Tatapan Berbeda
Update kilat lagi yeah! Cuma karena saya lagi libur dan belum ingin mulai kerja bakti besar-besaran di apartemen saya. *Sweatdrop* oke oke saya akan kerja bakti setelah ini. Dan salahkan "Broken Inside" by Broken Iris dan "Snuff" by Slipknot yang membuat imajinasi saya kebanjiran ide untuk semua fanfic karya saya. Terutama CIHE dan Jar of Memories.
Disclaimer: Naruto adalah milik Kishi-sensei.
"Everyone is a moon, and has a dark side which he never shows to anybody."
― Mark Twain
Sakura tidur sampai sore setelah dengan lelah kembali ke rumah sakit di subuh. Seekor burung kecil hinggap di kepalanya dan mematuk dahinya yang besar. Kunoichi itu mendesah kesal, berpikir itu adalah Itachi yang lagi jahil kepadanya.
"Itachi... uhh... biarkan aku tidur lima menit lagi..."
Burung itu membuat suara kicauan kecil dan Sakura langsung terbangun. Ia membalikkan badannya dan melihat burung itu sekarang hinggap di dekat jendela. Sakura memandang makhluk kecil itu tersenyum. Hari ini ia merasa baikkan setelah apa yang terjadi. Sudah berapa lama sejak kejadian itu? Dua minggu, hitung Sakura.
Burung itu kembali berkicau dan Sakura kembali tersenyum. Ia berterima kasih kepada Kami-sama untuk kembali merasa baik sedikit. Kenangan-kenangan buruk itu masih menghantui kepalanya, tetapi kali ini Sakura berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlalu larut di dalamnya. Ia sungguh membutuhkan kedamaian kecil ini atau ia akan kehilangan akal sehatnya. Ia berkata pada dirinya bahwa Itachi juga terus berusaha untuk bertahan hidup demi Sasuke setelah ia membantai klannya.
"Itachi..." bisik Sakura.
Ia bertanya-tanya apakah Itachi sekarang hidup di Konoha akibat perubahan masa lalu. Setiap kali Sasuke atau Naruto mengujunginya, pertanyaan tentang Itachi selalu ada di ujung lidahnya, namun ia tidak mampu bertanya. Takut mendengar jawaban yang akan menghancurkan hati dan akal sehatnya jika mendengar Itachi ternyata masih tetap menjadi anggota Akatsuki, mati, atau tidak tinggal di Konoha. Alasan utama selain menyelamatkan hidup Naruto dan Sasuke untuk membantai klan Uchiha adalah untuk memikul beban hidup Itachi, sehingga pria yang ia cintai bisa tetap hidup tenang di desa yang ia cintai, di samping adiknya yang paling ia cintai.
Sakura tertawa kecil. Waktu dulu Itachi berkata kepadanya ia mencintai Sasuke melebihi segalanya, Sakura merasa cemburu kepada Sasuke. Sebuah hal yang dulu dianggap mustahil baginya. Sungguh lucunya nasib kadang-kadang.
Sakura mengambil kalung lambang Uchiha yang ia kenakan di bawah bajunya, jimatnya yang paling berharga. Ia teringat tangan Itachi yang dingin saat ia kenakan kalung itu di lehernya Sakura sebelum ia bergegas untuk bertemu Sasuke dan bertarung dengannya...
Setitik air mata mengalir saat Sakura mencium kalung itu. Burung kecilnya sekarang terbang keluar jendela, mengepakkan sayapnya, menembus cahaya mentari sore. Sakura kembali menyembunyikan kalung itu di bawah bajunya.
Ia tidak bisa melarikan diri dari kenyataan lagi, besok ia harus tahu apakah Itachi masih berada di Konoha atau tidak. Ia merasakan cakra burung Fenikkusu di dalam dirinya mengalir dengan lembut, seolah-olah ingin memberi dorongan semangat. Sakura tersenyum, membelai perutnya dengan lembut.
"Arigatou Fu-chan..."
-X-X-X-X-X-
"Kau sudah boleh keluar rumah sakit Sakura," ujar Shizune tersenyum saat membuka korden kamarnya.
"Sungguh?" Sakura merentangkan kedua lengannya, membiarkan matahari pagi menghangatkan tubuhnya.
"Ya, Tsunade berkata kondisi tubuhmu membaik dengan cepat. Hanya saja untuk amnesia-mu Tsunade ingin kamu mengunjungi terapi sekali seminggu dengannya."
"Kalau ingatanku tidak kembali juga tidak apa-apa, aku bisa membuat kenangan baru," kata Sakura tersenyum, ia tahu ia tidak pernah bisa menjelaskan kondisi sesungguhnya kepada Shizune dan gurunya.
Siapa yang akan percaya bahwa ia datang dari masa depan dan mengubah masa lalu untuk hidup di masa sekarang yang lebih damai? Kecuali kalau ia menunjukkan Fu-chan kepada mereka, namun beberapa hari yang lalu burung phoenix itu meminta Sakura untuk tidak memberitahu keberadaannya.
"Kenapa tidak Fu-chan? Bahkan tidak kepada Sasuke dan Naruto?"
'Maaf Sakura, itu tidak bisa. Keberadaan diriku seharusnya tidak ada di dunia ini. Aku adalah legenda yang setua cerita tentang Sage enam jalan. Kekuatanku sangat berbeda dengan para bijuu berekor. Mereka adalah kumpulan cakra yang sangat dashyat dari monster bernama Juubi. Cakra makhluk itu adalah cakra negatif, sedangkan cakra-ku adalah kebalikkannya, cakra positif. Cakra-ku tidak bisa menghancurkan, hanya bisa menyembuhkan, memperbaiki, memulihkan. Di samping itu aku memiliki tiga kekuatan khusus, salah satunya adalah perjalan waktu seperti yang telah kamu alami.'
"Jadi, kalau keberadaan dirimu telah diketahui oleh orang lain..."
'Kamu akan jadi incaran Sakura, orang bertopeng yang telah membantumu di masa lalu, aku mengenalnya dan aku tahu dia mencari keberadaanku sudah bertahun-tahun. Dia sangatlah berbahaya, dia tidak boleh tahu aku ada di dunia ini Sakura.'
Sakura merinding, membayangkan apa yang bisa dilakukan Tobi dengan kekuatannya. Fu-chan benar, keberadaan burung phoenix itu harus ia rahasiakan...
"Sakura?" Shizune menyentuh bahu Sakura yang terlalu melamun.
"Ah, maaf, aku tadi melamun," Sakura tertawa kecil.
Shizune tersenyum, itulah Sakura yang ia kenal, bukan Sakura yang duduk dengan mata kosong berlinang air mata seperti yang ia lihat hari-hari kemarin. Ia menaruh pakaian shinobi Sakura di atas kursi.
"Berganti pakaianlah, lalu jangan lupa untuk mengambil obatmu di apotik, setelah itu kamu pulang dan istirahatlah. Salam untuk ibumu," dengan berkata begitu, Shizune meninggalkan Sakura sendirian.
Sakura melihat pakaian yang terlipat rapi di sampingnya. Ia tahu, kalau pakaian yang ia kenakan dalam perang lalu dalam pembantaian klan Uchiha serta jubahnya, telah dibuang oleh Shizune karena rusak dan kotor oleh darah dan lumpur. Ia teringat tatapan bingung dan ingin tahu Shizune saat melihat Sakura keesokan harinya. Dari cerita Naruto Sakura tahu, mereka melihat Sakura pergi mencari tumbuhan-tumbuhan spesial untuk ramuan barunya. Ia ditemukan terjatuh di jurang oleh karena itu mereka tidak bisa mengerti kenapa pakaian Sakura terlihat seperti telah melewati begitu banyak pertarungan. Sakura tidak pernah menjelaskannya.
Kunoichi itu mengangkat bajunya. "Apa Kaa-san yang membawakan pakaian baru untukku ya?"
Tiba-tiba bajunya terjatuh dan Sakura menutup mulutnya. Pedang katana-nya Itachi! Pedang yang telah ia gunakan untuk membantai klan Uchiha tidak ada! Ia tahu ia masih menggenggam pedang itu saat kembali ke masa lalu dan mulai kehilangan kesadaran di dasar jurang. Mungkin pedangnya masih ada di sana? Ia harus menemukannya, pedang itu adalah satu-satunya petunjuk yang bisa membongkarkan dosa-dosanya.
"Besok aku harus ke jurang itu," putus Sakura.
Tapi untuk sekarang ia hanya ingin pulang dan memeluk Kaa-sannya. Ia sungguh merindukan orang tuanya sejak ia kembali ke masa lalu, terakhir kalinya ia melihatnya adalah saat mereka melambaikan tangan di gerbang Konoha, melihat putri satu-satunya berangkat menuju medan perang...
-X-X-X-X-X-
Sakura keluar rumah sakit sambil menggosokan perutnya yang kelaparan. Ia tersenyum membayangkan wajah gembiranya Naruto jika ia mengajaknya makan ramen hari ini. Entah kenapa ia ingin makan ramen, jadi kenapa tidak mengajak Naruto serta? Oh ya, ajak Sasuke juga...
Pandangan Sakura kembali terlihat sedih saat memikirkan Sasuke. Di masa ini ia adalah pacarnya, tapi perasaan Sakura sudah berubah sekali. Sekarang Sakura mencintai Itachi melebihi segalanya, baginya Sasuke hanyalah sahabat dan anggota tim-nya, ia berharga untuk Sakura seperti Naruto. Bagaimana ia menjelaskan perasaannya kepada Sasuke tanpa membuatna sakit hati?
Sakura menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin pusing sekarang. Ia akan memikirkannya nanti saja, untuk sekarang ia hanya ingin sembuh dan mengumpulkan tenaganya.
Ia teringat ibunya yang pasti lagi sedang menunggu kepulangannya di rumahnya. Sakura menuju warung manisan seorang bibi yang ia kenal, mengetahui wanita itu menjual senbei terenak di Konoha dan selalu memberi Sakura satu atau dua senbei gratis.
"Selamat pagi Bibi," sapa Sakura gembira saat memasuki warung itu.
Wanita yang sedang menyapu terhenti dan memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya, kemudian ia terlihat sangat marah.
"Mau apa kamu kesini?!"
Sakura terdiam seribu bahasa. Ia memandang wanita itu dengan tidak percaya.
"Maaf bibi, aku hanya ingin beli beberapa senbei... bukankah bibi selalu senang kalau aku mampir kesini?" tanya Sakura ragu-ragu.
"Hah?! Senang kamu bilang? Aku tidak pernah menjual senbei kepadamu, kamu mau menghancurkan nama baik tokoku? Keluar!"
"Tapi Bibi, kenapa..?" Sakura berjalan mundur, matanya berkaca-kaca.
"Keluar kamu anak pembunuh!"
Sakura melihat para penduduk di sekelilingnya berbisik dan memandang Sakura dengan tatapan aneh. Beberapa di antaranya bahkan memandang Sakura dengan pandangan kasihan.
Anak pembunuh...?
Sakura berlari bergegas rumah. Kaa-san! Apa maksud semua ini?
Sakura terus berlari menuju alamat rumahnya. Sesampainya disana langkahnya tiba-tiba terhenti. Rumahnya hanya tertinggal abu. Tempat itu tersegel, namun segelnya terlihat seperti sudah ada disana bertahun-tahun. Apa yang telah terjadi...?
"Kaa-san... Tou-san..." Sakura menitikkan air mata. Dimanakah orang tuanya?
"Sakura, apa yang kamu lakukan disini?"
Sakura berbalik dan melihat Ibiki berdiri tidak jauh dari tempatnya, menenteng beberapa tas belanjaan. Sakura bergegas ke arahnya dengan panik.
"Rumahku! Rumahku terbakar! Tuan Morino bagaimana ini? Apa Anda tahu dimana ibuku?!" Sakura tidak mampu menenangkan dirinya, hal ini lebih membuatnya kacau dibanding kejadian di warung tadi.
Ibiki memandang Sakura seolah-olah melihat hantu berkepala dua. Ia berguman, "jadi benar kamu telah kehilangan ingatan..."
Sakura terdiam, tidak tahu harus bilang apa. Ia sungguh tidak tahu bahwa perbuatannya akan punya dampak yang begitu besar terhadap hal-hal yang tidak pernah ia pikir sebelumnya.
"Dimana Kaa-san... Dimana Tou-san?"
Ibiki tersenyum dan menaruh tangan kanannya yang besar di atas bahu Sakura. Kunoichi itu mengangkat wajahnya dengan penuh harapan.
"Ibumu ada di rumah, hanya saja tidak disini, mari kuantar kamu pulang. Lalu kita harus bicara."
Sakura mengangguk. Jawaban dan penjelasan sungguh merupakan hal utama yang ia perlukan saat ini. Dengan pelan ia mengikuti Ibiki dari belakang, bertanya-tanya kenapa Ibiki membawa begitu banyak belanjaan seperti ingin memenuhi kulkas untuk sebuah keluarga lengkap. Setahunya, Ibiki adalah orang yang keras, sangat ditakuti rekan-rekannya, namun setia seratus persen terhadap Konoha dan Hokage-nya. Dan ia juga tidak punya keluarga, sampai perangnya berlangsung ia gagal mendapat wanita yang tidak takut terhadap luka-luka di dalam kepalanya.
Ibiki mengantarkan Sakura ke ujung utara desa Konoha, tempat yang sedikit terpencil di dekat gunung dengan patung kepala para Hokage. Rumah dimana mereka berhenti memiliki tembok yang paling tinggi dibanding rumah-rumah sekitar. Ibiki mengambil sebuah kunci dan membuka pintu gerbangnya. Sakura heran kenapa Ibiki punya kunci rumah dimana ibunya tinggal? Dimana ayahnya?
"Mebuki, kesinilah," panggil Ibiki saat memasuki rumah.
Sakura tidak menyukai perasaan yang sedang ia rasakan saat ini, keadaan ini mirip saat ia berdiri di atas tiang listrik di malam purnama itu. Sakura memasuki rumah yang sama sekali asing baginya, namun ia mengenali beberapa barang yang ada di rumah yang ia tempati dulu bersama orang tuanya. Ia melihat lukisan yang pernah ia gambar saat berumur tiga tahun tergantung di dekat tangga, melihat beberapa sepatu boots miliknya tertata rapi di samping beberapa sandal milik ibunya.
"Kaa-san? Kaa-san!" panggil Sakura.
Mebuki keluar dapur, memakai celemek yang Sakura tidak pernah lihat sebelumnya. Wanita itu tersenyum cerah saat melihat putrinya. Sakura berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat.
"Kaa-san! Aku rindu sekali!"
Mebuki tersenyum sambil mengelus kepala Sakura. "Ara Sakura, kamu jangan menangis seperti anak berumur lima tahun, kita hanya tidak bertemu untuk dua minggu, mengingat kamu tidur setiap kali aku mengunjungimu. Tapi aku sudah mendengar beritanya dari Tsunade-sama... Kita harus bicara jika kamu benar-benar mengalami amnesia..."
Sakura menghapus air mata dengan lengannya, memandang ibunya yang terlihat sedih sekali. Ia dan Sakura duduk di ruang makan sementara Ibiki menaruh belanjaannya di dapur, lalu bergabung dengan mereka.
"Sakura, kudengar dari Tsunade-sama kamu telah mengalami amnesia dan punya ingatan yang berbeda dengan kehidupan yang sebelumnya..." ujar Mebuki sedih.
Sakura mengangguk. Kepada ibunya pun ia tidak bisa menjelaskan keadaanya yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin?
"Hai Kaa-san... sebenarnya aku datang dari masa depan dimana aku ikut perang ninja ke-4, aku kembali ke masa lalu untuk menyelamatkan nyawa dua sahabatku dan kekasihku yang merupakan anggota Akatsuki, aku juga akan berusaha sekuat tenaga agar perang itu tidak terjadi. Oh ya dan aku juga yang telah membantai klan Uchiha. Dan terakhir, aku adalah jinchuuriki burung phoenix yang keberadaannya merupakan legenda. Itulah kenyataanya Kaa-san."
"Dimana kita Kaa-san?" tanya Sakura pertama.
"Kita di rumah yang aman, jauh dari kebanyakan penduduk desa. Mungkin kamu sadar dalam perjalananmu kesini bahwa para penduduk desa... tidak begitu suka kepadamu."
Sakura hanya mampu menundukkan wajahnya. Hal ini sungguh di luar perkiraannya. Kenapa mereka membencinya?
"Kenapa tuan Morino ada disini?" tanya Sakura kemudian.
Ia memandang ibunya yang sepertinya tidak mampu menjawabnya. Kemudian ia melihat cincin yang melingkar di jari ibunya. Cincin yang berbeda dari kehidupannya dulu, cincin yang sama dengan yang dipakai Ibiki.
"Tuan Morino adalah suamiku Sakura, dua belas tahun yang lalu kami menikah-"
"Mana Tou-san!?" Sakura langsung bangkit, membuat kursinya terjatuh dengan suara keras.
Mebuki memandang Sakura dengan tatapan menderita, "ayahmu sudah mati Sakura, dua belas tahun ia dieksekusi sebagai orang yang membantai klan Uchiha. Ayahmu sendiri yang mengakuinya..."
Sakura merasa seluruh tubuhnya tersiram air es. Tubuhnya gemetaran. Dunia terasa jungkir balik, dan ia mendengar teriakan ibunya sebelum ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Chapter selanjutnya akan kembali mengalmbil latar belakang masa lalu, gomen kalau untuk sementara Sakura belum bisa ketemu Itachi, saya janji akan update secepatnya.
Oh ya bagi yang tertarik, saya akan post beberapa gambar Naruto Shippuuden yang saya temukan sesuai dengan fanfic di akun facebook saya. Bagi yang berminat silahkan cek.
Tontonlah "Path of darkness" by Darkitty669 dan "Never Let Me Know" by Alexiswater23 di youtube. Dua AMV paling top tentang Itachi dan Sasuke! :D Saya tidak bosan menontonnya sampai sekarang!
Review untuk author yang menunda kerja bakti untuk mengupdate kilat? *Mata binar-binar*
Oke saya kerja bakti dulu, sampai nanti!
