Ini dia... author pemalas nan tidak bertanggung jawab kita... Draco de Laviathan! #ditampol

Ahahahahahhahahah, mas-mas, mbak-mbak, mohon dimaafkan kemalasan dan ketidak tanggung jawab-an author bejat gaje nan kurang jelas (?) ini, karena yah, akhir-akhir ini author sedang sangat sibuknya dengan snonton Idolmster dan Amagami SS en SS + en bermacam-macam anime lainnya/s kegiatan sekolah, sibuk bergalau dan hal-hal gak penting lainnya. Jadi yah, bisalah di maklumkan #angkatbahu #ayotampolsayabersamasama

Sudahlah, yang penting ini sudah dilanjutkan dan ai masih author paporit mas-mas mbak mbak semua kan? ;) #tampolsekalilagi

On tu de stori!

The Live After Death

Chapter 7

Black, black, black and blue.

XxxxxxxxxxxxxxxxxxxxX

Black.

Everything's black

Even the sky, Is no longer blue

Anger, Sadness, Hateful

All of them grows

Into Darkness.

XxxxxxxxxxxxxxxxxxxxX

"Kenapa aku bisa terpilih menjadi White Knights?" tanya Tachimukai kepada Fubuki.

"Entah lah." Kata Fubuki sambil berlari. "Seseorang dipilih menjadi White Knights karena dia seorang teladan, telah melakukan sesuatu yang berprestasi, atau karena dia memang hebat."

"Tapi tampaknya" Yuuto menyela perkataan Fubuki. "Kau dipilih langsung oleh Mamoru. Berarti kau pasti spesial."

Tachimukai terdiam. Apa spesialnya dia bagi Mamoru?

Fubuki menepuk pundak Tachimukai. "Tenang saja." Ia tersenyum padanya. "Biasanya orang yang spesial bagi Mamoru, perlakuannya juga spesial kok."

Perlakuannya juga spesial? Menyeret ke kelas, menghantuinya dengan kata-kata tajam dibilang spesial? Apa yang dipikirkan oleh Fubuki sebenarnya?

"Bagaimana, daripada ngobrol, kita lari ke ruang rapat?" sahut Yuuto.

"Memang sudah lari bodoh!"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Mamoru berjalan perlahan menuju ruang rapat. Ia baru saja kembali dari pos utama Soul Reaper untuk menugaskan masing-masing grup Soul Reaper agar berjaga-jaga. Kini ia harus berputar otak untuk strategi jika 'kejadian' itu benar-benar terjadi lagi. Menghela nafas, ia mulai mempercepat jalannya.

Tep. Tep. Tep.

Merasa diikut, si cowok berambut coklat menyerupai tanduk itu berbalik. Melihat tidak ada siapa-siapa, ia melanjutkan jalannnya.

Tep. Tep. Tep.

Lagi. Suara hentakan kaki yang mengikutinya terus. Dengan santai akhirnya ia pun berkata.

"Keluarlah Kogure. Tidak perlu bersembunyi-sembunyi seperti itu."

"Ah, dasar si kapten ini. Gak ada takut-takutnya. Ga seru nih!" sahut seseorang yang dipanggil Kogure oleh Mamoru itu keluar dari bayang-bayang lorong tersebut.

"Aku memang tidak takut. Mau bagaimana lagi." Mamoru menjawab dengan muka yang kelewat datar (?).

"Ah ya, aku ingin bertanya," Kata Kogure akhirnya serius. "Apakah benar, 'kejadian' itu diperkirakan akan terjadi lagi?"

Mamoru terdiam. "Ya, baru perkiraan."

Kogure menatap tajam Mamoru. "Dan apa yang akan kau lakukan dengan itu? Akan kah kau menyegel mereka semua lagi? Bisa kah kau melakukan itu lagi?"

Mamoru tersentak. "Apa yang membuat mu bertanya seperti itu?"

"Segel Hell Capture yang kau gunakan waktu itu untuk mengirimkan Kageyama dan Contaminatednya ke Hell's Ravine itu segel yang berbahaya kan? Segel itu memakan jiwa penggunanya perlahan-lahankan? Mau penggunanya itu hantu, penyihir, werewolf, vampire, dan lainnya yang bukan manusia, dan bahkan manusia punjuga bisa."

Mamoru terdiam. Kogure masih menatapnya. "Aku tau sekarang kau aslinya sudah tidak ada tenaga lagi untuk melakukan segel itukan? Kalaupun bisa kau akan menghilang dimakan segel itu dan ke eksisan dirimu di dunia ini, mau pun di dunia manusia dan dipikiran-pikiran orang yang pernah mengetahui mu akan hilang sepenuhnya!"

Kogure menghela nafas. "Maaf kalau aku sedikit meragukan mu kapten, tapi, apa yang akan kau lakukan?"

Mamoru masih terdiam. Lalu menutup matanya dan tersenyum. "Yah, Kogure. Aku memang belum menyiapkan rencana apa-apa. Tapi jika memang tidak ada jalan lain lagi, apa salahnya mengorbakan diriku ini untuk kelangsungan dunia ini dan dunia manusia? Hanya pihak diriku yang dirugikan ini kok. Jadi kau tenang saja lah Kogure."

Kogure sedikit menunduk dan menutup matanya. "Baiklah, maaf menghabiskan waktumu kapten."

"Tidak apa-apa," Mamoru tersenyum lagi kepada Kogure. "Lagipula sudah jarang kan kita bercakap-cakap, kan Kogure? Sekarang kembalilah. Grup post mu membutuhkanmu."

Kogure mengangguk dan berjalan pergi. Mamoru menghela nafas. Memikirkan kata-kata yang baru saja ia katakan kepada Kogure. Memikirkan kata-kata yang Kogure katakan kepadanya.

"Hiroto, jika kau menjadi aku… apa yang akan kau lakukan?"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Ichirouta sampai dirumahnya dengan airmata yang berlinang. Dia merebahkan dirinya ditempat tidur. Ia ingin beristirahat. Istirahat dari semuanya. Istirahat dari terlalu memikir kan Tsunami. Istirahat dari efek kepergian Mamoru. Istirahat dari rasa sukanya kepada Tsunami.

Dan tak lama kemudian ia pun tertidur.

.

.

.

"…maru….."

Ting Tong! Ting Tong!

"Kazemaru?"

Ichirouta terbangun dengan kaget akibat bel rumahnya dan sebuah suara yang memanggil namanya. Tampaknya ia mempunyai tamu. Buru-buru merapihkan dirinya sedikit, ia berlari menuju pintu depan dan membukanya.

"Ah, Kazemaru-san. Apa aku mengganggumu?"

Ichirouta menatap orang berambut biru indigo itu. Ia menghela nafas. Ia mengira kedatangan tamu yang tidak dia kenal.

"Tidak kok, Otonashi-san. Masuk saja. Aku akan mengambilkan teh dulu."

"Ah, baiklah, Terima Kasih."

Haruna pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Tak lama kemudian, Ichirouta pun datang sambil membawa sebuah teko dan dua cangkir teh. Sambil menuang the ia bertanya,

"Ada apa datang kesini? Tumben sekali.."

Haruna tersenyum. "Ini masalah…. Tsunami."

Ichirouta tersentak, untung ia tidak menumpahkan tehnya. "...Ada apa lagi memang dengannya?"

"Kau masih ingat saat kau menangkapku basah yang tampaknya sedang bercakap-cakap sendiri?" Tanya Haruna sambil meneguk tehnya.

"Ya." Kazemaru menambahkan satu sendok gula ke tehnya. "Ada apa denganmu waktu itu? Sedang bingung dengan diri sendiri?"

Haruna menatap Ichirouta dengan mata yang sedikit sedih. "Aku sedang berbicara dengan Tachimukai-kun waktu itu."

Melihat Ichirouta yang terdiam, Haruna melanjutkan perkataannya. "Dia saat ini menjadi, yah, apa yang orang bilang hantu. Jiwa yang terjebak didunia tanpa bisa melanjutkan jalannya."

"Bagaimana bisa?" Ichirouta menambahakn gula lagi ke tehnya.

"Aku juga tidak tahu." Haruna meletakan cangkir tehnya yang sudah kosong. "Tapi Kazemaru-san, aku datang ke sini bukan untuk membicarakan mengapa ia masih disini."

"Jadi kau ingin membicarakan apa?"

"Aku ingin….Kazemaru-san membantuku agar ia bisa dilihat oleh Tsunami-san!"

Kazemaru tersedak.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Halah, ini sebenarnya kita dipanggil buat apa? Sumpah gua ngantuk maksimal." Keluh seseorang yang berambut coklat.

"Emang semalam ngapain kau, Ichinose? Main game? Atau jangan-jangan…" sahut Gouenji. Orang yang dipanggil Ichinose itu menatap tajam Gouenji.

"Jangan-jangan apaan?" balas Ichinose.

"Ya jangan-jangan….," Ichinose menatap tajam muka Gouenji yang ekspresinya kebetulan bisa dibaca saat ini, yaitu iseng. Ternyata mahkluk bawang ini bisa iseng juga. "Itu lho. Itu."

Muka Ichinose memerah. "ENAK AJA YAKALI GUA KAYAK GITU!" teriaknya kepada si berambut platinum blond ini.

"Ya 'kan kali aja…."

"Gouenji! Kau….!"

Tersenyum karena berhasil membuat Ichinose marah, Gouenji menghirup teh yang sedari tadi sudah disiapkan utnuk rapat. Ichinose masih merasa marah dan dipermalukan, ia menghampiri Gouenji untuk meng-koidkan (?) nya. Jangan-jangan apa yang dikatakan Gouenji itu benar? Tapi, dengan siapa? #heh #bunuhauthor

"Heh, rakjel (re: Rakyat Jelata) rakjel! Bisa diam sedikit tidak sih?" teriak sebuah suara feminim nan anggun yang tiba-tiba datang dari arah pintu masuk ruang rapat.

"Nah, Ms. Yuniverse (?) ngomel tuh. Diem katanya." kata Gouenji dengan santainya kepada Ichinose.

"Kebagusan kalo Ms. Yuniverse. Mending Ms. Unilever (A/N: tunggu, bukannya ini nama perusahaan?) dia mah." Balas Ichinose dengan ekspresi impossible-deh-jangan-ngayal.

"Heh, enak saja! Aku itu Ms. Indonesia! Aku itu Pirncess Maemunah!" kata si pemilik suara feminim tersebut. Mengibaskan rambut coklat keorange-annya, dia mendengus.

"Natsumi-san tidak pernah berubah ya…." Sahut Fubuki yang tiba-tiba ada dibelakangnya. Tampaknya trio Yuuto-Fubuki-Tachimukai sudah datang.

"Ah Fubuki. Ya dia mau berubah bagaimana? Nanti makin princess dia." Si rambut bawang itu mulai berkata lagi. Tampaknya dia hari ini sedang iseng sekali, mungkin hatinya sedang senang ya…. (?)

"Kalau dia princess ntar princenya siapa?" tanya Ichinose.

"Ya Endo– mmph!" belum sempat menjawab pertanyaan Ichinose, mulu Yuuto sudah disumpal saputangan oleh Natsumi yang sekarang mukanya merah merona dan mengipas-ngipasi dirinya yang kepanasan. Padahal di ruangan itu ada 4 AC.

Tachimukai menatap senior-seniornya yang sedang 'bercengkrama dengan damai dan ramahnya'. Jujur, ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, ada siapa saja di ruangan itu, dan mengapa ia akhirnya datang juga ke ruang rapat. Kasian anak ini.

"Woi, woi, diem dikit kenapa? Kasian tuh si anak baru ngeliatan kaga ngerti apa-apa!" teriak sebuah suara lagi. Bisa kita lihat pemilik suara tersebut yang berambut putih –tapi bukan Gouenji lho- sedang asik bbman (?) dan sambil memakai earphone dikupingnya.

"Lah lu sendiri gak lebih baik dari kita, Yamino! Elu enak-enakan disitu bbman sama si rambut botak tajem-tajem (?) itu kan?" balas Natsumi.

"Setidaknya gua tidak menimbulkan suara yang berisik." Sahut orang yang dikatakan bernama Yamino itu sambil melanjutkan Bbm-annya.

'Emang di dunia ini bisa pake bb juga ya? Tau gitu bb gua gua bawa dah.' Pikir Tachimukai. Oh, ternyata Tachimukai bb user! Mari kita minta pinnya, yaitu 0000000! #plak #sumpahgapentingabis

"Oh ya, Tachimukai-san kan belum tau semua yang ada disini ya!" kata Fubuki. "Mari kuperkenalkan!"

Fubuki menunjuk ke Natsumi. "Si princess yang disini namanya Natsumi Raimon. Mati kenapa Natsumi?"

"Aku tidak ingin memberitahu." Kata Natsumi sambil menutup mukanya denga Kipas Angin, eh maksdunya, kipas kecil yang dibawanya.

"Ayolah Natsumi! Memangnya kamu mati kenapa?" tanya Fubuki ulang. Si pangeran es ini tampaknya ingin mempermalukan Natsumi.

"Sekali tidak, tetap tidak."

"Plis Natsumi, plis…."

"Nggak."

"Ah Natsumi mah!" sahut Fubuki sambil manyun. Sangat imut dimaa semua orang yang ada di ruang rapat tersebut. Yah, gak semuanya sih, bagi author doing kayaknya. #plak

"KESEDEK PERMEN KARET! PUAS?" kata Natsumi yang tidak tahan di manyun-in (?).

"Kenapa Natsumi? Mati kenapa?" tanya Gouenji ulang sambil menahan tawa. Benar-benar, manhkluk-mahkluk diruangan ini hari ini sepertinya sedang iseng sekali?

"Gua matiin juga elu semua…." Kata si princess berambut oranye yang mukanya sudah seperti kepiting rebus itu.

"Aiya, iya yang mulia! Jangan matiin ane! Kasian keluarga ane!" sahut Fubuki tiba-tiba berlogat jawa, eh salah, betawi.

"Hhh, sudahlah Tachimukai, orang-orang yang disini jangan dihiraukan, kebanyakan dari mereka ga penting semua kok (A/N: Hati-hati digampar, Yuuto.)," Kata Yuuto kepada Tachimukai yang saat ini benar-benar bingung apa yang terjadi. "Sini aku lanjutkan pengenalannya. Yang berambut coklat itu Ichinose Kazuya. Cause of Deathnya serangan jantung. Dan yang lagi bbm-an ama pacarnya itu,-"

"Yamino Kageto desu. Cause of Death tenggelam di laut saat sedang berlayar. Dan aku bukan sedang bbm-an dengan pacar. Aku sedang update twitter tahu." Kata Yamino langsung menyela perkataan Yuuto, sambil tetap menatap ke Blackberry Onyx nya itu.

"Yah, What he says." Yuuto menghela nafas. Tachimukai ber-ooh ria.

"Tampaknya sudah saling berkenalan ya?"

Semua melihat ke arah suara yang tiba-tiba muncul itu. Bisa kita lihat si pemimpin White Knights berambut coklat sedang bersender di pinggir pintu ruang rapat.

"Bisakah sekarang semuanya duduk di tempatnya masing-masing?" dia tersenyum sangat manis, sangat manis, sampai semuanya langsung buru-buru mengambil tempatnya. Yah, terkecuali anak baru kita satu ini.

"Endou-san, apa maksudmu untuk mengajakku masuk kedalam White Kights? Sampai ikut rapatnya seperti ini?" tanya Tachimukai.

Mamoru tersenyum. "Kau punya potensial. Sekarang duduklah sebelah Yuuto."

'Potensial? Potensial seperti apa?' batinnya. Tapi yah, tampaknya Mamoru sudah tidak ingin ditanya-tanya kembali, maka ia pergi ke tempat duduk disebelah Yuuto.

"Nah," Mamoru duduk di tempatnya. "Seperti yang kalian tahu, tampaknya sebentar lagi 'kejadian; itu akan kembali lagi. Tachimukai, aku yakin kau sudah dijelaskan oleh yang lain apa maksud 'kejadian' itu. Dan untuk menghadapinya, aku sudah sedikit berpikir untuk meminta 'bantuan'. Bagaimana menurut kalian semua?"

"Apa maksudmu, meminta 'bantuan' , Endou?" tanya Yuuto. Mamoru tersenyum, ia sudah memperkirakan kalau dia akan ditanyakan tentang hal itu. Gouenji menunjukkan ekspresi datar, padahal sebenarnya ia sedikit merasa tersentak.

"Gouenji," panggil Mamoru. "Mau menjawab pertanyaan itu?"

Gouenji menghela nafas. "2 kata." Sahutnya dengan suara datar.

"Halloween School."

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Eh, eh, sudah diberitahu belum? Kita akan membantu Endou-san menghadapi Contaminated lho!" sahut suara yang riang sambil menoel-noel temannya yang bergoogle biru.

"Serius Mark? Kok tumben Endou-san meminta bantuan?" tanya seorang yang berambut biru panjang berhenti membaca bukunya sebentar.

"Ya, aku juga tidak tahu mengapa, Edgar," jawab seseorang dari belakang orang yang dipanggil Edgar itu. "Tapi aku yakin, Endou-san pasti sudah memperkirakan kalau 'kejadian' itu akan terulang lagi dan para Contaminated akan menjadi lebih kuat, maka ia memanggil kita."

"Oh, Fideo, harusnya kau memberitahu kami lebih cepat. Jadi kan kita semua bisa siap-siap menghadapinya." Kata seseorang berambut hijau tosca bermanyun ria

"Oh, Rococo, kurasa kita tak perlu khawatir. Maksudku, kita kan Five Crosser, lima terhebat di Halloween School!" sahut pemuda yang bergoogle biru itu.

"Kita tidak boleh sombong, Dylan. Masih banyak orang yang lebih kuat dari kita didunia ini." Sahut Edgar sambil menghirup teh dalam cangkir yang ia pegang sedari tadi.

"Expect us, Death 101!"

To be Continued….

Nah lho, saya yakin chapter ini gaje abis. Maaf buat readers kalo jadi bingung bacanya ;A; si author sedang bingung sangat soalnya #terusapahubungannya.

Balas Review dulu….

4869fans-nikazemaru :

Wahaha, gapapa kok telat review, yang penting review! wb /plak

Nanti saya yakin Gouenji akan pusing tujuh keliling sekamar dengan Toramaru! /doubleplak

Yah, namanya juga Kidou, dia kan penuh kejutan~~ (?)

Arigatou reviewnya!

Yue Curtiss :

Hebat kan? Hidup disko! *w*9 /dor

Arigatou reviewnya!

The Fallen Kuriboh :

Ah, Shinichi memang hobi mabuk! /dorplakduar

Iya typo yang itu…..-_-v

Arigatou Reviewnya Dika-nee!

Authorjelek :

Yah, habisnya dari inti ceritanya memang juga udah serius sih, saya aja yang rada-rada jadi banyak humornya /plak

Hidup disko! Hidup mabuk! /plak

Arigatou Reviewnya!

Ayakomezza

Ehehe, memang satu-satu nanti bakal kelihatan kok, nanti juga akan diselingi cerita-cerita sebelum karakter-karakter kita (?) meninggal….

Peperangan? Tampaknya sih ada. Tapi ya gak yakin ada pertumpahan darah, masalahnya ini kan yang bertarung setan /heh/ Oh yaoi tentunya ada pasti! /duar

Arigatou Reviewnya!

Nah minna, saya udah capek, permisi dulu ya, dadah semuanyaaaaaaa~, R&R yaaaa~