Shin Sung Ah present

.

.

.

.

.

.


.

.

.

.

.

"aku pul..." Sebuah bantal melayang ke arah wajahku dengan sangat tepatnya. "mwoya!"

Jae eonni tengah berdiri di depanku dengan kedua tangan di tolak ke pinggangnya yang ramping. "Kau ini saudara kembarku bukan sih?"

Mwoya! Apa maksud perkataan jae eonnie sih? "Apaan sih eonni? Memangnya kau kemana saat aku dilahirkan beberapa menit setelah dirimu eoh? Kau tak melihat proses eomma melahirkan diriku?"

Jae eonni mengambil bantal yang terjatuh di dekat kakiku dan memukul dengan meng-gajah buta. "Yak! Kau kira saat aku lahir aku mengerti apa kau akan dilahirkan setelah diriku? Kau kalau bertanya yang benar kenapa kyuna!"

"Eonni! Appo! Geumanhe!" Aku berusaha melindungi kepalaku dari serangan gajah kurus yang cantik satu ini. Meski tubuhnya kurus tapi kekuatannya mengalahkan seekor gajah.

"Cepat katakan padaku! Apa kau ini saudara kembarku atau bukan eoh? Kenapa saat berita kau jadian dengan choi seonsaeng aku harus mendengarnya dari teman-teman sekelasku. Kenapa coba? Jawab aku kyuna!"

"Arra,,arra aku akan menjawab. Tapi,kau jangan terus memukul seperti ini eonni!"

Jae eonni berhenti memukulku.

Aku mendongakkan kepala untuk menatap jae eonni yang masih memasang raut wajah kesalnya. Kedua tanganku masih terangkat melindung kepalaku. Siapa tahu tiba-tiba jae eonni kembali memukul.

"Malhae"

"Ne benar aku jadian dengan choi seonsaeng"

Kedua tangan jae eonni terangkat hendak memukulku kembali,aku menundukkan kepala dan melindungi kepalaku.

"Eonni! Dengarkan aku dulu. Aku baru jadian dengannya kemarin. Jinjja! Aku tak bohong!" Aku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah ke atas ke arah jae eonni.

"Lalu kenapa kau tak memberitahu? Kenapa aku harus tahu dari orang lain kyuna? Kau tahu kau sangat keterlaluan padaku" jae eonni mengerucutkan bibirnya,kedua matanya berkaca-kaca menahan tangis.

"Miane,eonni" aku memeluk jae eonni. Kini jae eonni terisak di bahuku. Air matanya merembes seragam sekolahku.

"Hiks... harusnya hiks... aku yang harus hiks... tahu terlebih dahulu... hiks"

"Ne,eonni. Miane" aku jadi merasa sangat bersalah pada jae eonni. "Tadi malam sebenarnya aku mau cerita padamu eonni. Tapi,kan kau sudah tidur terlebih dahulu sebelum aku pulang. Dan besokkan harinya,saat kau bertanya,aku tak mungkin kan menjawab pertanyaanmu disaat ada yunho-ssi,yang tak ada hubugannya dengan kita" tapi dimasa depan namja itu akan menjadi kakak iparku. "Aku baru saja mau menceritakkannya padamu saat ini"

"Geure?" Jae eonni mengangkat wajahnya dan menghapus air mata dengan kedua telapak tangannya. "Kalau begitu ceritakkan semuanya padaku" jae eonni sudah berubah moodnya. Menjadi cerah. Dan menarik lenganku untuk duduk di sofa. " kenapa kau mau dengan choi seonsaeng kyuna? Diakan sudah tua. Kau seharusnya mencari yang masih muda dengan umur yang terpaut tak jauh darimu. Bukannya kau memacari seorang seonsaengnim di sekolah kita kyuna!"

Ha-ah. Ini lah kejelekkan jae eonni. Katanya dia mau mendengar ceritakku. Tapi,malah dirinya mengansumsi dengan pendapatnya sendiri. Aku hanya menganggukkan dan menggelengkan kepala saja mendengarkan perkataanya yang sangat hiperbola ini. Dirinya mengoceh tanpa tanda koma atau titik.

"Kenapa kamu mau saja menjadi kekasih dia kyuna? Apa bagusnya choi seonsaeng?" Tanya jae eonni

Ya ya ya. Kau bertanya eonni? Pasti kau akan menjawabnya sendiri.

"Oh ya,choi seonsaeng memang tampan,kuakui itu"

Benarkan!

Jae eonni menganggukkan kepala menyetujui jawabannya sendiri. "Dan dia pintar. Tentu saja. Choi seonsaengkan seorang seonsaengnim" lalu jae eonni menggelengkan kepala dengan kasar. "Tapi,tetap saja! Choi seonsaeng memang tampan. Tapi,sayangnya sudah berumur. Kita berbeda belasan tahun dengannya kyuna. Saat kau mempunyai anak nanti dengan dirinya. Kau masih muda sedangkan dirinya? Aish! Pasti sudah loyo" (aku ketawa ngakak nulis ini)

Aku mengulum tawaku. Hahaha,benarkan apa kataku. Jae eonni sukanya berkata hiperbola. Belum apa-apa sudah memikirkan anak. Aku saja saat ini masih tahapan seorang kekasih. Hanya seorang kekasih,yang bisa putus kapan sajakan? Lalu untuk apa jae eonni membayangkan aku dan choi seonsaeng memiliki seorang anak? Aigo~ itu masih sangat jauh eonni!

Dan bla bla bla! Ocehan jae eonni yang sudah kesana kemari tak jelas,menjadi dongengan bagiku. Dongengan pengantar tidur. Maaf eonni,bukannya aku sebagai dongsaeng bersikap kurang ajar tak mendengar nasihatmu. Tapi,kau tak membuatku untuk berkata sama sekali. Jadi aku lebih baik tidur saja.

.

.

.

.

.

Mobil choi seonsaeng berhenti di sebuah rumah mewah dengan taman yang sangat luas yang mengelilingi rumah itu. Aku melihat sekeliling dari dalam mobil. Wuah,luas sekali.

"Kau tak merasa gugup atau apa?"

Aku membalik badan untuk menatap choi seonsaeng. Sedangkan choi seonsaeng menatapku dengan wajah datarnya. "Gugup? Tidak sama sekali. Hmm,haruskah aku merasa gugup?"

"Kau akan bertemu dengan orang tuaku. Atau aku bisa mengatakan calon mertuamu dan calon keluargamu kelak"

"Calon mertua? Calon keluargaku kelak? Anni! Yang benar,aku akan bertemu dengan keluargamu. Itu saja" ucapku sambil mengkibas-kibaskan tangan. "Lalu,mm... apa kita hanya akan berada di dalam mobil seharian?"

"Ayo turun"

Aku membuka pintu mobil dan turun. Kepalaku mendongak menatap betapa besarnya rumah yang berada di depanku yang menjulang tinggi. Tanganku di genggam oleh telapak tangan lebih besar dariku dua kali lipat dan sangat hangat. Aku melirik kebawah,ke arah tangan ku yang terkait dengan tangan choi seonsaeng.

"Ayo,masuk"

Kami memasuki rumah mewah nan besar itu. Dan betapa panjangnya lorong yang menghubungkan ruang tamu depan dengan ruang keluarga mereka. Butuh beberapa menit untuk mencapainya. Dan begitu sampai di ruang keluarga,aku cukup terkejut dengan kehadiran begitu banyak orang disana. Mm,mungkin sekitar dua puluhan orang. Mereka memakai pakaian yang sangat berkelas dan terlihat sangat mahal. Aku melirik pakaian yang kukenakan. Skirt jeans hitam-tanktop hitam-sweater berkerah sabrina putih. Dengan rambut panjang yang kugerai. Penampilan khas remaja high school.

"Oh,wonnie oppa!" Seorang yeoja memanggil atau lebih tepatnya berteriak saat melihat choi seonsaeng. Membuat semua orang yang berada di ruangan itu mengalihkan pandangan ke arah kami.

Seoang yeoja berlari menghampiri kami,atau lebih tepatnya ke arah choi seonsaeng. Ketika sudah berada tepat di depan kami,aku bisa mengenali yeoja ini. Dia adalah yeoja yang waktu itu makan dengan choi seonsaeng di restoran hotel.

Aku memandang yeoja itu dari atas hingga bawah. Memang tak sopan tapi,aku sangat penasaran. Yeoja ini sangat cantik dan anggun,bagai seorang putri bangsawan. Sangat cocok jika di sandingkan dengan choi seonsaeng. Sepertinya benar,yeoja ini mungkin kekasih atau lebih dari kekasihnya choi seonsaeng buktinya,yeoja ini ada berada di acara keluarganya choi seonsaeng.

Aku mengerjapkan mata. Tunggu!

Kalau yeoja ini berada disini,dia melihatku yang sedang digandeng seperti ini. Apakah yeoja ini akan mengamuk? Menjambak-jambak rambutku lalu mencakar-cakar kulit muka mulusku ini? Oh,tuhan! Jangan sampai apa yang aku bayangkan tadi menjadi sadar aku mengeratkan genggaman tanganku pada tangan choi seonsaeng.

"Kyu,"

Aku mengerjapkan mataku kembali. Ne? Dia memanggilku apa? Choi seonsaeng memanggilku kyu? Aku menengadahkan kepala melihatnya yang sedang menundukkan wajahnya melihatku. Yap,perbedaan tinggi badan kami yang lumayan jauh. Tidak hanya perbedaan umur saja yang jauh,tapi tinggi badan pun aku dan dia sangat berbeda,20 cm. Aku dengan tinggi badan 160 cm sedangkan dirinya 180 cm. Tinggiku hanya sebatas pundak lebarnya itu.

"Kenalkan,choi jiwon"

Mwo? Choi? Marganya choi! Jangan bilang yeoja ini sudah berstatus istrinya choi seonsaeng! Mwonde! Aku bisa mati dibunuh disini. (Sepertinya bukan hanya jaejoong yang hiperbola. Kyuhyun juga sangat hiperbola XD)

"Yeodongsaeng ku"

Eh?! Yeo-yeo-yeodongsaeng? Aku menatap wajah yeoja yang diakui choi seonsaeng sebagai yeodongsaengnya, dengan seksama. Ah,mereka berdua memang mirip satu sama lain. Dengan alis yang sama-sama tebal. Dan garis wajah yang tegas. Aish,betapa bodoh pemikiranku tadi.

"Hai,calon kakak ipar! Senang melihatmu kembali" jiwon-seperti yang tadi choi seonsaeng perkenalkan- menarik tangan kananku yang tadi tertaut dengan tangan kakaknya,menyalamiku dan memberikan senyuman lebar yang sangat cantik. "Kau terlihat sangat cantik jika dilihat dari dekat seperti ini. Dan oh,panggil aku jiwon saja. Meski aku lebih tua beberapa tahun darimu,tapi kau tetap saja calon kakak iparku"

Okey,sudah berapa kali dia menyebutkan calon kakak ipar? Memangnya aku mau menikah dengan kakaknya ini?

"Siwonnie," sepasang suami istri -mungkin- menyeruak keluar dri kumpulan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu. Sepasang suami istri yang terlihat sangat berkelas dan berwibawa. Mereka mendekat. Dan memandangiku dengan wajah yang sangat penasaran.

Ah,waktunya melihat pnjuukkan.

Kalian tahu kenapa aku mau menjadi kekasih choi seonsaeng? Jawabannya adalah aku tak mau menjadi pesuruhnya lagi. Kalau aku menolak,otomatis dia akan kesal padaku dan pastinya akan memberikan lebih banyak tugas yang seharusnya bukan aku yang mengerjakkan. Dan yang kedua aku mau saja diajak kerumahnya yang katanya choi seonsaeng sedang berkumpul kelurganya,aku mau melihat bagaimana reaksi keluarganya terutama orangtuanya saat melihat diriku. Diriku yang merupakan seorang pelajar dan apalagi aku adalah murid yang diajar oleh anaknya itu

Katakan saja aku jahat. Tapi,menurutku aku bukannya jahat,tapi cerdik. Saat ini aku memang sedang single,jadi aku menerima saja permintaan choi seonsaeng itu. Dengan menjadi kekasih choi seonsaeng aku jadi memiliki keuntungan-keuntungan tersendiri. Salah satunya,aku mendapatkan makan siang gratis bikinan choi seonsaeng dan menjadi kekasih namja yang tampan seperti dirinya. Siapa yang akan menolak?

Lalu untuk urusan apa aku mencintainya atau tidak? Hmm,untuk yang satu itu aku tak bisa menjelasknnya sekarang. Mungkin saat ini aku menjadi kekasihnya karena memikirkan keuntungan-keuntungan yang bisa kudapatkan. Tapi,dimasa yang akan datang? Mana aku tahu,aku mungkin bisa jatuh cinta pada dirinya. Masa depan,siapa yang bisa menebaknya? Untuk sekarang ini aku hanya bisa melangkah di jalan yang telah tuhan berikan.

"Siapa agassi ini?"

"Kekasih woonie oppa,eomma"

Ah,mereka orangtua choi seonsaeng. Aku memperhatikan raut wajah nyonya choi dengan penasaran. Biasanya seorang eomma pasti akan memiliki reaksi yang berlebihan ketimbang seorang appa. Raut wajah nyonya choi berubah. Yah,berubah. Tapi tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.

Wajah nyonya choi langsung berseri-seri,terlihat sangat senang sekali. Apa lagi dengan matanya yang sangat ketara bahagia.

Matak langsung menatap tuan choi yang berdiri di samping nyonya choi. Berharap mendapatkan reaksi yang berbeda. Reaksi marah,murka atau apalah. Yang penting bukan reaksi seperti nyonya choi tunjukkan.

Aku mengerutkan dahi saat melihat raut wajah tuan choi yang... mm,datar. Datar? Kenapa wajahnya datar? Ha-ah,aku jadi tahu dari mana asal datangnya raut wajah datar choi seonsaeng. Keturunan langsung dari tuan choi ternyata. Aish,kenapa harus wajah tuan choi datar? Kenapa harus datar? Aku kan jadi tak bisa membaca apa yang sedang tuan choi rasakan.

"Sepertinya,kita harus membubarkan para tamu" suara berat tuan choi memecahkan konsentasiku yang asyik membaca raut wajahnya dan istrinya.

Eh? Apa tadi kata tan choi? Tamu? Siapa tamu disini? Aku kah? Tapi... Tadi tuan choi berkata 'para tamu'. Kalau kata 'para' di pakai berarti itu lebih dari satukan? Aku melihat sekelilingku. Apa mereka yang memenuhi ruangan ini adalah tamu? Bukan sanak keluarga choi? Aku jadi tak mengerti.

Beberapa menit kemudian,'para tamu' sudah dibubarkan oleh tuan dan nyonya choi dengan baik-baik. Dan kini,aku-choi seonsaeng-jiwon-tuan dan nyonya choi tengah duduk di ruangan keluarga yang kini sepi.

Aku dan choi seonsaeng duduk berdampingan,dan entah kenapa choi seonsaeng duduk sangat dekat dan rapat denganku. Padahal,sebelahnya masih sangat luas. Jiwon duduk di single sofa. Tuan dan nyonya choi duduk di depan aku dan choi seonsaeng.

"Siwonnie,seharusnya kau katakan pada eomma jauh-jauh hari kalau kau akan datang kemari dengan membawa kekasihmu. Jadi eomma tak perlu lagi membawa rekan-rekan bisnis appamu dengan membawa anak gadis mereka. Eomma kan jadi tak enak pada kekasihmu ini"

"Maafkan aku eomma"

"Nah,jadi siapa namamu agassi? Hmm,tampaknya kau masih sangat muda. Berapa usiamu?"

Aku yang dari tadi menundukkan kepala,langsung mendongkkan kepala memndang nyonya choi yang bertanya padaku. "Ne? Ah,nama saya cho kyuhyun. Usia saya 17 tahun nyonya choi"

Semua langsung pada terdiam? Apa mereka terkejut dengan usiaku? Ah,apa nanti mereka akan mengomeli choi seonsaeng karena dia menjadi seorang pedofil? Ayolah,kalian orangtua choi pasti akan memarahi choi seonsaengkan? Aku sangat ingin melihat choi seonsaeng dimarahi. Atau bahkan aku sangat ingin melihat choi seonsaeng dipukuli. Hahaha,,jahatnya aku.

"Wae appa-eomma?" Tanya jiwon.

Nyonya choi yang tadinya tampak berfikir memikirkan kata-kataku,langsung tersenyum dan menggelengkan kepala. "Kenapa kau memanggilku nyonya kyuhyunie? Panggil aku eomma choi saja dan panggil suami eomma dengan appa choi"

"Ne? Ah,ne" aku mengiyakan saja permintaan nyonya choi ah anni,eomma choi. Aku masih penasaran,sepertinya mereka tadi terdiam bukan karena aku yang memanggil eomma choi dengan panggilan nyonya choi. Ada yang lain. Aku yakin. Tapi apa? Karena usiakukah? Sepertinya. Tapi,kenapa aku tak yakin ya?

"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan? Dan kenapa kau sama sekali tak pernah bercerita pada eomma siwonnie?"

"Baru-baru ini. Jadi aku belum sempat memberitahu eomma"

"Ah"eomma choi menganggukkan kepala mengerti. Lalu berpaling menatapku,tersenyum dengan hangat khas seorang ibu. "Kyuhyunie,maafkan eomma ne. Tadi eomma menundang rekan-rekan kerja appa dann anak gadis mereka. Eomma bermaksud untuk mencarikkan siwonnie kekasih dan calon istri. Eomma tak tahu kalau ternyata siwonnie sudah memiliki dirimu"

Aku mengusap tengkukku tak enak. Jujur saja,aku juga tak tahu kenapa choi seonsaeng membawaku ke rumah orangtuanya. Kukira dia ingin memperkenalkan diriku pada keluarganya dan aku tak tahu kalau ternyata acara keluarga yang dia maksud adalah acara perjodohannya. Aku memaksakan untuk tersenyum.

"Habisnya eomma kesal menunggu. Sudah bertahun-tahun eomma menunggu siwonnie untuk memperkenalkan seorang gadis kehadapan appa dan eomma,tapi tak pernah siwonnie bawakan. Dia hanya membawa beberapa teman namja saja. Eomma kan jadi khawatir kalau siwonnie sampai tak memiliki seorang kekasih. Dia tak akan pernah menikah mungkin"

Lagi-lagi aku hanya memaksakan tersenyum,yang pastinya sangat aneh dan sangat jelek.

"Ish,eomma cerewet sekali" gerutu jiwon. "Eomma jangan membongkar masa lalu wonnie oppa. Yang penting sekarang,wonnie oppa sudah memiliki seorang kekasih dan calon istrinya kelak. Itu kan yang paling penting?"

Mwo? Calon istrinya kelak? Ish,siapa yang mau menikah dengan namja ini?

Eomma choi menganggukkan kepala,"kau benar jiwonnie"

.

.

.

Jaejoong memasuki restoran hotel untuk sarapan er... atau untuk makan siang,karena sekarang sudah hampir tengah hari? Intinya,dia ingin mengisi perutnya yang kosong dan sudah meraung-raung untuk meminta wajah sembab karena jaejoong baru saja bangun dari hibernasi,dia memilih meja yang berada di balkon restoran dan tak menyadari kalau ada seseorang yang kini tengah membuntutinya jatah.

Dengan wajah sembab karena jaejoong baru saja bangun dari hibernasi,dia memilih meja yang berada di balkon restoran dan tak menyadari kalau ada seseorang yang kini tengah membuntutinya sejak dia keluar dari lift. Seorang namja bermata musang. Begitu sudah duduk di bangku kosong,jaejoong merebahkan kepalanya di meja. Masih mengantuk. Lagi-lagi tak menyadari namja bermata musang -yunho- duduk di sebeeelahnya.

Salah satu waiter menghampiri meja itu,melirik-lirik yunho dengan penasaran. Karena yunho menatap tanpa berkedip ke arah jaejoong. "Eum,nona jaejoong mau pesan apa?"

Masih dengan posisinya sekarang apalagi dengan kedua mata yang tertutup,jaejoong menjawab. "Aku ingin sandwich daging asap dengan selada yang banyak di dalamnya tanpa mentimun dan tomatnya sedikit saja. Hmm,satu slice saja. Ah,dan juga pesankan susu putih dan kopi yang tak terlalu manis"

"Ne" waiter itu mencatat pesanan jaejoong. "Kalau anda tuan?"

Jaejoong mngerutkan keningnya. 'Tuan? Siapa? Setahuku,aku duduk sendiri?'

"Aku ingin paket burgersteak dan orange juice"

Jaejoong mengangkat kepalanya dan melihat namja yang tak diharapkannya sama sekali sedang duduk di sampingnya. Memandanginya dengan pandangan tajam ala musang.

"Kau baru bangun tidur jae?" Tanya yunho dan tak lupa dengan senyuman cerahnya. Yang mampu melelehkan ratusan bahkan ribuan gadis-gadis yah,sepertinya jaejoong tak termaksud.

Karena jaejoong bukannya meleleh malah mendelik kesal. "Apa aku sudah memperbolehkanmu untuk duduk di sebelahku ahjussi?"

Yunho masih mempertahankan senyumnya,"memangnya ada larangan untukku duduk disini jae?"

"Tapi,setidaknya kau meminta izin terlebih dahulu ahjussi!"

"Ini tempat umum jae" balas yunho tak mau kalah.

"Aish,terserah!" Jaejoong melengoskan kepalanya kesampng.

Menit-menit berlalu. Mereka masih saja terdiam dengan fikiran masing-masing. Dan jaejoong masih enggan memandang wajah namja yang menurutnya sangat seenaknya itu.

"Kyuhyunie mana? Kalian tak makan bersama?"

Akhirnya jaejoong menengokkan kepala ke arah yunho. "Kenapa kau menanyakan keberadaan kyuna?"

"Aniya,hanya saja aku sangat penasaran. Kalian jarang sekali makan bersama saat siang hari seperti ini. Kemarin aku hanya melihat kyuhyunie makan sendiri disini,sekarang kau yang makan sendiri disini. Hubungan kalian akrabkan?"

"Tentu saja. Kami sangat,sangat akrab! Kami ini kan anak kembar dan kami hanya dua bersaudara" jaejoong terdiam. "Jamkkaman. Ahjussi,kau tinggal di hotel ini? Kenapa kau bisa tahu aku dan kyuna jarang makan siang bersama? Apa kau seorang stalker? Siapa yang kau stalker kan? Aku atau kyuna?" Jaejoong menatap yunho penuh curiga.

Dengan santainya yunho menjawab,"aku memang tinggal disini jae. Kau ini bagaimana. Setiap pagi aku kan selalu mengantar kalian ke sekolah. Kalau aku tak tinggal disini,mana mungkin aku pagi-pagi aku sudah rapi menunggu kalian disini. Kalau soal aku tahu kalian jarang makan siang bersama,ya karena aku sering makan siang disini. Jadinya aku tahu"

Jaejoong menganggukkan kepalanya mengerti.

Pesanan mereka datang,dan mulai memakannya perlahan.

Jaejoong,entah kenapa sudah tak kesal lagi pada yunho yang sudah seanaknya duduk di sampingnya. Buktinya dia mulai mengajak yunho mengobrol terlebih dahulu,"kenapa kau tinggal di hotel ini? Kau sedang ada perjalanan bisnis?"

"Aniya,aku mempunyai rumah di daerah . Karena rumah sedang direnovasi aku jadi menginap di hotel ini,karena sangat dekat dengan kantorku. Lalu kau,kenapa bisa tinggal hotel ini berdua saja dengan kyuhyunie?"

"Kau tahu ahjussi,kalau kau bertanya seperti itu padaku. Kau terlihat sangat-sangat mencurigakan. Seperti ahjussi-ahjussi mesum yang maniak akan daun muda. Kau tak ingin di bilang pedofilkan oleh orang-orang?"

Yunho langsung tersedak orange juice,saat mendengar kata 'ahjussi mesum' dari mulut jaejoong. 'Apa aku memang terlihat seperti ahjussi mesum?' fikir yunho.

.

Sepertinya yunho harus berusaha lebih karas untuk mendapatkan jaejoong :D

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

Chapter 7 datang~~~

Maaf ya,aku updatenya lama. Tapi,untuk kali ini saja kok aku telatnya. besok-besok aku jamin ngga akan telat lagi :D

.

Makasih udah mau baca fanfic ini n mau ngeriewnya :)

Makasih ~ everadit - AniesLoveWonkyu - yoshiKyu - shin min young - Kayla WonKyu - Allyna Kyuzumaki - WonKyuPet - dazzledaisy - miszshanty05 - zizah choi - CLC0610 -

rikha-chan - kimfida61 - pandarkin - I was a Dreamer - Ny cho evil - meotmeot - lintang - vira - fifi - ratnasparkyu - shakyu - anin arlunerz - Ppuing ppuing - jongindo - lovelycat234 ~

.

Jangan bosen-bosen untuk ngeriview ya :D

Terimakasih :D