"THE GREAT BOOJAE" -Chap 5 -

Author : Rukee (Han ChoonHee)

Genre : Yaoi, Romance, Family, Kolosal, Sosial, Budaya, Politik

Cast : Jaejoong, Yunho dll.

Rate : PG-17

Summary : Jaejoong, seorang sekretaris kerajaan yang menjalin hubungan dengan Putra Mahkota. Apakah yang dilakukan Raja ketika mengetahui hubungan keduanya? FF abal yang menceritakan perjuangan hidup Kim Jaejoong di dalam Kerajaan.

Disclaimer : cast bukan milik author. Tapi karangan FIKSI ini milik author! FF ini terinspirasi dari kegemaran author terhadap drama kolosal.

Warning : Typo bertebaran. Boy x boy. Don't like, don't read!

TERIMA KASIH UNTUK TEMANKU MANO YANG SUDAH MENYUMBANGKAN PENGETAHUAN SAEGUK-nya PADAKU. AKU CINTA KAMU!

TERIMA KASIH JUGA UNTUK READERS YANG SUDAH MEMBERIKAN PERHATIAN-nya PADA FF INI. KALIAN YANG TERBAIKK!

5555555555555555555555555555 555555555

The Great Boojae

Hutan.

Author POV

SLEEEB!

Sebuah anak panah mengkhianati sang raja. Melesat jauh dan tidak menusuk di tubuh seekor rusa. Rusa pun tak tahu diri, enggan menyerahkan nyawa untuk rajanya. Untuk kesekian kalinya, sang raja gagal mencabut nyawa buruannya.

Raja, pria dengan hanbok merah duduk dengan anggun di atas kuda putihnya. Pandangannya menatap penuh marah ke arah rusa yang sedang mencari persembunyian. Ini anak panah ketiga belas yang diluncurkannya pagi ini, tapi tak satu pun hewan yang rela mati di tangannya.

Perlahan sang raja mengangkat tangannya, menyerahkan busur panah berlapis emas kepada pengawalnya. Pandangannya menoleh kepada seseorang yang selalu berada di sampingnya, sahabatnya sekaligus sekretarisnya.

"Sekretaris Kim, kita kembali ke istana"

Sekretaris Kim melirik pasukannya, memberi isyarat untuk melaksanakan perintah orang nomor satu di antara mereka. Pasukan berburu pun mulai memutar arah, kembali ke istana sebelum matahari mendahului.

5555555555555555555555555555 555

The Great Boojae

Pavilion Jungseang.

Pejabat Han POV

Aku berjalan menuju pavilion putra mahkota lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, aku punya firasat buruk. Aku harap tidak akan terjadi sesuatu terhadap putra mahkota.

Semalam, beberapa dayang dari pavilion Jungseang datang secara bergantian ke kediamanku dan membuatku tidak bias tertidur sedetik pun. Bukan karena kedatangan mereka mengganggu tidurku, tapi karena kabar yang mereka bawa mengganggu pikiranku. Kim Jaejoong, sekretaris pribadi putra mahkota…. bermalam di pavilion Jungseang.

Aku tidak terlalu bodoh untuk menyadari adanya ikatan di antara putra mahkota dan sekretarisnya. Sebuah ikatan yang tak terlihat namun dapat dirasakan bila kalian berada di sekitar mereka.

Sudah sejak putra mahkota dilahirkan aku mendampinginya. Ah, tidak. Bahkan sejak yang mulia berada dalam kandungan, aku sudah di tunjuk untuk mendampinginya. Jenjang waktu selama ini membuatku benar-benar mengerti tentang pribadi putra mahkota, baik dari luar maupun dalam.

Tugas mulia dan penting yang berjajar memenuhi jadwal yang mulia raja dan juga jadwal seluruh keluarga kerajaan, membuatku menjadi satu-satunya orang yang bias mengamati pertumbuhan putra mahkota dari dekat. Membuatku menjadi satu-satunya teman bagi putra mahkota disetiap yang mulia melewati fase pertumbuhannya. Namun, setelah Kim Jaejoong masuk dalam kehidupan yang mulia, aku bukanlah satu-satunya yang menjadi saksi metamorfosa yang mulia, dari seorang remaja laki-laki menjadi pria dewasa. Dari seseorang yang polos, ceria, dan hanya mengetahui tentang kesenangan juga pertemanan, hingga menjadi seseorang yang dewasa, bijak dan mengetahui segala hal tentang politik juga…. Cinta. Dan aku sadar, cinta yang dikenal yang mulia…. adalah sekretarisnya, Kim Jaejoong.

Aku memasuki pekarangan pavilion Jungseang. Entahlah, aku merasakan suasana yang aneh. Kelam, kaku…. dan tidak sehangat biasanya. Mungkin, karena keberadaan sekretaris Kim sejak semalam. Aku tahu adanya rasa saling bergantung di antara putra mahkota dan sekretaris Kim. Tapi tidak seharusnya mereka melakukan hal ini. Aku tidak berani menduga apa yang mereka lakukan hingga berakhir satu atap. Tapi demi Tuhan, salah satu dari mereka adalah seorang putra mahkota. Bahkan yang mulia raja belum pernah tidur bersama calon penurusnya tersebut.

"apa sekretaris Kim masih tertidur di dalam?"

Aku berhenti tepat di depan ketua dayang pavilion Jungseang. Wanita paruh baya tersebut menarik nafas sebelum menjawab pertanyaanku dengan sebuah anggukan. Aku menatap satu per satu semua dayang dan pengawal yang berdiri tertunduk. Sepertinya, mereka merasakan ketakutan yang sama. Aku menarik nafas. Bagaimana pun, aku harus melindungi putra mahkota.

"Dengarkan! Tidak boleh seorang pun dari kalian yang menyebarkan hal ini. Tidak ada seorang pun di luar pavilion Jungseang mengetahui hal ini. Siapa pun yang melanggar, akan dianggap berkhianat terhadap putra mahkota. Mengerti?!"

Satu per satu pengikut putra mahkota menganggukan kepala setelah mendengar perintahku. Ya Tuhan, aku sadar aku bukanlah orang yang berhak memberi perintah. Tapi, jika ini bias melindungi putra mahkota, aku rela diberi hukuman atas kelancanganku.

TAP!

Seorang pengawal berkuda memasuki pekarangan pavilion. Setelah turun dari kudanya, ia menghampiriku. Aku mengenalnya. Park Hyunbin, pengawal yang selalu menyampaikan perintah yang mulia raja. Ya Tuhan, Hyunbin memang sering mendatangi pavilion ini untuk menyampaikan pesan yang mulia raja kepada yang mulia putra mahkota. Tetapi, entahlah… kedatangannya kali ini membuat firasat burukku meningkat. Pesan apa yang ingin raja sampaikan sepagi ini?

"aku membawa pesan dari yang mulia raja"

Ucap hyunbin setelah memberi tunduk padaku. Aku pun mengangguk memahami kedatangannya.

"apakah itu pesan yang mendesak? Putra mahkota saat ini masih tertidur. Perlu aku membangunkan yang mulia?"

Sesungguhnya aku tidak benar-benar ingin membangunkan yang mulia. aku merasa tidak siap mengetahui apa yang terjadi di dalam sana.

"animnida. Kau tidak perlu membangunkan putra mahkota. Katakan juga kepada sekretaris Kim untuk tidak membangunkan putra mahkota. Yang mulia raja yang akan membangunkan putra mahkota"

DEG!

"mwo-mworago?"

Seketika tubuhku membeku. Apa maksud perkataan Hyunbin? Yang mulia raja… membangunkan putra mahkota? Ya Tuhan, aku bias merasakan ketegangan semakin menyelimuti pavilion Jungseang. Puluhan mata menatapku penuh kekhawatiran.

"yang mulia raja berkata, bahwa ia ingin membangunkan putra mahkota untuk yang terakhir kali sebelum putra mahkota menikah. Seharusnya, dalam waktu sepuluh menit lagi yang mulia raja akan tiba di tempat ini"

Ya Tuhan!

Apa yang harus kami lakukan?

Nafasku tercekat. Aku bias mendengar hembusan nafas berat keluar dari para dayang. Wajah panic mereka terlihat sangat jelas saat ini. Begitu kontras dengan wajar berseri milik Hyunbin. Bagaimana pun Hyunbin tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di pavilion tersebut. Baginya, kedatangan yang mulia raja tersebut adalah momen indah yang jarang terjadi.

Aku menatap pintu masuk pavilion Jungseang. Disana, di dalam pavilion, yang aku ketahui putra mahkota masih tertidur bersama sekretarisnya.

END POV.

5555555555555555555555555555 55555555555

The Great Boojae

Peviliun Jungseang

Author POV

Sreet.

Kim Jaejoong, sekretaris cantik itu membuka matanya perlahan. Pandangan pertama yang dilihatnya adalah ukiran tembok kertas yang berlapis perak. Ukiran yang indah dan mampu membuat rasa kantuk Jaejoong menghilang lebih cepat dari kilat.

DEG!

Ukiran perak?

Ya Tuhan, Jaejoong sangat mengenali ukiran perak tersebut. Ukiran tembok di kamar Jaejoong memang indah, tetapi tidak dilapis dengan perak seperti ini. Yang Jaejoong tahu, satu-satunya kamar dengan tembok kertas berukir perak…. Adalah milik putra mahkota.

Ya Tuhan!

Sekretaris Kim memperlebar mata bulatnya dan mencoba mengenali ruangan yang ia tiduri. Demi Tuhan, Jaejoong sama sekali tidak pernah berharap bias tidur di tempat seindah ini. Tapi… bagaimana bias? Bagaimana bias ia tidur di tempat ini? Di ruangan ini dan… di atas alas tidur ini? Ya Tuhan, Jaejoong merasa sangat lancang telah mengotori alas tidur orang yang sangat di agungkan seluruh negeri.

Perlahan, tangan Jaejoong berhenti mengelus alas tidur paling lembut yang pernah ia rasakan. Tubuhnya benar-benar menegang begitu menyadari ia hanya mengenakan pakaian dalam berwarna putih. Dan dalam sekejap, manic indahnya siap menumpahkan pasukannya. Bagaimana bias? Astaga! Kim Jaejoong, kau patut dihukum untuk ini. Bahkan Jaejoong merasa nyawanya pun belum cukup untuk menebus kelancangannya.

5555555555555555555555555555 5555555555

The Great Boojae

Pavilion Jungseang

TAP!

Iringan raja mulai memasuki pekarangan pavilion Jungseang. Semua dayang dan pengawal tertunduk begitu penguasa negeri bergabung di depan bangunan pavilion, entah sebagai rasa hormat atau sebagai wujud ketakutan mereka.

Pejabat Han berdiri mematung di tangga masuk pevliun. Manicnya mengosong merasakan tiap bulir keringat yang menetes di tubuhnya. Perlahan, matanya terpejam besamaan dengan tertelannya liur yang tercekat sejak tadi. Ia menyadari posisinya, dan mengutuk dirinya sendiri karena tidak bias melakukan sesuatu untuk putra mahkotanya.

Raja tersenyum kepada sekretarisnya sebelum melangkah memasuki pavilion.

"aku tidak sabar melihat wajah terkejut putra mahkota, aku harap putramu belum membangunkannya Hyunjoong-ah"

5555555555555555555555555555 5

The Great Boojae

Pavilion Jungseang

Sreeet.

Sekretaris Kim tersadar dari tangisnya begitu sepasang lengan mengerat di bagian pinggangnya. Sepasang tangan indah yang kehadirannya tidak disadari Jaejoong sebelumnya. Sepasang tangan indah indah yang ia kagumi selama ini dan sangat ia ketahui pemiliknya, putra mahkota Jung Yunho.

Hembusan nafas halus terasa menerpa beberapa anak rambut di kepala Jaejoong. Hawa hangat dan nyaman juga menyebar di tubuh bagian belakangnya. Ia bias mencium aroma tubuh seseorang yang sedang memeluknya dari belakang. Ya Tuhan, Jaejoong terlalu hina untuk berpikiran bahwa putra mahkota memeluknya. Bahkan bermimpi pun ia tak layak. Tapi sungguh, Jaejoong mengenali lekuk tubuh seseorang yang saat ini menempel dipunggungnya.

"Gwenchanseumnikka Joongie.… gwenchanseumnikka"

Suara berat terlontar dari bibir hati putra mahkota, sepertinya sang pangeran baru saja tiba dari alam mimpinya. Pelukannya sedikit mengerat menutupi detak jantungnya yang bergemuruh. Jaejoong, entah mengapa hatinya sedikit teduh mendengar suara pangerannya. Mungkin karena suara putra mahkota yang terdengar lembut, atau mungkin karena kata-kata yang dilontarkannya.

"jeo-jeoha…."

Hanya itu yang dapat dilontarkan Jaejoong dari bibir manisnya. Jujur saja, yang Jaejoong butuhkan saat ini adalah ketenangan, dan putra mahkotanya mengabulkan keinginannya melalui untaian kata-katanya barusan.

SREEKK!

Suara pintu kertas yang digeser membisukan ruangan dalam sekejap. Perlahan, Yunho dan Jaejoong melempar pandang ke asal suara. Yang mulia Raja. Demi Tuhan! Dua insan yang masih berbagi selimut tersebut berharap semua ini mimpi. Bahkan mereka rela jika pelukan hangat yang mereka lakukan saat ini merupakan mimpi belaka, mereka rela, asalkan saat ini mereka dapat terbangun. Terbangun di tempat tidurnya masing-masing dan di ruangan mereka sendiri.

"jeo-jeona…."

Putra mahkota Jung Yunho, suaranya sedikit tercekat ketika memanggil ayahnya dengan panggilan kehormatan. Suaranya begitu lirih, namun dapat terdengar jelas, sangat jelas mungkin hingga ke pelosok istana. Seketika, pangeran negeri ini terduduk dari tidurnya. Merasakan setiap ketegangan yang menjalar di tubuhnya. Ini…. Bukan pertanda yang baik.

Sekretaris Kim Jaejoong menyibak selimutnya. Dengan sigap, namja bertubuh kecil itu bersujud di hadapan sang penguasa negeri. Ya Tuhan, dia baru saja merasakan sebuah ketenangan, namun dalam sekejap semuanya berbalik. Tubuhnya bergetar penuh ketakutan di atas lantai kayu. Air matanya berurai dari manic besarnya. Selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya rela menerima hukuman karena mendapat perlakuan istimewa dari pangerannya. Tapi sungguh, dia tidak benar-benar siap menerima hukuman atas sikap lancangnya.

"jeo-jeona…. Jeona… jeo-jeosonghamnida…. Jeongmal jeosonghamnida jeona…"

Dengan terbata, Jaejoong memohon pengampunan di sela tangisnya. Entahlah, dia tidak benar-benar tahu untuk alasan apa ia memohon pengampunan. Ia sadar akan kesalahannya, tapi sungguh, bukan ia yang menginginkan kesalahan itu terjadi. Perlahan, isaknya terdengar semakin jelas, menyayat siapa pun yang mendengarnya. Pandangannya mengabur, entah karena tertutup genangan air mata atau tertutup bayangan hukuman yang akan ia terima.

Nampaknya ketegangan tidak hanya menguasai diri Jaejoong dan Yunho. Jung Ilwoo, orang nomor satu di negeri ini masih terdiam membeku di depan pintu. Pandangannya tak lepas dari sang pangeran. Niat baiknya membangunkan anak tersayang harus diruntuhkan dengan pemandangan yang tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya. Putranya, sang penerus tahta, tidur berpelukan dengan sekretarisnya. Demi Tuhan, keduanya sama-sama seorang namja! Apa yang mereka lakukan? Bagaimana mungkin ini semua terjadi?

Kilat amarah tercetak tebal di manic musang sang Raja. Hatinya sakit, sangat sakit. Bukan karena niat baiknya terhalangi. Tapi karena rasa kecewa yang amat besar menggencatnya. Raja merasa sangat dikhianati. Dikhianati oleh anaknya sendiri dan oleh seseorang yang sudah dianggapnya seperti anak.

Tidak berbeda dengan sang penguasa negeri. Di belakangnya, seseorang yang selalu mendampingi sang raja merasakan keterkejutan yang amat sangat. Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Kata-kata itu terus berputar dalam benaknya, mewakili bibirnya yang kelu dan membisu. Manicnya berkaca menatap sang anak bersujud memohon ampun kepada sahabatnya, yang mulianya. Demi Tuhan! Ini pemandangan yang sama sekali tidak diharapkannya. Setidaknya, dia berharap orang yang bersujud di kaki raja saat ini bukanlah putranya, kebanggaannya.

Sreet.

Putra mahkota berlutut di depan yang mulia raja. Ia sadar betul, bukan Jaejoong yang bersalah di sini. Semua yang terjadi selama ini atas kehendaknya, keinginannya dalam memenuhi penasaran dan nafsu. Ia menyesal, sangat menyesal. Ia seperti menyeret sekretarisnya ke lintasan kematian. Demi apapun, ia tidak bias memaafkan dirinya jika pendampingnya ini menanggung kesalahannya.

"jeona…. Sekretaris Kim tidak bersalah. Ini semua-"

"—penjarakan dia"

DEG!

Sebuah kalimat singkat dari sang raja mampu menghentikan pergerakan di ruangan itu. Tak ada yang bias mengungkap ketegangan yang ada, hanya air mata yang terus mengalir di wajah putra mahkota dan sekretarisnya yang mampu menggambarkannya.

Perlahan, sang raja berbalik. Ia tidak sanggup menatap wajah terlemah yang pernah di tunjukan putranya selama ini. Dengan langkah berat, ia melangkah. Ia harap, kenyataan juga pergi beriringan dengan langkahnya, tapi tidak mungkin. Kenyataan tetap kenyataan.

TAP!

Langkah sang raja terhenti tepat di samping pendampingnya. Dari sudut matanya, ia dapat melihat raut keterkejutan sahabatnya itu. Ia sama sekali tidak bermaksud membuat sahabatnya kecewa seperti saat ini. Tapi sungguh, kekecewaan yang ia terima jauh lebih besar. Bagaimana pun, kepercayaan yang ia berikan kepada anak sahabatnya itu sangat besar, sebesar rasa percayanya kepada sekretarisnya itu. Biarlah egonya sedikit memimpin saat ini, hatinya…. benar-benar terluka.

"….penggal kepalanya"

.

.

.

TBC

555555555555555555

a/n : sorry banget untuk update yang supeeeer lama :D gegara FD hilang, jadi males nulis ulang, baru sekarang bias dilanjut hehe –V

Thanks to:

blackwhite28, SparKSomniA0321, Yuri Choi, BooFishy, LawRuuLiet, jae ah, heeli, okoyunjae, kim nana, thepaendeo, Nara-chan, V, grth, Aoi Ko Mamoru, meirah.1111, Haiiro-Sora, wiendzbica, putryboO, sicca nicky, Momo Dwi98 Casshipper, lipminnie, xxruuxx, shine, Aaliya Shim, Papam, bocah ilang, KishiZhera, Silver Bullet 1412, saltybear, BabyISwear, yunjae, Dei Yunjae