TITTLE : OUR DESTINY

CAST : SHIM CHANGMIN X CHO KYUHYUN ( CHANGKYU )

GENRE : ROMANCE

LENGTH : MULTICHAPTER

RATING : T

DISCLAIMER : Semua tokoh bukan milik saya. Saya hanya meminjam untuk kebutuhan cerita.

WARNING : Cerita ini murni milik saya, dan mengandung unsur Yaoi, boy x boy, dll. Jadi bagi ada yang tidak suka baik cerita atau cast, saya sarankan jangan dibaca!

Happy Reading!

.

.

.

CHAPTER 7

"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda" lapor salah seorang anak buah dari Menteri Sung. Sementara sang Menteri sendiri menghentikan kegiatannya menulis laporan untuk dikirimkan pada Raja nanti. Ia terdiam sejenak kemudian berseru.

"Suruh saja untuk masuk" Menteri Sung merapihkan segala kertas-kertas dimejanya. Ia menyimpan kertas-kertas itu disamping tempat duduknya. Seorang yang berpakaian seperti salah seorang pengawal membungkuk padanya.

Menteri Sung hanya diam menatapi pria misterius yang tiba-tiba meminta untuk bertemu dengannya. Seperti yang diduganya pria itu bukanlah orang yang sembarangan. Dengan diserahkan gulungan padanya berarti ada sesuatu yang baru saja terjadi.

Dengan tak sabar Menteri Sung membuka gulungan itu. Ia terdiam membaca isi dari gulungan yang didapatinya. Tangannya tanpa sadar meremat gulungan kertas itu hingga pinggirannya terlihat agak sedikit lecek.

Matanya beralih pada pria di depannya. "Kapan aku harus menemui Kaisar?"

.

.

.

Kyuhyun termenung memikirkan perkataan sang cenayang. Dengan sedikit gugup ia mengangkat tangannya. Mengepalnya lalu membukanya kembali. Kepalanya tertunduk menatap perutnya. Kebahagiaan jelas tak dapat dibendungnya ketika mengetahui kini ia tengah mengandung.

Dengan lembut Kyuhyun mengusap perutnya, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Bagaimana reaksi Changmin nanti? Apa pria itu akan senang? Ataukah Changmin akan membencinya?

Kyuhyun menggeleng keras berusaha mengenyahkan pikiran yang terakhir melintas dalam pikirannya. Tidak mungkin Changmin membencinya? Pria itu pasti merasa bahagiakan? Sama seperti yang dirasakannya saat ini. Kini kerajaan telah memiliki pewaris yang sah. Ia tak sabar untuk segera memberitahukannya pada Changmin.

Namun sedetik kemudian senyum itu hilang. Kalimat yang diucapkan sang cenayang sebelum mereka berpisah terngiang dalam benaknya.

"Anda harus merahasiakan kehamilan anda. Jangan beritahukan pada siapapun termasuk Yang Mulia Putra Mahkota. Maafkan saya tapi ini demi kebaikan anda, berpura-puralah tak mengetahui ini. Saya berdosa karena telah melanggar rahasia langit dengan mengatakan hal ini pada anda, tapi saya akan jauh lebih berdosa jika diam saja"

Tidak memberitahukan siapapun termasuk Changmin. Ia ragu untuk mempercayainya. Changmin adalah suaminya, ayah dari anak ini. Lalu kenapa ia dilarang memberitahukan hal ini pada Changmin. Dengan mata berkaca-kaca Kyuhyun menggumamkan kata maaf pada sang calon anak dalam perutnya. Kenapa takdir begitu kejam padanya? Demi melindungi anak ini ia akan menurutinya, meskipun berat Kyuhyun akan melakukan apapun untuk anaknya.

"Ibu akan melindungimu, kau jangan pernah khawatir karena ibu bukanlah orang yang lemah. Ibu akan menjadi orang yang lebih kuat lagi demi dirimu"

.

.

.

Semua dayang dan pengawal yang menemaninya panik begitu Changmin memberitahukan pada mereka bahwa malam ini juga mereka harus segera kembali ke joseon. Melihat raut wajah sang Putra Mahkota tak ada yang berani bertanya apapun. Pasti telah terjadi sesuatu, mereka hanya menurut mengikuti kuda Changmin yang sudah melaju jauh di depan.

.

"Apa?" Yunho terkejut, sang raja Joseon itu bangkit dari tahtanya. Mendekati posisi sang lawan bicara. Ia dengan tak sabar meminta agar kasim setianya ini segera memberitahukan kejelasan mengenai kabar yang baru saja diterima mereka.

"Mohon maaf Jeonha hamba pantas mati" Sang kasim bersujud tak berani menatap sang Raja yang sepertinya semakin kesal karena tak kunjung mendapatkan penjelasan darinya.

"Bangunlah dan katakan apa yang terjadi?" dengan gemas Yunho berusaha menahan rasa kesal dalam hatinya. Dengan takut-takut sang kasim bangkit berdiri. Yunho menatap langsung pada mata sang kasim, namun justru sang kasim malah menatap ke arah lain. Berita apa yang sebenarnya baru diterima?

"Maaf Jeonha tapi Hwangtaeja dan rombongannya telah kembali dari kerajaan china" dahi sang Raja berkerut, ia sedikit bingung bukankah Changmin harusnya kembali esok tapi kenapa putranya itu sudah kembali sebelum waktunya. Perasaan tak enak menyelimuti dirinya, pasti telah terjadi sesuatu.

"Katakan ada dimana Putra Mahkota sekarang?"

.

Changmin dengan kesal duduk di paviliunnya. Emosinya sedari tadi tak stabil. Bagaimana tidak? Kaisar itu gila meminta hal yang seharusnya tak diminta.

Matanya terpejam, ia menarik dan menghembuskan nafasnya berulang-ulang. Ia tak boleh merasa emosi, tapi entah kenapa setiap mengingat kejadian menjengkelkan itu ia selalu tak bisa mengendalikan emosinya.

Changmin mengusap wajahnya kasar, ia mendongak begitu mendengar seruan sang kasim yang mengabarkan kedatangan ayahnya. Dengan agak sedikit malas Changmin bangkit dari posisinya, ia memberikan salam hormat pada Yunho begitu pria itu masuk ke paviliunnya.

Yunho menatap anaknya sejenak, sebelum melangkah duduk ke tempat Changmin tadi duduk. Sementara Changmin mengambil tempat di depan sang ayah. Semula suasana sepi, baik Changmin ataupun Yunho tak ada yang membuka suara.

Beberapa menit kemudian Yunho menghela nafas, sang raja mendongak merasa bebannya sebentar lagi akan bertambah. "Kau tidak mau bicara tentang apa yang sebenarnya terjadi selama kau berada di kerajaan china?"

Tak ada jawaban dari Changmin. Sang Putra Mahkota itu menunduk, dari kepalan tangannya Yunho tahu sang anak tengah berusaha untuk mengontrol dirinya.

"Ayah tak akan memaksamu untuk bercerita, kapanpun kau mau bercerita katakanlah. Tapi yang harus kau ingat kau tidak sendirian anakku. Kau masih memiliki kami orangtuamu, kau juga memiliki seorang istri yang setia padamu, kau memiliki semua rakyat joseon"

"Ayah, apa aku salah jika menentang keinginan sang kaisar?" akhirnya Changmin bersuara juga, meskipun suaranya terdengar pelan. Sepertinya Changmin ragu untuk menanyakan hal ini. Yunho tersenyum ia bisa menarik kesimpulan dari pertanyaan Changmin.

"Bagaimana dengan dirimu sendiri? Kau merasa kau sudah melakukan hal yang benar? Kebenaran itu berasal dari keyakinan dalam dirimu anakku. Jika kau merasa dirimu benar maka itu pasti benar" Yunho mencoba memberikan nasehatnya. Banyak hal yang sudah ia lalui dalam hidupnya, ia yakin Changmin juga dapat memahami apa yang baru saja ia katakan. Terkadang semua hal yang pernah dia lalui cukup berguna jika dalam saat-saat seperti ini.

"Aku merasa aku benar ayah. Aku tidak menyerahkan istriku demi tahta, karena dia adalah segalanya bagiku. Aku… aku takut jika aku mengambil keputusan yang salah, dengan mengedepankan kepentingan pribadi dan membahayakan seluruh rakyat joseon"

"Kau pernah mendengar seorang raja yang bodoh dengan segala hal yang dimilikinya ia mengorbankan orang yang dicintainya. Kalau ayah berada diposisimu, ayah akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan" Changmin mendongak menatap wajah sang ayah yang tengah tersenyum padanya.

"Jadi aku sudah melakukan hal yang benar?" tanyanya sedikit ragu. Yunho mengangguk menanggapi.

.

.

.

Kyuhyun menghabiskan waktunya berjalan-jalan sendiri di sekitar kuil yang tak jauh dari istana. Ia melarang siapapun termasuk para dayangnya untuk mengikutinya. Ia butuh waktu sendiri. Matanya menatap bangunan kuil yang begitu rapih dan terlihat bersih. Ia memasuki bangunan kuil, terdengar suara derit pintu begitu ia membuka pintu kayu yang menjulang tinggi dipinggirannya terdapat aksen-aksen yang berukirkan doa-doa.

Ada seorang lelaki yang sudah berada di dalam terlebih dahulu. Karena takut mengganggu Kyuhyun memutuskan untuk tak menyapa. Lelaki itu tampak khusu sekali berdoa, sementara ia kembali menatap ke depan. Memejamkan matanya lalu berdoa, tanpa dia sadari si lelaki itu memperhatikan dirinya. senyuman lembut jelas tercipta dari bibirnya.

Ia terus menatapi Kyuhyun sampai tak sadar sosok yang ditatapinya sudah selesai dengan doanya. Merasa ada yang menatapi Kyuhyun menoleh, ia menemukan lelaki itu tengah menatapnya sembari memberikan senyuman untuknya. Kyuhyun terdiam sesaat, tak tahu harus merespon bagaimana ia balas tersenyum.

"Kau tampak lebih cantik dibandingkan dengan lukisan yang kuterima" lelaki itu kemudian bersuara. Kyuhyun terkejut dengan perkataan yang baru saja dilontarkan si lelaki asing ini. Siapa sebenarnya lelaki ini?

Tahu Kyuhyun tengah kebingungan lelaki itu berjalan mendekat, ia meraih tangan Kyuhyun hendak mengecupnya refleks dengan cepat Kyuhyun segera menarik tangannya. Ia menatap waspada, sadar akan kelakukannya yang membuat Kyuhyun ketakutan lelaki itu kembali memamerkan senyumnya.

"Maafkan atas tingkah tak sopanku. Biarkan aku memperkenalkan diriku. Aku adalah Shi Yuan, seorang pengembara dari negeri china"

Masih dengan sikap waspadanya Kyuhyun tak berkata apapun. Ia ingin beranjak pergi namun tangannya ditahan lebih dahulu. Kembali Kyuhyun menghempaskannya. "Kau… jangan bertindak macam-macam!" ujarnya penuh penekanan.

Shi Yuan menghela nafas, ternyata sosok Kyuhyun sangat keras kepala sekali. Ia butuh kesabaran lebih agar Kyuhyun mau berbicara padanya seperti biasa. "Maaf jika aku membuatmu takut tapi sungguh aku tidak pernah berniat jahat. Bisakah kita bicara seperti biasa saja" Kyuhyun diam, ia tak memberikan jawaban apapun tidak menolak tidak juga menerima. Namun, Shi Yuan mengganggap Kyuhyun mau berbicara padanya.

"Baiklah, aku akan jujur padamu. Aku tahu kau adalah Putri Mahkota Joseon, aku adalah kaisar kerajaan china. Kau pasti tak tahu perihal ini karena aku yakin Putra Mahkota tak mengatakan apapun padamu"

Apa yang sebenarnya dimaksud lelaki yang mengaku sebagai kaisar kerajaan china ini? juga nama sang suami yang disebut-sebut agak sedikitnya membuat Kyuhyun penasaran. "Sekarang apa kau mau mendengarkanku kali ini?"

.

.

.

Changmin berjalan agak tergesa-gesa. Pasalnya ia merindukan sang istri setelah seharian tak berjumpa. Sang dayang yang menjaga paviliun Kyuhyun agak sedikit terkejut. Dayang itu membungkuk padanya memberikan penghormatan padanya. Mood Changmin yang sedang baik tak melihat gelagat ketakutan sang dayang. Changmin tersenyum. "Apa Putri Mahkota ada di dalam?" tanyanya dengan nada tidak sabaran.

Pandangan dayang itu bergerak gelisah. Ia menatap dayang lainnya, mencoba mencari bantuan. Namun rekannya hanya mengedikkan bahu tanda tak tahu menahu apa yang harus dikatakan pada Changmin.

Dahi Changmin berkerut karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia bertanya sekali lagi. "Apa Putri Mahkota ada di dalam? Aku ingin bertemu dengannya" kali ini dengan serentak semua dayang yang menjaga paviliun Kyuhyun bersujud padanya.

"Mohon ampun Hwangtaeja!" koor mereka semua.

Changmin bisa menebak bahwa Kyuhyun saat ini sedang tak ada di paviliunnya. Lalu pergi kemana istrinya itu? Kenapa para dayang tak ada yang mengikuti kemana perginya sang istri. Moodnya yang semula bagus kembali memburuk secara tiba-tiba. Ia mengepalkan tangannya berusaha menahan emosinya.

"Sekarang jawab aku pergi kemana Putri Mahkota?"

.

.

.

"Changmin, kemarin dia sampai di kerajaanku. Kami sempat berbincang sebentar" Shi Yuan tersenyum ditengah-tengah ceritanya. Ia senang akhirnya Kyuhyun mau duduk mendengarkan dirinya. meskipun topik yang harus dibahasnya haruslah sosok yang sudah membuatnya jengkel. Tapi wajah damai Kyuhyun yang tengah dengan seksama mendengarkan ceritanya membuat kejengkelannya hilang seketika.

"Dia menyampaikan tujuannya, tapi kau tahu apa yang membuatnya sampai tiba lebih awal kembali ke joseon?"

"Apa?"

Shi Yuan kini mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun. Jujur ia agak sedikit malu menceritakan bagian yang ini. Walau bagaimanapun bagian ini haruslah berkesan karena ini tentang perasaannya sendiri. Tapi sejauh ia berpikir tak ada kalimat yang pas agar terkesan bagi Kyuhyun.

"Aku memintanya agar menyerahkan dirimu jika dia mau menjadi raja. Tapi kau tahu dengan angkuhnya dia menolaknya. Dia bahkan sempat memakiku sebelum meninggalkan kerajaan china"

Kyuhyun jelas terkejut. Ia tak tahu apapun tentang hal ini. Bahkan soal kedatangan kembali suaminya ia tak tahu. Bagaimana bisa ia membiarkan suaminya menanggung hal ini sendiri. Changmin pasti sudah melalui hal yang berat. Dan sebagai istri kemana Kyuhyun? Seharusnya ia bisa mendampingi Changmin menuju kerajaan china. Tapi ia malah sakit dan mengharuskan Changmin pergi seorang diri.

"Jujur saja aku sedikit kaget dengan sikapnya. Tapi disatu sisi aku merasa kalah telak dibandingkan dia" nada iri jelas terdengar pada kata-kata yang diucapkan Shi Yuan. Kaisar kerajaan china itu merasa iri dengan segala hal yang didapat Changmin.

"Putra Mahkota adalah sosok yang baik. Ia membuat saya terpesona dengan segala sikapnya. Saya tak pernah bermimpi untuk menjadi istri Putra Mahkota, tapi jika itu Changmin Saya akan bermimpi dan terus bermimpi agar dapat mewujudkan mimpi saya. Meskipun terkadang ada rasa kahawatir dalam diri saya saat menduduki posisi ini, Changmin berhasil meyakinkan saya. Saya tak pernah ragu jika itu Changmin, karena saya sangat mencintainya. Mengenai sikapnya pada anda, saya meminta maaf atas nama kerajaan joseon yang paling terpenting saya meminta maaf karena saya adalah istrinya"

Kyuhyun menghentikan ceritanya sejenak. Ia menatap langit diatasnya, lalu tersenyum lembut. "Saya menghargai atas perasaan anda pada orang serendah saya. Tapi saya memohon ampun karena tak mampu membalasnya. Karena anda pasti tahu apa alasannya, selain itu apa anda tahu disini.." Kyuhyun mengelus perutnya pelan. Jantung Shi Yuan berdegub kencang, ia sudah dapat menerka akan apa yang akan dikatakan Kyuhyun selanjutnya.

"Disini ada anaknya, buah hati kami"

.

.

.

Changmin tak bisa bersikap santai begitu mendengar istrinya pergi ke kuil dekat istana. Tempatnya memang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja ia khawatir setengah mati. Dengan langkah dibuat lebar Chnagmin terus berjalan, ia ingin segera sampai disana memastikan Kyuhyun dalam keadaan baik-baik saja. Hari ini ia tak ingin diikuti para pengawal dan dayangnya. Setelah seharian berada di kerajaan china, Changmin tahu mereka pasti kelelahan. Ia tak ingin sampai membuat mereka jatuh sakit.

.

"Aku tidak menyangkanya sungguh, tapi karena kau yang mengatakannya padaku sedikit banyak aku dapat menerimanya. Changmin sangat beruntung memiliki istri yang bijak sepertimu" Shi Yuan sedikit menunduk untuk menutupi wajah kecewanya. Kyuhyun ingin menghibur namun tak ada satupun kata yang terlintas dalam benaknya.

"Aku beruntung dapat mengenalmu Kyuhyun, kumohon jangan membenciku karena peristiwa hari ini" Kyuhyun menggeleng. Tentu saja tidak, ia sangat mengerti apa yang tengah dirasakan Shi Yuan saat ini. kehamilannya membuatnya menjadi sedikit lebih peka.

"Anda juga beruntung dengan kehidupan anda. Berbahagialah, jangan memikirkan apa aku akan bahagia tapi pikirkan bagaimana aku dapat bahagia. Senang dapat mengenal anda, Yang Mulia Kaisar" Kyuhyun membungkuk padanya. Shi Yuan tertegun sejenak, ia tersenyum lalu ikut membungkuk juga. "Kuharap kita bisa berteman baik. Selamat tinggal Kyuhyun, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu"

Shi Yuan menegakkan kembali tubuhnya, ia tersenyum sebelum melambaikan tangannya beranjak pergi. Tujuannya saat ini adalah balai agung istana kerajaan joseon. Sosok Kyuhyun telah membuatnya sadar, tadinya ia ingin mengibarkan bendera perang tapi begitu melihat sosok Kyuhyun niat itu sirna juga.

Para pengawal yang tadinya bersembunyi dibalik pohon-pohon mulai menampakkan diri mereka. Berjalan dibelakang sang kaisar. Kyuhyun tersenyum, ia lega kaisar tidak bersikap egois seperti yang ditakutkannya tadi.

"Kyuhyun!" mendengar namanya dipanggil Kyuhyun menoleh. Ia melihat Changmin mendekati dirinya. terlihat jelas raut wajah khawatir disana. Kyuhyun memberikan senyumnya, menyambut Changmin.

"Apa yang kau lakukan disini Putri Mahkota? Apalagi tanpa pengawalan sedikitpun kau tahu kau membuatku khawatir setengah mati" Changmin menyampaikan uneg-unegnya. Ia kesal pada Kyuhyun tapi tak bisa marah juga pada sang istri. Ia sangat mencintai Kyuhyun, rasa cintanya bahkan bisa membuatnya kehilangan akal dengan menantang kerajaan china itu artinya secara tidak langsung ia mengibarkan bendera perang pada mereka.

"Maaf, aku hanya ingin berdoa" Kyuhyun menunduk merasa bersalah pada Changmin. Tidak seharusnya ia membuat suaminya khawatir sementara sang suami baru saja pulang dari perjalanan menuju kerajaan china.

Changmin menghela nafas sebelum memeluk istrinya. Kyuhyun sempat tersentak, namun ia akhirnya membalas pelukan Changmin juga. Mereka terdiam membiarkan suara angin yang mengisi kebersamaan mereka.

"Maafkan aku istriku. Tidak seharusnya aku marah padamu, aku hanya terlalu kalut tadi" Kyuhyun mengelus pelan pipi Changmin. "Aku juga bersalah"

"Kau tahu jika memegang secara sembarangan wajah Putra Mahkota maka dia akan dihukum" Changmin meperhatikan ekspresi Kyuhyun. Tak terlihat raut takut pada istrinya, ia tersenyum mengetahui istrinya telah hafal segala peraturan istana.

"Iya, saya tahu. Silahkan Hwangtaeja menghukum saya" Changmin tak percaya dengan balasan Kyuhyun. Ia ingin mengucapkan sesuatu tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia kemudian mendengus geli, istrinya juga sangat paham wataknya.

"Kau sangat tahu bahwa aku tak akan tega menghukum istriku sendiri. Dan kau menggunakan itu untuk membalasku, kau curang Putri Mahkota" Changmin jelas tengah merajuk namun Kyuhyun justru tertawa. Ia senang akhirnya Changmin melupakan kekesalannya. "Ayo kita pergi suamiku" dengan manja Kyuhyun menggandeng tangan Changmin. Jika di istana mereka tak boleh bersikap seperti ini. ada etika dan aturannya sendiri bagi pasangan suami istri.

.

.

.

Bookmin tak percaya dengan segala hal yang terjadi dalam hidupnya. Terutama mengenai ayahnya yang berhasil menjadikan dirinya sebagai selir raja. Meskipun ini belum resmi tapi Bookmin sangat mempercayai ayahnya. Beliau pasti bisa membuatnya dapat naik ke posisi itu. Atau bahkan yang lebih tinggi.

Dengan angkuh Bookmin berjalan, ia sempat menjadi pusat perhatian penghuni istana karena sikap kurang sopannya. Beberapa dayang bahkan sempat menatapnya tidak suka. Dengan tak peduli Bookmin tetap berjalan, tujuannya adalah paviliun milik ratu. Entah apa yang ingin dibicarakan ratu padanya, tapi yang jelas Bookmin menganggap hal ini adalah awal dari segala kebahagiaannya.

Dayang yang menjaga paviliun ratu segera memberitahukan kedatangannya begitu ia tiba disana. Bookmin melihat beberapa dayang milik Putri Mahkota. Apa jangan-jangan…

"Anda sudah ditunggu di dalam nona silahkan masuk" Bookmin ragu, dalam otaknya kini tengah menerka hal apa yang sebenarnya ingin dibahas ratu. Keringat dingin mengalir di tangannya. Dayang itu agak khawatir dengan kondisi Bookmin.

Ia ingin bertanya, namun Bookmin lebih dulu masuk. Sosok Bookmin sudah berada dihadapan Ratu juga Putri Mahkota. Dengan senyum palsunya Bookmin membungkuk memberikan hormat pada keduanya. Sebenarnya hanya untuk Putri Mahkota saja ia enggan untuk membungkuk.

"Kau sudah datang. Duduklah" Jaejoong mempersilahkan Bookmin untuk duduk. Kyuhyun tadinya ingin bergeser memberikan tempat duduk untuk Bookmin tapi Jaejoong menahan tangannya. Sang Ratu tersenyum padanya mengisyaratkan agar ia tetap duduk di tempat semula.

Bookmin hanya mendapat tempat dipojok ruangan. Jaejoong tersenyum samar melihatnya. "Kau pasti merasa heran kenapa aku tiba-tiba memintamu untuk datang" Bookmin tersenyum mengiyakan. "Aku ingin memperkenalkanmu pada menantuku 'satu-satunya' di istana ini" Jaejoong menekan kata satu-satunya dengan sangat sengaja, hal itu membuat Bookmin harus menahan rasa kesalnya di dalam hati.

Kyuhyun menatap Bookmin dengan penuh rasa bersalah. Ia menjadi tak enak pada Bookmin. "Ah yang Jungjeong katakan itu.."

"Kudengar aku adalah anak dari menteri sung?" dengan segera Jaejoong memotong ucapan Kyuhyun. Ia bisa melihat pandangan bertanya dari mata Kyuhyun, namun sekali lagi ia hanya tersenyum menanggapi. Bookmin mengangguk mengiyakan.

"Kudengar kau sangat pandai membuat rangakaian bunga?" Jaejoong kembali bertanya melihat ini adalah kesempatan baginya Bookmin menyungingkan senyumnya. "Benar Yang Mulia"

"Putri Mahkota juga bisa membuat rangkaian bunga. Dan aku pikir hasil rangakaian Putri Mahkota adalah yang terbaik" senyum Bookmin perlahan pudar. Ia tak suka dibanding-bandingkan terlebih itu dengan musuhnya sendiri.

"Jungjeong anda terlalu berlebihan" Kyuhyun benar-benar merasa tak enak pada Bookmin. Namun Jaejoong tak peduli justru inilah tujuannya meminta Bookmin kemari. Menunjukkan kepada gadis ini siapa sebenarnya Kyuhyun sebenarnya. Dan harusnya Bookmin tahu diri untuk tak menerima keputusan pengangkatan dirinya sebagai selir raja nanti.

"Ah Putri Mahkota aku selalu merendahkan dirimu sendiri, jika kau ingin kemampuan merangkai bungamu lebih baik kau seharusnya belajar banyak pada Putri Mahkota, Bookmin. Kujamin kemampuanmu pasti akan bertambah karena dia adalah guru yang hebat" lagi-lagi Jaejoong memuji Kyuhyun. Bookmin merasa Ratu tengah memperingatinya secara tidak langsung bahwa ia tak bisa melebihi Kyuhyun, tapi bukan Bookmin namanya jika ia menyerah semudah ini.

"Benarkah? Kalau begitu saya akan dengan senang hati menerima jika Putri Mahkota mau mengajarkan saya" Bookmin berhasil menekan emosinya dengan sempurna. Jaejoong mengakui kemampuan Bookmin untuk berakting cukup bagus.

"Kau tahu Bookmin, tidak mudah untuk menjadi seorang selir. Menjadi selir itu artinya kau adalah milik raja. Kau tak boleh menikah selain dengan raja apa kau sanggup akan hal itu?" dibawah meja tangan Bookmin sudah terkepal. Kyuhyun menyentuh tangan Jaejoong, ia menggeleng tanda bahwa Jaejoong tak boleh meneruskan perkataannya.

Jaeoong sebenarnya ingin terus membuat Bookmin tersudut namun tatapan Kyuhyun berhasil meluluhkannya. "Aku mengatakan itu karena kau akan segera menjadi seorang selir. Kau jangan memasukkannya ke dalam hatimu, aku hanya bercanda akan hal itu" Kyuhyun tersenyum lega, ia menatap Bookmin. "Silahkan nikmati tehnya"

TBC

Halo! Akhirnya bisa update juga. Saya khawatir membuat kalian menunggu lama. Jadi begitu ada mood saya langsung nulis. Untuk Changkyu Project adakah yang bisa menebak fict saya yang mana? Kkk oke lupakan. Hope you like this chapter. See you #BOW