Your Eyes

Author: Kyusung

Main Cast: YeWook

Typo adalah sebuah kesalahan yang manusiawi ._.v

Dan Fanfict ini bukanlah cerita yang sempurna

Gender Switch

Rated: T

JUST IMAGINE OF AUTHOR

RnR Please

Don't like, Don't read

x Chapter 7

Seorang pelayan mendekati meja yang Yesung duduki. "Mau pesan apa tuan?" tanya pelayan itu ramah.

"Americano Coffee." Jawab Yesung singkat.

"Ne, tunggu sebentar ya tuan." Yesung hanya mengangguk dan pelayan itu mulai undur diri dari hadapannya.

Yesung menatapi setiap sudut café tersebut. 'Bocah itu punya selera yang tinggi juga. Walau tempat ini tempat yang terlihat sederhana, tapi jika di lihat – lihat cukup menarik juga.' Batin Yesung sambil terus menatapi setiap sudut café itu.

"Ini pesanan anda tuan." Pelayan tadi kembali dengan mengantarkan secangkir panas Americano Coffee yang tadi Yesung pesan. Yesung lagi – lagi hanya mengangguk dan segera menyesap minumannya. Rasa hangat serta merta menjalar dalam tubuhnya.

10 menit.

20 menit.

30 menit.

1 jam.

Isi dalam cangkir Yesung hamper kosong, dan ia mulai tak sabar lagi untuk menunggu yeoja yang sedari tadi di tunggunya. Ia benar – benar merasa sudah cukup sabar untuk menunggu yeoja mungil itu.

Yesung menatap jam yang melingkar di tangannya. Sekarang pukul 4 sore. Tapi, Ryeowook tak kunjung datang. Bukankah sekolah sudah usai dari 1 jam yang lalu?

"Aish, bocah ini kemana sih? Aku sudah 1 jam menunggu dan ia tak datang?" Yesung mendengus kesal.

Yesung akhirnya memutuskan untuk meninggalkan café sederhana itu. Dan mungkin besok ia akan memaki yeoja yang tak memenuhi janjinya itu.

Kriiinnnggg.

Yesung meraih handphone yang di letakkan di jaketnya. Sebuah pesan.

From: 성민

Tittle: -

Oppa, apa Wookie bersama mu? Sampai saat ini ia belum pulang. Dan, kata teman – temannya tadi sejak waktu istirahat usai, ia tak kembali ke kelas. Aku khawatir padanya. Tolong kabari aku jika kau bersamannya. Gomawo~

Yesung terdiam membaca pesan dari Sungmin. Yeoja itu belum pulang? Tidak kembali ke kelas. Dia kemana?

Tanpa pikir panjang, Yesung segera memacu mobilnya. 'Kau kemana lagi sih, bocah?'

.

.

.

Ryeowook membuka matanya. Secerca sinar matahari yang masuk melalui ventilasi gudang cukup untuk membuat matanya menyipit mencoba mengurangi frekuensi sinar yang bisa saja membuat matanya iritasi.

"Ah, sudah sore ya?" Ryeowook sedikit menggeliat untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Walau gerakan itu hanya sebatas meluruskan kakinya, tapi itu cukup membantu. "Masih terikat? Ah, yeoja – yeoja itu memang lebih kejam dari penyihir yang ku lihat di kartun." Ryeowook mengerucutkan bibirnya.

Ryeowook mulai menyisirkan pandangannya ke seluruh ruangan yang gelap itu. Berharap, ia menemukan suatu barang berharga yang dapat mengeluarkannnya dari tempat ini. Ryeowook memicing sebuah benda yang tergeletak di dekat kakinya, sebuah pecahan kaca.

Susah payah ia mencoba berdiri dan berjalan kea rah pecahan kaca tersebut. Dengan hati – hati, ia meraih pecahan tersebut dan mulai menggoreskannya pada tali yang mengikatnya dengan cukup kuat.

"Akh…" erang Ryeowook. Yap, pecahan itu berhasil menorehkan sebuah luka yang cukup dalam pada permukaan tangannya. "Sedikit lagi Kim Ryeowook. Tahan…" Ryeowook menyemangati dirinya sendiri.

Talinya terputus.

"Ah akhirnya. Oh, berdarah?" Ryeowook menatapi luka yang ada di tangannya. Ia melepaskan dasinya, lalu membalut dasi itu pada lukanya. "Berguna juga." Ia tersenyum menatap balutan dasi itu di tangannya. "Ah, keluar!" Ryeowook berlari kea rah pintu lalu mebuka knopnya.

Cklekcklek. Terkunci.

"Ah, bagus sekarang masalahnya pintu in terkunci." Ryeowook menjatuhkan dirinya ke lantai, bersandar pada pintu.

"Aish, apa yang akan kulakukan sekarang? Handphone ku pun tak ku bawa. Hah~" Ryeowook menatap ke atas langit – langit gudang. "Kenapa ku tak bisa menjauhinya? Dan merelakan diriku di siksa demi dia. Apa aku mulai…."

"Ryeowook! Kau di dalam? Jawab aku!"

.

.

.

Yesung memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia harus cepat menemukan yeoja itu sebelum sesuatu yang tak di inginkan menimpa gadis itu.

Yesung menggenggam setirnya kuat. "Bertahanlah bocah, apa pun yang terjadi padamu, ku mohon bertahan…"

.

.

.

Seorang namja dengan mantel tebal yang menutupi tubuhnya berlarian di lorong sekolah. Ia menengok ke berbagai ruangan yang ada di sepanjang lorong tersebut. Ia Nampak gelisah dengan tetesan – tetesan keringat yang membasahi dahinya. Dia Yesung.

Yesung menghentikan langkahnya. Ia melihat sepasang yeoja dan namja yang kini tengah mengedor – gedor pintu gudang sekolah.

"Apa mereka gila? Tak ada kah acara lain sehingga harus menggedor – gedor gudang seperti itu?" cibir Yesung.

"Ryeowook! Kau di dalam? Jawab aku!" namja itu berteriak keras. Yesung bisa mendengar teriakan itu dengan jelas. Dia bilang Ryeowook?

Tanpa pikir panjang, Yesung melangkahkan kakinya menghampiri yeoja dan namja tersebut. Ternyata namja itu namja yang tadi pagi di lihatnya, bersama Hyukjae. Hyukjae menoleh, seakan dia menyadari kehadiran Yesung yang berada tepat di belakang mereka.

"Sunbae?" matanya gadis itu membulat. Tak menyangka orang yang selalu di elu – elukan di sekolahnya itu sekarang berada di hadapannya.

"Apa di dalam ada orang?" tanya Yesung panic.

"Ne! Nae chingu! Dia teman ku!" namja yang terdeteksi (?) sebagai Donghae ini menjawab pertanyaan Yesung dengan nada tak kalah panik.

"Ah, ne. Nae chingu, sunbae. Dia sepertinya terkunci." Lanjut Hyukjae.

"Hae! Hyukkie! Aku di dalam! Tolong aku! Palli!" sahut Ryeowook yang berada di dalam.

"Tunggu kami, kami akan‑‑‑"

"Mundur." Kata Yesung singkat.

"Mwo?" jawab Donghae dan Hyukjae bersamaan.

"Ku bilang mundur!" Yesung mulai kehilangan sedikit rasa sabarnya. Kedua orang itu pun segera mundur menuruti perkataan Yesung. "Bocah, kau juga. Menjauhlah dari pintu." Lanjut Yesung.

Bak!Bak!Bak!

Yesung menendang pintu dengan keras. Tendangan demi tendangan bersarang di pintu gudang itu. Tapi, tetep saja benda mati itu tak berkerak sedikit pun. Yesung mulai tak sabar. Ia bergerak kea rah pintu, lalu menghantamkan tubuhnya keras pada pintu tersebut.

Brak!

"Terbuka?" Donghae berdecak kagum atas aksi Yesung. Bukan kah itu sangat keren?

Yesung memasuki ruangan geulap penuh debu itu. Ia menghampiri seseorang yang berada di sudut gudang. Seorang gadis yang membuatnya ketakutan. Seorang gadis yang membuatnya merasa cemas. Dan, seorang gadis yang mebuatnya, jatuh cinta?

"Sunbae?" Ryeowook menatap Yesung dengan setengah tidak percaya.

Yesung membalas tatapan Ryeowook dengan tatapan dingin yang menusuk. Ia berlutut di hadapan gadis itu. Lalu, menarik tubuh mungilnya dalam dekapannya. Merengkuhnya dan membiarkan yeoja itu merasakan hangatnya tubuh Yesung. Ya, Yesung saat ini benar – benar ingin mendekap yeoja di depannya. Tak ingin lagi melepaskannya, apa lagi membuatnya pergi. Ia benar – benar membutuhkannya.

"Ya, babo. Kajima…" Yesung mendekap Ryeowook lebih kuat. Dan yeoja itu kini hanya bisa ikut larut dalam pelukan Yesung. Menikmati hangatnya pelukan kasih sayang dan cinta yang tak pernah di dapatkannya selama ini. Ya, semenjak ummannya meninggalkannnya.

.

.

.

"Wah, dia hebat sekali. Siapa dia?" tanya Donghae pada Hyukjae.

"Itu, Kim Jong Woon sunbae." Jawab Hyukjae singkat.

Donghae mencoba berpikir sejenak. 'Rasanya aku pernah mendengar nama itu. Apa itu namja yang ada di studio appa Ryeowook yang waktu itu?' batin Donghae.

"Wae?" tanya Hyukjae penasaran.

"Aniyo." Jawab Donghae singkat di sertai senyuman ramah miliknya. "Ayo kita susul mereka."

Donghae dan Hyukjae pun serta merta menyerbu masuk ke dalam gudang. Ingin melihat bagaimana keadaan sahabat mereka.

Donghae menyerbu masuk. "Ryeo‑‑‑" perkataannya terputus.

Donghae menahan napasnya. Ia merasa tercekat. Suaranya tak bisa keluar seperti biasanya. Meneriakkan nama seorang yeoja yang selalu di mimpikannya. Yang selalu membuatnya ingin segera kembali ke Negara ini. Kim Ryeowook. Ya, yeoja itu yang selama ini selalu memenuhi benaknya. Seorang yeoja yang selalu berada di sampingnya saat mereka kecil. Dan seorang yeoja yang selalu di impikannya untuk menjadi istri di masa depannya.

Yeoja impiannya itu kini tengah berpelukan dengan orang lain. Ia melihatnya. Ia benar – benar melihat yeoja yang dicintainya, berpelukan dengan namja lain. Kini ia tahu, penantiannya selama 7 tahun pun sudah tak ada artinya sekarang. Karena yeoja itu, sekarang telah menjadi milik orang lain. Bukan miliknya lagi.

Hyukjae menatap Donghae. Ia sepertinya tau apa yang sedang di pikirkan namja itu. Ryeowook. Ya, yeoja itu yang sekarang ada di benaknya. Tatapan itu, tatapan sakit hati yang ia tujukan untuk Ryeowook. Ryeowook yang kini tengah berada dalam rengkuhan Yesung. Hyukjae segera menarik tangan Donghae untuk pergi dari sana.

"Ikut aku."

.

.

.

"Ya, babo. Kajima…" Yesung mendekap Ryeowook lebih kuat. Dan yeoja itu kini hanya bisa ikut larut dalam pelukan Yesung. Menikmati hangatnya pelukan kasih sayang dan cinta yang tak pernah di dapatkannya selama ini. Ya, semenjak ummanya meninggalkannnya.

"Kajima?" Ryeowook mengernyit. Rasanya, ia tak pernah pergi kemana – mana. Tapi, kenapa Yesung berkata seperti itu?

"Ya. Jangan pergi. Jika kau pergi, kau harus bersama ku." Yesung melepas pelukannya. Ia menatap lekat yeoja mungil itu.

"Ne, sunbae." Ryeowook mengangguk pasrah. "Sunbae aku‑‑‑"

"Ssstt," Yesung memutus perkataan Ryeowook. "Sekarang kau milik ku. Neol, nae yeojachingu. Arraso?"

Ryeowook terdiam. Ia benar – benar tak percaya dengan apa yang barusan di katakan Yesung. Ryeowook menggigit bibir bagian bawahnya. Ia tak tahu harus berkata apa. Ia sendiri sampai saat ini tak pernah mengerti apa sebenarnya perasaan yang ada di dalam dirinya untuk Yesung. Tapi, yang jelas, ia merasa sangat nyaman berada di sampingnya. Di samping namja, yang perlahan membuatnya jatuh. Jatuh kedalam lautan perasaan cinta yang tak pernah ia sadari.

Ryeowook mengangguk pelan. "Ne, arraso sunbae… Neol, nae namjachingu…" jawab Ryeowook malu.

Yesung menarik tubuh Ryeowook, membawa kembali tubuh yeoja mungil itu dalam rengkuhannya. Lalu, ia menatap yeoja itu dalam, menatapi setiap sudut wajah yeoja yang mulai membuatnya kembali merasa hidup. Di usapnya kedua belah pipi tembam Ryeowook dan ia pun menarik wajah Ryeowook ke depan wajahnya. Jarak di antara mereka kini mulai menipis. Keduanya memautkan bibir mereka satu sama lain. Menikmati setiap detik yang sedang mereka lewati. Berdua, tanpa memikirkan siapa pun dan apa pun.

.

.

.

Kyuhyun menatapi yeojachingunya dengan heran. Sejak tadi, yeoja kelinci itu terus saja berjalan bolak – balik seraya menatapi handphonenya. Kyuhyun mulai jengah. PSP yang biasanya menjadi pusat perhatiannya pun kini hanya jadi barang yang tergeletak tanpa ada yang memainkannya. Karena, Sungmin benar – benar membuat Kyuhyun menaruh perhatian penuh padanya.

"Ya, chagiya~" Tegur Kyuhyun pada Sungmin.

Tak ada respon sedikit pun yang di dapatkan Kyuhyun. Sungmin terus saja sibuk bolak – balik menatapi handphonenya.

Kyuhyun mendengus. 'Yeoja ini kenapa lagi sih?' batin Kyuhyun.

"Ya, Lee Sungmin!" Kyuhyun akhirnya berteriak. Ia benar – benar tak tahan melihat Sungmin yang terus saja berjalan kesana – kemari tanpa memperdulikannya.

"Aish, waeyo Kyu?!" Sungmin menghentikan langkahnya. Ia menatap Kyuhyun sebal. Sungguh, ia tak berminat bertengkar dengan namja evil ini.

"Harusnya, aku yang tanya kenapa! Kau ini dari tadi mondar – mandir sambil menatapi layar handphone mu saja. Apa sih yang kau tunggu? You have a new boyfriend except me, huh?" tuduh Kyuhyun.

"Aniya!" bantah Sungmin keras. Ia menatap Kyuhyun dengan tatapan marah. "You still unbelieve me? Hah, thanks." Sungmin tersenyum miris. Lalu, ia melangkah pergi, dan mulai menapaki anak tangga demi anak tangga menuju kamarnya. Nampaknya, yeoja ini sedang benar – benar marah pada Kyuhyun.

Kyuhyun menghela napas panjang. Ia tahu, walau yeoja itu lebih tua 2 tahun darinya, tapi yeoja itu tak lantas lebih dewasa darinya. Malah lebih tepatnya, ia lebih kekanak – kanakan dari Kyuhyun. Kyuhyun meraih handphonenya. "Aku pulang. Jika kau sudah tak marah lagi, hubungi aku." Tut. Kyuhyun menyentuh tombol send di layar benda itu. Lalu, meraih jaket dan tasnya dan segera beranjak pergi.

.

.

.

Kyuhyun menutup pintu, lalu melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman keluarga Lee. Kyuhyun menghentikan langkahnya. Sebuah mobil sport merah kini telah terparkir rapi di sebelah mobilnya. Dan benar saja, ia mendapati Yesung yang kini tengah memapah Ryeowook untuk masuk ke dalam rumah megah tersebut.

"Hyung, ada apa ini? Ryeowook kenapa?" Kyuhyun mengernyit menatapi kedua sejoli yang kini tengah berada di hadapannya.

"Ceritanya panjang sunbae." Jawab Ryeowook ramah, dengan sesekali di iringi ringisan karena rasa perih yang menyerang.

"Ah, baiklah. Sini biar ku bantu." Kyuhyun membukakan pintu, dan membantu Yesung untuk memapah Ryeowook menuju ke dalam rumah tersebut.

Sungmin yang baru saja menuruni tangga, terkejut dengan kedatangan Yesung dan Ryeowook. Apalagi dengan beberapa luka yang ada di tubuh Ryeowook.

Sungmin, segera berlari mendekati Ryeowook. "Saengi, gwaenchanayo?"

"Ah, ne. Gwaenchana unni. Hanya sedikit luka kecil." Ryeowook tersenyum kea rah Sungmin.

"Ah, Minnie – ya, mianhe. Aku lupa mengirimkan pesan pada mu jika aku sudah menemukan Ryeowook." Yesung membuka suara.

"Ya, pabo oppa! Kau tau, aku sampai harus bertengkar dengan Kyuhyun, karena aku terus mengacuhkannya demi menunggu pesan dari mu!" Sungmin meneriaki Yesung. Ia benar – benar sebal dengan orang ini. Ia selalu membuat Sungmin khawatir.

Kyuhyun menatapi Sungmin. Kini gadis itu mulai sedikit tenang. Ah, dia bersyukur karena yeoja itu tak benar – benar mengacuhkannya dan memiliki pacar baru, seperti yang ia tuduhkan. Tapi, terselip rasa bersalah di hatinya, karena tuduhan kejam itu.

"Hyung, aku pulang duluan ya." Kyuhyun meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Sungmin hanya menatapinya nanar. Sungmin meraih handphonenya, lalu membisikkan sesuatu disana. Dan mengirimnya pada seseorang.

Sedang Kyuhyun yang kini tengah berada dalam mobilnya, tersenyum setelah menerima voice note Sungmin. Ia memutarnya lagi. "Kyu, jangan marah, ne? Aku tau kau percaya pada ku. Tapi, tadi itu aku emosi. Saranghae." dan kini ia tenang. Karena, kelinci mungilnya ternyata benar – benar mencintainya, seperti dirinya yang juga mencintai yeoja itu.

.

.

.

Kini ruang tengah keluarga Lee benar – bener sepi dan senyap. Taka da satu suara pun yang hadir di sana, sejak Sungmin meninggalkan mereka –Ryeowook dan Yesung– berdua.

Ryeowook menatap Yesung lekat. Kini, namja tampan itu tengah susah payah untuk melilitkan perban pada luka di tangan Ryeowook. Sungguh, jika bukan untuk Ryeowook, ia tak kan mau melakukan semua ini.

"Sunbae, apa itu susah?" tanya Ryeowook cemas setelah melihat Yesung yang nampaknya bingung dengan pola lilitan yang ia buat.

"Ah, jinja. Kenapa ini susah sekali?" Yesung mengernyit menatapi hasil kerjanya yang bisa di bilang, sedikit berantakan?

"Haha, sudalah sunbae. Sini, biar aku saja." Ryeowook mencoba mengambil alih pekerjaan Yesung. Namun, bukannya perban yang ia raih, ia malah meraih tangan Yesung. Yesung menatapi tangan Ryeowook yang kini tengah berada di atas tangannya. "Ah, mian sunbae." Ryeowook melepas pegangan tangannya dari tangan Yesung.

"Kau sengaja ya?" tanya Yesung jahil. Dan pertanyaan itu, berhasil menghasilkan semburat warna merah di kedua belah pipi Ryeowook.

"A…a…ni…" Ryeowook menunduk malu. Ia benar – benar malu atas apa yang ia lakukan. Ia meraih, tangan Yesung? Ah, itu membuat desiran darahnya semakin cepat, seirama dengan detakan jantungnya.

"Hahaha, kenapa kau jadi malu begini? Ya sudah, aku pulang dulu ya." Yesung berdiri dari posisinya, lalu meraih mantelnya dari sofa pink yang berada di ruangan tersebut. Ia mulai melangkahkan kakinya pergi. Tapi, tiba – tiba ia berbalik lalu tersenyum. "Oh, iya. Bisa, kita atur kembali jadwal pertemuan kita yang tertunda tadi?"

Ryeowook yang terkejut, hanya bisa mengangguk malu tanpa menatap Yesung sedikit pun.

Yesung tersenyum. "Santai saja. Jika sulit, anggap saja taka da yang terjadi hari ini."

"Eh? A‑‑"

"Annyeong." Ucap Yesung yang segera memotong bicara Ryeowook.

Ryeowook menatap punggung Yesung lekat hingga namja itu tak terlihat lagi di hadapannya. 'Mana bisa begitu. Kau itu telah membuat ku terbang, sunbae. Dan kau menyuruh ku untuk cepat turun? Tak akan.' Batin Ryeowook yang kini tengah tersenyum, penuh kebahagiaan.

.

.

.

Ryeowook menatap kearah daun pintu berwarna lovely pink di depannya, di sana tertera papan nama dengan dua kata "성 민". Ryeowook berkacak pinggang, pintu yang sedari tadi di teriakinya itu tak bergerak sedikit pun.

"Unni~" Ryeowook tetap berusaha mengetok pintu itu. "Minnie unni, palli irona!" Ryeowook makin brutal mengetuk daun pintu itu. Bagaimana tidak, sampai jam 06.30 Sungmin belum menampakkan dirinya di meja makan.

"Aish, apa aku perlu masuk untuk menarik selimutnya?" Ryeowook menggerutu di depan pintu itu. "Ah, yasudah. Mau bagaimana lagi? Dari tadi aku sudah berteriak, mengetuk (baca menggedor (?)), dan… ah, aku tidak mendobrak." Kata Ryeowook polos.

"Unni, aku masuk ya~" Ryeowook membuka pintu itu pelan. Warna pink pastel menyambut mata Ryeowook. Ia terkesiap memandangi setiap sudut kamar itu. Semuanya berwarna pink! Ryeowook memang adik Sungmin, tapi tak pernah sekalipun gadis mungil ini berani memasuki istana pink milik Sungmin.

Ryeowook menyapu pandangannya di seluruh ruangan yang bernuansa pink itu. Dan akhirnya, ia menemukan sebuah gundukan yang bergulung di atas tempat tidur Sungmin.

"Unni, irona~ Palli, nanti terlamabt loh." Kata Ryeowook lembut seraya mengguncang – guncang tubuh Sungmin pelan.

"Heung, Wookie… Kepala ku pusing…" Sungmin membuka selimutnya. Wajahnya pucat pasih dengan hidung yang memerah, serta deruan napas yang cepat. Ryeowook terbelalak melihat kakaknya yang terlihat sangat tidak baik itu.

"Ya, unni! Waeyo? Gwaenchana?" Ryeowook meletakkan punggung tangannya ke atas dahi Sungmin. "Aw, unni kau sepertinya demam dan juga flu." Ryeowook berteriak panic. Ia segera melesat mengambil kompres es batu di kulkas dan mengambil serangkaian obat flu yang berada di kotak obat di sudut kamar Sungmin.

"Heung, mian Wookie… Aku jadi menyusahkan mu…" Sungmin mengerucutkan bibirnya.

"Aniya unni. Ini memang sudah tugas ku." Ryeowook tersenyum. "Ah, unni aku akan menelpon Kyuhyun sunbae untuk mengizinkan ku dan unni hari ini. Dan juga membuat bubur untuk mu."

Ryeowook segera bergegas keluar dari kamar Sungmin. Sedangkan Sungmin, kini hanya menatap lekat foto Kyuhyun yang berada di atas mejanya. "Ini karena kau evil! Karena aku sibuk memikirkan mu, aku sampai tertidur saat sedang berendam."

.

.

.

TingTong…TingTong…

Bel berbunyi. Ryeowook dengan sigap segera melangkahkan kakinya kea rah pintu. Dibukanya knop pintu itu perlahan. 'Semoga ini Kyuhyun sunbae.' Batik Ryeowook.

Cklek

Ryeowook membulatkan matanya. Di bukanya mata mungil itu lebar – lebar. Ia ingin memastikan penglihatannya, bahwa ia benar – benar tak salah lihat.

"Ye…sung sunbae?" Ryeowook tergagap. Ia kehilangan kata – kata untuk menyambut Yesung. Otaknya terasa kosong. Sangat kosong.

"Annyeong!" Yesung melambaikan tangannya. "Kenapa kau terlihat shock begitu?" tanya Yesung pada Ryeowook yang mematung di depannya.

"A…ni. Hanya…kaget saja." Jawab Ryeowook kikuk. Yesung tersenyum simpul saat melihat yeojachingunya itu terlihat begitu shock saat melihatnya.

"Hyung minggir!" tiba – tiba Kyuhyun merangsek masuk dan membuat Yesung terjepit dipojok pintu. "Ryeowook – ssi, mana Minnie?!" tanya Kyuhyun panic.

"Unni ada di kamarnya sunbae." Jawab Ryeowook seraya menunjuk kamar Sungmin. Tanpa basa – basi, Kyuhyun langsung melesat ke tempat yang di sebutkan Ryeowook.

"Apa dia sangat khawatir?"tanya Ryeowook polos.

"Menurut mu?" jawab Yesung singkat.

"Heung, ne." Ryeowook menundukkan kepalanya dalam.

"Ah, satu lagi. Dia itu lebih muda satu tahun dari mu. Jadi, jika kau mau, kau bisa memanggil bocah itu dengan namanya saja." Lanjut Yesung.

"Kyuhyun sunbae? Lebih muda dariku?" tanya Ryeowook pada dirinya sendiri.

"Apa aku boleh masuk? Disini dingin Kim Ryeowook – ssi." Yesung menekankan nama Ryeowook untuk menyadarkan gadis itu dari kekagumannya pada Kyuhyun.

"Ah? Ne, silahkan. Mian menunggu." Ryeowook mempersilahkan Yesung. Gadis itu bergeser memberikan sedikit ruang agar namja itu bisa masuk ke dalam rumah keluarga Lee.

"Kau hanya berdua dengan Sungmin?" tanya Yesung yang sedari tadi menatapi setiap sudut rumah itu.

"Heung, ahjumma dan ahjusshi sedang pergi ke Beijing." Jawab Ryeowook seraya berjalan kea rah dapur. Melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena kedatangan 2 makhluk (?) yang datang untuk menjenguk Sungmin, dan mungkin juga dirinya.

.

.

.

Ryeowook sibuk memindahkan bubur buatannya ke dalam sebuah mangkuk besar yang telah ia isi dengan berbagai jenis seafood. Dan tak lupa ia meletakkan bebarapa potongan sayur di atasnya. Yesung? Ah, dia sedang asik dengan Ipadnya. Entah apa yang sedang dilakukannya dengan benda itu.

"Akh!" Ryeowook menjerit. Gadis itu kini tengah menatapi darah yang merembes keluar dari jarinya.

Yesung dengan sigap meraih tangan mungil itu, lalu menghisap darah yang mengalir disana dengan perlahan. Ia melangkahkan kakinya meraih sebuah kotak putih yang berisi berbagai macam obat. Di lilitkannya sebuah plester kecil di ujung jari Ryeowook. "Hah, kau ini. Kenapa suka sekali terluka? Apa kau suka dengan obat – obat ini?" kata Yesung jengah seraya melilitkan plester kecil yang diambilnya tadi.

"Hiks, hiks… Mianhe sunbae, mianhe… Aku merepotkan mu lagi…" Ryeowook mulai terisak kecil.

"Uljima babo." Yesung menjentik kepala Ryeowook pelan. "Jangan cengeng. Kau pacar ku kan? Apa aku punya pacar yang cengeng seperti ini?"

Ryeowook menggeleng. Ia menghapus jejak – jejak air matanya. Lalu memeluk Yesung erat. "Aku tidak cengeng. Karena aku, pacar sunbae."

Yesung tersenyum. "Cepat antarkan makanan itu."

"Ah? Ne!"

.

.

.

Ryeowook membuka pintu kamar Sungmin perlahan. Gadis itu terdiam di depan pintu. Ia membuka mulutnya sedikit lebih lebar. Entah apa yang dilihatnya benar atau tidak. Tapi, pemandangan yang dilihatnya begitu…intim? Ryeowook meletekkan bubur buatannnya ke atas meja yang terletak paling dekat dengannya. Ia benar – benar ingin menutup matanya jika bisa. Setelah itu, ia pergi dari kamar Sungmin tanpa di ketahui Sungmin ataupun Kyuhyun yang tengah bercinta di sana.

"Hah, aku melihat apa tadi?" Ryeowook menutup wajahnya yang memerah karena kejadian yang di lihatnya di dalam.

"Kau lihat apa?" tanya Yesung yang melongok kedalam kamar Sungmin.

"Andwae! Jangan lihat!" Ryeowook berteriak menahan Yesung untuk melihat apa pun dari sana.

"Ah, merek itu. Bagaimana pun keadaan yang sedang mereka hadapi, pasti sempat berbuat begitu -_-" kata Yesung sweat drop. Yesung menatapi Ryeowook yang tengah terjongkok sambil menutupi wajahnya. Tiba – tiba ia memiliki secerca ide di otaknya. Entah setan apa yang kini tengah menggelayutinya.

"Sunbae, ayo turun." Kata Ryeowook seraya berdiri dengan wajah yang masih bersemu merah.

"Ya, Ryeowook – ah!" Yesung memanggil Ryeowook.

"Ne, wae?"

"Ayo kita lakukan juga."

"Lakukan apa?" tanya Ryeowook polos.

"Lakukan itu." Yesung melirik kamar Sungmin.

"Mwo?!" Ryeowook membulatkan matanya. Seakan tak percaya atas perkataan Yesung. Ia dan Yesung melakukan ciuman panas persis seperti yang ia lihat tadi?

Yesung mendekati Ryeowook. Memojokkannya di dinding. Menahan Ryeowook untuk tetap disana. "Kau siap, chagiya?"

.

.

.

TBC

Annyeong chingu~ Chapter 7 hadir, ngeeng. Ya memang lama, tapi semoga bisa memuaskan para chingu, ne? ^^ Oh, iya disini Yesungnya jadi agak pervert loh~ *smirk* Jadi, ya bisa di bayangin seberapa napsunya muka Yesung ke Ryeowook (?) Ya udah deh, semoga chingu puas ya sama chap 7 ini. Review tetep jangan lupa :3 Kyusung sang author abal pamit undur diri~ Bye 'w')/