Original Story by Yuriko Rei or Rei Lawliet
Disclaimer: MK
WHO THE LAST LAUGH
chap 7 : MINE
banyak warning akan anda temukan saat membaca fic ini
HAPPY READING
.
.
"SILAHKAN MENGKRITIK DENGAN SOPAN"
.
.
CHAP 7 : MINE
Semilir angin terasa menyapu lembut wajahku. Saat kurebahkan badanku dibawah pohon yang cukup rindang. Sekelebat bayangan gadis cantik yang tersenyum manis didepanku, tiba-tiba saja muncul di bayanganku. Membuat saraf otakku mau tak mau mencari berkas potongan memori-memori tentang gadis itu.
Oh, apakah aku baru saja menyebutnya gadis cantik? Dan menjelaskan bahwa aku tengah membayangkannya? Apa itu bisa di sebut jika aku merindukannya?
Ya. Gadis itu. gadis cantik yang pertama kali aku tamui sedang bertanya denganter gagap kepadaku saat di perpustakaan. Pipinya yang memerah, dan matanya yang indah, apalagi dengan suaranya yang lembut, bagaikan alunan music klasik yang menenangkan, sungguh membuat siapapun merasa nyaman mendengarnya.
Dan kini, gadis itu bagaikan kado natal yang penuh akan kejutan. Sifat lembut dan pemalunya tiba-tiba saja hilang, tergantikan oleh sifat dingin dan datarnya.
"A-apa itu b-buku baru?"
aaa… betapa suara itu terekam jelas di otakku.
"makanlah"
Dan suara halus itu mulai luntur saat beberapa hari yang lalu ia menawariku sebuah bekal. Aku tak bisa mengelak, memang aku benar-benar senang saat ia membawakanku sebuah bento. Rasananya aku seperti melayang jauh tinggi di udara, haha.. aku tahu itu terlalu berlebihan, dan hal itu ,mampu membuat terkejut akan perasaan di hatiku.
Namu di lain sisi, hatiku agak mencelos saat mengetahui ada yang berubah darinya.
Ya, sifat sekaligus tampilannya. Sangat-sangat berbeda. Pertamakali aku melihatnya, ia hanya berpenampilan biasa dengan seragam kebesaran yang ia pakai, benar-benar sangat jauh tidak menarik jika kau membandingkan dengan pakaian ketat yang selalu para siswi pakai. Mungkin penampilannya lebih cenderung seperti anak pintar yang cupu. Dan lagi-lagi aku dibuat terkejut oleh banyankanya suara tentang gadis itu, ternyata dulunya ia hanya gadis pemalu yang sering kali di bully karena penampilannya yang cupu. Kasihan sekali dia.
Namun waktu itu tak sama seperti dulu. Bajunya kini melekat pas di tubuhnya. Rambut gelapnya kini tergerai indah. Sangat cantik. Hei, dia memang cantik, bukan?
Kutatap untaian awan putih yang menggumpal menggantung di langit. Cuaca hari ini begitu cerah, sehingga suhunya panas.
Aku mencoba untuk tidur, melupakan pikiranku yang melayang memikirkan gadis dengan aroma lavender itu.
Kupejamkan mataku, dan mulai mengarungi dunia mimpi.
Salamat datang dunia mimpi, dan sampai jumpa lagi dunia nyata.
Who The Last Laugh
Sudah lebih dari dua minggu, perilaku Hinata berubah. Bukan menuju positive memang, namun lebih cenderung ke negative. Hal tersebut menjadikan semua penghuni sekolah mulai dipenuhi oleh kusak kusuk dari para siswa. Bahkan, saat itu belum ada sehari, berita tentang perubahan sang cupu bernama Hyuuga Hinata, sudah menyebar ke sepanjang penjuru sekolah. Banyak siswa yang terpesona akan penampilan si cupu yang baru. Terlebih banyak dari mereka yang tanpa ragu menyatakan cintanya secara langsung pada si mantan culun itu. berharap si culun yang sekarang menjadi Queen In the School menggantikan sosok Sakura mau menerima cintanya. Namun sayang beribu sayang. Sang ratu baru dengan sesuka hati mempermainkan dan memanfaatkan mereka.
Bayaknya kaum adam yang menyukai gadis indigo itu, membuat para siswi bertambah benci padanya. Namun tentu saja, mereka tak akan berani melakukan apa-apa jika dihapakan langsung dengan gadis indigo yang sekarang terkenal dingin dan sadis itu. apalagi setelah pertengkaran sengitnya dengan mantan Queen In The School, Sakura Haruno. Membuat mereka diam tak berkutik.
Bahkan, Hinata kini pintar dalam mengucapkan kata-kata tajam, datar, dan menusuk. Oh dan jangan lupa pula akan setiap kalimat yang ia lontarkan, dapat langsung meng-skak mat bagi siapa saja yang berani adu argument dengannya. Ia tak akan sungkan-sungkan melabrak siapa saja yang berani dengannya.
Para siswi itu hanya hanya berani membicarakan ataupun menjelek-jelakkan Hinata di belakangnya. Berpikir kalau Hinata pasti tidak akan tahu akan gossip yang mereka ucapkan? Khe… tentu saja gadis itu tahu tentang apa yang mereka bicarakan tentang dirinya. Bersiap-siaplah para siswi itu menerima pembalasannya.
Berani menggunjing Hinata di belakangnya, sama saja sudah mengambil kartu antrian menuju neraka.
"Hinata, aku menyukaimu." Kira-kira seperti inilah salah satu pernyataan cinta yang ia dapat. Meski mereka tahu jika akhirnya mereka hanya di permainkan saja.
"Setelah semua yang kau lakukan padaku, senpai?" ujar Hinata disertai penekanan di setiap kalimat yang ia lontarkan.
"Soal itu…. aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf" ujar pemuda yang diketahui bernama Yahiko itu dengan nada memohonnya.
Ha? Memohon? Haha… rasanya Hinata ingin tertawa saja. Yahiko? Senpainya yang terkenal suka semena-mena itu mengucapkan kalimat dengan nada memohon. Bahkan Hinata sendiri tak pernah mendengar gossip jika Yahiko pernah mengucapkan kalimat dengan nada memohon pada Karin yang notabene pacarnya sendiri.
"Putuskan Karin-"
"Tentu saja" ujar Yahiko dengan mata berbinar.
"Didepan seluruh anak sekolah"
Lanjut Hinata dengan seringai yang terpatri di wajah cantiknya. Iapun melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan senpainya yang kini wajahnya terlihat memucat.
Who The Last Laugh
Suara gaduh kini mulai terdengar di kantin sekolah. Para siswi mulai bergerombol sambil berbisik-bisik ria membicarakan kedua manusia berbeda gender yang kini tengah berdiri di tengah-tengah mereka.
Shion dan Naruto.
Disana, Shion terlihat senang dengan wajahnya yang berhiaskan semburat merah tipis. Ia beranggapan bahwa kekasihnya itu sengaja membuat semua orang berkumpul agar menyaksikan kejutan manis yang akan Naruto berikan.
Sementara Naruto sendiri, ia terlihat tengah menunduk menyembunyikan ekspresi gusar yang dari tadi ia sembunyikan dari berpasang-pasang mata, termasuk Shion.
"A-aku….aku" ucapan Naruto tergagap. Rasanya ia tak sanggup meneruskan kalimatnya.
Shion masih setia menunggu dengan senyuman merekahnya, ia menatap Naruto penuh harap. Dan tatapan itu membuat Naruto semakin merasa bersalah. Tangannya ia genggam di depan dada. Berharap dapat menetralisir debaran jantung yang mulai menggila akibat gugup yang melanda dirinya.
"AKU INGIN KITA MENGAKHIRI HUBUNGAN KITA"
Ha?
Shion manatap Naruto dengan tatapan tak percaya. Apa ia salah dengar? Apa telinganya ada masalah? Atau Naruto sedang ngelantur?
"Kau bercanda, Naruto?"
"tidak"
Blaar
Tubuh Shion langsung terjatuh dengan badan yang bertumpu pada kedua lututnya.
Tidak mungkin, ini tidak benar. Dia memutuskanku dengan semudah ini? Memangnya apa yang terjadi? Bukankah kemarin hubungannya baik-baik saja? Bahkan Naruto sempat memberikannya sebuah kalung yang terbuat dari berlian. Ini hanya mimpikan? Siapapun itu, katakana padaku kalau ini hnaya mimpi dan bangunkan aku akan mimpi buruk ini. Aku mohon..
"Ini tidak benar! Kau bercandakan!katakan padaku kau hanya bercanda dan akan memberiku kejutan yang special bukan?! Katakana padaku, Naruto! Benarkan? Semua ini tidak benarkan?! Kau menyukaiku. Kau mencintaiku!" Shion mulai meracau tak jelas. Lelehan air mata mulai meluncur menuruni pipi tirusnya.
"Kau tidak mimpi, Shion. Maafkan aku, tapi semua ini memang benar. Aku tidak bercanda" lirih Naruto.
"Tidak mungkin! Sebegitu mudahnya kau memutuskanku? Di depan semua orang? Kenapa kau memutuskanku begitu saja? Apa salahku?"
Shion mulai bangkit dan menyerang Naruto dengan berbagai pertanyaan. Ia berteriak nyaring didepan Naruto.
Pemuda bermabut pirang itu menunduk, merasa berslah dengan apa yang ia lakukan pada Shoin.
"Aku menyukai gadis yang lebih semourna darimu"
Plaak
Sebuah tamparan Naruto terima pada pipi kanannya. Ia tidak marah, sangat tidak. ia tahu, ia pantas mendapatkan ini, ini bukan seberapa dari rasa kecewa dan malu yang tengah melanda Shion.
"Apa kau bilang? Siapa dia?"
Naruto kembali terdiam.
"Kau pikir aku apa? Dasar lelaki berengsek!" ujar Shion sebelum berlalu pergi dengan air mata yang masih mengalir deras.
Naruto kembali mengangkat kepalanya. Menakinya menangkap sosok gadis yang kini tengah berdiri di belakang para murid dengan seringai yang terpampang jelas meski dari jarak yang cukup jauh.
Naruto mengulum senyum yang ia lontarkan pada gadis lavender itu, namun tanpa ia duga, si gadis malah pergi tanpa membalas senyum darinya.
Who The Last Laugh
"Kau tak akan mengatakannya eh?" seorang pria bertubuh tinggi itu duduk di sebuah kursi disamping pemuda satunya dengan tubuh yang lebih pendek darinya.
Tangan si pria tinggi membawa segelas vodka.
"Belum saatnya" Jawab pria kedua dengan raut wajah datar.
"Bahkan sampai ia berubah seperti itu?" Tanya pria pertama lagi.
Pria kedua terdiam sejenak, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal erat di depan dadanya. Ia menghela nafas gusar, "mau bagaimana lagi?"
"Kau tak takut ia akan jatuh hati dengan seseorang? Kulihat ia semakin dekat dengan bocah merah itu"'
"Diamlah! Aku sedang mencari cara, Itachi" ujar si pria kedua dan berlalu pergi meninggalkan si pria pertama yang kini tengah menyeringai sambil menatap si pria kedua itu.
Who The Last Laugh
"Aku sudah memutuskannya, sekarang kau adalah milikku, Hinata?"
Hinata tertawa, hahaha… apa yang pemuda itu pikirkan?
"Kau pikir hanya kau yang melakukan hal tersebut untuk mendapatkanku? Kau tahu? Ada orang lain yang juga sama menginginkanku. Ia juga mau melakukan apapun untuk mendapatkanku"
Hinata berbisik pelan tepat di telinga Yahiko.
Yahiko mengepalkan tangannya erat. Sial! Siapa dia, berani-beraninya orang itu mengincar milikku?
"Siapa?"
Hinata menyeringai, Hinata kembali berjalan kearah Yahiko yang kini menatapnya dengan sorot kemantapan hati.
"Naruto Namikaze" bisik Hinata tepat di telinga kanan Yahiko, ia lalu berjalan pergi meninggalkan Yahiko dalam keadaan mematung dan rahang yang mengeras.
Ulala… begitu mudahnyakah pemuda itu dibodohi? Kemana perginya sosok Yahiko yang dulu, yang sering membully Hinata? Apa cinta memang dapat membutakan segalanya?
Who The Last Laugh
"Sudah ku bilangkan?! Jauhi Hinata, dia milikku!"
Sebuah bogem mentah menghantam pipi Naruto, membuat pemuda itu limbung di atas tanah dengan pipi kiri yang membiru.
Duagh
Yahiko menendang tubuh Naruto mrnggunakan kakinya.
"Dia-Milikku. Hinata-Milikku-Yahiko" ujar Yahiko dengan nada penekanan yang sangat kentara ia ucapkan.
"Haha…haha…hahahahaha"
Yahiko memicingkan matanya bingung, pemuda itu seharusnya merintih kesakitan dengan darah yang sudah mengucur dari pelipis serta kedua lubang hidungnya. Kenapa ia tiba-tiba tertawa?
"Apa yang kau tertawakan, ha?!"
Buagh
Kembali, kaki Yahiko dengan penuh emosi kembali menendang tubuh pemuda yang sudah dalam keadaan mengenaskan itu.
Tangan Yahiko terkepal disampingnya, siap melayangkan pukulan lagi yang akan ia layangkan untuk Naruto.
"Haha…. Kau pikir aku akan menyerah?"
Dan dengan tiba-tiba Naruto menengangkat kakinya dan melayangkan kakinya itu pada perut Yahiko. Yahiko pun terjatuh dengan memegangi perutnya yang kesakitan, Naruto dengan cepat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bangkit dan membalikkan keadaan. Ia menduduki tubuh Yahiko, menyerangnya dengan bertubi-tubi pukulan.
"Dengar"
Buagh
"aku"
Buagh
"yang akan mendapatkannya"
Buagh
"Kurang selangkah lagi"
Buagh
"Dan aku akan mendapatkannya"
Karin dan shion dengan tiba-tiba berlari menuju lapangan, mereka coba melerai kedua pemuda yang masih sibuk berkelahi itu, mereka berteriak histeris dengan air mata yang sudah di ujung pelupuk mata saat mengetahui keadaan yang mengenaskan dari masing-masing pemuda yang mereka cintai.
"Hentikan! Naruto hentikan!" Teriak Karin histeris.
"Naruto! Hentikan! Kalian melakukan ini hanya untuk mendapatkan wanita jalang itu hah?!" timpal Shion.
"Diam kau, Shion! Kau bukanlah siapa-siapa ku lagi. Tak usah ikut campur!"
Blaar
Shion terbelalak tak percaya, sebegitukah? Sebegitukah ia mendambakan gadis itu?
Shion menatap siluet seorang gadis berambut panjang yang kini berada di belakang gerombolan para murid yang tengah menonton adegan ini dengan tatapn penuh kebencian.
Ia berdiri dan berlari, menyeret gadis itu untuk ikut ketengah lapangan.
"Kau! Apa yang kau lakukan hingga membuat mereka seperti itu?!"
Hinata menyeringai puas, ia menyilangkan tanganya di depan dadanya. Kelerengnya menatap sinis Shion, "aku tidak menyuruh mereka melakukan apapun. Mereka yang membuat ini semua"
Naruto dengan tiba-tiba datang, ia tersenyum bangga, "Aku berhasil" ujar Naruto dengan seringai yang ia tampilkan.
"Naruto? Apa yang kau katakana?" Shion memandang Naruto tak suka.
"Apa yang kau maksud denagn kata 'berhasil' mu itu?" Hinata berjalan mendekati Naruto yang menatapnya terperangah.
Sementara Karin, ia terlihat membantu Yahiko yang dalam keadaan setengah pingsan untuk berdiri.
"Apa maksudmu, Hinata? Bukannya kau berkata jika aku memutuskan Shion, kau akan menjadi milikku. Aku sudah memutuskannya, tapi ternyata Yahiko juga menginginkanmu, aku sudah mengalahkannya, jadi sekarang kau adalah milikku" ujar Naruto penuh penekanan pada kata terakhirnya.
Shion berjalan mendekati Naruto, ia mendorong dada bidang Naruto hingga membuatnya hampir jatuh kebelakang.
"Jadi karena culun ini kau memutuskanku di depan semua orang?"setelah berkata seperti itu, ia pergi berlari menjauhi lapangan tersebut dengan terisak, dan seringai Hinata bertambah lebar akan kejadian tersebut.
Kini Hinata menatap Naruto datar, kini hanya tinggal mereka bertiga, Yahiko, Naruto, dan Hinata itu sendiri. Yahiko telah menyuruh Karin untuk meninggalkan lapangan ini.
"Aku tak pernah menjanjikan diriku untuk menjadi milik siapapun"
Kedua pasang mata itu terbelalak tak percaya
"Apa maksudmu?" tanya Yahiko penuh penekanan.
"Kalian ingat? Aku hanya berkata untuk memutuskan Karin ataupun Shion tanpa adanya pemaksaan sedikitpun. Aku juga tak menyuruh kalian untuk berkelahi. Kalian sendiri yang menawarkan diri kalian untuk memutuskan kekasih kalian"
Hinata melirik Karin melewati ekor matanya, ia menyeringai kala mendapati gadis bermarga Uzumaki itu menitikkan air mata.
Kedua pemuda itu terdiam, mereka memandang Hinata penuh luka.
"Aku tak menyukai kalian" lanjut Hinata, dan dengan tampang tak bedosa, ia berjalan santai keluar dari kerubungan para siswa yang menonton peristiwa ini.
"Sialan kau Hyuuga!" teriak Naruto kesal. Ia menendang rerumputan yang ada dihadapannya dengan penuh emosi. Sementara Yahiko, ia terjatuh terduduk meratapi kebodohannya.
'Sudah ku bilang, aku akan membalsnya, bukan? Ini bukanlah seberapa dari rasa sakit yang aku terima'
Sasuke yang sedari tadi mengamati kejadian tersebut dari kejauhan, Hanya bisa menatap kelakuan Hinata dengan tatapan sendu, "sampai kapan kau akan seperti ini?" ia menggumam lirih.
Who The Last Laugh
"Kau jahat sekali"
Hinata tersentak kaget, hembusan nafas hangat dapat ia rasakan pada tengkuknya, membuat bulu kuduknya merinding.
Ia segera membalikkan badannya, dan matanya kembali melebar saat tanpa sengaja hidungnya bersentuhan dengan hidung mancung yang ada dihadapannya.
"Hyuuga Hinata" sambung orang itu lagi.
Hinata hendak menjauhkan dirinya dari orang tersebut,namun tangannya sudah terlebih dahulu di cengkram oleh tanagn besar orang itu.
"Lepaskan aku! Menjauh dariku sekarang juga Uchiha!" bentak Hinata.
"kau takut, eh?"
"untuk apa?"
"Jika kau tak takut, kau tak perlu berteriak"
Hinata terdiam, ia menghela nafas. Itu membuat Sasuke mengembangkan seringaiannya.
"Apa maumu?" tanya Hinata seduktif.
"kau" jawab Sasuke singkat. Hinata terdiam, namun tak lama kemudian ia tertawa. Awalnya tertawa pelan, namun lama-lama menjadi keras, seolah tawa yang merendahkan jawaban Sasuke.
Haha.., apa iajuga sudah mulai tergila-gila padanya? Uchiha Sasuke? Haha jangan bercanda.
"Apa yang kau mau dariku?"
"Aku punya satu tawaran"
Salah satu alis Hinata terangkat, Hinata menyeringai. Sepertinya ia sudah mulai tertarik dengan topic yang akan Sasuke bahas.
Ia memberikan tanda agar pemuda itu meneruskan kalimatnya lewat sorot matanya.
"Besok temui aku di jembatan belakang sekolah jam 7 malam, kau akan tahu sendiri apa yang akan aku tawarkan nanti"
Hinata memandang Sasuke tajam, ia merasa di permainkan oleh Sasuke.
"Kenapa kau tak mengatakannya sekarang? Jika taruhan itu hanya menguntungkanmu, untuk apa aku kesana? Dan untuk apa kau menawariku?"
"Itu akan menguntungkan bagi kita berdua. Aku akan menunggumu besok malam jam 7, ku harap kau kesana. Jika sampai jam 8 kau tak segera datang, tak ada lagi tawaran itu. kujamin kau akan menyesal"
.
.
TBC
hehe... akhirnya up juga kan? udah kilatkan ini? #senyum tanpa dosa...
hiks hiks... (loh kok malah nangis?)
iya, Rei nangis, terharu sama masukan para readers yang udah ngasih saran sama Rei. rei seneng banget saat para readers aktive memberikan review buat kasih saran pembalasannya Hinata.
Rei ucapkan beribu-ribu TERIMAKASIH untuk para readers yang sudah memberi saran, udah mau nyumbangin ide dan udah mau ngetik segitu banyaknya.
rei juga sempat kaget saat reviewnya nambah *-*
oke-oke, mari kita bahas pertanyaan-pertanyaan yang para readers tanyakan.
Hinata kok gitu sih sama Hanabi? hihihi... enggak kok, Hinata nggak berubah sama Hana-chan, dia baik. cuma mungkin dia baru kebawa emosi, kan dia baru aja berubah -jadi power ranger- mungkin karena dia fokus dengan rencananya jadi ngacuhin Hanabi.
hime kurang sadis? emangnya si Hina mau aku ubah jadi psikopat gitu? :"v
Ane pengen tau, ino ninggalin persahabatannya dgn hinata pasti ada motifnya kan, gax mungkin ino begitu cuma pengen terkenal, mungkin ada usur terpaksa atau dipaksa gitu? Karena kayaxnya ino masih sayang ama hinata atau mungkin iba aja atau rasa bersalah doang?
Dan hubungan sasuke ama hinata itu apa? Karena ada beberapa adegan yg nunjukin sasuke kayax ngeliatin hinata terus sih? Apa mungkin mereka pernah jetemu sebelumnya?
hohoho... masalah Ino nggak akan Rei jawab sekarang, karena Ino yang akan menjelaskannya sendiri.
hubungan si sasu? akan di jawab oleh seiringnya waktu berjalan.
Menurutku Hinata harusnya bakalan ngelunak atau nunjukin sisi lemahnya terhadap hanabi or gaara. Jadi masih ada sisi asli hinata yg kita ingat dan membandingkan prilaku hinata untuk orang2 yg dia percaya dengan yg gak perduli ama dia selama ini.
Oh pasti. makasih udah ngingetin Rei
oh ya buat jaitlinsasuhina , di tunggu lagi review nya ya...
SEKALI LAGI MAKASIH BUAT YANG SUDAH NGASIH SARAN REI DI CHAP KEMARIN
