Prev chap
Ia hening, menerawang jauh pada awan- awan yang pernah menjadi bahagianya bersama pria itu, sedihnya baru saja sampai, saat kemudain sebuah dot merah tanda notifikasi membubarkan sejenak, itu pesan singkat, tertera dari orang yang sama yang membuatnya berdebar dahulu, kemudian terhempas.
Kim Jongin: maafkan aku karena aku merindukanmu, SeHun.
Chap 6
"I thought that from this heartache, I could escape, But I fronted long enough to know
There ain't no way, And today, I'm officially missing you" –offically missing you
Sehun berguling kearah kanan kasurnya saat matahari pagi menyapa indra pengeliatannya, ia merasakan sedikit pening dan susah membuka matanya, sial pasti matanya bengkak seperti mata kodok.
Ia duduk di pinggir kasur, mengingat apa yang terjadi semalam, membuat kepalanya semakin pening, semalam jongin menghubunginya, dan—
Kim Jongin: maafkan aku karena aku merindukanmu, SeHun.
Ia mengecheck ponselnya, mendapati pesan itu nyata, artinya semua nyata malam itu, jongin yang mengucapkan terima kasih dan maaf, juga mengatakan bahwa pria tan itu rindu pada sehun.
Sehun memejamkan matanya, kali ini tidak untuk menangis, tapi untuk mengiklaskan semuanya, sehun hanya perlu mengingat seberapa banyak memori indah yang ia ciptakan di tanah kelahirannya, kemudian ia akan hidup senyaman- nyamannya disana. Menjadi yang lebih baik.
"sehun? Sarapan" baekhyun memecahkan keheningan sehun,
"oh, ya baekhyun" pria itu tersenyum sayu, membuat baekhyun akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar sehun,
"apa kamu sekarang ragu?" pria surai abu- abu itu mengelus punggung sehun.
"tidak, baek. Aku hanya—semalam.." sehun menggigit bibirnya ragu, ia takut baekhyun akan marah padanya.
"apa sms jongin membuatmu sangat sedih sampai tertidur di balkon semalam?" baekhyun tersenyum, sementara sehun menatapnya bingung.
"kamu tidak membuka notifnya, tentu saja aku tahu, dan lagi apa dia menghubungimu lagi?"
Sehun menggeleng,
"hanya itu, satu kali" –dan juga sempat menelfon- begitu dalam hatinya, tentu saja sehun takut baekhyun terlalu heboh, jika chanyeol tahu, maka habislah riwayat jongin hari ini.
"kalau sudah merasa lebih enak, kamu bisa keluar untuk sarapan, kita akan berangkat nanti sore" baekhyun bangkit dan meninggalkan sehun sendiri di kamar, membuat ia bisa lebih banyak berfikir, memberi banyak waktu luang untuk mencurahkan isi hatinya dan kepalanya yang terlalu penuh oleh pria brengsek macam jongin.
Sehun menghela nafas, waktunya sendiri terlalu banyak, dan itu membuat isi otak dan hatinya smakin penuh bukan berkurang.
.
.
Lost stars
By kaorie jung
cast: Kim Jongin x Oh SeHun/KaiHun
genre: angst. shou-ai/bxb
Don't like don't read, babe
.
.
"jongin" wanita bermata hijau keluar dari kamar mandi,
"hmm, hylla" pria tan itu sedang berfokus pada personal computernya, hari ini ia tidak bekerja karena hylla memintanya untuk tidak bekerja, karena wanita itu terus mengeluh karena ia tidak bisa tidur dan selalu mual di masa kehamilan yang sudah di trimester ke 2, dan seharusnya itu tidak terjadi.
"pinggangku sakit" wanita itu duduk di pinggir ranjangnya,
"jangan terlalu banyak bergerak, istirahatlah" mata jongin masih tidak beralih fokus pada pcnya, sesekali ia melirik jam wekker yang ada di samping laptopnya.
"jongin jangan sibuk terus" hylla mengdekapkan tangannya.
"aku sedang bekerja, hyll"
"but jongin, my back is hurt" hylla mulai merengek, membuat jongin akhirnya menghela nafas dan berbalik menuju ranjang dimana hylla duduk,
"baiklah hyll, ada apa sekarang?" jongin duduk di lantai, mengadahkan kepalanya melihat hylla.
"kamu sibuk?"
"begitulah?" jongin menjawab seadanya, hylla menjadi lebih manja dari biasanya dan itu menyebalkan menurut jongin.
"huh, kenapaa?" hylla mempoutkan bibirnya, saat jongin hendak mejawab, ponsel hylla yang berada di nakas berdering nyaring,
"ponselmu" jongin menunjuk ponsel putih di nakas.
"itu pasti tidak penting jongin" hylla masih meletakan tangannya di dada.
"angkat saja siapa tahu penting" jongin berdiri, mengambil ponsel yang ada di meja nakas,
"hallo?"
"wah jongin ya?"
"y—"
"sudah jongin, pasti tidak penting kan?" hylla merebut ponselnya, kemudian mematikan sambungan telfon itu, membuat jongin mengerutkan alisnya.
"kenapa?"
"apanya yang kenapa sayang?" hylla membesarkan matanya.
"kenapa kamu matikan telfonnya?" jongin menyelidik,
"karena pasti itu tidak penting"
"tap—"
"jongiin, aku ingin es krim" hylla mengkerut, wanita itu mencebilkan bibirnya,
"huft, okay, aku akan belikan" jongin mengalah, dan hal itu membuat ada sesuatu yang mengganjal dirinya tentang hylla, dan lagi suara pria di telfon itu langsung menyadari bahwa itu adalah dirinya, bahkan jongin saja tidak tahu ia siapa.
Jongin harus tahu itu.
.
.
"baekhyun! Cepat" sehun sudah gatal kakinya ingin cepat cepat turun ke lobby, pria feminim itu sangat lama sedari tadi, ntah apa yang ia lakukan didalam apartemen sehun.
"hyung lama sekali anak monyet itu" sehun protes, pasalnya memang lama sekali, baekhyun dari tadi sibuk sendiri dengan entah apa.
"berisik" pria manis itu keluar dengan menggeret koper miliknya,
"yasudah, ayo kita pergi, hyuk saeng sudah menunggu dibawah sedari tadi" chanyeol mulai mengemasi barang yang harus dibawa turun,
"kupikir kita naik taksi, hyung?"
"akan lebih mudah jika ada yang mengantar kan?" chanyeol tekekeh.
.
.
Jongin sedang berputar- putar menghabiskan waktunya dijalan, ia sedikit malas pulang Karena hylla pasti akan meminta yang aneh- aneh lagi, entahlah terlalu banyak yang jongin pikirkan akhir- akhir ini, tidak, tahun ini adalah tahun yang sangat aneh baginya, segalanya terasa begitu cepat dan bertubrukan sehingga ia terlalu lelah untuk beradaptasi.
Kemudian di benaknya terlintas kata- kata sehun semalam, 'aku akan berangkat besok' dan itu memberikan sebuah ide untuk jongin, bagaimana jika bandara?
Memang kemungkinan bertemu sedikit tapi, setidaknya ia bisa berangan seperti mengantar sehun ke bandara 'kan? Walau fisiknya tidak berjumpa pun.
Jongin hanya, rindu sejenak oleh sehun, begitu pikirnya. Sehun, pria itu adalah manisan di kehidupan jongin yang terlalu berliku, pelengkap yang seharusnya menjadi penutup paling indah untuk dirinya, tapi kenyataan benang merah terlalu tiba- tiba tidak sesuai dengan kenyataan yang ia miliki. Dan pula, jongin yakin seiring berjalannya waktu, mereka berdua akan menemukan jalannya masing- masing tidak akan bergantung satu sama lain, jongin yakin rasanya kali ini hanya sekedar karena mereka sudah terlalu lama bersama, sayang karena sudah terbiasa.
Padahal semua itu takdir tuhan, manusia hanya bisa menebak dan mengira.
.
.
"Well I wish that you would call me right now, So that I could get through to you somehow, But I guess it's safe to say baby safe to say,
That I'm officially missing you" –officially missing you
Sehun sudah memasuki waiting room airport, menyenangkan karena waiting roomnya berseberangan dengan pintu awal masuk airport, sehingga ia masih dapat melihat orang- orang yang lalu lalang sibuk dengan urusan masing- masing.
Waktu keberangkatannya sangat cepat tinggal 2 jam sebelum benar- benar meninggalkan korea, kota dengan seribu kenangan manis dan pahitnya, seperti rasa permen kapas dan kopi.
Sehun bergulat dengan pikiran dan emosinya, boleh kan ia berharap sekali lagi, agar dirinya bisa bertemu kim jongin? Mungkin, mungkin saja sehun bodoh karena masih menginginkan pria macam dia, tap ini yang terakhir, nanti tidak akan lagi, benar- benar yang terakhir walaupun mustahil, setelahnya mereka akan memilih jalannya masing- masing, sehun tidak akan repot memikirkan jongin, begitupun sebaliknya, jongin pun bisa hidup bahagia, sebagaimana tanpa sehun disampingnya, hidup normal dan bahagia.
Sehun pun.
Ia memandang ke arah serongnya, dimana baekhyun dan chanyeol sedang berbincang berdua, sehun sengaja mengambil posisi agak jauh, kalau- kalau ada jongin menghubunginya, walau sekali lagi hal itu terlalu mustahil.
Chanyeol bangkit, diikuti baekhyun, menuju tempat sehun duduk,
"sepertinya sebentar lagi pintunya dibuka, bagaimana kalau kita mengantri duluan?" chanyeol menyeret kopernya,
"kalian duluan saja, aku mau ke kamar mandi dulu" sehun tersenyum lalu berlalu kea rah utara, untuk ke kamar mandi, sementara akhirnya baekhyun dan chanyeol memutuskan untuk duluan mengantri agar cepat masuk ke pesawat, toh lagi pula sehun sudah dewasa, ia pasti bisa mengurus segalanya sendiri ketika masuk.
Tak lama setelahnya banyak orang yang sudah membentuk antrian menuju kearah belalai pesawat, sehun baru saja keluar dari kamar mandi, ingin mengambil barang- barangnya, tak sengaja menolehkan kepalanya kearah kaca pembatas, menemukan seoran pria yang sedang setengah berlari menoleh ke segala arah,
Dan sehun kenal benar pria itu siapa,
Bagaikan sebuah kembang api yang meledak, senyumnya mengembang, ia menahan rasa ingin menangis, mendekati arah kaca etalase yang menghubungkan jarak mereka, menunggu pria itu untuk segera melihat ke arahnya, sehun tidak tahu lagi harus berucap apa, dirinya merasa sangat bahagia dan perih secara bersamaan, cinta dan kecewanya merajuk menjadi sebuah campuran yang tidak dapat ia ungkapkan rasanya, jongin kemudian berhenti pada kaca etalasenya.
Jongin memandang kaca etalase yang memutuskan kontaknya dengan sehun, dan jongin benar- beanr ingin berlari dan memeluk pria pucat yang jauh jarak hatinya, yang terpisah oleh benua dan samudra hatinya, bukan fisiknya.
Pria tan itu mendekat, senyumnya menarik garis kesedihan, matanya berkaca- kaca, menemukan fakta bahwa pada keyataannya ia masih belum bisa meninggalkan sepenuhnya oh sehun, kemudian mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan singkat,
'aku melihatmu' katanya.
Pria pucat itu menggenggam ponselnya saat pesan itu masuk, menggenggamnya sangat erat,
'aku juga' kemudian tersenyum dibalik kaca itu.
Mereka lama saling memandang.
'sepertinya pesawatmu akan segera berangkat, cepatlah" jongin tersenyum sembari menunjuk antrian yang mulai memendek seiring berjalannya waktu,
'sehun, hati- hati, berbahagialah, aku akan sangat rela jika kamu bahagia tanpaku' begitu pesan terakhir sebelum jongin tersenyum lalu berbalik meninggalkan sehun yang masih mematung didepan kaca pembatas antara mereka.
Ia mengigit bibir, Kristal sudah membasahi sebagian pipinya, lalu berbalik untuk membawa koper dan ranselnya.
Mungkin beginikah akhirnya?
Sehun berjalan sangat pelan menuju ke pesawat, saat tiba di seatnya chanyeol dan baekhyun sudah lama terlebih dahulu berada disana,
"kamu lama sekali? Ngapain saja?" Tanya baekhyun, meneliti wajah sehun.
Pria itu hanya menggeleng, lalu masuk ke kursinya yang dekat dengan jendela pesawat.
"hey? Apa kamu menyesal sekarang?" baekhyun mensejajarkan tubuhnya dengan sehun.
Sehun menggeleng lagi.
"kamu tahu? Aku melihatnya. Tepat sebelum masuk ke belalai pesawat, aku melihatnya berada di kaca pembatas, menoleh kearahmu, demikian juga sebaliknya" baekhyun berbisik, lebih pelan, agar pria dengan kupir lebar disampingnya tidak mendengar pembicaraan mereka, oh pasti chanyeol akan sangat marah padanya jika masih berhubungan dengan pria gila itu.
Sehun hanya menatap dengan pandangan yang sulit diatikan, matanya terlalu gelap untuk dipandang, relungnya terlalu kaku dan dingin untuk disentuh.
"tidak baekhyun, aku baik" kemudian memaksakan senyum super anehnya.
"terserahmu saja, hun" baekhyun mengelus punggung sehun, sebelum berbalik arah kepada chanyeol yang sedari tadi sibuk mendengarkan musik.
'flight attendant ready to take off' suara pilot pada speaker menandakang sebentar lagi pesawat akan take off, sehun masih memandang view yang berada di balik jendela pesawat, memikirkan semuanya yang baru saja terjadi, mengigit bibirnya, dan meyakinkan dirinya jika pilihannya sudah benar.
.
.
Jongin duduk di salah satu kedai kopi di bandara, ia terlalu banyak menguras emosinya tadi, ia sangat takut bahwa sehun sudah berangkat lebih dulu, Karena melihat jadwal keberangkatan yang ata di papan depan tadi, sehun terlihat begitu lelah tadi, ntah apa yang membuatnya begitu.
Sehun terlihat lebih kurus dan pucat, lebih ringkih seakan mudah sekali rapuh sewaktu- waktu, wajahnya terlihat sangat shock karena ada jongin diseberang sana,
Pun jongin.
Mungkin secangkir kopi dapat menyurutkan segala emosinya yang sempat mengebu karena bertemu sehun.
Sekali lagi, jongin ingin memeluknya untuk terakhir kalinya, walau kini sangat mustahil, tapi jongin ingin. Jongin sadar bahwa sehun belum sepenuhnya pergi dari hatinya, sehun masih memiliki porsi tersendiri pada ruangnya, dan ntah kapan pria itu akan menyingkir dari sana, ruang yang jongin tidak kira ada untuk sehun.
Jongin masih bersandar nyaman kemudian ponselnya berdering, sebuah telfon masuk dari hylla menganggu pikirannya.
Sejenak akhirnya ia memutuskan untuk menerima, dan bangkit dari sana, ia harus pulang.
.
.
.
Pria pucat itu masih enggan untuk berbincang, sedari tadi dirinya hanya menatap langit yang sudah malam, sambil kupingnya disumpal oleh headset yang mengalunkan musik berbeat rendah, membuat suasananya semakin sendu.
Sehun mengira jongin bukan segalanya untuknya, saat ia benar- benar menyadari bahwa pria itu sudah menjadi kelemahannya, dan kemudian meninggalkannya demi sebuah kebohongan cantik.
Bohong jika dirinya tak banyak berbuat untuk mengembalikan situasi, pasalnya ia tak kuat untuk melawan kelicikan yang melampaui.
Sehun memejamkan matanya, mengistirahatkan hari yang menguras emosinya.
'aku masih mencintaimu, jongin' bibirnya bergumam pelan sebelum memposisikan untuk menunggu kelelapan yang datang menghampiri.
Tbc
Hello semua~ apdet ini dulu deeh karena aku lagi mood yang syedih2 gitu haha, terima kasih ya buat kritik dan sarannya di ff ini dan ff lain, aku bakal berusaha buar perbaikin ok~
Dan juga makasih yang udah nge fav, follow, dan review di ff ini dan ff lainnya, keep read it guys!
As always kalau ada yang mau ditanyain bisa kontak aku di
Bbm:51ACF615
Dankee
xx
