DISCLAIMER MKHISIMOTO
Happy Reading guys...
.
SAKURA POV
Jadi aku belum membahas lagi tentang triple date yang akan kami lakukan di hari minggu. Aku masih belum mengatakannya pada Sasuke. Bukankah tidak elit sekali kalau perempuan yang lebih dulu mengajak laki-laki untuk kencan? Aku masih bingung memikirkan ini.
"Apa?! Kau belum mengajaknya?" Teriak Ino di telingaku. Ini masih di kelas.
"Bisa kau pelan sedikit Ino!" Pintaku agak jengkel.
Hinata menghela nafas berat dan agak lirih, "Padahal kan acaranya besok"
"Aku tau teman-teman. Aku pasti akan membawanya besok", Ya. Aku harus mengajaknya.
"Janji?" Hinata mengacungkan kelingkingnya ke hadapanku.
Aku mengaitkan kelingkingku pada kelingkingnya. Aku tersenyum "Janji"
"Yosh. Kita langsung kumpul di depan Taman Ria" Seru Ino bersemangat.
Apa? Taman Ria? Bukan ke pantai? Atau ke mall? Sasuke pasti tidak suka ide ini. Aku hanya tersenyum getir. Bagaimana ini...
Lebih baik aku ke rumahnya agar mendapat timing yang tepat untuk bisa mengajaknya kencan. Aku masih belum mengerti hubungan kami layak disebut apa, karena kami masih belum mengatakan perasaan kami yang sebenarnya, walaupun kami sudah sering berciuman. Tidak mungkin aku mengatakan terlebih dahulu bahwa aku menyukainya. Tidak mungkin.
Ini sudah pukul delapan malam, dan aku masih bingung. Atau aku telfon saja ya. Aku mengusap cepat mukaku di depan cermin. Aku sedang membasuh wajahku sekarang. Entah sudah beberapa kali aku menghela nafas. Aku baru saja akan ke luar dari kamar mandi. Terdengar suara gagang pintu kamarku akan di buka, sepertinya ada seseorang yang akan masuk. Sasuke?! Tidak salah lagi. Siapa yang berani masuk tanpa izin selain dia. Ah, kenapa dia keburu datang, aku belum mempersiapkan kalimatku. Tapi sebelum itu, aku mengambil bantalku, aku akan memukulnya. Siapa suruh selalu tidak sopan.
Aku mengangkat tinggi-tinggi bantalku tepat di depan pintu.
Cklek...
"SASU..."
Bugh...
"Huaaaa... Sakura! Apa yang kau lakukan?!" Bantalku tepat mengenai wajahnya. Walaupun itu tidak sakit, aku tau. Setidaknya itu membuatnya kaget.
Tapi, kenapa yang datang malah...
"Naruto?"
"Apa yang kau lakukan? Kau mau mengajakku perang bantal?" Dia mendengus keras-keras.
"Hehee.. Maaf Naruto, aku kira kau tadi-"
"Si Teme?"
"y-ya begitulah" Aku hanya tersenyum bodoh. Begitulah aku. "Lagi pula kenapa kau tiba-tiba masuk tanpa mengetuk?"
"Ya Tuhan. Aku mengetuk berkali-kali tak ada jawaban. Ibumu bilang kau ada di kamar. Bukan salahku tiba-tiba masuk. Aku tadi sempat membayangkan saat akan mendobrak pintu kamarmu, lalu aku menemukanmu tergeletak di lantai"
Aku mengernyitkan keningku, "Itu mengerikan Naruto. Bahkan pintu kamarku tidak pernah terkunci kau tau. Cepat masuk!"
Seperti biasa, kami duduk bersila saling menghadap di atas ranjangku.
"Jadi..."
"Aku sudah mengajak Teme"
"Apa?"
"Aku tau dari Hinata, kau kesulitan mengajaknya. Itu masalah gampang. Aku sudah mengajaknya dan besok pukul delapan pagi kau sudah harus siap. Dia akan menjemputmu"
Aku sedikit menganga mendengarnya. Entahlah, aku sedikit kecewa pada diriku sendiri.
"Maaf merepotkanmu Naruto"
Dia bersidekap, "Sebenarnya aku heran, kenapa kau sulit sekali mengajaknya. Menurutku kalian lebih dekat dan terakhir kali aku melihat kalian berkencan di cafe es krim"
"Itu bukan kencan Naruto. Oh, astaga" Aku memijat pelipisku, "Baiklah. Itu tidak sama saat mengajaknya ke cafe es krim"
"Apa bedanya? Kalian kan sudah pacaran, masih kesulitan berkomunikasi?"
Bugh.. Bantal kecilku mendarat di wajahnya-sekali lagi.
"Kami tidak pacaran Naruto"
"Kenapa? Bukankah kalian..."
Suaraku lirih, "Entahlah. Aku tidak tau. Kami belum mengatakan perasaan kami sampai sekarang"
Kali ini Naruto berwajah datar. Aku benci. Kenapa dia meniru gaya Sasuke saat seperti ini.
"Sudah kuduga"
Lagi-lagi dia sok tau. Aku memanyunkan mukaku. Aku ragu dia bisa membantu masalahku kali ini.
"Komunikasi sangat penting dalam menjalin hubungan. Harusnya kalian mengatakan perasaan kalian, menyalurkan apa yang kita pikirkan dan yang kita inginkan. Yang aku maksud bukan secara egois. Kalau begini terus aku yakin, kalian hanya sekedar bermain-main. Kalau sudah begitu, kalian hanya akan menyakiti diri kalian masing-masing, dan kalian tidak bisa saling menyalahkan jika salah satu di antara kalian sakit hati karena urusan ini. Kau paham?"
Deg..
Benar juga. Si Tolol ini ada benarnya. Selama ini kami hanya bermain-main. Sasuke dan juga aku, tidak ada bedanya. Lalu bagaimana perasaan ini bisa tersampaikan. Ciuman bukan berarti menyampaikan kasih sayang, bisa saja dia hanya bernafsu. Ini, tiba-tiba aku merasa sesak.
"H-Hei kau menangis, Sakura?!" Naruto tiba-tiba panik.
Ah, aku meneteskan air mata. Harusnya kau tidak datang kesini Naruto. Kalau begini, aku jadi benci kenyataan.
Minggu.
Aku sudah siap. Aku menunggu di bawah. Ini masih setengah jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Kenapa aku jadi bersemangat sekali. Padahal semalam aku menangis di hadapan Naruto, sampai aku tertidur. Ini bukan waktunya bersedih, sekarang waktunya bersenang-senang.
"Berisik sekali. Sepertinya teman-temanmu sudah datang" Sasori melewatiku sambil mengucek mata kirinya.
Teman-teman?
"Ayah, Ibu, Aku berangkat" Aku mencium Pipi Ayah dan Ibu.
"Wah Kau bersemangat sekali"
"Hati-hati di jalan. Bawa kotak obatmu, barangkali diperlukan" Ibu mengingatkan.
Aku mengangguk, berlari kecil dan berpapasan dengan Sasori.
"Semoga harimu menyenangkan" Dia mengacak poniku. Kebiasaan yang membuatku jengkel. Aku sudah bersusah payah dandan. Tapi, daripada itu, dia tidak marah walau tau aku akan pergi dengan Sasuke.
Aku mencium pipi kirinya sekilas " Trimakasih. Apa kau selalu bau di hari minggu?"
"Hei. Aku hanya belum mandi. Dasar Saki! Awas kau"
Aku menjulurkan lidahku dan berlari kecil ke luar rumah.
Dan yang benar saja, mereka semua di sini. Mereka sedang tidak bercanda kan?!
"Kejutan!" Tangan Ino menyambar pundakku.
"Hai Sakura. Hari ini, kau sesuatu sekali" Hinata menarikku untuk berlari kecil menuju mobil yang terparkir di depan rumah. Mobil siapa?
"Kau duduk di depan, Tuan Putri" Sapa Sai yang menyuguhkan senyum polos palsunya. Mengerikan.
"Tu-tunggu. Kalian apa-apaan? Katanya berkumpul di Taman Ria?" Aku berusaha bertanya. Ini tidak sesuai rencana.
Naruto membuka pintu depan mobil dan aku duduk. "Sudah Nanti saja tanyanya"
"Kalian bisa lebih cepat sedikit? Kalian pikir aku sopir kalian, hah?" ehm. Ini Sasuke sekali.
Aku menutup pintuku. Semua sudah di posisi masing-masing. Mobilpun melaju.
SASUKE POV
Ini sangat konyol. Kepalaku hampir pecah. Aku tidak suka keramaian ini. Dan juga, ini terlalu kekanak-kanakan. Bisa-bisanya aku terjebak tipuan Naruto. Apanya yang pantai? Ini... padahal aku sudah membayangkan Sakura yang memakai bikini, membuatku merinding. Ternyata hanya taman dengan beberapa wahana konyol. Sangat konyol.
"Mereka meninggalkan kita" Kata Sakura memandangku ragu. Dia seperti merasa bersalah.
Aku menghela nafasku "Aku tau. Mereka memanfaatkanku. Aku tidak tau mereka akan berkumpul di rumahku pagi-pagi dan menyuruhku untuk membawa mobil. Ternyata begini"
Sakura terdiam menatapku lalu tersenyum "Tidak apa. Ayo nikmati saja jalan-jalannya"
Tidak apa. Senyum itu mebuatku kehilangan kejengkelanku tadi. Yah, lebih baik mereka meninggalkan kami.
Kami melewati beberapa wahana dan hanya melewatinya. Aku kira Sakura akan mengajakku bermain wahana konyol ini, ternyata dia lebih suka jalan-jalan menonton keramaian.
Sakura... apa dia selalu tenang dan secantik ini? Kalau saja aku tidak sejahat itu saat meninggalkannya dulu, apa dia akan tetap menyukaiku dengan tulus ketika ia tau aku membohonginya? Aku seperti mengharapkan nasi yang telah menjadi bubur.
"Kau mau naik bianglala?" Tanyaku asal.
"Oh? Kau suka permainan yang seperti itu? Aku tidak menyangka dengan gayamu itu" Sakura terkekeh geli, "Kau tidak membayangkan akan menciumku di puncak bianglala kan?"
Bagus. Kau memancing imajinasiku, Sakura.
"Bahkan aku membayangkan yang lebih dari itu" Jawabku membuat dia kehilangan kalimatnya. Wajahnya memerah seketika mengalihkan pandangannya. Aku suka.
"Ayo jalan" Dia menggenggam tangan kananku. "Tidak apa kan seperti ini?"
Aku mengangguk. Ini terasa nyaman. Kami kembali berjalan. Melewati beberapa stan accesories, stan makanan, dan berakhir di rumah boneka.
"Waaah. Kawaiiii" Sakura gemas melihat boneka babi berpita berwarna pink, sama seperti warna rambutnya.
Aku melihatnya sambil terkekeh, "Kau suka?"
Dia mengangguk sambil tetap memeluk boneka itu.
"Kami ambil ini"
"Eh, aku bawa— "
"Kau meremehkan Uchiha, heh?!" Aku selesai membayarnya "Anggap saja itu hadiah dariku"
Lagi. Dia tersenyum "Terima kasih, Sasu"
Disamping hal-hal yang membuatku jengkel hari ini ada satu hal terindah yaitu melihat senyumnya. Kali ini aku berhutang budi padamu, Naruto.
Aku melihat wahana yang menarik. "Ayo. Naik perahu itu"
"Aku takut. Aku tidak bisa berenang"
"Siapa yang menyuruhmu berenang? Kita akan naik perahu dan aku tidak akan membuatmu jatuh dan basah"
Sakura memegang tanganku erat. Dia memang takut.
"Baiklah. Kita tidak perlu naik kalau kau takut"
"Kita naik. Tidak apa-apa" Dia cepat-cepat menarik tanganku.
Aku tau dia hanya tidak ingin mengecewakan aku.
Kami berhadapan dan aku mulai mendayung. Aku rasa, wahana kali ini cukup romantis. Perahu ini mengikuti arus sungai buatan yang akan mengelilingi Taman Ria. Ada beberapa gua kecil dan kami melewatinya. Hening dan hanya terdengar suara air. Aku menikmatinya.
"Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu" Keheningan sesaat tadi terpecahkan olehnya.
"Hn. Katakan saja"
Aku melihat kecemasan di wajahnya. Bahkan dia sama sekali tidak menatapku dan hanya memeluk erat bonekanya.
"Sasuke. Apa menurutmu aku terburu-buru menanyakan ini. Tapi— "
Aku berkenti mendayung. Aku serius menyimak kalimatnya. Aku ingin tau, apa yang membuatnya secemas ini. Apa dia tidak menikmati hari ini seperti aku menikmatinya?
Kali ini dia menatapku tajam.
"Apa artinya aku bagimu?"
Dan aku seperti terpojok.
TBC
Haaaahhh... akhirnya ...
Fiuuhh...
Kelar juga chapter ini...
Hihiii.. maaf ya guyz, udah update nya lama, ceritanya geje n gag muasin,,, tapi ,tapi..
Hanya ini yg bisa aku persembahkan. Aku hanya manusia biasa yg sibug kerja (cciieee.. kog jd curhat sih gue)
Semoga kalian menikmatinya dan...
Nb: kalimat "Apa artinya kau bagimu" terinspirasi dari kalimatnya Karin saat jd tawanannya Danzo.. hihiii
Jaa nee.
Oh. Review n follow n favo-ers... TENGKYU SO MUCH YA... aku sayang kalian, tapi gag bs bales. muah
Virgindinyislami.07092016
