We met at the wrong time. That's why I keep telling myself anyway. Maybe one day years from now, we will meet in a coffee shop in a far away city somewhere and we could give it another shot.

.

.

Lu Han menyukai aroma cinnamon yang terbias di udara, bercampur dengan harum teh jasmine yang terbaur di udara, menyergap langit-langit kafe. Ia suka menelisik pemandangan di sekitar sana—tentang para pegawai yang sibuk melayani dari meja satu ke meja lain, mencatat dan mengantar pesanan dengan senyum manis dan helaan napas lelah. Terkadang mereka akan mengeluh namun satu yang lainnya akan memberi semangat. Tentang para pengunjung yang sendirian, bersama teman bahkan kekasih—mereka sering memesan teh di sore hari saat hujan melanda, sering memesan cokelat panas atau kopi hitam di saat malam menjelang.

Kliring!

"Selamat sore, selamat datang di Silvesther Coffee Shop!"

Lu Han menyebarkan senyum kecilnya, mengangguk kecil pada seorang pelayan yang menyambutnya di depan pintu masuk. Aroma cokelat yang kental dan khas, cheesecake dan teh jasmine serta kopi macchiato menguar di udara—membuatnya menghirup aroma-aroma tersebut lebih lama selagi ia berjalan menuju kesebuah meja kosong di ujung kafe.

Ada sebuah memori spesial tentang atmosfir ini. Ada sebuah kenangan khusus tentang hal-hal seperti ini. Ada sebuah canda tawa serta tragedi yang terjadi—dan kali ini, Lu Han berharap, ia bisa mengulangnya sekali lagi.

Dengan kisah yang berbeda.

.

.

Setahun yang lalu, Lu Han adalah lelaki yang cukup bahagia dengan apa yang ia miliki—pekerjaan tetap, kehidupan harmonis, orang tua yang telah bahagia, teman-teman yang mengasyikkan, kekayaan yang cukup, kebahagiaan dan seorang pemuda bernama Kim Minseok.

Setahun yang lalu, Lu Han merasa sempurna hingga ia kira takkan ada yang berubah—takkan ada yang lebih membahagiakan dari pada apa yang telah ia miliki.

Namun takdir dan waktu berkata lain.

Lu Han masih ingat bagaimana ia berjalan masuk dengan tenangnya kedalam hidupnya, membuka pintu depan hatinya dengan sebuah ketukan pelan berupa senyum manis dan sejuta tawa. Lu Han masih ingat bagaimana ia masuk dalam lingkar kebahagiaannya tepat saat ia melangkahkan kaki ke dalam sebuah kedai langganannya di sebuah sore hari di musim semi.

Lu Han masih ingat sosok jangkung dengan wajah tegas nan tampan—bibir tipis, mata tajam dan hitam seakan mengajaknya untuk menyelami lebih jauh, senyum dan seringai menarik, rahang tajam, lengan kokoh dan pelukan mesra. Lu Han masih ingat bagaimana rambut hitam legamnya akan terasa begitu lembut saat ia menggenggamnya saat bibirnya menginvasi bibir pemuda tersebut—hal yang seharusnya tak ia lakukan karena ia sudah memiliki kehidupan sempurna nan bahagia dengan apa yang ia miliki saat itu dan—

Minseok.

Namun Lu Han terlalu terlena begitupula Oh Sehun.

Oh Sehun.

Lu Han merasa berdebar bagaimana lidahnya menyecap kata yang mengucapkan bait nama tersebut tanpa rasa sulit. Begitu pas, begitu indah, begitu bermelodi. Lu Han merasa berdebar bagaimana ia memanggil Oh Sehun dengan sebuah senyum, mengetahui bahwa sosok tersebut membawa warna baru dalam hidupnya.

Lu Han tahu apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan dan ia sendiri sadar jika akan banyak orang yang tersakiti oleh hal ini namun tidak, ia tak bisa berhenti. Ia tak ingin berhenti. Bersama Sehun adalah dosa terpahit sekaligus termanis dan ia tak ingin berhenti di sini.

Lu Han tahu dirinya memiliki Minseok di siang hari dan memiliki Sehun di sisa harinya. Ia tahu Sehun memiliki Baekhyun di separuh waktunya dan memilikinya di sisa harinya. Ia tahu mereka memiliki kehidupan yang berbeda—kebahagiaan berbeda yang masing-masing berat untuk ditinggalkan karena Lu Han telah berada di sisi Minseok lebih lama begitupula Sehun dan Baekhyun.

Dan hari itupun datang.

Hari yang sangat ia takutkan.

Lu Han ingat hari tersebut seakan hari itu adalah hari kematiannya karena—hell, Minseok terlihat begitu putus asa dan lelah. Seakan ia tahu banyak hal, lebih banyak dari apa yang seharusnya tidak ia ketahui. Lebih banyak dari apa yang Lu Han tutupi. Ia tersenyum, berkata dengan lembut pada Lu Han namun matanya mengisyaratkan bahwa ia sudah sangat lelah dan kecewa.

Lu Han terdiam, menerka-nerka bagaimana ini semua di mulai dan berakhir seperti ini, di sini. Karena sungguh, iapun tak bisa memilih salah satu.

Minseok adalah cintanya, namun Sehun adalah hidupnya.

"Kukira hubungan ini memang seharusnya hanya sampai di sini." Ia mengatakannya dengan lugas dan tegas seakan ia tak memendam keraguan setitikpun namun matanya menyiratkan bahwa hatinya terluka dan Lu Han menangis di lututnya.

Ia menangis, memohon maaf dan berjanji akan kembali seperti dulu kala.

Sedikit yang Lu Han tahu, bahwa dalam kata-katanya ia mengulum pahitnya kebohongan. Ia berbohong demi lima tahun kisah cintanya dengan Minseok padahal ia sendiri tahu jika hidupnya berada bersama Sehun.

Namun Lu Han tak ingin lima tahun ini sia-sia maka—

"Demi lima tahun kisah kita," kata Lu Han, memandang Minseok dari bawah, memegang lutut Minseok dan menahan air mata yang telah merembes keluar. "Demi hubungan ini."

Namun Minseok menggeleng.

Ia menggeleng seakan keputusan yang ia ambil sudah mutlak dan saat Lu Han mendengar jawabannya, ia merasa sangat bersalah dan begitu terlihat hina.

"Lu Han," katanya, memberi spasi agak lama seakan ia berusaha menyecap nama kekasih yang telah memberikannya kebahagiaan dalam lima tahun terakhir. "Selama apapun kita bersama bukanlah jawaban atas kebahagiaan kita. Aku tahu kau mencintai Sehun, aku tahu ia adalah pelengkapmu karena jika kau mencintaiku sepenuh hati, kau takkan memilih orang lain dan mengorbankan semua yang telah kaumiliki hanya untuk sekadar bertemu dengannya.

Kau mencintainya, Lu Han. Bukan aku lagi. Mungkin kalian memang ditakdirkan dan aku hanya sebagai pemeran pelengkap. Mungkin Sehun adalah pemeran utama namun takdir mengelabuhi kalian—mempertemukan kalian di saat yang tak tepat jadi, kumohon, izinkan aku pergi. Karena melihatmu terpasung di sini bersamaku sama artinya dengan menyakiti hatiku untuk kedua kalinya."

Lu Han tak tahu dan tak sadar dengan apa yang dikatakan Minseok namun satu yang ia tahu. Sesaat setelah Minseok pergi dari kehidupannya yang terasa begitu sempurna sebelumnya, ia berlari pada Sehun, berharap mereka memang memiliki sebuah takdir.

Ada sebuah tempat yang menjadi kenangan terindah, persinggahan yang selalu mereka tuju karena mereka berdua tahu jika ketika langkah kaki mereka menapak ke dalam sebuah kafe tersebut, manik ganda mereka akan langsung bertemu dengan sosok yang mereka rindukan dan hal tersebut membuat mereka bahagia.

Namun Lu Han lagi-lagi lupa kalau sepertinya, takdir suka bermain curang.

Rabu sore di sebuah April, Sehun meninggalkan satu surat di sebuah kafe biasa tempat mereka saling melepas rindu. Di tangan sebuah karyawan yang merupakan kawan lama Sehun bernama Kai, surat tersebut sampai ke tangan Lu Han.

Ia duduk di sebuah sudut kafe, dengan segelas teh jasmine di atas meja—teh kesukaan mereka berdua—dan secarik kertas di kedua tangan.

Maaf.

Kata tersebut tertulis rapih di tengah kertas, memberi efek kejut luar biasa hebat di dadanya hingga ia merasa jantungnya melewatkan satu detakan dan paru-parunya gagal mengambil napas.

Aku harus pergi darimu. Baekhyun lebih membutuhkanku.

Lu Han tak tahu apa yang mempengaruhi pikirannya namun kali ini—ia tertawa. Ia tertawa selagi air mata mengalir dari kedua matanya.

Menertawakan kehidupan dan takdir yang menimpanya.

.

.

Ada sebuah memori spesial tentang atmosfir ini. Ada sebuah kenangan khusus tentang hal-hal seperti ini. Ada sebuah canda tawa serta tragedi yang terjadi—dan kali ini, Lu Han berharap, ia bisa mengulangnya sekali lagi.

Lu Han menyukai aroma cinnamon yang terbias di udara, bercampur dengan harum teh jasmine yang terbaur di udara, menyergap langit-langit kafe merangkak mengergap kedalam hati kecilnya, mengais potongan puzzle di masa lalu.

Ia duduk di sana, di salah satu sudut di kafe tersebut seperti biasa dan ketika salah satu karyawan—yang telah mengenalnya dan akrab dengannya—datang menghampirinya, dengan cepat ia memasang teh jasmine.

Semenit kemudian pesanannya datang dan Lu Han menoleh ke samping kirinya di mana jendela besar terpampang, menyudut membiaskan pemandangan di luar kafe. Ia melihat keatas di mana awan-awan berarak kembali ke timur, menghalau cahaya mentari sehingga Lu Han tak perlu repot-repot memicingkan matanya.

Lu Han menyukai aroma cinnamon yang terbias udara, bercampur dengan harum teh jasmine yang terbaur di udara, menyergap kedua hidungnya dan Lu Han memainkan cangkir putih berisi teh jasmine di depannya.

Ia membawanya untuk seteguk, menyecap rasanya hingga tertelan menuju tenggorokannya, membuatnya memejamkan mata dan menahan keinginannya untuk merindu karena ia sungguh rindu.

Sebuah nama dan satu potret wajah terngiang di belakang benaknya hingga ia ingin lari dari sana karena tempat tersebut merupakan sepotong memori kecil yang terendam dalam batinnya, mengendap di sana hingga ia tak kuat menyingkirkannya.

Kliring!

"Selamat sore, selamat datang di Silvesther Coffee Shop!"

Oh Sehun melangkah masuk ke dalam kafe sembari melempar senyum pada karyawan yang menyambutnya ramah. Kakinya melangkah pelan, dengan mata yang menyusuri keseluruh sudut ruangan, berusaha mencari meja kosong dan ketika ia melihat sosok yang sedang duduk sendirian di ujung ruangan, matanya membulat sempurna.

Lu Han tahu tiga tahun adalah waktu yang cukup lama baginya menanti sebuah ketidakpastian seperti ini namun ia merasa hal ini adalah sesuatu yang harus ia lakukan. Seminggu yang lalu, Minseok meneleponnya. Ia berkata bahwa sekarang ia telah bertemu dengan seseorang—Kim Jongdae, kalau tidak salah. Saat itu mereka sedang melakukan perjalanan ke Austria dan Lu Han ikut bahagia—sungguh, sungguh Lu Han merasa bahagia dan tersenyum lebar mendengar Minseok, seseorang yang telah menemaninya di masa lalu, telah mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang tepat.

Dan iapun berharap bahwa ia, kelak, juga bisa mendapatkannya.

Ia baru akan menyesap tehnya kembali ketika ia merasa seseorang sedang berjalan kearahnya dan sebelum ia berhasil menoleh, ia mendengar suara yang sangat familiar menyapanya.

"Boleh aku duduk di sini?"

Lu Han mendongak dan sesaat, pandangannya bertubrukkan dengan manik mata seorang lelaki yang teramat familiar, berdiri tepat di depannya. Satu senyuman darinya membawa jutaan kenangan di masa lalu dan jantung Lu Han berdetak seribu kali lebih cepat hingga ia tak kuasa menjawab—bahkan menangguk.

Oh Sehun, pemuda di depannya, tertawa kecil ketika melihat Lu Han menatapnya tak percaya hingga ia menggeret kursi di depannya dan duduk di sana.

Lu Han tak bisa membawa dirinya berkata-kata atau melakukan hal lain kecuali memandangi Sehun karena sumpah—tiga tahun sudah cukup menyiksa batinnya.

Dan dari sekian waktu dan sekian tempat, di sinilah mereka kembali bertemu.

Disebuah tempat yang menyimpan sejuta kenangan masa lalu.

"Hai." Sehun menyapa.

Lu Han tertawa, ia tertawa namun tak ada satu katapun yang berhasil keluar dari mulutnya namun air mata mengalir diam-diam jatuh dari pelupuknya.

"Hai," jawabnya. "Hai."

"Bagaimana kabarmu?"

Lu Han mengusap air matanya, memandang lurus kearah Sehun dan memberinya sebuah senyum kecil. "Bosan," katanya. "Menunggu seseorang selama tiga tahun sungguhlah membosankan."

Sehun tertawa kecil. "Dan aku sungguh lelah," jawabnya. "Lelah berharap hari ini kapan datangnya."

Lu Han merasa jika mungkin, mungkin saja, ia akan mendapatkan apa yang telah Minseok raih. Dan ia merasa kebahagiaannya sudah dekat—sedekat satu tatapan mata.

"Bagaimana ceritamu hingga bisa kembali kesini?" tanya Lu Han sembari menawarkan senyum manisnya.

Dan Oh Sehun tahu kalau ia takkan bosan dengan senyum tersebut—bahkan ia tahu jika ia akan melihatnya setiap hari. Tidak dengan sembunyi-sembunyi dan rasa bersalah seperti dulu, tidak.

Karena kini, ia merasa bahwa dirinya telah sebebas mentari.

"Ceritanya panjang," katanya. "Aku sudah tak bersama Baekhyun, omong-omong. Dan—tentang surat itu, bukan aku yang menulisnya, tapi Baekhyun. Jongin memberitahuku jika hari itu Baekhyun datang kesini dan memberikannya surat untuk diberikan pada selingkuhan Sehun."

"Wow, aku terdengar begitu murahan," katanya sambil tertawa. "Lagian aku tahu. Aku tahu jika itu bukan kau, karena tulisanmu takkan serapi itu. Namun tetap saja, ketika membacanya aku menangis."

Sinar mata Sehun meredup dan ia menundukkan kepalanya. "Maaf."

Lu Han menatap Sehun sendu, berharap bahwa Sehun takkan mempermasalahkan hal tersebut namun dalam dirinya, ia masih merasa penasaran.

"Sehun-ah," panggilnya. "Kenapa kau pergi? Aku sudah merelakan hubunganku dengan Minseok kandas namun kenapa kau pergi bahkan sebelum aku berkata sepatah kata?"

Sehun masih menunduk begitu dalam, takut jika ia mengangkat kepalanya, ia akan bertemu pandang dengan manik Lu Han dan ia tahu ia telah menciptakan banyak luka di sirat matanya.

"Sehun-ah?"

Sehun menggelengkan kepalanya dan ia menoleh, memandang Lu Han dengan tatapan lelah sebelum ia membuka suara.

"Kala itu aku takut kehilangan Baekhyun. Kami sudah bersama lebih dari tujuh tahun dan aku takut jika sebenarnya kau hanya ilusi sementara. Aku begitu mendambakan kebahagiaan abadi dan rasanya kau begitu fana, Lu Han. Namun setelah dua minggu kembali bersama Baekhyun dan pindah dari sini, setelah dua minggu aku kehilangan sosokmu, aku akhirnya tahu jika yang kucari selama ini—yang kurasa bernama kebahagiaan bukanlah Baekhyun yang memberi arti selama tujuh tahun, namun kau yang datang bersama senyum manis dan segala cinta, kau yang mampu meluluhkan hatiku yang sekeras batu, kau yang menawarkan ilusi sekaligus kenyataan, dan kau yang rela meninggalkan apapun demi aku.

Han, apakah terlambat bagiku untuk kembali?"

Lu Han tertawa, ia tertawa namun ia tahu kali ini ia sedang bahagia hingga tak lagi memedulikan teh favoritnya yang kini menjadi dingin.

"Kau takkan pernah terlambat," jawabnya. "Karena aku yakin, kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Aku yakin dulu kita memang bertemu di saat yang salah namun jika memang kita ditakdirkan untuk bertemu, jika tidak seperti dulu, pasti kita akan bertemu di sebuah tempat secara kebetulan suatu hari, seperti berpapasan di jalan atau bertemu di sebuah bus."

Lu Han menatap Sehun lama, lama sekali hingga ia tahu jika akhirnya, kali ini, takdir mempertemukan mereka di waktu yang sungguh tepat, di mana ilusi dan kenyataan membaur menjadi satu—menciptakan sebuah awal baru yang ia dambakan; kebahagiaan.

"Karena kita berada dalam satu lingkar takdir," katanya.

Lu Han menyukai aroma cinnamon yang terbias di udara, bercampur dengan harum teh jasmine yang terbaur di udara, menyergap langit-langit kafe merangkak mengergap kedalam hatinya dan mengendap di sana—membawa satu kepingan memori baru bernama cinta.

end