Song for Unbroken Soul

.

Original story Song for Unbroken Soul by Nureesh Vhalega, ©2014

Re-make YunJae (yaoi version)

.

Warning: Yaoi, Mature-Adult contents, Out of Character, Typo

.

.

.

.

- 06 -

[ Sang Pelaku ]

.

.

Jaejoong melangkah memasuki kantornya dengan langkah gontai, diikuti Amber yang membacakan agendanya seperti biasa.

"Jae, aku benci harus mengatakan ini. Proyek pembangunan apartemen di Daegu terhenti sementara karena kita kekurangan dana. Seperti yang kau tahu, kerjasama kita dengan Jung Property Company tidak termasuk dalam proyek itu. Kau sendiri yang bersikeras untuk mempertahankan proyek itu sebagai proyek tunggal perusahaan kita" ucap Amber mengingatkan.

"Ini adalah laporan yang diberikan detektif swasta yang kita sewa itu" Amber meletakkan sebuah map berwarna putih di meja Jaejoong. "Hasilnya positif bahwa Lee Sooman pelaku penggelapan dana di perusahaan ini, dia memiliki uang dalam jumlah yang sangat besar di rekeningnya, dan sampai saat ini dia masih berada di Singapura"

Jaejoong menghela napas panjang. Sejak membuka mata pagi ini dan setelah tidur tidak nyenyak selama tiga jam, dia tahu jika kesialan akan mengikutinya, tetapi dia tidak menyangka semua akan datang bersamaan seperti ini. Jaejoong meraih map putih di hadapannya. Semakin lama dia membaca, kepalanya semakin berdenyut.

Lee Sooman adalah orang yang telah bekerja pada Jaejoong sejak awal dia membangun perusahaan ini, pria itu bahkan rela menghabiskan 16 jam waktunya untuk bekerja. Dia pun sangat jujur, pantang menyerah, juga selalu mendukungnya. Sulit dipercaya jika pria itu mengkhianatinya, namun Jaejoong harus percaya karena bukti di hadapannya tidak terbantahkan.

"Segera pesan tiket pesawat menuju Singapura malam ini, buat reservasi di hotel yang sama dengan Lee Sooman atas namaku. Dan tolong atur ulang jadwalku untuk dua jam ke depan, aku akan menemui seseorang untuk mengurus pinjaman dana saat ini" ucap Jaejoong tegas.

"Kau akan mendatangi Lee Sooman?" tanya Amber tidak percaya.

Jaejoong mengangguk sebagai jawaban, Amber lalu kembali bertanya. "Apa kau juga akan menemui Jung Yunho, dan melakukan pinjaman untuk mendanai proyek kita di Daegu?"

Jaejoong kembali mengangguk, sementara Amber menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

- xxx -

.

Yunho menghentikan ayunan kakinya secara perlahan. Keringat membasahi seluruh tubuhnya sementara headphone di telinganya berdentum-dentum dengan keras. Udara segar memenuhi paru-parunya, menenangkan seluruh sarafnya yang begitu tegang sejak dia membuka mata pagi ini. Semua itu karena dia memikirkan Jaejoong, dan dia memutuskan untuk berolahraga untuk menghilangkan Jaejoong dari pikirannya.

Tetapi otaknya tidak mampu berhenti mengingat wajah Jaejoong, juga erangan lembutnya. Dan fantasinya semakin liar ketika menemukan pakaian Jaejoong yang ada di mesin cucinya. Mau tak mau, dia terus mengulang pola yang sama; membayangkan Jaejoong, membayangkan laki-laki cantik yang selalu memenuhi pikirannya.

Yunho menggelengkan kepalanya, dia harus menghilangkan pikiran itu. Dia tidak boleh merusak hubungan baiknya dengan Jaejoong hanya karena gairah sesaat, lagipula secantik apapun Jaejoong, dia tetaplah seorang laki-laki. Dan karena itu, dia harus memaksa tubuh dan pikirannya melupakan Jaejoong.

Lamunan Yunho terhenti setelah ponselnya berdering menandakan panggilan masuk, setelah mengeceknya, ternyata sebuah panggilan dari Jaejoong. Dengan segera dia menjawab panggilan itu.

"Jung Yunho"

"Aku harus bertemu denganmu sekarang. Bisakah kau meluangkan waktu? Ada hal penting yang harus kubicarakan" balas Jaejoong cepat setelah Yunho menjawab panggilannya.

Yunho tersenyum mendengar ucapan Jaejoong yang tanpa basa-basi. "Kau beruntung, aku masih memiliki waktu kosong hingga satu jam ke depan. Bagaimana jika kita bertemu di coffee shop dekat kantormu? Aku akan sampai tiga puluh menit lagi"

Jaejoong menyetujui tempat pertemuan mereka, lalu memutuskan sambungan.

Tetapi tidak sampai lima detik kemudian, ponsel Yunho kembali berdering.

Nomor di ponselnya menunjukkan kantor Jaejoong, membuat kerutan di antara alisnya muncul. Yunho menerima panggilan itu dan terdengar suara Amber, dia memberikan sebuah penjelaskan secara singkat yang mudah dipahami oleh Yunho.

"Bisakah kau melakukannya? Aku akan sangat terbantu jika kau mau melakukannya" tanya Amber diakhir penjelasannya.

"Tentu. Aku akan melakukannya." jawab Yunho yakin.

Setelah itu dia menghubungi Victoria dan meminta penjadwalan ulang untuk dua hari ke depan.

"Apakah ada sesuatu yang harus kau lakukan?" tanya Victoria bingung.

"Ya, sesuatu yang sangat penting yang harus kulakukan" jawab Yunho dengan seulas senyum menghiasi wajahnya.

.

- xxx -

.

Jaejoon mengecek ponselnya sekali lagi, meyakinkan dirinya bahwa semua pekerjaan telah selesai sebelum naik ke pesawat.

Satu pesan singkat dari Amber masuk tepat sebelum Jaejoong mematikan ponselnya.

Amber : Hati-hati, Jae. Segera hubungi aku setelah kau sampai di Singapura, dan aku harap perjalananmu menyenangkan.

Jaejoong mengerutkan kening membaca kalimat terakhir dari Amber itu, lalu memutuskan untuk mengacuhkannya. Amber memang selalu seperti itu; selalu mendukungnya dan selalu ada untuknya.

Jaejoong : Terima kasih. Aku akan hubungimu nanti.

Jaejoong mematikan ponsel dan masuk ke pesawat yang akan membawanya ke Singapura, dia harus bertemu dengan Lee Sooman. Jaejoong berpikir kesempatan ini sangat bagus karena dia bisa menghindari Yunho sementara waktu.

Ya, benar. Jung Yunho yang telah merasuki setiap mimpinya dan terus membayangi setiap langkahnya. Jaejoong tidak tahu apa sebabnya, tetapi dia yakin ada sesuatu yang salah dalam dirinya.

Hari ini ketika bertemu dengan Yunho, dia menyadari bahwa reaksi tubuhnya semakin tidak terkendali. Akhirnya setelah mengatakan maksud dari pertemuan itu —untuk meminjam dana— Jaejoong segera pergi. Yunho pun tidak mencegahnya, dia hanya tersenyum dengan kilat yang tidak bisa diterjemahkan dalam matanya.

Jaejoong mendesah lega karena dia bisa pergi dari Yunho selama dua hari penuh, dia tidak harus menghadapi pria itu -berikut reaksi dirinya sendiri yang aneh- selama kira-kira 48 jam.

"Jaejoong?"

Jaejoong menolehkan kepalanya mendengar seseorang memanggil namanya, dia hanya terdiam dan mengerjap saat melihat dengan jelas orang yang sudah memanggilnya. Apakah dia sudah gila? Bagaimana mungkin dia masih membayangkan pria itu?

Pria itu tetap disana dan tidak menghilang, membuat Jaejoong yakin jika pria itu bukan sebuah bayangan dari imajinasinya. Pria itu sungguh Jung Yunho, dan berdiri tepat di hadapannya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jaejoong dengan tatapan curiga.

"Aku harus duduk di kursi 8B." jawab Yunho sambil menunjukan tiket di tangannya.

Jaejoong memucat. Kursi itu berada tepat di sebelahnya! Bagaimana bisa?

Dengan santainya Yunho duduk di kursinya dan mengabaikan Jaejoong yang terus menatapnya tajam, seakan hal itu tidak mengusiknya. Dia mengeluarkan iPod dari saku jaket, terlihat bersiap untuk mendengarkan musik.

Jaejoong mengutuki dirinya yang masih saja sempat memerhatikan Yunho dan memuji tubuh sempurnanya yang hari ini terbalut pakaian semi formal. Jaejoong berusaha mengumpulkan pikirannya yang bertebaran, lalu menarik napas. Menghapus segala ekspresi, dan kembali menjadi Kim Jaejoong.

"Apa kau mengikutiku?" tanya Jaejoong dingin.

Yunho menoleh, sejenak terdiam dan tenggelam dalam mata laki-laki cantik di sisinya. Namun mata itu tidak bercahaya, mata itu mematikan segala ekspresi yang ada.

"Kenapa aku harus mengikutimu?" balas Yunho santai.

"Karena entah atas alasan apa kau selalu berada di sekitarku" sahut Jaejoong.

Yunho tertawa pelan, "Tidakkah sekertarismu memberitahu? Aku diminta untuk menemanimu menemui salah satu pegawaimu yang melakukan korupsi. Dia berpikir kau mungkin akan kesulitan dan membutuhkan tenaga tambahan, maka di sinilah aku sekarang"

Jaejoong menatap Yunho tajam. "Bagaimana mungkin kau menyetujui permintaannya? Dan asal kau tahu, Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Aku bisa mengurus diriku sendiri, dan juga perusahaanku"

Yunho hanya tersenyum mendengar ucapan Jaejoong yang terkesan defensif. "Jika kau tidak membutuhkan bantuanku, maka pinjaman dana yang kau ajukan tadi siang tidak perlu aku pertimbangkan, bukan? Karena jawabannya sudah jelas"

Jaejoong mengatupkan bibirnya, jawaban Yunho begitu tepat hingga dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Perjalanan yang diharapkannya damai telah berubah menjadi mimpi buruk, karena orang yang ingin dihindarinya saat ini duduk tepat di sebelahnya.

"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk kasar, hanya saja kehadiranmu mengejutkanku" ucap Jaejoong dengan nada melunak.

Yunho tersenyum.

Setelah diam sesaat, Jaejoong bertanya dengan hati-hati, "Bagaimana dengan pinjaman dana yang kuajukan?"

Senyum Yunho melebar, lalu dia menjawab, "Masih kupertimbangkan"

Jaejoong mendengus tanpa sadar mendengar jawaban Yunho yang di luar perkiraannya, kemudian mengalihkan pandangan dari Yunho dan sibuk memuntahkan sumpah serapah dalam hatinya. Sementara Yunho mengubah senyumnya menjadi tawa geli tanpa suara.

.

- xxx -

.

Singapura, November 2014

Jaejoong baru saja selesai mengeringkan rambut ketika bel kamar hotelnya berbunyi. Bahkan sebelum membuka pintunya, dia tahu orang yang berada di baliknya adalah Jung Yunho. Jaejoong berencana untuk menemui Lee Sooman pagi ini dan Yunho memaksa untuk menemaninya.

"Aku bisa pergi sendiri" ucap Jaejoong setelah membuka pintu.

"Selamat pagi juga" balas Yunho santai diiringi dengan senyuman.

Jaejoong tidak ingin berdebat dengan Yunho, dia ingin secepatnya menemui Lee Sooman dan menyelesaikan masalahnya, hingga akhirnya dia memilih membiarkan Yunho ikut dengannya.

Setelah mengunci kamar hotelnya, tanpa kata Jaejoong melangkah menuju lift diikuti oleh Yunho dan begitu lift tertutup, dia menekan angka dua belas. Begitu sampai, Jaejoong melangkah menuju kamar di lorong sebelah kanan dan berhenti di depan pintu bernomor 1226. Jaejoong sudah membaca laporan yang diberikan Amber sebelumnya dengan seksama. Meski sudah bisa menebak orang yang berada di kamar itu, dia tetap harus memastikannya.

Setelah mengetuk dan menunggu beberapa saat, pintu itu terbuka dan menampilkan sesosok pria paruh baya yang sangat dipercayai Jaejoong. Mereka bertatapan selama beberapa saat, lalu pria itu —Lee Sooman— tersenyum sendu.

"Kau sudah mengetahuinya" ucapnya pelan.

Jaejoong hanya diam.

"Aku akan ikut pulang bersamamu, lalu menyerahkan diriku kepada pihak berwajib. Namun sebelum itu, ijinkan aku pergi ke suatu tempat untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak akan lama, hanya sebentar saja. Kau mau ikut?" lanjut Sooman.

Kali ini Jaejoong mengangguk dan mengikuti pria paruh baya itu yang mengajaknya ke suatu tempat.

Yunho sendiri ikut terdiam dan mengikuti Jaejoong.

Sejauh ini semua terlihat baik-baik saja, Yunho tidak melihat alasan Amber begitu mengkhawatirkan Jaejoong. Pria yang menjadi pelaku korupsi itu pun tidak terlihat berbahaya, yang ada dia malah menemukan kepedulian yang nyata antara Jaejoong dan pria itu.

Sepuluh menit kemudian taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah rumah sakit, Lee Sooman membawa mereka menuju sebuah kamar rawat. Jaejoong mendekat pada jendela yang ada di pintu, melihat ke dalam di mana seorang gadis kecil dengan berbagai alat bantu terhubung ke tubuhnya.

"Dia adalah Soonkyu, putriku. Dia terdiagnosis memiliki kanker otak satu tahun yang lalu, saat itu dokter berkata putriku bisa diselamatkan. Aku sudah melakukan segala cara, aku juga sudah mengorbankan segala hal untuk menyembuhkannya. Tetapi tiba-tiba saja kondisinya memburuk, kanker itu begitu cepat menggerogotinya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini, aku tidak bisa kehilangan putriku" ujar Sooman dengan isakan tertahan.

Jaejoong menarik napas dalam-dalam, matanya mulai berkabut dan dia berusaha keras menahannya. Semua ini sungguh berada di luar perkiraannya. Dia tidak mengira jika Lee Sooman, pria yang sangat dia kagumi karena kekuatannya untuk menjadi orangtua tunggal semenjak istrinya meninggal dan tanpa sanak saudara tersisa, ternyata harus mengalami hal berat lagi. Jaejoong tahu persis seperti apa hidup yang dijalani Sooman. Hanya putrinya —yang kini terbaring tak berdaya di tempat tidur— yang dia miliki.

Bagaimana mungkin Jaejoong tega merenggut sisa waktu yang mereka miliki hanya karena setumpuk uang? Waktu yang tidak bisa tergantikan oleh apapun. Jaejoong tidak akan mampu memisahkan mereka, tidak akan pernah.

Sebelum air matanya mengalir, Jaejoong memeluk Sooman, lalu berkata, "Kau dipecat, Lee Sooman-ssi. Jangan pernah datang lagi ke kantorku, dan semoga putrimu mendapat keajaiban. Aku hanya bisa mengharapkan segala hal terbaik untukmu. Selamat tinggal."

Setelah itu Jaejoong menarik tangan Yunho yang membeku di sisinya dan melangkah secepat kakinya membawanya menjauhi suara isak tangis Sooman. Setetes air mata jatuh tanpa bisa dia tahan lagi, membuat Jaejoong membekap mulutnya dengan tangannya yang lain.

Yunho yang lepas dari rasa terpana segera menarik Jaejoong ke lorong yang sepi. Yunho membawa Jaejoong ke pelukannya, membiarkan laki-laki cantik itu menangis di bahunya. Kini Yunho mengerti sepenuhnya alasan dari kekhawatiran Amber. Dia tahu dengan pasti, bahwa kekhawatiran itu benar adanya.

Karena Kim Jaejoong yang saat ini bersamanya terlihat rapuh, sungguh berbeda dengan Jaejoong yang selama ini dia lihat. Jaejoong memiliki kebaikan hati yang murni, namun berbalut luka. Dan ekspresi dingin yang selalu terpancar dari wajahnya, tidak lain hanyalah sebuah topeng untuk menutupi kerapuhan hatinya.

.

- xxx -

.

Seoul, November 2014

"Terima kasih sudah mengantarku pulang" ucap Jaejoong pelan.

Yunho yang menenggelamkan kedua tangannya di saku jaket hanya tersenyum. Mereka berdiri berhadapan di depan pintu apartemen Jaejoong dengan canggung selama sesaat, lalu perlahan Yunho mengulurkan sebelah tangannya dan menyentuh puncak kepala Jaejoong.

"Selamat beristirahat" balas Yunho ringan lalu berbalik dan meninggalkan apartemen Jaejoong.

Jaejoong tersenyum tipis, kemudian melangkah masuk ke apartemennya. Setelah meluapkan seluruh perasaannya, akhirnya Jaejoong dapat mengendalikan dirinya kembali dan meminta maaf pada Yunho. Jaejoong merasa masalahnya dengan Lee Sooman telah selesai dan memutuskan untuk mengejar penerbangan yang tersisa di hari itu, dan Yunho menyetujuinya. Jaejoong benar-benar bersyukur pria itu bersedia menemaninya, setidaknya membuat semua menjadi lebih ringan. Atas alasan yang tidak dimengerti, dia merasa kehadiran Yunho semacam penyembuh baginya.

Jaejoong segera menggelengkan kepalanya. Pikiran macam apa itu? Baru saja kurang-lebih 24 jam yang lalu, dia berusaha keras menghindari Yunho. Namun kini dia justru mengharapkan sebaliknya. Apa sebenarnya yang salah dengan dirinya?

Jaejoong melepas sepatunya, sementara tangannya meraba dinding untuk menekan tombol lampu. Begitu lampu menyala, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sebuah kotak kado cantik dengan pita hitam yang bertegeletak manis di meja kaca ruang tamunya. Jaejoong meraih kotak itu dan membaca sebuah catatan di atasnya yang ditulis oleh Amber.

Seseorang mengirimkan ini ke kantor. Sepertinya sesuatu yang bagus, melihat bungkusnya yang cantik. Segera hubungi aku begitu kau membukanya! Aku juga penasaran.

Jaejoong tertawa pelan membaca catatan yang sangat khas Amber itu, lalu perlahan menarik pita yang melilit kotaknya dan membuka tutupnya. Seketika tawa Jaejoong terhenti dan ekspresinya berubah menjadi ketakutan. Secara refleks tangannya menjatuhkan kotak itu, hingga isinya terlempar keluar. Dengan tangan bergetar hebat, Jaejoong mengambil ponselnya dan menekan nomor panggilan cepat untuk Amber.

Ketika suara mengantuk Amber menyapa, Jaejoong berkata. "Isinya sama sekali bukan sesuatu yang bagus, Amber"

"Apa maksudmu, Jae? Aku tidak mengerti perkataanmu. Apa yang tidak bagus?"

Namun Jaejoong tak bisa menjawab pertanyaan itu, karena matanya terus terpaku pada sebilah pisau berlumuran darah yang kini tergeletak di lantai apartemennya.

.

.

.

.

.

- TBC -

Note:

Terima kasih buat yang sudah memfolow, favorite dan review FF ini... jujur sebenarnya saya sudah kehilangan semangat untuk melanjutkan sampai akhir, tapi setelah ada reader yang mereview dengan dukungan, saya jadi bersemangat lagi untuk melanjutkan. Tapi mungkin ke depannya FF ini ga bisa update cepat dan tepat waktu, terima kasih...