Hallo Dian balik lagi! Ini balesan reviewnya ya :

Steva : Mungkin ya, mungkin tidak, mungkin juga bisa jadi, entahlah kak masih awalan hihihi^^ Terima kasih kak, masih dibawah 17th tahun, kak

Dohchoco : Tau tuh, si Ruko sinis amet sama si Naru, nggak tau terima kasih udah ditolong geh-_- SFN ketemu? Mungkin masih lama kak, atau.. sebentar lagi? Xixixi^^

Lutfiah369 : Klo udah masanya pasti dibanyakin kok nee wordsnya^^

Park RinHyun-Uchiha : Kitsune bayarannya mahal jadi dikit-dikit aja nonggolnya kak xD /plak/ Kapan Naru-Kitsune kerja sama? Kalau sudah waktunya kak^^ Wah kakak jahat ya, nyampe pengen si Ruko depresi begitu, xixixi :"v *ketawa nista /plak

Rheafica ; Akan dijelasin perlahan kak jika bagian flashback semasa dulu

KaiLa Wu : Belum sempet dikoreksi ulang kak, gomen x.x Kalau boleh jujur, ini fanfic pertama Dian yang dipublish ke media, jadi Dian masih belum terlalu bisa bikin si pembaca penasaran. Selama ini Dian nulis buat muasin hasrat Dian sendiri di dunia literasi, maka dari itu terima kasih sarannya dan mohon bimbingannya kak^^

Echa Novelia : Iya menurut Dian juga agak kecepetan sih kak, Ch. 6 kemarin sekedar pembukaan aja dan bagian tambahan yang seru aka nada kok dikedepannya, jadi keep waiting for this story yah, kak^^

Ahya untuk kalian yang nggak suka sama Fic ini, Dian gapapa sih. Itu hak kalian, Dian tidak akan mempermasalahkan hal itu. Okelah jika fic ini terkesan aneh, atau apapun itu menurut kalian. Dian masih tahap pembelajaran. Jadi, mohon kritik, saran, dan masukannya dari kalian, agar cerita-cerita Dian ini menjadi lebih baik lagi.

Dian masih bisa mentolerir jika kalian bilang fic Dian ini sama dengan fic lain, itu pendapat kalian, dan setiap pendapat berbeda-beda bukan? Nah, tetapi jika kalian bilang Dian 'menjilak' atau 'memplagiat' cerita lain, Dian tidak suka dan sedikit 'sakit hati' karenanya. Ini hasil kerja keras Dian, Dian paling nggak suka ngejiplak apalagi ngeplagiat karya orang, karena Dian tahu gimana rasanya diplagiatin atau dijplak oleh orang lain.

Demilitarized

Chapter 07 : I Found You

Semua karakter Naruto yang berada disini milik Masashi Kishimoto

Dan jika ditemukan karakter OC (Original Character) mohon dimaafkan, karena untuk hal itu untuk kepentingan alur cerita.

SasuFemNaru

Cerita ini hanya fiksi belaka, jadi jangan sangkut pautkan dengan keadaan dunia yang sebenarnya. Dan bila ada kesamaan atau apapun itu, mohon dimaafkan, itu murni karena kesalahan Dian dengan tanpa unsur atau motif apapun juga.

Warn! Military! Awas typo merajalela, dan flashback terjadi dimana saja T.T

.

.

.

"Kapten?" Naruto bersuara ketika Bee memasuki mess mereka dengan langkah cepat. "Naruto, dimana yang lain?" tanya Bee to the point ketika melihat Naruto yang tengah duduk di sofa panjang dengan sebuah laptop berada dihadapannya.

"Fuu sedang di dapur, Utakata sedang membuat laporan, Han sedang keluar sebentar, Yugito sedang berlatih dengan Yagura. Memangnya ada apa, Kapten?" tanya Naruto setelah menjawab pertanyaan Bee.

Bee adalah atasan Naruto yang mengatur segala sesuatu yang bersangkutan dengan kelompok yang diketuai olehnya. Well, bisa dibilang, Bee adalah ketua selain Naruto. Namun, ada perbedaan untuk keduanya. Naruto merupakan ketua kelompok sekaligus misi yang di emban oleh para anggotanya, sementara Bee merupakan ketua ketika mengenai misi dan tugas yang hendak mereka jalani. Singkatnya, Bee 'lah yang mengorganisir semua misi-misi yang akan dilakukan oleh anak-anak buahnya.

Bee menghela napas pelan, "Panggil Han pulang, temui Yugito dan Yagura di tempat latihan mereka, ada misi untuk kalian," perintah Bee yang langsung dilaksanakan oleh Naruto.

.

.

.

Tak butuh waktu lama untuk mengumpulkan ketiganya. Fuu dan Utakata pun sudah duduk manis di atas sebuah sofa panjang yang berada di ruangan tersebut. Mereka duduk mengelilingi dengan Bee yang menjadi pusatnya—di sofa kecil seberang, terpisah oleh sebuah meja bundar yang menjadi titik tengah diantara mereka.

Keenamnya terdiam, menunggu perintah yang akan dikeluarkan oleh Bee sebagai atasan mereka. Membuat ruangan itu menjadi sangat hening tanpa ada satupun yang bersuara.

"Ini dia," suara Bee memecah keheningan yang terasa mencekik di ruangan itu. Pria yang dahulu suka sekali dengan 'rap' itu baru saja kembali setelah mengambil beberapa dokumen yang di dalam nya berisi rangkaian misi yang akan diemban oleh Naruto dkk.

Naruto mengambil sebuah dokumen yang disodorkan oleh Bee yang tersimpan rapat-rapat di dalam sebuah Tidy File Folder berwarna coklat. Membukanya perlahan lalu mengenyrit heran.

"Peredaran narkoba dengan kedok toko cokelat?"

Bee mengangguk membenarkan. "Ya, menyebalkan bukan?" yang dijawab oleh dengusan Naruto pelan.

"Jadi, kita berangkat sekarang, Kapten?" Utakata bersuara. Bee mengangguk, membenarkan.

"Bereskan dokumen-dokumen itu, pelajari di perjalanan nanti. Kita berangkat, sekarang," .

.

.

"Kitsune—" panggil Fuu sedikit cemas melihat tatapan kosong Naruto yang tengah memperhatikan jalanan yang berada di depan matanya.

"Ssst, Kyuubi, bukan Kitsune."

Fuu tersenyum tipis, senangnya tahu jika Naruto tidak diambil alih kesadarannya oleh Kitsune. Alter ego yang satu itu memang menyusahkan jika sudah mengambil alih kesadaran ketuanya, akan menjadi sangat merepotkan jika Kitsune menambah masalah mereka nanti.

.

"Jangan biarkan mereka pergi! Buru ular-ular kecil itu hingga akarnya!" Naruto berujar dingin melalui sebuah alat komunikasi yang terpasang dengan sempurna pada telinganya, menggantung di sana dan sebuah bulatan seperti mic kecil tak jauh dari bibir ranumnya.

Perintah dari Naruto—sang ketua—tentu saja langsung dilaksanakan oleh para anggotanya. Setelah dibuat kesal setengah hidup karena acara 'kucing-kucingan' mereka, Naruto akhirnya memutuskan untuk mengejar sekelompok penjahat yang disinyalir masih ada sangkut pautnya dengan Akatsuki itu secara terang-terangan.

"Shit!" rutuk Naruto sebal ketika melihat sekelompok itu mengendarai mobil mereka—mencoba kabur. Naruto melirik kearah Utakata yang berada disebelahnya. Pria itu mengangguk mengerti setelah memberinya kode yang langsung dilaksanakan tanpa membantah.

.

Naruto menatap datar sebuah mobil yang berada tak jauh di depannya. Mobil milik target incaran mereka, yang berusaha kabur dari kejarannya.

"Buka kaca mobil ini, Saiken. Aku siap menembak target," Naruto bersuara dingin, di tangan kanannya terdapat sebuah pistol berjenis Barreta 92 buatan Italia.

"Kau gila? Bagaimana jika salah sasaran dan malah sipil yang terkena? Jangan bertindak bodoh, Kyuubi!" Utakata marah—bukan karena keputusan Naruto, tetapi akibat terburuknya dari keputusan wanita bersurai pirang itu.

Utakata masih memperhatikan jalanan di hadapannya dengan raut mengeras. Bagaimana Naruto bisa menembak di tengah keramaian seperti saat ini? Di depan sana—banyak sekali mobil-mobil sipil yang berlalu-lalang. Apalagi saat ini mereka melakukan pengejaran tidak memakai mobil dinas resmi mereka. Tentu saja warga sipil mengira kami adalah bagian dari mereka. Brengsek! rutuk Utakata dalam hati.

"Kitsune, bukan Kyuubi," kata Naruto dengan nada bertambah dingin. "Kau meragukan kemampuanku, Saiken?" tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari mobil target mereka.

Rahang Utakata mengeras, Kitsune selalu saja datang dan mengacaukan segalanya. Tidak bisakah alter ego satu itu tidak ikut campur sekali saja? "Ini bukan masalah kemampuanmu atau tidak, Kitsune. Ini tentang nyawa para sipil jika kau salah target!"

"Lakukan saja apa yang kuperintahkan. Tidak ada bantahan!" putus Naruto mutlak secara sepihak. Utakata tentu saja tidak setuju, tapi ia juga tidak bisa membantah perintah yang di keluarkan oleh pemimpinnya. Maka dari itu dengan setengah terpaksa Utakata menurunkan kaca mobil yang tengah dikendarainya itu.

Naruto langsung saja mengeluarkan sebagian badannya dari kaca mobil yang sudah terbuka sepenuhnya. Baretta 92 teracung ke depan, iris safir gelapnya menyipit—membidik target. Wanita itu tidak perduli jika tubuhnya sesekali bergoyang, ia hanya focus pada satu hal: target bidikannya.

Dor!

Satu peluru dilepaskan, membuat para warga serta mobil sipil yang berada di dekat mereka mulai menjauhi mobil target dan mereka. Tampaknya mereka tahu jika ada sesuatu yang tidak beres disekitarnya.

Naruto mengembangkan seringaiannya ketika mendapati mobil targetnya mulai bergoyang kesana-kemari dikarenakan salah satu ban mobil mereka dibuat kempes oleh peluru yang sengaja Naruto bidikkan kearah itu.

Dor!

Sebuah peluru melesat keluar dari Barreta 92-nya, membuat ban mobil itu yang lain kempes karena peluru tersebut bersarang di dalamnya. Secara perlahan, mobil itupun mulai berhenti bergerak dan benar-benar terhenti dipinggir jalan.

"Amankan mobil target, Yonbi!" perintah Naruto lewat alat komunikasi yang menghubungkannya dengan anggota kelompoknya di mobil yang lain—tak jauh dari mobilnya dan Utakata. Setelah berhasil melumpuhkan satu mobil, Naruto kembali bersiap untuk membidik yang ketiga kalinya.

Dor!

Naruto berdecih pelan melihat pelurunya tidak bisa menembus badan mobil, wanita itu yakin jika mobil yang mereka pakai adalah mobil anti peluru, itulah sebabnya mengapa pelurunya tidak berhasil menembus mobil sialan itu.

"Bawa mobil ini mendekat ke mobil itu, Saiken! Mobil mereka anti peluru, aku tidak bisa menembakinya dengan jarak jauh," kata Naruto setengah memerintah. Utakata yang diperintah hanya bisa pasrah saja, toh juga ia percaya pada Naruto—walaupun sebenarnya wanita yang berada di kursi penumpang dibelakangnya bukanlah sosok Naruto yang ia kenal, melainkan sosok alter ego yang terbentuk karena rasa sakit yang dialami oleh wanita itu sedari kecil.

Setelah berhasil mendekati mobil target, Naruto bersiap—mengambil ancang-ancang utuk melempar sebuah Belati Army yang berada dalam genggaman tangan kananya. Wanita itu melemparnya dengan sekuat tenaga membuat kaca belakang mobil yang menjadi targetnya itu menjadi retak.

Sedetik kemudian sebuah peluru kembali menghujam kaca belakang mobil yang awalnya sudah retak itu malah menjadi pecah. Naruto tersenyum bengis, wanita itu mulai melancarkan aksinya—menghujani mobil tersebut dengan peluru secara terus menerus tanpa henti.

Melalui kaca spion(?) yang berada di dalam mobil yang ditumpanginya, Utakata menatap Naruto cemas. Sisi lainnya itu mulai menggila, haus akan darah, dan tak perduli kawan ataupun lawan. Utakata beruntung karena saat ini jalanan sudah tidak seramai beberapa menit yang lalu. Setidaknya tidak ada warga sipil yang meregang nyawa karena ulah Kitsune, batin Utakata penuh syukur.

Naruto meringis sakit, luka yang sudah beberapa hari ini ia tahan agar tidak terlihat menyedihkan kembali berdenyut nyeri. Luka yang ia dapat tiga hari yang lalu—akibat kecelakaan di Akashi-Kaikyo Brigde.

Sebuah luka memanjang pada lengan kanannya karena tergores pecahan kaca ketika berusaha keluar dari mobil yang dikendarainya yang sudah mengapung di dalam air. Luka itu sudah dibungkus dengan rapi oleh perban setelah mendapat lima belas jahitan. Naruto menatap miris lengan yang sudah dibalut oleh perban itu ternyata mulai memerah, seperti warna darah.

Sepertinya jahitannya kembali terbuka, batin Naruto sembari menggigiti ujung bibirnya guna menahan sakit akibat lukanya yang kembali terbuka.

Naruto menggeleng lemah setengah merutuk sebal karena tidak bisa 'berkencan' dengan samsak serta senapan kesayangannya dalam jangka waktu yang lama. Padahal beberapa menit yang lalu Naruto tidak melakukan hal-hal berat jika menggunakan tangan kanannya itu.

"Sepertinya lukamu terbuka lagi, Naru," celetuk Utakata sembari melirik perban yang menutupi pergelangan tangan Naruto sudah berganti warna menjadi merah. "Begitulah," kata Naruto sebal, "Ingin menemaniku ke rumah sakit markas?"

.

"Sudah selesai."

Naruto tersenyum, "Terima kasih, Shion-san." Sementara wanita yang dipanggil Shion itu balas tersenyum pada Naruto, "Sama-sama, Naru. Kau tidak boleh melakukan pekerjaan yang memberatkan tangan kananmu, oke? Itu jika kau tidak ingin jahitanmu terbuka lagi," ceramah Shion pada Naruto, seperti memberikannya wejangan. "Memangnya kau tadi kemana?"

"Aku hanya pergi ke GYM, untuk angkat ba—"

PLETAK!

"Kau ini, pantas saja lukamu terbuka lagi!" Shion memarahi Naruto, sementara sang empu yang kena marah hanya bisa mengelus belakang kepalanya yang sehabis terkena 'pukulan sayang'. "Utakata, kau harus mengawasi anak ini. Jangan biarkan dia melukai dirinya sendiri. Mengerti?" perintah Shion pada Utakata dengan nada bossy. Utakata yang diperintah mengangguk semangat. Kapan lagi aku bisa melarang Naruto melakukan ini dan itu? pikir pria itu senang.

"Aku merindukan latihanku, Shion-nee," Naruto memasang wajah imutnya yang 'hampir' meluluhkan niatan Shion untuk tidak melarangnya kembali bergulat 'panas' dengan senjata-senjatanya. "Itu tidak akan berhasil, Naru!" kata Shion, sukses membuat Naruto cemberut.

"Shion-nee jahat," kata Naruto setengah merajuk. Shion menghela napasnya, "Itu demi kebaikanmu, Naru," kata Shion lembut. Sedetik kemudian sebuah senyum tercipta diwajah cantik Shion yang membuat Naruto bergidik ngeri. Apapun itu, Naruto yakin itu tidaklah baik untuknya, sungguh.

"Atau kau mau kuberitau tentang hal ini pada Jendral, hmm?" tanya Shion, sukses membuat Naruto menegang. "Ja-jangan!" pekik Naruto dengan wajah pucat pasinya yang kentara. "Naru bisa diamuk kakek, Shion-nee!" kata Naruto lagi. Utakata yang melihat reaksi Naruto hanya bisa menahan tawanya. Jarang jarang ia bisa melihat wajah Naruto yang seperti itu, biasanya dia memasang wajah sedatar triplek yang menjadi andalannya itu.

"Kalau begitu turuti ucapanku, Naru!" kata Shion gemas.

Naruto mengembungkan kedua pipinya, "Iya-iya Shion-nee. Asal nee-san janji tidak akan memberitahu hal ini pada kakek. Deal?"

"Deal!"

"Ayah, jangan terlalu memaksakan diri seperti ini. Seharusnya Ayah biarkan Ruko dan Kak Ku yang menjalankan perusahaan ini," kata seorang wanita catik berambut pirang keemasan berjalan dengan anggunya mendekati sang Ayah yang masih bergelut 'panas' dengan berkas-berkas yang menggunung di meja kerjanya.

Pria paruh baya yang dipanggil wanita itu dengan sebutan Ayah itu mendongak guna melihat sang Anak yang sedang menatap cemas kearahnya. Minato—pria paruh baya tersebut tersenyum tipis, "Jangan khawatirkan Ayah, Ruko. Kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, terlebih kesehatanmu, sayang. Kau mengerti?" kata Minato dengan suara lembut.

Naruko cemberut, "Ayah, Ruko sudah berumur dua puluh dua tahun. Ruko bukan anak kecil lagi," katanya dengan nada sebal yang kentara. Minato terkekeh, pria paruh baya itu mengacak puncak kepala Naruko dengan sayang, "Bagi Ayah kau tetaplah puteri kecil satu-satunya yang Ayah miliki, sayang!"

"Ayah memiliki dua orang puteri yang sama-sama cantik, Kak Naru dan Ruko," Naruko meralat perkataan Minato sebelumnya, membuat senyum pria paruh baya itu menghilang secara perlahan. "Dia sudah bukan bagian dari Namikaze lagi, Ruko," katanya menjelaskan.

"Memangnya mengapa Kak Naru bukan bagian dari kita lagi, Ayah?" tanya Naruko tidak mengerti.

"Dia memutuskan untuk meninggalkan kita, Ruko. Naruto pergi dari rumah, tujuh tahun yang lalu. Bukankah itu berarti dia sudah tidak ingin tinggal bersama kita lagi?" tanya Minato setelah menjelaskannya secara ringkas.

Naruko terdiam, wanita itu membenarkan perkataan sang Ayah yang memang selaras dengan kenyataan yang ada. Kakaknya—Namikaze Naruto—memutuskan untuk pergi dari rumah dan meninggalkan keluarga yang sudah membesarkannya sedari kecill. Bukankah itu berarti Kakaknya memang sudah tidak ingin bersama dengan mereka lagi? Naruko mengerti sekarang.

Walaupun begitu, sebagai seorang adik, ia ingin kembali berkumpul dengan kakak-kakaknya. Rasanya sakit sekali melihat keluarganya tidak utuh, hanya ada kakak pertamanya—Kurama beserta kedua orangtuanya saja. Kakak keduanya tidak ada, ia menghilang entah kemana dan kenapa. Naruko rindu—sangat rindu malah. Jadi, bolehkah ia berharap agar kakaknya itu kembali dan berkumpul lagi bersama mereka?

"Lalu mengapa Ayah tidak berusaha mencari Kak Naru dan membawanya pulang?" tanya Naruko tidak mengerti.

Minato menghela napasnya pelan, apa yang harus ia jelaskan kepada anak bungsunya agar paham? Sementara dirinya sendiri tidak tahu mengapa sangat-sangat membenci Naruto—anak keduanya. Seingatnya, Naruto bahkan tidak mempunyai kesalahan apapun padanya maupun keluarganya. Namun entah mengapa seiring berjalannya waktu, rasa benci itu malah bertumbuh dengan subur di dalam hatinya dan ia tak tahu bagaimana cara menghentikannya.

"Ayah melamun lagi," keluh Naruko sembari menatap meja kerja sang ayah yang dipenuhi berbagai macam berkas berceceran di atasnya. Minato tertawa kikuk, "Maafkan Ayah, oke?" pinta Minato sementara Naruko terlihat sedang menimbang-nimbang akan suatu hal.

Sebuah senyum kelewat ceria tercipta diwajah manis Naruko, membuat wajah yang biasanya terlihat pucat itu tampak lebih hidup. "Ruko akan memaafkan Ayah jika Ayah menuruti keinginan Ruko," kata Naruko dengan nada seperti merahasiakan sesuatu.

"Memangnya apa yang Ruko inginkan dari Ayah?" tanya Minato setengah penasaran.

Naruko memperlihatkan senyum lebarnya yang entah mengapa membuat Minato takut, hal itu terbukti karena bulu kuduk pria paruh baya itu tiba-tiba saja meremang setelah melihat senyum Naruko. Sepertinya keinginan Naruko bukanlah hal yang baik untukku, batin Minato setengah pasrah jika memang firasatnya benar.

"Ruko ingin Ayah mencari Kak Naru dan membawanya kembali ke rumah."

Minato membeku setelah mendengar keinginan Naruko. Mencari Naruto, huh? Itu sama sekali tidak pernah ada di daftar plannya di masa yang akan mendatang. "Tapi Naruko, ayah—" ucapan Minato terpotong karena Naruko.

"Ayah, Ruko mohon," pinta Naruko dengan memasang tampang 'memelas' andalannya, membuat Minato harus ekstra sabar jika sudah menghadapi Naruko dalam mode kawaii-nya. "Sekali Ayah bilang tidak ya tidak, Ru—"

Lagi-lagi ucapannya terpotong oleh Naruko, "Ayaaah," panggil Naruko dengan suara merayu, membuat Minato tak tahan karena sikap Naruko yang semakin 'kawaii' setiap saatnya. "Baik-baik, Ayah akan mencari kakakmu. Jadi, berhenti memasang tatapan seperti itu, Naruko!" kata Minato yang akhirnya mengalah juga pada sang Anak.

Naruko bersorak gembira, seperti anak kecil yang bahagia karena telah mendapatkan masing-masing sebuah lollipop serta cokelat di tiap-tiap tangannya. "Terima kasih, Ayah!" seru Naruko seraya berhambur ke pelukan Minato. Wanita itu langsung mengecup pipi kanan dan kiri milik sang Ayah yang sudah mulai keriput karena termakan usia namun tak mengurangi kadar ketampanan sang Ayah.

Minato menghela napasnya lelah. Setelah memastikan Naruko pergi, pria paruh baya itu memanggil sekelompok orang lalu memberi keempatnya masing-masing sebuah foto Naruto, "Cari, temukan dan bawalah gadis ini. Dia adalah anakku yang kedua; Namikaze Naruto. Tahun ini ia berumur dua puluh lima tahun, sementara di foto tersebut ketika ia berusia delapan belas tahun. Aku ingin kalian membawanya dalam keadaan utuh tanpa kekurangan apapun juga kehadapanku, apa kalian mengerti?!" perintah Minato setelah membagikan foto Naruto yang sudah lama sekali ia simpan tanpa ada satu orangpun yang mengetahuinya.

"Kami mengerti," balas orang-orang itu sambil menunduk hormat.

Minato tersenyum tipis, "Pergilah, lakukan tugas kalian dengan sebaik-baiknya!" Setelah memastikan keempat orangnya pergi, Minato memperhatikan foto yang sedari tadi digenggam olehnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Jadi begitu?" tanya Ino sembari mengangguk-angguk mengerti setelah mendengarkan kisah kehidupan Naruto yang baru saja wanita itu ceritakan padanya. "Hmm, begitulah. Aku miris ya?" Naruto berbalik bertanya pada Ino. Ino menatap sahabat barunya sendu, "Tidak juga, aku kagum padamu," puji Ino sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya pelan, menenangkan.

Naruto hanya bisa tersenyum tipis menanggapi perkataan Ino. Ah iya, setelah diobati oleh Shion, wanita itu memutuskan untuk menemui Ino—psikiater yang berniat membantunya untuk mengendalikan Kitsune—kepribadiannya yang lain untuk memberikan ketenangan pada batinnya yang belakangan ini sedang tidak tenang. Sementara Utakata, pria itu mendadak mendapat panggilan untuk melaksanakan misi solo berupa pengintaian di suatu tempat.

"Aku tidak diharapkan, Ino. Maka dari itu aku melarikan diri dari dunia mereka dan menjadi diriku yang seperti saat ini. Entah bagaimana jika mereka tahu aku tergabung ke dalam kemiliteran, mereka pasti tambah membenciku. Aku takut mereka akan menyuruhku keluar dari kesatuanku," kata Naruto dengan binar ketakutan terlihat jelas di kedua manik safir indahnya.

"Itu hakmu, mereka tidak bisa memaksakan kehendaknya padamu. Toh juga bukannya mereka tidak mencarimu selama ini, jadi tak ada yang patut dipermasalahkan," ujar Ino, wanita bersurai pirang itu mencoba membuat sahabatnya tenang walaupun nyatanya masih belum berhasil juga.

"Ayah akan marah padaku. Beliau akan mencambukiku, menggurungku selama beberapa hari di dalam kamar tanpa memberiku makan sedikitpun. Beliau membelengguku, mengikatku pada sebuah rantai tak kasat mata. Beliau membenciku Ino. Ayahku membenciku," kata Naruto dengan suara bergetar.

Ino menghela napasnya lelah. Setelah mendengar cerita langsung dari Naruto, wanita itu tahu mengapa Kitsune bisa terbentuk. Karena sikap kedua orang tua Naruto sendirilah yang memicu kepribadian lain itu bangkit. Jadi Ino tidak akan kaget, terlebih pekerjaan Naruto sendirilah yang menyebabkan kepribadiannya itu menjadi seliar ini.

Ino mengulas senyum tipis, "Bukankah masih ada kakekmu—Tuan Sarutobi?" tanya Ino lembut. Naruto menggeleng keras, "Kakek Hiruzen bukanlah kakekku yang sebenarnya. Ia mengangkatku menjadi cucunya sejak aku berumur sepuluh tahun," jelas Naruto. Wanita itu merunduk—menatapi lantai marmer yang seakan menarik perhatiannya saat ini, "Sarutobi adalah keluarga angkatku, Ino. Aku tidak ada hubungan darah sama sekali dengan mereka."

"Bukankah itu bagus?" tanya Ino membuat Naruto menautkan kedua alisnya, bingung. Wanita pemilik iris aquamarine itu tertawa kecil, "Kau masih mempunyai tempat untuk pulang, Naruto. Sekalipun keluarga Namikaze membenci kehadiranmu. Kau memiliki pengganti mereka untuk mengisi kekosongan hatimu akan kasih sayang keluarga," katanya dengan nada yang menenangkan.

"Begitukah?" tanya Naruto setengah tidak percaya. Ino mengangguk mantap, "Ya, mengapa tidak?" tanyanya membuat Naruto mengulum sebuah senyum tipis, ah Ino lega melihatnya. "Terima kasih, Ino. Kau yang terbaik," ujar Naruto sembari menarik Ino ke dalam pelukannya. Ino terkikik, "Bukankah itu gunanya sahabat?" tanyanya dengan gerlingan keduanya tertawa lepas. Tanpa ada yang tahu jika seseorang memperhatikan mereka dari kejauhan, mengabadikan beberapa gambar mereka, dan tersenyum misterius kearah keduanya.

"I found you, Namikaze Naruto," bisiknya tanpa melepaskan tatapan dari keduanya.

.

.

.

TBC

Eh gimana klo balasan reviewnya dihilangin? Biar wordsnya nggak kemakan sama balasan review? Ada yang setuju?

(A/N : Setelah ini bakalan ada curhatan Dian, nggak perlu baca tp klo ada yang mau baca silahkan aja, nggak penting-penting amatsih lagian /plak)

Maafkan Diaaann x.x

Dian khilaf nggak update lebih dari dua bulan, maapkan T.T

Ceritanya Januari itu Dian sibuk ngurus undangan, ngetik nama-nama orang yang diundang plus diprintin satu-satu, pegel lagi harus ngetikin satu-satu sementara yang di undang ratusan dan itu pekerjaan Dian yang pegang semua. Jadi pas sekalinya pegang computer pasti ngurusin undangan dulu, nggak ngetik-ngetik deh T.T

Terus, pas Febuari, nah bulan itutuh hajatannya, Dian nggak bisa ngetik karena 2 minggu-an nggak pegang computer karena dirumah berantakan sama barang-barang keperluan hajatan yang numpuk dirumah x.x Jangankan ngetik, sekedar tempat buat gelesoran saja harus nyingkir-nyingkirin barang dulu saking bejubelnya T.T /Maaf jadi curhat x.x

Terus, pas akhir Febuarian tuh baru bisa megang computer :D Sebenernya awalnya Dian udah ngetik cerita ini sampe 5k, eh malah nggak ke save jadilah kesel sendiri:3 /hidup penuh cobaan T.T/

Lanjut ke awal Maret, Dian UTS jadi megang komputernya berkurang kebanyakan megang buku xD Barudeh setelah UTS Dian lanjut ngetik^^ Maaf ya lama, Dian bener-bener nggak bisa buat dua bulan sebelumnya. Gomen T.T

Diandra Nashira

19 Maret 2017