Tahukah kamu apa itu neraka? Neraka adalah saat kau terjebak janji sehidup semati dengan orang yang tak kau cintai sama sekali. Dan orang yang kau cintai berdiri di hadapanmu tanpa bisa kau raih lalu ia berpaling.


Disclaimer : Naruto belong to Masashi Kishimoto Senpai. I Just own this story.


Aku Uchiha Sasuke, pria terbodoh didunia. Pria bodoh yang membiarkan gadis yang dicintainya menangis terisak dalam dekapanku. Tubuhnya bergetar karena menahan isak tangisnya. Pengakuan Naruto cukup membuatku tertegun. Aku tak pernah tahu dia menyukaiku, atau mungkin aku yang tak pernah menyadari tanda-tandanya. Aku tersenyum getir, mencoba menenangkan Naruto yang ada di pelukanku. Meski sebenarnya aku sendiri juga butuh untuk ditenangkan.

"Baka, baka, baka… Sekarang apa yang harus aku lakukan, Sasuke brengsek" ucapnya lirih masih memukul dadaku pelan. "Aku mencintaimu tapi tak bisa memilikimu, aku bisa menyentuhmu tapi tak bisa meraihmu. Kalau saja kau mengatakan cintamu saat itu beberapa jam sebelumnya, sudah pasti aku akan kabur dari sana. Tapi, kenapa kau begitu lemah dan tak berani mengatakannya. Dan sekarang kita bertiga tersiksa karena cinta ini. Kau menyakiti aku, dan aku menyakiti kakakmu yang begitu baik padaku. Sekarang apa jalan keluarnya untuk semua ini"

"Ini memang sudah terjadi, dan tak ada jalan keluar untuk kita. Jalani saja pernikahanmu dengan kakakku, lupakan cintamu padaku dan berbahagialah. Maka aku pun akan bahagia untukmu" bisikku dengan air mata yang entah sejak kapan mengalir di pipiku. Untuk malam ini saja aku izinkan Naruto untuk melihat tangisku. Dia masih memelukku, membenamkan seluruh wajahnya di dadaku. Suara pilunya terus terdengar seperti rekaman kaset rusak yang terus mengulang.

"Tahukah kamu apa itu neraka, Sasuke?" suara serak Naruto kembali terdengar, aku diam tak tahu harus menjawab apa, ia mengangkat wajahnya dari dadaku dan menatap jauh kedalam mataku. "Neraka adalah saat kau terjebak janji sehidup semati dengan orang yang tak kau cintai sama sekali. Dan orang yang kau cintai berdiri di hadapanmu tanpa bisa kau raih lalu ia berpaling, lalu pergi menjauh untuk menghindarimu, hebat bukan, dan sialnya itu terjadi padaku." Ungkapnya setengah menggeram, kata-katanya terlalu menyakitkan untuk ku dengar. Apa dia sebegitu menderitanya? Tapi aku menjauh untuk kebahagiaannya, apa aku memang sudah salah langkah dari awal?

"Sekarang kau mau apa, Naruto?" tanyaku dan meraih wajahnya, menatap matanya tajam.

"Pertanyaan bodoh, kau tahu itu Sasuke. Kau adalah yang aku mau, tapi terlambat. Apalagi sekarang." ucapnya dan semakin merapatkan wajahnya padaku. Bersama dengan Naruto aku ikut memajukan wajahku, mengeliminasi jarak antara aku dan dia menyatukan kedua bibir kami. Naruto melumat bibirku lembut dan ku balas ia dengan kelembutan yang sama, tapi aku tak merasakan manis sedikit pun dari ciuman ini. Aku merasakan betapa pahitnya ciuman ini, tidak ada perasaan indah sama sekali. Ciuman ini membuat semua luka tersalurkan, lumatan bibirku pada bibir Naruto pun seiring dengan jatuhnya air mata Naruto, dan gadis itu terisak dalam ciuman kami.

"Hiks, kau boleh menganggapku rendahan setelah ini. Tapi aku tak menyesal sama sekali bisa bersamamu" dan kembali ia menciumku, ciuman kebutuhan yang selama ini aku dan dia tahan karena kebodohan kami yang tak pernah saling mengaku cinta. Saat ciuman kami mulai berubah panas, aku menghentikan semua kegilaan ini dengan paksa, aku memang mencintai Naruto tapi dia adalah istri kakakku. Kulihat Naruto memandangku penuh luka, lalu tangannya merapikan kembali pakaiannya yang kusut dan berdiri membelakangiku.

"Sebenarnya, aku ingin untuk malam ini saja kau miliki Sasuke, hanya untuk malam ini. Tapi sepertinya harapanku terlalu berlebihan, aku sadar aku siapa. Aku sudah terikat dan tak pantas lagi untukku menjalin harapan bersama orang lain. Maafkan aku dengan semua kesalahan ini, ini memang tak seharusnya terjadi. Permisi" ucapnya dan hendak keluar dari kamarku. Aku segera meraih tangannya dan melihat matanya yang tengah berlinangan air mata. Kuraih tubuhnya dan kudekap erat-erat. Perlahan hangat tubuh Naruto menjalar di tubuhku, dan kupandangi wajah cantik yang biasanya selalu tersenyum lima jari itu, kini terlihat lusuh dan kusam. Ku cium kelopak matanya yang masih mengeluarkan air mata, dan Naruto pun memejamkan matanya. Kucium seluruh wajahnya dengan lembut, mulai dari kedua matanya, keningnya, pipinya, hidungnya, lalu terakhir bibirnya. Naruto pun menyambut ciumanku dengan gesit, dan hal itu membuatku teringat fakta bahwa Naruto pasti telah disentuh oleh Itachi. Tak ingin hal itu terlalu menggangguku aku pun melanjutkan ciuman kami. Dan saat itulah semua rasa yang ada padaku dan Naruto tersalurkan. Betapa kami saling merindukan satu sama lainnya dan betapa kami terluka karena cinta yang tak saling bersambut ini. Tak menyadari jika ada seseorang di luar pintu yang berdiri dengan kaki yang mulai goyah mendengar setiap kata yang terucap dari dalam kamar ini.


Paginya aku terbangun dengan perasaan tak menentu dalam diriku, haruskah aku senang, sedih, atau apa? Kenyataan kalau Naruto mencintaiku tentu tak akan berdampak apa pun pada kehidupan kami. Ia akan tetap menjadi seorang istri dan Uchiha Itachi, dan kejadian setelahnya cukup membuatku sakit kepala. Aku telah menyentuh istri kakakku, cukup sudah title lelaki brengsek untukku. Aku mengacau untuk sebuah pernikahan yang baru seumur jagung. Sasuke bodoh, harusnya kau sadar lebih awal sebelum bertindak. Kenapa kau selalu menyesali apa yang kau lakukan di saat terakhir, apa benar kau jenius?

Suara langkah kaki kudengar mendekat, aku menyibak selimut yang ku gunakan. Sebuah boxer hitam untunglah masih terpasang di tubuhku. Pintu di buka dan kakakku masuk dan berjalan mendekatiku setelah sebelumnya menutup pintu kamar.

"Huft, lihat otouto hari sudah siang dan kau masih bersemedi di kamarmu. Kau tahu ibu sangat khawatir karena kau tak kunjung turun untuk sarapan." Lalu ia berpaling menatap jendela kamarku yang masih tertutup tirai "Yare, kau bahkan belum membuka tirai hitam kamarmu ini." Itachi melangkah membuka tirai kamarku, aku menatapinya setiap langkahnya dengan pandangan bersalah.

"Maafkan aku, nii-san" aku tertunduk menatap sprei kasurku lekat-lekat.

JPRET

"Kau tahu Sasuke, jika fans mu melihat fotomu yang ini mereka pasti akan histeris sekali. Haha" dia tertawa dan aku menatapnya dengan pandangan bodoh. Dan lagi-lagi dia mengambil fotoku. Aku masih tak mengerti akan tingkahnya. Apakah Itachi sedang mencoba bertingkah seperti biasa?

"Aniki, maafkan aku. Maafkan aku" dan aku memeluknya dari belakang, seperti kebiasaanku sewaktu kecil yang selalu memeluk kakinya dari belakang.

"Kau kenapa Sasuke?" tanyanya dan menatapku bingung―tepatnya pura-pura bingung―aku harus ingatkan diriku sendiri bahwa kakakku memiliki kemampuan mengendalikan ekspresi yang sangat baik. Sepertinya dia berusaha untuk menjaga perasaanku, dan itu membuatku semakin sedih. Benarkah selama ini aku menyayangi kakakku ini? Kalau iya kenapa bisa aku melakukan ini di belakangnya?

"Aku menyakitimu, nii-san" gumamku, dan dia diam. Lalu perlahan tangannya melepas kedua tanganku yang membelenggu tubuhnya. Lalu terdiam tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.

"Mandilah, ibu menunggumu untuk sarapan. Kau lumayan bau, Sasuke" dan dia tersenyum sebelum meninggalkan ku dan menutup pintu kamar. Dan aku menangkap sedikit getar di kedua bahu kakak yang aku sayangi itu.

Aku roboh kembali di kasur, kuraih selimut kusut yang menjadi saksi bisu apa yang sudah aku lakukan malam tadi, aku melemparnya dan jeritan frustasi tertahan di tenggorokanku. Ini memang hari burukku, aku menyakiti dua orang yang aku sayangi secara bersamaan. Mungkin aku memang harus menghilang dari dunia ini.


Entah bagaimana caranya acara sarapan pagi ini berjalan dengan cukup normal hari ini, Itachi kakakku terlihat kembali seperti dulu, menggodaku dengan berbagai hal yang tak bisa kutanggapi dengan baik sebagai mana aku dulunya. Naruto juga, ia berubah kembali menjadi seperti Naruto yang aku kenal dan ia juga terlihat seperti istri yang melayani suaminya dengan baik. Tawa ramah dan hangat sesekali keluar dari mulutnya, mewarnai percakapan hari ini. Ibuku sesekali tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya dan ayahku memasang poker face seperti biasa. Semuanya normal, kecuali bila aku luput memerhatikan bahwa sesekali Naruto menatap sendu pada rotinya sekilas atau Itachi-nii yang seperti termenung walau hanya sesaat.

"Ne, okasan otousan. Aku mau bilang kalau ― aku― hamil" ungkap Naruto dengan senyum malu-malu dan kakakku yang memeluknya untuk memberikan dukungan. Semua yang ada diruangan ini sukses terkejut, bahkan beberapa pelayan yang berada di sana juga menghentikan kegiatannya karena mendengar perkataan Naruto barusan. Aku tersentak, dan nafasku tercekat. Kenapa jantungku tiba-tiba terasa sakit. Ini tidak benar, harusnya aku bahagia bukan? Aku― aku― entahlah aku tak tahu aku kenapa. Rasanya dadaku remuk dan mataku memanas. Harusnya aku sudah mempersiapkan diriku lebih awal. Cepat atau lambat tentu saja aku akan mendengar kabar ini, mereka sudah menikah hampir setahun lamanya jadi adalah hal wajar bila Naruto hamil. Tapi salahkah hatiku bila aku merasa sangat sakit?

"Wah benarkah, Kaa-san bahagia sekali mendengarnya Naruto. Selamat ya, nak?" ibuku memeluk Naruto erat dan penuh saying sesekali mengusap saying surai kuning Naruto yang tampak tersenyum manis. Benar-benar gambaran anak-menantu yang ideal.

"Selamat Itachi" hanya itu kata yang keluar dari mulut otousan, tapi dari sorot matanya aku tahu otousan sangat senang dengan kabar ini. Aku mencoba menampilkan senyum terbaik yang bisa ku pasang, dan memberikan selamat pada keduanya dengan normal, dan kaku seperti ayahku. Beruntung aku sudah terbiasa dengan sikap stoic seperti ini sehingga tak akan ada yang heran dengan nada bicaraku. Aku tak ingin jadi satu-satunya orang yang merusak momen bahagia ini.

Lalu obrolan hangat seputar penyambutan bayi pun mengalir dengan lancarnya, meski pun sebagian dari percakapan itu bersumber dari okaasan. Dia tampak sangat bersemangat dan bahagia sekali dengan semua rencana yang sudah di susunnya.

"Lalu kita akan merenovasi kamar di sebelah kamar Sasuke untuk menjadi kamar bayi dan meletakkan aneka mainan yang bagus disana. Kau setujukan sayang" dan ibu menatap Naruto penuh harap. Naruto hanya mengiyakan saja setiap rencana yang sudah disusun oleh ibuku.

"Tak perlu bersemangat begitu Mikoto, kehamilan Naruto juga masih baru. Sudah berapa minggu Naruto?" Naruto kembali merunduk ditatapi oleh mata kelam otousan, mungkin saja Naruto masih sedikit takut pada ayah. "Baru tiga minggu, otousan"

"Kehamilannya baru memasuki bulan pertama, sebaiknya tunda dulu segala rencanamu. Dan kau Naruto, kau tidak boleh sampai kelelahan. Dan juga apa kau sudah member tahu orang tuamu?" kalau aku dalam keadaan biasa mungkin aku sudah menampilkan raut tidak percayaku melihat otousan bicara sepanjang itu dan juga memberikan perhatian untuk orang lain.

"Kami belum memberitahu mereka, ayah. Rencananya kami akan memberitahukannya saat acara kumpul keluarga nanti." Kakakku tersenyum lembut pada Naruto yang duduk tepat sebelahnya, dan Naruto balas tersenyum lembut. Mereka, benar-benar suami istri yang terlihat bahagia di mataku. Mungkin jika aku tak hadir membawa cinta untuk Naruto, hidup mereka pastilah baik-baik saja. Dan aku tentu bisa bersikap sebagaimana mestinya terhadap kakak iparku.

Aku telah menyelesaikan sarapanku yang terasa sangat pahit dan beranjak dari tempat dudukku meninggalkan mereka semua yang masih bersemangat dengan obrolan seputar kehadiran bayi di keluarga Uchiha. Aku masuk ke kamarku dan menguncinya dari dalam tak ingin siapa pun menggangguku.

Dadaku masih sesak, entah apa yang aku sesalkan dari kehamilan Naruto. Semuanya wajar, mereka telah menikah. Yang tak wajar itu justru rasa cintamu yang tak pudar untuk istri kakakmu itu. Makiku pada diriku sendiri. Lalu dengan mudahnya bayangan semalam muncul dikepalaku saat Naruto mengaku cinta padaku.

Kami-sama aku tak ingin berharap apa-apa dari pengakuannya itu. Tapi tak bisa ku pungkiri hatiku merasa tenang karena kata-katanya, cintaku bersambut meski tak berarti apa-apa. Lalu sekarang ia sudah hamil, bukan olehku tentu saja, karena baru malam tadi aku menyentuhnya, dan aku merasa semakin brengsek karena menyentuh istri kakakku yang sedang hamil muda. Ingin rasanya aku meminta Itachi membunuhku saat ini juga, aku tak pantas menjadi adiknya.

Aku menunduk dan terus memohon kepada Kami-sama, aku memohon agar cintaku padanya terhapuskan, agar dia menghilang dari hatiku, agar aku lupa akan semua rasa ku tentang dia. Aku sakit melihatnya terus seperti ini, ia semakin tak bisa lagi ku raih. Aku tak ingin lagi berdosa karena cintaku padanya. Aku tak ingin menyakiti dia dan juga kakakku yang tak bersalah dalam hal ini. Aku dan Naruto mungkin memang saling mencintai, dan akulah orang yang merelakan dan membiarkan Itachi menikahi Naruto, lalu setelah itu aku menyakitinya dengan cara yang sangat menjijikkan.

Terkadang aku berpikir andai aku lahir setahun lebih cepat, andai saat pernikahan itu aku sudah 18 tahun, aku pasti bisa menggantikan posisi Itachi, andai otousan tak terburu dan menunggu satu tahun saja pasti aku dan Naruto akan berakhir bahagia, dan itachi bisa mencari orang lain sebagai pilihannnya.

Tapi tak ada guna aku memikirkan semuanya karena semua sudah tak berarti lagi. Apa yang harus aku lakukan? Terus berada di sini tentu tak akan menyelesaikan semuanya. Terlebih, hatiku masih belum sanggup melihat interaksi antara Itachi dan Naruto. Seiklhasnya aku terhadap mereka berdua aku masih belum sanggup untuk menghadapinya. Semua terlalu berat untuk hatiku yang sudah mencintai Naruto sejak lama.

"Sasuke, boleh aku masuk" suara kakakku menginterupsi lamunanku. Aku tak sadar jika pipiku basah oleh air mata, buru-buru ku hapus dengan handuk dan membukakan pintu untuknya. Setelahnya aku melanjutkan kegiatanku, berpura-pura mengacak-acak smartphoneku yang sialnya tak ada satu pun aplikasi yang menarik minatku. Merasa kesal aku membuka gallery foto dan disana terpampang berbagai macam tampang teman inggrisku yang konyol.

"Sepertinya kau dapat teman baru ya di sana" ucap Itachi yang kini sudah duduk di sebelahku dan ikut melihat-lihat foto. Sesekali senyuman tipis terpasang di wajahnya saat fotoku muncul di hadapan layar. Menatap setiap wajah asing yang tak begitu ku kenal membuatku bosan. Mereka hanya kumpulan manusia yang mengaku sebagai temanku, tapi faktanya hanya sedikit dari mereka yang ku tahu namanya.

"Aku senang kau memiliki teman di sana, ku pikir kau akan menjadi seorang anti sosial dan hanya mengurung diri di rumah." Matanya masih fokus melihat layar, sepertinya wajah teman baruku cukup menarik minatnya.

"Aku bukan kau tahu" ucapku ketus dan tawa menyenangkan keluar dari sela bibirnya, lalu mengacak tatanan rambutku.

"Kau benar, kau jauh lebih baik dariku." Kata-kata itu terdengar seperti gumaman bagiku. Tapi aku tak pernah lebih baik darimu, aku tak sebaik itu. Apa yang akan kau pikirkan tentangku jika kau tahu apa yang sudah kulakukan pada istrimu yang hamil muda.

"Andai aku memang sebaik itu, tapi kenyataannya tidak. Aku jahat padamu Nii-san" aku menunduk, kubiarkan smartphoneku tergeletak begitu saja diatas kasur.

"Aku tahu, aku yang salah Sasuke. Aku sadar betapa kau mencintai Naruto, dan aku malah menyanggupi pernikahan ini karena aku tak begitu berani menentang otousan. Maafkan aku untuk luka yang aku buat padamu Sasuke" Itachi merengkuh tubuhku dan membawaku kedalam pelukannya yang terakhir kurasakan saat aku masih SMP, itu karena aku malu dipeluk olehnya. Tapi hari ini aku ingin menyandarkan tubuhku di dada bidangnya, dan melesakkan semua perasaan gundahku padanya. Karena selama ini memang hanya dia yang selalu ada untukku.

"Kau kakak terbaik yang pernah kumiliki, jadi jangan pernah berkata begitu. Kau selalu jadi yang terbaik dan kau tahu itu" Itachi menghentikan gerakan tangannya yang sedari tadi membelai lembut punggungku. Entah apa yang salah dengan kata-kataku hingga dia tersentak seperti itu. "Aku adalah saudaramu satu-satunya wajar bila kau mengatakan aku saudara terbaikmu, tapi aku tetap bukan kakak yang baik. Harusnya aku memberikan kebahagiaan bagimu, bukan memberikan luka seperti ini"

"Ini salahku, aku yang tak berani mengatakannya pada ayah dan Naruto sebelum pernikahan kalian. Kau tahu, Naruto bilang dia lelah padaku. Jadi, kurasa pilihannya memang tepat untuk menikah denganmu. Aku terlalu menjaga gengsiku untuk mengatakan aku mencintainya, aku terlalu berbangga dengan sikap datarku sebagai seorang Uchiha Sasuke" lalu aku menatap wajah kakakku lekat-lekat. Lalu tiba-tiba pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hatiku kembali muncul.

"Nii-san, apakah di dalam hatimu kau― apa kau mencintai Naruto?" Mata Itachi melebar lalu ia mengarahkan pupil hitamnya kesudut ruangan, menghindari tatapan penuh tanya milikku. Tiba-tiba saja ia berdiri dan mengatakan "Aku harus berangkat kerja" dan setelah itu meninggalkanku dengan satu jawaban yang meyakinkanku dari sikap Itachi yang langsung berubah.

TBC


Ok minna, Syukurlah Ai bisa selesaikan satu chapter lagi untuk fic ini. Kita semua sudah tahu perasaannya Naruto, lalu tinggal Itachi nih.

Q : Apakah Itachi suka sama Naruto?

Answer:

Sasu : Jangan, aku tak mau tambah menderita di fic ini.

Ita : Iya, aku ingin lihat wajah menderitamu yang manis otouto

Sasu : (Amaterasu)

Naru : Gimana enaknya Ai-Chan deh, aku ikhlas kok di cintai mereka berdua (Senyum ala Harem)

ItaSasu : #$%^&*(


Special Thanks buat Aiko Michishige aiko no hime chan akira suke AprilianyArdeta chy karin Cyclone Keviar Dahlia Lyana Palevi Darken L Deep'O'world Dewi15 .10 HafizaKun HyunnK.V Ichiro Makoto Ineedtohateyou justin cruellin Khioneizys MimiTao NaluCacu CukaCuka Namikaze Otorie narunaruha NiPutuTrisnaJunayanti NunnaLavenderGirls14 Okada Hikami princess haru sasunaru1106 satansoo sivanya anggarada sparkcloud0208 TikaChanpm uchiha hana hime Uchiharuno Sierra UzumakiDesy uzumakinamikazehaki viraoctvn Vivinetaria yassir2374 Yoona Ramdanii yukiko senju Yumi Kagura Za666 zielavienaz96 yang udah Favorite kan cerita ini

trus buat kira Hikari406 AprilianyArdeta Cyclone Keviar Dahlia Lyana Palevi Darken L Dewi15 FujoDeviLZ10 HyunnK.V Jasmine DaisynoYuki Khioneizys NaluCacu CukaCuka NunnaLavenderGirls14 Okada Hikami TikaChanpm Vivinetaria Xiaooo Yoona Ramdanii Yumi Kagura Za666 claire nunnaly .10 himekaruLI julihrc justin cruellin miskiyatuleviana narunaruha princess haru sasunaru1106 satansoo sparkcloud0208 uchiha hana hime viraoctvn wildapolaris wintersubaki yassir2374 zea vaclav yang udah Follow cerita ini.

Dan juga buat yang review akan ai balas reviewnya via PM.