Sasuke merasakan sensasi memualkan dalam perutnya, seolah isinya sedang diaduk, seperti saat dia berada di atas kereta roller coaster.
Neji berbalik, meninggalkannya dengan perasaan hampa yang menyesakkan. Dia berhenti setelah beberapa langkah, berbalik menghadap Sasuke untuk mengucapkan kalimat, "Kalau kau tahu diri, kau akan mendengarkanku, Uchiha."
Sasuke bergeming seolah kakinya direkatkan dengan tanah. Memandangi Neji yang melangkah pergi, dia bertanya-tanya apa motif di balik semua yang dilakukan Neji. Mungkin untuk menceraiberaikan keangkuhan Sasuke. Kadang Sasuke merasa kebencian Neji tidak berdasar.
Mungkin Neji membencinya karena Sasuke jatuh cinta pada adik sepupunya yang kebetulan sudah punya tunangan. Tapi Sasuke tidak menyesali apapun. Baginya, jatuh cinta pada Hinata bukan sebuah kesalahan.
-#-
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC
.
.
Just My Luck
.: Accidentally Planned :.
.
.
.
Sasuke menyadari bahwa ini sudah lewat tiga puluh menit dari jam pulang sekolah, itulah mengapa koridor jauh lebih lengang, dan dia bisa berjalan dengan tenang menuju gerbang depan. Tapi ketenangan menyisakan perasaan kosong untuknya.
Dia berjalan melewati anak-anak kelas satu yang sibuk mengoceh soal liburan musim panas, dengan sopan mengangguk ke arah Iruka-sensei, tapi selain itu, dia mengabaikan semuanya. Kalimat Neji tertanam kuat dalam otaknya, lebih kuat daripada yang dia inginkan.
Sasuke sampai di pintu ruangan kelasnya, dan dia bisa melihatnya di sana.
Hinata.
Jantungnya yang berdegup kencang membuat otaknya sulit berpikir. Pikirannya kacau, rasanya saraf-sarafnya pun mati rasa ketika dia memikirkan lagi apa yang baru saja dikatakan Neji. Dia memandang sosok gadis yang berdiri sendirian di tengah ruangan, memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Sasuke tak tahu apa yang sedang dilakukan Hinata saat murid-murid yang lain sudah meninggalkan sekolah. Yang terpikirkan olehnya hanyalah menyusulnya ke dalam kelas, mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Sasuke-kun?" Hinata telah menyadari kehadirannya. "Belum pulang?"
Sasuke tak bisa berpikir, alam bawah sadarnya yang memerintahkan kedua kakinya untuk melangkah, mendekati gadis yang dia tahu tidak bisa dia miliki.
"Hinata." Dia meninggalkan panggilan formal yang biasanya dia pakai ketika dia berhadapan dengan Hinata.
Hinata mendongak, balik menatapnya dengan pandangan tak mengerti. Sasuke ingin berbicara, tapi terlalu banyak kalimat yang ingin dia utarakan dan dia tidak tahu bagaimana caranya.
"Sasuke-kun?"
Detik berikutnya, yang dia tahu, Hinata telah berada dalam rengkuhannya. Tangannya menekan kepala Hinata, tidak memberi gadis itu pilihan kecuali menghirup wangi cologne-nya. Kepalanya tenggelam dalam leher Hinata, Sasuke bisa mencium wangi aroma yang ditebarkan rambut panjangnya.
"S-sasuke-kun?" Keheningan dipecahkan oleh suara Hinata yang diredam oleh dada Sasuke.
"Gomen." Dari semua kata, cuma satu itu yang bisa diucapkan Sasuke. Sasuke tidak berharap agar Hinata mengerti, dia hanya ingin Hinata mendengarkan.
Hinata tak bergeming, diam dalam rengkuhan Sasuke. Selain suara Sasuke, yang bisa dia dengarkan hanyalah irama detak jantung Sasuke yang teratur, desah nafas Sasuke di lehernya, dan kesunyian yang menenangkan.
"Sasuke-kun." Hinata menenggelamkan kepalanya lebih dalam ke pelukan Sasuke. "Daisuki."
Sasuke memejamkan mata, mengeratkan pelukannya tanpa ada niat untuk melepaskan Hinata.
"Y-yang aku suka Sasuke-kun," Hinata berbisik pelan, kedua tangannya meremas kemeja Sasuke. "A-aku... tidak bisa dengan Naruto-kun."
Sasuke membuka matanya. Pemahaman perlahan terbentuk di kepalanya.
That bastard.
-#-
"Dobe."
"Hai, Teme!" Suara cempreng nan ndeso Naruto terdengar dari speaker. Emang perlu ya ngomong keras-keras? Telinga manusia Sasuke nggak kuat menerima gelombang ultrasonik. "What's up ma man?"
"Ada waktu?"
"Hm... bentar, gue lihat jadwal gue dulu..."
"Gue tunggu di Ichiraku, sekarang."
Naruto berdecak kesal. "Gue belum bilang setuju kali." By the way, suara keresek-keresek yang bikin gatel telinga ini apaan ya, sinyal buruk, apa kualitas ponsel Naruto yang nggak imbang sama perkembangan zaman?
"Buruan, kalau nggak cepet nggak jadi gue traktir."
"..."
"Woi."
Suara Naruto terdengar sayup-sayup, tapi Sasuke masih bisa mendengarnya. "Bentar, Teme, hape gue nyemplung!"
Nyemplung ke mana? Sasuke bahkan nggak mau membayangkan.
Sasuke duduk manis di kedai Ichiraku, menunggu dengan sabar sambil memperhatikan sekelilingnya. Hari Minggu yang cerah memang cocok buat nongkrong sama temen atau kalau punya, gebetan. Sasuke sih aslinya punya alternatif lain selain kedai Ichiraku Ramen yang kayaknya udah terlalu mainstream buat anak Konoha Gakuen yang kesepian dan nggak ada kerjaan di rumah, tapi Naruto cuma mau disogok pakai ramen, lidahnya nggak cocok sama makanan yang rada elit.
Sebenarnya ada apa gerangan? Kenapa tiba-tiba Sasuke sudi memuaskan nafsu Naruto? (Nafsu makan, harap kendalikan hasrat fujoshi Anda.) Well, Sasuke itu bukan orang yang punya sifat asli baik, apalagi dermawan. Jelas ada motif lain di balik sikapnya ini.
Lima belas menit yang terasa lambat berlalu, Sasuke menyipitkankan mata ketika melihat siluet si rambut pirang jabrik yang kena backlight sinar mentari siang yang menyengat. Naruto melambai-lambai norak, yang diacuhkan Sasuke dengan kejamnya.
"Ojichan~ ramen dua ya!"
"Gue lagi nggak pengen makan, Dobe."
"Emang siapa yang mesenin buat elo?"
Naruto memang kadang kurang ajar, Sasuke bertanya-tanya kenapa dirinya bisa betah sama makhluk kayak begini.
"Ne, ada apa gerangan, Sasuke-chan?" Naruto mengibas-ngibaskan kerah kaos oblongnya, berusaha mencari sedikit kesejukan di tengah udara musim panas yang hot-nya ngalahin Maria Ozawa.
Sasuke menatap kedua mata Naruto tanpa berkedip, tanpa bicara.
"Apaan sih?" Naruto mulai risih dengan tatapan Sasuke yang intens. Jangan bilang Sasuke sedang berusaha bersikap romantis padanya?
"Hn." Sasuke menghela nafas. "Kaya'nya gue suka Hinata deh."
"EH?"
"Gue pengen nembak dia, menurut lo gimana?"
Naruto speechless bentar. Sasuke dapet hidayah darimana coba? Setelah sekian lama terisolasi dari dunia remaja yang penuh dengan gejolak asmara, Sasuke akhirnya mengenal yang namanya cinta. Sasuke mungkin udah mengalami pubertas sejak lama, tapi kayaknya hormonnya baru bekerja sekarang.
Naruto juga hampir nggak percaya kalau rencana bodohnya berhasil. Hm, cinta memang sulit ditebak ya?
"Ne, Sasuke-chan, gue dukung lo sepenuhnya. Gue yakin jawaban Hinata positif kok. Ganbarimasu yak." Naruto menepuk pundak Sasuke pelan, layaknya seorang bro yang baik, dia memberi support kepada kawannya yang sedang galau dimabuk cinta.
Paman Teuchi menghidangkan dua mangkok jumbo di depan mereka. Berteriak girang sambil tepuk tangan layaknya anak kecil yang sedang nonton Dora the Explorer, Naruto menerimanya dengan hati berbunga.
"Tapi gue bingung."
Naruto menyeruput kuah bercitarasa surgawi. "Hm?"
"Jadi ceritanya, Hinata udah punya tunangan."
Naruto hampir aja tersedak kuah mendidih.
"Yang bener?"
"Iya," jawab Sasuke kalem. "Gue jadi bingung nih."
Naruto menaruh sumpitnya, memandangi mangkok dengan muka merah merona. Mungkin karena uap panas yang menguar dari mangkoknya?
"Lo... tahu siapa tunangannya itu?"
Sasuke diam sebentar. "Menurut lo siapa?"
Naruto menelan ludah, belum siap kalau harus digebukin sekarang. Dia emang ikut kelas bela diri, tapi dia masih nggak bisa menerapkannya di dunia nyata. Terutama kalau sama Sasuke yang sepuluh kali lebih atletis daripada dia.
"Lo marah sama gue?" Dia memandang Sasuke takut-takut.
Sasuke menatapnya tajam. "Murka, tepatnya."
Naruto menghela nafas panjang. "Gue minta maaf. Sejak awal memang ini rencana gue."
Sasuke tidak menjawab, dia terlalu sibuk menahan keinginan untuk menyiramkan kuah ramen yang masih anget-angetnya itu ke kepala Naruto.
"Jadi ceritanya, bokap gue sama bokapnya Hinata itu temen waktu SMA." Naruto nggak berani menatap mata Sasuke ketika bicara. "Dan untuk alasan yang sama sekali nggak masuk akal, mereka ngejodohin gue sama Hinata. Lo tahu lah, mempererat hubungan apalah. Omong kosong kayak gitu."
"Gue jelas nggak terima. Gue udah terlanjur suka sama seorang cewek, kita deket udah lumayan lama. Gue rencananya mau nembak dia ketika bokap gue tiba-tiba ngadain acara makan malam sama keluarga Hyuuga. Mereka ngomongin tentang janji mereka di masa muda apalah, gue nggak ngerti. Yang intinya gue sama Hinata bakal dijodohin."
Sasuke tahu kalau Naruto udah naksir Sakura sejak lama, tapi dia sama sekali nggak tahu kalau perasaannya terhadap Sakura serius. Dia diam saja, menyimak dengan penuh perhatian.
Naruto menghela nafas berat. "Ya emang sih kita nggak bakal langsung nikah, gila aja, kita masih SMA. Tapi tetep aja gue nggak bisa sama Hinata." Dia menghadap mangkoknya, mengaduk-ngaduk ramennya tanpa niat untuk menyantapnya. "Ya udah gue tanyain deh dia, dia setuju nggak sama perjodohan tolol ini, dia bilang nggak. Tapi Hinata itu anaknya nurut, nggak mungkin bisa nolak. Terus gue tanyain deh dia punya pacar apa gebetan gitu. Dia bilang nggak, tapi dia lagi suka sama seseorang."
Jantungnya seperti ingin loncat dari tulang rusuknya ketika Sasuke mendengar ini.
"Gue pikir masih ada cewek waras di dunia ini yang nggak kepincut sama Sasuke Uchiha, tapi nggak! Hinata suka sama lo. Gue sebel sih, kenapa cewek sebaik dia suka sama orang kayak lo." Sasuke berusaha untuk mengacuhkan kalimat ini. "Tapi gue lega banget. Ya udah, gue susun rencana. Lagian lo juga jomblo kan, saking jomblonya sampai digosipin homo, gue pikir nggak ada salahnya."
"Nggak ada salahnya?" Sasuke tertawa masam. "Salahnya adalah, lo nyeret-nyeret gue ke masalah lo."
"Gue minta maaf!" Naruto menusuk udonnya, meremas sumpitnya kuat. "Gue pikir, kalau kita berdua menolak dan terbukti udah punya orang lain, mereka bakal menyerah. Tapi gue udah terlanjur suka sama cewek ini, dan gue nggak bakal ngebiarin perjodohan bodoh ini menghalangi gue buat ngedapetin dia."
Naruto itu tolol, itu kesimpulan yang didapatkan Sasuke setelah mengenalnya setelah bertahun-tahun. Tolol, oon, bego, nggak berguna, nggak peka, ngerepotin orang, norak. Dia kadang khawatir kawannya ini nggak bakal pernah dapet jodoh karena dia nggak punya nilai plus yang bisa diandelkan dalam dirinya. Tapi sekarang, Sasuke melihat nilai itu.
Sasuke terkekeh. "Gue juga nggak rela nyerahin Hinata ke elo yang oon."
Naruto hampir saja melengkungkan senyum.
"Akhirnya lo jatuh cinta juga sama cewek. Meskipun direncanain sih."
Sasuke mendengus. "Gue sama sekali nggak ngerencanain. Jatuh cinta sama Hinata itu kecelakaan." Sasuke tertawa pelan. "Tapi gue nggak nyesel."
Naruto mengawasi Sasuke sejenak. "Tenang aja, Teme." Dia menepuk pundak Sasuke pelan. "Tugas lo selesai di sini, gue bakal urus sisanya."
Seberapa pun akrabnya mereka, Sasuke nggak pernah bisa mempercayakan urusan-urusan penting ke Naruto yang ceroboh dan kekanakan. Ngurus diri urusan sendiri aja seringnya nggak bener, gimana dia bisa diandalkan. Setiap hari ada aja yang ketinggalan dibawa ke sekolah, PR pasti lupa dikerjain, ngerjain piket nggak pernah bener, nggak teliti dalam mengeja, nggak pernah rapi kalau nyisir rambut.
Tapi satu kali ini aja, boleh deh dia percaya ke Naruto.
-tbc-
I know, I know, terlalu pendek, harap dimaklumi. Chapter depan bakal agak panjang kok, sekitar 3k words, soalnya chapter depan itu finale! Hiahaha, udah mau tamat aja, padahal baru ngapain ini. Jiah.
Anyway, bagi Hinata lopers saya mohon maap ya, Hinata saya bikin suka sama Sasuke bukannya Naruto. Soalnya demi kepentingan plot, kan pairing-nya SasuHina gitu, jadi yaaaa. *dikeroyok massa*
Ingin memberi kritik atau saran? Kesan dan pesan? Atau sekedar menuntut sang author untuk cepet ngapdet? Silakan klik tombol di bawah. Yang tulisannya "Review" itu loooo. Hehehe.
