Namanya telekinesis...
Suara itu bahkan terputar lagi di dalam kepalanya. Terdengar begitu jelas. Membuat rindunya semakin mengamuk.
Ini mustahil. Seharusnya bocah tadi mati dan hancur saat mendarat ke tanah. Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan gadis kecil itu hanyalah keajaiban dan- telekinesis. Hanya jika dunia ini memiliki seseorang dengan kemampuan otak super kuat.
Dan seingat Chanyeol, manusia seperti itu yang sudah pernah dia temui di muka bumi hanya-
"Baekhyun?"
.
e)(o
.
Pintu ruangannya terbuka dengan keras.
Jongin sedang murka sebab Chanyeol tiba-tiba saja memerintahkan padanya untuk kembali ke markas mereka di Argentina. Padahal baru siang tadi, pemimpin Black Eye itu memberinya mandat untuk terbang ke Kolombia. Guna menyelidiki sindikat perdagangan manusia yang sedang menjadi konsen besar mereka.
"Apa-apaan ini, Bos?" cerca Jongin setelah memukul tembok.
Chanyeol berjalan memutari meja kerjanya sambil memijat pelipis, "tutup mulutmu dan dengarkan aku. Ini serius."
"Harus serius karena aku sedang duduk manis di heli saat kau memaksaku kembali!"
Suasana berubah hening. Chanyeol menatap lekat kepada rekannya sambil memasang wajah serius. Rambut pria itu juga terlihat berantakan, mirip seekor anjing yang basah kuyup. Jongin sampai heran karena sepasang mata merah itu bahkan bersinar di kegelapan.
Chanyeol sudah mirip gelandangan sakaw yang kehilangan sepotong roti. Bersiap membunuh siapapun.
"Jangan anggap aku gila, ok?" ucap Chanyeol yang langsung dibalas anggukan malas Jongin, "aku tahu dimana Baekhyun."
Oh tidak. Dia mulai lagi...
"Ternyata selama ini dia berada di sekitarku! Mengawasiku! Aku yakin karena aku bisa merasakannya! Dia mungkin sedang bersembunyi karena, karena-"
"Karena apa? Karena kalian sedang main petak umpet?" potong Jongin karena Chanyeol sendiri tidak tahu apa sebabnya.
"Aku serius! Dia baru saja menyelamatkan seorang bocah yang lompat dari lantai tiga! Dia memakai telekinesis! Aku yakin karena dia pernah membuat cangkir sirup melayang di depan wajahku!" teriak Chanyeol sambil menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.
Sudah kesekian kali pemimpin Black Eye ini meracau. Jongin melihatnya seperti penyakit akut dan mungkin pemimpinnya ini tidak akan sembuh. Dia tidak gila. Hanya saja, Chanyeol terus mencari kemungkinan yang mustahil.
"Kau sendiri, melihat Baekhyun?" tanya Jongin yang langsung menyurutkan sisi optimistis di wajah Chanyeol.
"Tidak," jawab sang algojo, "tapi aku yakin itu dia."
Jongin menggeleng lelah, "Bos, kau harus istirahat."
Mungkin Chanyeol sudah sangat menderita. Dirundung rasa bersalah karena gagal menjaga Baekhyun adalah alasan utama. Alasan keduanya yaitu, pria ini mungkin frustrasi karena disiksa rindu.
Hatinya sudah menjadi milik Baekhyun. Seluruh anggota klan tahu tentang fakta itu dan mulai menjuluki pemimpin mereka dengan sebutan Serigala Patah Hati. Meskipun begitu, Chanyeol masih sangat berwibawa. Dia masih pejuang yang kuat. Penyusun strategi yang cerdik.
Sayang, sisi dalamnya sudah rusak. Kehilangan Baekhyun dengan cara semisterius ini benar-benar menghancurkannya.
Kasihan sekali. Seseorang harus berani membangungkan Chanyeol dari dunia fantasinya yang dipenuhi harapan kosong.
"Realistis sedikit, Bos. Untuk apa Baekhyun mengawasimu, padahal dia tahu kalau kau setengah mati sedang mencarinya?"
Chanyeol berhenti memutari meja. Kedua tangan berotot itu jatuh ke sisi tubuh dan terlihat jelas kalau dia sendiri sudah putus asa. Jongin langsung bersimpatik.
"Kau sudah terlalu lama mengejar bayangan. Sudah saatnya berhenti," eksekutor Black Eye yang digilai banyak wanita itu mendekati pemimpinnya.
Memijat bahu tegang Chanyeol karena pria itu masih terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dengan sangat serius sampai tatapannya tak berkedip menatap lantai.
"Kita harus memancing dia keluar," gumam Chanyeol tiba-tiba.
Membuat Jongin sadar bahwa pria itu memang tidak akan pernah mau mendengarkan nasihatnya, "Oh ayolah! Aku sedang tidak ingin memukul wajahmu!"
"Aku tahu!" raut muka Chanyeol berubah sumringah dalam sedetik, "Baekhyun pasti akan datang hanya jika aku dalam bahaya!"
"Oh tidak! Tidak! Aku ada di sini bukan untuk melihatmu bunuh diri!"
"Dia pasti akan datang untuk menyelamatkanku!"
Bayangkan ini. Chanyeol mencoba menantang maut hanya agar Baekhyun –yang dia kira selalu berada di dekatnya- muncul sebagai malaikat pelindung. Jongin langsung membanding presentase kemungkinan yang terjadi dari usaha Chanyeol ini.
Satu persen, Baekhyun akan benar-benar datang.
Sembilan puluh sembilan persen sisanya, Chanyeol mati.
"Bos, kau sakit!" vonis Jongin sambil menunjuk tepat di hidung pemimpinnya.
Namun bukan Chanyeol namanya kalau tidak keras kepala, "aku harus pergi."
Pria itu berjalan melewati Jongin. Membuka pintu untuk meninggalkan rekannya yang setengah mati depresi.
"PARK CHANYEOL!" panggil Jongin sebelum pria itu benar-benar menghilang. Pemimpinnya berbalik untuk balas menatap, "jika kau mati, Black Eye juga mati."
Chanyeol termenung mendengar peringatan itu. Terdiam sebentar, membayangkan kalau dia benar mati di tengah percobaan. Mungkin setahun atau dua tahun kemudian, Black Eye akan runtuh di tangan musuh.
Jongin mungkin benar dengan ucapannya, tapi intuisinya tidak pernah salah.
"Baekhyun akan menyelamatkanku. Tenang saja," Chanyeol lanjut berjalan menuruni tangga. Tetap meninggalkan Jongin yang mengutuk dan menendangi kaki meja.
"AKU TIDAK AKAN KE KOLOMBIA KALAU KAU TETAP MENCOBA BUNUH DIRI! PARK CHANYEOL!"
Jongin berteriak dari dalam ruang kerja Bos-nya. Urat di leher sampai menyembul keluar sebagai bukti bahwa ancamannya itu bukanlah lelucon.
Chanyeol malah bersiul santai sambil lanjut melangkah menuju di pintu depan, bersiap untuk menantang maut di luar sana.
Aku bersumpah akan menggigit bibir cerewetmu saat kita bertemu nanti, Baek!
Aku tahu kau bisa mendengarku!
Aku tahu!
.
.
.
When Chanyeol Was There
Vol2
.
Interlude
When Chanyeol Were Here
Coming up!
Bacods:
Ku lanjut disini karna gak enak kalo dipisah. Kasian. Ntar kangen. Prett.
Update bareng ama author cecabean Brida Wu! Yok ff nya kita grepe rame-rame!
And always, makasih buat yang masih mau baca lanjutan ff ini! Makasi bangett! Such an honour *lope*
