Don't look back
.
.
.
by Galang
.
.
Main chara:
U.Sasuke
U.Naruto
H.Sakura
H.Hinata
.
Genre:Suspense,Horror.
.
.
Disc:M.Khisimoto
.
.
.
ooooooooooooooooooooooooooo
Chapter 7: Curse
Flashback on
Hinata pov
Hari-hari berlalu seperti biasanya, Melakukan kegiatan yang biasa kulakukan, membantu Ibu memetik Sayur di gunung. Sempat terasa takut jika mengingat nenek Manda pada waktu itu mengagetkanku di gunung. Tapi akhir-akhir ini aku tak melihatnya lagi berkeliaran di gunung itu.
Seperti sebelumnya, Aku selalu melihat Konan menyapu halaman Nagato setiap pulang dari Gunung, Ibuku selalu menyapanya, dan begitupun sebaliknya. Aku kadang berpikir mereka ini sudah menjadi suami-istri, kenapa aku berpikiran seperti itu?. Ya jelas saja terlihat Konan yang setiap harinya bersedia membersihkan rumah Nagato, sementara Nagato pergi bekerja. bukannya itu terlihat seperti sepasang suami-istri? ya walaupun mereka tak serumah.
Desa tempat tinggalku terasa baik-baik saja, tak ada satupun yang berubah disini. Kadang aku teringat kata-kata Konan pada waktu itu, meskipun aku tak jelas mendengarnya. Kata-katanya seakan menyiratkan sesuatu, seperti sebuah ramalan tentang Desa ini. Tapi kuanggap itu hanya bualan saja seperti angin berlalu.
Bicara tentang Konan, aku cukup Prihatin dengan dirinya. Ayahnya belum tahu tentang hubungannya dengan Nagato, Sementara Konan akan dijodohkan dengan Yahiko. Aku mengenal orang itu, Yahiko salah satu penduduk Desa ini, seorang Anak pedagang yang cukup terpandang karena bisnis perdagangannya. Entahlah apa yang akan terjadi jika ayahnya mengetahui hubungan mereka. Apakah mereka akan berpisah? atau mereka berusaha untuk tetap bersatu.
"Kakak... ".
Kudengar panggilan Hanabi dari luar, membuyarkan Lamunanku. Segera aku bangkit berdiri dan membuka pintu Kamar untuk melihat Hanabi.
Setelah pintu kamar terbuka, kulihat Hanabi menatapku dengan senyum kala itu dan berucap.
"Ada kak Konan mencarimu". katanya sembari menggiringku ke ruang depan.
Aku melihat Konan tengah berdiri dekat pintu, entah ada hal apa dia sampai malam-malam datang mencariku.
"Hay Hinata... " sapanya sembari tersenyum.
Setelah membawaku menemui Konan, Hanabi langsung melenggang pergi, mungkin ke dapur.
"Ada apa kak Konan? " tanyaku langsung.
Kulihat dia seperti tersenyum canggung kearahku, tampak ia seperti menenteng sebuah bingkisan kecil.
"Hmm apa kau sibuk Hinata? " tanyanya padaku, Aku yang ditanya hanya menggelengkan kepalaku sejenak, kemudian menatapnya menunggu apa yang mau ia utarakan.
"Emmh maukah kau menemaniku? ".
"kemana kak? " tanyaku padanya.
"Ke rumahnya Nagato, aku ingin mengantarkan makanan ini padanya" Katanya sambil mengangkat bingkisan itu sejajar dengan pandanganku.
"Hmm baiklah, sebentar yah, aku izin pada Ibu dulu". Kataku seraya melangkah masuk kedapur untuk meminta izin pada kedua orang tuaku.
Saat di dapur, kulihat Nenek dan Hanabi sedang duduk di meja makan sambil berbincang, Hanabi tampak antusias berbicara dengan Nenek yang menanggapinya dengan deheman. Aku segera pamit pada Ibu untuk menemani Konan, Hanabi pun merengek untuk ikut, tapi Ibu melarangnya.
Setelah pamit, Aku dan Konan langsung keluar Dari Rumahku, kami berjalan menuju rumah Nagato.
Diperjalanan kami berdua tampak diam, tak ada pembicaraan apapun. Kudengar Konan hanya bersenandung ria sambil berjalan. Terlihat saat ini dia tampak bahagia. Hari memang sudah malam, tapi udara disekitar Desaku tampak sejuk, aku tak begitu kedinginan ketika berada di luar, kupandang beberapa rumah yang berjejer disepanjang jalan, hari ini bulan tampak menyinari Desaku, ku lihat beberapa penduduk berjalan-jalan, ada yang sedang mengobrol didepan rumah, ada yang seperti memasukkan barang-barang ke rumahnya, dan tak luput juga beberapa anak-anak yang masih asik bermain disekitar halaman rumah.
Kemudian pandanganku ku alihkan kesamping kiri, kulihat sungai yang mengalir berlawanan arah dengan tujuan kami, disebrang sana terlihat tembok yang berdiri mengelilingi desa kami, sedangkan pembatas antara sungai dan jalan, berdiri beberapa pohon yang tumbuh.
Hmm Desa yang tampak indah kurasa, aku bersyukur tinggal disini, walaupun kami sudah terpisah jauh dengan kehidupan luar sana, ramainya kota, tapi itu semua kami syukuri, setidaknya kami dapat menghirup udara yang segar disini.
Masih asik dengan segala pikiranku, berjalan santai dengan penerangan sekitar,membuatku ingin sedikit berbicara, aku tak suka dalam keheningan begini, walaupun kadang kudengar suara beberapa warga, tapi aku ingin sekedar mengobrol. Kutolehkan kepalaku menatap Konan yang memandang lurus ke arah jalanan.
"Apa Kak Konan sering mengantarkan Makanan untuk Kak Nagato?" tanyaku memecah keheningan di antara kami berdua.
"Hm begitulah, Tiap malam aku selalu mengantarkannya Makanan, yah ku rasa dia lelaki, mungkin selalu mengonsumsi makanan instan, jadi kubawakan saja makanan rumah untuknya. " jelasnya padaku, sambil sedikit melirik bingkisan yang ia pegang dengan tangan kanannya.
"Oh begitu..." Aku hanya menanggapinya demikian.
Tak terasa kami diam kembali, bingung tak ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Aku memasukkan kedua tanganku pada kantung Sweater putih yang sekarang ini kukenakkan. Ku lihat Konan malam ini memakai Kimono berwarna putih, dari sini ku lihat dia tampak anggun memakai pakaian model seperti itu.
Terbesit ingatanku kembali tentang perbincangan Kami waktu di rumah Nagato.
"Kak Konan... Apa kau bahagia disini? maksudku tinggal di Desa ini, apakah kau bahagia?" tanyaku sambil memandangnya.
"Menurutmu? " tak menjawab pertanyaanku tapi dia balik bertanya padaku, seolah akulah yang harus menjawab pertanyaanku sendiri.
"Hmm... menurutku, Kak Konan senang dan bahagia berada disini." mau tak mau aku yang menjawab pertanyaanku sendiri.
"Kenapa bisa kau berpikiran seperti itu? " sedikit bingung dengan pertanyaanya, Konan seperti bimbang tentang apa yang ditentukan oleh hatinya sendiri, wajah cantiknya memang tersenyum memandangku, tapi dapat kulihat sorot mata yang seperti menyimpan sesuatu.
"Yah karena aku memang berpikir seperti itu, jika kak Konan tanya alasannya, aku pasti bilang itu semua berkat Kak Nagato, kau selalu kulihat tersenyum, saat membersihkan halamannya, kau tampak tulus. Tapi dari dulu sebelum kak Nagato berada disini, Kak Konan memang bahagia kan? Kak Konan selalu baik pada warga kan? maka dari itu Aku berpikir kak Konan bahagia disini karena Desa ini tempat kelahiran kita" ucapku padanya, tak terasa saat ini aku sudah memegang tangannya yang menganggur.
Kulihat dia memalingkan pandangannya dari arahku, matanya menatap ke bawah, dia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"Hinata, apa kau pernah berbohong?" tanyanya nampak serius.
Aku sedikit heran dengan pertanyaannya kali ini, entah harus jawab apa, bukannya ini tak bersifat umum untuk dibeberkan, tapi aku percaya padanya.
"Jika soal pernah berbohong, semua Manusia pasti pernah melakukannya, tak ada yang sempurna, semua orang pasti memiliki rahasia, semua orang juga pasti pernah mengatakan hal yang tak jujur, tapi kadang berbohong itu bisa menjadi sesuatu yang baik". entah apa yang kukatakan sekarang ini, akupun tak mengerti dengan diriku sendiri. Aku bingung harus menanggapi seperti apa pertanyaannya.
"Jika aku mempunyai dosa besar? apakah kau akan selalu menjadi sahabatku? " tanyanya membuatku semakin tak mengerti, sebenarnya apa maksudnya bertanya seperti itu?, tapi ku kesampingkan dulu, saat ini aku hanya menjawab apa pertanyaannya.
"Kita semua mempunyai dosa Kak Konan, akupun juga begitu, lantas jika kita punya Dosa? apakah kita harus menyangkut pautkan dengan persahabatan kita? tidak kan? aku menyayangi ikatan kita, semuanya, ikatan yang terjalin antara penduduk di Desa ini, bagiku itu sangat berharga". Dapat kurasakan ia mengenggam tanganku semakin erat, seolah ia tak ingin melepaskan genggaman itu.
"Mungkin kau sekarang berkata begitu. tapi nanti kita lihat" ucapnya sembari melepaskan genggaman tanganku padanya.
Aku tak menimpali perkataannya, yang ku tahu saat ini dia seperti menyembunyikan sesuatu, tapi disaat bersamaan kulihat sekilas raut wajahnya menjadi datar.
"Kalau ingin, sebenarnya aku mau mengakhiri ini". ucapnya dingin, tak mengerti apa maksudnya, dia selalu membicarakan hal yang aneh, pada malam ini aku melihatnya terlihat yakin akan perkataannya, dan disaat bersamaan aku mencoba mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Entah kenapa, aku merasa Aneh dengan cermin tua yang ada di rumah kak Nagato" kataku dengan sukses membuat wajah datarnya berpaling kearahku.
"Kalau kau merasa aneh, makanya jangan dilihat. " terlihat raut wajahnya seolah mengatakan bahwa memang ada yang sedang ia sembunyikan.
Aku tak menanggapinya, entah dari mana aku semakin curiga dengannya, diriku seakan ingin menggali semua jawaban-jawaban darinya.
"Kak Konan, apa kau merasa Desa kita ini tampak aman? " tanyaku padanya.
"Aman tidaknya Desa ini, semua tergantung penduduknya, kita semua sadarkan? apa yang selama ini dilalui? " jelas Konan kemudian beralih menatap depan lagi.
"Maksudnya kak? " aku tak mengerti dengan pertanyaannya tadi.
"Kau sadarkan? apa yang dilakukan nenek manda dulu... Desa ini tak mengambil keputusan yang benar pada waktu itu, ku tahu semua itu keputusan ayahku. Tapi kita semua seakan menganggap apa yang telah Dilakukan nenek Manda hanyalah sepele". Konan seakan emosi saat mengatakannya, aku sedikit takut ketika melihatnya seperti itu.
"Emmh tapi dia kan Manusia juga kak, kurasa itu keputusan yang tepat kak, yang penting dia tak mengganggu lagi". ucapku yang kini juga menoleh ke arah depan.
"Jangan bercanda Hinata, apa kau tak ingat? dulunya disini dilakukan Ritual pembersihan Dosa, agar desa ini aman dari segala Hal-hal negatif, beberapa Pendosa dibakar Hidup-hidup. Kau lihat pendosa itu, mereka juga salah satu warga sini kan? tapi kenapa hal itu tak dilakukan pada Nenek Manda? " jelasnya semakin meninggikan suaranya, Konan tampak menahan amarahnya kali ini. Terlihat dari tangannya yang sudah mengepal.
"Hmm aku kurang tau hal itu kak Konan" jujur saja aku sudah tak mau menanggapi pembicaraan ini, Konan sudah tampak berubah, baru kali ini aku melihatnya marah seperti itu.
"Dan pada akhirnya kita tak bisa menyuarakan hal ini". Sebuah perkataan yang sukses membuatku berpikir akan maksudnya itu. apakah dia tak setuju? Konan menjadi lain sekarang, dirinya semakin aneh.
"Kadang, aku tak peduli tentang masalah yang ada di Desa ini, karena kupikir itu urusan orang dewasa, bagiku Desa ini aman, tak ada kejadian seperti itu lagi, dengan begitu tak perlu ada yang dikhawatirkan". Semakin lama perkataan yang mencul membuat kami ingin terus mengeluarkannya. Konan terlihat memejamkan matanya, aku ingin mengetahui kalimat apa yang akan ia susun kali ini.
"Jika seseorang melakukan kesalahan Fatal? apa yang akan kau lakukan? jika keputusan berada ditanganmu". dia seakan ingin mengetahui semua pendapatku. Dan tanpa ragu aku juga akan terus menjawabnya.
"Mungkin aku tak bisa mengambil keputusan yang tepat, Tapi keputusan yang ku ambil itu, pastilah sudah kupikir matang-matang". Aku tahu jawaban ini menggantung, dan pasti dia akan bertanya lagi setelah itu.
"Apa keputusanmu? " tanyanya langsung.
"Aku akan memutuskan hal yang akan disetujui orang-orang disekitarku, agar jika keputusan itu salah, setidaknya perasaan bersalah dapat dibagi dengan mereka". kembali lagi aku menemukan kata-kata yang berputar-putar tak jelas.
"Hinata... " dia menggumamkan namaku pelan.
"Apa kau tahu? terkadang semua orang di Desa ini sangatlah egois, kita semua bersembunyi dibalik topeng masing-masing. Apakah kau menyadarinya? " lanjutnya lagi, semakin lama langkah kaki kami semakin lambat, suara Konan mengelilingi diriku dengan pertanyaannya, aku berusaha dengan tenang, berusaha agar bisa menjawab atau berusaha tetap berbicara dengannya.
"Jika memang egois, itu sifat alami Manusia kan? " ku balik bertanya padanya, mungkin dia tak akan menjawabnya, pasti akan ada pembahasan lain lagi.
"Bagaimana rasanya? bagaimana rasanya mati? " seperti dugaanku, Konan akan membahas sesuatu yang lain lagi.
"Aku tak tahu, tapi kita semua akan merasakannya, walaupun takut, manusia tak akan pernah bisa lari dari kematian" Kucoba menjawab sebisaku, tanpa sadar kami sudah agak jauh dari Desa, sekarang tak ada lampu-lampu yang menerangi jalan kami, penglihatan cukup jelas karena bantuan sinar rembulan.
"Jika demikian, aku ingin ini berakhir". Perkataan Konan seakan membuatku berpikir keras untuk mencari apa maksud dibaliknya. Apa yang ingin di akhiri olehnya saat ini? Aku bingung, bagaikan dikelilingi kalimat-kalimat yang tak ada titik terangnya, Kalimat yang menggantung, tak punya jawaban, seperti lautan yang tak mempunyai dasar.
"Aku ingin, semua merasakannya". lagi dia berucap saat aku masih terdiam.
"Aku ingin mereka menyadarinya". seperti halnya perkataan itu ditujukan kepada semua orang yang ada disini.
"Dan jika pada harinya tiba... Aku..."
Dia menggantung kalimatnya, langkahnya pun terhenti, aku yang tak menyadarinya langsung menghentikan langkah juga, tapi saat ini posisi kami tidak sama lagi, aku sudah berada didepan membelakanginya.
"...ingin mengutuk mereka".
Aku mematung saat mendengar perkataannya itu, entah kenapa ada perasaan takut ketika mendengar kalimat Konan barusan, kalimat itu tidak terdengar seperti bualan semata, tersirat keseriusan disetiap kata-katanya.
"Brengsek... ".
Langsung kubalikkan badanku menghadapnya, Aku seperti mendengar suara lain, dan ku tahu itu bukan suaranya, Jantungku berdebar-debar saat melihatnya menunduk, Rambut birunya menjuntai kebawah menutupi sebagian Wajahnya.
"Terkutuk... ".
Dan lagi suara bisikkan itu terdengar, terdengar tepat didaun telingaku, Aku merasakan hawa lain berada disekitar kami, Seakan kami sedang tak berdua saat ini.
"Kak Konan... a-apa kau bilang sesuatu? " tanyaku ragu-ragu, pelan-pelan mendekatinya.
Perlahan tapi pasti, dia mengangkat kepalanya, dan terlihat rambutnya tersingkir kesamping saat wajahnya mulai tampak.
Dia tersenyum...
Matanya menyipit, raut wajahnya seakan menggambarkan ketenangan, cepat atau lambat perbedaan dirinya mulai ku rasa, perlahan bibirnya mulai bergerak. Aku bingung, seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa, perasaanku mulai tergantikan dengan kecemasan. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, seakan didalam diriku ada sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaanku.
'Kenapa dengan orang ini? '.
'Tenanglah, acuhkan saja'.
"Hinata ayo kita bergegas... " kini ia melanjutkan langkahnya lagi, sementara aku masih terdiam dengan pertanyaan-pertanyaan yang kubuat sendiri.
Sesaat dia melewatiku, angin seakan menerpa tubuhku, menghembus mengenai kulitku, dingin, sangat dingin bagaikan salju menyelimuti seluruh bagian diri ini. Aku terpaku, terdiam membisu.
"Hinata... ".
Aku tersadar ketika dia memanggilku, kubalikkan lagi badan ini menghadapnya yang sudah ada didepanku.
"Ayo... kenapa melamun?"
Aku mengikutinya, dan mensejajarkan jalan kami. Kami berdua terdiam, tak ingin membuka suara lagi, dan tanpa dirasa kami sudah sampai di rumah Nagato.
Konan langsung saja mengetuk pintu rumah, dan tak lama setelah itu, Nagato membuka pintunya dan mempersilahkan kami berdua masuk.
Konan langsung memberikan bingkisan yang ia bawa itu pada Nagato, kulihat Nagato tersenyum menerimanya, sekarang kami berada di dalam rumah, Nagato mempersilahkan kami duduk dikursi yang bersandar pada dinding.
Kulihat disekitar tampak rumah ini baru di bersihkan, lihat saja beberapa piring yang disusun itu, masih basah, dan juga lantai rumah ini kelihatan menampakkan bekas sapu di setiap bagiannya.
"Hinata, apa kau mau dibuatkan minuman? " tanya Nagato padaku, ia tengah berdiri dekat tempat piring, ku lihat disitu ada beberapa gelas yang sudah ia sediakan.
"Ah tak usah repot-repot kak Nagato" aku menolaknya dengan halus, walupun begitu,dia sudah membuatkanku teh, lalu memberikannya padaku.
Akupun tetap menerimanya, lalu kutaruh cangkir itu di meja dekat kursi yang kududuki.
Tak ada apapun yang terjadi selain percakapan Konan dan Nagato yang kudengar, Aku memperhatikan Konan yang tampak tersenyum saat Nagato membuat lelucon. Sedikit-sedikit Konan tertawa dan begitupula Nagato.
'Dia sudah kembali seperti biasa lagi'.
Aku mengalihkan pandanganku pada kedua insan itu, sekarang aku melihat Cermin tua itu, aku melihat sisinya karena sekarang aku tengah duduk dikursi yang bersandarkan dinding tempat menggantungnya cermin tua tersebut.
Aku coba berdiri mendekati cermin tua tersebut, Aku tak hiraukan Konan dan Nagato yang mungkin akan melihat kearahku. Dan kini aku berhadapan dengan Cermin tersebut, kulihat pantulan diriku, mata Ametisku, surai Indigo, jaket putih yang kukenakkan. tanpa terasa segala perhatianku kini tertuju pada cermin itu.
"Desa ini busuk! ".
Siapa itu? itu terdengar seperti suara Nagato, apa maksudnya? kucoba menolehkan kepalaku guna melihat mereka, tapi sesuatu seakan menahan pergerakan leherku, aku seakan dipaksa menatap cermin tersebut, dan sedetik kemudian penglihatanku mulai kabur. tidak! Cermin itu yang mulai kabur, seakan seluruh pantulannya dihembuskan nafas dan membuat bekas-bekas embun yang menempel.
"mereka akan dikutuk! orang-orang yang brengsek! ".
Lagi kudengar suara, tapi itu seperti suara Konan, ada apa ini? kenapa mereka seperti leluasa mengatakan hal itu? apa mereka tak menyadariku? apa memang mereka sengaja agar aku mendengarnya?, tapi entah kenapa setiap mendengar mereka,aku ingin melihatnya, melihat Konan dan Nagato, memastikan, apa benar mereka yang mengatakan itu?. tapi siapa lagi? di rumah ini hanya ada kami bertiga. Percuma, leherku tak bisa kugerakkan.
"Persetan akan keberadaan mereka".
Pikiranku dipenuhi dengan pernyataan-pernyataan barusan, aku seakan ditelan dalam kehampaan, perlahan Cermin didepanku mulai terlihat jernih lagi, tapi aku heran, apakah aku dalam kondisi baik sekarang ini? sebab aku tak lagi melihat pantulan diriku pada cermin.
"Mereka akan binasa".
Oh tidak, kumohon hentikan sumpah serapah itu, telingaku berdenging saat mendengarnya, perlahan kepalaku terasa membesar, dan pelan-pelan mengecil,membesar,mengecil. tubuhku serasa akan melayang, ringan, seperti bobotku tak ada artinya. dan seketika gelap, aku seperti menutup mataku, dibawa kedalam kegelapan yang tak ada setitik penerangan. Pikiranku berputar-putar. dapat kurasakan jiwa dan ragaku seperti terombang-ambing ditengah-tengah lautan, dalam kegelapan kulihat cahaya kecil diujung sana. Kudekati cahaya itu, sedikit demi sedikit kurasakan terangnya, itu bagaikan jalan keluar dari kegelapan ini. Sedikit lagi... sedikit lagi... dan...
Tiba-tiba semuanya kembali seperti semula, tapi aku kembali di buat Bingung, Cermin itu tak memantulkan diriku. ada apa ini?. dan tanpa kusadari, suasana terasa hening, tak ada suara apapun yang kudengar, kucoba tolehkan kepalaku, yah aku bisa meggerakannya, tak ada lagi yang menahan pergerakan leherku. Aku mencari keberadaan Konan dan Nagato, dan saat pandanganku berada disamping kanan. Aku melihat keduanya tengah menatapku. Keduanya tak mengekspresikan apapun, mereka terus menatapku seperti ada sesuatu yang menarik pada diriku. Kembali kugerakkan leherku dan pandanganku bergerak menuju Cermin tua itu lagi. Sekarang aku dapat melihat pantulan diriku dicermin itu. Entah perasaan apa yang menggelitikku, seperti aku ingin memastikan bahwa pantulan dicermin itu adalah diriku. Kucoba tarik setiap sudut bibirku membentuk senyum, Aku dibuat terkejut saat melihat bayanganku dicermin sama sekali tak tersenyum. Pantulan bayanganku hanya diam seakan menusus wajahku dengan tatapannya. Segera ku alihkan lagi pandanganku ketempat Konan dan Nagato berada. Seluruh rambutku terasa dijambak, aku tak bisa menyuarakkan suaraku lagi, mataku seakan ingin keluar dari tempatnya. Dimana mereka? mereka sudah tak ada ditempat itu.
"Semuanya pasti akan musnah".
Suara itu lagi...
"Yang tersisa hanyalah kehampaan".
Dimana mereka, apa itu suara mereka?.
"Mereka tidur didalam kegelapan".
Telingaku menangkap jelas suara itu...
"Berpikir semuanya akan baik-baik saja".
Aku kenal suara itu, suara Konan dan Nagato.
"Dan pada akhirnya mereka bangun disertai tangisan darah".
Apa maksud dari ini semua...
"Kematian akan menghampirinya".
Sekali gerakan aku langsung menatap Cermin tua itu lagi. Dan aku dibuat ternganga saat kutangkap pantulan Konan dan Nagato dari cermin, tapi sekarang pantulan diriku sudah tak ada,digantikan dengan mereka. Keduanya menatapku datar, mereka terlihat sangat pucat layaknya kertas.
"MATI!!! "
Keluar kalimat itu dari mulut mereka, dan seketika cermin itu retak, retakan menjalari disetiap bagiannya, kemudian pecah berkeping-keping.
"...Ta".
"...Nata".
"Hinata... ".
Aku langsung sadar, diriku berjengit ketika aku merasakan tepukan tangan dibahuku. Aku berbalik mendapati Konan tersenyum kearahku.
"Ayo kita pulang".
Sedetik aku gugup, tapi ketika kulihat lagi Cermin tua tersebut, aku sudah mendapati pantulan diriku, Kucoba mengangkat tangan kananku, dan pantulanku mengikutinya, kugelengkan kepalaku, pantulankupun mengikutinya.
"Hey kau kenapa? " tanya Konan ketika melihat tingkahku.
"Cerminnya bagus kan Hinata? " ini Suara Nagato.
"Ah i-iya... " ucapku demikian. kulihat Konan sudah berada diambang pintu, Konan memanggilku agar aku mengikutinya.
saat akan keluar, samar-samar kudengar suara Nagato dari belakang.
"Terlihat bagus untuk ukuran sebuah cermin". ucapnya samar-samar, tapi masih bisa kudengar, saat kulihat Konan, dia tampak tak mempedulikan suara itu, aku yakin dia juga mendengarnya.
o0o
Didalam perjalanan pulang, Aku dan Konan tak membicarakan sesuatu, kami hanya diam disepanjang jalan. hanya ada suara Air yang mengalir, Desa sudah sepi, ku yakin semua orang sudah berada dalam rumahnya masing-masing.
Lama berjalan, kini kami sudah sampai di rumahku.
"Kak Konan, apakah kau mau singgah sebentar? " tanyaku, walaupun sudah kutahu jawabannya, setidaknya ini untuk melupakan kecanggungan kami saat berjalan pulang tadi.
"Hmm kurasa tidak Hinata, aku akan langsung pulang" katanya, kemudian melanjutkan langkahnya.
"Konan... " Panggilku tak lagi menggunakan kata 'Kakak' di awalnya. Dan otomatis saat mendengar panggilan itu, dia langsung menghentikan langkahnya, tapi dia tak berbalik ke arahku.
Ku lihat punggungnya, dia berdiri agak dekat dengan Pohon yang berjarak beberapa meter dari rumahku. dia seakan mematung disitu, menunggu perkataanku.
"Ketika melihat Cermin di rumah Nagato, aku merasakan hal Aneh". langsung kuutarakan tanpa basa-basi.
Kulihat dia masih diam mematung dekat pohon itu, sama sekali tak membuat gerakan sekecil apapun.
"Aku merasa Cermin itu seperti bersuara". Kataku lagi, dan dia masih diam.
"Seperti ada sesuatu didala... " belum sempat kuselesaikan kalimatku, Konan langsung memotongnya.
"Kalau kau merasa aneh, makanya jangan dilihat".
Kata-kata itu, yah hanya itu yang dia katakan, akupun bungkam. Tak lama kemudian Konan sudah terlihat berjalan menjauh, melangkahkan kakinya pulang. Aku melihatnya semakin lama semakin jauh dan perlahan tapi pasti sosoknya menghilang bagaikan ditelan kegelapan malam.
o0o
Beberapa hari kemudian, datanglah kabar yang buruk. kabar yang tak ku sangka-sangka. Seperti halnya aku mendengar lelucon saja, aku merasa saat itu sedang bermimpi. tak ingin percaya dengan apa yang dikatakan Ayahku saat membawa kabar tersebut.
"KONAN MENINGGAL! ".
Saat Ayah mengatakan itu, sempat kami tak percaya, tapi keributan di desa memaksa kami mempercayainya, semua orang di Desa membicarakannya. Aku saat itu sangat terpukul, entah apa penyebabnya Konan sampai meninggal. Dan setelah mendengar penjelasan Ayah, aku kembali menelan kepahitan. Konan ditemukan tewas di halaman rumah Nagato, mayatnya ditemukan sudah terbaring dihalaman Nagato dengan bermandikan darah yang merembes dari perutnya. Para warga menuduh Nagato yang sudah membunuh Konan, tapi Nagato menyangkalnya, Karena dirinya saat itu berada di rumah Kepala Desa. tapi mau bagaimana lagi, Karena mayat Konan ditemukan dihalamannya, para warga pun menduga bahwa Nagato yang sudah membunuh Konan. Hal itu membuat kepala Desa murka, Yang kudengar Nagato dihakimi warga, dihajar layaknya Binatang. Hanya untung beberapa pendeta melerainya, tapi keputusan berada ditangan Kepala Desa, mereka akhirnya mengurung Nagato.
Esoknya, Konan dimakamkan, seluruh warga berduka kala itu, aku yang mengikuti acara pemakaman, tak mampu menahan air mata. Entah prasaanku mengatakan kalau Nagato bukanlah dalang dari semua ini. Mana mungkin pria itu tega membunuh Konan, Konan adalah kekasihnya, aku tahu pria itu mencintai Konan,walaupun aku merasa aneh dengan mereka, kata-kata itu, dan Cermin tua tersebut. Tapi aku hanyalah seorang warga biasa, tak bisa mengutarakan tentang pendapatku.
Kepala Desa sangat terpukul dengan kejadian itu, beliau tak pernah keluar rumah sejak itu. Sementara Nagato dikurung di suatu tempat, masih dalam kawasan Desa ini, letaknya dekat dengan Kuil. Menunggu hukuman yang akan dijatuhkan padanya.
Semua Warga setuju untuk melakukan Ritual pembersihan dosa, dan Hari itu juga semua para Warga mempersiapkan ritualnya.
Ritual dilakukan saat siang hari, dimana pendosa yakni Nagato dikelilingi oleh pendeta, dan tangannya diikat, serta membawa dirinya pada kobaran api. Tapi yang kurasa itu hanyalah rasa Amarah para Warga, mereka melakukan ritual tersebut hanya sebagai kedok untuk menutupi bagaimana marahnya mereka, jika bisa, tanpa melakukan ritual, mereka ingin segera membunuh Nagato sekarang.
Aku tak tahu apa yang terjadi saat ritual berlangsung, karena aku tak ada disitu, hanya Ayah dan Ibuku yang mengikutinya.Aku, Hanabi, dan Nenek hanya berada dalam rumah, kami hanya mendengar Suara-suara para pendeta yang sedang melakukan Ritual. dan tak lama kemudian, kami mendengar suara tongkat besi yang dipukulkan ditanah. suaranya menggema seperti mengiringi kematian.
Beberapa saat kemudian, Aku, Hanabi, dan Nenek, langsung terkejut saat mendengar teriakan para Warga, kenapa mereka berteriak? apa yang sedang terjadi diluar sana?. Ingin melihatnya, tapi nenek melarangku. Kami bertiga hanya mendengarkan suara-suara para Warga yang tampak menjerit kesakitan.
Teriakan itu menggema seakan menyelimuti Desa ini, jerit dan kesakitan terdengar sangat menyayat hati, aku jadi teringat dengan orang tuaku, mereka berada diluar, apa yang terjadi pada mereka.
"Nenek, Ayah dan ibu berada diluar" kataku yang sudah menangis, karena aku tak bisa menahan tangisanku ketika mendengar teriakan itu, diriku menjadi takut.
Hanabi juga menangis, kami berdua memeluk Nenek yang sedang duduk dikursi, raut Wajah nenek juga tampak khawatir.
"Desa ini dikutuk, aku melihatnya, roh-roh memasuki raga para warga" ucap Nenekku, matanya menatap lekat-lekat pintu depan yang tertutup, kurasakan tangan keriputnya itu bergetar.
"Aku takut... " Hanabi Bergetar, kulihat dirinya menyembunyikan wajahnya dipangkuan nenek.
Dan tak lama kemudian, suara-suara teriakkan itupun tak terdengar lagi, tak ada jeritan kesakitan, semuanya tampak hening.
"Kalian berdua, ayo kita pergi dari sini, Desa ini sudah dikutuk" ucap Nenekku seraya berdiri dari duduknya. Aku dan Hanabi hanya mengikutinya dan kami berdua memegang erat-erat lengan Nenek.Saat Pintu rumah dibuka, kami bertiga pun kaget bukan main melihat apa yang sekarang tersaji didepan kami. Jantungku seakan mau pecah, kepalaku terasa pusing. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. serasa ini seperti mimpi saja.
Desa yang dulunya selalu indah ketika saat membuka pintu ini, desa yang selalu menjadi tempatku hidup. Sekarang menjadi layaknya lautan darah, banyak mayat yang berbaring ditanah, bahkan puluhan mayat yang tak berbentuk lagi, kepala terpisah dari tubuhnya, organ-organ tubuh berhamburan ditanah yang sudah digenangi Darah. Kenapa ini?.
"Mereka saling membunuh, mereka menjadi gila" ucap Nenekku yang juga terkejut ketika melihat pemandangan itu.
"Bagaimana dengan Ayah dan Ibu? mereka dimana? " Kalimat itu langsung lolos dari mulutku, aku sudah merasakan hal buruk terjadi pada mereka, hampir sejauh mata memandang yang kulihat hanyalah tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa lagi.
"Cepat kita pergi dari sini! " Nenekku langsung menarik Aku dan Hanabi. Dia memaksakan dirinya berlari walaupun sudah tak mampu.
Kami berlari menuju gerbang Desa ini, tapi kami malah tak menemukan gerbang itu, gerbang yang seharusnya ada kini sudah hilang, Hanya ada tembok pembatas antara Hutan dan Desa.Pikiran kami buntu, Aku takut, Hanabi tak berhenti menangis ketakutan. Disaat sedang genting begini, ketika tak tahu apa yang harus dilakukan. tiba-tiba saja suasana sekitar menjadi gelap, tak ada lagi Cahaya matahari, padahal waktu belum menunjukan malam.
"Apa yang terjadi nek? kenapa jadi gelap? " teriakku yang mengeratkan pegangan pada lengan Nenek.
Begitupun Hanabi.Nenekku tak berkata apa-apa, Dia menatap sekelilingnya, dia seperti sedang mencari-cari sesuatu.Tak lama kemudian, nenek menarik kami menuju Hutan, Hutan dimana biasanya aku dan Ibu memetik sayur.
"Apa yang kita lakukan di hutan Nek? " tanyaku dengan panik.
"Kita pergi dari sini, ingat, saat lewat dirumah itu, kalian jangan sampai menoleh ke rumah itu".
Aku berpikir, yang dimaksud nenekku sudah pasti rumahnya Nagato, tapi kenapa? ada hal apa yang terjadi disitu?.Ketika kami sudah akan melewati rumah Nagato.
Tangisanku seakan mau pecah, Hanabi sudah menangis sejadi-jadinya, Nenekku seakan mengucapkan doa.
Ku lihat dari ekor mataku, berdiri Sosok perempuan bergaun putih dengan rambut yang sangat panjang di halaman rumah Nagato. Astaga!! dia tertawa, suara tawanya sangat menakutkan. dan lebih parahnya sosok itu mengejar kami bertiga.
Aku dan Hanabi berteriak sejadi-jadinya, kami terus berlari menjauh dari sosok itu. Berlari menyelamatkan diri.Tapi semua itu sia-sia, entah kenapa pandanganku sudah gelap, aku tak melihat lagi sesuatu didepanku, yang kudengar hanyalah suara Nenekku dan tangisan Hanabi, tubuhku tak ingin bergerak lagi, seakan ini sudah batasku.
Aku terjatuh, tubuhku terhantam oleh kerasnya tanah. aku tak bisa merasakan kakiku saat itu.
Gelap, seluruhnya gelap. Sempat kudengar teriakan Nenek dan Hanabi. Jeritan mereka berdua seperti kesakitan, dan akupun tersadar ketika sesuatu yang lembab seperti terciprat diwajahku, ini terasa seperti air, tapi agak kental, dan berbau anyir.
Dan kusadari saat tanganku menyentuh wajahku, Ini... darah.Darah siapa? Dimana Nenek dan Hanabi? Kenapa mereka hanya diam? Apa mereka disekitarku? Disini sangat gelap, aku tak bisa melihat apa-apa.
"Semuanya pasti akan musnah".
Suara itu...
"Yang tersisa hanyalah kehampaan".Kesadaranku mulai terkumpul sepenuhnya, ku dengar suara itu lagi...
"Mereka tidur didalam kegelapan".
Tiba-tiba guntur pun bergemuruh dilangit yang gelap...
"Berpikir semuanya akan baik-baik saja".
Sejenak Kilat muncul, menerangi sekitar dengan kilatannya Dalam sekejap, kemudian kembali gelap lagi.
"Dan pada akhirnya mereka bangun disertai tangisan darah".
Cahaya sekejap mencul dari kilat, menjelaskan pandanganku walau hanya seperti kedipan mata, sebelum sinarnya menghilang... Aku kaget, tak percaya, mataku menangkap Hanabi dan Nenek terbaring kaku... Tanpa kepala!, pandangan sekilas itu terekem baik-baik di otakku, mereka bermandikan darah disekujur tubuh.
"Kematian akan menghampirinya".
Kilat muncul lagi, membiaskan cahaya sekejap, dan saat itu aku melihat samar-samar Sosok Wanita bergaun putih berdiri tepat dibelakang tubuh Nenek dan Hanabi yang terbujur kaku itu. Cahaya sekilas itu menjelaskan penglihatanku, Astaga! Masing-masing tangannya memegang kepala nenek dan kepala Hanabi!.
"MATI!! "
Aku berteriak sejadi-jadinya, tak peduli dengan keadaan yang gelap Gulita, saat ini aku harus lari. Lari menjauh, pikiranku kacau bersamaan dengan keluarnya air mataku.
Hanabi dan Nenek tewas secara mengenaskan.Langkahku berlari menuju ke Desa lagi, aku berharap masih ada orang yang hidup, meski mustahil, tapi aku ingin memastikannya.
Keadaan Desa sangat gelap, dan untungnya ada sedikit penerang disini, tapi itu tak membuatku merasa aman, Aku semakin bingung dengan apa yang kulihat sekarang ini.
Dimana mayat-mayat itu? Semuanya bersih seakan tak terjadi apa-apa, darah yang berceceran, tubuh yang tak utuh, organ-organ yang terpisah, kini sudah tak ada! Keadaan Desa bersih, tak ada mayat yang kulihat saat itu.
"Aneh bukan? ".
Siapa itu? Segera kucari asal suara, dan kudapati Nenek Manda sudah berada dibelakangku.
Aku sedikit takut melihatnya yang tiba-tiba muncul seperti itu. Dia seakan tersenyum, dapat kulihat walaupun minimnya cahaya.
"Apa yang terjadi disini! " teriakku, ingin rasanya tahu apa penyebab kekacauan ini.
"Kutukkan... " gumamnya, meski aku tak melihatnya dengan jelas, tapi ku tahu saat ini ia tengah serius.
"Apa maksudmu dengan kutukkan" aku bertanya padanya, walaupun aku sedang menahan ketakutan, tapi aku butuh penjelasan detik ini juga.
"Desa ini dikutuk, banyak jiwa-jiwa yang dipenuhi dosa... Hihihi" ucapnya dengan tawa yang sukses membuatku bergidik ngeri.
"Apa karena Ritual itu? " ku coba mencari jawaban darinya, ku lihat Nenek Manda masih tertawa, sedetik kemudian wajahnya kembali serius."
Bukan... Itu semua karena..."
lagi dia menggantung kalimatnya, dengan tak sabar aku langsung berteriak karena tak mampu menahan rasa ingin tahuku. "Karna apa!? ".
"Cermin tua... ".
Cermin? Yah benar, cermin tua, sedari dulu aku punya perasaan yang tak enak tentang Cermin tersebut. Aku yakin ada hal negatif yang tersembunyi di Cermin tua itu.
"Itu adalah Cermin untuk memuja, Nagato adalah pemuja setan, Roh-roh itu berasal dari Cermin tersebut dan mengutuk Desa ini hihihihi".Ucapnya lagi sambil tertawa.
"Pemuja Setan? Apakah kau sudah tahu ini dari awal? " tanyaku penasaran, entah kenapa Nenek Manda seakan tahu segalanya.
"Hihihi, Desa ini akan selamanya terselimuti Roh-roh dari Cermin itu, Desa ini menjadi Desa para pendosa, hihihi" bukannya menjawab pertanyaanku dia malah meracau tak jelas.
"Apakah tak ada cara lain menghentikannya? " kurasakan sekarang udara semakin mendingin, menusuk kulit-kulitku.
"Caranya hanya satu... "
Kutunggu kalimat yang akan ia ucapkan, menunggu dalam diam.
"Hancurkan Cermin tua itu... ".
Setelah mendengar perkataan Nenek Manda, aku langsung bergerak, walaupun takut, kupaksakan untuk kembali ke rumah Nagato.
Tanpa kutahu nenek Manda mengikutiku dari belakang, saat ini aku merasa dia satu-satunya harapanku.
Sesampainya kami di rumah Nagato, langsung Saja kucari Cermin tua tersebut, tapi aku sama sekali tak menemukannya, entah dimana cermin itu.
"Cerminnya tak ada! " kataku dengan cemas, ku lihat nenek Manda seakan marah setelah mendengar ucapanku.
"Dia sudah menyembunyikannya".
Aku bingung, tak tahu harus buat apa lagi, sementara nenek Manda hanya berdiri di ambang pintu.
Lama terdiam, Tiba-tiba terdengar suara teriakkan yang sangat nyaring. Aku kaget mendengar suara itu, suara itu berasal dari luar. Kulihat nenek Manda sudah tak ada lagi dipintu.
Aku keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan saat diluar, aku mendapati Nenek Manda berdiri dihalaman, dia seperti memandang sesuatu dibawah sana.
Ku ikuti arah pandangannya, dan betapa terkejutnya aku melihat Wanita bergaun putih itu lagi, sosok itu berteriak-teriak, entah apa yang dilakukannya disana. Itu sosok yang sudah menewaskan Hanabi dan Nenek. entah kenapa melihat sosok itu seakan aku tak berani lagi, semua nyaliku menghilang seketika.
"Larilah... " ucap Nenek Manda menyuruhku untuk meninggalkan tempat ini.
"Jika dia melihatmu, kau tak akan selamat... " tambahnya lagi, nenek Manda terus mamandang sosok itu, sosok yang melayang-layang diudara.
Tanpa tunggu lama-lama lagi, aku segera berlari meninggalkan tempat itu, sebelum jauh sempat kudengar suara Nenek Manda memperingatkanku.
"Jangan menengok kebelakang... ".
Ucapnya kala itu, dan kuturuti apa yang ia katakan, aku sudah kalang kabut saat ini, kejadian ini sangat membuatku terpukul. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat, Desa ini dikutuk, Cermin tua yang sangat misterius. Dan kini Desa ini seakan mati, tak ada lagi keceriaan seperti dulu. Kini digantikan dengan kekelaman yang terus menghantui tempat ini untuk Selamanya.
End Hinata pov
Flashback off
Tbc
A/N:Halo man! sori lama updetnya(kayak ad yg nunggu) bagaimana chap ini? sy mempercepatnya, masih ada yanng belum diungkpakn yah? soal pembunuh Konan pasti akan terungkap sndirinya.
segitu aja dlu man. sy ngantuk soalnya, habis bgadang..
ok sampai ktemu lagi man!Jika berkenan tinggalkan jejak yah..
kritik dan saran author terima dengan senang hati teemasuk Flame.
