Kim Taehyung telah jatuh.

.

.

.

Hela napas di belakang lehernya berat, menggelitik namun nyaman. Kedua tangan yang memeluk perutnya erat, seakan berperekat, dan suara khas gesekan perabotan dapur.

Jungkook sedang memasak untuk- untuk siapa? Kim Taehyung. Kekasih? well sepertinya bukan. Teman? Bukan juga. Pada intinya, Jungkook memberi kesempatan.

"Kau juga pintar memasak?" Taehyung masih menempelkan dagunya di pundak si manis.

"Tentu, apa yang aku tidak bisa?" Jawab Jungkook santai, dan terlihat biasa saja dengan pelukan yang erat padahal ia sedang repot memasak.

"Hum, aku suka."

"Kau memang harus."

"Lalu? menurutmu apa yang pertama harus aku ubah? apa penampilanku sayang?" Tanya Taehyung tanpa menyadari yang ditanya tersipu, kata sayang dari bibir Taehyung adalah candu.

"Bukan, berhenti pergi ke club dan berhenti bermain jalang."

"Aw- manisnya sayangku! Aku siap jika setiap hari aku bisa seperti ini denganmu." Jungkook tersenyum kembali.

"Kau juga harus berhenti minum-"

"Hei? kau melarangku minum? ya ampun sayang ini tidak wajar loh-"

"Oke- tapi jarang- ingat Tae itu tidak baik bagi kesehatan."

"Apapun, asal jangan ambil bir dari hidupku." Jawab Taehyung sambil terkekeh sedikit.

"Kenapa?"

"Karena kadang- yah well aku masih frustasi jika kau tahu penyebabnya dan-"

"Kau, berhenti menyalahkan dirimu Tae- sudah cukup 4 tahun ini kau membayar rasa bersalahmu dengan merusak dirimu sendiri."

"Semua orang suatu saat pasti akan pergi, kembali seperti ibuku. Kau, begitu juga dengan aku, begitu juga dengan dia."

Taehyung melepas pelukannya, bersandar di meja dapur, terlihat lelah.

"Kau tidak mengerti-"

"Apa yang tidak ku mengerti, Kim?" Jungkook masih memasak, mencoba tetap tenang.

"Ini soal perasaan, hati dan logika tidak akan pernah pantas untuk mencampuri ini."

"Aku melindunginya setengah mati, aku orang yang cuek Jeon, tapi aku posesif untuk dia, aku sensitif untuk dia, aku tidak mau dia terluka- seujung kuku pun aku tidak rela."

"Lalu aku sadar ini bukan perasaan teman, aku merasa berbeda, aku jatuh dalam sekali, dan tidak bisa di tolong lagi."

"Lalu bagaimana, jika-jika kau-melihat orang yang selalu kau cinta-dia selalu ingin-ingin kupeluk, kulindungi- aku lukai mereka yang melukai dia-ba-bagaimana jika ternyata ia-"

Jungkook masih mencoba bersikap tenang, hatinya teremas sakit. Dan Kim Taehyung terdengar gugup, bergetar, tidak nyaman dan intinya, sungguh takut.

"ia- bunuh diri di depanku- karena seseorang yang ia cintai-"

Kim Taehyung tertawa kecil.

"-dan itu bukan aku, Jeon."

Kim Taehyung tertawa lagi, namun Jungkook tahu, berandal sialan itu terluka dan sedikit banyak trauma.

"Bahkan- bahkan aku- tidak sempat bilang- bahwa aku cinta dia-"

"Aku bersamanya bukan untuk waktu sebentar, sejak aku masih berada dalam gendongan ibu- ia sudah ada disana, melindungiku saat aku kecil- aku tidak bisa melepasnya begitu saja."

"Tapi aku sudah disini, Kim." jawab Jungkook yang mencoba kuat, mengecilkan api kompor, tahu dengan benar bahwa ini butuh dibicarakan jika ia tidak ingin ini terus menggores hatinya perlahan.

"Tapi ia sudah lama disisiku- aku- aku tidak bisa menghilangkan rasa bersalahku- kau tahu- aku masih tidak bisa melepasnya."

Ctek. Jungkook mematikan kompornya cepat, berlari pergi. Belum mencapai pintu sempurna tangannya telah ditarik.

"Jeon."

"Apa?"

"Jangan begini-"

"Kau bodoh atau gila? jika soal waktu aku sudah berada disisimu juga sudah lama Kim! tapi aku selalu sembunyi karena kau selalu bersama hyung itu! Simpan rasa bersalahmu itu sampai mati!" Jeon Jungkook meledak, cemburu pada siapa pun yang jelas bukan bagian dari dunia ini lagi.

Jungkook kecil tidak mengerti apa itu cinta, namun ia paham, ia selalu ingin melihat Kim Taehyung, tapi ia tidak ingin melihat Kim Taehyung bersama orang lain, sesederhana itu cinta untuknya.

"Kau tidak mengerti Jeon! aku hampir gila karena ia mati- bunuh diri di depanku! aku akui aku pria bodoh- aku masih muda untuk mencoba paham itu cinta- tapi faktanya tidak ada yang menggantikannya setelah itu."

"Kau bodoh? maka aku lebih bodoh karena aku mencintai orang bodoh! kau gila? maka aku lebih gila karena aku mengagumi orang gila!"

Mereka meledak bersamaan, mencoba membela diri, masing-masing mencoba untuk tidak terluka dalam, mencoba bertahan untuk tidak saling melepas karena mereka tahu bahwa mereka ini bahkan baru dimulai.

"Aku minta kau membantuku- bukan untuk menghakimiku!" Kim Taehyung membentak keras, Jungkook sedikit bergetar, hampir meledak lagi, namun akhirnya- air mata telah bekerja.

"Kupikir ini tidak akan berhasil Kim- kita tidak bisa- aku tidak bisa membantumu." jawab Jeon Jungkook lemah, menyerah dengan perasaan yang ia sembunyikan dalam selama bertahun-tahun.

"Kau akan pergi begitu? kau membawakanku harapan lalu kau hancurkan? hah? begitu jenius? kau pintar sekali menghancurkan hidup-"

"Kau! kau yang begitu Kim!" Jungkook menyalak keras.

"Aku- harusnya bisa sekolah lebih baik- tapi aku mengorbankan lebih dari sepuluh tahun pendidikanku untuk bersamamu- untuk dapat sekedar melihatmu! dengan segala macam alasan tidak rasional aku membual- agar aku tetap disini, melihatmu dari jauh Kim."

Jungkook menatap mata elang itu dengan terluka, Kim Taehyung masih menatapnya datar.

"Aku malu, ini sungguh klise. Aku benci Jungkook yang dulu, yang menyukai bajingan berhati lemah sepertimu sialan!"

Jungkook mendorong bahu si Kim pelan.

"Aku tidak bisa Kim."

"Tapi kau harus menolongku."

"Kau sendiri yang bilang kau sudah jatuh, tidak dapat ditolong lagi, benar?"

"Tapi- bantu aku, jangan menyerah secepat ini- karena aku juga sama lelah." Taehyung menatapnya sulit, penuh arti, emosi tapi terlihat lemah dan rapuh.

"Kalau begitu berhenti merasa bersalah!"

"Itu sulit!"

"Terserah-"

Jungkook mengangkat tangannya- menyerah, karena ia sadar ia tidak ingin terluka lebih lagi.

"Kutunggu satu minggu- kau buang rasa bersalahmu yang sialan itu atau-"

Jungkook menggigit bibirnya ragu, menimang kembali, apa ini harus diucapkam atau tidak?

"Atau-"

Kim Taehyung menunggu.

"Aku ambil beasiswa ke London, dan tak pernah kembali."

Jungkook langsung berlari keluar dari apartemen Taehyung, meninggalkan Taehyung yang matanya membola, mencerna kembali ucapan Jungkook-nya.

.

.

.

.

"Apa aku akan ditinggal, lagi?"

TBC:")

.

.

.

panjang tuh woi puas l semwah hah?:v maaf drama bgt- aq greget karena ulangan tik online yang sialan bin kampret. dan aku konfir ya- akan ada adegan naena tapi sesuai alurnya- gamau buru2 nanti sakit(?) ehehe janji ada tapi nanti jd jgn nungguin bgt gt lho mesum amat si l pada we insap ndek romadon yeuh:"( RNR sayang-sayangkuh kucinta kamu-kamu-kamu-dan kamu! kamu?iya kamu Kim Taehyung ululul:3/paansi/ ANNYEONG!