus!

"A-aku…" belum sempat aku menjawab, aku mendengar tanda bahwa saatnya aku melarikan diri. Tapi tidak tanpa adegan terakhirku dengan Len.

Aku melihat ke sekeliling, kemudian melihat ke arah Len lagi. Dengan segera aku berjinjit dan mencium pipinya, aku kemudian berkata, "Ella," ujarku lalu pergi melarikan diri.

Aku melihat Len terakhir kali, sebelum berkata, "Carilah aku…" ujarku dengan percaya diri dan kemudian meninggalkan panggung tanpa meninggalkan sepatu kaca.

Saat aku meninggalkan panggung aku mendengar teriakan Len, "Ella, jangan pergi!" teriak Len.

Teriakan itu efektif membuatku yang sedang meninggalkan panggung membalikkan tubuhku kembali. Tanpa sadar aku mengatakan sesuatu yang bahkan tidak ada di dalam skrip! Aku berkata, "Jika kita memang ditakdirkan bersama… kita pasti akan bertemu lagi," ujarku dan kemudian meninggalkan panggung dengan benar sekarang.

Lalu datanglah epilog cerita. Tentu saja aku dimarahi Neru karena mengatakan sesuatu yang diluar skrip yang dibuatnya. Tapi, dia memujiku karena penonton menyukai adegan perpisahan Pangeran dan Cinderella itu tadi. Bahkan kata-kataku dan Len membuat hampir semua penonton nyaris pingsan.

Iroha tanpa basa basi segera mengganti bajuku untuk adegan terakhir yang harus kulakukan. Aku masuk kembali ke panggung, dan diteriaki oleh para penonton. Aku merapatkan tudung yang bersambung dengan jubah berwarna coklat tua yang kupakai, dan memasuki sebuah setting kapal yang ada di hadapanku.

Aku menarik nafas panjang, dan melihat ke belakang. Entah kenapa… aku ingin Len menghalangiku pergi… meski itu hanyalah sebuah akting.

"Hei, Nona! Cepatlah masuk!" ujar seorang nahkoda kapal yang diperankan teman sekelasku.

Aku hanya mengangguk, lalu memasuki kapal. Aku melihat ke arahnya, dan melihat ke belakang, seakan-akan aku melihat ke arah istana, lalu berkata, "Hingga saat kita bisa bertemu lagi… Pangeran," ujarku dengan sepenuh hati.

Tirai di tutup lagi, dan dalam selang waktu beberapa menit dengan narator yang membacakan cerita, setting sudah berubah menjadi sebuah ruang belajar istana, dengan Len di dalamnya. Ini adalah adegan Len yang terakhir.

Len yang terlihat serius itu melihat keluar jendela, alias menerawang, sambil berkata, "Hingga saat kita bertemu lagi… Ella," ujarnya sambil duduk di bibir jendela buatan yang dibuat di settingnya.

Dan itu adalah akhir dari cerita drama kami. Len dengan segera kembali ke belakang panggung, disambut dengan anak-anak yang sudah menggigit-gigit sapu tangan mereka sambil menangis karena terharu. Dengan segera cowok-cowok berebutan memeluk Len dan memberi semangat, sementara para cewek menghapus air mata mereka yang banjir.

Setelah itu, aku berganti baju dan segera menuju kelas, karena semuanya sudah mulai kembali lagi ke kelas. Aku bertemu pandang dengan Len yang sama-sama baru ganti baju, dan menyadari bahwa tinggal kami saja yang belum kembali.

"Len, kau terlihat keren tadi!" ujarku dengan nada memuji. Yee, itu kan kenyataan!

Len melihatku dengan kaget, lalu membuang mukanya sambil berkata, "Kau juga cantik Rin…" ujar Len dengan sedikit malu-malu.

Deg deg. Rasanya dadaku jadi berpacu dengan waktu lagi. Aku merasakan wajahku menjadi mendidik karena perkataan Len. Apa yang menyebabkan wajahku begini?

Entah berapa lami kami berdiri dalam diam, seakan yang kami butuhkan hanyalah suasana hening itu. Len kemudian berdehem dan mengajakku kembali ke kelas bersama-sama sambil menggandengku. Apa mungkin… aku menyukai Len?


Len POV


Aku mengganti baju seragam yang kupakai dengan pakaian butler yang disediakan oleh teman-teman sekelas untuk Maid Cosplay Café kami. Aku sendiri memakai pakaian butler untuk terlihat seperti pemeran Allen di Servant of Evil-nya Story of Evil. Teman-teman sekelasku bilang, aku memiliki kemiripan dengan Allen di banyak sisi.

Rin sendiri mengganti seragamnya dengan pakaian maid berwarna pink yang sampai 5 cm di atas lututnya. Rambut Rin yang pendek diikat menjadi twintail dengan pita berwarna pink yang super panjang. Rok seragam maidnya terdiri atas 3 lapis, dengan lapisan pertama yang terluar hanya sampai pahanya, yang kedua hingga 5 cm di atas lutunya dengan warna pink tua, dan yang paling dalam adalah bagian putih yang berenda-renda hingga sedikit mencapai lututnya. Rin memakai apron berwarna putih dengan renda-renda dan pita besar yang mengikat pakaian Maid dan apronnya yang berwarna pink tua. Lebihan pita itu bahkan mencapai tanah!

Rin memakai sepasang sarung tangan berwarna putih tipis dengan pita pink. Rin memakai sepatu yang mirip sepatu sekolah dengan warna pink dan pita di bagian mata kakinya. Karena Rin sedikit risih dengan memajang bagian kakinya hingga lutut, jadi dia memakai kaus kaki panjang hingga mencapai bawah lututnya. Lengan baju maid Rin sedikit menggembung dan dihiasi renda-renda. Rin juga memakai hairdress seorang maid berwarna putih di kepalanya. Aku juga baru menyadari bahwa Rin juga memakai choker pita berwarna pink dengan motif bunga-bunga.

Di ujung ruangan, aku melihat Neru yang memakai baju maid ala ninja, memotret Rin dengan ponselnya sambil tertawa-tawa seperti seorang maniak. Piko sendiri yang memakai pakaian ala Ciel-nya Kuroshtsuji, hanya melirik Rin… sepanjang waktu! Aku tidak mengerti jalan pikiran Otaku.

"Len~" aku mendengar suara Miku yang memanggilku. Aku melihat ke belakang, dan melihat Miku yang memakai pakaian Maid yang mirip seperti perawat, dan tersenyum ke arahku.

"Ada apa Miku?" tanyaku dengan sedikit heran.

"A-ano… sebenarnya…" Miku terlihat ragu-ragu untuk berkata, dan aku hanya menaikkan sebelah alisku melihat keanehannya. Tapi, perhatianku teralih karena teriakan Teto yang menjadi juru masak di dalam.

"Ah, kalau ingin bicara nanti saja ya," ujarku pada Miku sambil berlari menuju dapur.


Miku POV


Aku melihat sosok Len yang menghilang menuju bagian dapur dengan menghela nafas dalam-dalam. Padahal aku sudah berlatih selama berminggu-minggu untuk mengajak Len pergi jalan-jalan pada hari terakhir. Tapi pada akhirnya… aku masih belum bisa.

"Ayo berjuanglah aku! Kau pasti bisa mengajaknya pergi!" ujarku pada diri sendiri. Saat itulah aku mendengar suara pintu kelas yang dibuka. Ah, ada tamu!

"Selamat datang kembali Goshujin-sama!"


Normal POV


Hari pertama festival berjalan dengan cukup cepat bagi Rin, karena dia berjalan-jalan bersama semua teman-temannya. Rin merasa bahwa dia dan Miku masih tetap seperti biasa dan merasa bersyukur karena itu. Kini, pada hari kedua Festival Kebudayaan dia sedang mencari-cari Liu, orang yang selama ini ditaksirnya, untuk pergi jalan-jalan bersama pada esok harinya.

Tapi, yang membuat Rin shock adalah orang yang saat ini bersama dengan Liu. Disana ada Rui, dengan pakaian bebas, sedang berjalan bersama dengan Liu dan membawa es krim di tangannya. Liu sendiri juga membawa es krim yang serupa dan tertawa bersama dengannya.

Rin yang spontan menjadi cemburu, segera bersembunyi di balik orang-orang. Saat mereka berdua melewati Rin, Rin segera meninggalkan lorong kelas 2. Dalam hati dia memutuskan, dia tidak bisa melakukannya hari ini.

Miku di tempat lain, kini sedang berbicara berdua saja dengan Len. Len yang sama sekali tidak tahu tentang perasaan anak cewek, hanya mengikuti keinginan Miku saja. Tapi yang membuat Len kaget adalah ajakan Miku kepadanya.

"Kumohon, pergilah bersamaku seharian pada Festival Kebudayaan!" teriak Miku dengan membungkuk pada Len. Wajahnya terlihat seratus persen gugup, namun dia lega karena berhasil mengatakannya pada Len.

Len hanya melihat Miku dengan sedikit heran. Dia mengingat segudang tawaran yang diterimanya dari para penggemarnya yang sepertinya bertambah menjadi dua kali lipat tapi belum diiyakannya itu. Tapi karena Miku merupakan temannya… Len kemudian berkata.

"Baiklah. Setelah shift kita selesai ya?" ujar Len dengan tenang.

Miku melihat ke arah Len dengan wajah yang terkejut namun segera berubah menjadi senyum. Dengan bersemangat dia berkata, "Iya!"


Rin kini berperang dengan dirinya sendiri. Sekarang adalah hari ketiga, dan jika dia tidak mengatakannya sekarang. Kesempatannya akan segera melayang.

Rin menunggu dengan sabar di pintu masuk sekolah, hingga dia bertemu dengan orang yang dicarinya. Wajah Rin yang bosan menunggu menjadi senyum, melihatnya, dengan segera dia menyapa orang itu, "Ohayou Liu-senpai!" ujar Rin dengan bersemangat. Dia senang karena saat itu Rui sedang tidak bersama dengan Liu.

Liu yang menyadari Rin ada disana, segera membalas, "Pagi juga Rin-chan," ujarnya dengan tersenyum. Rin jadi salting dibuatnya.

Rin menyembunyikan wajahnya yang memerah, menyebutkan beberapa mantra yang membuat keberaniannya meningkat, lalu segera berkata, "A-ano… Liu-senpai…" ujar Rin dengan tergagap.

Liu melihat ke arah Rin dengan santai, lalu bertanya, "Ada apa Rin-chan?" tanya Liu dengan santainya tidak mengetahui bahwa Rin sedang sangat sangat gugup.

"A-ano… kumohon pergilah dengan saat Acara Kembang Api!" teriak Rin dengan gamblang dan tanpa ditahannya. Dia melakukannya sendiri tanpa bantuan dari Milet.

Liu terlihat kaget dengan pernyataan Rin, tapi dengan segera dia berkata, "Maaf… aku tidak bisa," ujar Liu dengan wajah yang meminta maaf pada Rin.

Rina: Udah segini ja untuk chapter ini! Yeyeye lalalala~ sebentar lagi climax na!

Rin: Kenapa aku ditolak sementara Miku diterima? Huh, author tidak adil!

Rina: Udah sabar ja ya Rin! Di chapter depan kau boleh libur nemenin aku disini deh~

Rin: Beneran?

Rina: Yup! Karena itu, cepat minta review sana! Ma jangan lupa bacain preview chapter selanjutnya!

Rin: Iya, ya! Buat para readers yang baik hati cantik-cantik cakep-cakep yang baca cerita ini, jangan lupa untuk review! Nah, berikut ini adalah preview untuk chapter 8!


Preview Chapter 8 ~Doki Doki Firework Night!~

"Aku mencintainya! Aku mencintainya lebih daripada cintamu padanya!"

"Kalian berdua… jadi, jangan-jangan…"

"Aku adalah Aurora! Dan kau tidak akan pernah mendapatkannya dariku Cinderella!"

"Itukan…"

"Tidak, jangan pergi! Kumohon jangan pergi!"