Dentingan jam merambat di udara, menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh pagi. Erza terbangun dari mimpi indahnya, beranjak bangkit menuju ruang makan di lantai satu. Hari ini Minggu, dia ingat betul Jellal mengajak kencan di Ryuuzetsu Land, jam dua belas di depan pintu masuk. Ibu dan ayahnya sendiri belum tau, minta izin pun kesulitan karena malu-malu kucing. Oke, bilang atau lebih banyak waktu yang terbuang.
"Itu...ayah, ibu" panggil Erza bersuara kecil, sehingga dikacangi habis-habisan, oleh mereka yang asyik melahap sarapan
"Ayah, ibu, de-dengarkan aku dulu!" atensi kedua orang tuanya dialihkan ke depan. Berhenti sesaat melahap dua potong roti panggang dan telur goreng. Ini kesempatan langka, Erza jarang berbicara saat makan pagi berlangsung
"Katakanlah, Sayang. Jangan gugup begitu, kami bukan orang asing" canda ibu tertawa kecil. Gemas menyaksikan tingkah putri bungsunya, yang tersipu malu meskipun masih bungkam seribu bahasa
"A...aku mau jalan-jalan! Be-bersama teman, bukan siapa-siapa"
"Maksudmu bersama Lucy? Bukankah dia ada urusan di luar kota?" giliran ayah yang heran. Beliau kira Erza telah diberitau kemarin, tidak biasanya dia melupakan hal penting semacam itu
"Bersama teman yang lain..."
Erza yang ditakuti dan dijuluki macan betina punya teman selain Lucy?! Ayah dan ibu saling bertatap muka gembira. Pemuda di ruang tamu mengecilkan volume televisi, perhatiannya teralihkan ke percakapan di meja kayu tersebut. Tentu mengejutkan, dia yang dikenal anti sosial mendadak membuka hati kepada orang lain. Memiliki satu teman pun sekeluarga bersyukur, lalu sekarang bertambah lagi. Kemajuan yang cukup signifikan.
"Siapa nama temanmu? Laki-laki atau perempuan?" ibu antusias bertanya, sampai Erza kebingungan menjawab pertanyaan yang memberondong itu. Apa perlu seheboh memenangkan lotre liburan ke Eropa, yang paspornya sulit sekali diterima?
"Pasti si Jellal Fernandes" cela si pemuda ikut nimbrug di ruang makan. Tak lupa mematikan televisi di channel berita kesukaannya. Mendengar nama tersebut menyebabkan Erza salah tingkah. Ibu menangis terharu. Ayah sembah sujud mengira sang anak punya pacar
"Hiks...hiks...kamu sudah besar, Erza"
"Apa dia lebih ganteng, dari model majalah atau atlet?" entah kenapa ayahnya terobsesi dengan hal tidak penting. Erza mengambil jeda sesaat, enggan menceritakan bagaimana rupa dan sikap si biru laut selama enam hari terakhir
"Kata siapa?! Dia jelek, bodoh, tukang gombal, menyebalkan, dan sering membuatku khawatir" mendadak Erza teringat kejadian Jumat lalu, ketika Jellal nyaris tertabrak sewaktu nekat menyebrang di zebra cross. Pengendara itu adalah kakaknya sendiri, untung keburu menginjak rem sehingga mereka bisa kencan seperti sekarang
"Berarti kebalikannya, ya. Syukurlah Tuhan" anggap ayah berpikiran positif, meskipun lawan kata untuk tukang gombal tidak ada di kamus. Setidaknya biarkan beliau berbahagia karena Erza memperlihatkan perkembangan sosial
"Berhati-hatilah terhadap cowok perayu. Dia sering menggombalmu begini, 'jangan bagikan rasa cintaku terhadap yang lain ataupun menguranginya, lebih baik ditambah dan dikalikan agar aku tau, betapa kamu menyayangiku'. Cih, menjijikan sekali"
"Tapi Laxus-nii, Jellal tidak pernah menggombal dengan dasar hitungan matematika" koreksi Erza menghela nafas panjang. Pasti dia cemburu dan semua itu terungkap, dalam rentetan kalimat yang tersusun rapi.
Krik...krik...krik...
Guru matemaika, mah, begitu cirinya, berbicara apapun mesti berdasarkan perhitungan rasional. Laxus izin pergi keluar, meninggalkan Erza berserta deraan lamunan di sana. Ternyata virus Jellal sangat kuat, biasanya ikemen yang satu ini paling anti begituan, sekarang malah berani merayu adik sendiri. Ya, tidak buruk juga kalau boleh jujur. Walau jarum pendek baru berhenti di angka sepuluh, ia memutuskan agar bersiap-bersiap lebih cepat.
Semangat empat lima anak muda memang bikin iri.
"Pa-pakai baju apa, ya?" sudah lima kali Erza berganti pakaian, dan dia tak kunjung menemukan 'sang belahan jiwa'. Kira-kira Jellal suka penampilan feminim atau tomboi? Rok atau celana? Lengan panjang atau pendek? Motif kotak-kotak? Garis? Kepala kucing? Polos?!
"Benar juga, pasti dia bilang begini, 'kamu cantik, kok, pakai baju manapun'. Arghh...sial, sial, aku malu, malu!" seru Erza berguling di atas ranjang. Pikirannya melayang-layang di udara, dalam keadaan setengah sadar larut dalam alam mimpi. Ini aneh...kapan dia pernah memikirkan penampilan?
Satu jam terbuang sia-sia, untungnya dia berhasil memilih keputusan yang mungkin terbaik. Erza berangkat setelah pamit kepada ayah dan ibu. Berjalan kaki menuju halte, lalu memberhentikan bus jurusan tertentu. Membutuhkan waktu sekitar setengah jam, jika di jalan raya tidak terjebak macet. Mungkin juga dia terlalu cepat melebihi perkiraan, pukul 11.20 pun tiba di depan pintu masuk Ryuuzetsu Land.
Mirip orang bodoh saja menunggu di sini.
Sementara Jellal satu jam yang lalu...
Tepat 10.00, lelaki bermarga Fernandes itu masih asyik nonton di ruang tamu. Sejak pukul sembilan sudah berpakaian rapi, macam lelaki remaja kasmaran, yang kini tampil keren dan wangi tentunya. Bau parfum memenuhi seisi rumah, menyebabkan ibu Jellal penasaran berat, ingin mengajukan beberapa pertanyaan iseng yang biasa diajukan orang tua. Habis, belakangan ini dia agak tertutup dan sering mesam-mesem tidak jelas.
"Anak ibu tampan banget. Mau kemana?"
"Jalan-jalan sama teman di Ryuuzetsu Land" jawab Jellal jujur, tanpa menaruh sedikitpun rasa curiga. Ibu sebatas mengangguk pelan, mendekatkan jarak duduknya dengan buah hati tercinta yang tetap fokus menontoni layar bercahaya
"Temanmu yang bernama Lucy?"
"Bukan, Bu. Namanya Erza" ke-keceplosan! Batin Jellal refleks menutup mulut menggunakan sebelah tangan. Terbongkar juga, penyebab dia rajin ikut pelajaran tambahan dan ke sekolah, gara-gara cewek itu rupanya
"Oh, pacarmu! Kenapa tidak bilang-bilang?" kesalah pahaman macam apa ini? Jellal tidak dibiarkan menjelaskan, ibunya langsung menceramahi ala bu ustad di pengajian. Untung ia kebal terhadap kebiasaan kumat beliau yang menyebalkan ini
Kalau memperlakukan cewek harus baik. Bersikap romantis jangan kikuk. Sering-sering ajak mengobrol. Tampil sempurna diutamakan, bla...bla...bla...Jellal setia mendengarkan daripada digampar sendal jepit. Ia curi-curi kesempatan melirik jam, pukul sebelas kurang dua menit. Menurut perhitungannya, Erza pasti berangkat sekarang, lalu menanti di depan pintu masuk sambil menghentak-hentakkan flat shoes.
Kenapa Jellal yakin? Karena dia tau, Erza tidak sabar menunggu hari Minggu.
"Bu aku pergi!"
"Hati-hati di jalan. Ingat ya nasehat ibu barusan!"
Setengah jam menempuh perjalanan, Jellal telah sampai di tujuan dan mendapati Erza sesuai perkiraan, datang lebih cepat akibat khawatir terlambat. Terlalu membosankan jika muncul sekarang, lihat dulu saja apa yang akan terjadi selanjutnya. Mengaret sepuluh menit juga boleh, bagaimana reaksi si scarlet ya? Tentu dia marah, kemudian Jellal menggodanya mereka pun maafan. Akhir yang bagus, bukan?
30 menit berlalu...
"Yo, Erza. Lama menunggu, ya?" sapa Jellal menampakkan diri. Membuat Erza yang awalnya kesal menjadi gembira lagi. Kasihan kalau dikaret lima atau sepuluh menit, dia pun bosan hanya mengawasi di balik semak-semak
"Lama sekali! Aku bosan tau!"
"Ingat tidak kita janjian jam berapa?" skak mat. Erza gagal menjawab pertanyaan Jellal, karena memang dia yang salah, terburu-buru pergi padahal belum waktunya. Malas beradu mulut, ia langsung membeli tiket dan masuk ke dalam, meninggalkan Jellal yang tersenyum simpul
"Hnnn...manisnya"
Ryuuzetsu Land dipadati pengunjung, terutama bagi keluarga yang ingin menghabiskan waktu dengan berenang, maka taman bermain tersebut merupakan rekomendasi terbaik. Sebelum mencoba berbagai wahana, Jellal mengajak makan siang di salah satu lestorant terdekat, sebutlah namanya Island 7, terkenal menyajikan aneka ayam mulai dari bakar, gulai, dan lain-lain. Siapa peduli soal selera, rasa yang nomor satu.
"Wow….kau bisa makan ayam memakai garpu dan sendok?" meski seharusnya tidak perlu heran, karena itu biasa dilakukan. Erza bersiap menyantap setelah pesanan datang, sedangkan iris hazzle Jellal menatapnya lekat yang membuat risih
"Berhentilah dan makan ayammu, dasar mesum!"
"Hanya sebatas ingin, kok. Memang tidak boleh?" oh ayolah, akan lebih baik menikmati sebuah film, dibanding menontoi cewek sedang makan. Mungkin Jellal ini agak kampungan, pikir Erza menusuk daging ayamnya dengan ujung garpu, tetapi….
"Melihatmu saja sudah kenyang"
PLAKKK!
Ayam goreng Erza menampar telak pipi Jellal, lalu terjatuh ke lantai dalam keadaan utuh. Seluruh penghuni di sana jelas kaget, terutama dia yang duduk di sebrang di meja. Si scarlet berusaha mati-matian menahan malu, apalagi melihat wajahnya penuh minyak sambil tercengang di tempat. Itu lucu sekaligus menjengkelkan, katakanlah sesuatu agar semua orang tidak salah paham! Sayang seribu sayang, berharap sebanyak apapun Jellal masih bungkam.
"Kau benar-benar marah, ya. Tidak perlu, kan, sampai melempar ayammu kepadaku" ujar Jellal memberikan sepotong bagian, menyebabkan sifat tsundere Erza muncul di permukaan. Dia paling anti ditolong dan hutang budi. Entah sudah berapa banyak yang mesti dibayar secepat mungkin
"D-d-da…dasar maniak ka…kacang! K…kau me-mencoba se…selesai, ma-maksud…maksudku selai tiga la-lapis, la…lalu didiagnosa dokter a-alergi ka…kacang…haha…ha…ha…." spesies manusia turunan robot?! Jellal tersentak kaget mendengarnya, bukankah itu rahasia dalam buku diary?! Jangan bilang…jangan bilang….!
"Habiskan makanamu dan kita akan lanjut jalan-jalan"
Bagaimana bisa berada di tangan Erza? Jellal sadar hadiah pemberian kakaknya menghilang, tetapi dia pikir terselip di antara buku atau rak, ternyata tidak sengaja dipungut oleh seseorang, dan kenapa harus calon pacarnya sendiri?! Mereka keluar dari lestorant tersebut, lalu berkeliling sebentar mencari wahana yang hendak dinaiki. Erza menatapi sebilah papan kayu besar bertuliskan 'goose'. Apa ini baru dibuka?! Dia merasa wajib mencobanya mumpung datang ke sini.
"Hoi, ayo naik itu!" ajak Erza setengah memaksa. Menunjuk-nunjuk papan yang tertera di situ. Jellal sempat berniat menolak, tetapi dia pikir ini kesempatan emas untuk modus
"Oke. Pasti menyenangkan"
"Selamat menikmati!" seru sang penjaga melambaikan tangan, setelah perahu berangkat pergi memasuki goa. Erza sangat bersemangat di menit pertama, namun lama-lama merasa bosan meskipun belum setengah rute ditempuh. Mana pacuan ardenaline-nya? Terlalu lambat!
"Erza tau tidak satu tambah satu berapa?"
"DUA! Jangan pikir aku akan tertipu, sebenarnya kau pintar matematika! Dua tambah dua berapa?" l-lho, tidak perlu sampai dihentak, bukan? Jellal mengerti kenapa Erza begini, pasti sedang terserang PMS! Walaupun begitu nada bicaranya mengesalkan sekali
"EMPAT! Ini kedua kali kamu membongkar rahasiaku! Empat tambah empat berapa?!"
"DELAPAN! Sekarang kau pasti merasa malu. Delapan tambah delapan berapa?!"
"ENAM BELAS! Berarti kamu juga tau, aku pernah menyukai Lucy Heartfilia ketika kelas satu SMP?! Enam belas tambah enam belas berapa?!"
"TIGA PULUH DUA! Aku tidak menyangka, ternyata dulunya kalian berteman. Kenapa sekarang berhenti, hah?! Tiga puluh dua tambah tiga puluh dua berapa?!"
"ENAM PULUH EMPAT! Tiba-tiba dia menghindar dariku tanpa alasan jelas, tetapi menurut rumor Lucy Heartfilia masih menyukaiku. Enam puluh empat tambah enam puluh empat berapa?!"
"SERATUS DUA PULUH DELAPAN! Pantas Lucy senang saat ditolong olehmu. Sekarang kamu menyukai siapa, baka Jellal?!"
"RAHASIA! Yang pasti aku akan menembaknya nanti malam"
Pertengkaran melibatkan matematika, mereka berdua memang gila. Wahana telah berhenti sejak dua menit lalu, tetapi Jellal dan Erza masih duduk seakan menanti giliran selanjutnya. Penjaga membiarkan hal tersebut, perahu angsa kembali berjalan usai dipenuhi sepasang kekasih lain. Berturut-turut menaikinya tentu membosankan. Perang dingin yang berlangsung mendadak hilang, Jellal mendekat sementara Erza menjauh hingga menyentuh pojok bangku, dan langkahnya terhenti waktu itu juga.
"Pinjam pundakmu untuk bersandar. Aku lelah" tanpa menunggu persetujuan Jellal menidurkan kepalanya di bahu Erza, memejamkan mata lalu tertidur alias benar-benar kelelahan
"KAU PIKIR AKU BANTAL APA?!"
"Hahh….berisik! Kemarikan kepalamu, ayo istirahat" daripada mati kebosanan, tidur adalah pilihan terbaik untuk sekarang. Jellal menarik pucuk scarlet itu menindih kepalanya, sedangkan dia sendiri bersandar pada bahu wanita bermarga Scarlet tersebut. Posisi mereka terbalik memang, sesekali mencoba yang anti mainstrem bukan masalah
"Lihat sayang. Anak muda zaman sekarang romantis, ya!" komentar sepasang kekasih memperhatikan berjarak dua perahu. Menilik tingkah Jellal yang menurutnya manis, sekaligus gemas melihat Erza berlagak tsundere
"Benar, sampai dekat begitu"
Di belakang seperti itu, namun di depan mereka benar-benar tertidur. Penjaga wahana sampai kesulitan membangunkan, merupakan ketiga kalinya perahu angsa berlayar membawa Erza dan Jellal, setelah kunjungan keempat nyaris dilakukan kembali, untunglah salah satu keburu sadar, meminta maaf karena merepotkan kelewat batas sambil bersumpah dalam hati, 'tidak akan pernah menaikinya lagi'. Air mirip api, cahaya lampu terasa membakar kulit, kurang menyebalkan apalagi?
"Hey Erza, hey!" ucap Jellal memanggil sang pemilik nama. Kini mereka duduk di bangku taman, merebahkan tuan putri yang mirip dalam kisah Putri Salju, mengibaratkan wahana angsa sebagai apel beracun dan dia adalah pangeran dari negeri sebrang untuk…untuk….
"Benar juga! Kenapa tidak dicoba saja?" bisa dibilang, dia terobsesi dengan kisah princess buatan disney. Jellal memajukan bibirnya, membuat wajah mereka berdua tidak terpaut seinchi pun. Belum sempat memberi ciuman kejutan, Erza keburu sadar dan menjauhkan sejauh mungkin
"Apa-apaan kamu ini?! Ayo naik roller coaster!"
"Maaf, tetapi sekarang sudah malam. Kita beli saja suvenir di stand terdekat, oke?"
"Perahu angsa itu….! Akan kuhancurkan kapan-kapan!" tekad Erza berjalan menuju kios yang Jellal maksud. Belum puas karena gagal, dia masih berupaya mencuri kesempatan dalam kesempitan. Biarlah rencanya tidak jelas, yang penting berhasil seratus persen!
"Tutup matamu. Aku punya kejutan"
"Mirip anak kecil saja. Baiklah, tetapi jangan kecewakan aku"
"Nah, sekarang buka matamu!" tentu sulit mempersiapkannya, lebih-lebih waktu yang ia miliki hanya dua menit kurang. Erza kaget mendapati boneka macan betina, dan secara tidak langsung itu termasuk jenis penghinaan
"Karena bagiku, kau tetap macan betina kesayangan Jellal Fernandes!"
Model gombal terbaru: berlagak polos. Erza pun menerimanya karena merasa ia tulus, lagi pula….menjadi seperti keinginan si bodoh itu bukan masalah. Kebanyakan wahana telah ditutup semenjak satu jam lalu, kecuali bianglala yang akan berhenti beroperasi tujuh malam nanti. Keseluruhan kota Magnolia nampak dari atas sana, seakan mereka penguasa yang duduk di bangku tertinggi, sampai-sampai negara sendiri nampak seperti papan monopoli.
"Pemandangannya indah. Meski batal naik roller coaster, aku rasa tidak buruk"
"Menjatuhkanmu pasti terdengar menyenangkan, hahaha…." niat Erza yang sebenarnya menyeramkan ternyata, gumam Jellal cekikikan tidak jelas. Dia tau itu sekadar candaan belaka, kalau benar-benar dilakukan maka hati tersebut percaya, tangannya pasti diulurkan sebelum ia terjun bebas di tengah udara malam
"Kau tau sebuah rumor? Kalau tiba di puncak bianglala, dan mereka mencium pasangannya maka cinta itu akan abadi"
"Terdengar bodoh. Dan aku sudah menerka kau pasti melakukannya" Erza melindungi diri sendiri, menggunakan buku diary-nya sebagai perisai untuk menghentikan ciuman Jellal. Cahaya lampu menyinari sejenak, menerangai mereka berdua yang sibuk berkelut dengan pikiran masing-masing
Puncak bianglala telah terlewati, modus Jellal dipatahkan berulang kali oleh Erza. Ya, ini kekalahan paling telak yang pernah ia alami, meski begitu entah kenapa terasa menyenangkan, tidak bisa berhenti tersenyum, setiap kali mengenang perjuangannya demi mendapatkan sang pujaan hati. Terkadang berjalan di luar dugaan, dihajar habis-habisan, diganggu geng Natsu, tetapi….semua itu terasa indah sekarang.
CUP!
Dan di luar dugaan, Erza mencium bibirnya singkat.
"Sesekali….biarkan aku membalas rayuanmu. Maaf menyusahkan, tetapi kamu tau kan apa jawabanku?"
"Uhm! Aku juga mencintaimu, Erza. Terima kasih banyak sudah membalasnya"
Yang polos memang terbaik dibanding berandal.
Tamat
A/N : Akhirnya tamat juga. Thx ya buat yang udah ikutin, favs dan follow, semoga enggak mengecewakan, meski judulnya seminggu tapi tamatnya bulanan, hahaha….maaf juga update-nya telat, author try out dulu soalnya, bikin chapter ini pun ngebut jadi mohon maaf kalo ada banyak typo. Oke, tanggal 28 nanti mau try out lagi, jadi jangan heran kalau cerita-cerita pada telat update. Review please?
Balasan review :
Karura-Clarera : Wkwkw kencannya jadi kacau, semoga gak mengecewakan karena memang udah bener2 end. Thx ya udah review, aku tunggu tanggapanmu tentang chapter 7 ini!
Fic of Delusion : Sesuai dugaan emang kacau wkwkw. Oke semoga endingnya gak mengecewakan, thx ya udah review!
