-After Wedding-

Disclaimer:

Naruto © Om Masashi Kishimoto

Story © Mikiraa

Warning:

OOC, Typo's, AU , abal, aneh, etc

Rate: T

Genre: Romance, Family


Chapter: Fake Sickness


Ketika membuka mata, hal pertama yang Sakura lihat bukanlah sinar matahari melainkan sinar putih bersumber dari lampu kamarnya. Dengan sedikit menyipitkan mata, anak gadis dari keluarga Haruno itu memandang jam weker di atas nakas.

Ayolah ini baru jam 3 pagi.

Sakura menggerutu. Bangun dari posisinya yang semula berbaring, menyandarkan atas tubuhnya di punggung sofa -tempat tidur Sasuke yang tanpa sadar menjadi kasurnya malam ini. Meski hanya untuk beberapa jam saja.

Kemudian matanya kembali berlari menelusuri sudut kamarnya, mencari sosok pria yang sejak kemarin terbaring lemas di atas kasur -lebih tepatnya kasurnya.

Sepulang dari rumah Ino, dan setelah -ehem peristiwa cheesy kemarin -yang membuat seluruh wajahnya merona- mungkin karena udara dingin dan keadaan Sasuke yang tengah kelelahan, pria angkuh itu tiba-tiba demam.

Bahkan sempat pingsan.

Tepatnya ketika mereka saling menjauh setelah memagut bibir masing-masing.

Dengan begitu dramatis, tubuh Sasuke limbung ke arah Sakura. Memejamkan mata hitam yang begitu menghasut itu setelah sempat menatap berlian hijau Sakura begitu dalam. Seketika, Sakura panik. Apalagi saat itu Sasuke tak bisa ia bangunkan, panas badannya begitu tinggi yang pada mulanya Sakura kira merupakan pengaruh dari kegiatan mereka.

Dia berpikir begitu lama, sampai Sakura menemukan sebuah ide agar mereka bisa pulang. Dengan sedikit dorongan dari dirinya yang mulai kedinginan, Sakura akhirnya mengambil alih kemudi setelah sebelumnya memindahkan tubuh Sasuke ke kursi lain. Sedikit kewalahan karena tubuh pemuda itu yang ukurannya lebih besar dari Sakura.

Dia memang berhasil. Meski umpatan terus meluncur dari bibir kecilnya.

"Sasuke sialan! Sasuke payah!"


.


Sosok yang ia cari akhirnya muncul. Sasuke keluar dari balik pintu kamar mandi. Tanpa kacamata dengan rambut sedikit basah dan handuk yang melingkar di ceruk lehernya. Mata Sakura terpaku. Terdiam melihat sosok di depannya dengan pipi bersemu.

Oh Tuhan, makhluk ciptaanmu begitu tam-

"Eh? Tunggu -KAU HABIS MANDI?" Sakura berteriak, dia bangun dari sofa dengan pandangan syok. Sampai-sampai selimut -yang dia juga tak sadar sejak kapan menempel di tubuhnya- terlempar mengenaskan ke lantai.

"Hm," gumam Sasuke. Pemuda itu hanya berjalan santai sambil mengeringkan rambut setengah basahnya. Langkahnya berhenti di depan meja nakas, mengambil gelas berisi minuman disana.

Melihat hal itu Sakura semakin bersungut. "Astaga, kau lupa saat ini kau sedang demam? Kau gila, mandi di tengah malam seperti ini? Ya Tuhan, kau ingin membuatku mati hah!"

Mendengar teriakan Sakura, Sasuke malah menyeringai. Dialihkannya pandangan yang sedari tadi fokus memandangi gelas kosong di tangannya, menuju Sakura yang bahunya naik-turun seperti kehabisan nafas dengan disertai muka memerah marah.

"Sejak kapan kau peduli padaku?" Sasuke melangkah pelan mendekati Sakura, masih dengan seringai yang menurut Sakura seperti seringai mengejek.

"Apa sejak..." Tangan itu menyentuh ujung wajahnya, mengangkat dagunya sehingga mata sepasang manusia itu bertemu dengan jarak hanya beberapa senti. "Kita berciuman kemarin hem?"

Jantung Sakura mendadak berdetak kencang. Tangannya mengepal. Dan sepertinya genangan air di pelupuk matanya siap turun menuju grafitasi. Dia merasa dilecehkan.

Sasuke menganggap apa ciuman kemarin? Apa semudah itu dia menganggap enteng sebuah ciuman? Padahal Sakura menganggap bahwa insiden itu adalah sebuah gerbang baru agar mereka bisa merajut kisah cinta yang sebenarnya karena jujur saja hati Sakura mulai terbuka setelah sempat bimbang.

Sakura tidak menyangka bahwa Sasuke hanya mempermainkannya semacam ini.

"Lepaskan aku, brengsek?" Dengan sekuat tenaga Sakura menangkis tangan Sasuke dari dagunya. Berusaha melepaskan diri.

Tapi sepertinya itu hal yang sia-sia. Malahan cengkraman di dagu itu bertambah kuat, membuat Sakura merintih. Sakura mengambil nafas dan dia mengendus bau aneh dari nafas Sasuke -mereka terlalu dekat sehingga bisa menghirup nafas masing-masing. Itu bau menyengat, seperti-

Alkohol?

Sesaat sebelum ia sadar, benda asing sudah terlebih dulu membuat matanya terbelalak. Benda ini, benda yang kemarin membuatnya kalut dan berhasil bersemu merah.

Sasuke kembali menciumnya!


.


Ciuman itu sudah berlangsung beberapa puluh detik yang lalu, temponya sudah mulai berubah dari kasar ke halus yang membuat Sakura kepayahan.

Gadis itu sebenarnya ingin menolak. Sungguh ciuman yang hanya berawal dari nafsu apalagi tanpa sadar dilakukan Sasuke terasa tidak benar. Meskipun pada kenyataanya sekarang ini mereka tengah menikmatinya.

Sakura yang awalnya menolak, memilih pasrah dan menikmati ciuman tidak benar ini. Tangannya memeluk leher Sasuke dengan sesekali meremas rambut ravennya yang sedikit basah itu.

Sedangkan Sasuke memeluk pinggang Sakura dan membuat tubuh mereka menempel tanpa jarak. Suara cebikan dan desahan beberapa kali terdengar menggema di kamar itu. Memanaskan ruangan besar yang sebenarnya dingin pengaruh musim dingin.

Sakura merintih saat Sasuke menggigit bawah bibirnya, meminta izin untuk merogoh isi mulut Sakura. Sakura merespon sambil terus mengulum bibir atas Sasuke. Kemudian mendesah ketika Sasuke menelusuri isi rongga mulutnya dengan cukup tak sabar, menghisapnya dan menggigit kecil lidahnya. Semakin membuat kaki Sakura lemas, tak sanggup untuk sekedar menapak di tanah.

Beberapa menit berlalu, ciuman itu selesai. Meninggalkan benang saliva yang membentang dari bibir masing-masing, lalu terputus didetik berikutnya. Tangan Sakura bergerak mengelus wajah Sasuke, menyentuh sudut bibir pemuda itu dengan lembut -membersihkan sedikit saliva disana . Lalu tersenyum tulus pada pria Uchiha itu.

"Sayang sekali kau melakukannya karena pengaruh mabuk," ujar Sakura lirih.


.

.

.


"Siapa bilang?"

.

Dahi Sakura berkerut, dan bibirnya sedikit mengerucut. "Bukannya kau-"

.

"Kadarnya rendah."

.

"Tetap saja, kau sedang demam bodoh."

.

"Kau khawatir? Manis sekali."

.

.

.

"DIAM!"

.

.

.

Author's note:

Hello, i'm setelah lagi-lagi hampir setahun ga update fic ini. Sebenernya merasa bersalah banget apalagi pas liat review yg pada nungguin ampe jamuran. Readers, im sorry. Maaf udah bikin kalian nunggu lama fic ini. Real life bikin sibuk apalagi saya udah kelas 3 sma, mau lulusan. Doain ya biar UNnya bagus bisa masuk ptn yang saya mau. Aamiin

At least, mau bilang ga tau kapan lagi mau update fic ini. Tergantung kesempatan nulis dan ide yang muncul. Semoga walau fic ini update udah mau setahun ngga mengurangi antusiasme kalian buat baca. Untuk yang review aku balas menyusul ya soalnya belum sempet pegang pc.

Kritik, saran, Ataupun flame miki terima dengan lapang dada. But please review ya, suara kalian bener bener penting buat saya.

See you

Miki

(140204)