"Harimu buruk lagi, Kyungsoo?"

Kyungsoo tampak tak ingin menjawab banyak, sebenarnya tidak menyangka bisa bertemu Jongdae lagi disini, di klub. Ia membalas sapaan dosennya dengan mengangguk lalu bergabung duduk dikursi, memesan minum. Harusnya dia pulang bersama Jongin setelah kelas terakhir selesai, tapi Kyungsoo beralasan ingin mengerjakan tugas diluar alih-alih butuh mabuk-mabukan.

Sesaat pikirannya berputar pada malam itu, merasakan tangan Jongin membelai tubuhnya, kecupan di lehernya, ciuman yang bergairah, hangat mulut Jongin pada payudaranya... setelah dirasa Yixing dan Minseok pergi mereka lantas berhenti dan beranjak tidur dengan segala kecanggungan—menahan hasrat membingungkan.

"Tidurlah. Mereka sudah pergi." Kata Jongin waktu itu, Kyungsoo berani bertaruh wajahnya seperti kesakitan. Kesakitan apa? Ketika membenarkan pakaian Kyungsoo sambil menekan satu ciuman di dahi, gadis itu bergelung dalam selimut dengan wajah luar biasa merona sementara Jongin pergi ke kamar mandi.

Sebenarnya Kyungsoo ingin marah karna mendapat pelecehan. Tapi yang benar saja, tidak mungkin disebut pelecehan kalau Jongin yang melakukannya. Ya Tuhan, Jongin itu suaminya.

Ia menggeleng samar mencoba menepis kejadian itu. Berusaha menikmati suasana klub, ia ingin memusatkan perhatian kepada apapun selain Kim Jongin. Tapi sekelebat ingatan itu terlintas lagi. Darahnya bergumul ke kepala hingga wajah Kyungsoo memanas. Upaya datang kesini harap-harap melupakan tentang itu tapi ia tahu ia tak bisa melakukannya, bahkan dengan minuman alkohol.

Kyungsoo mencoba mengesampingkan perasaan yang terus mencambuk dadanya, dan mengajak Jongdae bicara mungkin pilihan terbaik. "Ssaem, kau datang lagi?"

"Begitupun denganmu."

Meski Jongdae tampak seperti teman, tapi senyum Kyungsoo terlihat hambar. Ia meraih gelas yang telah tersaji dan meminumnya sekali teguk, seperti terserang desperate. Lalu kembali memanggil pelayan bar untuk mengisi gelasnya yang kosong, meneguk minumnya lagi dan terus seperti itu sampai Jongdae atau siapun mata yang melihat pasti iba.

"Hei hei cukup." Pria itu tak bisa membiarkan mahasiswa pindahan ini mabuk berat, terlebih Kyungsoo tidak terbiasa dengan alkohol. "Sepertinya kau akan merasa lebih baik kalau bercerita masalahmu pada orang lain."

Urung melayangkan protes karna masih ingin minum, Kyungsoo dengan muram menatap Jongdae, mencerna kata-kata pria itu. Tidak pernah sebelumnya melihat kehangatan pada wajah dosennya. Jongdae selalu serius terlebih ketika dikelas, tapi kali ini pria itu tampak sarat kepedulian.

"Kau pernah bicara begitu padaku, ingat?" Kata Jongdae lagi, sambil menyingkirkan gelas minum gadis itu ke sisi yang lebih jauh. "Aku pendengar yang baik kalau kau mau bercerita."

Kepala Kyungsoo tertunduk, berkecamuk dan benaknya selalu tertuju pada Jongin. Berusaha keras tetap tenang dengan bernapas, tapi ia tak pernah tidak gusar tiap kali memikirkan pria itu. Jongin.. Jongin.. Jongin.. sekalipun ada pria lain yang dipikirkan Kyungsoo, Jongin akan tetap datang mengganggu fantasinya.

"Aku tidak tahu, ssaem." Gumam Kyungsoo muram, matanya teralih menatap kosong gelas minum Jongdae. "Aku tidak tahu apa yang kurasakan."

"Kulihat kau sedang gelisah."

"Mungkin."

Mata Jongdae memicing seakan-akan membaca raut wajah Kyungsoo. Musik DJ tidak begitu mengganggu bahkan pelayan bar yang kembali menawari minum telah Jongdae tolak untuk saat ini. "Ceritakan semuanya. Memendam sendirian akan membuatmu tidak nyaman."

"Ssaem," Suara Kyungsoo terdengar parau, ia alihkan tatapannya untuk melihat Jongdae. "Sepertinya aku sedang jatuh cinta."

"Siapa orang itu?"

"Suamiku."

Kekhawatiran pada mahasiswa yang satu ini telah meluap, rasa geli menari-nari disudut mata Jongdae hingga pria itu bahkan memukul-mukul meja bar sambil tertawa. Kyungsoo yang pergi ke klub untuk memastikan dirinya jatuh cinta seakan-akan sesuatu yang lucu. "Kau sudah menikah?"

"Sehari yang lalu. Kau juga mengenalnya. Kim Jongin."

"Aku sudah menduga," Jongdae masih tertawa, "..kalian pasti berpacaran."

Kyungsoo mendengus masam. "Ssaem asal kau tahu kami di jodohkan."

"Meski begitu bukankah hal ini wajar? Dia suamimu sekarang."

Ucapan Jongdae memang benar, tapi Kyungsoo sulit meyakini hatinya sendiri. Semua ini karna ia tidak memercayai, tidak menyangka bahwa Jongin mampu menggeser posisi Kai begitu mudah. Kyungsoo mengakui bila di sandingkan dengan pria lain pun hanya Kim Jongin yang dapat memperdayanya, pesonanya luar biasa menarik.

"Sebaiknya kau cepat-cepat mengakui perasaanmu." Jongdae tersenyum, sarat dukungan tak terbaca di matanya. "Pernikahan kalian akan terasa di jodohkan dan berjodoh."

"Kau benar. Tapi demi Tuhan aku belum siap." Suara Kyungsoo semakin murung. Seketika teringat harus mengerjakan tugas akhir ia memutuskan untuk turun dari kursi dan membayar minumnya. "Oh ya, terima kasih sudah membayar minumku yang kemarin."

"Bagaimana kau tahu aku yang membayarnya?"

"Karna aku sudah menduganya."

Jongdae tertawa pelan. "Sekarang kau mau pulang?"

"Ya, melihatmu aku jadi ingat tugasku."

Pria itu terkekeh lagi, "Jangan lupa untuk mengakui perasaanmu." Katanya bersemangat.

Tapi Kyungsoo hanya dapat tersenyum kikuk dan membungkuk pada Jongdae sebelum pergi.


Lifeline

another fanfic story by winwey

Jongin x Kyungsoo

slight of Chanbaek Hunhan Chenmin

Drama, GS for uke's, Typo's, OOC, Rated T-M


"Kau dari mana? Nomormu tidak aktif."

Kyungsoo menaruh tasnya ke sisi nakas, sedikit tidak fokus mendengar apa yang Jongin ucapkan. "Ponselku kehabisan daya." Jawabnya jujur. Sebenarnya ia mulai pening setelah minum beberapa gelas tadi.

"Eommonim mencarimu."

"Eomma sudah pulang?"

"Ya, mungkin sudah tidur. Katanya tidak perlu memberitahu kalau kau sudah pulang."

Kyungsoo tidak menanggapi karna ia merasa aneh. Ia tahu ia tidak biasa minum. Dan sepertinya Kyungsoo tidak cocok mabuk-mabukan karna efeknya akan seperti ini, panas dan melelahkan. Beruntung dalam perjalanan pulang akal sehatnya masih sadar penuh, tapi rupanya tidak selepas sampai rumah.

Kyungsoo memaksakan diri berjalan mendekati meja belajar, bagaimanapun dia harus memperbaiki dan mengerjakan tugas. Tetapi langkahnya menjadi terhuyung-huyung dan Jongin dengan sigap menahan bahunya.

"Kau kenapa?"

Mata Kyungsoo mencari-cari mata Jongin untuk ia tatap. "Aku tidak apa-apa. Aku.. aku harus mengerjakan tugasku—"

"Tunggu." Dahi Jongin mengerut mencium aroma dari mulut gadis itu. "Kau mabuk?"

"Apa? Mabuk? Aku tidak—" Kyungsoo memegang sisi kepalanya dengan satu tangan. "..sepertinya begitu." Sedikit-sedikit ia mulai semakin merasa pening. Efek mabuk lantas mengambil alih akal sehatnya, membuat tubuhnya lengah hingga Jongin membopong gadis itu untuk berbaring di ranjang.

"Kupikir kau tidak suka minum."

Kyungsoo masih dapat mendengar Jongin bergumam. "Aku memang tidak suka. Percayalah, aku baru-baru ini minum." Pengakuannya terasa terdengar jujur. Tapi tiba-tiba ia tersenyum layaknya orang gila. "Rasanya lega minum-minum kalau ada yang mengganggu pikiranku."

"Siapa yang mengganggumu?" Jongin menghela napas melihat mata Kyungsoo yang sayu, tingkahnya lantas berubah aneh membuatnya yakin kalau gadis itu benar-benar mabuk.

"Kau tahu aku belum bisa melupakan pacarku dan kenangan kami di Tokyo."

Seketika tekanan menerpa dada Jongin, tapi ia hanya bergeming. Pria itu diam saja dan sepertinya keadaan Kyungsoo yang mabuk akan membongkar segala apa yang ada dalam pikiran gadis itu, meski Jongin tak tahu ia akan suka atau malah sebaliknya ketika mendengarnya.

Wajah tampak Kyungsoo berubah muram. "Pacarku meninggal karna sakit akibat merokok. Itulah kenapa aku tidak suka melihat Kim Jongin merokok. Kau tahu?" Ujarnya sambil menatap wajah Jongin tanpa tahu malu, seolah-olah ia sedang berbicara pada orang lain.

"Yang mengganggu pikiranku itu Kim Jongin. Kemarin dia menciumku tanpa ampun, menyentuh payudaraku, dan kami hampir saja melakukannya. Aku pertama kali diperlakukan seperti itu oleh pria. Meski aku tinggal di Tokyo aku tidak pernah melakukan yang semacam itu bahkan pacarku saja tidak." Tiba-tiba Kyungsoo tertawa seperti orang tidak waras. "Aku tadinya ingin marah. Aku merasa dilecehkan. Tapi mustahil. Kim Jongin 'kan suamiku. Bodoh sekali."

Jongin duduk ditepi kasur dengan sikap tenang, memandangi wajah Kyungsoo yang letih dan matanya yang setengah terbuka, mendengar segala ocehan jujurnya yang membuatnya benar-benar gamang. Demi Tuhan kemarin ia nyaris tidak dapat mengendalikan dirinya sendiri.

Kyungsoo terlalu memesona hingga seujung rambut lagi Jongin bisa saja memperkosanya kalau-kalau para eomma belum beranjak dari depan kamar. Tapi seperti yang gadis itu bilang, mustahil disebut pemerkosaan mengingat mereka telah menikah. Ya, semacam. Karna mana ada suami yang memperkosa istrinya sendiri.

Alih-alih Kyungsoo akan mengatakan soal amarahnya pada perlakuan Jongin semalam, ia malah bergumam, "Aku tidak pernah bertemu pria seperti Kim Jongin. Dia punya pesona aneh, pesona yang membuatku tertarik sejak awal. Bahkan dia langsung membuatku merasa tak punya perasaan apapun pada mendiang pacarku. Aku sesekali masih mengingatnya, tapi Kim Jongin dengan kurang ajar datang dalam pikiranku, menepis segala kenangan masa laluku yang menyedihkan."

Jongin setengah tersenyum mendengar itu, Kyungsoo sama sekali tidak sadar dia sedang berbicara dengan siapa. Tapi pengakuan tadi membuatnya sedih dan senang. Tahu bahwa gadis itu masih sesekali mengingat masa lalunya membuat Jongin muram.

"Kim Jongin itu berbeda, meskipun aku akui wajahnya sembilan puluh persen mirip dengan pacarku. Dia pernah nyaris membuatku celaka hanya untuk menarik perhatian. Mulai dari situ aku tergetar untuk tertarik padanya. Ya, dia beda bukan? Aku tidak pernah bertemu pria semacam ini." Meski matanya meredup, tapi senyum Kyungsoo lebih kepada senyuman tulus.

"Dia itu... istimewa." Gadis itu bergumam takjub, namun Jongin lebih takjub karna Kyungsoo yang mengatakannya. "Apa kau mau dengan satu cerita?" Tanyanya. Meski Jongin tidak mengatakan apapun Kyungsoo tetap mengoceh. "Dia pernah membuatku bingung dan berbohong pada orang di arena balap, aku mengatakan kalau aku sedang hamil dan anehnya orang-orang percaya. Itu membuat musuhnya berpikir untuk menjatuhkan Jongin dengan cara melakukan penyekapan padaku. Tapi.. melihat dia datang, berkelahi, dan menghapus segala bekas sentuhan musuhnya padaku.."

"..membuatku semakin tidak tahu apa yang kurasakan dan memilih untuk menikah dengannya. Kupikir aku menyukai Kim Jongin, dan ternyata aku.." Kyungsoo berhenti untuk terbatuk-batuk kecil sementara Jongin berdebar menunggu kalimat selanjutnya. Satu tangannya terulur ke sisi leher gadis itu, mengusapnya berharap batuknya mereda.

"Aku.. aku semakin menyukainya sekarang. Dia kurang ajar sudah menarik perhatianku. Dia benar-benar brengsek mencuri perasaanku dengan mudah. Dia adalah segalanya yang kuinginkan dari seorang pria. Dia—" Kyungsoo tiba-tiba berhenti meracau, ia menatap Jongin lebih intens dan itu membuat pria ini kikuk didepan orang mabuk.

"Hei, kenapa wujudmu seperti Kim Jongin?" Katanya.

Jongin mendengus. Sial. Aku ini 'kan Kim Jongin.

"Aku ingin tahu apakah ciumanmu sama seperti ciuman pria itu." Tiba-tiba Kyungsoo menarik leher Jongin, membawanya untuk setengah menindih tubuhnya.

Ketika sadar bibir mereka menyatu, Jongin berpikir ia tak mau mengambil keuntungan dari Kyungsoo yang sedang mabuk jadi ia tidak bergerak sama sekali. Meski gadis itu melumat bibirnya tapi ia menahan diri untuk tidak membalas, merobek pakaiannya dan bercinta sekarang juga. Kalau Jongin melakukannya ini terasa tidak adil.

Rupanya Kyungsoo memang tidak tahu sedang melakukan apa. Lain kali Jongin akan lebih mengawasinya dan melarang untuk mabuk, kecuali kalau sedang bersama dia tentu saja. Kyungsoo yang mabuk itu berubah agresif, mengerikan.

"Ah, kenapa kau diam saja?" Dia mendorong bahu Jongin menjauh. "Ternyata ciumanmu tidak sama. Ciuman Kim Jongin itu bisa membuatku mabuk. Tapi kau tidak. Aku menyesal telah menciummu!"

Jongin terkekeh pelan. Selain mengerikan, Kyungsoo mengaku mabuk dicium olehnya di saat dia sendiri sedang mabuk. Melihat gadis itu mulai menutup mata dan napasnya yang teratur membuat Jongin berusaha menarik lepas mantel, mendekati kaki Kyungsoo untuk melepas kaus kakinya dan menyelimuti tubuhnya.

"Sepertinya aku akan melupakan mendiang pacarku.. dan mulai mencintai Kim Jongin."

Mulut Jongin melengkung ketika Kyungsoo mengigau sebelum benar-benar jatuh tertidur. Pria itu semakin menaikkan selimut hingga leher, membenarkan letak kepala Kyungsoo diatas bantal dan mengusapi rambutnya yang membuat tidurnya tampak nyaman.

"Apa aku begitu mirip dengan orang di masa lalu?" Gumam Jongin muram. "Ini pasti sulit buatmu, Kyungsoo. Sudah saatnya kau melupakannya."

.

.

Perpindahan kelas di penghujung semester membuat Kyungsoo tak percaya bahwa ia satu kelas dengan Jongin, matanya meneliti lagi membaca nama Kim Jongin tertera di deret nama mahasiswa di kelasnya. Tadinya akan lebih mudah kalau Chanyeol juga termasuk, tapi Kyungsoo masih bersyukur bahwa Luhan dan Sehun namanya tertera di satu kelas yang sama. Rupanya dua orang ini memang sudah di takdirkan. Kyungsoo mendelik lagi ke tulisan Kim Jongin yang satu deret bersama namanya, pasti akan sangat tidak nyaman.

"Kau bahagia karna satu kelas denganku ya sampai tidak berhenti menatap namaku begitu." Kyungsoo terbelalak ketika suara Jongin berbisik dari belakang. Ketika ia berbalik pria itu memasang tampang sok yang seperti biasa sambil memasukan tangan ke saku celana. "Apa kau berpikir ingin pindah kelas?"

"Tidak." Jawab Kyungsoo datar. "Aku lebih suka menerima kenyataan."

"Apa kenyataan itu termasuk aku yang satu kelas denganmu?" Jongin terkekeh selagi berjalan disisi Kyungsoo.

"Kau terlalu percaya diri." Berjalan sebentar ke bagian sayap barat kampus menuju kelas, Kyungsoo dengan cepat menempati kursi sebelum pelajaran dimulai sekitar beberapa menit lagi. Ia mendengus saat Jongin duduk dikursi tepat di sampingnya. "Kenapa duduk di sebelahku?"

"Aku ingin berdekatan dengan istriku. Memang tidak boleh?"

Kyungsoo merasa wajahnya memanas, pikirannya selalu terpusat pada semua pesona Jongin, mulutnya yang ahli bermain di lehernya yang sensitif, ciumannya yang panas dan dalam, sentuhannya yang memabukkan—cukup! Kyungsoo memperingati dalam hati untuk tidak merusak kepalanya sendiri.

Kyungsoo tahu dia sudah tidak lagi mengingat masa lalu sejak kehadiran Jongin, ia juga tidak melihat pria itu sebagai Kai karna Jongin punya caranya sendiri bagaimana dia harus bersikap dan menunjukkan suatu emosi padanya. Kyungsoo tidak mengklaim Jongin adalah pengganti Kai. Tidak. Karna Jongin istimewa baginya, pria yang berbeda, spesial, dan belum pernah ia temui daripada pria manapun.

Kyungsoo melirik Jongin yang telah merubah tampilannya lebih kasual, tidak ada lagi celana robek, anting atau rantai sejak menikah. Pria itu luar biasa menggoda, begitu tampan hingga Kyungsoo merutuki dirinya dan frustasi karna merasa dia akan tergila-gila pada suaminya sendiri, meskipun ini normal.

"Sepertinya Kim Jongin lebih menarik daripada materi pelajaranku. Benar begitu Kyungsoo?"

Kyungsoo tersentak ketika suara seseorang dengan lantang berseru didepan kelas. Ia baru ingat pelajaran ekonomi dimulai jam pertama dan kebetulan dosen mereka adalah Jongdae, pria itu tahu ia sudah menikah.

Semua siswa memandangnya geli termasuk Luhan yang ternyata duduk di depannya terkikik menahan tawa. Sial, Kyungsoo malu sekali, tampak seperti orang bodoh. Apa dia begitu lama memerhatikan Jongin sampai-sampai tidak sadar kelas sudah penuh dan pelajaran telah dimulai.

"Baiklah, kita lanjutkan pelajarannya." Untuk pertama kalinya Jongdae keluar dari zona serius saat di kelas dengan caranya tertawa, menertawakan Kyungsoo yang jatuh cinta pada suaminya sendiri tentu saja.

Kyungsoo membuang napas selagi mengeluarkan buku-buku dari tas, kali ini dia tidak akan melirik Jongin lagi meski tahu pria itu sesekali menoleh padanya dan terkekeh tanpa suara. Selama pelajaran Kyungsoo merasa sedikit tidak fokus dan menyerah untuk mengintip Jongin dari sudut matanya, pria itu tampak tenang dan seksama, benar-benar seperti orang pandai.

Di akhir Jongdae memberi tugas kuis berkelompok dua orang. Kyungsoo menarik napas lega ketika Sehun yang duduk tepat dibelakang Jongin mengajak pria itu bicara, setidaknya dia tahu Sehun pasti memilih Jongin untuk satu kelompok.

"Kyung, kau pasangan tugasku ya?" Luhan memutar sedikit tubuhnya untuk menatap Kyungsoo, lantas tersenyum ketika temannya mengangguk semangat, tapi seketika senyumnya luntur saat Sehun menyela tegas dari tempat duduknya.

"Maaf sekali Kim Kyungsoo, aku sudah mengatakan pada Jongin untuk melarangmu tidak berkelompok dengan Luhan karna dia adalah partnerku. Kau tidak mungkin membantah suamimu sendiri bukan?"

Kyungsoo mendelik Sehun tajam tapi pria itu malah tersenyum tanpa bersalah. Kelas Jongdae telah berakhir dan kelas selanjutnya di mulai dua puluh menit lagi, siswa-siswa yang keluar untuk sekedar ke perpus atau ke kafeteria membuat Sehun lebih leluasa duduk di kursi sebelah Luhan.

"Kau satu kelompok denganku, baby."

Luhan berdecih mendapati Sehun mengedipkan sebelah matanya. Kondisi Sehun sedang tidak berselera karna permasalahannya dengan Baekhyun, Luhan sudah tahu itu. Tapi tampaknya selera Sehun untuk menggoda Luhan sama sekali tidak luntur.

"Baby kepalamu! Jangan seenaknya memilih teman kelompok. Memangnya aku mau satu kelompok denganmu apa? Memangnya—" Suara Luhan menghilang ketika tepat Sehun bergerak maju untuk mengecup pipinya.

"Jangan banyak protes. Pokoknya kita satu kelompok."

Seketika gadis itu berteriak marah karna malu dicium disini, di kelas. "Oh Sehun brengsek! Dasar tidak tahu malu! Mati saja sana!" Tergesa-gesa Luhan melarikan diri sambil memegangi pipinya yang memerah. Siswa yang masih tersisa dikelas menatap heran Sehun yang juga berlari menyusul gadis itu.

"Sehun benar-benar gila kalau dekat dengan Luhan. Apa jadinya jika aku melakukan hal yang sama padamu?"

Kyungsoo melirik Jongin yang tampak bersikap santai. "Melakukan apa?"

"Mencium tidak tahu tempat." Jongin mengangkat bahu. "Seperti Sehun tadi."

"Memangnya kau gila kalau dekat-dekat denganku?" Kyungsoo memicingkan mata ketika Jongin kemudian diam.

Tapi untuk beberapa detik pria itu bergerak mendekat berbisik di telinganya. "Kau pikir apa yang kulakukan sewaktu malam pertama kita? Aku tahu kau belum siap, tapi aku bahkan nyaris menidurimu. Dadamu yang terbaik, cantik." Jongin menjauhkan kepala sambil menyeringai, lalu pergi dari kelas meninggalkan Kyungsoo yang merona.

"Dasar mesum." Kyungsoo menggerutu selagi menyambar ranselnya dan berjalan sendirian di koridor.

Dia benci dengan pesona Kim Jongin, benci bibirnya yang begitu menggoda, benci kata-katanya yang penuh rayu, benci tubuh tegapnya, benci ketampanannya, Kyungsoo benci semuanya karna dia merasa akan gila.

Kyungsoo terus menggerutu sendirian dengan suara rendah sehingga tidak ada yang mendengar. Matanya menangkap dari kejauhan Chanyeol dan Baekhyun yang sedang duduk-duduk dikursi taman kampus, mereka tampak seperti pasangan bahagia dan membuatnya iri, meskipun pada kenyataannya Baekhyun sedang dilanda kesedihan pada hubungan keluarga. Tapi Kyungsoo bertanya-tanya, kenapa kehidupan pernikahannya bahkan kalah dari orang berpacaran.

"Dosen kelas selanjutnya tidak masuk. Bagaimana kalau kita pulang saja?"

Gadis itu tersentak kaget mendapati Jongin tahu-tahu sudah berdiri disisinya. Jongin telah membuat Kyungsoo terkejut dua kali. Hanya saja dia tidak tahu pria itu mulai saat ini mengintainya diam-diam mengingat Kyungsoo yang berani mabuk-mabukan kemarin. Jongin tidak mau hal itu terulang dan merasa ngeri bilamana Kyungsoo mabuk lagi lalu mencium sembarang orang.

"Kenapa kita cepat-cepat pulang? Ini masih sore."

"Untuk mengerjakan tugas kelompok tentu saja."

"Kita satu kelompok? Tapi aku belum memutuskan untuk—"

"Kau tidak boleh membantah suamimu."

Kyungsoo hanya bisa mengikuti langkah Jongin mendekati mobil hitam mengilapnya di area parkir. Setelah menikah mereka mulai pergi dan pulang ke kampus bersama. Dan terbiasa juga dalam perjalanan selalu begini, hening.

Ketika sampai di rumah Minseok, keduanya pergi mandi bergantian sebelum menaruh buku-buku di atas meja belajar. Kyungsoo sudah menaruh satu kursi lagi untuk pria itu agar mereka bisa melakukan sesuatu di satu meja.

Mereka memulai pengerjaan soal-soal kuis dan beradu argumen, kadang jawaban dari Jongin lebih meyakinkan daripada jawaban Kyungsoo begitupun sebaliknya. Kadang juga Kyungsoo merasa jengkel karna tidak berhasil cepat menemukan jawaban di buku dan Jongin lebih dulu menulis jawaban soal kuis.

Satu sama lain tampak bersaing siapa yang paling banyak lebih dulu menemukan jawaban, bukannya bekerjasama sebagai kelompok. Mereka lebih mirip musang yang bertengkar ketibang partner tugas hingga tidak terasa hari semakin malam. Sambil menutup tirai jendela dan menyalakan lampu, Kyungsoo masih terus mengaju persepsi selagi kembali duduk di kursinya.

"Aku tetap yakin dengan jawabanku. Makro lebih variabel secara agregat, dan pernyataanmu tentang lingkup keuangan kecil juga termasuk makro itu salah. Oh ayolah Kyungsoo, ini cuma kuis." Ujar Jongin tanpa mau dibantah, tapi rupanya Kyungsoo semakin terpancing.

"Baik, tulis saja sana. Tapi kau juga jangan menentang jawabanku tentang mikro. Sebenarnya kau sekolah berapa lama 'sih? Sudah jelas mikro lebih kepada fungsional kecil tanpa membahas secara keseluruhan seperti makro. Dan kenapa kita terus berdebat di satu soal sementara—kyaaa!" Ia lantas melompat ke kursi Jongin saat tiba-tiba listrik padam.

Kyungsoo paraniod kalau keadaan gelap. Sesuatu bisa saja terjadi dalam kegelapan katanya. Bahkan ia tidak peduli duduk dipangkuan Jongin dengan tubuh berhadapan dan memeluk lehernya erat-erat.

Kalau tidak ada pria itu mungkin Kyungsoo akan berteriak keras memanggil Minseok seperti bocah. Tapi kali ini Jongin telah melingkarkan tangan disekitar tubuhnya, menarik gadis itu untuk menekan tubuh mereka penuh kenyamanan.

"Kau takut gelap?" Kyungsoo bisa merasakan Jongin berbisik di telinganya, ia hanya mengangguk sambil menenggelamkan wajah dilekukan leher pria itu. Pantas saja jika tidur Kyungsoo menolak lampu nakas di matikan.

"Jangan pergi." Katanya memohon ketika Jongin sedikit bergerak.

"Aku tidak pergi." Pria itu hanya membenarkan letak duduk Kyungsoo di pangkuannya. "Disini tidak terlalu gelap. Laptopku menyala."

Kyungsoo mengangkat kepalanya, menoleh sedikit ke meja belajar dan melihat laptop Jongin paling terang diantara sudut kamar yang gelap. Ketika wajah mereka kembali berhadapan Kyungsoo menemukan Jongin begitu kentara menatapnya dari cahaya laptop yang menerangi, membuatnya gugup.

Terjerat, Kyungsoo tahu ia mendapati dirinya mendekat, dan dorongan pelan dari tangan Jongin di punggungnya membuat hidung mereka bersentuhan. Kyungsoo memejamkan mata karna hembus napas Jongin yang hangat menerpa wajah, membuatnya lengah dan nyaman.

Pikiran dua orang ini terpusat pada bibir mereka yang nyaris bertemu dalam kegelapan itu. Seperti yang Kyungsoo katakan, sesuatu bisa saja terjadi dalam kegelapan.. seperti hal-hal yang menyeramkan, atau mengejutkan, atau ini. Ketika lampu telah kembali menyala, keduanya tahu sedikit lagi ciuman itu akan terjadi jika saja tidak—

"Kyungsoo.. Jongin.. ayo makan malam—oh?"

—ada Minseok yang tiba-tiba datang dengan mata melebar.

Keduanya saling menjauhkan wajah ketika Minseok menemukan posisi mereka yang seperti ini diambang pintu. Dua anak muda itu merona selagi Minseok terkikik dan merasa bersalah karna datang di waktu yang tidak tepat. Well, tidak sepenuhnya salah karna pintu kamar yang dibiarkan terbuka.

"Sepertinya eomma mengganggu. Sebaiknya kalian lanjutkan saja." Kata Minseok vulgar sambil tertawa terkekeh-kekeh, tanpa tahu betapa malunya Kyungsoo turun dari pangkuan Jongin dihadapan ibunya sendiri. "Nanti cepat turun untuk makan malam sebelum pusat listrik memadamkan lampu lagi karna ada perbaikan."

Mereka dengan patuh menuruti apa kata sang ibu, tapi Kyungsoo kembali dibuat merona ketika Jongin berbisik di telinganya sewaktu menuruni tangga. "Sepertinya disaat gelap meja belajarmu hanya perlu satu kursi."

"Jangan doakan listrik padam lagi." Bisik Kyungsoo bergurau.

"Bagaimana kau tahu aku sedang berdoa soal itu?"

"Dasar."

.

.

Besok adalah hari yang di tunggu-tunggu, pengumuman kelulusan. Para siswa tingkat akhir telah mengerahkan kemampuan ilmu selama bertahun-tahun pada sidang beberapa minggu yang lalu. Kali ini lebih gugup daripada apapun selain pernyataan itu, dan terasa mendebarkan daripada mendengar jawaban Zitao saat Kris melamarnya—ini menurut Kris saja.

Pria itu undur diri karna keadaan Zitao yang sedang tidak enak badan. Jelas dia merasa tak enak bila Zitao lagi-lagi mual dan ingin muntah didalam kafe. Terlebih kafe ini adalah salah satu cabang milik Minseok dan masalahnya kafe yang ramai membuat ia cepat-cepat memapah sang istri, membawanya untuk beristirahat dirumah.

Meja bundar kafe yang kini berisi enam orang itu tentu menyimpulkan sesuatu dari keadaan Zitao yang pucat tadi. Nyonya Wu itu pasti bukan sekedar sakit, sejenak mereka semua terkikik senang terkecuali Baekhyun dan Sehun.

Hubungan keduanya jauh lebih baik karna Sehun mau menerima Baekhyun bila sekedar nongkrong,itu juga berkat Chanyeol yang membujuknya mati-matian. Meski Sehun tidak akan ikut mengobrol seperti biasanya tapi ini suatu kesempatan yang menyenangkan karna Baekhyun bisa melihat adiknya lebih dekat.

Baekhyun telah menunggu momen seperti ini sejak lama. Betapa ironi, gadis itu baru tahu adiknya menghindarinya sejak ia pindah. Padahal banyak peluang untuk dekat dengan Sehun, selain satu kampus, Chanyeol dan Jongin adalah teman terdekatnya.

Luhan yang merasa gerah membuat dirinya sendiri bangkit lalu menatap Sehun dan Baekhyun bergantian. "Bisa kalian ikut aku?" Meski tak enak hati karna harus membawa Sehun dan Baekhyun meninggalkan Chanyeol, Kyungsoo dan Jongin di meja itu, Luhan akan tetap membawa kakak-beradik yang tidak berhubungan baik ini ke sisi bangunan kafe.

Melihat Baekhyun yang muram membuatnya iba, tapi wajah Sehun yang mengalahkan suhu dingin di kutub membuat Luhan amat kesal. Gadis itu sudah tahu semuanya, ia juga tahu Sehun bukan Kyungsoo, yang menerima Chanyeol sebagai kakak sementara Sehun justru berkeras menolak Baekhyun. Tapi Luhan sangat ingin Sehun melupakan segalanya dan membuka lembaran baru, bukan terpuruk di masa lalu.

"Aku ingin kalian akur."

"Aku sudah berusaha, Lu. Tapi Sehun..." Baekhyun melirik takut-takut wajah dingin Sehun sebelum menambahkan, "Aku tidak apa-apa. Bisa berkumpul begini saja aku senang."

Tampaknya Sehun semakin tidak nyaman selagi Baekhyun bicara begitu, ia membuang napas keras-keras dan tatapannya yang tajam seolah dapat menakuti anak kecil. "Luhan, sudah selesai? Aku harus membuka bengkel."

Sebenarnya hari ini Sehun tidak berniat membuka bengkel hanya demi meluangkan waktu berkumpul bersama teman-temannya sebelum lulus. Selain pecinta motor, usaha bengkel otomotif di rumahnya yang ia bangun dari modal peninggalan mendiang ayah terbilang sukses.

Bengkel otomotifnya bukan hanya menjadi tempat nongkrong Chanyeol dan Jongin, ada beberapa sekelomok anak motor yang memodifikasi dan ada beberapa wanita yang datang. Ya, semisal jika wanita-wanita itu terlalu posesif, mereka dengan sengaja merusak bagian kendaraan demi di perbaiki di bengkel Sehun.

Dia punya enam mekanik mobil maupun motor jadi Sehun tidak terlalu banyak turun tangan untuk berkutat dengan mesin dan semacamnya. Ia hanya duduk diam di balik meja mengurus segala sesuatu seperti admin dan pemasukan.

Dari sanalah Sehun menggantung hidup selagi orang tuanya meninggal. Meski ia terlahir dari keluarga kaya sekalipun tapi sebagian harta telah Sehun bayar untuk menanggung hutang-hutang sang ayah, sementara sebagian lagi dijadikan modal membangun usahanya. Salah satu sikap terbaik Sehun yang Luhan sukai, pria itu meski dari luar tampak dingin dan kekanakan, tapi Sehun adalah orang yang mandiri.

"Sehun, aku ingin kau memaafkan Baekhyun."

"Aku sudah memaafkannya." Suara Sehun terdengar tidak nyaman. "Sudah? Aku harus pergi."

"Tapi aku belum selesai!"

Baekhyun sejenak terpana pada cara Luhan bicara dengan nada tinggi, bahkan tampaknya Luhan tak peduli meski sedang bicara pada Sehun sekalipun.

"Sehun, please.."

"Kenapa.. kenapa kau harus melakukan ini, Luhan?" Perlahan-lahan Sehun mulai merasa ketegangan menyelubungi suasana yang menyebabkan Baekhyun teramat takut, tangannya mengepal disisi tubuhnya hingga memutih. "Kenapa kau melibatkan dirimu pada urusanku? Kau tidak tahu seberapa parah tertekannya aku saat itu. Kau tidak tahu hidupku hancur dan kekayaan ayahku habis. Kau tidak tahu begitu mudahnya ibu Baekhyun pergi begitu saja setelah semua ini terjadi. Kau tidak tahu apapun."

"Ya, karna yang kutahu kau seorang pecundang."

"Apa?" Sehun mendengus keras ketika mata Luhan seolah-olah mengejeknya. Ia mendekati gadis itu satu dua langkah sarat menuntut. "Pecundang katamu? Aku?!" Bentaknya jengkel.

"Ya, kau pecundang, Oh Sehun!" Luhan membalasnya tidak kalah keras hingga Baekhyun beringsut sedikit menjauh. "Tidak mau bersikap baik pada Baekhyun, tidak mau mempertimbangkan bagaimana dia berusaha membuat hubungan kalian lebih baik selama bertahun-tahun, hingga Baekhyun rela pergi ke Jepang bersama ibunya karna tak mau mendapat kejahilan dari penggemarmu yang gila."

Luhan berhenti untuk menarik napas sebelum menambahkan dengan suara rendah. "Aku memang satu sekolah dengan kalian dulu, aku juga tidak mengenal kalian sama sekali karna kelas yang berbeda. Tapi aku dan Zitao pernah menolong Baekhyun yang terkunci di toilet karna ulah penggemarmu. Aku heran, betapa memesonanya kau bahkan di usia bocah SMP saja kau sudah di kejar-kejar para gadis. Tapi kerjaanmu hanya merenungi masa lalu 'kan? Apa namanya kalau bukan pecundang?!"

Sehun bungkam. Matanya yang berapi-api menyalakan emosi hingga ia terpancing untuk mengingat memori lama. Mengingat orang tuanya meninggal saat di usia itu, hingga Sehun awalnya bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi meski dia masih dibawah umur sebelum berpikir membuka usaha. Mengingat bagaimana sewaktu masa sekolah menengah ketika Baekhyun satu sekolah dengannya, gadis itu tak kenal lelah untuk menyapanya setelah semua peristiwa pahit itu terjadi.

Sekalipun Baekhyun dilihat negatif karna gadis-gadis yang menyukai Sehun beranggapan bahwa Baekhyun begitu genit karna selalu menyapanya secara antusias, padahal dia hanya ingin memperbaiki apa yang salah dari hubungan mereka.

Teringat lagi saat gadis-gadis yang tertarik padanya membuat Baekhyun hampir celaka karna tak suka melihat sikapnya yang berlebihan kepada Sehun. Luhan benar, ia sendiri heran bagaimana usia sekolah menengah telah mengerti pada hal tidak senonoh semacam itu.

Mengingat lagi bagaimana ia tidak peduli pada bahaya yang Baekhyun hadapi demi membuat Sehun melihat ia sebagai kakak. Selama bertahun-tahun, Baekhyun melakukannya dari sekian lama tapi adiknya tak pernah mau membuka hati.

"Sehun, dengarkan aku." Luhan berujar lagi ketika Sehun hanya dapat bungkam. "Posisimu sama seperti Kyungsoo... meskipun sedikit berbeda. Tapi lihatlah betapa dia bahagia punya Chanyeol. Betapa dia ada yang menemani sebelum Jongin menggantikan posisinya. Tapi kau..." Luhan berhenti untuk menarik tangan Baekhyun lebih dekat, mata gadis itu berkaca-kaca hingga ketegangan di wajah Sehun menghilang.

"Baekhyun tidak salah apapun. Jangan karna ibunya kau memandang dia demikian. Coba kau pikirkan, meski ayahmu berselingkuh beliau lebih memilih hidup bersamamu ketibang Baekhyun, padahal Baekhyun juga tanggung jawabnya. Kau lebih beruntung karna sejak kecil dia tidak pernah mendapat kasih sayang dari ayahmu." Luhan berhenti, melihat Sehun yang termenung seperti itu membuatnya setengah tersenyum. "Sehun, kalian berhak hidup damai dan jangan pernah membenci karna orang tua."

Baekhyun melirik Luhan dengan penuh rasa berterima kasih. Sewaktu wajah Sehun mulai bersahabat, pria itu ikut menatap Luhan, seolah-olah sekarang ia dapat merasakan kelegaan yang amat besar. Padahal Baekhyun telah bicara seperti apa yang Luhan katakan, namun Sehun tak pernah mau menerimanya dan terus menyalahkannya.

Tetapi Luhan.. dengan racun manis dari mulutnya dapat pengaruhi Sehun dengan mudah, dapat membuka pintu hati pemuda itu yang banyak dikaitkan gembok tak kasat mata, betapa gampangnya ia diperdaya. Betapa tak ada kesulitan bagi Luhan untuk membuat Sehun luluh, dan ia teramat senang ketika Sehun beralih menatap Baekhyun dengan wajah yang lebih ramah.

"Kalian.." Kata Luhan lagi, bersyukur sewaktu suasana diantara mereka mulai membaik. "Tolong akurlah. Aku bicara begini anggap saja sebagai perpisahan." Ia cemas saat tiba-tiba tatapan Sehun kembali menajam, begitupun Baekhyun yang menatapnya tak suka dan khawatir. Tapi hari ini Luhan bahagia bisa membuat hubungan kakak-adik itu membaik.

"Lu, kau benar-benar akan kembali ke Beijing?"

Mata Sehun melebar mendengar Baekhyun bertanya begitu, tapi Luhan justru terkekeh meski hatinya ingin menangis. "Ya, dan jangan lupa datang..." Ia melirik Sehun sambil tersenyum. "..di acara pernikahanku nanti."

Suara petir yang menggelegar seolah menambah kesan dramatis pengakuan Luhan. Seoul memilih mendinginkan siang hari dengan hujan lebat. Rintik air yang menyusul membuat Luhan bergumam pamit lalu berjalan cepat meninggalkan keduanya. Sehun ingin sekali mengejar gadis itu tapi keberadaan Baekhyun menahan pergerakannya.

"Aku perlu bicara dengan Luhan." Kata Sehun, suaranya tercekat. "Masuklah ke kafe.., noona."

Ya Tuhan.. betapa bahagianya mendengar Sehun memanggilnya seperti itu. Meski mereka satu angkatan, tapi Sehun lebih awal masuk sekolah dan perbedaan umur satu tahun membuatnya tidak mungkin tidak memanggil Baekhyun dengan noona.

Baekhyun mengangguk lalu bergumam untuk cepat-cepat menyusul Luhan sebelum ia menyeberang mendekati halte. Sehun berhasil menarik tangan gadis itu sewaktu telah selangkah Luhan menginjak aspal jalan.

"Luhan, soal pernikahan..." Napas Sehun tak teratur, antara hujan yang mulai turun, habis berlari atau emosi. "Kau bohong 'kan?"

"Aku tidak bohong." Luhan agak terkejut mendapati pria itu mengejarnya. "Aku benar-benar akan menikah dengan Yan An."

"Brengsek," Sehun mengumpat pada dirinya sendiri. "Siapa Yan An?"

"Sehun, kembalilah ke kafe." Luhan berusaha melepas tangannya, baju mereka dengan cepat menjadi basah kuyup. Sehun tampaknya benar-benar emosi dan kemarahan pria itu tentu tidak bagus di tengah-tengah hujan seperti ini.

"Luhan, kau tahu aku suka padamu."

"Tapi aku tidak.."—kali ini aku berbohong, Sehun. "..Lepaskan tanganku."

"Tidak." Desak Sehun. "Kau suka padaku 'kan?"

"Lepaskan—"

"Kau suka padaku. Katakan kau suka padaku, Luhan!"

"Lepaskan, Oh Sehun!"

Sehun melepas tangan Luhan sedikit-sedikit. Ia tidak memercayai pengakuan menikah sialan itu. Setahunya Luhan selalu merona tiap berdekatan satu sama lain, tiap dia menggodanya, tapi Luhan akan menikah dengan pria lain... bahkan Sehun tidak pernah membayangkan hal menyedihkan ini.

"Kembalilah ke kafe." Suara Luhan berubah parau. "Aku harus pulang untuk bersiap-siap terbang ke Beijing setelah mendapat surat lulus besok."

Sebisa mungkin Sehun menenangkan diri. Matanya terpejam merasakan air hujan menerpa kulit wajahnya. Ia berusaha membuka hati sambil menghela napas. Ini semacam pelajaran hidup kedua baginya, selain kehilangan orang tua, dia akan kehilangan Luhan.

Tapi perlahan Sehun memahaminya.. segala sesuatu memang tidak berjalan sesuai rencana. Ia harus belajar merelakan, belajar menjadi tegar, karna mengejar Luhan pun sepertinya percuma. Ia hanya tidak ingin membuat gadis itu tidak nyaman dan bisa hidup sesuai yang dia inginkan.

"Kau mau pulang?" Tanya Sehun pada akhirnya. Dan ia hanya mendapati Luhan mengangguk. "Sebaiknya kau menunggu hujan reda."

"Tidak apa-apa, aku akan naik taksi." Luhan sakit melihat wajah Sehun yang menderita seperti itu. Kalau dia menunggu sampai hujan reda, Sehun akan tahu Luhan sedang menangis.

"Lu, biar kuantar pulang."

"Kubilang tidak apa-apa. Aku.. aku harus pergi." Suara Luhan gemetar di akhir kalimat. "Selamat tinggal.. Sehun." Ia tiba-tiba berjinjit untuk mengecup singkat bibir Sehun kemudian berlari menyusuri sisi jalan, isak tangisnya terdengar lepas, menyakitkan.

Luhan tidak peduli mungkin Sehun terkejut pada apa yang telah ia lakukan. Ia juga tak peduli sekeras apapun petir di langit yang ia pikirkan adalah lari... lari dari perasaannya untuk Sehun dan berusaha tidak egois. Luhan hanya ingin membuat orang tuanya bahagia dengan memilih Yan An.

Sehun, aku tidak bohong... aku tidak bohong tentang aku yang menyukaimu.

TBC

Maapkan aku telat update, yang penting up seminggu sekali ya/kkk/ Seperti yang aku tulis, ini slight chanbaek, hunhan dan chenmin, maklumin kalo mereka nyempil/eheheh/ Kayaknya aku lagi pengen kaisoo ngabisin masa pacaran dulu meskipun udah nikah, biar deket gitu XD

Ada beberapa hal yang bikin aku gabales review, tapi aku baca kok/heuheu/ maapkan ya. Yang suka Pentagon huaaaa sama aku jugaaa. Dan terima kasih reviewnya kemarin. Wah.. kayanya aku jahat suka gantungin dan nempatin tobecontinue ditempat yang tidak tepat/wkwk/sujud/

Terima kasih sudah baca ^^

wey~