Pair : KrisHan

Cast : Kris aka Wu Yifan
Luhan as Jung Luhan
Park Chanyeol
Lee Taemin
Kim Jongin
Choi Minho
Taeyong as Jung Taeyong
Oh Sehun
Jung Yunho
Kim Jaejoong as Jung Jaejoong

dan cast lain yang timbul-tenggelam di setiap chapter

Genre : Family, Drama, Romantic, Gender Switch

Rate : T

Note : Cerita dan alur adalah asli milik saya. Tidak dan jangan mengcopy tanpa mengkonfirmasi saya terlebih dahulu

Soal cast yang sengaja saya rubah menjadi GS, saya memiliki alasan tersendiri mengenai hal itu. Pertama, saya adalah shipper beberapa couple di sini. Saya gak tega dan gak rela kalo harus memasangkan dengan cast lain. Hehe. Ke dua. Saya benar-benar gak tahan untuk mengakui kecantikan cast GS di sini. -_-" Jadi segera tinggalkan atau lewati halaman ini jika pembaca tak berminat dengan genre yang saya sematkan di sini.

.

Saya sudah memperingatkan, jadi jangan nge-bash fiksi ini.

.

Selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar ^ ^

.

.

.

[[ Prev Story ]]

"Kami takkan lama." Kini ganti Ziyu yang menarik lengan Taemin masuk ke dalam ruangan. Meninggalkan Luhan yang tetap berdiri di depan pintu lapangan indoor. Merapatkan mantel yang membungkus tubuh mungilnya, kemudian berusaha menggosok-goskkan tangannya agar terasa hangat.

"Chuwoyo" Gumam Luhan dengan kepulan udara yang samar keluar dari mulutnya. Memejamkan matanya yang sedikit perih.

Luhan baru saja membuka matanya perlahan dan melihat sepasang kaki yang berdiri tepat didepannya saat menyadari lehernya mulai menghangat. Sebuah syal berwarna merah telah melingkar nyaman di lehernya. Luhan mendongak dan bibir tipisnya membentuk lengkungan yang samar namun kian melebar.

"Apa ini cukup hangat?"

Luhan mengangguk pelan, matanya terkunci pada sosok dengan jaket yang membalut tubuh jangkungnya, dan celana olah raga yang menutupi kaki panjangnya. Bahkan rambut pirang mencolok itu masih basah karena keringat. Dan Kris benar-benar terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.

Tampan?

Jadi Luhan sudah mengakui ketampanan Kris?

"Gomawo" Gumamnya dengan pipi yang juga mulai menghangat saat sebelumnya dia tersentak karena terjebak dalam lamunannya sendiri. Memaksanya menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah muda di pipinya. Merasakan syal yang begitu lembut dan hangat menyentuh setiap jengkal kulit leher dan pipinya.

Hati Luhan berdesir saat ia merasa bahwa Kris tengah memandanginya lekat. Bahkan Luhan bisa melihat dari sela bulu matanya bahwa tubuh jangkung Kris sedikit menunduk untuk dapat menghujaninya tatapan yang membakar wajahnya.

"Hatchiuw"

Oppss, Luhan tak bisa menahannya kali ini. Kedua tangannya mengatup di depan mulutnya. Dan jantung Luhan serasa ingin melompat saat tangan besar Kris terulur meraih pergelangan tangan kanannya.

Luhan kembali mendongak ragu karena yakin pipinya kini telah benar-benar berubah warna semerah tomat. Meski belum bisa mengerti perubahan ekspresi wajah Kris yang kini terlihat lebih serius dengan manik mata yang fokus pada pergelangan tangan kanan Luhan. Lebih tepatnya gelang yang di pakai Luhan

"Ada apa?" Sebelah alis Luhan terangkat karena merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Kris yang mendadak. Kris menenggelamkan manik kelamnya pada kedua mata rusa milik Luhan. Seolah berusaha ingin mengatakan sesuatu.

"Krissie oppa!"

Kris melepaskan tangannya dari Luhan dan sempat menoleh ke asal suara tepat sebelum tubuh mungil Ziyu menghambur memeluk Kris. Entah mengapa pemandangan itu membuat Luhan merasakan sesuatu yang aneh dan perih di bagian tubuhnya. Seperti teriris pisau tajam atau semacamnya, entahlah Luhan tak terlalu yakin itu. Yang jelas hatinya terasa sakit.

"Krissie oppa, ini benar kau? Ah tak salah lagi ini kau. Pantas saja aku seperti mengenalimu saat kau sedang bertanding tadi. Whoaaaa, apa yang kau makan sehingga tubuhmu menjulang seperti ini? Kau lebih mirip tiang listrik. Ah, bercanda. Haha. Sekian lama tak bertemu kau semakin tampan saja..." Celoteh Ziyu yang pasti tak akan berujung jika di biarkan begitu saja. Bahkan Chanyeol yang baru saja berdiri di samping mereka dan membuka mulutnya lebar sama sekali tak terlihat di mata Ziyu.

Dan Kris yang sedari tadi tak menunjukkan ekspresi yang berarti hanya bisa melihat satu persatu kedua gadis yang serupa tapi tak sama itu bergantian. Mungkin terlalu terkejut.

Tentu saja. Ada perasaan tak yakin mulai tumbuh di benaknya. Mana gadis yang selama ini dia cari. Keduanya benar-benar mirip dengan Flow-nya.

.

.

'Oh, I can see now

That all of these clouds are following me

In my desperate endeavor

To find my whoever, wherever she may be'

.

.

Kris berdiri menikmati angin di balkon kamarnya saat petang menjelang. Tempat favorit yang akan lama dia kunjungi saat memiliki banyak keraguan atau sekedar bersantai. Tapi kali ini begitu banyak pertanyaan di kepala Kris yang entah bagaimana dia bisa menemukan jawaban dari semua pertanyaan tersebut. Satu hal yang paling mengganggunya. Kebenaran saat mengetahui jika Luhan-lah sosok 'Flow' yang dia cari, justru kini ada sosok 'Flow' lain yang muncul dan mengenalinya. Ziyu.

Ya, gadis itu memiliki sinar mata yang hangat, senyum ceria dan pembawaan yang menyenangkan. Sangat jauh berbeda dengan Luhan yang mempunyai tatapan teduh, pendiam dan sedikit sulit di tebak. Inikah jawaban untuk Kris tentang pertanyaan mengapa sikap Luhan selalu aneh padanya? Mereka memang tak saling mengenal satu sama lain?

Tapi mengapa Kris masih belum bisa meyakininya?

Dan lagi, gelang yang melingkar di pergelangan tangan kanan Luhan. Kris mengenalnya. Karena gelang karya designer ternama itu hanya ada satu dan satu-satunya di dunia. Kris hampir mendapatkannya kalau saja dia datang kembali ke galery itu lebih cepat.

Tok tok tok!

"Ada tamu untuk anda, Tuan" Itu suara Ahn ahjuma, asisten rumah tangga yang mengurusi apartemen milik Kris

.

Kris bisa menebak siapa tamu yang mengunjungi nya, dengan malas Kris turun ke ruangan tengah hanya untuk memastikannya.

Benar saja, pria bersurai hitam legam itu sedang duduk manis di sofa dengan remot tv yang di genggamnya. Sedang mencoba menyamankan posisi duduknya saat mencari channel yang menarik untuknya.

"Bukankah seharusnya seorang tamu duduk tenang di ruang tamu?" Kris berdiri pongah di belakang sofa. Membuat si pria yang sedang duduk itu mendongak kearahnya. Pria itu yang ternyata adalah Sehun tersenyum lembut kearahnya.

"Maafkan aku, hyung. Biasanya kau akan lama turun. Aku hanya mencoba menghilangkan kebosanan" Jawab Sehun jujur

"Kau tak perlu kemari jika merasa bosan" Ujar Kris dingin

"Bukan begitu maksudku.." Sehun menghela nafas sejenak

"Eomma menyuruhku untuk mengantarkan daebboki kesukaanmu. Beberapa hari yang lalu eomma memang berencana membuatkannya untukmu. Dan sesampainya kami dari Paris.."

"Kau dari Paris?" Kris mengangkat sebelah alisnya

"Bukankah aku sudah mengatakannya padamu, hyung? Bahkan kita sempat bertemu di beberapa tempat"

"Jadi dugaanku benar?" Kris mendengus di sela tawanya

"Apa maksudmu, hyung?" Sehun mengernyitkan kedua alisnya.

Drrrrrttt drrrrt!

Kris berpaling begitu saja saat mendengar ponselnya bergetar. Tangannya bergerak meraih benda pipih persegi berwarna putih yang tersimpan di saku celananya.

Panggilan diterima dari 'Manager Park' orang kepercayaan mendiang kedua orang tua Kris.

Tak perlu menunggu lama Kris langsung mengusap panel answer, dan memposisikan ponsel pintarnya sejajar dengan telinganya.

"Ada apa?" Ucap Kris setelah panggilan tersambung. Kris diam sejenak mendengarkan suara dari seberang. Mata tajamnya melirik Sehun yang diam dan menatap kosong.

"Jika tak ada lagi yang ingin kau katakan, kau boleh pulang" Ujar Kris dingin saat menatap Sehun sejenak. Kemudian melangkah menjauh dan naik kelantai dua. Meninggalkan Sehun yang masih mematung di posisinya walau sedetik kemudian dia ikut meninggalkan ruangan.

.

.

.

Kediaman keluarga Jung tak lagi sunyi seperti sebelumnya. Putra sulung sudah kembali, dan tunggal kembarnya juga sudah di boyong pulang. Si bungsu tak lagi terlihat murung dan kesepian, meski terkadang sifat pendiamnya yang akut masih sering mendadak kambuh. Itu tak kan bertahan lama jika hanya seorang yang tak bersuara, maka yang lain akan membuat keramaian yang mau tak mau membuat seisi rumah mendadak ricuh. Rumit memang, tapi menyenangkan.

Bentley mewah berwarna silver berhenti di halaman, Woo Bin segera keluar dan Chanwook juga terlihat berjalan cepat dari arah ruangan kecil dekat pintu gerbang. Keduanya bergerak membukakan pintu mobil penumpang dikedua sisinya. Seorang pria paruh baya namun masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda keluar dengan gaya elegant. Disusul seorang wanita yang juga terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda melangkah anggun keluar dari sisi pintu lain. Kemudian sepasang suami istri berjalan beriringan dengan seyum yang tak bisa lepas dari wajah mereka

"Selamat datang Tuan, Nyonya" Sapa Kyungsoo setelah membukakan pintu untuk kedua majikannya. Yunho dan Jaejoong.

"Dimana anak-anak?" Tanya Jaejoong kalem

"Ada di dalam, Nyonya. Nona Ziyu sedang mem.." Ucapan kyungsoo terpotong karena Nyonya-nya memberi isyarat

"Temuilah Woo Bin, mintalah kotak besar berwarna coklat padanya. Dan bagikan untuk semua maid" Jaejoong tersenyum hangat kemudian melangkah ke dalam ruangan setelah Kyungsoo membungkuk hormat dan berterima kasih padanya. Yunho yang melangkah di belakang Jaejoong hanya tersenyum saat mendapati sang istri begitu antusias memberi kejutan pada anak-anaknya.

"Mommy" Taeyong bergegas menyambut Jaejoong dan memeluknya erat.

"Putraku, aku benar-benar lega telah melihatmu kembali pulang ke rumah, Mommy benar-benar merindukanmu" Jaejoong bergegas mememeluk putra sulungnya.

"Aku juga benar-benar merindukan Mommy" Gumam Taeyong yang dengan erat memeluk sang Mommy. Walau sedetik kemudian sang Mommy minta di lepaskan dan mereka saling bertatap.

"Jinja.. bahkan kau tak pernah pulang untuk menemui Mommy mu ini" Jaejoong menyipitkan matanya. Pura-pura merajuk.

"Aku sedang bekerja keras untuk segera mendapatkan gelar ku lebih cepat Mommy" Taeyong memanyunkan bibirnya. Dan hanya di balas cibiran oleh sang Mommy.

"Mommy, Mommy, Mommy"

Itu suara Ziyu yang berlari dari bilik dapur. Terbukti dari sikapnya yang lebih aktif, dan surai kuncir kuda yang menjadi ciri khasnya. Terlebih lagi, Luhan tak pernah menyambutnya seheboh itu. Walau bagaimanapun Ziyu memang gadis yang bersemangat bukan.

"Nde.." Jaejoong tersenyum hangat menyambut pelukan putrinya. Namun perlahan senyum itu memudar. Bukan, bukan karena Ziyu yang memeluknya. Namun karena mata Jaejoong yang melihat putri bungsunya tak membalas tatapannya dan justru beranjak menuju kamarnya.

"Mommy. Aku benar-benar sangat sangat sangat merindukanmu" Celoteh Ziyu. Namun kiranya Jaejoong tak memperhatikan.

"Mommy?" Ulang Ziyu. Dia melepaskan pelukannya. Menilik Mommy nya yang sedang tak fokus padanya.

"Momm.." Lirih Ziyu menyadari jika memang Jaejoong terkejut karena sedang tak fokus padanya.

"Zi.. Zizie, putri Mommy" Jaejoong tersenyum, membenahi surai Ziyu yang menutupi dahinya.

"Mommy mencemaskan sesuatu?" Cemas Ziyu, satu-satunya orang yang tak menyadari apa yang terjadi di kediaman barunya.

"Ani.." Jaejoong menggeleng, kemudian meraih pergelangan tangan Ziyu dan membawanya ke sofa super empuk yang bertengger di ruangan tengah. Bergabung dengan kakak dan Daddynya yang ikut menyembunyikan kecemasan.

"Mommy punya sesuatu untukmu. Kau pasti suka"

"Benarkah? Apa itu?" Ziyu membelalakkan matanya penasaran saat Yunho mengambil sebuah papper bag, dan memberikan salah satu isinya pada Jaejoong. Senyum hangat belum lepas dari bibir Jaejoong, membuat Ziyu semakin penasaran

"Mommy, Mommy, cepatlah. Mommy membuatku semakin penasaran" Protes Ziyu.

Jaejoong dan yang lain semakin terkekeh karena Ziyu yang tak sabaran. Dengan hati-hati wanita cantik itu membuka kotak berwarna biru bludru. Hingga tampak jelas sesuatu yang membuat Ziyu penasaran itu terlihat. Sebuah kalung menawan dengan inisial namanya. Z.

"Woooaaaaahhh" Ziyu tercengang saat Jaejoong memasangkannya di leher jenjang Ziyu. Kalung itu cantik dan terlihat mahal. Kilauan emas putih menjuntai dari rantai hingga bandul dengan inisial Z, dan titik-titik kristal cantik menghiasi setiap sudut huruf itu. Benar-benar cantik dan berkilauan.

"Kau menyukainya?" Jaejoong bertanya lembut. Di sudut sofa lain, Yunho dan Taeyong juga menunggu. Hingga sebuah senyuman ceria mengembang di bibir tipis Ziyu. Kilat matanya berbinar layaknya bintang.

"Ini.. ini menakjubkan Mommy. Gomawoyo" Ziyu menghambur ke pelukan Jaejoong dengan isakan kecilnya. Jaejoong mengusap punggung putrinya dengan sayang. Tak memperdulikan setetes liquid bening juga jatuh dari pelupuk matanya. Sekian lama wanita cantik itu menahan perasaannya untuk sekedar menampakkan diri di depan putrinya sendiri. Tanpa kesempatan memeluk ataupun menyentuhnya. Namun saat ini, putri yang di rindukannya sudah dalam dekapannya. Dan Jaejoong tak lagi memiliki alasan untuk sedih bukan.

"Mommy. Aku ingin bertanya sesuatu" Ziyu melepaskan pelukanya tiba-tiba. Menatap wajah cantik sang Mommy dengan polosnya. Mirip tatapan mata Luhan. Hey, bukankah mereka kembar, tidakkah itu wajar.

"Apa Luhan memang seperti itu? Sejak kedatanganku di rumah ini, sekalipun aku tak pernah melihatnya tertawa. Atau mungkin, ada hubungannya dengan kehadiranku?" Ziyu mengadu lucu. Dia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun Ziyu juga sedikit takut jika hal itu benar adanya.

Jaejoong membeku, begitu juga Yunho dan Taeyong. Mereka benar-benar tak bisa menjawab pertanyaan sepele Ziyu yang justru benar-benar menohok. Awal hubungan yang memang kurang hangat, di tambah kesalah pahaman yang kini memperkeruh keadaan.

"Rusa kecil, apa yang kau pikirkan, eoh? Apa kau salah makan hari ini? Apa Kyungsoo memasukkan bahan yang salah pada makananmu? Atau jangan-jangan kau mulai lapar lagi?" Taeyong beringsut duduk di sela-sela sofa kosong di sebelah Ziyu dan memutar kepala adiknya kekanan dan kekiri. Membuat si empunya mendengus sebal.

"Ya, gege. Jangan memutar-mutar kepalaku. Aku baru saja akan makan jika kau tadi tak mengacaukan masakanku" Ziyu menyingkirkan tangan Taeyong dari pipinya kemudian mendelik sebal ke arah gegenya. Membuat Jaejoong dan Yunho diam-diam menghela nafas lega.

"Bukannya kau yang mengacaukan dapurnya Kyungsoo dengan eksperimenmu?" goda Taeyong lagi.

"Sudah ku bilang bukan itu ma.. ya gege, ini sakit" Ziyu berlari mengejar Taeyong yang baru saja lari setelah menarik kedua pipi chubby-nya. Dua orang yang hanya duduk melihat kedua anaknya bercanda dengan riang kini juga ikut tertawa. Padahal hanya berlari memutari sofa, namun Ziyu yang mungil tak juga bisa menangkap Taeyong yang memiliki kaki panjang. Benar-benar Ziyu yang malang.

"Berhenti Yongie, adikmu sudah kelelahan mengejarmu" Jaejoong mengingatkan. Dan Ziyu menggunakan kesempatan itu untuk mengadu ke Mommynya. Dia menghambur ke pelukan Mommynya dengan bibir mencebik, membuat Jaejoong hanya menggelengkan kepala.

"Jadi kau sudah menyerah, rusa kecil?" Kekeh Taeyong yang berdiri di belakang sofa tempat Yunho duduk menyilangkan tangannya.

"Mommy.." adu Ziyu pada Jaejoong.

"Sudah biarkan saja, bagaimana kalau kita membuka oleh-oleh saja?" Jaejoong menyarankan, seketika perhatian Ziyu teralihkan.

"Ah, apa Mommy membeli banyak barang?" Ziyu mulai bersemangat kembali

"Tentu saja" ujar Jaejoong mantap yang kemudian meraih sebuah papper bag dan memeriksa isinya. Kemudian keduanya cukup di sibukkan dengan berbagai macam kotak dan papper bag yang tergeletak di sisi sofa.

Sementara Taeyong yang masih berdiri di belakang Yunho tersenyum tipis melihat kesibukan Mommy dan adiknya. Sedikit terkejut saat menyadari Yunho tengah menyodorinya sebuah papper bag yang salah satu isinya dia berikan kepada sang istri sebelumnya.

"Hanya kau yang bisa berbicara dengannya. Pastikan dia memakainya. Karena Mommy-mu sendiri yang memilihkan ini untuknya" ujar Yunho.

Taeyong menatap papper bag itu lekat sebelum menerimanya. Taeyong tau jika Daddynya telah mempercayakan si bungsu padanya, tapi dia juga tau ada perasaan kecewa dan putus asa di setiap tatapan dan nada bicara Daddynya.

Luhan sedang terdiam menatap langit sore di balkon kamarnya. Sayup angin yang berhembus telak membawa surai brunette nya menari-nari. Luhan menikmatinya. Hingga ia mendengar pintu yang di ketuk sebelum terbuka dengan sendirinya tanpa harus dia menjawab. Luhan tersenyum tipis mengetahui siapa yang tengah berjalan menghampirinya, tanpa harus menoleh untuk memastikannya.

"Sedang apa?" Tanya Taeyong yang sudah berdiri di samping Luhan.

"Tidak ada" Luhan mengendikkan bahunya, tetap memandang lurus ke depan.

"Sejak kecil, kau selalu suka bermain dengan Kyungsoo di taman itu. Apa kau ingat?" Taeyong menunjuk petak taman yang jelas terlihat dari balkon kamar adiknya itu. Membuat Luhan mengangguk samar tanpa suara.

"Gege masih ingat jika kau sudah asik bermain di sana, kau akan susah sekali di ajak masuk ke dalam. Kalau sudah begitu, Kyungsoo akan kehabisan akal untuk membujukmu. Maka dia akan mengadu padaku dan memintaku untuk ikut membujukmu agar mau masuk ke rumah. Biasanya aku akan melakukannya, namun kala itu tidak. Aku lebih memilih untuk menunggu Daddy pulang dan membiarkanmu bermain di sana hingga larut" Taeyong tersenyum mengingat masa kecilnya

"Hingga aku kelelahan bermain dan tertidur di sana" Luhan menyebik menatap Taeyong yang terkekeh geli

"Benar. Dan Daddy yang akan menggendongmu masuk ke dalam kamar"

"Gege tak pernah mengatakan itu" Luhan mengernyitkan kedua alisnya saat Taeyong menganggukan kepalanya.

"Gege sengaja membiarkanmu mengira bahwa bukan Daddy lah yang selalu memindahkanmu masuk kedalam kamar. Karena jika gege melakukannya, kau tak akan mau bermain ke taman itu lagi dan mengurung diri di dalam kamar setiap waktu. Dan itu akan menghilangkan kebahagiaan Daddy."

Luhan tak berkedip sekalipun saat Taeyong memberi jeda dalam ucapannya.

"Sejak itu Daddy akan pulang ke rumah hanya untuk memastikanmu sudah berada di kamar atau belum. Jika belum, maka Daddy akan memindahkanmu yang sudah tertidur ke dalam kamar. Setelahnya Daddy akan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya"

"Benarkah seperti itu?" Luhan masih terbata tak percaya.

"Saat gege berangkat ke luar negeri, Mommy dan Daddy menggunakan kesempatan itu untuk mengajakmu kemanapun mereka tinggal. Walaupun pada akhirnya kau memaksa untuk tinggal kembali di rumah bersama uncle dan aunty, mereka tetap bersyukur karena mendapat kesempatan untuk bisa lebih dekat denganmu" Taeyong memalingkan wajahnya pada Luhan yang kini menunduk memikirkan sesuatu.

"Kau tak akan pernah mengira betapa besar rasa sayang Mommy dan Daddy padamu, Deer. Di samping rasa penyesalan atas ketidak berdayaan mereka karena telah memisahkan putri mereka dengan keluarga kandungnya. Mommy dan Daddy tak pernah lengah memberikan semua yang terbaik untuk ketiga anaknya"

Tangan besar Taeyong meraih kotak bludru yang tersimpan di dalam papper bag dan mengeluarkan isinya. Kemudian dia berdiri tepat di belakang Luhan, memasangkan kalung yang serupa dengan milik Ziyu, namun dengan inisial L sebagai Luhan di lehernya.

"Gege tak akan memaksamu untuk melakukan hal yang diluar kemauanmu. Karena gege percaya dengan semua yang akan kau lakukan setelah ini adalah hal yang memang seharusnya kau lakukan, Deer" Taeyong tersenyum sebelum mengecup pelipis sang maknae dengan sayang. Kemudian beringsut meninggalkan Luhan yang terdiam sendirian di balkon outdoor kamarnya. Pandangannya kini terfokus pada kalung yang kini melingkar indah di leher jenjangnya. Mengusapnya pelan seolah kalung itu adalah benda yang rentan dan rapuh.

.

.

.

"Ya, hyung, tunggu sebentar. Benda ini benar-benar berat. Kau sama sekali tak berniat membantuku membawanya?" Rintih Chanyeol yang kesulitan berjalan karena menjinjing satu tas besar bola basket.

"Tak ada yang menyuruhmu membawanya" Jawab Kris datar yang masih melenggang santai dengan fokus yang tertuju di ponsel pintarnya.

"Ck. Kang Saem yang mengirim pesan padaku agar aku membawanya kemari" Chanyeol berdecak kesal

"Salahmu kenapa tak menyuruh orang lain"

Kali ini Chanyeol benar-benar mengutuk sikap menyebalkan Kris, namun juga membenarkan perkataannya. Mengapa dia harus capek-capek membawanya jika dia bisa memberi perintah para hobaenya untuk bergantian membawa tas berat itu.

"Ya! Kalian berdua. Kemarilah !" Pekik Chanyeol yang sempat melihat dua hobaenya melintas di ujung koridor. Dua hobae itu yang tak lain adalah Jongin dan Minho, langsung berlari menghampirinya.

"Apa kita harus berlatih sepagi ini? Bukankah Kangin seonsaengnim telah menjadwalkan latihan kita adalah setelah pelajaran jam terakhir selesai" Celoteh Jongin.

"Lagi pula kami ada ujian responsi pagi ini. Bisakah kami bebas untuk hari ini saja" Kali ini Minho yang memohon.

"Ya! Apa begini sikap kalian pada seorang sunbae? Bahkan kalian tak menyapaku dan langsung mengomel begitu saja. Apa kalian tak melihat seragam apa yang ku pakai" Protes Chanyeol membuat kedua hobaenya merutuki ucapannya.

"Maaf, sunbae" Keduanya membungkukkan kepala sejenak

"Ck. Ya sudah. Tolong bawakan ini ke lapangan basket indoor. Letakkan di tempat biasa kalian menyimpan bola basket." Perintah Chanyeol yang langsung menyerahkan tas besar berisi bola-bola yang baru saja di jinjingnya pada kedua hobaenya.

Chanyeol bisa melenggang santai kali ini karena sudah menyerahkan tanggung jawabnya pada dua hobbae itu. Kemudian dia menyusul Kris yang lebih dahulu melenggang meninggalkannya menuju perpustakaan.

"Hyung, tunggu aku" Chanyeol sedikit berlari seselum menyamakan langkahnya dengan Kris yang bersikap lempeng seperti biasa.

Keduanya masuk ke dalam ruang perustakaan dengan tenang dan Chanyeol yang masih mengekori Kris. Masa bodoh dengan apa yang di lakukan Chanyeol, Kris tetap fokus pada buku yang di carinya sebelum penyakit kepo Chanyeol kambuh kembali.

"Ya, hyung aku benar-benar tak bisa berkedip ketika dua siswi baru, eh maksudku Luhan dan saudaranya itu. Errr... Zi.. Ziya emm..Zi..ye ah Ziyu, ya Ziyu. Maksudku mereka benar-benar seperti duplikat. Seantero sekolah benar-benar heboh karena berita itu. Keduanya benar-benar mirip. Jika tanpa name tag dan sikap mereka yang bertolak belakang, tak akan ada yang bisa membedakannya. Bagaimana menurutmu, hyung?"

"Apa?" Kris tetaplah Kris yang akan lempeng saja.

"Jadi siapa sebenarnya gadis yang kau cari. Luhan atau Ziyu?" Ulang Chanyeol.

.

.

Tbc

maafkan saya
untuk part ini harus saya potong sampe segini
ada gangguan teknis pemirsa
sebagai gantinya saya akan post chap selanjutnya lebih cepat
so, tunggu saja dan jangan ngambek plis.