Rina: Yay, update chapter 7! Karena males aku baru post sekarang! Padahal chapter ini udah jadi beberapa hari yang lalu,,,

Rin: Tunggu bentar author kenapa jadi begini?

Len: Dan kenapa bagianku di chapter sebelumnya super dikit!

Rin: Len sejak kapan kau disini? *kaget*

Len: Sejak tadi….. sejak chapter 6 lebih pas na….

Rina: *cengar-cengir* Lagian udah aku bilang bukan Rinny~ kalo Lenny bakalan ngikut ngoceh ndak karuan disini….. Itu karena aku kasihan ma Shota-kyun~

Len: AKU BUKAN SHOTA! *ngomel*

Rina: Nah, Rinny~ silahkan baca disclaimer na ok! *ngomong dalam hati*(kecuali kau ingin aku buat sengsara sengsara sengsara sengsara sengsara sengsara)

Rin: Terserah! *feeling jelek*

Disclaimer: Author bego ini ndak punya Vocaloid ato lagu yang ada disini! Lagian author ini kan buta musik! Tapi author bego ini punya Fic ini!

Rina: *mojok* Iya2 aq buta musik…. Ah, mungkin nanti akan ada nama yang tidak kalian kenal sama sekali! Karena aku memasukkan OC-ku kedalam sini! Meski cuman peran tambahan yang ndak penting! Jadi, Merlinne Adilisia Lamferd adalah milik author Rina!

Len: Kalau begitu silahkan membaca! Dan review yg banyak biar author ndak ngambek!

Rina: Diem lu, atau aku bikin kau pake dress yang berwarna pink, frilly, dan ala lolita!

Len: O-oke... *diem*


Normal POV


Hari demi hari berganti dengan cepat. Tak terasa Festival Kebudayaan hanya tinggal 2 minggu lagi. Rin selalu memasang matanya dengan baik pada Len, meski mereka sudah tidak pernah bertegur sapa lagi seperti teman. Hanya sebatas teman sekelas. Namun, Rin masih memegang teguh cintanya pada Len. Hingga dia merasa bahwa tak ada yang bisa menghentikan perasaannya sekarang. Meski dia hanya bisa berharap akan kebahagiaan Len….

Tanpa diketahui Rin, sepasang mata juga selalu mengikuti gerakannya (stalker?). Pemilik sepasang mata itu merupakan Len. Semakin lama Rin mengacuhkannya, dia merasa, bahwa dirinya semakin ingin berbicara dengan Rin lagi. Dia sangat merindukan Rin, namun dia tahu perasaannya pada Rin, berbeda dengan perasaannya pada Miku jadi tak mungkin Len menyukainya. Namun, perasaan ini juga berbeda saat mereka masih berteman ataupun bersahabat. Perasaan itu membuat pikirannya menjadi sangat sakit. Tapi Len masih belum mengerti akan perasaannya sendiri.

Teto menggigit bibir bagian bawahnya saat Len memperhatikan gerakan- koreksi setiap gerakan Rin. Selama persiapan Café Cosplay kelasnya, Len selalu memperhatikan gerak-gerik Rin. Teto merasa hatinya terbakar amarah, seandainya Len tidak pernah bertemu Rin maka..…Rin pasti akan jadi miliknya seorang.

Miku menyadari sikap Len yang semakin dingin kepadanya. Dia tidak bisa menyangkal bahwa dirinya hanyalah pengganggu. Miku menyadari, bahwa dia tak mungkin bisa mendapatkan Len, dia tak pantas untuknya.

Rin masih menyembunyikan perasaannya rapat-rapat. Meski dia masih teringat akan mimpi yang ia dapatkan selama 1 minggu penuh. Mimpi itu membuatnya sangat ketakutan, namun melihat wajah orang yang dia cintai, membuatnya mampu melupakan mimpi itu.

Lalu, siapakah yang akan menarik benang dari dalam kegelapan? Siapa yang akan jujur terlebih dahulu? Apakah perasaan yang Rin simpan ini salah?


Rin POV


"Kamine-san! Bisa coba bawa ini ke sana?" pinta salah seorang murid laki-laki yang membawa setumpuk kain yang berwarna-warni.

"Baik!" jawabku dengan nada ceria. Segera aku berlari menuju ke arahnya dan mengambil tumpukan kain, yang meskipun jumlahnya banyak, terasa sangat ringan itu.

Semuanya tahu bahwa aku dan Teto akan melakukan pertunjukan pada saat pentas. Sehingga tak ada yang memintaku melakukan hal-hal berat, yang mungkin bisa membuat kondisi tubuhku memburuk.

Namun, aku merasa tidak enak jika hanya berpangku tangan, jadi aku menjadi pembawa barang-barang kesana kemari, dan setelah saatnya latihan aku segera pergi untuk latihan Band. Dan meninggalkan kelas, aku bersyukur anak-anak di kelasku sangatlah baik dan pengertian.

Hari ini, seharusnya kostum panggung kami sudah sampai. Namun, tak ada tanda-tanda bahwa manager band kami akan memasuki ruang musik. Pada saat itulah, aku mendengar suara pintu geser ruang musik dibuka dengan sangat keras. Spontan kami melihat ke sumber suara

"Rin, Teto, lihat ini kostum yang akan kalian pakai!" ucap Mel, manager band kami, yang membawa satu kotak karton ukuran besar. Bagaimana dia bisa berlari dan membuka pintu ruang musik dengan benda itu ditangannya ya?

"Ah, Mel-san! Selamat sore!" sapa Luka-san yang masih sibuk dengan kertas musik ditangannya.

Ah, aku pasti belum bilang, Merlinne Adilisia Lamferd, atau akrab dipanggil Mel, merupakan mantan anggota Band, yang sekarang menjadi manager. Dia memiliki warna rambut berwarna hijau emerald dan mata berwarna sapphire. Dia merupakan orang yang sangat ceria dan tentunya sangat pintar. (Mel: Hei, kenapa sifat na kebalikan ma yang asli! Rina: Nananana~) Dia diizinkan menjadi manajer meski kelas 3 dikarenakan dia sudah mendapat kursi khusus di perguruan tinggi, dan meski dia tidak melakukan ujian akhir, dia sudah dianggap lulus. Hebat bukan?

"Benarkah? Mana mana?" tanya Teto dengan antusias. Dia segera menghampiri Mel-san, meski dia masih memakai Headphone. Tentu aku dan yang lain segera menyusul untuk melihat kostum kami.

Mel-san menunjukkan sebuah kotak penuh dengan baju, dress, dan aksesoris. Dengan cekatan, dia memberikan baju-baju yang akan kami pakai, meski di dalam kotak itu ada banyak baju.

"Nah, Rin, Teto, untuk lagu 'Magnet' kalian akan memakai ini…" ucap Mel-san sambil menunjukkan dress berwarna hitam kelam tanpa lengan dengan pita warna putih yang berperan sebagai ikat pinggang. Dan di ujung-ujung na terdapat renda berwarna hitam.

Sedangkan milik Teto, secara garis besar mirip dengan milikku, namun, memiliki tali penahan berwarna hitam, dan membentuk pita yang cukup besar di bagian pundak. Terkadang aku berharap Mel-san mempunyai satu atau dua kekurangan, sehingga membuatku tidak minder. (Mel sebenar na lebih pendek dari Rin)

"Ah, lalu ini Headphone yang akan kalian pakai! Saat aku melihat tarian kalian, aku jadi terinspirasi untuk membuat ini!" ucap Mel-san dengan nada ceria sambil memberikan sepasang Headphone dengan hiasan sayap kupu-kupu. Mel-san memberiku yang berwarna kuning, sedangkan Teto yang berwarna merah. Melihat warna merah, membuatku menjadi ingat dengan darah yang menggenang pada mimpiku.

Aku merasa wajahku menjadi sangat pucat. Namun, aku berusaha untuk menyembunyikan rasa takutku. Tapi sepertinya Luka menyadari perubahan sikapku.

"Ah, Mel-san, apa aku belum pernah bilang bahwa Rin-chan sangat takut dengan darah. Dan dia menjadi sangat ketakutan dengan warna merah, jadi apa bisa diganti?" pinta Luka.

Mel-san melihat wajahku sekilas dan kemudian meminta headphone milik Teto dan segera meninggalkan ruang musik. Aku merasa sedikit tenang, meski masih sangat ketakutan.

"Nah, bagaimana kalau kita mencoba dress yang dibawakan Mel-san?" ajak Luka, berusaha untuk membuatku lebih baik.

Mikuo dan Gakupo hanya melongo. Aku berani bertaruh bahwa mereka kira kami akan ganti baju di depan mereka. Jika hanya Luka dan Gakupo sih, tak masalah karena mereka memang punya hubungan. Tapi Mikuo?

"Tentu saja kalian harus pergi dulu sementara kami ganti baju!" ucap Luka dengan wajah yang penuh senyum. Namun, aku yakin dia menahan amarah yang dia sembunyikan dibalik senyumnya.

"Luka kami tidak akan mengintip tapi aku hanya….." bela Gakupo. Tapi, kata-kata terakhir yang dia ucapkan, sama saja dengan berkata bahwa dia memang berpikir untuk tinggal dan melihat kami ganti baju. Siapapun pasti bisa melihat kobaran api yang menyala-nyala di belakang Luka.

"Luka-san sudahlah….." ucap Teto untuk menenangkan Luka yang sedang berada dalam puncak amarahnya.

Aku hanya tertawa kecil melihat mereka. Pertengkaran sepasang kekasih antara Luka dengan Gakupo, selalu membuatku terhibur.


Len POV


Aku masih mengecat sebuah papan nama dengan tulisan Café yang diadakan oleh kelasku. Setelah aku menyelesaikannya, secara spontan mataku mencari keberadaan Rin. Saat aku mencari-carinya didalam area ruang kelas, aku tak melihatnya. Apa dia sudah pergi latihan?

"Ah, Kagamine-san, aku bisa minta tolong?" ucap seseorang yang memiliki rambut berwarna hijau yang pendek dan sekarang merunduk didepanku itu. Kalau aku tak salah ingat, namanya Kamui Gumi, saudara dari Kamui Gakupo yang merupakan pacar Luka.

"Ah, iya Kamui-san! Ada apa?" tanyaku padanya. Aku sedikit kaget, karena kami cukup jarang berbicara.

"Ah, ini…. Aku menemukan buku ini….. sepertinya ini milik Kamine-san" ucap Kamui. Dia memberiku sebuah buku berwarna kuning dengan gembok kecil di bagian samping sampulnya. Apa ini sebuah Diary?

"Ah, baiklah, pasti akan aku kembalikan…." ucapku pada Kamui. Dia hanya tersenyum simpul sebelum meninggalkanku.

Aku melihat sekilas pada buku harian itu. Lebih baik aku segera mengembalikannya sekarang. Seharusnya sekarang dia ada di ruang musik…..

Aku segera berjalan dengan langkah cepat menuju ruang musik yang digunakan oleh klub Band, ruang musik kelas 2. Aku merasa senang, karena ini juga merupakan kesempatan bagiku untuk berbicara dengan Rin lagi.

Saat aku berjalan melewati ruang kelas dari kelas 2, aku menyempatkan diri melihat ke arah ruang kelas Miku. Namun, aku tak melihatnya di dalam kelas, apa dia sedang rapat OSIS?

Yah, aku tak terlalu ambil pusing soal itu sekarang, sehingga aku segera melangkahkan kakiku menuju ruang musik yang ada di bagian yang cukup tersembunyi dibandingkan kelas lain.


Rin POV


"Teto-chan…. Ba-bagaimana menurutmu?" tanyaku dengan memakai kostum 'Magnet' lengkap dengan headphone berbentuk kupu-kupu. Tentu aku merasa sangat malu! Aku tak terbiasa menggunakan pakaian seperti ini sebelumnya.

"Jangan khawatir Rin-chan! Cocok, kok!" ucap Teto dengan senyumnya yang ceria. Dia juga sudah memakai kostumnya, dan sepertinya dia tidak merasa malu sedikitpun.

"Nah, bagaimana kalau kau mencoba berjalan-jalan keliling sekolah dengan kostum itu selama 2 minggu? Aku yakin rasa percaya dirimu akan timbul!" saran Luka. Dia juga memakai kostum berwarna hitam yang mirip denganku, namun milik Luka tidak memiliki pita, dan hanya renda yang bertumpuk di bagian bawah. Dia juga mengenakan sepatu boots yang mengkilat berwarna hitam dan memiliki hak setinggi 5 cm.

"Ta-tapi Luka! Pakaian ini terlihat sangat memalukan!" protesku dengan memilin ujung dress yang berwarna hitam itu. Selain menggunakan headphone bentuk kupu-kupu, aku mengenakan sepatu hak, yang memiliki hak setinggi 5 cm. Jujur, aku perlu membiasakan diri mengenakan sepatu ini. Pada betis kaki kiriku, terdapat semacam wristband dengan motif kotak-kotak dan memiliki renda berwarna hitam.

"Nah, karena kita akan tampil di depan seluruh sekolah, apa yang akan terjadi jika malu Rin-chan?" ucap Teto dengan nada jahil. Aku hanya menghela nafas, Teto memang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, jika diperhatikan Teto mengenakan sepatu flat tanpa hak berwarna hitam dengan pita berwarna hitam hingga lututnya. Dia juga sudah mendapatkan headphone berwarna kecoklatan dan dia memakai pita panjang berwarna putih untuk mengikat rambutnya.

"Aku tahu itu, tapi…." ucapku dengan sedikit protes. Pada saat itulah, Gakupo dan Mikuo memasuki ruang musik, dan sudah memakai kostum mereka.

Luka hanya melongo melihat Gakupo yang terlihat sangat berbeda. Seakan-akan Gakupo yang selalu menggodanya disulap menjadi pangeran, Gakupo memakai sebuah jaket berwarna hitam mengkilat yang tidak di tutup, memperlihatkan kaos tanpa lengan berwarna hitam yang dia pakai. Dia mengenakan celana jenis jeans yang berwarna senada dan sepatu kulit berwarna senada dengan bajunya.

Mikuo juga mengenakan setelan yang sama dengan Gakupo, hanya saja jaket yang dipakai Mikuo tidak memiliki lengan sementara, kaos dalamnya memiliki lengan, yang panjangnya hingga siku.

"Nah, kalian semua cepat pergi jalan-jalan pakai itu sana!" ucap Mel-san yang (tiba-tiba) muncul dari pintu ruang musik.

"Iya, iya aku mengerti!" ucap Mikuo yang sepertinya mengeluh. Teto hanya tertawa kecil sambil menepuk punggung Mikuo. Dan menyuruhnya untuk tidak protes. Luka dan Gakupo sudah saling pandang di dunia mereka, dan pergi lebih dahulu.

"Nah, Rin-chan aku akan jalan-jalan dulu, ya! Aku juga ada sedikit urusan dengan seseorang!" ucap Teto saat dia membuka pintu. Mikuo pergi bersamaan dengan Teto. Apa mereka….. ah, tidak tidak mungkin. Teto tidak pernah cerita padaku sebelumnya.

Aku kini hanya sendirian di ruang musik. Aku tak punya keinginan untuk jalan-jalan dengan kostum ini. Tapi, aku sedikit menimbang-nimbang, aku akan tampil dengan kostum ini di depan orang banyak. Dan aku harus menghilangkan rasa kurang percaya diriku secepatnya.

Saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, aku mendengar suara pintu ruang musik dibuka. Saat aku berbalik, aku sangat kaget, karena yang membuka pintu tak lain dan tak bukan adalah Len. Langsung saja dadaku berdetak dengan sangat kencang. Aku memang selalu memperhatikannya, namun, aku mulai merasa bahwa itu tak cukup.

"Rin…. Kau sendirian disini?" tanyanya dengan wajah yang tak kalah kaget.

Len…. Len….. betapa inginnya aku berteriak sekarang dan berkata bahwa aku mencintaimu…. Namun, aku tak boleh melakukan hal itu, aku tak diizinkan untuk mengatakannya, karena kau adalah pacar Miku….


Len POV


Aku kaget melihat Rin, yang memakai kostum serba hitam, hanya sendirian di ruang musik. Dalam hati aku senang, bahwa Kasane tidak akan mengganggu kesempatanku untuk berbicara dengan Rin.

"Rin…. Kau sendirian disini?" tanyaku untuk memastikan. Mungkin saja iblis itu sedang berganti kostum atau apa, dan mungkin muncul tiba-tiba untuk memotong tubuhku menjadi 2 bagian sama besar jika dia melihatku sekarang.

Rin masih menatapku tidak percaya, tapi sorot matanya terlihat sangat berbeda. Aku tak mengenal sorot mata itu sebelumnya. Sorot mata yang terlihat berkilauan namun memiliki banyak luka yang mendalam.

"Ah, iya…. semuanya sudah pergi dari tadi" jawab Rin dengan suara pelan. Dia kemudian menatapku lekat-lekat, aku merasakan perasaan aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, dan perasaan itu sangat berbeda akan perasaanku dengan Miku.

Aku hanya menatap lekat-lekat mata Rin. Dan terjadi keheningan diantara kami. Baik aku maupun Rin tidak berkata apa-apa, namun suasana juga tetap terasa sangat nyaman. Tidak ada rasa tidak enak, apa karena Teto tak ada disini? Atau karena, kami hanya berdua?

Aku mengulang pikiranku sekali lagi, "Kami hanya berdua…saja?" pikirku. Aku spontan melihat ke kiri dan kanan. Ruang musik memang terletak sangat jauh dari ruang kelas lain. Dan hampir tak ada yang melewati ruang ini, kecuali benar-benar ada kepentingan.

"Ada apa Len? Kenapa kau kemari?" tanya Rin beruntun. Dia jelas tidak mengerti kenapa aku memasuki ruang musik, tentunya jika aku tidak ada kepentingan apa-apa.

"Eh, itu….." aku tidak menyelesaikan perkataanku. Jika aku mengembalikan diary Rin sekarang, tak akan ada alasan bagiku untuk pergi kemari, sehingga spontan aku menyembunyikan diary itu. Eh, tapi kenapa aku mencari alasan agar aku bisa menemui Rin? Pikiranku benar-benar menjadi aneh akhir-akhir ini….

"Ah, aku baru ingat, bagaimana hubunganmu dengan Miku? Karena akhir-akhir ini aku sibuk, aku jarang bertemu kalian berdua bersama." tanya Rin dengan tersenyum simpul.

"Eh, kami baik-baik saja….. Lalu…." Jawabku. Aku berusaha mengalihkan topik, jujur, aku tak ingin membicarakan hubunganku dengan Miku sekarang. Pikiranku terlalu penuh untuk memperhatikan setiap gerak-gerik Rin, yang selalu datang dan pergi tanpa kuketahui.

Karena kepalaku jadi pusing untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Rin, aku mengalihkan perhatianku pada dress yang dipakai Rin saat itu. Rin terlihat sangat manis memakai dress itu. Apa mungkin itu dress untuk pentas band-nya?

"Rin bajumu itu….." ucapku sambil menunjuk dress yang dia pakai.

Rin spontan memerah, sepertinya dia sangat malu. Dia berbalik dan tidak melihatku sambil berteriak, "Di-diam! Kalau memang iya kenapa?" teriaknya.

Aku menahan tawaku, sudah lama aku tak mendengar teriakannya yang nyaring itu. Secara refleks aku mendekatinya, sepertinya dia tak sadar kalau aku sudah berada di belakangnya. Dia memeluk tubuhnya sendiri dan menahan lengannya kuat-kuat. Aku bisa melihat sekujur tubuhnya yang gemetar, sepertinya dress yang dia pakai itu sangat tipis, padahal ini sudah musim gugur. Apa Rin tidak kedinginan memakai dress itu?

Aku merentangkan tanganku untuk menyentuh pundak Rin. Namun, sebelum aku mengenai pundaknya, secara refleks aku memeluk Rin dari belakang. Aku melekatkan punggungnya pada tubuhku, merasakan suhu tubuh Rin dari belakang. Aku tak mengerti kenapa aku melakukan hal itu, namun aku sangat ingin memeluk Rin sekarang. Aku... merindukan senyumnya... aku sangat ingin menyentuhnya.

"Len?" tanya Rin dengan nada kaget bercampur heran.


Rin POV


"Len?" tanyaku pada Len. Karena kini Len memelukku dari belakang, aku ulangi memelukku dari belakang!

Aku bisa merasakan hangatnya tubuh Len dari pundakku. Wajahku menjadi semakin memanas. Kumohon Len, hentikan sikapmu ini….. jika dirimu terlalu memberiku harapan, aku tak tahu….. sampai kapan aku bisa menyembunyikan perasaanku ini.

"Rin, apa kau kedinginan?" tanya Len dengan sedikit berbisik padaku.

Wajahku memerah, aku tak bisa menjawab pertanyaan Len itu. Segalanya berputar-putar di dalam kepalaku. Aku hanya menggeleng lemah pada Len, sebagai sebuah jawaban.

"Untunglah….." ucap Len yang menyandarkan kepalanya pada rambutku. Aku mampu merasakan hangatnya nafas Len di setiap helai rambutku, leherku juga bisa merasakan kehangatan dari nafas Len.

Mungkin aku menjadi egois, tapi tak apa bukan jika aku menjadi egois sekarang? Seandainya….. seandainya ada satu permintaan yang ingin aku kabulkan. Aku berharap, tuhan akan menghentikan waktu disini dan saat ini. Sehingga aku bisa mengenang ini selamanya.


Unknown POV


Aku berniat mengunjungi ruang musik, karena ada sesuatu milikku yang tertinggal disana. Meski aku seharusnya dipanggil seseorang, aku ingin mengambil barang itu terlebih dahulu. Bukti bahwa aku sudah mendengarkan hal yang tak patut aku dengar sebelumnya. (Telat bener….)

Saat mendekati ruang musik, aku memperlambat langkah kakiku, berusaha untuk tidak membuat suara. Mungkin saja mereka masih ada didalam sana.

"Apa kau kedinginan, Rin?" tanya suara yang tak asing bagiku. Itu merupakan suara milik Len! Kenapa dia bisa ada disana? Dan kalau aku tak salah dengar dia menyebut nama Rin…

Aku mengintip dari celah pintu hanya untuk melihat bahwa Len memeluk Rin, meski dari belakang. Tanpa kusadari, air mataku mulai mengalir menuruni kedua lesung pipiku.

"Untunglah….." ucap Len dengan nada yang tak pernah aku dengar sebelumnya. Dia tak pernah berbicara dengan nada itu, dia tak pernah…

Aku menyandarkan kepalaku pada dinding. Kepalaku terasa sangat berat air mata mengalir dengan lebih deras dari kedua mataku.

"Iya, ini yang terbaik….." gumamku. Aku mengintip sekali lagi dan melihat Len yang menyandarkan kepalanya pada rambut Rin. Meski tidak bisa melihat dengan jelas wajah Len, aku bisa merasakan bahwa Len mencintai Rin, dan bukan diriku.

Setelah itu aku segera mengeringkan air mataku dan pergi menuju ke tempat dimana aku berjanji akan bertemu dengan seseorang. Aku melihat seorang cewek memakai dress hitam, dengan rambut merah darah yang terurai panjang hingga pinggang. Sehingga menutupi sebagian dari wajahnya.

Aku menyadari siapa anak itu, aku sempat berpikir bahwa itu tak mungkin dia, namun, satu-satunya orang yang kukenal dan memiliki penampilan fisik yang sama persis dengannya hanya ada satu orang.

"Bu-bukankah kau…" ucapku dengan suara bergetar.

Dia melihat ke arahku dengan tatapan sinis, setelah itu dia mengeluarkan benda yang aku cari-cari dari tadi. Spontan aku terkejut akan benda yang ada di tangannya itu.

"Apa kau mencari ini Hatsune Miku?" tanyanya dengan nada sinis. Aku merasakan firasat buruk.


Rina: Chapter 7 O-W-A-R-I! *teriak2 gaje*

Rin: WTH? Apa maksud na chapter ini?

Len: Kenapa aku seperti cowok kejam tak berperasaan begitu?

Mel: Awas kau author Awas kau author Awas kau author Awas kau author Awas kau author Awas kau author *ngutuk dari belakang*

Rina: Kyaaa, ampuni saiah! Dan saya mohon RnR please! Review anda tenaga saya untuk menulis!

Rin&Len: Sampai jumpa di chapter 8! Kami minta kripik jeruk dan kripik pisang saja!


Troll Spoiler Chapter 8:

Jika ini demi dirinya aku akan melakukan apapun… Andai saja aku bisa memutar waktu aku ingin…. Andai aku menyadari diriku sendiri sebelumnya aku pasti….. Andai saja kami tak pernah bertemu sebelumnya….. Aku ingin selalu bersamanya dan mendukungnya…. Aku ingin selalu berada pada pihaknya…