Shoot Me!
Bagian 6
.
.
.
"MANIAK!"
Getar suara Sehun sepertinya cukup untuk membuat lelaki duapuluh tahun yang saat ini berada tepat diatasnya menahan pedih dikedua telinganya. Gendang telinganya berdentum hebat. Dan itu menyakitkan. Ditambah lagi dengan sebuah dorongan pada bahunya membuat Jongin mau tidak mau bangkit dari posisinya.
Jongin meringis, kemudian melemparkan tatapan tajam pada sesosok pemuda dengan rambut hitam dan kulit pucat yang masih betah berada diatas ranjangnya.
"Kau habis menelan pengeras suara ya?" Jongin berkata malas, sambil mengorek telinganya dengan kelingking.
Tetapi, si objek tiga dimensi yang menjadi lawan bicaranya saat ini justru hanya diam saja tak berkutik. Padahal beberapa detik lalu dia baru saja mengejutkan seluruh penghuni apartemen Jongin (read: serangga) dengan suara pekikan yang sama sekali tidak jantan.
"Kau baik–baik saja 'kan?" Alis Jongin bertaut, sedikit mengguncang kaki Sehun dengan kakinya.
"Ciuman pertamaku.."
Satu suara dari Sehun berhasil membuat Jongin memutar bola matanya malas. Hah melelahkan, ia mulai berfikir sebenarnya dia ini pelatih olahraga atau malah baby sitter sih? Kenapa ia harus di pusingkan dengan hal–hal seperti tingkah kekanakan Sehun?
Jongin menghela nafas lelah.
"Dasar pencuri ciuman pertamaku! Dasar maniak!"
Jongin memijat pelipisnya kuat, tiba–tiba kepalanya terasa pening akibat perkataan tidak wajar Sehun.
"A–aku pokoknya Aku—" telunjuknya mengacung tepat dihadapan Jongin. Entah kapan dia berdiri. Matanya berkilat penuh emosi. "—benar-benar akan meminta ayah untuk segera memecatmu!"
"Ya, ya, terserah kau saja. Kalau begitu cepat kau pulang. Dasar berisik!" Jongin mengibaskan telapak tangannya di depan Sehun. Mendorong bocah itu agar cepat–cepat meninggalkan apartemennya.
Sumpah demi apapun, Jongin mencintai ketenangan melebihi besarnya cinta juliet pada romeo yang rela mati menelan racun —perumpamaan yang aneh— dan Sehun berhasil menghancurkan semuanya.
"Aku harap kau tidak akan kembali!"
Sehun mendelik, "Berbalik 'pun aku tidak sudi!"
"Dan jangan membuatku harus menjemputmu lagi karena hal konyol semacam kehilangan sebelah sepatumu."
Selanjutnya suara debum pintu terdengar jelas di depan wajah si bocah tujuhbelas tahun. Sebelum ia sempat mengeluarkan argumennya atas sindiran yang menohoknya tepat dihati.
"Di–dia bahkan membanting pintu tepat di depan wajahku?!"
.
.
.
.
Setelah Jongin berhasil mengusir si bedebah kecil keras kepala dari dalam apartemennya dan berhasil mengembalikan waktu tenangnya. Lelaki itu menjatuhkan tubuh lelahnya diatas sofa membiarkan kakinya yang tidak muat menggantung begitu saja. Sebelah tangannya tertekuk di atas dahi, menutupi kedua matanya yang terpejam.
Jongin ingat saat beberapa minggu yang lalu Yifan datang dan memintanya secara pribadi untuk menjadi tutor adiknya, meskipun awalnya lelaki tinggi itu meminta Jongin untuk memperbaiki nilai akademik Sehun yang benar–benar kelewat batas (hancurnya). Hingga akhirnya, saat nilai akademik Sehun seperti sudah tidak memiliki setitik cahaya dalam lorong gelap yang panjang, ia memutar otaknya dan menjadikan Jongin sebagai pelatih adiknya.
Sebenarnya Jongin bukan seorang penembak jitu atau ahli bela diri, semua itu hanya bagian dari hobi yang terkadang dilakukannya. Namun, entah mengapa Yifan malah memilihnya sebagai pelatih Sehun. Keluarga konglomerat itu bisa saja memperkerjakan seorang pelatih yang benar–benar ahli dalam bidangnya.
Yifan menjawab untuk itu,
"Bukan latihan fisik yang sebenarnya ingin aku ajarkan pada Sehun.. Sesuatu yang lebih dari sekedar kata keahlian, dan aku butuh kau untuk membantuku.."
Ia kembali bernafas lelah, kemudian, menyambar ponsel yang bergetar dibawah tubuhnya.
"Jongin?"
.
.
.
.
Mata Sehun membesar, menatap setetes demi setetes air hujan yang membasahi aspal jalan di depannya. Kepalanya mendongak, menatap hitamnya awan di atas sana, awan cumulunimbus. Si pembawa Hujan. Melirik jam tangan hitam yang membalut pergelangan tangan kirinya, dan mendesah setelah itu.
Pukul 06:44 PM.
Dilihat dari kelamnya langit, sepertinya hujan akan menyapa bumi lebih lama dari biasanya. Gumpalan awan hitam itu benar–benar menyiutkan nyalinya untuk menembus derasnya hujan. Jujur saja, lagipula Sehun benci hujan–hujanan.
Tapi masa iya sih dia harus menunggu hujan reda? Hell, itu akan lama sekali.
Detik berlalu, Pemuda manis itu malah menggeleng kuat, saat sebuah pemikiran aneh melintas di dalam kepalanya. Bibirnya mengerucut sebal.
"Tidak, tidak. Aku tidak mau kembali kesana, bisa–bisa si Kim itu besar kepala!"
Tapi, aku juga tidak mau menunggu.
Sampai sebuah tarikan dari belakangnya membuat Sehun tersentak. Mata sipitnya membelalak, mengetahui Jongin berdiri dengan pakaian santai di belakangnya.
Tidak mungkin dia berniat mengantar Sehun dengan pakaian seperti itu 'kan.
Lalu?
"Cepat ikut aku!" Jongin berkata malas.
Sehun memberontak, melepaskan genggaman Jongin. "Tidak mau!" Mengangkat dagunya, "kembali saja sana sendiri! Aku mau pulang saja! Huh!" Sehun berbalik dengan tampang songong miliknya.
Dahi Jongin kembali berkedut melihat ekspresi Sehun. Lelaki itu menarik kerah belakang Sehun, menariknya tanpa memperdulikan segala perlawanan dan umpatan kasar Sehun. Bahkan mengabaikan tatapan aneh beberapa penghuni apartemen.
.
.
"YA!" Sehun memekik. "Percobaan pembunuhan!"
Dasar anak aneh, bicaranya saja melantur begitu.
Sehun mengelus lehernya, "Sakit tahu! Tidak berperasaan!"
"Jangan kekanakan."
Sehun menatap nyalang pada Jongin. "Sekarang apa? Tadi kau mengusirku sekarang malah menarikku kembali!" Sehun memincing. "Ah! Jangan–jangan.."
Jongin menoleh, wajah Sehun mendekat padanya.
"..kau menyukaiku ya! Mengaku!"
Jongin memutar bola matanya malas, apa hanya sampai di sana saja pikiran Sehun. Kenapa apapun yang dilontarkannya terasa tidak masuk diakal. Jongin mendesah, "tanyakan saja sendiri pada kakakmu itu. Ia memintaku untuk menjaga adiknya semalaman."
Dan Jongin berlalu meninggalkan Sehun di depan pintu masuk apartemen yang tertutup.
Sehun terdiam, memandang punggung Jongin. Tenggorokannya tercekat, terakhir kali Jongin beralasan dengan mengaitkan Yifan, ia berbohong.
"Kau bohong—"
Langkah Jongin terhenti.
"—dulu, sewaktu kau mengantarku ke rumah kau bilang Yifan yang menyuruhmu. Dan aku baru sadar saat bertanya pada Yifan bahwa dia datang untuk menjemputku—"
Ia berhalusinasi melihat bahu Jongin menegang.
"—kau berbohong!" Sehun mengatupkan bibirnya kuat–kuat. "Aku mau pulang!"
Sehun berbalik mencoba membuka pintu sampai ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh punggungnya. Dan suara bisikan rendah membuat bulu romanya merinding.
Jantungnya berdetak sangat cepat, bagaikan ketukan bertempo presto dalam irama musik.
"Lalu kenapa jika aku berbohong?"
Dan suara rendah itu membuat tubuhnya terasa kebas seketika.
Ia terpaku tiba–tiba, terlebih lagi saat merasakan tangan Jongin terjulur di sebelah kanan dan kiri tubuhnya dan menapak di dinding, mengurungnya dari belakang. Tangan Sehun yang masih menggenggam erat kenop pintu berkeringat. Ia gugup.
Ditundukannya kepalanya dalam-dalam —enggan berbalik. Ia tidak yakin jika berbalik apakah dia masih bisa bernapas dengan benar setelahnya. Hanya merasakan hawa tubuh Jongin yang tidak bersentuhkan dengannya saja berhasil membuat darahnya naik ke wajahnya dengan cepat. Dan suhu tubuhnya meningkat signifikan.
"Ka–kau mau apa?"
Dan kalimat gagap itu adalah suara pertama setelah Sehun berhasil mengendalikan dirinya.
Sehun merasakan beberapa helai rambut yang terjatuh di telinganya –bukan itu bukan rambutnya. Rambut Sehun hitam legam, sedangkan ini coklat gelap. Sehun cukup dapat membedakannya dengan melihat hanya dari sudut matanya.
Napasnya tercekat, matanya terpejam erat. Ia benar–benar tidak pernah merasa sebegini terintimidasinya hanya karena sebuah tindakan lumayan intim dari orang lain.
Jawabannya karena memang ia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
"Ku beritahu kau satu hal—" Jongin menjeda.
Sehun menahan napasnya, merasa gelisah menunggu kalimat Jongin.
"—kau benar soal kejadian sebelumnya, aku memang berbohong."
Tuhkan! Sehun berteriak dalam hati.
"Tapi, untuk kali ini tidak! Tanya saja sendiri."
Tiba–tiba saat tersadar dari efek hipnotis Jongin sebuah ponsel sudah menempel di telinganya, dan sebuah suara yang sangat dikenalnya menyeruak masuk.
"Sehun–ah?"
"Naga bau! Bawa aku keluar dari sini."
Jongin memutar bola matanya malas. Mulai lagi.
"Tetap tinggal disana sampai besok pagi Sehun! Ini perintah!"
"Kau tidak bisa memerintahku!"
"Tidak ada penolakan! Hyung tidak bisa menjemputmu, dan di luar juga hujan deras. Tetap di sana atau hujan hujanan!"
Eww, hujan–hujanan?
"Tapi, Hyung—"
Tut..tutt...tutt
Sehun cengo, "YA HYUNG! YIFAN HYUNG!"
"—tega sekali dia membiarkan aku serumah dengan seorang maniak mesum."
"Siapa yang kau bilang maniak mesum, bocah?"
Sehun berbalik mendapati Jongin bersidekap dengan wajah menakutkan. "Ya! Wajahmu itu menyeramkan tahu!"
Jongin mendekat, "kemari kau."
"Tidak mau! tidak mau!"
Dan Jongin kembali menarik kerah belakang baju Sehun menjauh dari pintu masuk. Sehun memberontak —tentu saja. Tangannya menggapai udara seperti menggapai pintu, seolah Jongin baru saja menariknya kembali kedalam labirin menyesatkan sesaat setelah ia bertemu setitik cahaya yang akan membebaskannya. Matanya berair, dan bibirnya melengkung ke bawah dramatis.
"TIDAK MAUU~~!"
.
.
.
.
Baekhyun tersenyum bagaikan matahari pagi yang menyapa bumi, cerah sekali. Menyilaukan. Gigi–gigi kecilnya mengintip dari balik celah bibirnya yang sedikit terbuka.
"Terimakasih sudah mengantarku." Baekhyun menundukan kepalanya menyembunyikan pipinya yang bersemu.
"Tidak masalah, lagipula aku tidak mungkin membiarkan kau pulang sendiri."
Tolong, jangan biarkan Baekhyun terbang ke udara. "A–ah ya.."
"Masuklah, udara malam hari setelah hujan pasti dingin," lelaki seumuran Jongin itu tersenyum tipis.
Baekhyun baru akan mengangguk saat lelaki didepannya itu merasa terganggu dengan getar pada saku jaketnya.
"Ada apa?"
Baekhyun mengeryit, siapa yang meneleponnya? Jangan–jangan kekasihnya? Tapi kenapa nada bicaranya ketus begitu?
"YA! Park Sooyoung, kau tidak bisa memintaku untuk selalu menjemputmu, kau bisa pulang sendiri naik taksi kan?"
Baekhyun makin bingung.
Tidak mungkin kekasihnya.
"Naik taksi atau Bus, aku tidak akan menjemputmu, kau mengganggu acaraku!"
Sambungan telepon keduanya terputus, mata Baekhyun berkedip lucu, merasa tidak mengerti apapun.
"Kau tidak apa–apa?"
"Hanya sedikit pening, adik ku itu benar–benar seenaknya."
"Hah? Adik? Kau punya adik?"
"Perempuan yang datang denganku ke tempat latihan temanmu itu, dia adikku. Park Sooyoung."
Mata Baekhyun membelalak, jangan bilang kalau wanita yang itu–
"Akan kutarik rambutnya nanti"
—ohmyfuckingod, dia adik dari pangeran kuda putihnya?
"Baek?"
Baekhyun tersentak, "Y–ya?"
"Kau melamun," lelaki itu terkekeh.
Baekhyun hanya mampu nyengir kikuk.
"Yasudah, aku pulang dulu." Masih dengan senyum ia mengacak rambut Baekhyun gemas, dan berlalu bersama mobilnya dari hadapan si pemuda manis. Baekhyun merona.
Setelah dirasa mobil hitam itu sudah berbelok di pertigaan tak jauh dari rumahnya, Baekhyun terpaku memandang kosong pada aspal jalanan. "Bagaimana bisa?" Ia menggeleng.
Bagaimana bisa, seseorang lelaki protagonis seperti pangerannya itu—
Baekhyun terlanjur tidak menyukai perempuan itu.
—mempunyai adik antagonis macam itu?
Park Sooyoung—
Dan
—Park Chanyeol.
Baekhyun ingin tenggelam saja.
.
.
.
.
Lemparan Jongin membuat Sehun tersadar. Wajahnya yang semula masam berubah terkejut sekaligus panik. Dia kira yang Jongin lempar itu semacam serangga atau apa, ternyata hanya pakaian. Alisnya bertaut, memandang penuh tanya pada sebuah kaos putih besar dan sebuah celana training biru panjang. "Untuk apa?"
"Memangnya untuk apa lagi?" Sahut Jongin malas. "Mandi dan ganti pakaianmu! Aku tidak mau tidur dengan seorang anak yang bau."
Wajah Sehun memerah malu, merasa bodoh. "Yak! Aku tidak bau, hanya—" kata–katanya terhenti, ia menggigit bibirnya. "—hanya berkeringat, bukan berarti bau tau! Seenaknya saja mengejek orang bau padahal kau juga belum mandi. Huh!"
Jongin menaikan sebelah alisnya, "lalu apa? Kau mau mengajak aku mandi bersama?"
"A–ap—"
Wajah Sehun memerah sempurna persis kepiting rebus. Rasanya panas, panas sekali. Sialan. Kenapa sih Jongin harus berkata hal vulgar begitu? Hah memangnya itu vulgar?
Sekarang siapa yang harus bertanggung jawab ketika pikiran Sehun mulai melayang memikirkan bagaimana jadinya jika keduanya benar–benar mandi bersama.
Panaspanaspanaspanas—gahhhh!
"Sedang membayangkannya?"
Sehun tersentak, matanya membesar. "JANGAN GILA! SIALAN!"
Dan Sehun berlari secepat cahaya ke kamar mandi, meninggalkan Jongin dengan kekehan ringan.
.
.
"Dasar mesum!" Sehun mengumpat. Sialan. Si Kim itu rupanya memang maniak mesum, apa maksudnya dengan mengajak mandi bersama? Apa di dalam pikirannya hanya ada hal–hal mesum macam itu saja. Sehun kan masih polos, tidak seharusnya dia berkata begitu pada anak polos seperti Sehun. Dasar orang dewasa kelebihan hormon! Setidaknya tunggu Sehun cukup umur baru dulu, dia itu masih TUJUHBELAS TAHUN—tunggu,
"HYAA! Kenapa pikiranku seolah aku memang ingin mandi bersama Jongin sih!"
Wajahnya kembali memerah, panas seperti bongkahan lahar gunung berapi. "Airairair— aku butuh air untuk mendinginkan kepalaku!"
Tetesan air yang meluncur bebas dari shower di atas kepalanya membuat Sehun mendesah lega, lega sekali. Rasanya seluruh tubuhnya yang panas tadi menghilang begitu saja.
Bersenandung lirih, sambil mengusak rambutnya dengan sampo beraroma mint yang tentu saja milik Jongin.
"Cih. Mandi bersama? Aku bisa menggosok punggungku sendiri, untuk apa mandi bersama?" Sehun menggerutu. "Hanya perasaanku saja atau memang airnya semakin kecil ya?"
Sebelum sempat mendongak, aliran air di atas kepalanya itu berhenti. Sehun tersentak, "YAK! KENAPA BERHENTI?"
.
.
.
.
Jongin hampir saja membuka majalah diatas pangkuannya sebelum suara menggelegar memanggilnya dari arah kamar mandi, dan saat ia mendekat suara gedebuk keras membuat alisnya bertaut. "Sehun?"
"Yak, Jongin airnya mati! Aduduh mataku mataku~!"
"Hei? Kau baik–baik saja?"
"Lantai sialan kenapa kau membuat aku terpeleset sih!"
Jongin mengeryit, apa sih yang dilakukan anak itu di dalam? Kenapa berisik sekali?
"Sehun buka pintunya! Kau baik–baik saja kan?" Jongin mulai panik saat tidak mendengar apapun dari dalam sana, jangan–jangan anak itu pingsan.
Jongin meringis saat bahunya menghantam badan pintu dengan keras. Ia berusaha mendobrak pintunya, persetan jika setelah ini dia harus menggantinya dengan yang baru.
"Sehun–ah!"
Satu detik.
Dua detik.
Mata Jongin terbelalak, dihadapannya saat ini adalah Sehun yang sedang berusaha memakai bathrobe miliknya.
"Jongin?" Sehun berkata pelan, dengan kedua mata sipitnya yang nyaris tertutup menahan pedih.
Jongin masih berdiri terpaku.
"YAK MESUM APA YANG KAU LIHAT HAH? BERBALIK CEPAT BERBALIK!"
Jongin tersentak, dengan cepat membalik tubuhnya, tiba-tiba pikirannya kosong. Sehun menggerutu, soal bagaimana bisa Jongin masuk, kenapa masuk, dan kenapa memandangi tubuhnya seperti itu, sialan— telinga Jongin jengah juga.
"Sudah." Cicitan Sehun, reflek membuat tubuhnya kembali berbalik memandang keadaan Sehun yang sudah terbalut bathrobe dengan benar. Kepalanya menunduk, dengan rambut basahnya yang Jongin yakini belum selesai dibilas.
"Mataku pedih Jongin, dimana aku bisa mencuci wajahku? Rambutku juga belum selesai dicuci! Bagaimana ini?"
Jongin tersenyum tipis, mendengar nada bicara Sehun yang setengah merengek setengah malu. Terdengar menyenangkan ditelinganya.
"Kemari."
Sehun melangkah kecil menghampiri Jongin. Dengan sigap Jongin menggenggam tangan anak itu dan membawanya ke tempat mencuci piring. Setidaknya jalur pipa air keduanya berbeda kemungkinan air disana tidak macet. Jongin akan mengurus hal ini dengan teknisi apartemen nanti, setelah selesai dengan urusan darurat Sehun.
.
.
.
.
Sehun terduduk diatas sofa Jongin dengan nyaman, setelah insiden keran air yang macet tadi Jongin pergi selama hampir limabelas menit mencari teknisi untuk memperbaiki kerusakan pada keran airnya. Sehun menunduk malu, mengingat bagaimana Jongin mendobrak pintu saat dia belum benar–benar memakai bathrobenya. Astaga! Niatnya menghilangkan panas dikepalanya malah bertambah panas berkali lipat.
Suara pintu yang terbuka, membuat Sehun menoleh dan berjalan cepat, "Bagaimana?" Ia bertanya dengan penuh harap.
Jongin mengendikan bahunya, "baru akan di perbaiki besok."
"A–apa? Lalu kau?"
"Mau bagaimana lagi?"
Sehun menggigit bibirnya, memilin ujung baju milik Jongin yang dikenakannya. Menatap Jongin bersalah. "Jo–jongin?"
Jongin menoleh, bergumam lelah.
"Ma–maaf.."
Dahi Jongin mengerut, memandang Sehun heran. "Untuk apa? Merusak shower ku atau membuatku pening seharian?"
Niatnya mencairkan suasana, justru ditanggapi Sehun dengan serius, nada bicara Jongin yang terdengar tajam membuat Sehun semakin menunduk dalam. Bahunya bergetar. "Se–semuanya –huks, ma–maaf Jongin –huks..."
Alis Jongin terangkat, apa dia tidak salah dengar tadi? Anak itu menangis? Jongin gagal paham, kenapa anak itu tiba–tiba jadi sensitif seperti ini?
Rematan Sehun pada ujung bajunya semakin kuat saat tidak mendengar jawaban apapun dari Jongin setelahnya, matanya yang merah dengan lelehan air mata itu memandang Jongin takut.
Jongin menghela napas, "tidak apa–apa. Jangan dipikirkan."
"Eum—"
"Kenapa?"
Sehun menggeleng kuat, rambutnya yang masih basah terayun ke kanan dan kiri dengan cepat. "Ti–tidak ada."
"Kemarilah, kakimu sakit kan, aku dengar kau terjatuh saat dikamar mandi tadi."
Pipi sehun merona hebat, mengatupkan bibirnya rapat, menghampiri Jongin dengan kepala tertunduk dalam. Jongin yang seperti ini membuatnya semakin berdebar tidak terkendali.
Bahunya terlihat hangat. Entah darimana perasaan aneh ini berasal. Sehun merasakan ribuan kupu–kupu yang beterbangan di dasar perutnya —geli, tapi menyenangkan. Bahkan hanya dengan Merasakan genggaman tangan Jongin dipergelangan tangannya saja, ia sudah benar–benar merasa hangat sampai ke dalam hatinya. Ugh—
Dengan lembut, Jongin mendudukannya di pinggir ranjang. "Ti–tidak apa–apa, kau tidak perlu repot mengobati kakiku. Aku bisa mengobatinya sendiri kok!" Sehun mengibaskan kedua tangannya didepan wajahnya.
Namun Jongin tidak bergeming seolah Sehun tidak mengatakan apapun, "Sepertinya kau terjatuh sangat keras. Lututmu memar, pergelangan kakimu terkilir."
"U–ugh itu aku—"
"Pasti sakit sekali."
"Eumm."
Jongin mengoleskan salep dipergelangan kakinya dengan sedikit pijatan lembut.
Krek.
"GYAAAAA! APPOOOO!" Sehun berteriak histeris, ketika Jongin memutar telapak kakinya kuat, sampai–sampai dia merasa tulangnya berputar semua. "Huks sakit bodoh!"
"Itu bisa meringankan sakitnya." Jongin bangkit dari posisinya. Menunduk menatap Sehun yang masih meringis.
"Tapi sakiiittt!"
"Tidurlah." Jongin menghela napas, rasanya ia lelah sekali hari ini. Berjalan ke sisi ranjang satunya, "mau kemana?"
"Eoh, tentu saja tidur."
"Kenapa berjalan kesana?" Dahi Jongin mengerut.
"Ungh itu—aku tidur di sofa saja!"
Jongin terdiam.
"Kalau kau tidak keberatan aku pinjam selimut dan bantal! Itupun kalau kau tidak keberatan, tidak boleh juga tidak—Ya apa yang kau lakukan!" Sehun memekik heboh saat Jongin menariknya dan membaringkannya di atas ranjang. Napas Sehun terhenti sesaat.
"Tidur disini. Aku tidak berniat meminjamkan selimut atau bantal padamu, lupakan soal tidur disofa. Kau tidur disini bersamaku."
Setelah mengatakannya Jongin berbaring di samping Sehun. Merebahkan tubuh lelahnya dan memejamkan matanya, tubuhnya terus berteriak minta diistirahatkan. Kepalanya berdenyut sakit.
"Gomawo." Gumaman lirih dari Sehun membuatnya menarik sudut bibirnya simetris. Gumaman singkat yang terdengar samar dibalik selimut putih itu benar–benar sangat lucu. Entah sejak kapan suara Sehun yang terdengar manis dapat membuatnya tersenyum.
Manis sekali..
.
.
—tobecontinued
.
.
Cuapcuaps: APA INI APA? /sigh.
Full of kaihun kan? Yah meskipun ada yg nyempil sedikit sih.. saya jadi merasa kalo tulisan saya semakin tidak mengalami peningkatan sama sekali, biasa-biasa aja dari dulu..
Makasih buat yang sudah nagih lewat PM i loph you so much! Sering–sering aja nagihin saya lewat PM, biasanya lebih berpengaruh /aslinya modus xD/
Tadinya mau membuat yg agak menjurus ehh malaikat dalam diri saya langsung ingetin kalo ini bulan puasa xD
P.S : Ada yg mau rekomen manga shounen–ai ke saya? Yg ukenya imut kaya Sehun? Saya sedang bosannnnnn...
Review?
[4 Juli 2015 – Rilakkumahun]
