disclaimer. Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime.
warnings. OOC—juga mungkin terdapat typo yang luput.
Sekilas, Levi merasa dirinya sebulan lebih muda.
Ia tengah terduduk di kantornya sembari menyambar koran pagi dan menunggu kopi hitam yang setiap pagi diantar ke mejanya datang.
Atau menunggu beberapa bawahannya seperti Auruo Bossard dan Nanaba membawakan laporan yang tak jauh dari sarat keuangan dan satu hingga dua jeda kepincangan perusahaan.
Sementara, di balik punggungnya, hujan turun, menari seorang diri dan meretas hari pagi dengan suasana pilu merdu.
Maniknya menatap kebosanan seraya melirik arah air yang berjatuhan dengan tatapan hambar.
Sebuah payung merah.
Tidak, hitam.
Bukan, putih.
Entah, mungkin biru.
Ada seorang wanita tampak berlari di tengah hujan, dengan payung menutupinya.
Serta teriakan orang-orang di belakangnya hendak mengejar.
Wanita itu—pergi.
(Dan Levi tidak melihatnya lagi.)
{tujuh. "Halau lakmus"}
"Merah perlambang dingin, biru perlambang panas."
Kini, sepatu pantoffel yang biasa mengilat itu kotor karena percik lumpur dan air kotor yang menggenangi sisi jalan. Kemeja yang biasa licin tanpa jeda kuyup menerjang hujan yang tiada habis. Surai hitam yang selalu ditata serapi mungkin kini awut-awutan, berantakan. Yang tidak berubah hanyalah pandangan tajam di dua rinai hitam yang berjalan tak berkedip. Mengabaikan seluruh tatapan yang menjurus ke arahnya dengan penuh tanya dan lara terpa. Levi tidak mengindahkan apapun yang lain, tak sekalipun juga berpikir dua kali untuk merapikan pemandangannya yang menjijikkan.
"Di mana kamar milik Hanji Zoe?"
Suara parau tak berkonsentrasi, lagi rendah dipenuhi rasa, membuat resepsionis sontak bergidik ngeri. Suster yang tengah berlalu-lalang di belakang layar mempercepat langkah masing-masing seraya skenario kengerian terputar. Perlu beberapa menit sebelum sang resepsionis membalas Levi dengan jawaban kamar nomor 532 di lantai lima.
Ketukan pantoffelnya meranggas di lorong rumah sakit, berdentum dengan berat membuat pengunjung di sekitarnya minggir dari tempat mereka berdiri. Levi segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai lima. Hela nafas ia haturkan ke udara sejenak sebelum dingin mulai merayap ke sekujur tubuhnya.
Ah.
Sejak kapan ia sebegitu—impulsif?
Erwin bisa saja membohonginya dengan kalimat-kalimat manisnya seperti biasa.
Kenapa Levi percaya tanpa bertanya?
Kenapa hasrat untuk menemui wanita—yang masa hidupnya telah habis—menjadi gebu pacu untuknya maju?
Sebelah tangannya ia gunakan untuk mengurai poni yang menutupi wajahnya, sedikit merapikan dirinya yang berantakan pada refleksi kotak besi alumunium yang tengah ia naiki.
Sebuah pertanyaan melingkari lehernya.
[Kenapa—Hanji memilihnya?]
Lift yang dinaikinya membunyikan bel, sudah pertanda ia harus turun.
Ketika Levi menjejak, yang ditemuinya adalah lorong sepi sarat akan manusia, dengan beberapa dokter dan suster tengah mengarahkan sebuah ranjang dengan selimut menutup sang pasien, ke pintu lift yang bersandar di sebelahnya, beberapa sahutan dan ucapan yang berbaur mulai menghilang sedikit demi sedikit ketika pintu lift itu tertutup.
Kegelisahan dan prasangka buruk menguar di udara.
Ia harus mencari Hanji. Harus. Tidak boleh ada kata mundur.
Kamar bernomor 532 terduduk di sayap kiri gedung rumah sakit itu, ia terus mencari arah. Kakinya yang mulai terasa kaku ia pakai berlari menerjang hujan sedikit tertatih, melawan deru air dan lima kilometer perjalanan cukup melelahkan, ia tidak merasakannya hingga saat itu. Sementara, dingin mulai menusuk seiring langkahnya beradu dengan lantai, bergema dengan nuansa putih.
532 – HANJI ZOE
Disambarnya gagang pintu dengan kasar, namun setelah semilisekon pikirannya merileks, Levi berusaha membuka pintu dengan pelan—
—untuk menemukan ruangan kosong.
Kosong.
Tidak ada orang. Tidak ada siapapun. Hanya sebuah kamar gelap.
Nada-nada di otaknya seakan putus. Erwin telah membohonginya. Dunia telah mengutuknya. Levi telah sedetik terlambat. Levi telah sedetik terlambat. Dunia telah mengutuknya. Erwin telah membohonginya. Nada-nada di otaknya seakan putus. Bulir keringatnya menetes. Manik hitamnya meradang—
.
.
.
Sudah sebulan ini kau terus memecahkan cangkir kami, Herr Levi.
Sudah sebulan ini—
Sudah sebulan ini—
Ini sudah sebulan.
.
.
.
"... Ia masih menunggumu."
.
.
.
(menunggu di alam sana, ya?)
.
.
.
"—Levi?"
Halusinasi. Halusinasi yang halus mulai meracuni otaknya. Ia sudah terlambat—dan segalanya setelahnya hanya karena dunia mengasihaninya. Levi kerap mendengar suara Hanji yang ringan menyelubungi kelima inderanya. Dunia hanya mengasihaninya.
Hanji Zoe telah—
[tbc.]
a/n.
HALO! Aduh maaf saya belum bisa lanjut lagi, saya sudah mulai kuliah—farmasi itu sesuatu yang luar biasa ya #apanak
Terima kasih bagi para pembaca atas kesediaannya menunggu, fave, atau bahkan mereview! SAYA SAYANG KALIAN #apa
Sekali lagi stay tuned!
