.
Title :
I'm Mama and You're Papa
Genre :
Hurt, romance
Rate :
M
Main Cast :
- Jung Yunho
- Kim Jaejoong
Supporting Cast :
- Kim Dong Wan (SHINHWA)
- Kim Yeon Ji (SeeYa)
- Kim Hyun Joong (SS501)
- Jung Ji Hoon ( Rain)
- Jung Yoon Hye (Rainbow)
- Jung Soo Yeon (Jessica SNSD)
- Choi Seung Hyun (TOP BigBang)
- Ok Taecyeon (2PM)
- Yang SeungHo (MBLAQ)
- Hyo Ahjumma
- Lee SoonKyu (Sunny SNSD)
- Kwon Yuri (Yuri SNSD)
- Choi SooYoung (SooYoung SNSD)
- Im Yoona (Yoona SNSD)
- Go Ahra
Warning :
GenderSwitch! Ceritanya ini diadaptasi dari manga "Nan Eomma Nun Appa" karangan Hwang Mi-Ri. Saya disini hanya menjadikannya sebuah FF, ada beberapa bagian yang saya kurangi maupun tambahkan. Sesuai dengan keperluan cerita. Saat saya membaca ini, saya malah ngebayangin jika itu Yunho dan Jaejoong, jadilah saya membuat FF ini. hehe.
Yang mau baca silahkan, yang nggak juga silahkan. Yang protes, ya silahkan. :3
But, I hope you like it ~
.
.
Chapter 7.
.
Di kantor sipil sudah terlihat Ny. Jung yang sedang mengerjakan sesuatu di laptop seraya menunggu Jaejoong dan Changmin.
"Nyonya, mereka telah tiba," ujar Nam, pengawal Ny. Jung.
"Mengapa anak muda seperti kau datang terlambat? Mengapa kau tidak datang lebih cepat?" tanya Ny. Jung sarkatis.
Jaejoong jadi merasa tak enak pada Ny. Jung. "Aku minta maaf. Aku telat karena jalannya berliku-liku."
Ny. Jung melepaskan kacamatanya, memandang kearah Jaejoong. "Mengherankan. Bagaimana bisa seorang perempuan kumuh sepertimu itu, tau jalan di Gangnam?"
Jaejoong menanggapinya dengan senyum. Namun, sesaat ia memandang sekitar seolah mencari seseorang. "Tapi, dimana dia?" Ia menatap Ny. Jung. "Hmm, maksudku Jung Yunho."
"Tentu saja anakku berada di sekolah." Ny. Jung beranjak dari duduknya menuju bagian resepsionis.
"Adakah yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya petugas itu dengan ramah.
"Aku ingin membuat akta kelahiran untuk bayi ini."
"Dia pasti cucu Anda. Sangat lucu." Petugas itu masih tersenyum pada Ny. Jung, sedangkan Ny. Jung hanya mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya.
Petugas itu memberikan formulir untuk diisi oleh mereka. "Tolong, isi formulir ini terlebih dahulu, Nyonya."
Ny. Jung segera menatap Jaejoong dengan ketus. "Apa yang kau lakukan? Isilah dengan cepat!"
"Eomma," lirih Jaejoong.
"Itu lagi!" Ny. Jung masih tidak suka jika dipanggila dengan panggilan 'eomma' oleh Jaejoong.
Jaejoong sedikit terkejut dengan sentakan Ny. Jung, tetapi ia tidak ingin terlalu memikirkannya. "Apakah kita tidak mendaftar pernikahan terlebih dahulu?"
Ny. Jung menatap Jaejoong tajam. "Berapa umur kalian, untuk mendaftar pernikahan? Huh!"
"Hmm…"
"Jika kau tidak lulus kuliah, maka tidak ada cara lain yang akan terjadi. Dan lagi, hari orang-orang mendaftarkan pernikahan mereka ketika mereka sudah menikah. Mereka hidup bersama dan setelah itu baru mendaftarkannya." Ny. Jung terlihat sebal pada Jaejoong. "Kau tidak tahu apa-apa tentang Yunho. Jika kau ingin mendaftarkan pernikahan kalian padahal kau tidak menyukai Yunho dan setelah itu kau ingin bercerai dengannya. Kemudian kalian mendaftarkan perceraian kalian, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Jaejoong terlihat resah. "Bagaimana dengan Changmin?" Dilihatnya anak semata wayangnya itu dengan saksama, Changmin sedang tertidur pulas dalam gendongannya.
"Dia akan memakai nama anakku, tetapi jika kalian berdua mendaftar pernikahan kalian, kita bisa mengubahnya."
"Aku tidak berpikir bahwa kita harus melakukan hal itu."
Ny. Jung menatap sinis kearah Jaejoong kemudian beranjak dari tempat itu. "Ikuti aku."
Jaejoong terlihat ragu, tetapi ia pun tetap mengikuti Ny. Jung ke sebuah restoran yang tak jauh daerah kantor catatan sipil.
Ny. Jung duduk di salah satu kursi-meja disana, sedikit memojok agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Jaejoong duduk tepat di samping ibu Jung Yunho itu.
"Apa kau bahagia dengan semua ini? Huh! Sekarang kau harus meninggalkan semua ini!" teriaknya kesal. Jaejoong terlihat terkejut akan teriakan Ny. Jung.
Ny. Jung mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. "Uang ini cukup untuk membeli apartemen di daerah Gangnam untuk kkeluargamu, jadi ambilah uang ini dan keluar dari rumahku. Jangan pernah berpikir untuk mengemis perhatian dari anakku lagi!" Ia tersenyum sinis pada Jaejoong.
"Eomma, apa yang kau bicarakan?" lirih Jaejoong. Ia memandang Ny. Jung dengan wajah ketakutan.
Ny. Jung kembali tersenyum sinis. "Apa kau pikir jika Yunho dan dirimu sama? Dari kau lahir, kau sudah rendah tidaklah sama dengan anakku." Ny. Jung beranjak dari duduknya, hendak keluar dari restoran itu. Sesaat ia kembali memandangi Jaejoong. "Jika kau menginginkan uang itu, ambillah dan segera pergi. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"
Setelah ia berkata seperti itu, ia segera meninggalkan Jaejoong bersama bayinya itu. Tanpa menoleh lagi ke belakang. Jaejoong menatap kepergian Ny. Jung dengan wajah yang tak bisa diartikan. Ia menghela napasnya panjang, kemudian memandang amplop yang berisi uang itu. Tangannya terjulur untuk mengambil uang itu.
'Uang ini sangat membantu kebutuhan orang tuaku, lagipula mereka terlihat baik-baik saja tanpaku.'
…
Soo Yeon terlihat sedang menikmati makan siangnya bersama dengan para sahabatnya itu. Jam istirahat memang telah tiba sehingga mereka memutuskan untuk makan di kantin.
"Aku dengar perempuan itu mengemis untuk tetap tinggal di rumahmu untuk bersama Yunho oppa dan kalian mengusirnya," sahut Choi Soo Young seraya memasukkan makanan ke mulutnya.
"Apa yang terjadi? Sudahkah kalian menelepon polisi?" tanya Lee Soon-Kyu.
"Yeah. Itu benar. Dan test DNA itu menunjukkan jika bayi itu benar anaknya Yunho oppa. Meskipun ia adalah kakakku, aku tetap merasa kecewa padanya," ujar Soo Yeon santai.
"Apa? Jadi bayi itu benar anaknya Yunho oppa? Tidak mungkin!" teriak Soon-Kyu tak percaya.
"Dan mulai sekarang, Yunho oppa tinggal bersama perempuan itu." Kwon Yuri menyimpulkan dari apa yang dia dengar tadi dari Soo Yeon.
Soo Yeon hanya tersenyum malas pada mereka. "Harabeoji yang menginginkannya. Aku pikir mereka akan tinggal bersama tapi Eomma tetap menolak perempuan itu. Jadi, Eomma tidak akan membiarkan mereka untuk mendaftarkan pernikahan mereka." Soo Yeon menatap Soon-Kyu. "Bagaimana denganmu, Soon-Kyu? Bukankah kau menyukai Yunho oppa selama 2 tahun ini, dan sekarang semua sia-sia."
"Hmm…" Soon-Kyu terlihat hampir menangis.
"Jangan khawatir! Perempuan itu akan segera diusir dari rumah kami," ucap Soo Yeon bersemangat. "Sudahlah, jangan membicarakan hal itu lagi." Soo Yeon mengangkat tangannya seraya memanggil penjaga kantin. "Lima hokbukki disini, please."
"Lagi?" tanya Yuri dan Soo Young bersamaan. Mereka memang tahu jika Soo Yeon sangat suka makan, tetapi mereka tidak bisa membayangkan jika Soo Yeon masih ingin makan lima piring hokbukki.
Sedangkan Soon-Kyu terlihat khawatir, bukan tentang Soo Yeon yang memesan banyak hokbukki tetapi kakaknya Soo Yeon. Ia sudah lama menyukai lelaki bermata musang itu sejak lama, dan ia ingin bersama lelaki itu.
..
Ny. Jung memasuki rumahnya dengan semringah. Tetapi kemudian terdiam ketika ia melihat Jaejoong masih ada di rumahnya ini.
"Selamat datang, Eomma," ucapnya sangat ramah seraya tersenyum manis pada Ny. Jung.
"Yah! Kau…" Ny. Jung tidak melanjutkan perkataannya. "Ternyata dia belum juga pergi dari sini."
Ny. Jung menyuruh Jaejoong untuk ke kamarnya, ia ingin membicarakan hal ini lagi pada Jaejoong. Ia benar-benar tak ingin jika Jaejoong berada dirumah ini.
Jaejoong yang sedari tadi memegang amplop yang berisi uang itu, meletakkan uang tersebut ke atas meja. "Aku ingin mengembalikan uang ini. Aku tidak bisa membiarkan Appa-nya Changmin berada jauh darinya. Bila Anda tidak menerimaku maka aku akan mencoba menjadi yang terbaik." Jaejoong masih berusaha untuk membuat Ny. Jung menerima dirinya dirumah ini. "Aku akan belajar lebih keras lagi dan menjadi menantu yang sempurna! Tolong beri aku kesempatan." Jaejoong menundukkan tubuhnya memohon agar Ny. Jung memberinya kesempatan.
Ny. Jung hanya mengalihkan pandangannya dari Jaejoong, mendengus dan terlihat berpikir.
…
Jaejoong membuka pelan pintu kamar bayinya itu. Ia berjalan kearah ranjang sang bayi, kemudian menyentuh hidung bayi mungilnya itu. Ia duduk di karpet dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh bayinya.
"Tidak ada yang berpihak pada kami, kecuali harabeoji, ne? Tapi kita harus mencoba yang terbaik. Itu memang akan memakan waktu lama tetapi jika waktu itu datang maka mereka akan menerima kita." Ia tersenyum pada buah hatinya itu.
Ia tidak akan menyerah agar keluarga ini menerima mereka berdua terutama Yunho.
…
Di sebuah bar yang cukup ramai, terlihat Jung Yunho dan teman-temannya berada di dalam sebuah ruangan. Ada dua perempuan di dalam ruangan itu. Mereka terlihat berbincang satu sama lain.
"Jadi, kau akan tinggal bersama perempuan itu karena kakekmu?" tanya Taecyeon. "Dia sangat mencurigakan. Bagaimana mungkin dia melahirkan secara diam-diam."
"Kapan ia melahirkan? Mengapa ia tidak mengatakannya?" tanya SeungHo sedikit keras.
Sedangkan Yunho hanya meminum birnya dengan santai. Meletakkan gelas itu. "Aku pasti akan membuatnya keluar dari pintu rumahku dan takkan kubiarkan ia kembali lagi."
"Aku ingin melihat perempuan. Suruh dia kesini," sahut Im Yoona yang penasaran.
"Benar, suruh dia kesini." SeungHyun menyetujui permintaan Yoona itu.
"Buat apa? Aku tidak suka melihat perempuan itu," ucap Yunho ketus seraya mengeluarkan asap dari mulutnya.
"Bukankah kau ingin mengerluarkan dia dari rumahmu? Dan kami akan membantumu." Taecyeon terlihat bersemangat.
"Hmm.." Yunho tersenyum penuh arti.
…
Tadi Changmin sempat terbangun, dan dengan cepat Jaejoong menenangkannya dan membuat Changmin kembali tidur. "Syukurlah, ia tertidur dengan cepat."
Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi cukup nyaring. Membuat Jaejoong kaget, ia segera mengambil ponsel itu dan mengangkat telepon dari seseorang.
"Yeoboseyo?"
"Apa yang kau lakukan?"
"Ini siapa?"
"Yunho."
"Yunho? Darimana kau tahu nomorku?"
"Aku bertanya pada wanita tua yang keriting itu."
"Wanita tua keriting?"
"Datanglah ke Rising Pub sekarang juga. Telepon aku jika kau sudah sampai."
Setelah perkataan itu Yunho langsung menutup teleponnya. Jaejoong menatap ponselnya, merasa curiga dengan Yunho. "Aku merasakan hal yang buruk tentang ini."
Tapi Jaejoong tetap menuruti perkataan Yunho itu. Ia pun mencari taksi untuk mengantarkannya ke tempat yang dimaksud oleh Yunho.
…
Tak berapa lama, Jaejoong telah sampai di tempat itu. Ia mencari ruangan yang tadi sempat dikatakan oleh Yunho saat ia menelepon lelaki itu. Dengan ragu Jaejoong membuka pintu itu.
Terlihat teman-teman Yunho dan dua orang perempuan disana.
"Dia datang," sahut Taecyeon.
"Masuklah," ucap SeungHo menyuruh Jaejoong untuk masuk.
"Ah ya." Jaejoong pun memasuki ruang ini, sejenak ia menatap Yunho. Ia memilih duduk di kursi yang letaknya tidak terlalu jauh dari Yunho.
'Mereka seperti tahun lalu, seperti Jung Yunho. Tidak ada yang berubah dari mereka.' Terdengar derai tawa dari dua orang perempuan yang ada disana, 'Siapa mereka? Mereka sangat cantik.' Jaejoong menundukkan kepalanya. 'Aku harus lebih memedulikan penampilanku terlebih dahulu.' Jaejoong terlihat tidak percaya diri saat melihat kedua prempuan itu.
"Aku ingin mengetahui tentangmu. Mari minum." SeungHo tersenyum pada Jaejoong.
"Ah, maaf. Aku tidak ingin minum."
"Hanya satu gelas saja, tidak akan membunuhmu. Tahun lalu, kau minum lebih dari ini."
Jaejoong memandang gelas kecil yang sudah berisi bir, yang dituangkan oleh SeungHo. Tiba-tiba ia teringat kejadian tahun lalu, membayangkan saja sebenarnya ia tak mau.
"Berhentilah minum," sahut Yunho. Bukan pada Jaejoong tapi perempuan yang duduk tepat di sampingnya, Go Ahra.
"Ah, kau peduli padaku?" tanya Ahra senang. Karena sebenarnya ia memang mencintai lelaki di depannya ini.
Jaejoong yang melihatnya hanya mendengus kesal dan menundukkan kepala.
"Mari berteman. Dia adalah kekasihku, Im Yoona." SeungHyun memperkenalkan Yoona pada Jaejoong.
"Hai, salam kenal, ya. Umurku 29 tahun, sama dengan usianya Yunho," Yoona tersenyum manis pada Jaejoong.
"Aku Go Ahra." Perempuan yang duduk di samping Yunho itu memperkenalkan diri.
"Hai." Jaejoong menyambut hangat mereka. 'Jadi, nama perempuan bernama Ahra ini pacar Yunho?'
"Tahun lalu, kau terlihat kurus dan sekarang kau terlihat sedikit berisi," sahut Taecyeon seraya memandang Jaejoong.
"Bagaimana mungkin kau mengingat tentang dirinya seperti saat itu?" tanya SeungHo pada Taecyeon.
"Ah, aku memang sedikit berisi sekarang," lirih Jaejoong. 'Kalian seharusnya mencoba melahirkan bayi.'
"Aku ingin melihat wajah bayinya. Jika dia mirip Yunho, dia pasti ganteng," sahut Taecyeon semringah.
"Mereka sangat mirip," jawab Jaejoong.
"Dia tidak mirip sama sekali denganku. Aku pikir dia mirip ikan," ucap Yunho saat mendengar perkataan Jaejoong.
"Ikan?" tanya Taecyeon bingung.
"Hahaha. Dia bercanda," tawa Jaejoong malas.
"Jadi kau harus membersihkan pantatnya? Jika itu menempel pada tanganku.. ew, sangat menyebalkan," Taecyeon tidak bisa membayangkannya.
"Saat dia berumur dua tahun, dia sudah bisa pergi ke toilet sendiri. Pabo," SeungHo menanggapi perkataan Taecyeon itu.
Jaejoong hanya menatapi dua lelaki itu, pikirnya mungkin mereka akan mengerti jika nanti mereka sudah memiliki anak.
"Ada sesuatu di wajahmu," ucap Yunho seraya menatap Ahra.
"Dimana?"
"Disini," tiba-tiba Yunho memegang pipi kiri Ahra. Mendekatkan wajahnya pada wanita itu, kemudian mengulum bibir yang sedikit terbuka.
"Dapatkah kita melakukan seperti mereka?" tanya SeungHyun pada kekasihnya itu.
"Aku tidak suka itu," teriak Yunho kesal.
"Mereka melakukannya lagi," ucap Taecyeon.
"Apa tidak apa-apa melakukan itu di depan banyak orang?" tanya SeungHo.
Jaejoong hanya diam saat melihat adegan itu, ada rasa sakit di hatinya. Tetapi ia tidak mau ambil pusing. Dia mengambil gelas berisi bir yang tadi, dan meminumnya dengan cepat.
"Sudah bersih," ucap Yunho menatap perempuan itu lagi.
"Aku tidak ingin berhenti, aku ingin lagi," ia tersenyum malu pada Yunho.
'Bagaimana bisa mereka berciuman di depanku? Sangat menyebalkan,' Jaejoong kembali menuangkan bir ke dalam gelasnya dan meneguknya. 'Tidak! Aku harus mencobanya. Mungkin jika aku meminum lebih banyak, aku akan mendapat perhatiannya. Bagaimanapun dia membenciku, aku tetaplah ibu dari anaknya itu.'
Jaejoong kembali menuangkan bir secara terus menerus. Yunho cukup terkejut melihat tingkah Jaejoong itu, tetapi ia pun sama sekali tidak menghentikan Jaejoong.
Pukul 9 malam. Dan mereka masih berada di bar.
Tiba-tiba ponsel Jaejoong bordering. "Aku harus keluar sebentar untuk mengangkat telepon ini," ucapnya pada SeungHo dan Taecyeon.
"Baiklah," SeungHo menganggukkan kepala.
…
"Ya, aku mendengarkannya,"
"Changmin terbangun namun sekarang sudah kembali tertidur. Saya harus pulang sekarang. Kapan kau akan pulang?" tanya seseorang di sebrang telepon.
"Aku akan balik sekarang. Terimakasih, Hyo ahjumma."
"Oke, sampai jumpa nanti."
Jaejoong menutup teleponnya. "Aku tidak tahu kapan ia terbangun lagi, jadi aku harus pulang sekarang."
…
Jaejoong memasuki ruangan itu kembali, mengambil tasnya. "Apa yang harus aku lakukan? Aku akan pulang ke rumah sekarang," ia tersenyum simpul pada orang-orang yang ada di dalam.
"Mengapa begitu cepat?" tanya Taecyeon.
"Baiklah, sampai jumpa lain waktu," sahut SeungHo seraya tersenyum pada Jaejoong.
"Ya."
Tiba-tiba Yunho bangkit dari duduknya. "Aku juga akan balik sekarang."
"Kalau begitu, kita juga harus balik. Aku juga mulai mengantuk," ucap Taecyeon.
"Baiklah," sahut SeungHo.
Akhirnya mereka pun keluar dari bar dan menuju ke depan bar. Taecyeon, SeungHo, SeungHyun dan Yoona berpamitan pada mereka. Dan sekarang yang tertinggal hanya Jaejoong, Yunho dan Yoona.
Jaejoong sedang menunggu taksi, yang tadi sudah di teleponnya. Sedangkan Yunho dan Ahra menunggu taksi yang lewat di depan mereka.
Jaejoong tersenyum ramah pada Ahra, "Dimana kau tinggal? Berbeda daerah dengan mereka?"
"Di daerah yang sama dengan mereka," jawabnya.
Jaejoong terlihat bingung akan jawaban Ahra itu, "Jadi, mengapa kau tidak pergi dengan mereka?" tanyanya.
Tapi Ahra tak menjawabnya. Dan, tak berapa lama, taksi yang ditelepon Jaejoong tadi telah tiba. Namun, sebelum Jaejoong membuka pintu, Yunho sudah membuka pintu terlebih dahulu dan mempersilahkan Ahra untuk masuk ke dalamnya. Mereka pun meninggalkan Jaejoong seorang diri di depan bar itu.
"Apa yang sedang terjadi disini," lirihnya.
…
Setelah menunggu sekian lama, akhirnya Jaejoong sudah tiba di rumah. Tepat pukul 11 malam.
'Jahat! Memandang padaku. Brengsek! Kau pikir aku akan menyukaimu? Walau 100 tahun pun, jangan bermimpi tentang hal it.' Jaejoong sedang bermain dengan batinnya, merutuki tingkah Yunho tadi saat di bar.
Tanpa terasa Jaejoong tertidur dengan posisi duduk dan menelungkupkan wajahnya di diantara dua kakinya yang ditekuk. Namun ia terbangun saat mendengar suara tangga, ia segera melihat jam di ponselnya. Pukul 2 pagi. Untung Changmin masih tertidur dengan nyenyak.
Ia pun segera keluar kamar untuk mencari asal bunyi tersebut. Saat ia membuka pintu kamar, ia melihat Yunho sedang membuka kamarnya. Sepertinya lelaki itu baru pulang.
Yunho terlihat kaget dengan keberadaannya Jaejoong, "Kau belum pergi dari sini juga?" tanyanya sinis.
"Oh, jadi seperti itu. Kau ingin mengusirku dengan caramu, dan kau memanggilku ke bar itu?"
"Jangan terlihat bodoh! Aku bukanlah orang yang baik," Yunho terlihat kesal dengan Jaejoong dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.
"Hanya melihat wajahmu saja sudah ingin membuatku meninggalkan rumah ini," gerutunya di depan kamar Yunho. "Aku tetap memiliki alasan untuk tidak meninggalkan rumah ini. Dan itu semua karena Changmin!"
.
.
.
to be continued
.
please review ~
.
ps: untuk chap 8 mungkin akan aku update besok atau lusa, tunggu saja ya. hehe. oya, baca juga FF yang lain jika berkenan. judulnya "You're My Miracle" tentang YunJaeYooSuMin dan "When HoMin and JYJ meet in Running Man." tentang TV5XQ tentu saja. hehe
terimakasih juga buat yang follow, favorite dan review cerita ini.
.
.
- Guest : yeay. hehe ada udang di balik batu ya?
- leeChunnie : apalagi di chap ini, Yunho benar-benar menyebalkan.
- jaejae : bener, saya juga pernah baca manga yang sudah disadur terus baca versi aslinya. kurang dapat feelnya. hehe. Aamiin, kasihan mereka kalau dicincang.
- Ai Rin Lee : ini sudah di update. hehe
- .96 : iya, nih kasihan si Jaejoong
- Anggunyu : sudah.
- Dhea Kim : menggunakan nama Jung kok. hehe. ini sudah dilanjut.
- : karena yunho memang nggak suka dengan mereka makanya ngasi nama asal-asalan seperti itu. ini sudah dilanjut :)
- rinayunjaerina: Aamiin.. :)
- Rechi: saya juga suka. iya nih kasihan si Jaejoong. yuhuu, ini sudah di lanjut
- Guest : iya, apalagi di chap ini. Yunho jahat. Aamiin.
- fuyu cassiopeia: iya tuh, jahat Yunho. hehe
- exindira: ini sudah diupdate. hehe
- JungKimCaca : salam kenal juga :) ini sudah dilanjut
- shanzec: kesal sama keluarga kedua belah pihak kecuali Jung harabeoji
- .562: teriamaksih ya. jaejoong memang memberi asi pada changmin kok. ada sendiri kok bagian dimana yunho tanpa sengaja melihat changmin menyusui jaejoong. hehe
- Narita Putri :iya sedih, walau masih drama banget. hehe. mungkin di ending tentang versi komik tetapi memakai kata-kataku soalnya di volume 8-18 masih menggunakan bakor. heh
- jaejung love : udah di update nih. hehe :)
- hyejeong137 : yup, nggak apa-apa kok. ini sudah dilanjut.
.
.
