Cast : Shim ChangMin dan Cho KyuHyun
(ChangKyu)
Genre : Yaoi, MPreg, romance, angst
Rating : M (aman untuk chapter ini)
Warning : OOC, GAJE, ABAL, TYPO(S),ngebosenin dan…YAOI! So, yang gak suka harap jauh – jauh! Satu lagi, Alur cukup lambat^^
Bagi yang tidak suka YAOI a.k.a Boy x Boy harap menjauh dari fic ini. Tidak melayani genderswitch!
Dan yang tidak suka jika Changmin dan Kyuhyun berpasangan atau jadi couple harap segera angkat kaki. Silahkan pergi jauh-jauh! Tidak melayani bash atau protes merugikan.
Saya update! Yeiy!#highfivebareng Chwang
Ini gak lama kan ya updatenya?#nyengir
.
.
Selamat membaca!
.
.
Chapter 7
.
.
ChangKyu
.
.
Sudah sekitar satu jam Kyuhyun membuka mata dari tidur malamnya. Tidur yang bagi Kyuhyun sangat tidak nyaman karena tubuhnya yang terasa sakit dan pusing di kepalanya yang belum reda. Pun dengan pagi ini, dia masih merasakan hal yang sama. Perutnya juga agak tidak nyaman. Itu membuatnya memilih berbaring alih-alih beranjak dari tempat tidur untuk beraktivitas. Kyuhyun hanya mengantisipasi jika mendadak tubuhnya lemas atau dia mual lagi. Itu sungguh menyebalkan.
Namja manis dengan surai almond itu mengalihkan pandangan matanya ke pintu kamarnya yang terbuka. Kyuhyun melihat Ummanya berjalan ke arahnya. Kyuhyun hanya mampu tersenyum lemah ke arah Ummanya yang menatapnya penuh kekhawatiran.
"Bagaimana keadaanmu, Kyunnie?" tanya Leeteuk setelah duduk di pinggir ranjang. Tangannya bergerak mengecek dahi, leher, dan sesekali mengusap wajah anaknya yang masih pucat.
"Aku ingin sekolah, Umma,"
Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Ummanya. Dia memiringkan tubuhnya dan semakin bergelung dalam selimutnya. Menikmati usapan sayang Ummanya. Tindakannya tampak berkebalikan dengan keinginannya.
"Tapi Umma tahu kau belum sembuh, sayang. Bagaimana kalau hari ini kita ke dokter?"
Kyuhyun mendongakkan kepalanya melihat Ummanya yang masih mengusap-usap surai ikalnya. Kyuhyun menggeleng dan kembali memejamkan matanya.
"Jangan bandel begini, Kyu. Bagaimana kalau ternyata ada penyakit di dalam tubuhmu? Umma tidak ingin kau kenapa-kenapa, sayang…"
Leeteuk menghela nafas pelan bersabar menghadapi tingkah manja anaknya. Tapi, agaknya Leeteuk harus berusaha membujuk Kyuhyun lagi karena anaknya itu lagi-lagi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kenapa kau tidak ingin ke dokter, heum?" tanya Leeteuk lagi.
Kyuhyun mendongak dan matanya tampak berkaca-kaca, "Aku tidak mau ke dokter, Umma…"
Ditatap seperti itu, akhirnya Leeteuk menyerah. Dia memang paling tidak bisa bersikap tegas pada anak-anaknya.
"Baiklah, baiklah… Jangan menangis. Umma akan mengambilkan sarapan. Setelah itu minum obat lagi. Semoga hari ini kau benar-benar sembuh,"
Kyuhyun menganggukan kepalanya. Setelah itu Leeteuk beranjak dari kamar Kyuhyun. Dia berharap anaknya benar baik-baik saja.
.
.
ChangKyu
.
.
Kangin mengalihkan matanya dari koran pagi ke istrinya yang berjalan menuju meja makan. Dia meletakkan koran tersebut ke meja dan mulai mengambil sarapan. Ahra yang baru keluar dari kamarnya segera duduk di kursi makan dan mengikuti Appanya mengambil sarapan.
"Bagaimana keadaan Kyuhyun?" tanya Kangin sembari melihat Leeteuk yang sedang mengambilkan sarapan untuk Kyuhyun.
"Belum begitu baik. Kondisi tubuhnya masih sama seperti kemarin,"
Leeteuk menghela nafas khawatir ketika mengingat lagi kondisi anaknya.
"Kita bawa ke dokter saja kalau begitu. Aku bisa ijin sedikit terlambat kerja," kata Kangin.
"Tapi dia tidak ingin ke dokter. Bahkan tadi hampir menangis,"
"Lalu kau akan membiarkannya?" sahut Kangin cepat tak ingin dibantah lagi. Dia sudah sangat hafal tingkah Kyuhyun yang mendadak sangat manja jika sakit. Dia tak akan terbujuk dengan sikap manja anak bungsunya.
Leeteuk menghela nafas mengalah. Suaminya memang benar. Tak harusnya dia mudah dibujuk oleh Kyuhyun. Toh, memeriksakan Kyuhyun ke dokter juga demi kebaikan anaknya yang manja itu.
"Baiklah. Kau saja yang mengajaknya. Kalau aku lagi yang berbicara, anak itu pasti merengek lagi,"
Ahra hanya diam mendengarkan percakapan orang tuanya sambil menikmati sarapan. Sepertinya dia akan kembali membuat surat ijin untuk dongsaengnya.
Leeteuk segera meletakkan sarapan untuk Kyuhyun ke nampan dan bersiap beranjak ke kamar Kyuhyun. Tetapi baru saja dia ingin mengangkat nampan tersebut, dia mendengar pintu yang terbuka keras dan agak terbanting. Dia melihat Kyuhyun berlari keluar kamarnya menuju kamar mandi. Leeteuk melebarkan matanya terkejut dan refleks ikut berlari menyusul Kyuhyun.
Leeteuk kembali melihat anak bungsunya muntah-muntah di wastafel dengan tangannya yang mencengkeram erat perutnya. Dia segera mendekati Kyuhyun, berdiri di belakang anaknya dan memijit pelan leher belakang Kyuhyun.
Kyuhyun tahu Ummanya begitu khawatir. Dia ingin menghentikan muntahnya. Tapi perutnya terasa terus diaduk-aduk dan memaksa makanan di dalamnya untuk keluar. Sungguh dia tak ingin terlihat begitu tak berdaya seperti ini di depan Ummanya. Dia tak ingin membuat Ummanya makin khawatir. Tapi kondisi tubuhnya tak berkompromi sama sekali dengan keinginannya.
Setelah memastikan tidak muntah lagi, Kyuhyun mengusap bibirnya dengan air yang mengalir dari keran wastafel. Leeteuk masih memijit leher belakangnya.
"Kau harus ke dokter, sayang. Umma tidak ingin mendengar penolakan lagi,"
Kyuhyun menyandarkan tubuh kecilnya dalam pelukan Leeteuk. Saat itu dia menyadari Appa dan Noonanya sudah berada di luar kamar mandi dan menatapnya khawatir.
Kangin berjalan mendekati Kyuhyun dan menggantikan Leeteuk memapah Kyuhyun.
"Appa, kepalaku sangat pusing,"
"Iya, tahan sebentar ya?"
Kangin baru saja akan menggendong Kyuhyun, saat dia menyadari Kyuhyun tiba-tiba kehilangan kesadarannya.
"Kyunnie!"
.
.
ChangKyu
.
.
Sudah hampir satu jam berlalu tak ada suara-suara atau pergerakan berarti di antara Kangin dan Leeteuk. Kangin memejamkan matanya berusaha meredam emosi yang berkumpul di otak dan sekarang terasa menghimpit dadanya. Dia dapat mendengar isakan Leeteuk yang duduk di sampingnya. Dia tak tahan mendengar istrinya menangis. Tetapi, dia sungguh merasa tak berdaya untuk sanggup memeluk istrinya dan menenangkannya. Kangin merasakan tubuhnya sendiri terasa sangat kaku dan penuh dengan amarah. Dia tak ingin menyakiti Leeteuk hingga memilih diam.
Namja paruh baya yang masih terlihat tampan itu masih ingat hasil pemeriksaan dokter yang beberapa saat lalu memeriksa kesehatan Kyuhyun. Dia sangat cemas, takut, dan sangat khawatir jika anak bungsu kesayangannya itu divonis mempunyai penyakit mematikan. Tetapi saat dokter melihatnya dengan sebuah senyuman, Kangin mendadak bingung. Bagaimana bisa dokter yang memeriksa Kyuhyun tersenyum dan sekarang justru menepuk-nepuk bahunya memberikan ucapan selamat.
Beberapa saat lalu di kamar rawat Kyuhyun.
"Selamat, Tuan Cho!" ucap dokter dengan name tag Kim HyoBum itu.
Kangin mengernyitkan dahinya bingung. Dia menatap Leeteuk yang duduk di samping ranjang rumah sakit, yang sekarang ditiduri Kyuhyun. Anaknya itu masih belum sadar dari pingsannya. Dapat dilihatnya Leeteuk juga memandangnya bingung.
"Apa maksud Anda Dokter Kim? Kenapa kau mengucapkan selamat? Apakah ada penyakit yang bisa membuat seorang dokter mngucapkan selamat?" tanya Kangin agak marah.
"Yeobo, sabarlah. Biarkan Dokter Kim menjelaskan dulu," sahut Leeteuk mencoba menenangkan suaminya.
Kangin menghela nafasnya keras. Karena perasaan cemas dan khawatir dengan kondisi anaknya, dia menjadi agak kalut.
"Tidak apa-apa, Nyonya Cho. Maafkan saya yang mengucapkan selamat terlebih dahulu sebelum memberitahukan kabar gembira atas kondisi anak Anda,"
Dokter Kim menarik nafas sejenak dan kembali tersenyum.
"Berdasarkan pemeriksaan yang telah saya lakukan, Kyuhyun-ssi positif hamil. Ini hasil pemeriksaannya, jika Anda ragu dengan apa yang saya katakan,"
Dokter Kim menyerahkan berkas hasil pemeriksaan Kyuhyun kepada Kangin. Tapi, Kangin hanya mematung. Leeteuk yang sangat kaget dengan perkataan Dokter Kim beranjak dari ranjang Kyuhyun dan segera mengambil agak paksa berkas tersebut. Matanya meneliti satu persatu kata yang tercetak di sana. Dia melihat satu kata yang membuat tubuhnya terasa menegang dan membuat otaknya menjadi blank. Anak bungsunya hamil?!
Kangin segera memeluk tubuh Leeteuk yang melemas. Dia mendengar Leeteuk terisak.
"Dokter! Aku sungguh tidak terima jika Anda mempermainkan kami seperti ini!" teriak Kangin marah.
Dokter Kim menggelengkan kepalanya yakin, "Apa keuntungan saya mempermainkan Anda Tuan Cho? Itu adalah hasil pemeriksaan yang telah saya konfirmasikan juga di lab. Hasilnya tidak berubah. Itu adalah kenyataan,"
"Hiks, hiks, Kyu-hiks, b-bagaimana bisa-hiks?" isakan Leeteuk makin keras. Dia berbalik dan memeluk Kangin erat-erat. Dia bingung dan tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi.
"Saya kembali ke ruangan saya dahulu Tuan Cho," pamit Dokter Kim kemudian membungkukkan sedikit tubuhnya.
Kangin memeluk Leeteuk sembari membaca berkas hasil pemeriksaan Kyuhyun yang kini ada di tangannya. Apa yang tertulis di sana, yang menyatakan Kyuhyun hamil, itu bukanlah kebohongan. Tangannya tiba-tiba terasa gemetar dan berkas itu terlepas dari genggamannya, membuatnya terserak di lantai.
Bagaimana bisa? Bagaimana bisa anaknya hamil? Siapa yang telah menghamili anaknya?
Kangin bisa merasakan amarah tiba-tiba menguasai dirinya. Dia mengalihkan pandangannya ke ranjang di mana Kyuhyun masih belum sadar.
Benar. Dia harus memaksa anaknya itu mengaku. Apapun kenyataannya dia harus mengetahuinya.
.
.
ChangKyu
.
.
"Ini adalah proposal yang berisi tawaran Shinha Financial Group untuk proyek Shim Corp di Hamburg,"
Changmin menerima proposal yang diulurkan Appanya dan segera membuka-buka proposal itu kemudian menelitinya satu-persatu.
Appanya berjalan mendekati dinding kaca yang membatasi ruang kantornya dengan lingkungan luar. Namja paruh baya yang mempunyai mata setajam musang itu mencoba merilekskan dirinya dengan melihat pemandangan kota yang padat di siang hari terik. Dia dapat melihat Namsan Tower yang tampak menjulang jumawa. Dia ingat pernah melakukan hal-hal yang menyenangkan di sana bersama istrinya sebelum mereka menikah. Itu sudah belasan tahun yang lalu. Mendadak dia merindukan istrinya yang sekarang juga pasti sama sibuknya dengan dirinya.
"Appa, aku sudah selesai mengeceknya,"
Changmin meletakkan proposal itu di meja kerja Appanya.
Namja paruh baya itu mengalihkan pandangannya dan duduk di kursi kerjanya. Dia melihat putranya yang tampak tak fokus sembari mengetik sesuatu di smarthphonenya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Changmin-ah?"
Changmin sontak mendongak dan segera memasukkan smarthphone ke saku celana seragamnya.
"Tidak ada, Appa. Sesuatu yang, tidak penting," jawab Changmin mencoba fokus.
Namja tampan itu merutuk dalam hati. Jangan sampai Appanya tahu apa yang dia pikirkan.
"Baiklah, jika tidak penting memang tidak usah dibahas. Oh, ya kau sudah paham, kan dengan proyek baru Shim Corp di Hamburg?" tanya Mr. Shim sembari menandatangi beberapa berkas baru dari sekretarisnya.
"Aku sudah paham, Appa,"
"Bagus. Appa ingin kau ikut ke Hamburg lusa untuk melihat perkembangan awal proyek itu. Jadi bersiaplah!"
"Apa? Ke Hamburg?!" pekik Changmin tak percaya.
"Kenapa? Kau tampak tak berminat?" tanya Mr. Shim. Dia mendongakkan kepalanya dan melihat anaknya yang memang sungguh terlihat tak berminat.
"Apa alasanmu?" lanjut Mr. Shim.
"Aku-"
Changmin kehilangan kata-katanya. Dia berusaha keras berpikir. Tapi tak ada alasan yang masuk akal.
"Appa simpulkan tak ada alasan. Jadi kau lusa ke Hamburg. Tak ada penawaran," ucap Mr. Shim final.
Changmin melihat Appanya yang kembali sibuk membaca dokumen perusahaan. Dia melihat Appanya tak percaya. Kenapa dia tak bisa menolak? Changmin ingin memaki-maki dirinya sendiri karena ketidak berdayaannya ini.
Changmin mengusap wajahnya lelah, 'Kyuhyunnie…'
TBC
.
Ayaya! Saya sangat bahagia! SS6 itu 'sesuatu'! Setuju kan ChangKyu shipper? wohoo~ Saya merasa Chwang jadi kumat kalo nonton konser bini-nya. Hadeh…pliss…jangan OOC, Daddy.. Banyak fans itu… XDDD
Oke, terima kasih atas sambutannya (?) di chapter 6 kemarin setelah lama gak update ^^v. Saya berusaha update sebisa saya. Kalo lama gak update itu butuh asupan moment MommyDaddy#ditendang
Saya ucapkan terima kasih untuk teman2 yang sudah mau membaca karya abal2 ini. Terima kasih reviewnya#saya terharu jika membaca review(apalagi review nagih update). Terima kasih juga atas koreksi2 kalian di typo2 yg tersebar…#sobs
See U! :*
