Hampir pukul dua belas malam, dan Luhan belum kembali. Yuan dengan cemas menunggu kepulangan putrinya di luar. Ia menunggu… menunggu… dan menunggu. Tidak lama kemudian, ia melihat putrinya datang dengan sepatu rodanya, berikut seorang lelaki yang tidak Yuan kenali berada di sebelah Luhan dengan menaiki longboard.
Yuan mengernyitkan dahi. Setahunya, Luhan tidak memiliki seorang teman. Beberapa detik setelah itu, matanya bertemu tatap dengan milik Luhan secara tidak sengaja. Tatapan mata Luhan berubah menjadi suram seketika, padahal sebelumnya Yuan melihat ada kilat menyenangkan yang sudah lama tidak ia lihat di mata Luhan. Hal itulah yang membuat Yuan jadi memperhatikan lelaki yang ada di sebelah Luhan.
Lelaki itu tinggi, dan… tidak ada hal lain lagi selain tampan.
"Selamat malam, bibi." Tiba-tiba suara lelaki itu terdengar, dan Yuan baru sadar bahwa lelaki itu sudah ada di depannya, dengan Luhan di sebelah lelaki itu.
"Oh, ya." Yuan gelagapan. Ia beralih kepada Luhan. Sedangkan Luhan memutar kedua bola mata malas dan segera masuk ke dalam rumah tanpa memikirkan apapun.
"Saya Sehun, temannya Luhan." Lelaki itu kembali menjelaskan. "Saya kemari hanya ingin mengantar Luhan pulang."
Yuan termangu. Ia tidak mampu memberi tanggapan selain mengangguk. Setelah itu, lelaki bernama Sehun itu berpamitan untuk pulang menggunakan longboard-nya. Yuan hanya memperhatikan sampai Sehun menghilang dari jarak pandangnya.
Yuan kembali menoleh ke arah rumahnya, berpikir, Luhan sudah mau membuka dirinyakah?
…
Run to You
Langkah Kelima
Notes: Maybe, beberapa adegan dalam cerita ini mengandung kekerasan. Jadi bagi kalian yang anti membaca adegan seperti itu, boleh diskip bacanya waktu ngerasa adegan itu dimulai.
…
7 years ago…
"Luhan, jangan lupa untuk tidak memaksakan dirimu. Ayah tahu kau bisa, jadi lakukan sebisamu."
Gadis manis berusia sebelas tahun itu tersenyum dan mengangguk pada Sang Ayah yang kemudian menepuk-nepuk puncak kepalanya lembut. Sebelum namanya dipanggil, Luhan masih sempat memberi pelukan pada tubuh besar ayahnya, lalu berlari kecil ke backstage. Jemarinya memeluk microphone, dalam hati berdoa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Hari ini, adalah hari bersejarah dalam hidupnya. Akhirnya, setelah bekerja keras diusianya yang belia, ia lolos dalam kompetisi menyanyi dan kini ia sudah berada di tingkat nasional. Luhan senang, tentu. Tapi jujur saja, Luhan juga gugup. Bagaimana kalau ia melakukan kesalahan? Orang tua dan orang-orang terdekatnya sudah berharap padanya dan dia tidak ingin mengecewakan mereka.
Luhan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Beberapa detik setelah itu, namanya dipanggil. Seorang perempuan berkacamata dan berseragam hitam segera menggiringnya ke panggung. Luhan bisa melihat betapa banyaknya penonton yang datang. Ia bisa melihat ibunya duduk di barisan paling depan. Pun Luhan melihat ayahnya kembali ke tempat duduknya, tepat di sebelah ibunya. Luhan melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya seraya tersenyum untuk menyembunyikan betapa gugupnya dia sekarang. Kedua orang tuanya lantas membalas dengan antusias.
"Semangat!" Luhan bisa melihat pergerakan mulut ayah dan ibunya mengatakan hal demikian. Luhan tersenyum lebar.
Musik perlahan mengalun. Luhan mencoba merilekskan dirinya sementara dia bisa merasakan jantungnya berdegub keras. Ini bukan kompetisi pertamanya, tapi Luhan tetap saja gugup.
"Share my life, take me for what I am. 'cause I'll never change all my colors for you."
…
"I don't really need to look, very much further. I don't want to have to go, where you don't follow. I will hold it back again, this passion inside."
Sungguh, Luhan sebenarnya sudah merasakan sakit di tenggorokannya saat ia menyanyikan bagian ini. Luhan sedang menyanyikan lagu dari Whitney Houston yang berjudul I Have Nothing. Lagu itu cukup sulit, pun memiliki highnote yang cukup banyak. Selama latihan, Luhan kesulitan, jujur saja. Coach-nya berpikir bahwa Luhan tidak akan berhasil. Tapi Luhan suka lagu itu jadi Luhan mencoba untuk memperbaiki diri. Memang Luhan berhasil. Tapi coach-nya memberi tanggapan yang kurang baik. Luhan harus berusaha keras sampai akhirnya coach-nya memberi persetujuan dan lampu hijau untuknya.
Sekarang Luhan sudah ada di sini dan ia tidak ingin mengecewakan siapapun dan membuat perjuangannya menjadi sia-sia. Luhan mencoba untuk baik-baik saja. Luhan terus mencoba yang terbaik, sama seperti ayahnya yang mengajarkannya musik, ayahnya yang mencintai musik, dan ayahnya yang mencintainya selama ini.
"…there's nowhere to hide…"
Luhan merasa sanggup mencapai nada tinggi itu. Luhan sanggup meski tenggorokannya terasa kering dan sakit.
"…your love I'll remember, forever… but don't make me close… one more door. I don't wanna hurt anymore."
Luhan mampu, dan…
"Stay in my arms, if you dare…"
Luhan memejamkan mata, takut. Dia gagal mencapai highnote dan suaranya crack saat menyanyikan bagian 'in my arms'. Luhan rasanya tidak bisa melihat wajah kedua orang tuanya yang sudah mengantarnya sampai sini. Selama ia bernyanyi untuk menyelesaikan sisa lagunya, Luhan berusaha keras untuk tidak membuat suaranya crack lagi. Ketika semuanya telah berakhir, Luhan lantas turun dengan kepala tertunduk. Ia masih tidak ingin melihat wajah siapa saja yang kecewa padanya. Bahkan, ketika ia mendengar suara ayahnya yang memanggil namanya, Luhan enggan untuk mendekat dan mendongak. Luhan masih takut.
Sebab ini kali pertamanya membuat kesalahan setelah lima tahun mengikuti berbagai kompetisi menyanyi dan selalu mendapatkan hasil yang baik.
"Luhan, kemarilah, Sayang." Suara ibunya yang lembut menyapa pendengarannya. Luhan masih betah menunduk. Melihat putri satu-satunya sedang dalam suasana hati yang buruk, Yuan pun membawa Luhan ke dalam pelukannya yang nyaman. Luhan langsung menangis dalam pelukan Yuan.
"Penampilanmu tadi bagus sekali. Kau memukau, Luhan."
"Aku… tidak bagus." Luhan menggeleng-geleng sambil bersuara dengan serak dan terbata-bata. "Suaraku… sakit…"
Yuan segera mengurai pelukannya dan memberinya sebotol air mineral pada Luhan yang ia terima dari suaminya. Yuan membuka tutupnya selagi Luhan batuk-batuk karena tenggorokannya yang sakit. Ketika Yuan memperhatikan Luhan, perempuan itu terkejut setengah mati melihat ada darah di tangan Luhan yang digunakan untuk menutup mulutnya saat batuk. Yowei, ayahnya Luhan, juga melihat itu. Pria itu lantas menggendong tubuh kecil Luhan dan membawa gadis kecilnya pergi dari sana.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Jangan berbicara dulu, Luhan."
…
Dokter bilang pita suara Luhan terluka karena Luhan terlalu memaksakan diri mencapai nada tinggi saat latihan maupun saat tampil di atas panggung. Beruntung, luka itu tidak terlalu parah. Luhan hanya perlu tidak menggunakan pita suaranya secara sering untuk beberapa hari ke depan. Luhan juga tidak perlu dirawat di rumah sakit, jadi sekarang dia ada di kamar, berdiam diri di atas kasurnya.
Saat itu sudah pukul dua belas siang. Perutnya tentu saja keroncongan setelah tadi melewatkan sarapan. Jadi dia menutup buku yang dia baca, lalu turun dari kasur menuju dapur. Namun, dia terdiam tatkala melihat seorang lelaki asing sedang mengobrol dengan ibunya di ruang tengah. Mereka terlihat akrab sekali, dan bahkan Luhan bisa melihat ibunya tersenyum begitu lebar pada si pria yang kemudian menyadari keberadaannya terlebih dahulu.
"Oh, Yuan. Jadi dia yang namanya Luhan?" pria asing itu menunjuk Luhan yang masih berdiri di depan pintu kamar. Lantas, Yuan menoleh. Yuan terkejut namun segera mengulas senyum kecil.
"Iya, dia Luhan." Jawab Yuan seraya bangkit untuk menghampiri Luhan dan mengajak putrinya untuk bergabung dengan mereka.
Luhan diam saja. Ia memperhatikan si pria sedari tadi. Pria itu tidak tinggi, tidak juga pendek. Rambutnya tertata rapi, begitu juga dengan setelan kantor dan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya. Sepertinya, pria itu sudah berumur hampir empat puluh tahunan, mungkin seumuran dengan ibunya. Pria itu terlihat baik, senyumnya menunjukkan keramahan saat menyebutkan namanya dan memperkenalkan diri.
"Aku rekan kerja ibumu. Zhu Yanjun. Senang bertemu dengan gadis cantik sepertimu."
Luhan hanya mengangguk dan memberi senyum tipis. Dengan sigap, Yuan memberi tahu bahwa Luhan sedang dalam masa pemulihan akibat luka di pita suaranya. Zhu Yanjun lantas memasang wajah cemas, memberi kalimat simpatik, lalu mengucapkan, "Semoga lekas sembuh. Kudengar kau pandai bernyanyi. Aku ingin mendengarmu bernyanyi setelah kau sembuh."
Luhan terdiam, tidak membalas apapun. Di pikirannya saat ini, meskipun Yanjun meninggalkan first impression yang baik di matanya, Yanjun justru terdengar… aneh. Luhan sudah sebelas tahun dan dia sudah tahu hal-hal macam apa yang mengakibatkan dirinya harus melindungi dirinya sendiri. Dengan Yanjun, Luhan memasang pertahanan diri diam-diam. Ada yang membuatnya terancam ketika Yanjun berkata demikian. Maka dari itu Luhan segera pergi ke dapur, mengambil makanan seperlunya, lalu masuk lagi ke kamar. Luhan harus menjaga jarak dengan Yanjun meskipun Luhan belum tahu benar, apakah rasa terancamnya ini memang benar atau justru salah.
Jujur, Luhan mencoba untuk tidak terlalu memikirkan pria yang baru dikenalinya itu. Tapi ketika ia sering sekali melihat Zhu Yanjun selalu berdua bersama ibunya saat ayahnya tidak di rumah, Luhan mendadak takut. Dia sudah cukup mengerti dengan keadaan dan dia sudah besar, bukan anak kecil lagi. Apa yang Luhan rasakan saat pertama kali bertemu dengan Yanjun, Luhan baru menyadarinya bahwa itu rasa terancam akan hancurnya keluarganya. Luhan sadar ibunya sudah selingkuh dan sadar betul juga bahwa Yanjun mengancam keluarganya.
Akan tetapi, Luhan hanya bisa diam. Luka di pita suaranya mengharuskan dia untuk diam. Luhan tidak sanggup menulis ceritanya di kertas dan menunjukkannya pada ayahnya suatu saat nanti. Luhan tidak tega. Dia menyayangi ayahnya, dia juga menyayangi ibunya, dia sangat menyayangi keluarganya. Jadi, mungkin, dalam pikiran gadis berumur sebelas tahun itu, diam adalah yang terbaik bagi keluarganya.
Dua bulan berlalu, dan Luhan masih menyembunyikan rahasia tentang ibunya dan Yanjun. Pria itu jadi lebih sering datang ke rumahnya, mengajaknya pergi ke tempat-tempat menyenangkan dan membelikannya boneka atau apapun itu. Luhan sebenarnya enggan, dia tidak mau menerima apapun dari Yanjun yang hendak menghancurkan keluarganya. Luhan memang menerima barang-barang itu namun tidak benar-benar menyimpannya. Luhan hanya meletakkannya di kamar dan tidak menyentuhnya lagi. Sementara ibunya, Luhan tidak tahu lagi. Wanita itu terlihat biasa saja saat bersama ayahnya, namun terlihat sangat-amat bahagia saat bersama Yanjun. Luhan memang sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan ketika berhadapan dengan Yuan.
Sampai suatu malam, Luhan terbangun karena suara benda jatuh yang teramat keras dari luar kamarnya. Luhan duduk di kasur, lalu mendengar ayah dan ibunya sedang berbicara. Luhan tidak terlalu mendengar mereka, tapi Luhan menurunkan kakinya ke lantai dan berjalan dengan malas menuju pintu yang tertutup. Suara benda jatuh tadi sungguh mengganggunya.
Saat pintu terbuka, barulah Luhan sadar bahwa ayah dan ibunya sedang bertengkar di kamar. Luhan mendengar semuanya, dan hatinya berdenyut-denyut nyeri. Ayahnya sudah tahu perselingkuhan ibunya dan kini mereka saling maki di malam hari. Luhan menunduk, lalu kembali menutup pintu. Suara ayah dan ibunya masih terdengar tapi tidak sekeras tadi. Terseok-seok Luhan kembali berjalan menuju tempat tidurnya. Luhan bahkan butuh tenaga yang lebih untuk naik ke atas tempat tidur. Luhan hancur.
Untuk kali pertama dalam hidupnya, Luhan ingin kehilangan indera pendengarannya karena mendengar pertengkaran kedua orang tuanya.
…
"Luhan, kemasi barang-barangmu."
Luhan yang saat itu sedang menekan-nekan tuts keyboard di ruang tengah, lantas menoleh ke belakang, pada ayahnya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, pada ayahnya yang memasang wajah suram di pagi hari seperti ini.
Luhan tahu penyebabnya. Jadi dia tidak ingin menanyakan. Luhan justru menanyakan hal lain. "Memangnya kita mau kemana sampai harus berkemas?"
"Kita ke rumah nenek." Ayahnya mencoba mengulas senyum kaku untuk Luhan.
Luhan mengerjap tidak mengerti. Dalam pikirannya, mungkin ayahnya ingin tinggal berpisah dengan ibunya untuk sementara waktu. Tapi kenapa harus mengemasi barang-barangnya juga?
"Apakah lama sekali?" Luhan bertanya lagi, dan Yowei menganggukkan kepala masih dengan senyuman yang sama.
"Kita sedang berlibur, Sayang. Sekarang kan masih liburan musim panas. Jadi kita menetap di rumah nenek dalam waktu yang lama."
Luhan tersenyum lebar. Ia mengangguk dan segera masuk ke kamar, mengambil tas, lalu mengemasi barang-barang yang ia perlukan untuk berlibur di rumah neneknya yang dekat dengan pantai. Pasti menyenangkan sekali bermain-main di pantai. Membangun istana pasir, bermain air, mengubur diri di pasir pantai yang hangat, dan aktivitas lain yang menyenangkan. Selesai berkemas, Luhan pun berangkat. Ia hanya membawa tas berisi beberapa pakaiannya dan boneka Donald Duck pemberian ayahnya tahun lalu. Secara tidak sengaja, Luhan melihat koper besar di bagasi saat ia menyusul ayahnya di depan. Luhan terdiam. Ayahnya tidak sedang mengajaknya pergi selama-lamanya dari sini kan?
Untuk memastikan itu, Luhan berjalan takut-takut ke arah ayahnya lalu bertanya dengan nada sedih. "Apakah ibu nanti juga ikut?"
Ada jeda cukup panjang sebelum ayahnya menjawab dengan anggukan kecil beserta senyum tertahan. Ayahnya pun menambahi bahwa Yuan akan menyusul setelah pekerjaannya di kantor selesai. Luhan lega, setidaknya ibunya ikut bersamanya.
Mereka berdua pun berangkat menuju rumah nenek Luhan. Di sepanjang perjalanan, musik dari radio selalu terputar dan Luhan sering pula mengikuti iramanya dengan bergumam-gumam, atau benar-benar bernyanyi kalau dia mengetahui liriknya. Suasana di dalam mobil jadi sangat menyenangkan berkat Luhan. Yowei merasakan atmosfer itu dan ia merasa seluruh beban dalam hidupnya terangkat tiba-tiba. Mendengar suara merdu, tawa, serta ocehan putrinya, serta melihat senyum dan gurat-gurat bahagia di wajah Luhan, Yowei merasa planet-planet di tata surya jadi berotasi kepadanya. Yowei bahagia, ia merasa beruntung memiliki Luhan sebagai putrinya yang cantik dan manis. Itu sudah lebih dari cukup.
Yowei terlalu sering memperhatikan wajah Luhan yang damai saat tertidur sampai tidak fokus pada jalanan. Tiba-tiba Yowei melihat sebuah mobil yang hilang kendali dikejar dua atau tiga mobil polisi dari arah berlawanan, sudah tepat di depan mobilnya. Yowei lantas membanting stir namun terlambat. Tubuhnya sudah terlebih dahulu terhimpit dengan tubrukan yang keras. Seketika dadanya sesak, pandangannya mengunang, dan dapat menghirup aroma getir dari darahnya.
Terakhir kali yang ia lihat sebelum gelap adalah Luhan yang tetap tertidur pulas di jok penumpang, dengan darah di pelipis dan sekitarnya. Yowei kehilangan kesadarannya kemudian.
…
Hari itu adalah hari terburuk dalam sepanjang hidup Yuan. Ia menerima telepon dari rumah sakit luar kota ketika hendak pulang dari kantor, mendengar kabar bahwa suami serta putrinya mengalami kecelakaan saat pengejaran buronan kota oleh polisi daerah setempat. Yuan tidak dapat berpikir jernih lagi. Ia menghiraukan Yanjun yang bertanya, "Ada apa?" dan segera pergi ke rumah sakit tersebut. Yang dipikirkan Yuan saat itu hanyalah Yowei dan Luhan, bukan yang lain.
Sesampainya di lokasi, Yuan segera ke depan ruang operasi. Luhan dan Yowei harus dioperasi karena luka serius yang diakibatkan dari tubrukan keras antara dua mobil yang melaju dengan kencang. Ia menunggu di sana, duduk di kursi tunggu, sendirian. Ketika berjam-jam kemudian sang dokter keluar, dengan sigap Yuan berdiri dan menghampirinya.
"Bagaimana keadaan anak dan suami saya, Dokter?"
"Anda keluarga dari saudara Lu Yowei dan Luhan?" sang dokter bertanya dan Yuan segera mengangguk cepat.
"Ya, saya keluarganya."
Sang Dokter memberi jeda beberapa detik sebelum berkata, "Mari ikut saya ke ruangan saya. Ada yang hendak saya beritahu kepada Anda."
Yuan mengangguk saja. Ia mengekori dokter tersebut, berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Perasaannya mendadak menjadi terganggu.
…
Luhan tersadar sehari setelah kecelakaan itu terjadi. Ia melihat cahaya yang terang sekali hingga dia harus mengerjap-erjap untuk membiasakan matanya. Kemudian, ia melihat ibunya yang bangkit dari kursi di sebelahnya, lalu mengatakan sesuatu yang tidak bisa Luhan dengar. Luhan mengerjap lagi, ia melihat sekeliling, lalu berakhirlah pandangannya pada seorang dokter dan dua orang perawat yang tiba-tiba masuk ke ruangan serba putih ini. Yuan pun menyingkir sementara tim medis sedang menjalankan pemeriksaan awal pada Luhan yang baru saja sadar.
Lagi. Ketika Sang Dokter terlihat berbicara kepadanya, Luhan tidak mendengar apapun. Luhan mengernyit, berusaha melihat gerakan bibir Sang Dokter tapi sama sekali tidak membantu. Luhan tidak mengerti. Maka dari itu, Luhan pun berkata, "Aku… tidak dengar…" lalu semua orang di sana menatap terkejut, termasuk ibunya, dan termasuk Luhan sendiri.
Luhan bahkan tidak bisa mendengar suaranya.
"Aku tidak dengar…" Luhan mencoba mengulangi kalimatnya tapi tetap saja ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Pikirannya mendadak semerawut. Jika dia tidak bisa mendengar, berarti dia tidak bisa menanyi lagi.
Dalam hati, Luhan terus berharap bahwa apa yang baru saja terjadi itu dikarenakan karena dia belum sepenuhnya sadar. Akan tetapi, sorenya, Luhan masih belum bisa mendengar. Luhan putus asa. Ia ingin bertemu dengan ayahnya dan menangis di pelukan ayahnya. Ia ingin bertemu. Akan tetapi, Yuan selalu mencegahnya. Wanita itu sering kali menggeleng ketika Luhan meminta untuk dipertemukan dengan ayahnya.
Semakin putus asalah Luhan. Apalagi ketika malamnya, ia mendapat sebuah kotak putih dari dokter yang menanganinya, dan mendapat bonus kabar bahwa setelah ini, indera pendengarannya tidak berfungsi lagi sebab terjadi kerusakan salah satu bagian otaknya akibat benturan keras yang ia terima saat kecelakaan. Luhan tidak menanggapi apapun setelah membaca tulisan tangan dokter tersebut mengenai keadaannya saat itu. Ia hanya terdiam, beralih memandang kotak putih yang ketika dia buka, isinya adalah alat bantu dengar.
Ketika tahu bahwa indera pendengarannya tidak berfungsi lagi, Luhan merasa seluruh neuron dalam tubuhnya juga tidak berfungsi. Luhan kehilangan segala-galanya.
Tentu, bagaimana tidak? Selama ia hidup, ia suka mendengarkan dentingan piano, mendengarkan musik klasik, mendengarkan suara ayahnya, dan mendengarkan suara-suara di sekitarnya. Itulah yang membuatnya memutuskan untuk mengambil les menyanyi dan menjadikan menyanyi sebagai sumber kehidupannya yang baru. Ketika tiba-tiba dia tidak mampu mendengar semua nada-nada dan dentingan piano lagi, Luhan merasa hancur. Tuhan tidak sedang mengajaknya bercanda, kan?
Jujur, Luhan tidak tahu bagaimana dia harus bereaksi atas apa yang telah melandanya. Menangis? Tidak, itu akan membuatnya semakin larut dalam kesedihan. Lalu menerimanya? Tidak juga, menerima hal semacam ini sangat-amat berat untuk Luhan. Jadi dia hanya diam meskipun rasanya Luhan ingin mencabut nyawanya sendiri.
Tidak berhenti sampai situ. Keesokan harinya setelah Luhan menerima kabar bahwa ia tidak bisa mendengar lagi, tiba-tiba kabar buruk yang lain muncul. Ayahnya yang ia ketahui masih dalam kondisi kritis saat dia sadar, kini sudah pergi meninggalkannya. Ayahnya meninggal karena tidak mampu bertahan lagi.
Semakin hancurlah hidup Luhan. Semua hal yang penting dalam hidupnya satu per satu pergi. Ia tidak mampu untuk menahannya dan hanya mampu menangis saat mendengar kabar itu. Ia menangis di pelukan ibunya, sementara Zhu Yanjun yang saat itu datang untuk menjenguknya, berdiri di dekat pintu dengan kepala tertunduk. Luhan mampu melihat ekspresi lelaki itu dari tempat tidurnya. Tidak ada ekspresi sedih dan simpatik. Hanya ekspresi datar.
Kenapa...
Luhan tidak memiliki waktu untuk memikirkan pria itu. Pun Luhan juga tidak mau. Tidak.
…
Seminggu setelah meninggalnya Yowei, saat itulah Luhan diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Luhan masih enggan memakai alat bantu dengarnya karena Luhan risih, ia belum terbiasa, dan memang sebenarnya Luhan tidak mau memakai alat seperti itu. Ini salah satu bentuk protesnya kepada Tuhan meskipun tidak berdampak apa-apa. Luhan pikir, dengan mengambil indera pendengarannya dan juga ayahnya, Tuhan sudah tidak memihaknya lagi. Apalagi ketika empat bulan setelah kecelakaan tersebut, ibunya menikah dengan Zhu Yanjun, pria yang selama ini diwaspadainya. Luhan merasa bahwa perasaannya benar. Tuhan memang tidak cukup adil kepadanya.
Mengapa semua ini harus ia alami dalam tahun yang sama?
Menghela napas, Luhan memandangi awan kelabu yang berarak-arak. Saat itu, Luhan berada di sekolah. Ia duduk sendirian sementara teman-temannya sedang bergerombol di salah satu meja tidak jauh dari tempatnya berada. Luhan tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, pun tidak tertarik. Semenjak kecelakaan itu terjadi, mereka enggan dekat-dekat dengan Luhan. Tatapan mata mereka selalu merendahkan, seolah Luhan tidak pantas berada di sekolah lagi setelah kehilangan pendengarannya.
Ya, tentu saja. Untuk apa ia susah-susah mendengarkan materi pelajaran saat ia memang tidak mampu untuk mendengar dan malas memakai alat bantu dengarnya?
Tuk!
Remasan kertas berbentuk bola itu mengenai kepala Luhan. Refleks Luhan beralih, dan menemui mata teman-teman yang bergerombol tadi menatapnya rendahan. Luhan tidak mengerti, sebenarnya apa salahnya? Apakah karena dia tidak bisa mendengar? Lalu apa salahnya tidak bisa mendengar?
Semua orang jadi tidak ada untuknya. Teman-teman yang awalnya selalu ada untuknya, kini berbalik menjadi menjauh. Luhan tidak tahu dan tidak paham. Lingkaran hitam ini terlalu rumit untuknya.
Yumi, Luhan mengenalnya sebagai teman yang menyenangkan, tiba-tiba berbicara. Luhan tidak tahu apa yang Yumi katakan karena saat itu Luhan tidak memakai alat bantu dengar. Maka dari itu Luhan segera memakai alat itu, lalu berkata, "Apa kau bisa mengulanginya lagi?" dengan takut.
Ya, dia takut. Selama empat bulan menjalani hidup baru ini, Luhan selalu ketakutan.
Yumi berdecih tidak percaya. Anak berumur sebelas tahun itu mendekati Luhan, lalu membisikkan sesuatu tepat di depan alat bantu Luhan. "Kau tidak pantas berada di sini." Dengan penegasan di setiap suku kata.
Luhan tidak berkutik. Ia melihat Yumi dan beberapa teman perempuannya yang lain melingkari bangkunya. Luhan benar-benar takut sekarang ini. Jika biasanya dia menerima perlakuan yang menyenangkan dari teman-temannya, untuk kali pertama, Luhan menerima perlakuan yang buruk.
Luhan tidak bisa melupakan peristiwa itu. Peristiwa di mana alat bantu dengarnya diinjak-injak oleh mereka, rambutnya yang dijambak, serta perlakuan-perlakuan buruk yang lain. Saat itu Luhan tidak mampu berbuat apa-apa selain berusaha untuk membebaskan diri. Tangisnya pecah, hatinya hancur. Luhan merasa buruk di depan teman-temannya. Jadi, dengan sekuat tenaga, Luhan mendorong tubuh Yumi sampai Yumi jatuh, lalu dengan cepat pula Luhan kabur sambil membawa tasnya. Luhan berlari keluar dari sekolah. Luhan pulang.
…
Peristiwa itu cukup membuat Luhan trauma. Ia tidak mau berangkat sekolah selama dua minggu, dan Yuan yang mengetahui penyebabnya akhirnya memutuskan untuk meng-home-schooling-kan Luhan saja. Ia juga tidak mau Luhan menderita lebih jauh lagi.
Sore itu Luhan baru selesai dengan kegiatan home schooling yang telah ia ikuti selama dua bulan lebih. Yang Chaoyue selaku gurunya baru saja pulang. Lima menit setelah itu, Zhu Yanjun datang. Luhan yang saat itu sedang mengistirahatkan otaknya dengan bersantai di ruang tengah, lantas menoleh pada Yanjun yang menghampirinya. Pria itu duduk di sebelahnya, ikut menonton televisi.
Yanjun kemudian mengisyaratkan Luhan untuk memakai alat bantu dengarnya. Anak itu memang belum terbiasa memakai alat itu bahkan hampir setengah tahun lebih kecelakaan itu terjadi. Luhan pun menurutinya meski malas. Setelah Yanjun menikahi ibunya, Luhan memang selalu dalam mode waspada jika sedang bersama Yanjun.
"Kau baru selesai belajar?" tanyanya. Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban. Yanjun mengangguk-angguk sambil menggeser tempatnya duduk menjadi dekat dengan Luhan.
Luhan meningkatkan mode waspadanya. Ia berdiri dari tempatnya, hendak pergi dari sana, namun Yanjun segera mencegahnya. Pria itu mencekal pergelangan tangan Luhan lalu menariknya hingga Luhan kembali duduk di sofa. Luhan membulatkan matanya, menatap tajam pada Yanjun.
"Hei, kau tidak boleh menatap ayahmu seperti itu."
Ayah apanya? Kau bukan ayahku! Batin Luhan ingin sekali mengatakan hal itu di depan wajah Yanjun. Tapi baginya, suaranya terlalu berharga dan ia tidak ingin bersuara di depan pria ini. Pria yang menyebabkan ayah dan ibunya bertengkar, pria yang menghancurkan keluarganya, pria yang tiba-tiba datang di kehidupannya dan kini menjadi ayah tirinya.
Luhan tidak ingin punya ayah tiri semacam Zhu Yanjun.
"Oh, mumpung kau ada di sini, bagaimana kalau kau menyanyi untukku? Suaramu masih bagus kan meskipun sudah lama tidak berlatih? Aku yakin bakat tidak akan membohongi siapapun." Kata Yanjun dengan senyum yang terulas di wajahnya.
Luhan menatapnya, ada aura gelap yang menguar dari Yanjun. Hal itulah yang membuat Luhan menggeleng lalu melepaskan tangan Yanjun dari pergelangan tangannya. Luhan ingin pergi lagi tapi Yanjun kembali menahannya. Kali ini cekalannya pada pergelangan tangan Luhan sangat keras. Luhan sampai meringis merasakan sakit di pergelangan tangannya.
"Kenapa kau tidak mau bernyanyi di depan ayahmu?"
Luhan tetap menggeleng, berusaha melepaskan tangannya dari Yanjun tapi pria itu terlalu kuat untuknya.
"Hei, kau tidak boleh begitu pada ayahmu. Bernyanyilah, Luhan Sayang…" ujar Yanjun setengah berbisik, pun memasang senyum menjijikkan yang membuat Luhan merinding.
Jujur, Luhan tahu bahwa sekarang keadaannya berbahaya tapi dia tidak bisa terbebas dari Yanjun. Ketika Yanjun memanggilnya dengan sebutan seperti itu, Luhan merasa jijik akan dirinya sendiri. Luhan sudah membayangkan yang tidak-tidak. Apalagi ketika Yanjun memaksanya untuk duduk di pangkuannya. Luhan berontak, ia menggerakkan seluruh anggota badannya untuk terbebas dari Yanjun, dan berhasil! Luhan berhasil melepaskan diri dan tentu saja dia harus berlari dari pria menjijikkan itu.
Luhan berlari menuju pintu utama. Ia membuka pintu besar itu namun tidak berhasil. Pintunya terkunci. Luhan panik. Ia menarik-narik gagang itu dan tetap saja tidak bisa.
"Kenapa kau lari, Luhan?" suara Yanjun mengejutkannya. Luhan berbalik dan kini dia berada diantara pintu dan Yanjun. Pria itu terus melangkah maju, dan Luhan tidak mampu bergerak lagi karena kakinya terlanjur lemas.
Seluruh badan Luhan bergetar. Ia takut.
…
Yuan baru saja pulang dari kerja dan menemui pintu rumah terkunci. Yuan bingung, Luhan tidak mungkin mengunci pintu rumah karena ia tahu Luhan tidak akan melakukannya. Masih dengan kebingungan, Yuan memilih untuk masuk melalui pintu belakang. Ia membuka pagar lalu berjalan melalui taman belakang lalu masuk melalui dapur. Di sanalah ia melihat isi rumahnya berantakan.
Apa yang terjadi? Kenapa barang-barangnya jatuh dan pecah seperti ini?
Yuan terkejut, dan yang terlintas pertama kali di pikirannya adalah Luhan. Ia masuk, matanya mengitari ruangan, dan ia memanggil-manggil nama Luhan. Tidak ada jawaban sama sekali dari si pemilik nama. Yuan terus mencari, lalu terdengarlah suara tangisan Luhan di balik pintu ruang latihan Luhan. Yuan segera membuka ruangan tersebut dan terkejut setengah mati.
Ruangan itu berantakan sekali. Keyboard tergeletak di lantai, beberapa tuts-nya rontok, serta kertas-kertas yang bertebaran, ada cello yang tergeletak begitu saja, serta lemari kaca berukuran sedang tempat penghargaan dan piagam milik Luhan jatuh tertelungkup. Di sudut ruangan, Yuan melihat Luhan dalam keadaan berantakan—pakaian dan rambutnya—bersandar pada dinding sambil menangis. Luhan sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Panik dan khawatir, Yuan segera menghampiri putrinya dan lebih terkejut lagi melihat kaki kiri Luhan tertekuk ke arah yang tidak wajar. Saat Yuan menyentuhnya, Luhan baru menatapnya dan menangis deras.
"Ada apa? Kenapa bisa…" Yuan tidak sanggup melontarkan pertanyaan dan lantas memeluk Luhan. Saat itulah ia menyadari ada orang lain di dekat Luhan, dan orang itu dalam keadaan sekarat.
Yanjun. Pria itu terbaring lemah akibat tusukan gunting di perut.
…
Setelah kejadian itu, Luhan sama sekali tidak mau diajak bicara ibunya. Luhan benar-benar trauma. Semua luka yang ia terima selama ini membuatnya takut untuk melihat dunia. Ia terus mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Kegiatannya hanya tidur, berjalan-jalan di kamarnya sendiri dengan tongkat karena ia mengalami cedera di kaki kirinya akibat pembelaan dirinya terhadap tindakan keji Yanjun.
Yanjun. Entah bagaimana kabar pria itu setelah ditusuk Luhan dengan gunting. Luhan tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa ibunya menggugat cerai pedofil itu, lalu Yanjun dihadiahi hukuman penjara karena terbukti merencanakan pemerkosaan kepada Luhan.
Kini umur Luhan sudah dua belas tahun. Ia lega bisa melewati umur sebelumnya yang penuh dengan hal-hal buruk.
Semua itu terjadi dalam satu tahun. Umur sebelas memang umur yang menakutkan bagi Luhan. Luhan gagal menyabet gelar juara nasional dan menyakiti pita suaranya sendiri, lalu Luhan mengetahui perselingkuhan ibunya, Luhan mengalami kecelakaan bersama ayahnya hingga ia kehilangan ayah serta indera pendengarannya, lalu melihat ibunya menikah dengan seorang pedofil, di-bully oleh temannya sendiri, dan terakhir hampir diperkosa oleh pedofil menjijikkan bernama Zhu Yanjun.
Semua peristiwa yang terjadi dalam satu tahun itu membuatnya berpikir bahwa Tuhan sudah tidak menyayanginya lagi. Tuhan mengambil semua yang berarti dalam hidupnya, lalu membiarkannya menderita karena tidak memiliki apapun yang berarti di hidupnya. Semua rasa sakit yang menumpuk dalam satu tahun itu sudah cukup bagi Luhan untuk membangun sebuah benteng besar nan kuat. Maka, Luhan membuatnya, tidak mengizinkan siapapun untuk menembusnya, bahkan oleh ibunya sendiri.
Sebab Luhan marah. Ia marah pada ibunya yang membawa masuk Yanjun ke kehidupan mereka yang damai. Yanjun menghancurkan hidupnya. Kalau saja Yuan tidak membawa Yanjun ke rumahnya saat itu, kalau saja Yuan tidak berselingkuh, maka Yowei masih hidup sekarang, maka Luhan tidak akan kehilangan indera pendengarannya, maka Luhan juga tidak akan mengalami trauma seperti sekarang. Hanya saja, semua sudah berlalu. Luhan tahu ibunya menyesal telah berselingkuh dan membuatnya sangat amat menderita karena perbuatan menjijikkan Yanjun. Tapi semuanya sudah terjadi. Yuan terlambat dan Luhan terlanjur marah padanya.
Enam bulan setelah peristiwa Luhan hampir diperkosa oleh Yanjun, untuk kali pertama, Luhan keluar dari kamar. Selama enam bulan itu, Luhan tidak mau bicara pada siapapun. Dokter Wu selaku dokter pribadi keluarga Lu, berkata, "Luhan mengalami trauma dalam mengeluarkan suara karena ia pikir dengan bersuara, ia bisa mengundang Yanjun lagi dan membuat Yanjun memintanya untuk bernyanyi. Sebab, ketika hendak memperkosa Luhan, Yanjun selalu meminta Luhan untuk bernyanyi."
Ya, Luhan takut. Ia terlalu takut. Semua ketakutan itu terus berputar di kehidupannya sehingga dia harus melindungi dirinya sendiri. Luhan memutuskan untuk belajar ilmu bela diri. Muay thai-lah yang dipilih oleh Luhan. Luhan juga mencari hobi baru selain mendengarkan musik dan bernyanyi. Setelah ia kehilangan indera pendengarannya, Luhan tidak bisa melakukan kedua hobinya lagi. Maka, setelah kaki kiri Luhan sembuh, ia mencoba lagi sepatu rodanya yang lama, dan menjadikannya hobi baru. Sepatu roda membuatnya merasa Yowei yang selalu ada untuknya, untuk melindunginya, untuk menemaninya, hadir lagi. Yowei-lah yang mengenalkan Luhan dengan sepatu roda, dan hanya itulah kenangan Luhan yang bisa Luhan simpan sampai sekarang.
Di umur empat belas tahun, Luhan lahir menjadi Luhan yang berbeda. Luhan menjadi Luhan yang dingin, kuat, dan tidak peduli. Ia tidak akan membiarkan siapapun mengetahui kelemahannya.
Akan tetapi, empat tahun kemudian, ketika ia berumur delapan belas tahun, Luhan bertemu dengan Sehun. Luhan tidak mengenal siapa lelaki itu sebelumnya. Namun, di setiap peristiwa buruk yang tiba-tiba muncul lagi di kehidupannya, Sehun selalu hadir. Sehun sering memperhatikannya, melindunginya, memberinya pengertian, dan terakhir…
…memeluknya.
Malam itu, Luhan bercerita semuanya pada Sehun. Lelaki itu hanya diam di depannya, memperhatikan setiap gerakan tangan yang ia gunakan untuk berkomunikasi. Ketika Luhan tidak mampu melanjutkan, Sehun akan mengusap-usap pundaknya lembut, lalu Luhan dapat melanjutkannya lagi sampai selesai.
Selesai. Benar-benar selesai. Luhan jadi merasa semua beban dalam hidupnya menguap begitu saja. Luhan lega. Saking leganya, ia menangis. Lalu tiba-tiba Sehun memeluknya, memberinya rasa nyaman, dan Luhan enggan untuk kabur dari pelukan itu. Luhan menangis deras di bahu Sehun.
Setelah insiden di umur sebelas tahunnya, Luhan merasakan kehadiran sosok ayahnya lagi. Akan tetapi, kali ini dalam wujud Sehun. Jika setiap bersama Yowei Luhan merasa aman dan nyaman, bersama Sehun juga Luhan merasakan hal yang sama, tapi dengan tambahan rasa nyaman sebagai teman berbagi banyak hal.
Apakah ini berarti, Tuhan mengirimkan Sehun sebagai pengganti ayahnya?
Luhan tidak tahu. Tapi untuk kali pertama dalam hidupnya, Luhan benar-benar berharap; iya, Sehun adalah pengganti Ayah.
…
to be continued…
Haaaaai! Chapter ini panjang sekali dan semoga kalian tidak pusing karena lagi-lagi terlalu banyak narasi :') maklumi saja ya. kalau ceritanya tentang flashback begini, aku lebih sering memakai narasi biar ceritanya cepet aja. Eh, kayaknya ngga cepet deh buat yang kali ini heheheheh.
Nah, ininih yang waktu itu kubilang kenapa aku suka sama Luhan. Karena meskipun Luhan punya banyak pengalaman buruk, dia tetep bangkit dan ngga ambil jalan bunuh diri. Cuma, ya… meskipun begitu Luhan juga punya sisi buruknya sih di sini. Ya, begitulah, kalian bisa nangkep sendiri di mana sisi buruk Luhan yang kumaksud.
Oiyaaa aku ada kabar bagus nichhhhh! Kemungkinan besar para Author HunHan GS akan mengadakan event di bulan Februari! So, ditunggu saja, yaaaa! Inget! Bulan depan!
Udah, ah. Aku ngga akan bicara panjang lebar karena chapter ini udah termasuk panjang. Sorry for typo(s). See ya!
Ps. Kayaknya cerita ini akan tamat satu atau dua chapter lagi. Oh, aku harus rela menamatkannya :')
