A/N: Okay, udah cukup lama juga Luna ngebiarin fic ini, jadi sekarang waktunya apdet lagi! XD Bagi yang sudah menunggu, silakan menikmati!
Disclaimer: One Piece punya Odachi. Luna cuma pinjam karakternya ajah~
Warning: bahasa kasar, kekerasan, AU, oOC-ness karakter, hints shounen ai ZoSan
Thank you very much buat ShinomoriNaomi yang sudah mem-beta story ini~ ^__^
The Meaning of Family
Bagian 7
Akhir-akhir ini… Sanji merasa nasib benar-benar sudah mempermainkannya.
Padahal selama 17 tahun dia hidup, dia tak pernah membuat orang lain dendam padanya… oke, mungkin ada beberapa… baiklah, mungkin banyak yang dendam padanya, terutama para lelaki yang dicampakkan pacar mereka karena tergoda rayuan Sanji, dan mungkin beberapa wanita yang serius menyukainya, tapi diduakan atau ditigakan (mungkin lebih, Sanji tak yakin) oleh lelaki genit itu; tapi lantas bukan berarti semua perempuan dan lelaki itu bakal membentuk sindikat rahasia yang bertujuan utama balas dendam pada Sanji, kan?
Yah, kadang nasib memang tak berpihak pada manusia, tapi kalau ini sih... Sanji mungkin banyak musuh, tapi Sanji tidak kenal dengan orang-orang yang menangkapnya… atau mungkin dia hanya tak ingat saja. Yang mana pun, sekarang bukan masalah karena toh Sanji tetap dibuat pingsan, tak jelas apa tujuanya. Yang jelas, waktu pertama kali sadar, Sanji ada di tempat yang tak dikenalnya.
"Ngh…," erang Sanji pelan seraya membuka mata perlahan.
Begitu sadar dia tak kenal dengan langit-langit kamar tempat dia bangun dan ingatan sebelumnya terbesit di kepalanya, Sanji kontan terbangun duduk dengan kaget.
"Ah, jangan bangun tiba-tiba!"
Suara seseorang yang tak asing bagi Sanji terdengar dan sebelum Sanji sempat menoleh ke asal suara itu, kepala Sanji langsung berputar dan asam lambung naik ke kerongkonganya. "Uph—!" Sanji langsung merasa mual dan buru-buru menutup mulutnya supaya tidak muntah.
"Aah, makanya sudah kubilang jangan tiba-tiba…," kata suara itu lagi sambil mendesah pelan. "Chloroform-nya belum sepenuhnya keluar dari sistem di tubuhmu, jelas saja bakal mual."
Sanji perlahan-lahan menoleh ke arah suara itu dan bertemu pandang dengan lelaki besar berambut biru terang yang memakai kaos pantai biru muda dengan pola bunga-bunga merah-kuning serta memakai kaca mata hitam. "Franky?" Sanji benar-benar heran melihat lelaki itu di sana.
Franky menyeringai kecil. "Bukan cuma aku yang ada di sini," kata Franky seraya menunjuk ke belakang punggungnya dengan ibu jari tanpa melepaskan pandangan dari Sanji. Di belakang Franky, di sebuah kursi bulu tua merah, duduk lelaki yang sangat tinggi dan kurus dengan rambut afro hitam tebal, memakai kaca mata bulat dengan rantai di sebelah kanan, terlihat sedang bersantai-santai meminum teh dari cangkirnya.
"Brook?" Sanji tambah bingung melihat lelaki yang sudah paruh baya itu ada di sana juga. "Kenapa kalian ada di sini…, bukan; ini di mana, sih? Berapa lama aku pingsan? Jam berapa sekarang?" si pirang bermata biru itu baru sadar juga kalau tempat itu sangat asing baginya setelah melihat ke kanan dan ke kiri. Lagipula berondong pertanyaan langsung bermunculan darinya karena ia tak tahu situasi sekarang seperti apa.
Sekarang Sanji duduk di ranjang tua dengan sprai putih yang sudah keabu-abuan. Di samping kepala ranjang ada meja kotak berwarna cokelat kayu yang sudah berdebu. Ada juga lemari di depan kaki ranjang. Lalu di tempat Brook berada ada tiga kursi merah tua yang sudah dekil dan meja kopi kecil bulat tanpa taplak. Dinding ruangan itu sepertinya berwarna krem. Tak terlalu jelas di mata Sanji karena cahaya yang remang-remang.
"Sepertinya Sanji-san tertangkap juga," kata Brook sambil meletakkan cangkir tehnya di meja. "Sekedar info, Sanji-san dibawa ke sini kira-kira dua jam lalu dan sekarang," Brook melihat jam saku tua di kantungnya, "-pukul 2 pagi," lanjutnya memberi informasi.
"Jam dua pagi? Uh… lama juga aku pingsan. Oh ya… ada orang-orang aneh dan gadis-gadis manis yang menangkapku tadi sore," kata Sanji sambil mengerang lagi sambil mengusap-usap pelipisnya perlahan. Ia masih merasa sedikit mual dan pusing meskipun tidak seburuk tadi. Setidaknya ia sudah tak merasa berputar-putar lagi.
Lagipula… kalau sekarang sudah jam segitu dan tadi sore aku diserang sekitar pukul lima tapi baru sampai tempat ini dua jam yang lalu… berarti aku dibawa cukup jauh dari Grand Line. Di mana kira-kira ini?—pikir Sanji dengan wajah agak cemas juga.
"Teh, Sanji-san?" tawar Brook seraya menuang secangkir teh di cangkir baru.
"Aah, kebetulan kerongkonganku kering, mungkin secangkir teh boleh juga untuk menurunkan rasa mualnya" kata Sanji sambil berdehem ringan, terbawa kembali ke dunia nyata dari alam pikirnya. "Thanks, Brook," lanjut Sanji sambil tersenyum.
Franky berjalan mendekat ke tempat tidur dan duduk di samping Sanji, mencoba memeriksa kondisi Sanji yang masih berwajah agak pucat. Rona mukanya juga tak begitu bagus, mungkin efek chloroform-nya memang terlalu berat bagi Sanji. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Franky.
"Um, benar-benar tak enak. Wueh…," jawab Sanji dengan tampang aneh.
Franky tertawa melihat ekspresi aneh Sanji, sedangkan Brook tersenyum ringan sambil membawa cangkir berisi teh di tanganya ke tempat Sanji juga. "Yah, berbaringlah sebentar lagi, Bro. Tunggu sampai pengaruh chloroform-nya hilang," kata Franky masih sambil terkekeh.
Sanji mengangguk sembari menerima cangkir dari Brook. Lalu ia meminum tehnya perlahan-lahan sambil mencium aroma earl grey yang sedikit banyak mengurangi rasa mualnya. Teh hangat memang paling baik untuk menenangkan pikiran. Setelah menghabiskan tehnya, Sanji menyerahkan cangkir kosongnya ke Brook lagi, lalu kembali berbaring.
"Ngomong-ngomong… kenapa kalian ada di sini?" tanya Sanji, akhirnya merasa penasaran lagi.
"Yah, kalau dalam kasus kami sih… karena nasib yang lagi sial mungkin?" Franky menggaruk-garuk kepala dengan sedikit bingung.
"Hah?" Sanji mengrenyitkan dahinya dengan wajah tak paham.
"Kami tidak sengaja memergoki kegiatan ilegal yang sangat tidak menyenangkan. Yah… karena ketahuan, terpaksa mereka menangkap kami," kata Brook dengan wajah salah tingkah.
Kegiatan ilegal ya… bisa ditebak sih, dari cara kerja orang-orang kemarin…
"Sebetulnya kita ditangkap sama siapa sih? Aku tidak kenal dengan wajah-wajah yang menangkapku. Apa kelompok baru?" tanya Sanji dengan tampang sebal.
Memang Sanji pernah beberapa kali terlibat perkelahian geng, tapi kelompok Topi Jerami tidak pernah memulai duluan. Bisa dibilang kelompok mereka menjaga keteraturan kelompok lain. Tindakan seagresif ini, sampai melakukan penculikan segala, sepertinya didalangi orang yang cukup berbahaya. Yang jelas pasti bukan pelajar… soalnya pria-pria yang menyerangnya kemarin sudah dewasa. Kalau masalah gadis-gadis itu sih, Sanji tak terlalu menggubrisnya. Banyak anak perempuan yang bergabung ke geng-geng karena ingin terlihat keren. Mereka pasti tak tahu apa-apa soal bos kelompok ini.
"Kami juga kurang jelas sih. Yang jelas kalau kita sampai ditangkap, tentu kita sudah mendekati kebenaran," kata Brook sambil menghela nafas.
"Memang masuk akal kalau sepert itu. Kita punya ide siapa yang mendalangi penculikan ini," timpal Franky sambil memegang dagunya, tampak berpikir.
"Hei, tunggu dulu, Luffy pernah bilang kalau kalian tak bisa dihubungi beberapa bulan ini," Sanji tiba-tiba ingat percakapanya dengan Robin, Luffy, dan Usopp beberapa hari lalu di Baratie. "Masa' kalian tak bisa dihubungi gara-gara disekap di sini?" tanya Sanji tak percaya.
"Ah… kita baru di sini sekitar seminggu," kata Franky. "Kalau yang selama beberapa bulan sebelumnya, kami sedang menyelidiki sesuatu, makanya tak bisa dikontak," lanjutnya dengan wajah agak menyesal.
"Menyelidiki apa? Kenapa tak bisa dikontak?" lanjut Sanji bertanya, ingin tahu juga detil cerita Brook dan Franky.
"Laporan dari CP-9," jawab Brook singkat. Sanji menekuk alisnya dengan tak mengerti. "CP-9 mencium bau organisasi kejahatan yang besar di balik kelompok-kelompok kecil yang mereka tangkap di wilayah kerja mereka," lanjut Brook saat melihat wajah bingung Sanji.
"Terus?" Sanji ingin lebih tahu lagi.
"Geng motor itu meminta bantuan kita yang ada di jalur belakang untuk menyelidikinya secara rahasia. Soalnya mereka punya aturan khusus tak bisa ikut masuk ke wilayah geng-geng tertentu. Bisa dihajar sama pihak pemerintah soalnya," kata Brook lagi.
"Uh… mereka itu kan samaran pihak pemerintah juga… kenapa mereka tidak boleh menyelidiki wilayah kelompok lain?" tanya Sanji masih belum begitu paham dengan tetek bengek soal CP-9.
Tentu saja CP-9 pernah bertempur juga dengan kelompok Topi Jerami, tapi itu gara-gara mereka seenaknya menahan Robin yang tidak salah apa-apa tapi dituduh melakukan tindakan kriminal, menjual obat-obatan terlarang yang membuat orang yang mengkonsumsinya bisa dikendalikan via hipnotis, hanya karena gadis itu ketua Grup Ohara. Padahal dia hanya dijebak saja oleh kelompok lain.
Kalau ingat pertempuran waktu itu… saking dasyatnya Sanji sampai merinding. Apalagi waktu Luffy bertempur melawan ketua geng motor itu, si Rob Lucci. Sanji saja bergidik dekat-dekat orang itu. Matanya itu lho, seperti leopard saja. Luffy bisa bertarung imbang dengan orang semengerikan itu, padahal Luffy begitu lucu dan imut. Waktu itu mereka benar-benar bertempur sampai berdarah-darah dan pasti bakal mati kalau Smoker dan pihak kepolisian tidak memisahkan mereka.
Yah, tapi setelah masuk di pengadilan, ternyata Robin memang tidak bersalah. Yang bertanggung jawab atas tindakan kriminal yang dituduhkan pada Robin ternyata adalah kelompok Thriller Bark. Untung saja ada Franky dan Brook yang menyelidiki hal itu sampai betul-betul detil sehingga bisa memberikan bukti nyata kalau si vampir Moria dan tiga antek hantu-nyalah yang bersalah.
Smoker juga percaya kalau Robin bukan orang jahat karena Luffy menjadikan gadis itu sahabatnya. Makanya dia membela Robin juga saat bersaksi di pengadilan. Yah, meskipun secara tidak langsung dengan menyatakan tidak ada bukti tegas yang membuat Robin pantas ditangkap meski semua bukti situasi mengarah pada ketua mafia itu dan Grup Ohara-nya. Repot juga jadi ketua grup mafia. Kalau ada yang tidak beres, pasti ketuanyalah yang disuruh bertanggung jawab.
Kalau dipikir-pikir, Smoker itu sayang sekali pada Luffy, ya? Dia percaya sepenuhnya apapun yang dikatakan Luffy, dan kalau Luffy melakukan suatu tindakan yang sinting sekalipun, Smoker percaya kalau dia pasti punya alasan bagus. Memang Smoker pernah beberapa kali… atau mungkin sering sekali menahan Luffy dan memarahinya, tapi itu juga tak pernah lebih dari sehari, lalu pria berambut perak kehijauan itu pasti akan mengantarnya pulang ke rumah dengan selamat.
Dia berlaku lebih seperti…ayah (?) daripada seorang polisi…—Sanji juga kurang yakin, tapi mungkin memang begitu. Luffy memang sangat lucu soalnya, jadi Sanji sedikit paham perasaan kebapakan Smoker padanya.
"Iya, sih. CP-9 memang jebolan kepolisian juga, tapi karena terkenal sadis, mereka tidak bisa masuk ke kantor polisi manapun. Kalau mau dimasukan ke pihak militer sekalipun, mereka tak suka mengikuti aturan militer yang terlalu ketat, dan kalau dibiarkan saja, mereka bisa bikin masalah serius untuk pihak pemerintah. Makanya, pihak pemerintah menyewa mereka seperti prajurit bayaran dan memberikan wilayah kerja untuk mereka bertugas dengan cara apapun asalkan tidak mengobrak-abrik wilayah kelompok lain. Bisa jadi tawuran antargeng soalnya, dan yang bakal repot membereskan hal itu juga pemerintah," jelas Franky panjang lebar.
"Wah… Franky, kau betul-betul menyelidiki mereka sampai begitu detil, ya?" Sanji merasa sedikit kagum dengan sobatnya yang terkenal mesum itu karena cara berpakaianya yang sangat eksentrik.
"Tentu saja. Kalau mau kerja buat mereka, aku harus tahu dulu orang macam apa yang bakal jadi atasanku, kan? Yah, meskipun aku tak pernah menganggap mereka atasan, sih," kata Franky bangga.
"Lho, kalau begitu Franky sendiri kan, juga sudah jadi CP-9, kok boleh melakukan penyelidikan ini?" tanya Sanji heran.
"Nay, nay, Bro. Meski mendapat titel sebagai CP-9 juga, itu cuma kamuflase. Lagipula aku kerja di sana sebagai mekanik mereka, bukan sebagai pengendara motornya. Ice Burg yang mengenalkan aku pada mereka sih. Aku cuma CP-9 yang tidak diakui pemerintah. Kau mengerti maksudnya?" kata Franky dengan tampang percaya diri.
"Ah," Sanji memukul telapak tanganya sendiri saat sadar. "Kalau Franky yang bergerak, pihak pemerintah tak akan turut campur karena kau tidak terdaftar di anggota CP-9 yang disewa mereka," Sanji manggut-manggut paham.
"Lagipula…," Franky lalu melembutkan ekspresinya dan menambahkan, "-keloyalan dan hatiku tetap ada di kelompok Topi Jerami, di bawah pimpinan Luffy." Sekarang lelaki berambut biru itu meringis senang.
Ah… memang benar, Luffy itu betul-betul… spesial…—Sanji juga tersenyum saat mendengar pernyataan jujur itu dan melihat wajah Franky yang tampak sangat puas.
Sanji mengerti betul perasaan Franky. Dia sendiri, sampai kapan pun juga, akan mengikuti Luffy meskipun kadang bocah itu begitu tak masuk akal. Soalnya… dengan berada di dekatnya saja, mereka merasa dibutuhkan, merasa memiliki peran khusus baginya dengan kemampuan yang hanya dimiliki mereka, sekecil apapun itu. Luffy bisa melihat, menerima, dan menyukai mereka apa adanya, sebanyak apapun topeng yang dipasang mereka di depanya.
"Lalu… aku ikut-ikutan kena karena penasaran," kata Brook tiba-tiba.
"Oh ya, bang afro di sini kena masalah karena terlalu suka ikut campur," Franky terkekeh seraya menunjuk Brook lagi.
"Habisnya… kelihatan menarik, sih. Aku kan juga kelompok Topi Jerami," kata Brook sedikit cemberut. "Lagi pula kalau tidak ditolong, kau tak akan bisa mendapat akses ke kelompok Buggy dan tak akan dapat info sama sekali tentang Crocodile," lanjut Brook sambil mendengus.
"C-Croco—umph!?" Sanji sangat shok saat mendengar nama itu. Ia membelalakan mata dan hampir saja berteriak kalau Franky tak membekap mulutnya.
"Sst! Jangan keras-keras, bodoh! Bang afro juga! Hati-hati kalau ngomongin dia! Bisa dibunuh, lho!" wanti Franky sedikit panik dengan wajah penuh keringat dingin.
Brook buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tanganya yang sangat kurus dan panjang, sedikit kaget dan panik juga karena keceplosan. Setelah menunggu beberapa saat dalam keheningan menyesakan tanpa bergerak sama sekali meskipun tetap waspada, sepertinya tak ada gerakan aneh di luar ruangan. Perlahan-lahan Franky melepaskan tanganya dari mulut Sanji yang wajahnya mulai biru karena tak bisa bernafas.
"Bodoh! Mau membunuhku, ya!?" protes Sanji marah sambil bangun duduk, megap-megap mencoba bernafas dengan wajah pucat.
"Ah, sori, habisnya Bang koki mau teriak, sih," kata Franky merasa sedikit bersalah.
"Aah, aku yang salah karena tiba-tiba keceplosan. Maaf ya, Sanji-san," kata Brook dengan wajah salah tingkah dan menyesal juga.
"Uuh… kukira bakal mati betulan nih…," kata Sanji sambil menormalkan nafasnya lagi. "Terus… apa maksudnya dengan C…-Kau Tahu Siapa- tadi? Dia kan pemimpin perusahaan dagang besar di Grand Jipanggu saat ini. Bisa dibilang perusahaanya nomor tiga terbesar setelah Kaido Corp dan White Beard Corp," kata Sanji dengan wajah penasaran sekaligus tak percaya sekarang.
"Itu cuma wajah depan," kata Brook.
"Wajah depan…?"
"Seperti halnya Nico Robin, Bang koki, -Kau Tahu Siapa- juga punya dua wajah. Kalau Nico Robin punya wajah arkeolog terkenal di depan, di belakang dia bos mafia Grup Ohara. Lalu Cr…maksudku –Kau Tahu Siapa-, menurut info dari Buggy, meski dia bos perusahaan dagang besar di depan, di belakang dia adalah pemimpin salah satu geng terbesar di Jipanggu ini dengan total anggota lebih dari 2000 orang," jelas Franky lebih jauh lagi.
"Dua ri—!?" Sanji makin kaget.
Dilihat dari sudut mana pun, orang yang tengah mereka bicarakan ini sangat jauh dari geng-geng keroco yang suka cari masalah di wilayah kota dan yang sering mereka hadapi. Jumlah anggota yang seperti itu saja sudah jauh dari Grup Ohara yang kalau ditotal pun tak sampai 300 orang. Tampaknya kali ini mereka berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar besar.
"Ditambah lagi kelompok ini melakukan segala tindak kejahatan, mulai dari renternir ilegal biasa sampai pembunuhan berencana. Pokoknya kelompok ini sangat busuk dan tak ada korban yang bisa lolos setelah berurusan dengan mereka," lanjut Franky.
"Kalau memang mereka sudah mengacau sampai seperti itu… kenapa pihak pemerintah diam saja?" tanya Sanji tak mengerti.
"Pihak pemerintah tak pernah mengetahuinya," kata Brook ringan. "Soalnya kasus yang melibatkan mereka tak pernah muncul ke permukaan," lanjutnya.
"Kok bisa begitu? Pembunuhan berencana itu kasus besar, lho. Tak mungkin tidak muncul di koran…," kata Sanji tak mengerti.
"Memang kasusnya muncul, tapi bukan dengan titel 'Pembunuhan Berencana'," kata Franky. Sanji jadi makin bingung dan makin menekuk alisnya, sama sekali tak mengerti.
"Di koran sering ada kasus seperti ini kan: 'Anggota Parlemen Menghilang Tiba-tiba' atau 'Kematian Misterius di Keluarga Bangsawan' atau mungkin juga 'Dicari Orang Hilang' atau 'Kecelakaan Mobil dengan Kontainer Minyak' atau yang sejenis itu?" tanya Franky.
Sanji berpikir selama lima detik sebelum sebuah ide terbesit di kepalanya. "Tak mungkin… masa' seperti itu?" tanyanya tak percaya dengan mata terbelalak.
"Sayangnya memang begitu, Sanji-san. Sebesar apa pun kasus yang dibuat kelompok ini, organisasi mereka bisa mengkamlufasenya dengan hal-hal lain yang lebih masuk akal. Nama organisasi mereka tak pernah muncul ke permukaan. Aturan main kelompok mereka adalah 'kerahasiaan.' Baik kelompok itu sendiri maupun pemimpinnya, saling tak mengenal satu sama lain. Si pemimpin mengendalikan kelompoknya dari balik bayang-bayang dengan perintah-perintah dari surat dan email sekali pakai. Dia membentuk suatu sistem organisasi rahasia dengan code-name sehingga jika ada anggota yang tertangkap sekalipun, polisi tak akan bisa mendapat info apa-apa atau melacak organsisasi itu dari mereka," kata Brook sambil sesekali meminum teh lagi dari cangkirnya.
"Ya ampun…, lantas, nama organisasinya apa? Kalian tahu, kan?" tanya Sanji dengan wajah serius.
"Itu…,"
"Baroque Works," tiba-tiba muncul suara dari pintu, memotong Franky yang hendak bicara. Sanji, Franky, dan Brook sangat kaget dan segera menoleh ke arah pintu dengan panik. "Dasar, rupanya kalian membicarakan sesuatu yang seru di sini, ya?" seorang gadis manis berambut pink panjang dengan baju ketat putih dan rok span pendek pink mengkilap bermata bulat tersenyum ke arah mereka dengan wajah licik.
"Kau… yang tadi sore…," Sanji mengenali gadis itu sebagai salah satu gadis yang menculiknya.
"Celaka… dia mendengar percakapan kita," kata Franky dengan keringat di wajah. Brook juga berdiri dari kursinya, melihat gadis itu dengan wajah tegang.
"Sudah tahu organisasi kami punya moto 'rahasia' tapi kalian malah seenaknya membeberkanya ke orang lain. Kalau kalian mati, itu salah kalian sendiri, lho, Kakak rambut biru dan Abang dengan afro," kata gadis itu sambil terkikik menyebalkan. Bahkan Sanji merasa gadis ini sedikit menyebalkan meskipun dia manis.
"Bukanya barusan kau sendiri yang memberi tahu nama organisasimu," kata Franky dengan wajah aneh.
Suasana menjadi hening beberapa saat sebelum si gadis tiba-tiba berkomentar. "I-itu karena aku yang mau memberi tahu! Jangan permasalahkan hal-hal kecil begitu, bodoh!" Wajahnya jadi memerah karena marah dan malu.
Dia yang bodoh…—pikir Brook dan Franky berbarengan, sedang Sanji berpikir kalau gadis ini manis sekali dengan wajah malu-malu dan cemberut begitu.
"Lagian, kalian ini disekap bukanya merasa takut dan menyesal malah seenaknya bicara! Kalau kulaporkan ke bos, kalian betulan bakal dibuang ke jurang, lho! Lalu di koran bakal muncul berita kecelakaan yang melibatkan tiga lelaki bodoh dan sebuah bus!" lanjut perempuan itu dengan wajah mengancam.
"Jadi cara kerja kalian memang begitu, ya? Bos kalian betul-betul orang jahat, ya?" kata Brook dengan wajah tenang. Melihat reaksinya yang sedikit bodoh, sepertinya gadis ini bukan orang berbahaya, jadi dia tak perlu takut sekarang.
"Cara kerja kami keren, lho. Soalnya semua profesional sih," kata gadis itu dengan percaya diri.
"Profesional… kalau memang sehebat itu, kenapa kalian mau saja kerja untuk orang yang tak kalian kenal? Lagipula… melakukan tindakan ilegal… Kan ada tempat lain dimana kalian bisa kerja dengan lebih jujur?" kata Sanji tak paham.
Dilihat dari sudut manapun, para angota Baroque Works cuma dimanfaatkan saja. Crocodile tak bertanggung jawab apa-apa kalau mereka tewas atau tertangkap. Itu terlalu kejam, kan? Sama sekali berbeda dengan Robin yang bersedia menanggung risiko semua kegiatan Grup Ohara yang kadang memang berbahaya.
"Bodoh, kalau tak ada imbalan apapun, jelas saja kami tak mau," kata gadis berambut pink itu. "Bos menjanjikan sesuatu yang besar sebagai imbalan dari hasil kerja keras kami. Kalau kami bisa bersanding dengan bos pada akhirnya, sampai tujuh turunan pun kami tak akan miskin biarpun tak bekerja," kata gadis itu dengan mata bersinar keemasan.
Jadi untuk uang…?—pikir Sanji makin jijik dengan organisasi ini dan Crocodile.
"Lagipula, kami yang tak punya tempat di luar sana, diberikan tempat oleh bos di sini," lanjut gadis itu dengan serius. "Kami yang sudah dibuang di luar sana, diambil oleh bos di sini. Misalkan tak ada hadiah itu pun, sampai mati pun aku akan mengikuti bos," lanjutnya dengan penuh resolusi.
Melihat itu, Sanji, Franky, dan Brook tersentak. Mereka melihat mata yang sama dengan sobat-sobat mereka. Meskipun tujuannya berbeda dan keyakinan itu bukan ditujukan untuk kelompok mereka atau Luffy, gadis ini punya resolusi yang sama dengan mereka, untuk bertarung sampai mati demi orang yang ingin dilindungi.
"Kau tidak tahu orang macam apa dia itu," kata Sanji serius. Kalau gadis ini hanya dimanfaatkan saja sementara dia memiliki keyakinan yang begitu besar pada Crocodile… Sanji tak akan mengampuni lelaki itu.
"Aku tahu," kata gadis itu dengan yakin. "Aku tahu dia bukan orang baik-baik, tapi aku tak peduli. Bisa berguna untuknya, itu sudah cukup," lanjutnya dengan yakin.
Sanji, Brook, dan Franky saling pandang dengan wajah serius. Lalu mereka menghela nafas. "Baiklah, sesukamu saja," kata mereka menyerah.
"Kalau begitu, jangan campuri urusan organisasi kami lagi, paham?" wanti gadis itu. "Kalau kalian diam dan duduk tenang di sini saja, kalian bisa hidup lebih lama. Yah, meskipun pada akhirnya tak akan dilepas hiup-hidup sih," kata gadis itu lagi sambil mengangkat bahu, membalikkan badan untuk pergi.
Hei, hei…!—bulir keringat berjatuhan dari kepala Sanji dan kawan-kawan mendengar kabar kematian mereka bakal tetap diumumkan suatu saat nanti.
"Anu," Sanji memanggil sebelum gadis itu keluar dari pintu. Si gadis menoleh ke arahnya. "Boleh aku tahu namamu?" tanya Sanji sambil tersenyum.
"Namaku? Itu rahasia," kata gadis itu sambil menjulurkan lidahnya dengan wajah mengejek. "Tapi kalau hanya code-name, akan kuberikan dengan senang hati. Panggil aku Ghost Princess," katanya seraya keluar dan menutup pintu. Setelahnya tedengar bunyi 'klik' yang menyatakan pintu dikunci.
"Ghost Princess… rasanya pernah dengar," kata Franky sambil mencoba mengingat-ingat.
"Ah, aku juga merasa tak asing dengan itu," Brook setuju.
"Hah?" sedangkan sanji hanya bisa memiringkan kepala dengan tak mengerti.
OoooZxSoooO
"Sanji…"
DICULIK!?
Wajah Zoro langsung memucat saat mendengar kabar itu. Suaranya tercekat di tenggorokan dan dia hanya bisa membelalakkan mata. Bayangan-bayangan menyeramkan seperti saat Kuina diculik menghampirinya lagi dan tanganya jadi gemetar. Pikiran-pikiran buruk seperti 'Apa ini juga salahku?' langsung terbesit di benaknya dan membuatnya sangat takut.
"Zoro, kau masih di situ?"
Suara Luffy di telpon membawa Zoro kembali dari dunia fantasi horor-nya dan membuat Zoro bisa bernafas lagi yang secara tak sadar tadi tertahan saking kagetnya dia.
Zoro menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba untuk tenang meskipun rasa takut sudah menguasainya. "Ah, iya… Aku masih di sini," kata Zoro perlahan, suaranya sedikit bergetar, tapi mungkin Luffy tak akan menyadarinya dari telpon.
"Baiklah, aku dan Usopp, lalu Ace dan Paman Asap akan ke rumahmu sekarang, jadi jangan pergi-pergi," kata Luffy memberi informasi dengan suara yakin.
"Tunggu, Luffy… siapa yang menculik, maksudku, apa ada petunjuk tentang siapa yang menculik si alis keriting?" tanya Zoro pelan-pelan meskipun sambil mengepalkan tangan keras sekali sampai kukunya melukai telapak tanganya dan membuatnya berdarah.
"Ada, Paman Asap akan mencari pemilik mobil yang menculik Sanji dari nomor polisinya. Pokoknya jangan kemana-mana. Kita bicara lagi di rumah saja," kata Luffy lagi.
"Oh, oke… satu lagi saja, apa kau tahu berapa nomor polisinya?" tanya Zoro dengan suara sangat serius.
Luffy terdiam di telpon selama beberapa saat sebelum bicara lagi. "Jangan buru-buru, Zoro. Sanji akan baik-baik saja. Dia orang yang kuat," kata Luffy sebelum menutup telpon.
Zoro baru akan protes saat telponya tiba-tiba diputus oleh Luffy. Zoro jadi menggertakkan giginya dan membanting gagang telpon itu kembali ke tempatnya. "Sial—!" Sekarang Zoro cuma bisa duduk dan menunggu dengan cemas di ruang tamu.
Padahal Zoro baru saja mengerti dan baru mulai bisa menerima lagi, tapi kalau seperti ini… rasanya dia tak mau lagi. Dia sudah tak sanggup kalau harus kehilangan lagi.
Sanji…!
Zoro meletakkan kedua tanganya di depan wajahnya. Keduanya gemetar dan kulitnya terasa dingin. Dia merasa takut. Zoro merasa sangat takut. Dia tak menyangka keberadaan Sanji sudah sejauh itu masuk ke dalam hatinya. Padahal dia sudah menjaga jarak sampai sebegitunya, bahkan membuat Sanji marah dan benci padanya dengan sengaja supaya dia sendiri tak perlu memperdulikanya, tapi ternyata cara itu mustahil. Sejak pertama kali bertemu pandang dengan saudara tirinya itu, sejak pertama kali melihat cahaya di mata biru laut Sanji, Zoro sudah merasakan firasat buruk.
Sanji begitu indah, terlalu indah, dia bisa menangkap hati orang hanya dengan berdiri di hadapanya. Zoro tak mau mengakui hal itu. Dia tak ingin mengakui… kalau dia pun sudah tertangkap oleh Sanji sejak pertemuan itu. Dia berpikir kalau bisa mencoba menolaknya dengan sepenuh hati, dia tak akan memikirkannya sampai begini, tapi makin mengenalnya, Zoro makin tak bisa mengabaikannya. Dia sudah mencobanya, dia mencoba dengan keras, tapi tetap tidak bisa. Sanji sudah terlanjur… menjadi bagian dari hidupnya dan pikiran kalau harus kehilangan dia… membuat Zoro begitu takut.
Padahal itu kelemahan… kelemahan yang paling besar—!
Zoro membuka matanya lagi saat mengingat percakapanya dengan Luffy, Nami dan Vivi tadi siang.
"Hal yang tak bisa kau lakukan sendirian, jadi bisa kau lakukan kalau kau memiliki tempat untuk bergantung."
"Paradigmamu yang memandang orang yang dilindungi sebagai kelemahan itu salah besar, tahu. Justru karena ada orang yang harus dilindungilah, manusia bisa menjadi lebih kuat lagi."
"Rasa kehilangan adalah pemicunya. Agar suatu saat tak lagi mengalami perasaan sepedih itu… carilah teman sebanyak-benyaknya! Jadi jauh lebih kuat lagi! Lalu… bersama sahabat-sahabat itulah… kita bisa saling menjaga… dan saling melindungi!"
Menyayangi orang lain itu… bukan kelemahan, tapi kekuatan…. Karena ada yang harus dilindungi… manusia jadi jauh lebih kuat…!—Zoro memejamkan mata dan berkonsentrasi. Kata-kata teman-teman yang baru saja diterimanya entah kenapa membuat pkirannya sedikit tenang.
Zoro tidak sendirian. Kali ini… dia tidak sendirian. Dia akan menolong Sanji. Pasti… kali ini dia akan bisa melindungi orang yang penting baginya! Dia tak mau…, salah, bukan tak mau, tapi dia tak akan kehilangan lagi! Pasti…
Beberapa menit kemudian, bel rumah Zoro berbunyi. Zoro bangkit dari sofa dan ke pintu depan untuk menyambut rekan-rekan yang akan membantunya mengambil Sanji kembali.
OoooZxSooo
"Hei, Abang yang rambut pirang," tiba-tiba seorang pria masuk ke kamar tempat Sanji, Brook dan Franky disekap. Ketiga penghuni kamar mengangkat wajah mereka dan melihat ke arah pintu dengan wajah kaget.
Rambut pirang…maksudnya Sanji?—pikir Brook dan Franky agak khawatir.
"Apa?" tanya Sanji dengan wajah was-was juga.
"Bos ingin ketemu," kata lelaki itu.
Sanji ingat wajah pria berambut pirang itu. Dia yang bersama dengan si botak… atau si cepak? Rasanya rambutnya cepak, tapi karena Sanji mau mengejeknya, dia akan menyebutnya si botak saja. Mereka yang mencoba membawanya dengan paksa sebelum gadis-gadis itu muncul.
"Kenapa bos kalian segitunya ingin ketemu aku, sih? Bukanya identitasnya rahasia?" tanya Sanji tak paham.
"Yah, sesudah ketemu paling-paling kau tak akan keluar lagi dari tempat ini soalnya, Blackleg Sanji," kata lelaki itu sambil menyeringai.
Brengsek…!—Sanji jadi merasa ciut. Oh, dia tidak takut mati, sama sekali tidak, tapi kalau harus mati sebelum impianya terwujud… itu sangat disayangkan. Lagipula… Sanji belum sempat minta maaf pada Zoro. Dia juga tak jadi masak makanan favorit si marimo itu. Mana Sanji tak pulang ke rumah… Apa dia bakal khawatir… atau mungkin dia malah senang kalau Sanji tidak pulang lagi?
Bodoh! Aku mikir apa, sih!? Zoro itu mungkin memang lelaki dengan sifat jelek dan menyebalkan, tapi dia juga punya hati! Kata-kata Chopper kemarin yang membuktikanya. Zoro tak mau menyayangi lagi karena takut kehilangan dan reaksinya yang berlebihan kemarin itu karena Zoro sudah mulai menganggapku penting, kan!?—pikir Sanji serius. Aku harus bisa keluar dari sini hidup-hidup. Kalau perlu, akan kuhajar buaya sialan itu!
"Huh, ancamanmu tak membuatku takut," kata Sanji seraya berdiri. "Kalau perlu… kuporak-porandakan markas ini," katanya dengan mata petarung yang menantang, berapi-api.
"Semangat yang bagus, tapi…," lelaki itu mengangkat suatu benda hitam yang segera dikenali Sanji dan kawan-kawanya segai sebuah pistol revolver, dan mengarahkanya ke kepala Sanji. "Itu kalau isi kepalamu tidak berantakan duluan," lanjutnya sambil menyeringai lagi, mulut pistol di tanganya menempel di dahi Sanji.
Sebulir keringat bergulir ke dagu Sanji dari kepalanya. Ekspresinya tegang, begitu juga dengan Brook dan Franky di belakangnya. Tanda bahaya sudah berdenging dengan situasi mereka barusan.
"Hei, hei, jangan begitu, Bang! Dia cuma anak-anak, lho!" Franky bereaksi dengan agak panik. Lelaki ini berbahaya. Dia biasa menembak, atau membunuh orang sambil tertawa.
"Anak-anak, ya… tapi kakinya itu bisa jadi senjata yang mematikan juga. Apa dilukai dulu saja?" sekarang pria itu mengarahkan pistolnya ke kaki Sanji.
"Tunggu, Tuan, apa menurutmu itu tindakan bijaksana? Bosmu hanya ingin bicara dengan Sanji, kan? Kalau kau melukainya, bisa jadi dia akan marah," kata Brook membujuk dengan kata-kata yang meyakinkan.
"Mungkin kau benar," kata lelaki itu dengan senyum kecil yang tenang, memasukkan pistolnya lagi ke dalam jas hitamnya. "Tidak baik kalau Thunder God yang tangan kanan bos tidak menjalankan keinginanya dengan baik, kan?" lanjut pria itu dengan tampang bangga.
Thunder God… code-name lagi…—pikir Sanji dengan wajah sedikit lega. Setidaknya dia tak akan ditembak di kaki atau di kepala.
"Kalau begitu, ayo segera pergi, Blackleg. Bos tidak suka menunggu terlalu lama," kata Thunder lagi kemudian dengan tatapanya yang merendahkan dan menyebalkan itu.
"Baiklah," kata Sanji tak punya pilihan. Ia melirik ke arah Franky dan Brook yang berwajah cemas itu. Sanji tersenyum. "Tak apa-apa, dibunuh pun aku tak bakal mati, kok," katanya sambil meringis.
"Bodoh! Jangan ngomong yang jelek-jelek, dong!" Franky malah marah dan mengangkat tinju ke atas kepalanya karena candaan Sanji keterlaluan.
"Sanji-san…," Brook tetap memasang wajah khawatir saat Sanji dibawa keluar kamar dan pintu kamar ditutup lagi. "Apa Sanji-san bakal baik-baik saja?" katanya cemas sekali.
"Semoga saja begitu. Yah, bang koki kuat juga sih, jadi kurasa tak akan sampai mati," kata Franky sambil mendengus ringan.
"Yah, semoga saja Cr…-Kau Tahu Siapa- benar-benar cuma mau bicara," desah Brook seraya duduk lagi di kursinya.
OoooZxSooo
Smoker melihat list nomor polisi mobil dan nama pemiliknya dari laptop yang dibawanya dari kantor. Dia sedang mencoba mencocokkan nomor polisi mobil yang dilihat Usopp dengan data yang ada di komputernya.
"Bagaimana, Paman Asap?" tanya Luffy dengan badan tak bisa diam.
"Sedang diproses, Luffy. Jangan ganggu Smoker, dong," Ace menyela sambil menahan adiknya supaya tidak melompat-lompat.
"Hn… nomor polisinya bukan dari kota ini," kata Smoker saat tak menemukan nomor yang sama di dalam data Kota Grand Line. "Mungkin dari kota lain, Red Line, misalnya. Biar kucoba dulu," kata Smoker lagi.
"Pak Smoker," Zoro tiba-tiba angkat bicara. Smoker melihat ke arahnya. "Coba dicari dengan data dari seluruh Grand Jipanggu," saran Zoro.
"Di kota lain mungkin ada nomor polisi yang sama, lho. Nanti jangkauanya jadi terlalu luas," kata Smoker. "Sanji baru saja diculik, tak mungkin dia dibawa ke tempat yang jauh dari Grand Line. Mungkin mereka malah masih di jalan," lanjutnya menjelaskan.
"Tak apa-apa. Kalau memang ada di beberapa tempat, tinggal dicari dari tempat yang paling dekat nantinya," kata Zoro lagi membujuk.
"Baiklah, aku pakai Nation-wide search kalu begitu," kata Smoker setuju setelah melihat keyakinan di mata Zoro.
"Ngomong-ngomong, penculiknya tidak telpon ya?" Usopp tiba-tiba bertanya.
"Belum ada sehari Sanji menghilang. Polisi pun belum akan menganggap ini kasus penculikan kalau belum 24 jam," jawab Smoker, "-dan seperti kataku tadi. Mungkin mereka masih di jalan," lanjutnya.
"Aku melihatnya dibawa paksa, lho. Apa polisi tak bisa bergerak dengan kesaksian itu?" tanya Usopp heran.
"Bisa, tapi prosedurnya lama karena kau harus mengisi ini dan itu dulu sebelum polisi mendapat perintah untuk mulai bergerak," jawab Smoker lagi, masih memasukan data ke komputernya.
"Eeh… ternyata seluk beluk kepolisian merepotkan juga," kata Usopp dengan wajah tak senang. "Lantas, kenapa Pak Smoker langsung bergerak begitu ada laporan?" tanya Usopp lagi.
"Aku tak senang dengan prosedur bertele-tele. Padahal kalau cepat ditangani, pihak keluarga tak perlu sampai harus membayar ini itu untuk menyelamatkan anggota keluarga mereka. Kadang-kadang pihak atas itu menyebalkan," kata Smoker lagi dengan wajah tak senang. "Aku tak pernah mengkuti prosedur menyebalkan begitu. Kalau ada kasus, biasanya langsung kutangani di tempat. Makanya aku ditempatkan di bagian kenakalan remaja," lanjutnya.
"Ooh," Usopp manggut-manggut.
"Tapi kenapa Sanji diculik, sih? Siapa yang kira-kira akan melakukannya?" tanya Ace heran. Seingatnya Sanji itu anak yang baik biarpun mulutnya agak kasar dan suka genit sama perempuan. Masa' hanya karena itu ada yang dendam sampai segitunya sampai menculiknya segala?
"Paling-paling kelompok yang pernah kita hajar," Luffy menjawab sambil angkat bahu. Nah, kalau yang ini mungkin masuk akal. Biar kurus begitu, kaki Sanji mematikan sih. Siapa tahu orang yang pernah dihajarnya ingin balas dendam.
"Sanji tak akan kalah kalau itu mereka, Luffy. Lagipula aku bakal tahu kalau itu salah satu dari orang-orang yang pernah berseteru dengan kelompok kita," kata Usopp tak setuju. "Wajah-wajah itu betul-betul baru pertama aku lihat. Mungkin memang dari kota lain, Luffy. Lagipula kelompok mana yang bakal menggunakan anak perempuan untuk menculik orang, sih? Sepertinya kelompok ini tahu kalau Sanji lemah sama perempuan," lanjut Usopp dengan tak paham. "Apa mereka menyelidiki dia dulu?" tanyanya sambil berpikir.
"Itu… mungkin gara-gara aku," kata Zoro tiba-tiba, mencuri perhatian Ace, Usopp, Luffy, dan bahkan Smoker meskipun dia tidak menoleh ke arahnya. Smoker ikut mendengarkan mereka. Siapa tahu ada yang bisa jadi petunjuk dari percakapan bocah-bocah itu.
"Gara-gara kau gimana?" tanya Luffy heran.
"Sejak dulu seperti itu," kata Zoro dengan suara tertekan. "Aku selalu menarik perhatian orang-orang bermasalah dan pada akhirnya, orang-orang di sekelilingku yang jadi terluka," lanjutnya sambil memejamkan mata dan menggertakkan gigi. "Selalu seperti itu…! Kali ini pun… pasti salah seorang dari orang-orang itu yang melakukanya…!"
"Zoro…," Usopp tampak iba melihatnya.
Ace melihat Zoro dengan wajah kesal. "Jangan bicara bodoh. Bagaimana bisa itu jadi salahmu? Kau kan tak berbuat apa-apa," kata lelaki berjerawat yang lebih tua darinya itu sambil menggetok kepala Zoro. "Yang salah itu ya, mereka yang menculik Sanji," lanjutnya sambil mendengus.
"Kau tak mengerti," kata Zoro dengan wajah putus asa. "Mereka yang dendam padaku tak akan puas sebelum menghabiskan semuanya! Aku selalu membahayakan orang-orang di sekelilingku seperti itu!" lanjut Zoro dengan wajah sangat menyesal. "Selalu begitu…, makanya… aku tak ingin ada yang mendekat…!"
"Sudah ketemu," kata Smoker memotong pembicaraan yang menyesakkan begitu. Mereka itu remaja yang punya masalah terlalu banyak, deh.
"Oh, siapa yang punya mobil itu?" tanya Luffy langsung antusias. Usopp, Ace, dan Zoro pun menoleh ke arahnya dengan cepat saat mendengar informasi itu.
"Aah, seorang pria dengan nama One Bones," kata Smoker. "Yang paling dekat dengan Grand Line, ada di wilayah Kota Calm Belt, dia yang punya nomor itu," lanjutnya lagi sambil memandang bocah-bocah di depanya.
"Bones? Siapa?" tanya Luffy heran.
"Tuh kan, tak kenal?" Usopp angkat bahu juga.
"Apa bisa dicari di net?" Ace memberi usul.
"Bones…!?" hanya Zoro yang membelalakkan mata dengan sangat kaget. Jantungnya berdebar-debar dengan begitu kerasnya seolah akan menghancurkan tulang rusuknya. Keringat dingin mengucur dari kepala ke dagunya.
"Ada apa Zoro?" tanya Luffy dengan wajah heran.
"Bones… dia itu… bos kelompok yang dulu menculik Kuina… dan menabraknya hingga tewas…!"
OoooZxSoooO
Sanji dibawa ke sebuah kamar dengan pintu besar. Di depanya ada penjaga, pria yang kemarin ikut menguntitnya bersama Thunder.
"Hohoo, puteri tidur sudah bangun rupanya?" kata si botak dengan seringai menyebalkan.
"Iya dan melihat tampang jelekmu begitu bangun membuat mood-ku jadi jelek," komentar Sanji pedas-pedas dengan sadisnya untuk membalas karena menyebut dia perempuan.
"Apa—!?"
Roman wajah si botak berubah marah dan hampir saja menyalak kalau Thunder tidak menghentikanya. "Stop, Blade. Bos bakal marah kalau dia sampai luka sebelum bertemu denganya. Nanti saja kalau dia sudah selesai, paling-paling bos akan menyuruh kita menghabisinya juga," kata Thunder.
Blade, si botak, pun menyeringai mendengarnya. "Benar juga. Kalau sudah selesai kita nikmati saja pelan-pelan sambil mengajarnya," katanya sambil menjilat bibirnya dengan penuh nafsu.
Dasar mesum—! Pikir Sanji merasa jijik. Sebelum itu terjadi, mending dia gigit lidah dan mati daripada dipermainkan orang-orang kurang ajar ini. Tapi sebelumnya dia bakal menghajar mereka dulu dan kalau dia benar-benar jadi mati, dia bakal jadi hantu dan meneror mereka semua seumur hidup!
Thunder lalu mengetuk pintu kamar itu sebelum menyapa, "Thunder sudah membawa Blackleg Sanji."
"Biarkan dia masuk," suara berat di balik pintu menjawab dan Blade membukakan pintu untuk Sanji dengan seringai menyebalkan itu, memperjelek wajahnya yang sudah jelek.
"Masuklah," kata Thunder sambil mendorong Sanji untuk masuk ke kamar luas itu, lalu menutup pintunya lagi tanpa ikut masuk ke dalam.
Sanji melihat ke kiri dan ke kanan. Tak ada jendela yang bisa dipakai untuk kabur. Ada meja besar di tengah-tengah ruangan itu. Di ujung meja yang paling jauh dari Sanji ada sebuah kursi ungu tinggi yang besar, dihadapkan ke belakang. Sepertinya si buaya duduk di sana, dan masih belum mau menampakkan sosoknya di depan Sanji meskipun Sanji sudah tahu siapa dia dan bagaimana wajahnya dari iklan-iklan di TV dan majalah.
Di ujung meja yang lain disediakan kursi bulu warna merah darah yang terlihat nyaman untuk diduduki. Sanji belum mau duduk. Dia masih memperhatikan daerah sekitarnya. Banyak barang pecah belah di lemari-lemari kaca yang elegan dan tampak mahal. Vas-vas dan guci-guci besar yang indah bertebaran di pojok-pojok ruangan. Ada juga lukisan-lukisan realis dan naturalis yang indah dan tak begitu dipahami Sanji, tergantung di dinding. Tak salah kalau menyebut bos buaya ini berselera tinggi dan kaya raya.
"Lalu," Sanji sudah puas menginspeksi ruangan dan sekarang saatnya bicara, "-apa yang kau inginkan dariku, Crocodile?" tanya Sanji serius mengambil risiko dibunuh ditempat dengan langsung menyebut nama aslinya.
Terdengar suara tawa pelan dari kursi di depanya. "Jangan tegang begitu," katanya sambil perlahan-lahan membalikkan kursi besarnya untuk berhadapan langsung dengan Sanji. "Duduk saja dulu, lalu kita bisa bicara dengan santai," kata pria berambut hitam lurus sebahu yang dimodel klimis itu dengan senyum tenang yang terlihat busuk di mata Sanji.
Sanji menatap lelaki di depanya dengan wajah sengit. Dia sudah tak suka dengan wajahnya ketika melihat dia bicara di depan publik atau pers, tapi bicara langsung denganya membuat rasa tak sukanya bertambah sepuluh kali lipat. Sanji terus menatap lelaki itu dengan tajam dan duduk tanpa melepas pandangan mengancamnya dari si buaya.
"Anak baik, kau bisa diajak bicara. Lebih baik dari orang-orang sebelumnya yang memilih mati di tempat," kata Crocodile dengan tawa liciknya lagi. Sanji ingin sekali menendangnya, tapi dia menahan diri. Siapa tahu si buaya ini juga menyimpan pistol di balik jas panjang bulu cokelatnya itu?
"Aku sudah duduk. Katakan keperluanmu," kata Sanji mencoba tetap tenang meskipun dia sangat marah sekarang.
"Wah, wah, tipe yang tak suka basa-basi rupanya," kata Crocodile masih dengan senyum liciknya. "Bolehlah, aku tidak benci orang yang lurus dan langsung seperti itu," lanjutnya lagi. "Oke, langsung saja, ada orang yang aku inginkan," katanya.
"Orang?" tanya Sanji sedikit bingung.
"Betul, dan saat ini, kau adalah orang yang paling dekat denganya," lanjut Crocodile lagi sambil melemparkan surat kabar ke arah Sanji.
Si pirang menangkap surat kabar itu dan melihat berita pernikahan ayahnya dan Jessica di halaman kedua. Sanji langsung punya firasat buruk saat melihatnya. "Siapa yang kau bicarakan?" tanya Sanji dengan wajah serius, tapi juga tak paham dengan maksud lelaki di depanya itu.
"Roronoa Zoro," katanya.
………………. "Hah?" Sanji hanya bisa memasang wajah bodoh saat mendengarnya.
"Aku menginginkan dia," kata Crocodile lagi, "-sebagai bawahan tentu."
"Hei… apa kau sadar dia masih anak-anak? Dia bahkan lebih muda setahun dariku," kata Sanji menganggap orang di depannya ini tolol.
"Itu tak ada hubungannya. Pemuda itu kalau dipoles sedikit bisa menjadi tambang emas. Kemampuan bertarungnya yang seperti iblis itu sangat disayangkan kalau hanya berakhir di kejuaraan kendo nasional," kata Crcodile lagi. "Penampilan yang mencolok dan kemampuan berpedang yang handal… saat dia menebas musuh dengan pedang sungguhan dan bersimbah darah, dia terlihat seperti Ashura, dewa perang yang tak ada bandinganya," lanjut Crocodile lagi dengan tatapan mata yang berbahaya.
"Kau sinting! Mana mungkin dia memakai pedang sungguhan!" Sanji berdiri dengan marah. Dia tak mengerti orang ini bicra apa, tapi yang jelas dia pasti punya hobi buruk seperti bawahan-bawahanya, dan mendengar nama Zoro disebut oleh pria tak bermoral ini membuat Sanji naik darah.
"Wah, rupanya kau tidak tahu?" Crocodile menyeringai dengan wajah sinis. "Dia punya tiga pedang legendaris yang harganya tak ternilai saat ini," kata buaya itu dengan senang. "Dan dia menggunakanya untuk mencari masalah dengan kelompok-kelompok anak buahku. Kau pikir sudah berapa orang yang ditebas anak itu?"
"Zoro tidak akan membunuh orang!" teriak Sanji keras. Dia sama sekali tak percaya satu pun ucapan lelaki busuk ini. Zoro tidak membawa pedang sungguhan. Dia hanya memakai shinai dan dia tidak akan membunuh orang lain sebrengsek apapun lawannya.
"Hmm… rupanya kau benar-benar mengenal anak itu, ya? Memang benar dia sedikit lembek dan hanya mengirim anak buahku ke penjara, tapi aku suka caranya bertarung. Dia orang yang kuat dan aku menginginkanya menjadi salah satu bagian dari kekuatanku saat ini untuk membentuk dunia ideal bagiku," katanya sambil meminum anggur di gelas kristal yang ada di tanganya. "Lalu kau, Blackleg Sanji, akan jadi alatku, untuk membuatnya bertekuk lutut," lanjutnya sambil menunjuk Sanji dengan jari telunjuk dari tanganya yang bebas.
Alis Sanji sudah berkedut-kedut dan dia sudah menggertakkan gigi dan mengepalkan tinju karena marah. Dia sudah tidak tahan lagi. "Ja-…JANGAN BERCANDA!" Sanji mengangkat kakinya dan menghantam meja besar di hadapanya sampai hancur berantakan. Crocodile hanya menatapnya dengan tatapan dan senyum tenang. "Mau menjadikan aku sandera untuk mengendalikan Zoro… katamu…!? Sebelum itu terjadi, kau dan kelompok busukmu yang akan kuhancurkan duluan!" teriak Sanji keras dengan mata berkobar.
Baru kali ini dia diremehkan begini dan dia merasa sangat terhina dengan perlakuan tak sopan itu. Kali ini Sanji benar-benar akan mengamuk, tak peduli lagi meskipun lawanya adalah orang yang jauh lebih kuat darinya dari segi apa pun juga. Sanji tak akan tenang sebelum bisa menghajarnya.
"Oh, di luar dugaan… Mungkin kau juga akan jadi pilar manusia untuk membentuk dunia baru," Crocodile menyeringai ke arah Sanji dengan tatapan yakin.
"Coba saja kalau bisa, dasar buaya busuk!" Sanji sudah bersiap-siap untuk bertarung ketika pintu di belakangnya terbuka dan anak buah Crocodile masuk ke dalam dengan senjata di tangan mereka…
Bersambung…
A/N: Yah, lagi-lagi evil cliffy XD Oh, pertempuranya baru akan dimulai ternyata! XDD Kyaa, Sanji dalam bahaya! Semoga Zoro dkk bisa tepat waktu menolong Sanji sebelum badanya penuh lubang gara-gara peluru DX. So? Gimana dengan capter ini? Cukup menegangkan? Adegan pertarungannya bakal baru muncul di capter selanjutnya! Kira-kira apa yang bakal terjadi selanjutnya, ya? Ayo, ayo, berikan pendapat dan ide kalian! Sapa tahu ide kalian bisa dipake XDDD. Oke, jadi segini dulu untuk capter ini. Sampai ketemu di capter depan, ya! ^__^
With Love,
Lunaryu~~~
