Nami : gomen baru bisa update, terima kasih kepada semuanya terutama Azarya senju, karena sudah memberi motivasi saya. Saya akan berusaha untuk membuat fanfic yang lebih baik lagi.

Happy reading!^_^

Disclaimer by Masashi Kishimoto

Inspired by Drakor Boys Before Flowers

Pairing : NaruSaku slight NaruHina, SaiIno & NejiTen

Rated : T

Genre : Drama & Friendship, Romance, little bit humor(sewaktu-waktu bisa berubah)

Warning : Newbie, OOC, Typos, Boring, Mainstream, Gaje etc.

Jangan di baca kalau tidak suka!

Story by NamiKura10

^…

"4Q{Four Queen}"

^…

"Jadi beneran kamu mau menginap di sini?" Kushina menatap Sakura dengan berbinar.

'Kalau bukan karena terpaksa, mana mau aku menginap di rumah kecil ini', Sakura menampilkan senyum termanisnya "tentu saja bibi, saya ingin menginap di sini semalam saja. Apa boleh?".

"Kyaaa...tentu saja kau boleh menginap di sini, bibi senang sekali karena kamu mau menginap di sini" Kushina menerjang Sakura dengan pelukkan erat, ia begitu bahagia putri Haruno mau menginap di rumah kecilnya.

"A-aduh...bibi t-terlalu erat" Sakura merasa sesak akibat pelukkan erat Kushina.

Kushina melepaskan pelukkannya sambil nyengir, "ah...maaf, bibi terlalu bahagia".

"Tapi aku tidak setuju kalau dia menginap di sini"

Sakura dan Kushina yang tengah tertawa bersama mengalihkan pandang ke arah Naruto yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Dia bersedekap angkuh sambil menatap Sakura dengan tajam.

"Meskipun kaa-chan mengizinkan dia menginap di sini, tapi aku tidak" ujarnya dengan serius, "apa kaa-chan tidak memikirkan kalau dia adalah teman perempuanku, bukankah tidak baik teman perempuan menginap di rumah teman lelakinya?".

'Gawat...dia bisa mengagalkan rencanaku untuk bersembunyi, aku harus bertindak' Sakura bangkit dari duduk bersilanya di atas lantai kayu ruang tengah dan melangkah mendekati Naruto yang tengah berdiri angkuh. "pokoknya kau harus mengizinkanku menginap di sini!" Ia menatap Naruto dengan tajam, setelahnya ia mendekatkan bibirnya di telinga Naruto "dengar!, kau harus mengizinkanku menginap di sini, kalau tidak mau kau di DO dari Konoha Gakuen" bisiknya penuh penekanan seakan ancamannya tidak main-main.

Naruto mendengus, ia membalas tatapan tajam Sakura dengan tak kalah tajamnya. "Aku tetap tidak mengizinkan dia menginap di sini, titik".

"Sudah..sudah..masa baru pacaran dua hari sudah sering bertengkar" Kushina menhampiri mereka berdua, mencoba melerai.

'Hii...cowok menyebalkan' ia pun berbalik menghampiri Kushina, "bibi...bibi mengizinkanku kan?" Ia menapat Kushina dengan wajah memelas sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. "Aku mohonn.."

Kushina tersenyum, "tentu saja bibi mengizinkanmu, sudah..jangan hiraukan 'pacarmu' itu. Hm.." ia merangkul bahu Sakura dan membawanya kembali ke tempat sebelumnya.

Sebelum beranjak, Sakura sempat menjulurkan lidah dan menampilkan ekspresi konyolnya untuk Naruto.

'Sial...gadis aneh itu sudah mempengaruhi kaa-chan'

Pukul 16.15

"Kemana Sakura-sama, sudah satu jam aku menunggu di sini. Namun dia belum muncul juga" Yamato tampak celingukkan di samping mobilnya yang tengah parkir di halaman depan sekolah.

Ring...ring...

"Moshi-moshi Mebuki-sama" Yamato mengangkat panggilan dari sang majikan.

"Yamato...apa kau sudah membawa Sakura ke salon?"

"Em...s-sebenarnya sedari tadi saya masih menunggu Sakura-sama di sekolahan" ia merasa takut kalau-kalau ia di marahi sang majikan.

"Apa?...memangnya dia belum muncul?" Suara di seberang sana terdengar kaget.

"Belum Mebuki-sama"

"Kalau begitu coba kau cari dia di dalam sekolah, atau kau tanyakan kepada guru atau temannya. Cepat!"

"Baik Mebuki-sama" setelah sambungan terputus, Yamato segera memasuki sekolah.

Pukul 16.35

"Bibi...aku boleh meminjam baju?" Setelah mandi, ia kembali mengenakan seragamnya. Namun ia tidak nyaman karena bau keringat di seragamnya.

"Nee-san mau memakai baju Sara?" Ia sangat ingin Sakura mau meminjam bajunya.

Sakura tersenyum mendengar permintaan Sara, ia menjulurkan tangan. "Kamu bercanda?" Ia mengacak surai merah Sara yang di kuncir rapi hingga membuatnya berantakan, "mana muat baju kamu nee-san pakek" ia tersenyum lembut ke arah Sara.

Sara mengerucutkan bibir dan mengembungkan pipinya sambil bersedekap, ia tengah ngambek sekarang.

Melihat ekspresi Sara seperti itu membuat dirinya sangat gemas dan ingin mencubit pipinya yang gembil itu.

"Sara...mana mungkin bajumu muat bila di pakai olehnya, yang ada malahan bajumu akan rusak karena badan gemuknya itu" Naruto yang sedari tadi tengah sibuk menyetrika baju loundry, tampak ikut menimbrung pembicaraan Sakura dan Sara.

Sakura mengalihkan pandang ke arah Naruto dan melayangkan tatapan tajamnya.

"Sudah...sudah!. Sakura-chan, kamu boleh memilih baju yang baru saja Naruto setrika yang menurutmu nyaman kamu kenakan!" Kushina yang sedari tadi tengah mengeringkan baju loundry di mesin pengering akhirnya membuka suara.

"Kaa-chan..apa yang kaa-chan katakan?, aku sudah menyetrikanya dengan rapi. Dan kaa-chan mau meminjamkannya kepada dia, sia-sia dong aku menyetrika" protes Naruto tak terima, bagaimana bisa ia menyetrikanya sampai lelah dan sang ibu mau meminjamkannya.

"Naruto tenanglah! Lagi pula baju-baju itu masih lama kok di ambilnya. Sudahlah Sakura-chan kamu tinggal pilih, tidak usah pedulikan pacarmu ya!" Kushina tersenyum ke arah Sakura.

Sakura balas tersenyum, kali ini adalah senyum tulus. "Terima kasih bibi"

Naruto yang kesal karena di abaikan, memilih meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai dengan kesal. Namun sebelum beranjak, ia sempat memberikan tatapan tajam kepada Sakura.

Sakura yang mendapat tatapan tajam itu malah terkikik geli, merasa lucu dengan sikap Naruto. 'Jadi dia hanya akan kalah dengan ibunya, lucu juga'.

"Sudahlah nee-san, jangan pedulikan nii-chan. Dia memang seperti itu jika sedang kesal"

Sakura hanya tersenyum mendengar penjelasan Sara, 'sepertinya akan menjadi persembunyian yang menyenangkan' batinya menyeringai.

Pukul 17.15

"Bagaimana..kau sudah menemukan Sakura?" Mebuki tampak berjalan mondar mandir di sebuah ruangan luas yang terdapat kasur dan lemari pakaian, ia tengah di pusingkan oleh putrinya.

"Belum Mebuki-sama, saya sudah mencarinya ke seluruh sekolah dan apartemenya. Namun tidak di temukan, dan bodyguard anda melaporkan kepada saya bahwa mereka juga tidak menemukan Sakura-sama di rumah sahabatnya maupun tempat favoritnya"

"Pokoknya kau harus mencarinya sampai ketemu!"

"Baik Mebuki-sama"

Mebuki kembali berjalan mondar-mandir sambil menggerutu, "Sakura..kamu di mana?, ibu sangat khawatir" ia tengah gelisah dan takut kalau terjadi sesuatu dengan putri kesayangannya.

Pip...

Suara tanda pesan masuk dari handphonenya berbunyi, ia pun kembali fokus dengan handphonenya. Tiba-tiba ia tersentak melihat siapa yang mengirim pesan "Sakura..." gumamnya kaget, karena sedari tadi ia coba menghubunginya namun tidak bisa.

Ibu maaf, hari ini aku sedang ada tugas sekolah yang sangat penting dengan temanku. Jadi malam ini aku akan menginap di rumah temanku, jangan khawatir! Temanku perempuan kok. Semoga makan malamnya menyenangkan :-)

Mebuki terpaku setelah membaca pesan dari Sakura, sedari tadi ia gelisah memikirkan keadaannya. Namun dia "Sakuraaa..." entah apa yang akan terjadi dengan Sakura setelah ia pulang nanti.

"Aduh...batrei handphoneku habis, powerbankku juga habis. Dan aku lupa tidak bawa charger, gimana nih?"

"Ada apa nee-san?" Sara yang baru saja keluar kamarnya, heran melihat Sakura yang tengah duduk di ruang tengah tampak binggung sambil mengotak-atik handphonenya. Ia pun melangkah mendekatinya.

"Ah...Sara-chan, kau punya charger untuk hp seperti ini?" Sakura menunjukkan handphonenya kepada Sara.

"Maaf nee-san, kami tidak punya charger hp seperti itu. Tapi nii-chan punya charger batrei, cara menggunakannya batrei hp di copot dan di pasang pada chargernya. Begitu" jelas Sara, "tapi aku tidak bisa mengambilkannya sekarang, karena kaa-chan memintaku untuk membantunya di dapur. Jadi kalau nee-san mau, nee-san bisa ambil sendiri di kamar nii-chan. Baiklah..aku pergi dulu" Sara pun berlalu meninggalkan Sakura.

"Hahh~…jadi aku harus mengambilnya sendiri di kamar cowok menyebalkan itu" dengan ogah-ogahan ia bangkit lalu melangkah menuju kamar Naruto setelah meletakkan handphonenya di atas lantai kayu yang tadi ia duduki.

Ia melangkah pelan sambil celingukkan, takut-takut kalau tiba-tiba dia muncul. Saat tiba di depan pintu kamar Naruto, ia kembali menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Setelah memastikan, ia membuka pintu kamar dengan pelan.

Sreeekkkk...

Setelah masuk ke dalam, ia kembali menutup pintunya dengan pelan juga. "Wow...untuk kamar seorang pemuda miskin, ini cukup rapi juga" pujinya setelah memandang setiap sudut kamar Naruto.

"Oke...sekarang di mana dia meletakkan chargernya?" Ia mulai mencari dari meja nakas kecil di samping rak buku, dan ia tidak menemukannya. Ia beralih ke rak buku, ia mengeledah setiap tempat yang ada di rak buku. "Apa ini?, banyak sekali" ia melihat bertumpuk-tumpuk amplop yang tersusun rapi di dalam laci rak buku bahkan lacinya sampai tak muat, "ternyata surat dari fans, tak kusangka dia terkenal juga" ia mengambil satu amplop dan membukanya, lalu mengambil isinya dan membacanya "ahaha...gadis centil itu bisa juga merayu, lucu sekali" ia tertawa lepas setelah membaca isi surat yang di tulis oleh Shion.

"Ehem...sudah selesai tertawanya?"

Sakura terpaku mendengar suara baritone yang akhir-akhir ini ia hafal, dengan gerakkan patah-patah ia menoleh ke asal suara. Tampak Naruto berdiri bersandar di ambang pintu sambil bersedekap dan menatapnya dengan tajam.

"K-kau...k-kapan kau berada di situ?" Ujarnya dengan gugup, dengan cepat ia beralih kepada surat Shion. Ia kembali melipat dan memasukkan surat itu pada amplopnya lalu meletakkanya ke dalam laci yang penuh amplop tadi dan menutupnya. Setelahnya ia berbalik memunggungi Naruto dengan perasaan gugup dan malu.

Tak menjawab pertanyaan Sakura, ia malah kembali bertanya "apa yang kau lakukan di kamarku?" Masih tetap dengan posisinya, dengan tatapan tajam yang ia layangkan ke punggung Sakura. Ia bertanya dengan nada serius.

Mendengar Naruto bertanya dengan nada seriusnya, membuat ia semakin gugup bahkan berdebar-debar. "A-aku tadi sedang mencari charger batrei, tadi Sara mengatakan kalau charger batreinya berada dalam kamarmu. Dia tidak bisa mengambilkannya, karena ia sedang sibuk membantu bibi. Jadi dia menyuruhku untuk mengambilnya sendiri, b-begitu" jelasnya dengan sedikit gugup.

Naruto menaikkan sebelah alisnya, "benarkah?" Tanyanya kurang percaya dengan jawaban Sakura. 'Pasti dia punya niat buruk untukku dengan memasuki kamarku'

Sakura di buat geram dengan keadaan ini, ia harus segera pergi dari sini sekarang juga. "B-benar, baiklah karena kau sudah ada di sini. Tolong kau carikan chargernya untukku ya!" Ia pun membuka matanya dengan terpaksa, dan berbalik melangkah menuju pintu dengan wajah menunduk. Ia berhenti melangkah untuk keluar kamar karena terhalang oleh Naruto "b-bisa tolong m-menyingkir!" Pintanya masih dengan wajah menunduk.

Bukannya menyingkir, Naruto malah menutup pintu kamarnya.

Sraakkk...

Mendengar suara pintu di tutup, spontan membuat dirinya mendongak dengan ekspresi terkejut melihat pintu kamar yang tertutup. Ia mengalihkan pandangan ke arah Naruto yang tampak biasa-biasa saja dan menatapnya dengan intens, "a-apa yang kau lakukan?".

Naruto bergeming, ia melangkah perlahan mendekati Sakura dengan pandangan fokus ke wajah Sakura.

Refleks, Sakura memundurkan diri saat Naruto terus melangkah mendekatinya. Ia semakin menunduk dan memejamkan matanya dengan rapat, ia di buat gugup dan takut dengan sikap Naruto yang berubah secara tiba-tiba. "A-apa y-yang i-ingin kau l-lakukan p-padaku?" Tanyanya dengan suara bergetar karena gugup, bahkan tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia terus melangkah mendekati Sakura, sampai punggung gadis itu menabrak lemari pakaiannya. Ia mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Sakura "apa tujuanmu menginap di rumahku?" Bisiknya dengan tajam.

Masih dengan wajah menunduk, ia menjawab "b-bukan urusanmu". Entah mengapa ia tidak berani mendongak?, mungkin karena 'keadaan' Naruto.

Naruto semakin menajamkan pandangannya kepada Sakura, "ini juga menjadi urusanku, karena kau menginap di rumahku. gadis aneh" bisiknya penuh penekanan, seakan dirinya juga memiliki urusan ini.

Sakura yang mendengar panggilan Naruto untuknya, refleks ia mendongak. Dan memberikan tatapan tajam untuk Naruto, "apa kau bilang tadi?" Ujarnya sedikit membentak, ia tidak terima jika harus di katai 'gadis aneh'.

Blue sapphire tampak terpaku dengan emerald, bahkan katup matanya tak bergerak sama sekali. Ia terpesona dengan keindahan emerald, "cantik" gumamnya tanpa sadar.

Sakura bersemu mendengar gumaman Naruto yang tengah terpaku dengan maniknya, ia kembali menunduk menyembunyikan wajah bersemunya "a-apa yang kau katakan?" Ia semakin gugup.

Naruto tersadar setelah mendengar pertanyaan Sakura, ia gelagapan. Ia merasa malu karena tanpa sadar menggumamkan sesuatu yang membuat Sakura kegeeran, "a-apa yang aku katakan?, dasar gadis aneh" ujarnya sambil mengalihkan pandang dari Sakura.

Sakura geram, "kau.." bentaknya sambil menodongkan telunjuknya di depan wajah Naruto dengan tatapan tajamnya.

Naruto balik memandang Sakura dengan tajam, "apa?" Tantangnya dengan bersedekap.

Sakura semakin di buat geram "Kau ben-...", ia menghentikan ucapannya ketika merasakan sesuatu yang lembut menimpa kaki telanjangnya, ia bergerak menunduk dengan ekspresi horor. "kyaa..." ia sangat syock setelah mengetahui sesuatu yang terjatuh di atas kakinya, ia pun segera menaikkan wajah dan menyingkir dari hadapan Naruto menuju pintu kamar. Ia membuka pintu dan bergegas keluar dari kamar tanpa menutupnya.

Naruto menatap kepergian Sakura dengan terheran, "ada apa dengan gadis aneh itu?" Ia menggelenkan kepala. 'Ada-ada saja' lalu tanpa sengaja pandangannya terarah di depan kaca lemarinya, matanya melebar ketika mengetahui keadaannya di pantulan kaca. Ia pun segera memakai handuknya kembali yang terlepas dari pinggangnya.

"sial...kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi, untung saja aku sudah memakai celana dalam" rutuknya. Ia sangat malu saat ini, "jangan-jangan sedari tadi Sakura menahan malu karena melihatku setengah telanjang, sial...bagaimana aku tidak menyadarinya? ah...sudahlah, lagipula dia tidak melihatku telanjang kan?" ia mengendihkan bahu tak peduli, ia lalu berjalan menuju pintu dan menutupnya.

Ia mengambil nafas dengan pelan melalui hidung dan menghembuskannya, ia berusaha menghilangkan rasa gugupnya. 'Cowok menyebalkan itu benar-benar...' batinnya masih merasa kesal.

"Sakura-nee...sudah mendapatkan chargernya?"

Kedatangan Sara yang tiba-tiba di depannya, membuatnya tersentak. "Eh...Sara-chan"

"Ada apa dengan nee-san?" Sara merasa heran dengan sikap aneh Sakura.

Sakura gelagapan, "ah...t-tidak ada apa-apa kok" ujarnya dengan gugup. 'Sial...ini semua gara-gara cowok menyebalkan itu'

"Owh...kalau begitu ayo kita masuk!, sebentar lagi akan makan malam" tadi ia di suruh sang ibu untuk menjemput Sakura yang tengah berada di halaman depan rumah.

"Baiklah", 'semoga nanti baik-baik saja'

Pukul 18.30

"Ehm...kalian berdua tidak makan?" Kushina memutuskan bertanya setelah beberapa menit melihat Naruto dan Sakura tampak saling terdiam dan tak menyentuh makanan.

Mereka berdua tersadar dari fikiran masing-masing setelah mendengar suara Kushina.

"Tentu saja aku akan makan" jawab Naruto dengan ketus, lalu mengambil mangkuk nasinya dan menyumpit beberapa lauk dan melahapnya dengan pelan.

Kushina menggelengkan kepalanya melihat kelakuan putranya, ia beralih memandang Sakura. "Sakura-chan...kamu tidak makan?" Ia merasa bingung melihat Sakura tampak terdiam dengan memandang makanan di depannya. Ia pun menyentuh bahu Sakura dengan pelan "Sakura-chan.." panggilnya dengan lembut.

Sakura sedikit tersentak merasakan sentuhan di bahunya, ia memandang Kushina "eh...bibi?"

Kushina tersenyum "kamu kenapa?, apa kamu di apa-apain sama Naruto?".

"Eh..." pipinya tiba-tiba bersemu mengingat kejadian tadi, "t-tidak kok bi" ia kembali menunduk "hanya saja saya mengingat setiap kali saya makan malam, saya selalu sendirian dan hanya di temani oleh maid".

Naruto tampak kaget mendengar Sakura tiba-tiba bercerita tentang dirinya kepada keluarganya. Padahal kata Hinata, Sakura sangat tertutup soal hal pribadinya.

"tidak usah bersedih begitu, kalau begitu gunakan waktu makan malam ini dengan kami sebaik-baiknya. Hm?" Kushina melayangkan senyumnya untuk Sakura.

Sakura mendongak menatap Kushina dengan tersenyum, "hm.." ia mengangguk antusias.

"Ittadakimasu.."

Sakura pov

Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini lagi semenjak dua tahun yang lalu, sejak nenekku meninggal.

Setiap kali makan malam, kami selalu berkumpul di meja makan. Ada ayah, ibu, Sasori-nii, aku, dan juga nenek.

Aku sangat merindukan saat-saat seperti itu lagi. Dan saat ini aku merasakannya kembali, namun bukan dengan keluargaku tetapi dengan keluarga cowok menyebalkan yang baru aku kenal seminggu yang lalu.

Entah mengapa aku sangat bahagia dengan keluarga ini, keluarga yang begitu ramah dan damai. Aku menjadi iri dengan cowok menyebalkan ini, dia hidup sederhana namun bahagia. Sedangkan aku...?.

Penderitaanku di mulai semenjak nenek Chiyo meninggal, semuanya berubah. Ayah selalu sibuk dengan harta warisan peninggalan nenek, sedangkan ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Mereka berdua tak pernah memiliki waktu untukku, bahkan untuk makan malam saja tidak punya.

Sedangkan Sasori-nii dengan terpaksa harus meninggalkanku ke Amerika untuk mengurus cabang kantor Haruno Group, hanya kakakkulah yang selama ini mempedulikanku dan mengerti diriku. Meskipun dia berada jauh, dua kali dalam sehari dia akan menghubungiku. Cuma dia yang saat ini aku sayangi, aku sangat merindukan kakakku itu.

Aku sangat membenci ayah dan ibu, mereka tidak menyayangiku. Mereka selalu suka mengatur kehidupanku, dan aku tidak suka hal itu. Bahkan mereka juga sudah menjodohkanku tanpa meminta pendapat dariku, benar-benar orang tua yang menyebalkan.

Entah bagaimana acara makan malam nanti tanpa diriku, kata ibu jodohku nanti akan datang. Biarkan saja, toh aku sudah pernah bertemu dengan jodohku itu.

Jujur, aku lebih suka di sini daripada berada di restaurant mewah menyantap makanan mahal dan mengobrol hal yang membosankan bagiku.

Ini adalah persembunyian yang menyenangkan dan 'menegangkan'.

Sakura pov end

Pukul 19.15

"Maaf kami datang terlambat"

Kizashi dan Mebuki bangkit dari duduknya setelah melihat keluarga yang sedari tadi mereka tunggu.

"Ah...Mikoto-san, tidak apa-apa. Lagipula kami juga baru tiba" Mebuki tampak sumringah melihat keluarga Uchiha telah tiba. Ia menyambut Mikoto dengan pelukkan hangat.

"Lho..di mana calon menantuku?" Mikoto tampak mencari keberadaan sang gadis bersurai soft pink.

"Ah...maaf, Sakura tidak bisa hadir. Dia harus rajin belajar karena dua minggu lagi dia di tunjuk untuk mewakili Konoha Gakuen dalam olimpiade matematika se-Asia" Mebuki tampak tersenyum paksa, ia merasa tidak enak.

"Wah...Sakura memang gadis yang sangat pandai, sangat cocok dengan Sasuke yang cerdas" puji Mikoto.

"Iya...lalu di mana calon menantuku?" Mebuki celingukkan mencari Sasuke.

"Ah...dia juga tidak bisa datang karena harus mengurus kepindahannya di Konoha Gakuen" ujar Mikoto.

"Ah...syukurlah kalau begitu, jadi dia juga tidak merasa tersinggung karena Sakura tidak hadir. Baiklah...ayo silahkan duduk" Mebuki mempersilahkan Mikoto dan Fugaku untuk duduk. 'Huft...syukurlah'

"Maaf Sai, aku tidak bekerja malam ini"

"Kenapa?, apa kau sudah izin?"

Naruto melirik Sakura yang berada di sampingnya yang tampak serius mempelajari bukunya. "Tenang saja! Aku sudah izin dengan bos tadi. Em..Ada sebuah masalah di rumahku".

Di sela keseriusannya, Sakura mengerutkan keningnya mendengar ujaran Naruto.

"Masalah?"

"Hm...ada orang asing yang memaksa untuk menginap di rumahku" ujar Naruto dengan enteng.

Seketika Sakura mengalihkan pandang ke arah Naruto di sampingnya, ia menatapnya dengan tajam.

"Orang asing?"

"Ah...maksudku-..."

Belum selesai dia berujar, handphonenya telah di rebut oleh Sakura dan mematikannya.

Hal itu membuat Naruto marah "Hei...apa yang kau lakukan?" Ia menatap Sakura dengan tajam.

Sakura balas menatap Naruto tajam, "sedari tadi aku serius belajar, sedangkan kau enak-enakan berhubungan dengan pacarmu".

"Apa kau bilang?, aku ini bukan gay ya"

"Benarkah?, aku dengar tadi kau mesra sekali saat berbicara dengan pacarmu"

Naruto geram "d-dia bukan pacarku, dia sahabatku"

"Benarkah?"

"Kau-..."

"Sudah...sudah...bukankah nii-chan dan nee-san mau belajar?, kok malah bertengkar sih. Aku kan jadi tidak bisa berkonsentrasi" Sara yang sedari tadi juga belajar merasa terganggu dengan keributan kakaknya dan 'pacarnya'.

Saat ini mereka tengah berada di ruang tengah, sedang belajar bersama.

Sara sendiri tidak mengerti, bagaimana bisa mereka berpacaran. Kalau mereka sering bertengkar. 'Huh...pasangan yang aneh'

Mendengar teguran dari Sara, membuat mereka berhenti bertengkar.

"Apa kau tidak malu di tegur oleh adikmu?" Bisik Sakura.

"Berisik..." Setelah mengucapkan kekesalannya, ia kembali berkutat dengan buku-bukunya.

"Hihihi..." Sakura terkikik melihat ekspresi Naruto yang kesal.

Naruto menoleh ke arah Sakura dengan cepat, dan melayangkan tatapan tajamnya untuknya.

Sakura malah tertawa mendapat tatapan tajam dari Naruto.

"Kau benar-benar gadis aneh" ejeknya, lalu kembali berkutat dengan bukunya.

Sakura hanya mengendihkan bahu sambil terkikik, ia tidak ingin menanggapi. Entah kenapa hari ini ia memang merasa 'aneh' dengan dirinya, biasanya ia akan mudah marah jika ada yang mengejek atau menganggunya. 'Kurasa hari ini aku memang aneh'

Pukul 21.30

Tampak di sebuah kamar kecil berisi lemari, rak buku, dan meja nakas kecil di dalamnya, terdapat dua orang gadis yang tengah berbaring berdempetan. Gadis bersuara merah tampak sedari tadi telah tertidur dengan pulas, sedangkan gadis bersurai soft pink tampak masih terjaga.

Sakura tampak tidak nyaman tidur di kasur lantai yang tipis, ia merasakan sakit pada punggungnya. Bahkan ia merasa gerah karena tidak ada ac dalam kamar ini, kipas angin saja tidak cukup membuatnya sejuk.

Ia yang tidak tahan, segera bangkit dan keluar dari kamar Sara.

"Di sini lumayan sejuk juga, tidak apalah aku tidur di sini"

Ia kembali memasuki kamar Sara untuk mengambil kantung tidur dan bantal, dan merentangnya di lantai ruang tengah.

"Aku tidur di sini saja" ia lalu memasuki kantung tidur, dan merebahkan diri. Dan berusaha untuk tidur.

Sreekk...

Naruto tersentak melihat seseorang tengah tertidur di ruang tengah, ia melangkah mendekati orang itu. Ia berjongkok di samping kepala Sakura.

"Kenapa dia tidur di luar?"

Ia ingin membangunkan Sakura untuk bertanya, namun tidak tega saat melihat gadis itu tertidur dengan pulas.

Gadis itu tertidur dengan wajah menghadap ke arahnya, wajahnya tampak polos jika sedang tertidur.

Naruto memperhatikan setiap lekuk wajah Sakura dengan intens. Mata yang terpejam itu kerap kali menampilkan tatapan tajam untuknya, hidung mungil nan lancip, dan bibir tipis nan ranum itu juga kerap kali mengeluarkan kata-kata pedas untuknya. Bahkan karena bibir itu, ia kehilangan ciuman pertamanya.

Tanpa sadar Naruto terus memandang bibir Sakura dengan intens, ia menggerakkan kepalanya lebih dekat dengan wajah Sakura. Ia memiringkan kepala, dan...

Cupp...

Tanpa sadar ia mengecup bibir Sakura sedikit lama. Entah apa yang membuatnya melakukan hal ini, ia merasakan sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk melakukan ini.

Ia tersadar, dan segera menarik wajahnya dari Sakura. 'A-apa yang aku lakukan?' Gumamnya dengan gugup, ia tidak mengerti kenapa ia bisa melakukan hal itu.

Dengan wajah bersemu, ia segera bangkit meninggalkan Sakura. Tujuan awalnya ingin mengambil air untuk minum, malahan ia terjebak dengan pesona Sakura yang tengah tertidur. Ia lalu melangkah menuju dapur dan mengambil minum. Setelahnya ia kembali menuju kamar. Sebelum memasuki kamar, ia sempat memandang Sakura sejenak. "Dasar gadis aneh"

Kamis, 16 februari 20xx

Pukul 05.30

Naruto terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara alarm yang memekakkan telinganya, ia mengerakkan tangan kesamping kepalanya untuk mematikan jam alarmnya.

"Sial...gara-gara kepikiran kejadian tadi malam aku tidak bisa tidur semalam, semoga hari ini penderitaanku berakhir"

Dengan malas-malasan, ia bangkit dari tidurnya. Dan melangkah keluar kamar menuju kamar mandi.

"Ohayou nii-chan.." sapa Sara yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Hm..." balas Naruto dengan malas, ia menyeret kakinya menuju kamar mandi.

Pukul 06.15

Sreekk...

Naruto keluar kamar dengan berseragam lengkap khas Konoha Gakuen plus tas ransel tersampir di bahu kanannya, Ia tampak keren dan tampan seperti biasanya.

Ia melangkah mendekati sang ibu yang tengah menyiapkan roti, selai dan susu untuk sarapan, "kaa-chan, di mana Sakura?. Kok aku tidak melihatnya sedari tadi" tanyanya setelah duduk bersila di depan meja.

"Kenapa nii-chan menanyakan Sakura-nee?, nii-chan ngak rela ya kalau nee-san pulang" Sara mencoba menggoda sang kakak.

"Siapa juga yang ngak rela, malahan aku ngak rela jika dia menginap di rumah ini" elak Naruto.

"Sudah...sudah... tadi pagi-pagi sekali dia minta di antar tou-chanmu pulang" jelas Kushina sambil mengoleskan selai pada roti.

"Owh..." responnya tak peduli, ia melahap rotinya dalam diam. 'Semoga dia tidak tau kejadian semalam'

Pukul 06.45

'Sebenarnya aku masih penasaran, apa tujuan Sakura menginap di rumahku?'

Naruto melangkah tenang melewati koridor lantai dua gedung A, ia memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana dengan earphone yang menyumbat ke dua telinganya.

Ia tampak melangkah dengan pandangan kosong ke depan, dan fikiran di penuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang Sakura.

Bukk...

Tanpa ia Sadari, ia telah menabrak bahu seorang siswa. "Ah...maaf" ia meminta maaf kepada seorang pemuda bersurai raven dengan model emo dan bermata onyx.

Pemuda itu hanya tersenyum tipis menanggapinya, setelahnya pemuda itu berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun untuknya.

"Pemuda dingin" meskipun sedikit kesal dengan pemuda itu, namun Naruto lebih memilih melanjutkan langkahnya menuju kelasnya.

'Siapa pemuda itu?, aku tidak pernah melihatnya'

To Be Continued

A/N : kyaa...gomen baru bisa update, ini semua gara-gara hp lowbet. Padahal pengetikannya hampir selesai, namun tiba-tiba filenya hilang. Dan aku harus mengetik ceritanya lagi dari awal, bener-bener ingin nangis. inginnya update cepat malahan file hilang, bener-bener penuh perjuangan. Semoga ceritanya di chap ini menghibur ya!

Terima kasih karena sudah banyak yang suka dengan fanfic saya ini.

Arigatou...

Salam Dattebayou by NamiKura10