CHAPTER 6
Kedua tangan Luhan sudah tidak lagi menutup rapat mulutnya. Saat ini Luhan justru melemparkan tatapan bencinya pada Sehun. Kenapa hidupnya tak bisa jauh-jauh dari Sehun? Kesialannya saat di sekolah karena Sehun, dan sekarang orang yang Ia sayangi-via-sambungan jarak jauh juga Sehun?! Takdir apa yang direncakan oleh Tuhan untuk Luhan?!
"Aku tidak menyangka kalau Ching Chong adalah Deer-ssi," komentar Sehun dingin-merespon tatapan tajam Luhan.
"Dan aku tidak menyangka berandalan macam kau adalah Jae Woon." sahut Luhan tidak kalah ketus.
Sehun tertawa. Bagi Sehun—Luhan benar-benar menggelikan. "Dunia sepertinya sempit,"
Oh, dan Luhan baru saja menyadari sesuatu. Mungkin inilah alasan kenapa setiap kali Ia ingin bertemu dengan JaeWoon ada Sehun disana, karena Sehun-lah yang bernama JaeWoon.
Takdir ini—sungguh Luhan tidak bisa menerimanya. Yang benar saja, orang yang Ia paling benci ternyata juga orang yang cukup Ia sayangi! Luhan tertawa kecil hingga akhirnya terjatuh di bangku taman yang sempat Ia duduki.
"Dan, kenapa kau berpenampilan seperti ini? Oh apa kau ingin menyembunyikan identitasmu?" ujar Sehun sambil ikut duduk di samping Luhan.
"Kau juga menyembunyikan identitasmu, brengsek." sembur Luhan kasar.
Sehun terkejut—namun Ia tak begitu memperlihatkan ekspresi terkejutnya. "Apa kau seorang Alter Ego? Kau sangat berbeda,"
"Terserah apa katamu," Luhan menukas cepat komentar Sehun tentang dirinya.
Apa itu Alter Ego? Huh, sangat tidak penting.
Sehun kemudian berdiri, diikuti Luhan mengadah memandangi Sehun. "Aku tidak punya banyak waktu, kau tahu. Kecuali jika Deer-ssi yang aku temui bukanlah dirimu."
Bersamaan dengan itu, Sehun melangkah pergi meninggalkan Luhan. Dan Luhan tertawa kecil kembali sambil tersenyum kecut bak orang yang sedang depresi. Luhan ikut bangkit dari bangku taman kemudian ikut melangkah pergi dari taman Hwangudan.
.
.
Luhan masuk ke sekolah di hari seninnya masih dengan penampilannya yang nerdy dan culun. Ia tak peduli meskipun kemarin identitas—atau bisa disebut kepribadian lainnya baru saja ketahuan oleh orang yang paling Ia benci di sekolah sekaligus orang yang sudah mengisi hatinya disaat bersamaan.
Layaknya gaya khasnya, Luhan memasuki kelasnya. Jelas ada cemohan saat dirinya baru memasuki kelasnya. Namun Minseok langsung menyapanya cukup keras sambil melambaikan tangannya.
"Kenapa kau nampak berbeda hari ini?" tanya Minseok yang direspon kening yang mengerut oleh Luhan.
"Entahlah," jawab Luhan acuh tak acuh sambil meletakkan tasnya di atas kursinya.
"Ah, kau mengecat rambutmu! Kelihatan cocok untukmu!"
Cat rambut—OH SIAL!
Luhan gemas sekali dengan dirinya yang bodoh ini. Kenapa bisa-bisanya Ia lupa untuk menghilangkan cat rambutnya?! Warna rambut cokelat-keemasan masih melekat di rambutnya. Oh sial sekali, kenapa Luhan bisa lupa!
"Ah-um, ya terima kasih, Minseok." Luhan tersenyum canggung.
Tanpa sengaja Luhan menoleh ke arah lain kelasnya—dan disana ada Sehun yang tengah memperhatikan Luhan dengan pandangan meremehkan. Luhan yakin bahwa nyawanya akan terancam sebentar lagi. Mungkin Sehun akan mengampirinya lalu melakukan bullying lagi pada Luhan. Yah Luhan tidak tahu.
Sehun bangkit dari kursinya. Luhan menyadari itu. Kalau sudah begini Ia harus bersiap tentang sesuatu yang buruk yang akan terjadi padanya. Namun Luhan mencoba bersikap tenang. Ia yang tadinya mengacuhkan cerita Minseok soal-entah-apa kini mencoba memperhatikan untuk mengalihkan perhatiannya dari kecemasan.
Tapi Sehun justru keluar dari kelasnya. Tandanya Luhan selamat dari bullying Sehun. Luhan langsung menghembuskan nafas lega.
"Ada apa, Luhan?" Minseok bertanya pada Luhan yang tiba-tiba saja menghembuskan nafas kelegaan cukup keras.
"Ehm tidak apa." jawab Luhan berusaha tidak menimbulkan rasa curiga.
Namun Minseok sudah terlanjur curiga dengan gerak-gerik Luhan. Hanya saja Ia tidak mungkin bertanya terlalu dalam jika Luhan sudah menjawab 'tidak apa'.
.
.
"Ayolah Luhan! Kau datang ya ke clubku malam ini?"
Luhan mendengus kesal. Sejak pulang dari sekolahnya hingga sore hari menjelang matahari tenggelam, Jongdae terus menghubungi Luhan agar Luhan mau pergi ke club Jongdae. Dan Luhan sudah menolak ajakan itu karena dirinya sedang tidak mood. Namun Jongdae terus memaksa.
"Aku mau minuman gratis sepuasku kalau kau mengajakku ke clubmu malam ini."
Luhan memberikan penawaran yang pastinya akan ditolak mentah-mentah oleh Jongdae. Jongdae sudah tahu kala Luhan meminta minuman sepuasnya berarti Luhan sedang cukup stres. Biasanya Luhan akan meminum lebih dari lima botol dengan kadar alkohol berbeda-beda.
Dan jika gratis, tidakkah Jongdae akan rugi untuk botol yang entah berapa yang akan Luhan minum?
"Ouh okay! Baiklah! Sepuasmu! Sekarang juga pergi ke clubku! Okay?"
Mata Luhan membesar. Hey itu hanya bercanda! Luhan memang sedang stres tapi dia sedang tidak berminat untuk minum sebanyak-banyaknya. Tapi—jika gratis? Tidak boleh disia-siakan!
"Okay kau memang baik~"
Luhan menutup sambungan teleponnya kemudian berdiri dari sofa rumahnya. Malam ini sepertinya tidak akan buruk. Minum sepuasnya,
atau mungkin dengan tambahan wanita cantik?
.
.
Seperti biasanya, Redpoint alias club milik Jongdae dan Hyungnya itu selalu ramai oleh banyak pengunjung dan juga wanita-wanita berpakaian minim yang sedang mencari pria berkantung tebal.
Luhan langsung menuju sebuah sofa dengan meja kecil di depannya. JongDae yang melihat raut wajah lesu Luhan dari arah bar langsung menghampiri Luhan dengan menepuk pundaknya terlebih dulu.
"Kau terlihat lesu. Pantas kau meminta minum sepuasnya," sembur JongDae tak tahu sopan santun.
"Haha, berikan aku botol pertamaku."
"Eits, tidak. Aku baru akan memberimu minuman gratis setelah kita selesai rapat admin, oke?"
Apa? Rapat admin? Apa jangan-jangan ada Jae—tidak Sehun nantinya? Tunggu dulu, kenapa rapat-rapat seperti ini bukan dirinya yang menjadwal?!
"Hei! Aku owner dan creator situsku! Kenapa ada rapat seperti ini bukan aku yang mengadakan?!" sungut Luhan ketus.
"Hei, santai Luhan. Kau tahu ini mendesak, okay? Hanya sebentar, kata Suho Hyung ada masalah."
Luhan mendengus. Kemudian Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lantai dansa—menatap penuh rasa sebal pada banyak orang di lantai dansa.
"Oke, kau tunggu disini sebentar. Aku akan memanggil Jae Woon dan Suho hyung,"
JAE WOON?!
Luhan makin kesal. Ada Sehun juga rupanya! Jadi apa dirinya jika ada Sehun nantinya?! Karena hatinya yang sedang bersungut kesal, Luhan sudah tidak sadar jika Jongdae sudah pergi meninggalkan dirinya sendirian di sofa.
.
.
Jongdae memang tidak main-main saat benar ada Jae Woon alias Sehun dalam rapat admin situsnya. Luhan menunjukkan wajah tak sukanya pada Sehun. Sedangkan Sehun hanya diam sambil memasang wajah datar. Keduanya yang duduk bersebrangan terus menatap satu sama lain dengan tatapan seperti itu.
Namun Joonmyeon merasa janggal. Bukankah seingat Joonmyeon saat Sehun menerima panggilan dari Luhan waktu itu cukup lama? Kenapa saat mereka bertemu justru hanya berdiam satu-sama lain?
Well, tapi itu bukan urusan Joonmyeon atau Jongdae yang juga merasa janggal dengan kedua admin yang sedang diam seribu bahasa dan saling melemparkan tatapan yang baik Joonmyeon mau Jongdae tidak paham apa arti tatapan keduanya.
Jadi Joonmyeon memutuskan untuk segera memulai rapat.
"Ehm, ini soal masalah permintaan iklan yang cukup banyak di situs kita,"
"Oh, ya kemarin ada sekitar sepuluh peng-iklan menelponku," sanggah Luhan cepat ketika Joonmyeon membuka pembicaraan.
"Nah, ada banyak penawaran iklan yang juga aku terima. Kita akan membahas iklan mana yang sebaiknya dipasang di situs kita,"
Sehun, Luhan serta Jongdae yang awalnya bersandar pada sandaran sofa yang melingkar, kemudian bangkit untuk menyimak bahasan rapat. Luhan berharap rapat ini cepat selesai sehingga Ia bisa minum sebanyak-banyaknya.
.
.
"Lima botol dulu, kalau kau mau menambah, panggil saja pelayan baruku—namanya Jung Kook,"
Jongdae menaruh lima botol minuman keras dengan kadar alkohol berbeda-beda di hadapan Luhan diiringi dentingan khas botol kaca. Luhan terkekeh. Luhan tidak perlu protes atau menukar minuman yang Jongdae bawakan karena Jongdae sudah tahu apa selera Luhan.
"Mana yang bernama Jung Kook?" tanya Luhan untuk kemudahan menambah botolnya.
Jongdae mengedarkan pandangannya pada penjuru clubnya. Beberapa kali Luhan melihat mata Jongdae yang nampak disipitkan. "Dia berdiri dekat bar, yang wajahnya terlihat imut itu. Kau tahu?"
Jongdae menunjukkan jarinya pada sesosok laki-laki muda bernama Jung Kook—atau pelayan barunya pada Luhan. Luhan menganggukan kepalanya.
"Baiklah aku harus mencari bitchyku yang tadi,"
"Hei, kau tidak mau menemaniku minum?" protes Luhan saat Jongdae hendak pergi.
"Jae Woon yang akan menemanimu—atau kau ingin seorang bitchy yang menemanimu?" tanya Jongdae sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Luhan mendengus melihat Jongdae yang bersikap konyol.
Kemudian JongDae pergi begitu saja meninggalkan Luhan sendirian dengan kekehan kecil.
Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengambil satu botol minuman dengan kadar alkohol paling rendah—menurutnya. Luhan cepat-cepat meneguk habis isi botol itu.
"Rupanya kau juga suka minum. Aku masih tidak percaya bahwa ternyata kau begitu rusak,"
Luhan tertawa sambil mendengus mendengarkan komentar Sehun yang duduk bersebrangan dari sofa melingkarnya. Ia mengacuhkan kehadiran-orang-yang-paling-Ia-hindari di sekolah sambil terus meneguk botol selanjutnya. Sehun merasa di acuhkan segera mengambil satu botol milik Luhan dan membukanya.
"Hei! Kembalikan minumanku! Brengsek!" umpat Luhan kasar.
Sehun mengacuhkan umpatan Luhan dan meneguk habis isi botol itu. Sebenarnya Luhan tersungut emosi. Tapi toh, dia bisa memesan lagi. Ingatlah bahwa JongDae memberinya fasilitas gratis berupa minum sepuasnya.
"Kenapa kau minum alkohol sebanyak ini?" tanya Sehun sambil sesekali mengerjapkan matanya—seperti menahan pusing di kepalanya. Bukankah Sehun tidak tahu berapa banyak kadar alkohol yang baru saja Ia minum?
"Aku depresi karena kau, brengsek."
Luhan menjawab setelah meneguk habis botol minuman dengan kadar alkohol paling tinggi. Itulah mengapa Luhan menjawab pertanyaan Sehun dengan perkataan yang sangat kasar. Sehun paham bahwa Luhan sudah cukup mabuk—bahkan sangat mabuk. Sehun melihat tatapan mata Luhan yang mulai sayu dan dirinya yang sudah melemah.
Perlahan, Sehun mendekat ke arah Luhan untuk mengetahui berapa saja kadar alkohol yang sudah diminum oleh Luhan. Dan saat mengetahui fakta tentang kadar alkohol yang sudah Luhan minum, Sehun sangat terkejut. Minuman yang diminum Luhan semuanya berkadar alkohol lebih dari lima puluh persen!
"Kau gila huh, meminum seperti ini?"
Luhan tak menggubris soal protes Sehun terhadap apa yang sudah Ia minum. Luhan memilih mencari dimana pelayan baru Jongdae yang Luhan ingat bernama, Jung Kook. Benar, Luhan butuh tambahan botol minuman baru.
Jung Kook tiba-tiba saja melintas di depan Luhan. Segera Luhan memanggil pelayan itu. "Jung Kook!"
Jung Kook—pelayan baru itu merasa bahwa ada pelanggan yang memanggil namanya. Dengan gaya cukup kikuk, Jung Kook menghampiri suara pelanggan yang baru saja memanggilnya—alias Luhan.
"A-ada apa, Tuan?" tanya Jung Kook kikuk sambil menyiapkan kertas dan bolpoin untuk mencatat pesanan Luhan.
"Jager, satu botol—"
"—dua botol Jager,"
Merasa perkataannya dipotong, Luhan segera menoleh pada Sehun. Sehun tidak peduli dengan tatapan keheranan Luhan. Tangan Sehun kemudian memberi isyarat bagi JungKook untuk segera meninggalkan dirinya dan juga Luhan. Sama seperti Sehun, Luhan juga tidak peduli jika Sehun memesan minuman yang sama dengannya.
"Kau tahu, aku benar-benar tertipu olehmu,"
"Lalu? Kau inginkan apa? Memfotoku dalam keadaan mabuk lalu kau sebarkan di segala penjuru sekolah?" tanya Luhan menantang.
Mungkin mulai sekarang Luhan tidak akan peduli lagi jika makhluk di sampingnya ini akan mem-bullynya lagi saat di sekolah. Luhan hanya perlu pindah kembali ke China jika di negara ini terlalu menekan mentalnya.
"Huh, aku tidak serendah itu untuk melakukan hal itu,"
Luhan menaikkan sebelah alisnya. Ugh otaknya sedang lamban untuk berpikir apa maksud perkataan Sehun. Namun sekelebat kemudian, Jung Kook melintas lagi di hadapannya sambil membawa lebih dari dua botol Jager. Tapi Jung Kook tidak berhenti untuk mengantarkan pesanan Luhan—malah dirinya melewati Luhan dengan terburu-buru.
"Hei, Jung Kook! Aku berada disini! Kemarikan Jagerku!" seru Luhan cukup keras sehingga mau-tidak-mau Jung Kook yang tadinya sudah melewati Luhan harus berhenti dan perlahan membalikkan badannya.
"Berikan Jagerku!" ucap Luhan pas seperti orang yang sedang mabuk.
Sebenarnya Jung Kook ingin terlebih dulu mengantarkan Jager pesanan pelanggan yang sudah dicampur dengan obat perangsang karena memang pelanggan tersebut yang memesan terlebih dulu. Namun Luhan sepertinya menginginkan Jagernya terlebih dulu. Jung Kook kemudian berpikir tidak ada salahnya memberikan pesanan Luhan terlebih dulu.
Jung Kook segera menuju meja Luhan—yang dengan sofa melingkar itu. Namun Luhan justru bangkit dari sofanya dengan linglung untuk mengambil sendiri Jagernya.
"A-a-a, Tu-tuan..."
Luhan kembali berjalan linglung ke sofanya untuk kembali duduk dan meneguk Jagernya. Tapi Jung Kook justru sedang tercengang.
"Apa?" tanya Luhan ketus.
"Ehm, itu bukan pesanan anda... i-itu-"
"—jangan membodohiku! Aku tahu persis ini adalah Jager! Pergi sana!"
Jung Kook kebingungan. Dua botol yang sedang dibawa oleh Luhan adalah Jager yang sudah dicampur dengan obat perangsang permintaan pelanggan lain! JungKook menggigit bibir bawahnya sedangkan keringat dingin terus mengalir di pelipisnya. Bagaimana jika Luhan meminumnya lalu ada hal-hal yang tidak diinginkan?!
Dengan rasa tanpa bersalah, Luhan dan Sehun meminum Jager dengan kadar alkohol cukup tinggi itu dalam sekali teguk dan habis. Jung Kook makin merasa terpojokkan. Bagaimana Ia akan menghadapi pelanggannya dan juga Bossnya—Joonmyeon dan Jongdae?
"Kenapa kau masih disana, huh?" tanya Sehun ketus dengan mata tiga per empat terpejam.
Jung Kook menghela nafasnya. Ia pun melangkah pergi ke bar—memilih untuk melaporkan masalah ini pada Joonmyeon. Dan Jung Kook harus bersiap terkena semprot dari Joonmyeon.
.
.
"Suho-ssi, ehm... dua pelanggan yang duduk di sofa melingkar itu—ehm, meminum botol Jager yang harusnya untuk pelanggan yang meminta dicampur obat perangsang..." Jung Kook akhirnya menuturkan masalah ini pada JoonMyeon dengan lancar namun kepalanya menunduk.
Awalnya Joonmyeon cukup terkejut mendengarkan penuturan pegawai barunya. Tapi kembali lagi Joonmyeon adalah orang yang santai, Ia juga merasa ini bukan kesalahan Jung Kook. Ini efek Luhan dan Sehun yang tengah mabuk.
"Sudahlah tidak apa. Pakai saja milikku untuk pelanggan itu."
Jung Kook mengadah saat mendengar perkataan Joonmyeon. Rupanya Bossnya tidak marah, malah membantu dirinya. Jung Kook sangat bersyukur bisa memiliki boss seperti Joonmyeon.
"Te-terima kasih Su-suho—ssi..."
Joonmyeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya Luhan sudah gila karena terlalu mabuk. Dan Joonmyeon tidak tahu jika adiknya sendiri yang membuat Luhan menjadi mabuk seperti itu.
.
.
Keadaan Sehun dan Luhan saat ini tak jauh berbeda—sama-sama mabuk berat. Sehun terus memegangi kepalanya yang terlewat pusing karena pengaruh alkohol-alkohol yang sudah Ia minum. Tetapi keadaan Luhan jauh berbeda. Luhan malah duduk menyandar pada sandaran sofa—matanya masih terbuka walau tidak sepenuhnya. Sehun tahu betul berapa saja jumlah kadar alkohol yang sudah Luhan dan dirinya minum. Luhan lebih banyak, tetapi kenapa Luhan masih sanggup untuk membuka matanya sedangkan Sehun sudah tidak bisa memaksakan matanya untuk terbuka?
"Eughh..."
Ekor mata Sehun melirik asal suara itu—alias dari Luhan yang tiba-tiba melenguh sambil menggigit bibir bawahnya. Sehun mengeryit melihat tingkah laku Luhan yang seperti menahan sesuatu yang menurut Sehun—sensual?
Well, bagaimana tidak. Luhan—memejamkan matanya, menggigit-gigit bibir bawahnya lalu tangannya seperti mengusap sesuatu di bagian bawah tubuhnya.
Dan Sehun tidak tahu mengapa dirinya merasa Luhan seperti sedang men-service juniornya sendiri. Begitu juga dengan dirinya. Entah mengapa tangannya begitu gatal untuk meraih juniornya sendiri lalu meremas-remasnya.
Eih, ada apa dengan Sehun dan Luhan?
Badan Sehun terasa gerah dan panas. Seperti seluruh tubuhnya meminta suatu kegiatan seksual untuk memuaskan juniornya di bawah sana. Namun Sehun masih belum sepenuhnya ereksi—hanya perasaan saja bahwa dirinya ingin ereksi.
"Emmhh... eunghh... mmhhh..."
Sialan sekali—bagi Sehun. Luhan seperti sedang mendesah tertahan. Hormon seksual Sehun terkumpul begitu saja saat mendengar desahan Luhan. Shit! Apakah dirinya sedang terangsang?!
Luhan perlahan berdiri dari sofa dengan tubuh cukup membungkuk. Tangannya menutupi juniornya dari luar celananya. Pandangan Sehun mengikuti gerak-gerik Luhan—hingga badannya-entah-kenapa-juga ikut bangkit dan mengikuti arah jalan Luhan.
.
.
Rupanya Luhan memasuki sebuah toilet di club Redpoint. Sehun juga ikut masuk—namun saat Luhan akan membuka bilik toilet, Sehun mencegahnya dengan mencengkram lengan Luhan.
Perlahan Luhan membalikkan tubuhnya—masih dengan keadaan mabuk dan terangsang, untuk melihat siapa yang sudah mencegahnya untuk menuntaskan hasrat seksualnya.
"Lepaskan," titah Luhan lemah. Demi apapun, dirinya sudah tidak sanggup lagi!
"Daripada kau bermain sendirian, lebih baik aku membantumu,"
Sehun menarik lengan Luhan dan menghempaskan tubuh Luhan ke tembok dengan kasar. Segera Sehun mengunci pergerakan tubuh Luhan dengan kedua tangannya serta badannya yang menghimpit badan Luhan. Bagi Luhan—meskipun dirinya tengah mabuk dan berusaha menahan hasrat di tubuhnya, Ia masih bisa melihat dan merasakan ada nafsu dalam tatapan mata Sehun padanya.
Tangan kanan Sehun—entah kenapa, langsung mencengkram junior Luhan yang masih terbalut kain celana. Luhan melenguh keras sekali. Tebakan Sehun sangat tepat bahwa Luhan sedang terangsang. Tangan Sehun bergeriliya nakal pada tonjolan di selangkangan Luhan. Menekan-nekan secara sensual, sesekali mengenggamnya lalu meremasnya sedikit, dan terakhir mengocoknya perlahan.
"Eungghhh ja-jangan-hh...
"Jangan apa? Kau ingin meminta padaku, Ching Chong?" tanya Sehun dengan tawa meremehkan serta masih mempermainkan junior Luhan.
Luhan pasrah—sangat pasrah. Ia terus menahan gejolaknya untuk tidak kelepasan menyemburkan sperma di lantai toilet atau di celananya. Tapi jika Sehun terus-terusan mempermainkan juniornya, apa yang bisa Luhan perbuat?
"Eughh—Se-sehun-hh... a-ah-aku mau keluar-hh..."
Tersiksa. Sangat tersiksa. Luhan sangat tersiksa. Sehun mempermainkan juniornya dengan lambat hingga celananya benar-benar terasa sesak dan menggembung. Apa yang bisa Luhan lakukan dalam keadaan lemas seperti ini?
"Memohonlah padaku, slut."
Kali ini Sehun sudah keterlaluan. Sehun melepaskan tangannya dari junior Luhan. Tentu Sehun menunggu permohonan dari slutnya—alias Luhan.
Ouh! Luhan tidak bisa menolak! Yang pertama—pergerakannya dikunci , kedua—Ia sudah tidak tahan dengan ereksinya dan ketiga—diservice oleh tangan orang lain jauh lebih memuaskan. Oh ayolah apa yang Luhan pikirkan?!
"Se-seh-sehun... kumohon... lanjutkan... mmhhh,"
Katakan Luhan sedang gila karena akhirnya Ia memohon pada Sehun di tengah rasa frustasinya pada hasrat seksualnya. Apalagi ditambah desahannya yang diakhir—ouh bukankah dunia sudah gila?!
Sehun menyeringai mendengar kata-kata permohonan Luhan.
"Berjanjilah kau akan memberikan yang terbaik, bukankah kau adalah master-nim—Deer-ssi? Tapi sekarang kau adalah slut, dan aku masternya."
Well, mabuk memanglah menyiksa. Tapi keduanya tidak tahu bahwa bukan karena faktor alkohol yang membuat keduanya gila dan lepas kendali. Namun sebuah kecelakaan kecil karena kesalahan mengambil botol berisi—obat perangsang.
Namun keduanya akan memiliki malam penuh gairah, setelah ini.
Te
Be
Ce
HALOOOOHHH ~'O')~
UPDATE (LUMAYAN) CEPET LAGI NIIIH MUHAHA
Aduh semoga setelah ini daku gak di bunuh reader karena tbcnya epik to the max XD
BAGI YANG MINTA EUM DIPANJANGIN INI UDAH AKU PANJANGIN YA -3- maap author notok jedok bikin panjang segini u,u tapi diharapkan readers semua puas~
Oh ya ada sedikit penjelasan, Jager itu nama minuman. Dan jangan kaget kalo Luhan ngomong agak kasar di ff ini krn diatas aku udah jelasin juga kalo Luhan disini Alter Ego atau punya kepribadian ganda. Dan Luhan ngomong gitu ke sehun soalnya dia marah ama sehun sama lagi mabok, oke? :3
Bagi readers yang gentayangin aku dimana-mana *gk di ffn dan di fb* yang pengen aku ngupdate ff ini NIH UDAH AKU UPDATE :3
See? Ada hunhan momment! :3 /dikit doang/ yah yang penting ada :3 untuk chap seterusnya mulai banyak hihihi.
AND BIG THANKS TO READERS! TERUTAMA YANG MEREVIEW, MEM-FOLLOW, MEM-FAV ADUH SEMUAAA THANKSS BCS YOUR SUPPORT ITS BECAME MY SPIRIT ;^;)9 DAN MAKASIH JUGA BUAT SILENT READER! SEMOGA KALIAN TOBAT YAH :"""3 dan buat yang reviewnya belum dibales daku minta maap :(
em kayaknya bacotku banyak banget /weleh/ oke sekian, see you next chapter and, salam
Michyeosseo~!
