Tittle : Matchmaking

Author : Lieya EL

Cast : HUNHAN, HUNBAEK , KRISHO, and other . . .

Genre : Hurt comfort, Romance . . .?

Lenght : 6 / ?

Warning : This is yaoi boyxboy, jadi yang gak suka yaoi jangan sekali-kali membaca ini oke !

Luhan milik Sehun, Sehun milik Luhan, dan Hunhan adalah milik keluarganya, disini saya hanya meminjam Karakter keduanya saja, untuk selebihnya murni karangan saya semata.

.

IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ OKE ?!

DON'T BE PLAGIATOR OKE ?!

.

.

.

*** Matchmaking ***

.

.

.

" Lu-han, namja kasar itu Te-lan-jang." Batin Sehun gagap, sembari memukul pelan kepalanya, untuk menghilangkan gambaran tubuh polos seseorang yang baru saja tertangkap oleh indera penglihatannya.

.

.

.

Chapter 6

Cklek. . .

" Hey, kau kenapa ?"

Deg. . .

Glekk. . .

Sehun menelan salivanya kasar.

" Apakah dia ketahuan ? "

" Matilah kau Oh Sehun." Batin Sehun panik. Namun bukan Sehun namanya kalau tidak bisa menyembunyikan kepanikannya sekarang.

" Aku ? Memangnya aku kenapa ?" Tanya Sehun datar. Padahal dalam hati ia tengah mengurutuki dirinya sendiri sekarang.

" Oh Sehun bodoh. Kenapa kau malah balik bertanya, aishh."

Namja cantik yang baru saja keluar dari kamarnya itupun beringsut mendekati Sehun.

" Tadi kau memukul kepalamu sendiri. Seperti orang gila." Jawabnya tak kalah acuh. Kemudian duduk disamping Sehun. Luhan-namja cantik itu mengambil remot yang berada di depannya kemudian menyalakan tv.

" Ehm. Itu-" Perkataan Sehun terhenti saat menolehkan wajahnya kesamping, untuk melihat lawan bicaranya. Cantik, itulah hal pertama yang baru saja Sehun ketahui. Wajahnya, matanya yang bersinar, rambutnya yang sedikit basah dan bibir ranumnya yang merekah, membuat Sehun terdiam tak berkutik. Oh, jangan lupakan kaos oblong yang dipakai namja cantik itu, menampilkan tengkuk yang putih dan mulus.

Glekk – Sehun hanya bisa menelan kasar ludahnya kembali.

" Tidak-tidak Oh Sehun apa yang kau fikirkan. Hilangkan, cepat hilangkan fikiran kotormu itu." sangkal Sehun dalam hati. Sehun kembali memukul-mukul kepalanya untuk menghilangkan fikiran konyol itu. Namun kelakuan Sehun tersebut membuat sosok cantik dihadapannya semakin bingung.

" Hey, kau kenapa ?" Tanyanya sembari menghentikan pergerakan Sehun.

Deg

Jantung Sehun berdetak tak karuan, aliran darahnya mengalir semakin cepat, saat tangan mungil sosok cantik itu menyentuh pergelangan tangannya.

" It- i-tu Ak-aku." Gagap Sehun

" Itu ? Kau kenapa? Jangan membuatku bingung." Tanya Luhan bingung.

Hey kenapa mata itu indah sekali – batin Sehun. Dan sekelebat bayangan Luhan dengan tubuh polosnya itupun muncul kembali di kepala Sehun.

Tidak-tidak tidak-tidak. Adik kecilnya tengah menegang sekarang.

" Akumaukekamarmandi." Ujar Sehun dalam sekali tarikan nafas. Sehun langsung berdiri dan berlalu meninggalkan ruangan itu menuju kamar mandi.

Namun ditengah jalan, Sehun menghentikan langkahnya kemudian berbalik.

" Di mana kamar mandinya ?" Tanya Sehun gugup.

" Hanya ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi di Apartemen ini . Yaitu kamarku" Jawab Luhan acuh.

" Apa ?!" Teriak Sehun menganga.

" Appamu dan Appaku sudah merencanakan semua ini."

" APA ?!" Sehun semakin meninggikan suaranya.

" Haish. . . tidak usah berteriak-teriak seperti itu. Aku tidak mau telingaku rusak, mendengar suara jelekmu itu."

" Huh. . ." Sehu mendengus sebal.

" Jadi kamar sebanyak itu untuk apa ?! Apa isinya ?" Heran Sehun, pasalnya ada banyak pintu kamar di Apartemen itu.

" Kau lihat sendiri saja." Jawab Luhan acuh kembali memfokuskan perhatiannya pada film action favoritnya.

Sehun yang penasaranpun, akhirnya mencoba untuk membuka salah satu pintu di dekatnya.

Cklek cklek – Terkunci.

Cklek cklek – Terkunci.

Cklek cklek – Terkunci.

" Mereka mengunci seluruh kamar itu, kecuali ruangan perpustakaan dan ruang olah raga. Di lantai atas juga ada beberapa kamar tetapi mereka juga sudah menguncinya." Ujar Luhan setelah Sehun berhenti untuk mencoba membuka pintu kamar-kamar itu.

" Apa-apaan mereka ? Kenapa mereka menyiksaku seperti ini? Kenapa aku harus tidur dengan namja Kasar itu? " batin Sehun.

" Aku harap setelah ini aku bisa dekat denganmu, Oh Sehun. Namja culun yang mulai mencuri hatiku." Batin Luhan senang. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

" Apa yang harus ku lakukan agar kau mau melihatku ?"

" Apakah aku harus berubah bersikap manis padamu ?"

"Haish, kenapa kau bisa berubah seperti ini Xi Luhan. Hanya karena namja culun yang berubah menjadi tampan itu, membuat sifatmu berubah menjadi murahan seperti ini."

" Tapi apakah salah jika aku mulai menyukainya ? Apakah salah jika aku berubah ? Aku tidak rela melihatnya bahagia bersama Baekhyun. Aku tidak mau kebahagiaanku direbut Baekhyun lagi. Sudah cukup Baekhyun merebut Appa, aku tidak mau Baekhyun mengambil Sehun dari ku. Tidak boleh dan tidak akan pernah." Batin Luhan bergejolak.

.

.

.

*** Matchmaking ***

.

.

.

Bisik-bisik seluruh siswa kelas XII A yang menggema, membuka suasana pagi ini. Suasana menegangkan terpancar diruangan itu, dimana kedua sosok namja cantik tengah beradu sekarang. Bukan beradu seperti halnya perkelahian namun, mereka tngah bradu pandang sekarang. Tatapan sinis, dan senyuman yang meremehkan terpancar di wajah namja bermata rusa itu, sedangkan namja bereyeliner yang berada di hadapannya menanggapinya dengan senyuman manisnya.

" Hyung. Apa kau tidur nyenyak semalam ?" Tanya namja bereyeliner. Mencoba untuk mencairkan suasana.

" Cih." Luhan namja rusa itu berdecih pelan.

" Tentu aku tidur nyenyak selama tidak ada pengganggu sepertimu yang menempel di hidupku." Ujar Luhan dalam hati.

" Appa menyuruhku untuk menyiapkan bekal ini untukmu. Appa khawatir , Hyung tidak sempat membuat sarapan tadi pagi. Pasti Hyung kelelahan karena mengurus kepindahan Hyung kemarin." Kata Baekhyun sembari mengulurkan bekal yang di bawanya sedari tadi.

" Simpan kembali bekalmu. Aku tidak butuh." Ujar Luhan dingin kemudian duduk di bangkunya.

Mendengar jawaban Luhan, Baekhyun merundukkan wajahnya kecewa. Rupanya Hyung yang disayanginya itu tidak akan pernah bisa bersikap baik kepadanya lagi. Baekhyunpun membalikkan badannya dan memilih kembali kebangkunya yang terletak tepat di depan bangku Luhan.

" Kasihan Baekhyun. Selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Hyungnya yang sombong itu."

" Iya, kenapa Baekhyun masih mau mendekatinya."

" Kalau aku jadi Baekhyun, aku pasti tidak akan mendekatinya lagi meskipun dia Hyung kandungku sendiri. Karena dengan jelas dia telah mnolak keberadaanku. Untuk apa aku masih mengejarnya."

Suara-suara itupun terlontar dari mulut para siswa di kelas itu. Kedua pihak yang menjadi bahan perbincangan itupun tidak menanggapi perkataan itu. Hampir setiap hari mereka ( Luhan dan Baekhyun ) selalu menjadi perbincangan hangat di kelas ini. Dengan sikap Luhan yang kasar, banyak yang beranggapan bahwa Luhanlah pihak yang patut di salahkan, karena telah berbuat kasar bahkan menolak kehadiran adiknya sendiri di sekitarnya. Sungguh sikap yang tidak seharusnya di lakukan oleh seorang hyung.

Luhan tidak mau mngambil pusing pendapat teman-temannya, ah ralat manusia di sekitarnya maksudnya, karena selama ini yang Luhan anggap sebagai teman hanyalah Kim Jongin sahabat kecilnya itu eh, jangan lupakan manusia yang bernaung di gengnya yang akhir-akhir ini juga sudah merambat menjadi teman-temannya. Senyum kecil terpancar di wajah cantiknya saat mengingat kejadian kecil di Apartemennya tadi pagi.

Dimana Luhan terbangun di samping namja tampan yang mulai di kaguminya itu. Senyumnya merkah saat mengamati wajah lelaki itu. Wajahnya yang tampan, rahangnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dan jangan lupakan bibir tipisnya yang terlihat, uh seksi itu mnyadarkan Luhan bagaimana sempurnanya sosok yang tertidur pulas di sampingnya kini.

" Kau sangat tampan Sehun. Bagaimana mungkin kau bisa berubah seperti ini ?" Lirih Luhan. Luhan memberanikan diri mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah yang terlukis tampan itu.

Sedikit lagi , yah sedikit lagi. Ayo Luhan sentuh wajahnya, bukankah kau sangat penasaran, bagaimana rasanya menyentuh wajah seseorang yang kau suka ? Ayo Luhan, sentuhlah wajahnya sebelum dia terbangun, ayo Lu-.

Deg

Mata tajam itu terbuka. Luhan buru-buru menjauhkan tangannya kembali, dan dengan cepat bangun dari tempat tidurnya. Dengan tergesa Luhan berjalan menuju kamar mandi, untuk menyembunyikan rona merah yang kini menjalari pipinya. Sungguh Luhan sangat malu sekarang.

" Aneh " gumam Sehun. Sehun mengabaikan kelakuan Luhan itu dan mulai meregakkan tubuhnya yang pegal.

Back to School . . .

Rona merah itu tak lepas dari pipi Luhan. Mengingat kejadian tadi pagi pasti membuat Sehun menganggap aneh Luhan di matanya, martabat serta predikatnya pasti sudah turun di mata Sehun.

" Huh, bagaiman kau bisa bersikap seperti itu Xi Luhan." Gumam Luhan merutuki kelakuannya.

.

.

.

Pritt pritt . . .

" Kelilingi lapangan 10x lagi !" Suara tegas seorang namja tampan menggema di gedung olah raga.

" Tapi, Sunbaenim kita sudah mengelilinginya sebanyak 30x. Kapan kita memulai latihannya ?" Keluh salah satu siswa berwajah angelic dengan tatapan memelasnya.

Bagaimana mungkin pelatih basketnya yang baru bisa lebih killer dari pada pelatihnya yang dulu. Ia akui bahwa wajah pelatihnya itu sangat tampan, namun ia tidak menyangka bahwa cara didiknya akan sekeras ini.

" Tidak ada penolakan. Pelatihan ini sangatlah penting untuk menjaga stamina pemain, agar saat bertanding nanti kalian akan kuat dan tidak kelelahan. Lihatlah tubuhmu tidak berotot dan tinggimu juga kurang, pasti kau jarang berolah raga makanya pertumbuhanmu melambat." Kata Yifan – namja tampan itu sembari mengamati tubuh mungil yang sepertinya sudah kelelahan itu.

Namja berwajah Angelic itupun hanya mampu mendelikkan matanya. Apa tadi katanya tidak berotot ? Tinggimu juga kurang ? . Bukankah dalam arti lain pelatih basketnya yang baru ini telah mengatainya kurus ? pendek ? sungguh berani sekali. Apakah dia belum tau siapa namja yang baru saja di katainya itu. Kau akan menyesal telah berurusan dengan salah satu anggota geng yang sangat terkenal sadisnya di sekolah ini.

" Lihat saja apa yang akan kau terima nanti Oh Yifan." Batinnya. Namja Angelic itu memutuskan untuk melanjutkan acara mari berlarinya kembali, meninggalkan Yifan dalam keterdiaman.

" Apa aku salah bicara ?" Bingung Yifan saat melihat namja itu meninggalkannya.

.

.

.

" Apakah aku harus berhenti mendekatimu seperti kata mereka Hyung ?"

" Apakah aku haru menyerah, dan membiarkanmu untuk membenciku selamany ?"

Batin namja bereyeliner yang kini tengah duduk termenung di salah satu bangku kafetaria dengan kedua tangan menopang wajahnya. Perkataan yang dilontarkan teman-temannya tadi terngiang kembali di kepalanya. Ia tengah bimbang sekarang, apakah ia harus menyerah disini saja. Rasa lelah juga mulai menghampirinya, melihat sikap Luhan yang selalu kasar padanya, ditambah lagi Taehyung adik sepupunya yang selalu mendukung dan menghiburnya tidak ada lagi sekarang, beberapa hari yang lalu Taehyung dan Eommmanya menyusul Appanya ke Jepang dan selama beberapa tahun akan menetap disana. Baekhyun sendiri sekarang.

" Hai , Baek. Kau melamun eoh ?" Tanya namja tampan yang baru saja datang dan menghampirinya. Baekhyun tersentak kaget mendengar suara yang familiar itu.

" Eoh. Ssehun ?"

" Hai. Kau melamun ?" Tanya Sehun lagi kemudian duduk di hadapan Baekhyun.

" Ah, tidak. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya menghadapi ulangan matematika besok, materinya sangat sulit, kau tau huh." Kata Baekhyun lesu. Tidak mungkin ia akan menceritakan permasalahannya pada Sehun sekarang.

" Oh. Kau tidak memesan makanan ?" Tanya Sehun saat melihat meja Baekhyun yang kosong.

" Em, tidak. Aku membawa bekal tadi. Oh, iya Sehun, bagaimana semalam, apa kau tidur dengan nyenyak ?" Tanya Baekhyun mencoba membuat pembicaraan.

" Uhukk. . ." Sehun tersedak makanannya mendengar pertanyaan Baekhyun.

" Kau tidak apa-apa Hun ? Ini minumlah." Tanya Baekhyun panik. Baekhyun menyodorkan air menum untuk Sehun dan Sehun mengambilnya kemudian meminumnya dengan beringas.

" Ah leganya." Gumam Sehun saat air dingin membasahi tenggorokannya.

" Sehun ?" Panggil Baekhyun kemudian. Baekhyun ragu apakah ia harus mengajukan pertanyaan ini pada Sehun sekarang atau tidak. Pasalnya pertanyaan yang akan ia ajukan adalah penentu langkah mana yang nantinya akan ia ambil

" Ya."

" Ehm. . Apa kau . . . menyukai Luhan Hyung ?" Tanya Baekhyun sedikit ragu.

Degg

Menyukai Luhan ?

Tidak, Sehun tidak menyukai Luhan. Bukankah selama ini dia selalu menyatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia sudah menyukai Baekhyun sejak awal. Apakah Sehun harus mengungkapkannya sekarang ?

Sehun beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tangan Baekhyun, mengajaknya untuk meninggalkan kafetaria. Tanpa ia sadari dari sudut ruangan nampak sosok cantik yang tengah mengamati pergerakan yang mereka lakukan. Rahangnya mengeras dan tangan namja cantik itupun mengepal kuat hingga kuku-kuku jarinyapun memutih.

.

.

.

Atap sekolah, disinilah Sehun dan Baekhyun sekarang. Sehun membawa Baekhyun kesini karena menurutnya tempat inilah yang paling aman dan tepat untuk menyatakan semua perasaannya.

" Sehun. Kenapa kau membawaku kemari ?" Tanya Baekhyun bingung. Sehun melepaskan tautan tangannya, berbalik kemudian menyentuh kedua pundak Baekhyun.

" Baek, sebenarnya. . ." Sehun sedikit ragu apakah benar ia harus mengungkapakan perasaannya sekarang.

" Sebenarnya apa Hun ?" Tanya Baekhyun penasaran.

" Sebenarnya. . .Ehm, sebenarnya aku menyukaimu, Baek. . . . dari dulu." Aku Sehun menatap Baekhyun penuh cinta.

Mata Baekhyun membulat. Ia tak percaya bahwa Sehun juga memiliki perasaan yang seperti itu terhadapnya, tapi . . .

"" Maaf Sehun, aku tidak bisa menerimamu." Kata Baekhyun sembari menundukkan wajahnya.

" Tapi kenapa Baek ?"

" Luhan Hyunglah jodohmu bukannya aku." Baekhyun harus sadar, bahwa Luhanlah yang dijodohkan dengan Baekhyun bukan dirinya, jadi Baekhyun tidak boleh menerima pernyataan Sehun, benarkan ?

" Tapi, Baek. Aku mencintaimu bukan dia." Kata Sehun keukuh dengan perkataannya. Sehun mencengkeram semakin erat bahu Baekhyun. Ia tidak memperdulikan Baekhyun yang meringis kesakitan. Yang jelas Sehun belum bisa menerima bahwa pernyataannya cintanya akan ditolak seperti ini.

" Tidak Sehun. Aku tidak bisa, hiks. . . Aku tidak mau merusak kebahagiaan Luhan Hyung lagi " Ujar Baekhyun sembari terisak. Sehunpun tak tega melihat namja yang disukainya itu mulai terisak, maka dengan inisiatifnya Sehun merengkuh tubuh yang bergetar itu kedalam pelukan hangatnya.

" Sssttt. Jangan menangis Baek. Tenanglah, biarkan aku yang akan menjelaskannya." Kata Sehun sembari mengelus pelan punggung Baekhyun untuk menenangkannya.

Sedangkan dari balik pintu ada sosok namja yang tengah mengamati adegan demi adegan tersebut sembari tersenyum kecut.

" Jadi begitu." Lirihnya kemudian berlalu dari tempat itu.

.

.

.

" Huh, kemana perginya mereka ?" gerutu namja cantik itu saat tidak mendapati keberadaan seseorang yang dicarinya di setiap tempat.

" Hai, adik ipar." Sapa Yifan yang tanpa disengaja berpapasan dengan namja cantik itu.

" Huh, idiot ini lagi." Kesal Luhan dalam hati.

" Wae ? "

" Ah, tidak-tidak. Kenapa wajahmu kusut sekali, eumm ? Apa dongsaeng kesayanganku itu telah membuatmu muram seperti ini, eoh ?" Tanya Yifan.

" Bukan hanya membuatku muram, tapi mmbuatku ingin mencincangnya skarang juga."

" Bukan urusanmu." Jawab Luhan datar.

" Luhaaaaannnnn !" Suara teriakan yang melengking menyeruak di telinga Luhan dan Yifan, mau tak mau membuat keduanya menutup telinga secara bersamaan.

" Aisshhh. Yakk ! Suho-ya kenapa kau berteriak-teriak eoh ?! Aku tidak tuli, asal kau tau." Kesal Luhan sembari mengusap-usap telinganya kesakitan.

" Mianhae. OMO ! KENAPA KAU BERSAMA PELATIH YANG TAK PUNYA HATI SEPERTI DIA EOH ?!" namja bernama Suho itupun meninggikan suaranya kembali saat melihat sosok yang berdiri di samping Luhan sekarang.

" Husshh, diamlah. Namja yang tak berotot sepertimu tidak boleh berteriak-teriak seperti itu, bisa-bisa staminamu habis dan berefek kelelahan setelah itu kau jatuh sakit. Kalau kau sakit nanti pertumbuhanmu terhambat dan tinggi badanmu tidak akan bertam-AKHH APA YANG KAU LAKUKAN ?!" Teriak Yifan saat sebuah kaki menginjak kakinya.

" Tutup mulutmu itu SUNBAENIM yang TERHORMAT. Jangan pernah menghina orang lain, apalagi namja yang kau hina itu adalah anak didikmu sendiri. Aku menghormatimu sebagai pelatih tim basket yang baru, dan aku harap kau juga menghormatiku sebagai muridmu. Kau tau, namja yang terhormat sepertimu tidak pantas melontarkan kalimat-kalimat penghinaan seperti itu." Ujar Suho dengan wajah yang meremehkan.

Yifan menggeram marah, ingin rasanya memberikan pelajaran pada namja yang sudah tidak sopan. Seharusnya ia sudah melayangkan pukulan kepada wajah namja itu, namun melihat wajahnya yang teduh dan menurutnya err, cantik mebuat Yifan mengurungkan niatnya.

" Hey, Jagalah sedikit perkataanmu ka-"

" Bukankah seharusnya anda yan-"

" DIAM !" Teriakan Luhan menghentikan perdebatan kecil itu. Kepalanya sudah pusing sekarang. Luhan tau dan tidak mau tau permasalahan apa yang sedang mereka debatkan, yang jelas itu sudah mengganggunya sekarang. Dengan langkah cepat Luhan meninggalkan kedua insan yang masih termangu itu. Tujuannya adalah menjari Sehun, bukan mengurusi perdebatan yang tak penting.

" Ini semua salahmu." Ujar Yifan menatap Suho sengit. Gara-gara namja galak berwajah Angelic itu kesempatannya untuk dekat dengan Luhan lenyap dengan begitu saja.

" Salahmu ." Serang Suho balik.

" Salahmu."

" Pokoknya salahmu, Haishh."

Tidak mau memperpanjang perdebatannya keduanya pun memutuskan untuk pergi berlawanan arah.

.

.

.

*** Matchmaking ***

.

.

.

Waktu demi waktu berlalu, hari demi haripun berganti tak terasa sudah satu bulan Sehun dan Luhan telah tinggal bersama. Perasaan Luhan terhadap Sehun bertambah setiap harinya, namun Luhan masih enggan untuk mengungkapkannya. Rasa gengsi masih memperalat tubuhnya agar mengurungkan niatnya untuk berkata jujur.

Sehun. Namja tampan itu masih saja memiliki perasaan lebih terhadap Baekhyun, setelah kejadian itu hubungan keduanya tetap berjalan baik, bahkan sekarang semakin bertambah baik. Sehun masih sama menyukai Baekhyun, namun ada juga perasaan aneh hinggap dihatinya saat tanpa sengaja melihat senyuman roomatenya itu, hatinya menjadi menghangat entah itu perasaan apa, namun Sehun tidak menyangkal bahwa ia mulai merasa nyaman saat berdekatan dengan Luhan.

Pagi ini tidak seperti biasanya, Luhan enggan untuk bangun dari tidurnya. Biasanya setiap pagi ia akan bersemangat untuk bangun dan menyiapkan sarapan, minggu-minggu terakhir ini Luhan selalu mencoba membuatkan sarapan dan bekal untuk Sehun agar dia tidak melihat pemandangan yang tidak mengenakkan seperti beberapa waktu yang lalu – saat Sehun dan Baekhyun makan dikantin. Maka itu Luhan belajar untuk memasak, meskipun masakannya tidak seenak pengganggu itu read Baekhyun, yang penting Sehun masih mau memakannya dan itu sudah membuat Luhan senang. Senyuman Luhan juga sering terlihat sekarang dan itu semua tentu karena Sehun.

Tubuhnya juga sering kelelahan akhir-akhir ini, dan kepalanya terkadang juga pusing. Entah ada penyakit apa yang bersarang ditubuhnya sekarang, namu yang jelas Luhan tidak akan memeriksakannya, karena Luhan sangat anti dengan bau obat Rumah Sakit, ataupun Dokter. Selagi rasa sakitnya masih bisa Luhan tahan, ia tidak akan pernah pergi ataupun menyentuh tempat laknat – menurutnya itu.

" Hey. Kau tidak sekolah." Tanya Sehunyang entah sejak kapan sudah berdiri disamping lemari sembari memasangkan dasinya.

" Tidak. Aku akan meminjam catatan temanku nanti." Kata Luhan dengan suara serak. Kemudian ia mengangkat selimutnya yang sedikit melorot sampai menutupi lehernya. Tubuhnya yang kecil tenggelam kedalam selimut itu, hanya surai madunya yang terlihat.

" Kau kenapa ?" Sehun mengernyit bingung, melihat gelagat Luhan.

" Aku tidak apa-apa." Jawab Luhan.

" Kepalaku pusing Hunnie." Andai Luhan bisa engeluarkan keluhannya sekarang. Namun Luhan tidak mau merepotkan orang lain, itulah prinsipnya jadi dia akan menahannya sendiri.

" Apakah kau mau aku menuliskan surat izin untukmu ?" Tanya Sehun lagi. Namun Sehun masih enggan untuk mendekati Luhan.

" Tidak usah. Aku akan meminta teman sekelasku menuliskan surat untukku nanti."

Bohong. Luhan tidak punya teman di kelasnya, asal kau tau, Sehun.

" Baiklah. Aku berangkat dulu." Kata Sehun kemudian berlalu meninggalkan kamar itu.

Satu hal yang belum bisa berubah. Sehun masih tetap tidak perduli pada Luhan.

.

.

.

ENDBECE . . . .

Lieya update kilat nih, huah #Elapkeringet

gk jadi bulan dua kan ya~ kkk~

Lieya mau ngucapin banyak terimakasih untuk para readers yang udah nge follow, favorit, dan yang paling utama yang udah review ff ini, terimakasih banyak #bow ( peluk mesra ). Maaf Lieya gk bisa ngebales review kalian satu persatu, tapi review kalian udah Lieya baca kok semuanya, hehe~ :*

Mian part ini Lieya masih belum bisa ngasih porsi banyak hunhan momentnya :( , tapi tenang chap depan Lieya janji bakalan ngasih porsi yang banyak , otthhe ? ( Kalau masih ada yang nunggu sih ) kkk~

Oh, Iya~ Lieya bakalin munculin satu crackpair nih disinih, buat KRISHO Shipper mana pendukungnya ? #Angkatkolor, eh. . .

See you in the next chap. . .

Review yang banyak, biar update kilat egen . . . . ARRA ?

.

.

.

BUAT SILENT RIDERS !

KALAU KALIAN BERANI MEMBUKA DAN MEMBACA FICT INI SEHARUSNYA TINGGALIN JEJAK DONG !

JANGAN JADI LOSER !

INSYAFFFF DEHHHH !

.

.

.

Lieya. . .

22.07 WIB

17 / 11 / 2015