Chapter 7:

Hari itu aku kembali masuk sekolah lagi bersama pagi yang indah di Kyoto, selalu begitu rasanya.

Aku kembali ke sekolah setelah 5 hari bolos karena sakit. Sebenarnya Kaa-san menyuruhku untuk sekolah senin saja, biar sekalian satu minggu aku tidak masuk. Tanggung katanya, tapi aku bosan di rumah. Tubuhku sudah pulih, jadi tidak ada alasan untuk tidur-tiduran di kamar seharian kan?

Pagi itu aku berjalan dengan Lee dan Neji, kami bertemu saat aku sudah turun dari bus. Aku tidak di antar Sasori-nii lagi, setidaknya hingga dua bulan ke depan. Kami berjalan santai menuju gedung tempat kami menuntut ilmu, sesekali ada percakapan yang terjadi, tapi tidak panjang hingga akhirnya kami diam lagi.

Dari tempat kami sekarang, aku bisa mendengar deru motor dari belakang sana. Aku tersenyum, aku hapal betul suara motor siapa ini. Sasuke...

Makin lama, suara motor itu semakin terdengar jelas, kutoleh kepalaku ke belakang, benarkan. Dadaku langsung bergemuruh, ini jarang terjadi. Biasanya Sasuke datang ke sekolah setelah aku sampai di kelas.

Sasuke semakin dekat. Aku tidak tahu harus bagaimana, dalam hati aku merangkai kata-kata, bersiap untuk menyambut sapaannya pagi ini.

Yes, motor itu sudah ada di sampingku, tapi nyatanya tidak seperti yang kuduga, dia terus saja maju, melewatiku, seolah-olah tidak melihatku.

Heh? Kenapa?

Tadinya aku heran dan mau langsung sedih, tapi tidak jadi ketika Sasuke memutar balik motornya untuk lalu berada di sampingku.

"Hey, kau Sakura ya?" dia bertanya.

"Hahahaha..."

Aku tahu, seharusnya aku tidak tertawa, tapi sulit kutahan.

"Boleh aku ramal?"

"Kita akan bertemu di kantin?" tebakku.

"Kita tidak akan bertemu di kantin."

"Heh? Lalu dimana?"

"Disini."

"Hahaha..."

"Ohaiyo Lee, Neji." Sasuke menyapa Lee dan Neji, aku heran, tidak seperti biasanya.

"Aku tidak?"

"Tidak usah."

"Kenapa?"

"Nanti, di kedai Kaguya obaa-san."

Kedai Kaguya obaa-san, itu kedai yang tempatnya ada di dekat sekolah, yang pernah kuceritakan jika Sasuke lebih sering berkumpul disana dengan teman-temannya dibandingkan makan di kantin. Bangunan rumah Jepang zaman dulu yang sederhana yang akhirnya di sulap menjadi kedai saat itu. Sebenarnya rumahnya lumayan bagus, rumah itu setara dengan rumah elite pada zamannya. Tapi fungsinya jadi berubah setelah suami Kaguya obaa-san meninggal dunia.

Tahun 2003, saat aku berkunjung ke Kyoto, aku sudah tidak menemukan bangunan milik Kaguya obaa-san lagi, bangunan itu kini digantikan dengan gedung pencakar langit, meraup bagian yang dulunya tanah kosong di sekitar sana.

"Kapan?"

"Nanti istirahat."

"Baiklah."

"Nanti kujemput." Ucapnya.

Sasuke lalu meminta Lee dan Neji untuk membawa motornya ke sekolah. Aku heran, Neji langsung mau. Entahlah.

Mereka akhirnya pergi duluan meninggalkan kami berdua yang berjalan menyusuri jalanan yang basah setelah semalam dikecup air hujan.

"Kau tahu tidak, nama jalan ini sudah kuganti?"

"Jadi jalan apa?"

"Jalan Sakura."

"Hahaha..."

"Jalan Sakura dan Sasuke."

"Jalan Sakura dan Sasuke sang peramal." Tambahku.

"Jalan Sakura dan Sasuke sang peramal yang semalam memikirkan Sakura."

"Hehehe... kenapa?"

"Aku hanya memikirkan yang senang-senang."

"Kau senang?"

"Bingung."

Aku mengerutkan keningku, aku sekarang yang malah jadi bingung, "Bingung?"

"Bingung bagaimana kuhentikan."

"Menghentikan apa?"

"Memikirkanmu."

"Kenapa ingin berhenti?" Sasuke diam, agak lama dan itu membuat aku makin penasaran, agak sedih juga sebenarnya kenapa dia ingin berhenti?

"Kenapa?" tanyaku lagi.

"Jadi harus selalu dekat, biar tidak perlu kupikirkan."

"Hahaha..." Huuh aku lega.

"Tertawamu bagus, Sakura."

"Kau juga."

"Kita bersaing."

"Hahaha..."

Tidak terasa, kami sudah sampai di sekolah. Sasuke mengantarku hingga masuk ke kelas, hingga aku duduk di bangku! Beberapa teman sekelasku yang sudah datang tentu saja memandang heran. Sebelum aku masuk ke kelas, di koridor tadi juga begitu.

Sasuke pergi ke kelasnya setelah mengambil kunci motor dari Neji.

Terimakasih, Sasuke. Sasuke ku.

oooo

Itulah harinya, hari dimana aku dan Sasuke jalan berdua bersama, untuk pertama kalinya. Ngobrol ini itu yang banyak manfaatnya untukku.

Aku jadi tahu ternyata nama jalan itu sudah diganti oleh Sasuke, walaupun tidak resmi hehehe... tapi beberapa tahun lalu saat aku ke Kyoto, nama jalan itu memang sudah berubah. Benar-benar diberi nama Sakura, kata orang-orang, itu karena disepanjang jalan, tumbuh banyak pohon Sakura di kanan-kirinya.

Aku juga jadi tahu, jika komik yang ada di surat kabar yang tidak sengaja kubaca beberapa hari lalu saat aku sedang sakit itu benar-benar buatannya.

Aku senang, aku senang hari itu!

Tapi, ada satu kabar dari Ino, katanya, dua hari lalu dia melihat Tayuya naik motor berdua dengan Sasuke saat pulang sekolah. Dia bilang padaku saat kelas sedang bebas karena gurunya sakit dan tidak bisa hadir.

Namanya Tayuya, aku tidak tahu apa kepanjangannya, sudah lupa. Menurutku dia manis, rambutnya berwarna sama denganku namun lebih pekat, kulitnya lebih gelap dariku tapi tidak hitam. Anak orang kaya, orang tuanya punya outlet di pusat kota Kyoto.

Dua kali, aku pernah lihat dia di kantin bersama teman-temannya untuk berisik menguasai ruangan. Dilihat dari sikapnya, selain dia itu bossy, kukira dia juga anak gaul. Aku kurang begitu suka dengan kelakuannya.

Aku tidak tahu, sejauh mana kedekatan Tayuya dan Sasuke. Kupikir itu hubungan biasa saja. Aku merasa tidak perlu lebih jauh untuk tahu soal itu. Itu urusan Sasuke. Sasuke bukan pacarku, maksudku walaupun aku mencintainya, dan dia juga begitu padaku tetapi hubungan kami belum resmi.

Cerita Tayuya yang naik motor berdua dengan Sasuke, terus terang mengganggu pikiranku. Tahu begini, aku ikuti saja kata kaa-san, sekolahnya hari senin saja. Aku cemburu, jadi selama aku tidak sekolah, ternyata dia asyik sendiri dengan Tayuya. Aku merasa langsung tidak suka Sasuke pada hari itu.

Sebagian dari diriku bagai hangus rasanya, dibakar api cemburu yang makin siang makin nyala, apalagi ditambah api amarah pada Utakata yang belum padam sepenuhnya.

Itu membuat semangat belajarku jadi turun, membuat aku jadi malas bertemu Sasuke. Betul-betul aku ingin tahu sejauh mana hubungan Sasuke dengan Tayuya. Kalau benar mereka berpacaran, terus untuk apa dia selalu berusaha mendekatiku? Kalau belum pacaran dan Tayuya mau, aku merasa tidak perlu bersaing dengannya.

Tidak perlu!

Kalau Sasuke mau dengannya, silahkan, apa hak ku melarangnya? Ambillah, tapi aku akan pergi, tak akan lagi meladeni apa pun yang Sasuke lakukan untukku. Dan jika Tayuya mau, silahkan ambil, dia itu Cuma playboy kacangan!

oooo

Saat jam istirahat tiba, Sasuke datang ke kelas untuk mengajakku ke kedai Kaguya obaa-san.

Aku bilang, aku tidak bisa. Aku lemas dan ingin diam di kelas. Tentu saja aku bohong. Aku sedang tidak suka padanya.

"Oh, apa-apa." Ucapnya dengan nada kecewa.

Sasuke pasti kecewa. Anehnya, aku langsung merasa tidak enak sudah membuatnya begitu. Aku juga merasa bersalah sudah menuduhnya dengan dasar masih praduga. Sudah menuduhnya dengan pengetahuan yang belum pasti soal fakta sebenarnya.

Lekas-lekas ku masukkan novel yang sedang kubaca dan langsung menuju kedai Kaguya obaa-san. Aku berpikir, kenapa aku tidak ikut dengannya dan tanya langsung perihal yang kupikirkan sejak tadi, padanya disana.

Aku berjalan di bawah naungan langit mendung untuk menemui Sasuke. Disana, ada Gaara yang sedang mengobrol serius dengan Naruto. Ada juga dua orang lain yang tidak kukenal, tapi seragam mereka sama sepertiku.

Kutanya Naruto.

"Sasuke ada?"

"Sasuke? Dia belum kesini." Jawab Naruto. "Ada apa?"

"Tidak, tidak ada apa-apa."

"Tunggu saja!" ucap Gaara sambil menghembuskan asap rokok yang sedang dihisapnya.

"Aku ke kelas lagi saja." Jawabku. "Naruto, bilang pada Sasuke tadi aku kesini."

"Oke." Jawabnya sambil mengacungkan jempol di depanku.

"Terimakasih, Naruto."

Aku lalu kembali ke kelas, dan ketika hujan turun, aku sudah sampai di kelas.

Teman-temanku masih di kantin, di kelas kosong, hanya ada aku duduk sendirian. Suara hujan itu suara hujan yang deras. Suara hujan yang mewakili perasaanku hari itu. Kurebahkan kepalaku di atas meja.

"Sasuke kau dimana? Ini hujan."

Sunyi menjadi makin kuat menguasaiku. Kau tahu rasanya apa? Menekan. Dan, air yang datang dari mataku membuat sungai kecil di pipiku.

"Sasuke, maaf..."

oooo

Ketika hujan reda teman-temanku mulai bermunculan, mereka sempat terjebak di kantin karena hujan. Saat mereka masuk ke kelas, langsung kubuka tas dan mengambil satu buku pelajaran. Agar saat mereka melihatku ya karena aku ingin baca buku dan diam di kelas saja.

Ino dan Kiba menyapaku. Jam istirahat masih ada sisa, belum habis.

Tak lama sejak teman-temanku datang, kudengar suara motor terdengar begitu kencang. Bukan sekedar deru, tapi sudah menjadi raungan. Disambut para guru dan murid yang keluar dari tempatnya untuk melihat ada apa di luar. Dari kelas, aku bisa mendengar Ibiki-sensei berteriak memerintah penjaga sekolah untuk menutup gerbang.

"Siapa?" tanyaku pada Kiba.

"Tidak tahu."

Ibiki-sensei dan guru yang lain memerintahkan semua murid untuk kembali masuk ke dalam kelas. Aku juga masuk dan bingung sebenarnya ada apa.

Orang-orang yang mengendarai motor itu semuanya berseragam sekolah. Masing-masing dari mereka membawa pedang Katana bagai seorang "Samurai", mereka menggerung-gerungkan motornya, salah satunya ada yang berteriak:

"Gaara, keluar kau!"

Mereka melempari sekolahku dengan batu, salah satunya ada yang mengenai kaca gedung sekolah bagian depan.

"Mereka sepertinya gengster." Ucap Ino, aku masih bsa mendengarnya dengan baik walaupun suaranya lirih.

Mereka sepertinya mencari Gaara karena dia berulah, Gaara tadi kulihat di kedai Kaguya obaa-san, Naruto juga ada disana, Sasuke kau dimana?

"Sakura kau mau kemana?"

Kurhiraukan teriakan Ino yang memanggil namaku, yang kupikirkan sekarang adalah menemui Sasuke.

Ya, aku berlari. Aku lari secepat yang ku bisa dan hati-hati, sebisa mungkin tidak terkena lemparan batu, tapi ya akhirnya kena juga. Pelipisku terkena batu ukuran kecil, tidak terlalu sakit, tapi lumayan juga untuk menyebabkan kepalaku mengeluarkan cairan merah.

Kurang dari dua menit, aku sudah sampai di depan kelas Sasuke dan langsung masuk ke dalam. Berharap dia ada disana.

Tapi, Sasuke tidak ada di kelasnya, begitu pun Naruto, saat kutanya teman sekelas Sasuke, mereka menjawab tidak tahu. Aku yang penasaran menarik kursi dan berdiri mengintip ke jendela. Aku gelisah, tak lama setelah aku naik, mereka yang di luar sana pergi. Aku makin takut dan berpikir bagaimana jika mereka ke tempat Kaguya obaa-san? Bagaimana jika Sasuke disana dan tidak tahu mereka datang?

Aku diberi tahu Sasuke bahwa ternyata mereka salah strategi saat aku bertanya padanya, kenapa mereka menyerang sekolah saat jam belajar? Kenapa tidak saat pulang sekolah?

oooo

Beberapa jam kemudian, polisi datang. Tapi para biang kerok sudah pergi, meninggalkan batu dan pecahan kaca yang berserakan. Murid-murid di sekolah langsung membahas kejadian tadi. Kepalaku juga sudah diobati, hanya lecet, aku tidak benar-benar terhantam, hanya tergores saat batu tadi melintas di depanku.

Belajar mengajar secara otomatis diliburkan, tapi guru melarang kami untuk langsung pulang.

Suasana sudah mulai tenang, tapi aku belum tenang karena belum bisa menemukan Sasuke. Aku belum bisa tenang sebelum menemukannya dalam keadaan yang baik-baik saja.

oooo

Aku baru saja keluar dari toilet saat Sasuke menemuiku di samping perpustakaan. Rasa khawatirku serta merta lenyap saat menemukannya dalam kondisi baik-baik saja.

"Tadi kemana?" Aku bertanya padanya saat sudah berhadapan dengannnya. Matanya, kulihat sangat cemas. "Ini kenapa?" tangan Sasuke menyentuh pelipisku yang tertutup plester.

"Tadi kemana?"

"Ada, Sakura. Ini kenapa?"

"Dimana?"

"Di belakang gereja." Dia menatapku seolah meminta penjelasan ada apa dengan kepalaku, mungkin agak sedikit sebal karena aku dari tadi tidak menjawab.

"Terkena batu."

"Kau tidak patuh perintah."

"Aku mencarimu." Sasuke menyandarkan tubuhnya ke tembok samping perpustakaan, Sasuke terlihat seperti orang yang baru saja lepas dari rasa cemasnya. Tangannya masih memegang kepalaku.

"Kau yang berulah?"

"Bukan, Gaara."

"Kau juga?"

"Tidak, nanti kujelaskan."

"Tidak usah, aku mau ke kelas."

Aku tepis tangannya dan mulai berjalan, Sasuke menyusul di sampingku. Kami berjalan menyusuri lorong kelas, beberapa mata memandang ke arah kami. Aku tidak tahu apa yang ada dipikiran mereka. Aku tidak peduli.

Sasuke menggenggam tanganku saat berjalan, tangannya dingin sama seperti udara yang saat ini masih dingin selepas hujan.

Dari depan kantor kepala sekolah, aku mendengar Ibiki-sensei memanggil Sasuke.

"Aku kesana dulu." Ucapnya, tapi tidak kujawab, tangannya masih menggenggam tanganku. "Nanti pulang kuantar."

"Sudah sana."

"Iya."

Dia pergi dan aku kembali ke kelas. Di kelas, Ino langsung menyerbuku dengan ocehannya, tentang luka di pelipisku, tentang kejadian tadi, dan tentang Sasuke. Dia bilang, tadi Sasuke mencariku.

"Iya, aku sudah bertemu dengannya." Jawabku.

"Apa katanya?"

"Tidak ada."

"Oh, baiklah."

"Aku tidak mau membahasnya." Ino mengangguk mengerti, dia diam sebelum akhirnya bercerita tentang apa yang menyebabkan penyerangan terjadi.

Jadi, dua hari lalu Gaara mengeroyok seorang pelajar dari sekolah lain hingga masuk rumah sakit. Aku kurang tahu apa penyebabnya dan tadi teman-teman orang itu datang untuk mencarinya, mungkin mau balas dendam. Aku tidak tahu Sasuke ikut dalam pengeroyokan itu atau tidak, kuharap sih tidak.

"Lalu Gaara kemana?"

Ino mengendikkan bahunya, lalu menjawab, "Kabur."

Setelah polisi menjamin aman, guru memperbolehkan murid untuk pulang meski tetap harus waspada. Sasuke tidak jadi mengantarku pulang karena harus ikut ke kantor polisi.

Itulah harinya, hari yang paling menegangkan untukku dan Sasuke, untuk pertama kalinya.

oooo

Malamnya, Sasuke meneleponku. Dia bicara membahas penyerangan tadi siang. Dia menjelaskan duduk persoalannya padaku, persis seperti yang Ino ceritakan.

"Lalu polisi bilang apa?"

'Mereka bilang aku manis.'

"Serius."

'Mereka bilang jangan serius-serius.'

"Terserah!" jawabku.

'Kau galak, Sakura.' Ucap Sasuke. Itu membuatku diam sejenak.

"Tadi aku cemas."

'Tidak usah cemas, ada aku.'

"Tadi kau tidak ada."

'Hn.' Jawabnya.

"Kukira kau ditahan?"

'Tidak, mereka kasihan.'

"Hah?"

'Nanti siapa yang menjagamu?'

"Hahaha..." sedari tadi, sebisa mungkin kutahan tawaku. Tapi kali ini aku tidak bisa tahan lagi.

'Kenapa tertawa?'

"Kenapa?"

'Kau bilang, serius.'

"Baiklah kali ini aku serius, aku mau bertanya padamu, boleh?"

'Boleh.' Jawabnya, 'Jangan yang sulit, aku belum belajar.'

Aku menghela napasku dulu sebelum lanjut bicara, cara untuk menggantikan tawaku ya begitu, dia menyebalkan.

"Cukup jawab jujur."

'Apa itu?'

"Siapa Tayuya?" tanyaku langsung pada pokok yang ingin aku tahu.

'Perempuan.'

"Aku tahu itu!" ucapku sebal,

'Lalu, kenapa bertanya?'

"Dia kekasihmu?"

'Bukan.' Jawab Sasuke.

"Aku suka jika kau jujur!"

'Sayangnya aku Sasuke, bukan jujur.' Rasanya ingin ku gigit handphoneku.

"Aku serius, heh!"

'Dia ingin menjadi kekasihku.' Jawab Sasuke, 'Tapi aku tidak mau.'

"Lalu?"

'Dia pernah datang ke rumahku.'

"Lalu?"

'Aku sembunyi, masuk lemari.'

"Memangnya cukup?"

'Cukup. Lemariku besar.'

"Lalu?"

'Dia mengobrol dengan ibuku.'

"Lalu?"

'Ikut masak di dapur. Dia mau merebut hati ibuku.'

"Lalu?"

'Aku pengap di lemari.' Aku tersenyum menahan tawa.

"Lalu?"

'Ibuku masuk ke kamar, tapi tidak membuka lemari. Lalu pergi.'

"Lalu?"

'Sakura...'

"Bagaimana terusannya tentang Tayuya?"

'Dia memberi aku coklat, memberiku baju hangat. Mengajakku nonton di bioskop.'

"Kau mau?" tanyaku.

'Mau apa?' dia balik bertanya.

"Nonton?"

'Mau.'

"Berdua?" tanyaku.

'Iya! Saat film dimulai, aku izin ke toilet, padahal pulang.'

"Hah?"

'Kenapa? Kau senang?' Iya aku senang, hehehe...

"Lalu dia bagaimana?"

'Dia marah. Bagus.'

"Bagus?"

'Ya, dia jadi tidak mau bertemu denganku.'

"Hahaha..."

'Jangan tertawa.'

"Biar saja." Kataku, "Jika aku yang marah padamu bagaimana?"

'Baguslah.'

"Bagus? Agar aku tidak mau lagi bertemu denganmu?"

'Agar aku tahu, bisa tidak membuatmu menjadi tidak marah.'

"Kau pasti bisa, aku yakin."

'Tugasku membuatmu senang.'

"Kalau tidak bisa membuatku senang?" jutanya.

'Itu berarti aku gagal menjadi orang yang menyenangkanmu.'

"Kau selalu berhasil, hehehe..."

'Syukurlah.'

"Katanya kau dan Tayuya naik motor berdua."

'Iya. Aku mengantar dia ke rumah sakit. Ayahnya dibawa ke rumah sakit.' Jelasnya.

"Oh... kasihan." Aku menunduk, rasanya lega mengetahui alasannya dan malu karena tadi siang aku marah-marah sendiri.

'Tidak mencintai, tidak berarti membencinya.' Aku diam. 'Kau tahu, aku bisa membuatmu tidur.'

"Maksudnya?"

'Iya, aku bisa membuatmu tertidur. Kau harus tidur, jangan tidur malam-malam, kau harus pulih.'

"Iya Sasuke. Bagaimana caranya? Dihipnotis?"

'Iya. Aku akan absen nama-nama binatang.'

"Hahaha coba!"

'Oke, aku mulai. Jangan bersuara saat aku absen.'

"Iya."

'Siap?'

"Iya, siap."

'Satu...beruang, dua... gajah, tiga... jerapah, empat... kupu-kupu.'

Dia absen satu per satu nama binatang yang bisa dia ingat dengan nada yang pelan sekali, bagai orang yang sedang meninabobokan, bagai angin yang berdesir.

'Sembilan belas... buaya, dua puluh... kucing, dua puluh satu, apa ya? Ng... harimau.'

"Hahaha."

'Dua puluh dua... tikus, dua puluh tiga... monyet, dua puluh empat... Sakura.'

"Heh?"

'Hahaha... belum tidur.'

"Belum, hahaha... teruskan."

'Jangan bicara apa-apa sampai kututup teleponnya.' Perintahnya.

"Iya."

'dua puluh lima... kumbang, dua puluh enam... kelinci...'

Aku diam mendengar suaranya, hanya diam mendengarkan, tidak bersuara seperti yang dia minta. Hingga di absen ke lima puluh, dia berhenti. Awalnya kukira dia mau menutup teleponnya, karena mungkin saja dia berpikir aku sudah tidur. Tapi...

'Tidurlah, Sakura. Maaf, tadi siang aku membuatmu jengkel. Kau harus tahu, Sakura, aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku cemas. Mencemaskanmu di belakang gereja. Kamu bayangkan bagaimana rasanya, aku ditahan Naruto saat akan menemuimu, dia bilang jangan. Bayangkan Sakura, bagaimana rasanya. Apalagi saat aku menemukanmu dan terluka. Aku cemas.'

Itu adalah kalimat panjang pertama yang kudengar dari mulutnya. Ada sedikit lelehan air mata di pipiku sesaat setelah kudengar kalimatnya.

'Oyasumi.. Sakura.'

Kemudian, dia tutup teleponnya. Tentu saja aku belum tidur, aku tidak tahu apa dia tahu jika aku belum tidur?

Setelah cuci muka dan gosok gigi, aku kembali ke tempat tidur. Aku berharap bisa langsung tidur, setelah semua yang terjadi hari ini. Selagi itu aku berpikir, aku merasa seperti sudah menjadi kekasih Sasuke. Apa dia juga merasakan hal yang sama? Kalau memang iya, sejak kapan itu dimulai? Kalau belum, kenapa aku merasa sudah?

Ah, entahlah.

"Selamat malam juga, Sasuke...-kun."

.

.

.

To be continue

Mau ngasih sedikit penjelasan, Sasuke sama Sakura belum pacaran ya, banyak yang nanya soal ini. Hehehe... udah gitu aja.

Balasan review:

Resa: hehe ini udah di update, semoga suka yaa

Ifaharra Sasusaku: hehehe, ini udah update lagi makasih yaa ;)

Ntika blossom: hahaha aku gatau kenapa bisa-bisnaya nulis itu, bayangin wajah madara yang sangar kalang kabut konyol wkwkwk, semoga suka chapter ini yaaa

Indri. Schorpion: makasih hehe.. utakata udah hilang dia gaakan muncul lagi, sudahlah wkwk, ini udah di update...

Azriel: seru kaaaan haha iya ini udah dilanjut semoga suka yaaa

Fuyu no miyuhana: makasih hehe, alurnya emang segini soalnya ini fict ringan banget kalo kebanyakan deskrip kesannya bertele-tele lagian juga gaada kejadian yang kelewat-lewat kok semuanya dijelasin juga jadi yang baca gak bingung ;), kalo typo hehe itu emang kebiasaan dan sedang dalam perbaikan maaf ya kalo masih ada, penulisan gimana ya yang salah? Bisa dikasih contoh? Biar aku bisa perbaiki, makasih udah kasih masukan ;)

Prince cherry: hehehe iyaa ini dituntasin kok, udah update nih semoga suka yaa

Naya aditya: kapan yaaa? Hem hahaha, ini udah dilanjut semoga suka.

Anisha ryuzaki: hehehe makasiiiiih ini udah dilanjut, semoga suka yaa

HappoZaey: maaf yaaaa jadi gaenak, ini gak kilat-kilat banget, tapi udah kilat kaaan? Hehehe semoga suka chapter ini juga yaa

Haruchan: gapapa ih gapapa hehe, aku juga cengo kok nulisnya haha ini udah update semoga suka chapter ini yaa

Sozvezdiye: iya dilan emang manis banget hahaha.. galau tuh yang baca novelnya tapi gapunya pacar wkwkwk. Ini udah dilanjut, semoga suka, salam kenal jugaaa ;)

Ikhsani. Ramadhanti: hahaha sasusaku belum pacaran, masih jalan menuju kesana ;) ini udah diupdate semoga suka yaaa

Ailions: hehehe jangan serius-serius bacanya, kata Sasuke juga jangan serius-serius hahaha ini udah diupdate semoga sukaaa

Makasih untuk review dan masukannya ;)